Senin, 11 Desember 2017   |   Tsulasa', 22 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 3.496
Hari ini : 20.045
Kemarin : 43.322
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.943.220
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Teromba

Teromba adalah jenis puisi yang berasal dari Minangkabau, bentuknya tidak terikat dan tidak tentu (sama dengan gurindam dan seloka), bisa satu larik maupun dua larik. Jumlah katanya juga tidak tentu dan bisa berima maupun tidak berima. Isinya berupa peraturan atau undang-undang adat bagi sekelompok masyarakat, misalnya Adat Pepatih dalam masyarakat Minangkabau, baik di daerah Minangkabau sendiri maupun di tempat lain, seperti masyarakat keturunan Minangkabau di Negeri Sembilan dan Melaka.

Teromba termasuk jenis puisi bebas, misalnya bisa berbentuk pantun atau peribahasa, namun isi dan fungsinya tetap mengacu pada adat. Meskipun termasuk dalam puisi bebas yang tidak terikat pada bentuk atau struktur tertentu, namun ciri-ciri keindahan sebagai puisi tradisional tetap tampak, seperti adanya aspek perulangan anafora, epifora, dan lain-lain seperti terdapat dalam talibun, teka-teki, dan mantera.

Dengan kata lain teromba merupakan ungkapan-ungkapan adat yang berfungsi untuk menyampaikan norma-norma adat. Teromba disampaikan atau dibawakan dalam acara-acara resmi, seperti acara pertunangan, perkawinan, pelantikan penghulu, dan lain-lain. Hal yang terpenting dalam teromba adalah undang-undang adat yang diamalkan dalam kehidupan sosial masyarakat yang melahirkan dan menggunakan adat tersebut.

Dari contoh-contoh di bawah ini dapat dikatakan bahwa teromba dapat menjadi alat penyampaian tunjuk ajar, undang-undang, pedoman peraturan yang merupakan panduan ataupun pengajaran mengenai cara hidup atau sistem kehidupan yang dikehendaki sehingga masyarakatnya dapat hidup harmonis. Nilai-nilai atau norma-norma yang ada di dalamnya berlaku secara turun temurun. Mereka menata sedemikian rupa supaya tidak terjadi konflik, baik dalam internal keluarga maupun dalam berkehidupan bersama dalam masyarakat atau bahkan dalam kehidupan bernegara.

Adapun beberapa klasifikasi teromba dapat dilihat dalam karya-karya sastra berikut ini:

1. Teromba dalam bentuk puisi bebas yang berisikan ajaran adat tentang kehidupan bermasyarakat:

Hidup dikandung adat
Mati dikandung tanah
 
Masuk kandang kambing membebek
Masuk kandang kerbau menguak
 
Elok bahasa bagi bekal hidup
Elok budi bagi bekal mati
 
Ibarat teluk limbungan kapal
Ibarat tua menahan ragam
Ibarat muda menanggung rindu.

Contoh teromba yang lain:

Kelebihan nabi dengan mukjizat
Kelebihan umat dengan mufakat
Bulat air kerana pembetung
Bulat manusia dengan mufakat
Air melurut dengan bondarnya
Benar melurut dengan mufakatnya.
 
Berat sama dipikul
Ringan sama dijinjing
Yang tidak ada sama dicari
Sama sakit sama senang
Ke bukit sama mendaki
Ke lurah sama menuruni.

2. Teromba dalam bentuk puisi bebas yang berisikan undang-undang:

Dalam penulisan undang-undang pada kesusastraan Melayu klasik sangat berbeda dengan undang-undang yang kita kenal seperti sekarang ini. Kandungan yang terdapat di dalamnya berupa undang-undang dengan berdasar pada Islam. Di bawah ini adalah contoh teromba yang mengandung sebagian dari undang-undang yang sekaligus mengandung aturan adat-istiadat.

a. Undang-undang dan aturan adat

Cincang pampas
Bunuh beri balas
Anak dipanggil makan
Anak buah disorongkan balao
Gawar berbeli
Kufur taubat
Dendam beli darah
Diat beli nyawa
Upah beli penat
Sah salah bertimbang
Sah hutang berbayar
Sah piutang diterima
Sesat ke hujung jalan
Balik ke pangkal jalan
Sesat ke hujung kata
Balik ke pangkal kata
Itulah Adat Datuk Perpatih Pinang Sebatang.

b. Undang-undang pembagian daerah:

Kawasan Datuk Temenggung:
Mengalir ke Kampar Kiri,
Tempat air yang bergelombang, tempat ombak memecah,
Tempat pasir yang memutih, tempat tebing yang menjalar,
Tempat tanjung yang memanjang, tempat dagang keluar masuk,
Tempat saudagar berjual beli,
Itulah pembahasan Datuk Temenggung Bandahara Kaya.
 
Kemudian menghulu ke Kampar Kanan,
Tempat air segantang selubuk, tempat sedengkang berbunyi malam,
Tempat harimau berhukum, tempat babi bertimbang,
Tempat pasir timbun-menimbun, tempat batu hampar-menghampar,
Tempat akar bercampak daun, tempat meranti bersanggit dahan,
Tempat tupai berturun naik, tempat kera berlompat-lompatan,
Tempat beruk berbuai kaki, tempat siamang bergugauan,
Tempat helang berulang tidur, tempat musang tidur bergelung,
Tempat katak berbunyi malam, tempat ungka bersayu hati,
Tempat pontianak berjerit-jeritan,
Maka negeri itu terpulanglah kepada Datuk Perpatih Nan Sebatang.

(FX. Indrojionao/sas/4/09/08)

Daftar Pustaka

  1. Nyanyi Panjang Biasa.
  2. Tambo. (1)
Dibaca : 25.305 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password