Sabtu, 22 November 2014   |   Ahad, 29 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.439
Hari ini : 9.000
Kemarin : 19.750
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.368.886
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Hikayat Hang Tuah


Manuskrip Hikayat Hang Tuah. Sumber: Koleksi BKPBM.

A. Pendahuluan

Banyak pengamat, antara lain Kassim Ahmad (1997) dan Liaw Yock Fang (1975), yang mengungkapkan bahwa Hikayat Hang Tuah adalah hikayat yang semelayu-melayunya dan sifat anti-Jawa-nya juga sangat menonjol. Sehingga, tidak aneh bahwa ketika diterbitkan dalam huruf Jawi pada tahun 1960 oleh Djambatan-Gunung Agung, Jakarta, Hikayat Hang Tuah suntingan Abas Datuk Pamuncak nan Sati diharamkan oleh pemerintah Indonesia karena dianggap mengandung adegan-adegan yang menghina suku bangsa lain, yaitu suku Jawa (Fang, 1975:264).

Hikayat Hang Tuah sebenarnya adalah sebuah teks yang relatif baru, yaitu yang terjadi sehabis segala pengaruh asing sudah lama ada di dunia Melayu (A. Teeuw, 1983:98, Sulastin Sutrisno, 2008:16). B.B. Parnickel berpendapat bahwa karya ini diberi bentuk yang terakhir di Kesultanan Johor pada pasa “tiga puluh tahun kejayaan” sejarahnya, yaitu tahun 40-70 dalam abad ke-17. Adapun tujuan penulisan tentang Laksamana Hang Tuah yang gagah berani itu adalah untuk memuji seorang pembesar Johor yang paling berkuasa, yaitu Laksamana Abdul Jamil (B.B. Parnickel dalam V.I. Braginsky, 1998:352). Walaupun demikian, tokoh utama dalam karya ini, yaitu Laksamana Hang Tuah, maupun narasinya secara keseluruhan, begitu populer di kalangan masyarakat Melayu, sebagaimana Gadjah Mada yang populer di kalangan masyarakat Jawa.

Beberapa ukuran untuk mengukur popularitas sosok utama dan narasi karya ini antara lain: Pertama, suatu babak kepahlawanan dalam hikayat ini telah diangkat menjadi sandiwara radio ciptaan Ali Aziz dengan judul Hang Jebat Menderhaka. Selain itu, pada acara kesenian daerah Sumatra (16 Februari 1977), pentas drama tari dengan tema karya ini dimainkan di televisi. Kedua, sekitar tahun 1956, perusahaan film Shaw Brothers mempersembahkan film berwarna “Hang Tuah”. Dan ketiga, nama Hang Tuah diberikan kepada kapal perang pertama Republik Indonesia, dengan harapan kapal tersebut akan dapat selalu mencapai kemenangan di laut seperti Hang Tuah selama menjadi Laksamana.

Nama Hang Tuah dan kawan-kawannya juga dipakai sebagai nama jalan di negara-negara yang memiliki rumpun Melayu. Sedangkan keris pusaka di Istana Perak disebut “keris Hang Tuah”. Selain itu, dalam kumpulan sajaknya, Boeah Rindoe (1941), Amir Hamzah menggubah puisi “Hang Toeah” yang juga dimuat dalam Poeisi Baroe suntingan Sutan Takdir Alisjahbana (1946) dan diangkat dari Timboel (Sutrisno, 2008:29).

Komunitas sastra dunia juga telah mengakui Hikayat Hang Tuah sebagai karya yang penting bagi kebudayaan global. Hal ini terbukti dengan diterjemahkannya karya ini ke dalam berbagai bahasa internasional seperti bahasa Jerman dan bahasa Inggris, baik sebagian maupun utuh. Selain itu, bersama dengan Sulalat-us-Salatin, Hikayat Hang Tuah juga telah diakui sebagai karya agung antarbangsa oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) (Haron Daud dalam Abdul Rahman Haji Ismail & Harun Daod [eds.], 2008:57).

Hikayat Hang Tuah Edisi Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Sumber: Dokumentasi BKPBM diambil dari Kassim Ahmad, 1997. Hikayat Hang Tuah. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka.

B. Manuskrip dan Publikasi

  • Cod. Or. 1762, Universitas Leiden, Belanda.
  • Hikayat Hang Tuah, edisi W.G. Shellabear, dalam huruf Jawi, Singapura, 1908.
  • Hikayat Hang Tuah, edisi Balai Pustaka, Jakarta, 1956.
  • Hikayat Hang Tuah, edisi Djambatan-Gunung Agung, Jakarta, 1960.
  • Hikayat Hang Tuah, edisi Karya Agung Melayu, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1964.
  • Hikayat Hang Tuah, edisi Karya Agung, Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka, 1997.

C. Beberapa Kajian tentang Hikayat Hang Tuah

1. Kerancuan dengan Sejarah Melayu

Pada mulanya, para pengamat kesusastraan Melayu dari Barat merancukan Hikayat Hang Tuah dengan Sejarah Melayu. Pengamat dari Barat yang pertama sekali menyebut tentang Hikayat Hang Tuah ialah Francois Valentijn, seorang pendeta Belanda. Pada 1726, Valentijn menerbitkan sebuah buku yang amat tebal, terdiri atas tujuh jilid, tentang “Oud en Nieuw Oost – Indien” (Sutrisno, 2008:18-19).

Dalam jilid kelima, pada bab tentang Malaka, Valentijn menyebutkan tentang tiga kitab sastra Melayu yang dipunyainya, yakni “Tajus Salatin atau Mahkota Segala Raja-raja, Misa Gomitar, dan Kitab Hantoewa atau Hang Tuah, yang secara lain biasanya diketahui oleh para sarjana Melayu dengan nama Sulalat as-Salatin, yaitu sultan-sultan Malaka”. Ketiga buku itu oleh Valentijn disebut sebagai “intan yang amat jarang terdapat, tetapi yang boleh dipandang termasuk karangan Melayu yang terelok” dan Kitab Hang Tuah itu disebutnya sebagai buku Melayu yang amat patut dibaca (Teeuw, 1983:92-93).

Pengamat dari Barat yang lain yang merancukan kedua karya tersebut adalah G.H. Werndly, seorang pendeta Swiss yang menjadi pegawai VOC. Dia menerbitkan buku tata bahasa Melayu (nahu) pada 1736. Dalam buku tersebut, Werndly melampirkan daftar buku-buku Melayu yang diketahuinya. Pada nomor 43, dia menyebutkan:

Hhikajat Hang Tuwah, “ialah Riwayat (Historie) Hang Tuewah, yaitulah nama si pengarang yang secara lain menyebut buku ini Sulalatu’l-Salathin, ialah daftar raja-raja turun-temurun. Inilah sebuah cerita sejarah tentang riwayat raja-raja dan sultan-sultan yang semuanya itu berasal daripada Iskandar Dzulkarnain” (Teeuw, 1983:93-94).

Jadi, kerancuan diperbesar lagi oleh Werndly. Pertama, Hang Tuah dipandangnya sebagai pengarang Hikayat Hang Tuah (Sutrisno, 2008:19). Kedua, dia berbicara tentang asal raja-raja dari Iskandar Dzulkarnain dalam hubungan cerita Hang Tuah. Hal ini menunjukkan bahwa buku yang dimaksud oleh Werndly memang Sejarah Melayu, bukan Hikayat Hang Tuah (Teeuw, 1983:94).

Masih ada lagi pengkaji dari Barat yang juga mencampuradukkan Hikayat Hang Tuah dengan Sejarah Melayu, yaitu John Crawfurd. Teeuw (1983:94) dan Sutrisno (2008:19) menduga, sebab kerancuan-kerancuan ini adalah bunyi pendahuluan yang terdapat dalam sebuah naskah Hikayat Hang Tuah, yaitu Naskah Or. 1762, yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden. Di dalam naskah tersebut terdapat pendahuluan yang berbunyi:

Ini hikayat Hang Tuah yang amat masyhur terlalu gagah berani dan bijaksana lagi telah setia dan setiawati pada tuannya dan elok rupanya dan sikapnya, amat pahlawan lagi sangat berbuat kebaktian kepada tuannya. Pada masa itu tiada berlawan di negeri Melayu dan Jawa dan ialah yang termasyhur pada segala negeri di bawah angin ini, disebut orang namanya hidup datang pada akhir jaman, asalnya turun-temurun daripada anak-cucu sultan Iskandar Dzulkarnain raja ... (beberapa perkataan pada bagian ini tidak dapat dibaca) dan ialah raja-raja pada segala raja-raja yang menjalani matahari hidup dan mati, maka daripada asal baginda itulah menjadi raja besar kepada akhir zaman (Teeuw, 1983:94).

Kutipan di atas tidak terdapat pada teks-teks yang sudah diterbitkan, juga tidak ada pada naskah-naskah lain di Leiden. Tetapi mungkin karena ada pendahuluan semacam ini, terjadilah kekacauan tentang Sejarah Melayu yang menceritakan asal raja-raja Melayu dari Iskandar Dzulkarnain dan Hikayat Hang Tuah yang menceritakan tentang Hang Tuah yang amat setia kepada raja itu (Teeuw, 1983:94).

2. Pertautan dengan Sejarah Melayu

Valentijn, Wendly, dan Crawfurd jelas merancukan antara Hikayat Hang Tuah dengan Sejarah Melayu. Selain sebab yang diajukan oleh Teeuw dan Sutrisno yang telah diungkapkan di atas, kerancuan-kerancuan itu kemungkinan besar muncul karena kedua karya ini memang memiliki beberapa narasi yang mirip namun berbeda dalam detailnya.

Walaupun tidak ada bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa pengarang Hikayat Hang Tuah telah mendasarkan ceritanya kepada Sejarah Melayu, namun Kassim Ahmad (1997) memperlihatkan bahwa memang ada tidak kurang dari 15 peristiwa yang tercatat dalam Sejarah Melayu diceritakan dalam Hikayat Hang Tuah.

Dalam Sejarah Melayu dikatakan bahwa Hang Kasturi yang dilawan bertikam oleh Hang Tuah, sedangkan dalam Hikayat Hang Tuah, lawan Hang Tuah adalah Hang Jebat. Dalam Sejarah Melayu, dikatakan bahwa Hang Nadim (menantu Hang Tuah) yang melarikan Tun Teja, sedangkan dalam Hikayat Hang Tuah, Hang Tuah sendirilah yang melarikan Tun Teja. Dalam Sejarah Melayu dikatakan bahwa Sultan Abdul Jamil Pahang yang menjadi tunangan Tun Teja, sedangkan dalam Hikayat Hang Tuah, tunangan Tun Teja adalah Megat Terengganu (Ahmad, (1997:xiii).

Perbedaan bukan saja terdapat pada orang-orang yang terlibat dalam sesuatu peristiwa, tetapi juga yang berkaitan dengan bahasa. Sejarah Melayu ditulis oleh orang yang mahir dalam bahasa Arab dan yang telah kuat dipengaruhi oleh agama Islam. Hikayat Hang Tuah, sebaliknya, masih menggambarkan alam pikiran Melayu sebelum bertapaknya agama tersebut. Gayanya tidak kurang bersahaja, lunak dan padat daripada dalam Sejarah Melayu, tetapi pengaruh kata-kata dan gaya bahasa Arab kelihatan kurang sekali kecuali dalam bagian yang boleh jadi baru ditambahkan kemudian. Dengan demikian, tidak ada kemungkinan hikayat ini ditulis oleh pengarang Sejarah Melayu juga (Ahmad, 1997:xiv).

3. Dominasi Penafsiran Sejarah atas Hikayat Hang Tuah

Para pengkaji awal dari Barat sering memandang Hikayat Hang Tuah dari sudut pandang sejarah. Wendly yang sudah salah kaprah karena menganggap Hang Tuah adalah pengarang karya ini, lebih lanjut menyatakan bahwa Hikayat Hang Tuah adalah cerita sejarah tentang riwayat raja-raja dan sultan-sultan yang berasal dari Iskandar Dzulkarnain (Sutrisno, 2008:19).

Sementara itu, John Crawfurd, yang juga sudah salah karena mencampuradukkan Hikayat Hang Tuah dengan Sejarah Melayu, mencemooh Hikayat Hang Tuah sebagai cerita yang tidak masuk akal dan kekanak-kanakan. Yang ada nilainya sedikit hanyalah bagian-bagian cerita yang menggambarkan budi serta cara hidup orang Melayu. Dikatakan pula bahwa tidak ada sedikit pun peristiwa dalam buku itu yang dapat dipercaya. Angka tahun juga tidak ada. Jadi, dari sudut pandangan Crawfurd, karya ini boleh dikatakan sama sekali tidak berharga (Sutrisno, 2008:20).

C.A. Hooykaas memandang karya ini dari dua sudut, yaitu sudut struktur dan isi. Menurut strukturnya, karya ini adalah sebuah roman. Namun, isi karya ini bersifat legendaris, bersifat sejarah, yang dalam waktu lama sifat sejarahnya akhirnya terdesak oleh cerita-cerita turun-temurun setempat hingga menjadi kabur. Cerita-cerita itu terdiri atas pengalaman dan pengembaraan tokoh utama Hang Tuah yang diperkaya dengan berbagai legenda yang dapat dihubungkan dengan kehidupan pahlawan itu (Sutrisno, 2008:20).

R.O. Winstedt terutama memandang karya ini dari sudut sejarah walaupun tidak memasukkan karya ini ke dalam bagian sejarah Melayu dalam karyanya tentang kesusastraan Melayu. Windstedt mengatakan bahwa pengarang karya ini tidak memperhatikan sejarah dan pertarikhan, sehingga karangannya dapat disebut sebagai campuran dongeng-dongeng sejarah yang tidak kritis. Banyak di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak tepat, kacau balau dan lain-lain (Sutrisno, 2008:17).

4. Karya sastra, bukan karya sejarah

Sejak abad ke-19, para penyelidik dari Barat mulai membedakan dengan jelas antara Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah. Pada tahun 1854, E. Netscher mulai memberikan penjelasan tentang Hikayat Hang Tuah sebagai karya yang amat modern: “Hikayat Hang Tuah itu sama sekali bukan sebuah karangan sejarah melainkan sebuah ‘roman’ yang teramat penting bagi pengetahuan tentang cara hidup Melayu beberapa abad yang lalu” (Teeuw, 1983:95; Sutrisno, 2008:19). Dengan demikian, Netscher telah menempatkan Hikayat Hang Tuah sebagai karya sastra dengan bentuk “roman”.

Walaupun menganggap Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah dan lain-lain sebagai sumber bahan-bahan untuk penyelidikan sejarah dan masyarakat Melayu lama, namun John Leyden, penerjemah pertama Sejarah Melayu, tidak membedakan betul-betul antara jenis buku sejarah dan jenis romance (Teeuw, 1983:95). Kekacauan ini diteruskan oleh Crawfurd yang amat keras menentang Valentyn dan Leyden bahwa buku-buku Melayu berguna, baik sebagai sumber pengetahuan sejarah maupun sebagai hasil sastra.

Pada tahun 1839, Newbold mengemukakan tentang bakat tinggi tukang cerita Melayu sebagaimana yang terlihat dalam Hikayat Hang Tuah. Namun, bagi Newbold, perbedaan jenis antara Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah rupa-rupanya tidak ada (Teeuw, 1983:95).

Pada Perang Dunia Pertama, Hans Overbeck, seorang pedagang berkebangsaan Jerman yang bergiat di Singapura, ditahan oleh pembesar Inggris. Overbeck membawa serta Hikayat Hang Tuah selama masa penahanannya dan selama itu dia menerjemahkan karya ini ke dalam bahasa Jerman. Hasil terjemahannya diterbitkan di Munchen pada tahun 1922 dan hingga 1980-an, inilah satu-satunya terjemahan lengkap karya ini ke dalam salah satu bahasa Eropa. Dalam pengantarnya, Overbeck dengan terang menyebut karya ini sebagai “hasil sastra Melayu yang terindah” (Teeuw, 1983:96).

Overbeck memandang karya ini sebagai suatu riwayat hidup seorang pahlawan Melayu, yang lama-kelamaan tumbuh karena makin lama makin banyak cerita dongeng dan lain-lain dihubungkan dengan nama Hang Tuah itu. Overbeck juga berpendapat bahwa dapat disangsikan apakah sebenarnya ada seorang pengarang yang dengan sengaja mengarang Hikayat Hang Tuah. Pada dasarnya, karangan itu berkembang dengan sendirinya dari sebuah cerita yang bersahaja menjadi hikayat yang amat panjang dan banyak bahan-bahannya. Sebenarnya, hikayat ini semacam ciptaan bersama bangsa Melayu. Hang Tuah itu dengan sendirinya dari seorang pahlawan sejarah menjadi seorang pahlawan legendary (dongeng sejarah) (Teeuw, 1983:96).

Hooykaas tidak setuju dengan penamaan Hikayat Hang Tuah sebagai sastra sejarah. Karena, menurut Hooykaas, sastra sejarah memerlukan pengajian tentang masa lampau, dan pengajian tersebut tidak terdapat dalam hikayat ini. Hooykaas justru menamai karya ini sebagai roman legendaris (legendarische roman), yaitu roman yang bersifat legendary (Fang, 1975:264; Teeuw, 1983:97).

Sedangkan R.O Windstedt terlihat kesulitan menempatkan karya ini dalam kerangka kesusastraan Melayu secara umum. Windstedt dapat menunjukkan adanya pengaruh cerita Panji dan Ramayana dalam karya ini (Fang, 1975:264). Justru karena itulah Windstedt tidak menempatkannya dalam bagian tentang karya Melayu asli karena karya ini baru muncul sehabis segala pengaruh asing sudah lama ada di dunia Melayu (Teeuw, 1983:98, Sutrisno, 2008:16). Namun, Winsdtedt juga tidak menempatkannya dalam bagian India atau Islam karena karya ini telah disebutnya sebagai Melayu betul-betul atau Melayu tulen (Fang, 1975:264; Sutrisno, 2008:16). Akhirnya, Winsdtedt membicarakan Hikayat Hang Tuah dalam bagian tentang “A Javanese Elements” walaupun barangkali tidak ada teks Melayu yang lebih anti-Jawa daripada Hikayat Hang Tuah (Teeuw, 1983:99).

Para pengkaji berikutnya dengan jelas merujuk Hikayat Hang Tuah sebagai karya sastra, bukan karya sejarah. Misalnya, B.B. Parnickel (dalam Sutrisno, 2008:22; dalam Teeuw, 1983:100), A. Teeuw (1983), Kassim Ahmad (1960 & 1997), Sulastin Sutrisno (2008), V.I. Braginsky (1998) dan Harun Mat Piah et al. (2002). Kassim Ahmad (dalam Teeuw, 1983:102), misalnya, menyatakan dengan tegas bahwa Hikayat Hang Tuah adalah “an artistic work, essentially possessing a unity”.

Sementara itu, Sulastin Sutrisno (2008: 18) dengan tegas menyatakan bahwa Hikayat Hang Tuah adalah karya sastra dengan bentuk dan penyajian yang menunjukkan kebulatan dan konsistensi besar, bahkan ketika dibaca sepintas lalu. Sedangkan menurut Teeuw (1983 & dalam Sutrisno, 2008:21), karya ini memenuhi syarat sebagai roman karena (1) karya ini adalah cerita yang panjang dalam bentuk prosa dan di dalamnya pengalaman manusia merupakan unsur asasi, (2) karya ini memaparkan jalur peristiwa yang jelas dari berbagai peristiwa yang terjadi pada satu orang, dan (3) karya ini memiliki tema dan alur yang terang, yang diceritakan dari sudut pandang tertentu.

5. Alegori Sejarah

Pandangan dari sudut sejarah yang menghasilkan tanggapan yang negatif terhadap Hikayat Hang Tuah dan pandangan dari sudut sastra yang mengunggulkan karya tersebut dijembatani oleh Braginsky (1998). Menurut Braginsky, Hikayat Hang Tuah memang merupakan sebuah karya sastra kesejarahan, namun secara keseluruhan karya ini merupakan suatu alegori sejarah.

Isi karya ini memang membangkitkan asosiasi dengan sejarah Johor sekitar tahun 50-80-an abad ke-17, pertama-tama berkaitan dengan permusuhan antara kesultanan-kesultanan Johor dan Jambi. Dalam melukiskan pertentangan antara Malaka dan Majapahit, yang mengambil sebagian besar tempat dalam hikayat itu (Ahmad, 1968:1-339), sebenarnya Malaka merupakan lambang yang wajar untuk Johor, sedangkan Majapahit ialah lambang Jambi. Hubungan simbolis di antara Majapahit dan Jambi juga tampaknya tidak dibuat-buat, karena para raja dan bangsawan Jambi mempunyai nama dan sebutan gelar yang bergaya Jawa dan negerinya pun merupakan vasal kerajaan Mataram di Jawa (Andaya dalam Braginsky, 1998:352).

Pertentangan antara Malaka dan Jambi dimulai dengan pernikahan antara Raja Muda, pewaris tahta Johor, dengan putri Sultan Jambi. Hal ini merisaukan Sultan Abdul Jalil, sultan Johor kala itu, yang kemudian menitahkan Laksamana Abd al-Jamil untuk melakukan upaya-upaya agar tahta Johor tidak “tercemar” oleh Jambi. Ini sejajar dengan hubungan pernikahan yang terjadi antara Sultan Malaka dengan putri Batara Majapahit. Selanjutnya timbul peperangan antara Johor dan Jambi pada 1666 yang dimenangkan oleh Johor. (Braginsky, 1998:354).

Kemenangan dalam Perang Jambi memperkuat kedudukan Laksamana Abd al-Jamil. Dia memperoleh gelar Paduka Raja dan mengkonsolidasikan kekuatannya di dalam negeri dengan mengangkat anak-anaknya menjadi pejabat-pejabat penting. Hal ini memperoleh perlawanan dari Bendahara. Akhirnya, pecah perang di antara kedua pihak dan Laksamana Abd al-Jamil tewas (Braginsky, 1998:354).

Braginsky berpendapat, Hikayat Hang Tuah adalah sebuah alegori sejarah yang menggambarkan pertikaian antara kerajaan-kerajaan Johor dengan Jambi dengan berkedok perselisihan antara kerajaan Malaka dan Majapahit. Demikian juga kejadian di sekitar sosok Hang Tuah. Perebutan kekuasaan antara laksamana dan Bendahara Johor menjadi sebuah cerita alusi. Hang Tuah, yang konon mati sesudah kemenangannya atas Marga Paksi, mungkin sekali alusi untuk Abd al-jamil sebelum peristiwa perebutan kekuasaan; sedangkan Hang Jebat ialah alusi untuk Abd al-jamil sesudah perebutan kekuasaan (Braginsky, 1998:355).

6. Epik Nasional

Dalam buku-buku teks yang muncul selama dekade-dekade terakhir abad ke-20 dan digunakan di Malaysia, label “epik” sering muncul jika judul Hikayat Hang Tuah disebutkan. Misalnya, dalam buku Warisan Prosa Klasik susunan Taib Osman dan Abu Hasan Sham, disebutkan bahwa “Hikayat Hang Tuah merupakan epik Melayu asli yang terbesar dan paling penting” dan “karya ini dapat dikategorikan sebagai sebuah epik, lebih khusus lagi sebagai epik rakyat” (dalam Jan Jansen & Hendrik J Maier [ed.], 2004:111). Pandangan bahwa Hikayat Hang Tuah merupakan sebuah epik ternyata diulangi juga oleh para pengkaji yang lain.

Harun Mat Piah et al. (2002) memberikan hubungan yang langsung antara Hikayat Hang Tuah dan istilah epic dalam bahasa Inggris. Piah et al. mengutip sebuah definisi dari J.A. Cuddon yang menyatakan bahwa “epic” adalah “a long narrative poem on a grand scale about the deeds of warrior and heroes. Epics are often of national significance in the sense that they embodied the history and aspirations of a nation in a lofty grandiose manner”.

Baik Osman & Sham maupun Piah et al. mengajukan alasan-alasan yang relatif sama untuk menyebut Hikayat Hang Tuah sebagai sebuah epik. Pertama, latar kisah mencakup periode yang panjang, cakupan dunianya luas, dan pelakunya banyak. Kedua, mengandung peristiwa-peristiwa dan makhluk-makhluk supernatural. Dan ketiga, pengarang bersifat objektif dalam melukiskan perwatakan para “hero” dalam narasi. Piah et al. dengan tegas menyebut Hikayat Hang Tuah sebagai “epik nasional” (2002:232). Noriah Taslim (dalam Ahmad, 1997:xxix) juga mengulang pernyataan bahwa karya ini merupakan sebuah epik. Sedangkan Kassim Ahmad lebih berhati-hati dengan menyebut karya ini sebagai “epik Melayu” (Ahmad, 1997:xii).

Namun, Hendrik J Maier (dalam Jansen & Maier, 2004:111-127) menggugat atribut Hikayat Hang Tuah sebagai sebuah epik. Maier menunjukkan bahwa Hikayat Hang Tuah adalah sebuah karya prosa, bukan karya puisi, sehingga tidak bersesuaian dengan definisi yang diberikan oleh Cuddon. Sedangkan atribut “epik nasional” juga rancu karena dengan demikian karya ini seolah-olah hanya menjadi milik bangsa Malaysia. Padahal, dalam kenyataannya karya ini pun merupakan warisan sastra bagi orang Melayu yang ada di luar Malaysia, seperti Sumatra dan Kalimantan. Atribut “nasional” dianggap tidak memberikan pengertian yang tepat karena karya ini sebenarnya adalah milik bersama komunitas Melayu, bukan hanya bangsa Malaysia saja.

7. Sosok hero yang berubah

Popularitas sosok Hang Tuah dan tokoh-tokoh lain dalam karya ini tentu saja hanya bisa disebabkan oleh cara pelukisan perwatakan yang kuat. Parnickel menguraikan perwatakan tokoh utama dengan berangkat dari pandangan yang lebih umum dan didasarkan pada pandangan sejarah Marxis.

Menurut Parnickel, pada mulanya cerita Hang Tuah adalah sebuah cerita rakyat yang audiensnya adalah rakyat jelata. Dalam cerita rakyat ini, yang menjadi pahlawan adalah Hang Tuah yang asli. Tetapi cerita itu telah jatuh ke tangan kaum feodal, lantas disemak oleh seorang pujangga istana, supaya disesuaikan dengan keadaan feodal itu. Hang Tuah yang pada asalnya seorang pahlawan demokrasi yang menentang sistem feodal itu, oleh pujangga istana dijadikan seoang pahlawan yang amat setia kepada tuannya dan yang mempertahankan sistem lama itu terhadap serangan orang yang bersifat revolusioner (Parnickel dalam Teeuw, 1983:100).

Kassim Ahmad menyusun sebuah studi berjudul Characterisation in Hikayat Hang Tuah (1959). Menurut Ahmad, selama masa kolonial di Malaysia, tokoh dalam karya ini yang menjadi pahlawan adalah memang Hang Tuah. Namun, pada masa kemerdekaan Malaysia, para pemuda Melayu ternyata cenderung akan memilih Hang Jebat sebagai pahlawan Melayu yang sungguh-sungguh. Itu terbukti dari film yang pernah dibuat tentang Hang Tuah, sandiwara radio karangan Aziz Ali, dan dari sebuah cerita pendek karangan Tongkat Warrant.

Ahmad (dalam Teeuw, 1983:100-101) menyimpulkan bahwa “Jebat mendapat kehormatan yang lebih tinggi derajatnya: Kehormatan ini dengan serta merta memperkecil kejayaan-kejayaan Hang Tuah yang banyak dan berbagai rupa itu. Dipandang dengan cara ini, Hang Jebat-lah orangnya yang patut kita beri tempat yang istimewa dalam percobaan kita mencari pahlawan epik Malaysia ini”. Walaupun demikian, Teeuw keberatan dengan kesimpulan Ahmad tersebut. Teeuw menegaskan bahwa sosok hero dalam karya ini – jika dipandang dari sudut sastra semata-mata – adalah tetap Hang Tuah karena dialah yang menjadi pusat cerita (Teeuw, 1983:101).

D. Penutup

Hikayat Hang Tuah adalah karya sastra kesejarahan Melayu tradisional yang telah menjadi karya klasik. Maka, karya ini tak habis-habis dikaji dan dibicarakan oleh para ahli. Selain itu, karena merupakan karya klasik yang menjadi milik komunitas Melayu dan melintasi batas-batas negara-bangsa modern, revitalisasi karya ini pun senantiasa dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari kajian akademik, penceritaan ulang, hingga transformasi menggunakan media elektronik seperti sandiwara radio dan film.

Luasnya wilayah di mana karya ini memperoleh popularitas menjadikannya sebagai sebuah gejala budaya dan sastra yang bersifat supranasional. Salah satu peran yang dapat dimainkan oleh karya ini pada masa mendatang adalah sebagai jembatan budaya untuk menghubungkan antara berbagai komunitas Melayu yang terpisah oleh batas-batas nasional. Dengan demikian, karya ini dapat menjadi salah satu pijakan awal untuk memahami identitas kemelayuan secara umum.

____________________

Referensi

  • A. Teeuw, 1983. Membaca dan menilai Sastra. Jakarta: PT Gramedia.
  • Harun Mat Piah et. al., 1993. Traditional Malay literature. Diterjemahkan dari bahasa Malaysia oleh Harry Aveling, 2002. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Kassim Ahmad, 1997. Hikayat Hang Tuah. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Liaw Yock Fang, 1975. Sejarah kesusastraan Melayu klasik. Singapura: Perpustakaan Nasional Singapura.
  • Sulastin Sutrisno, 2008. Hikayat Hang Tuah analisis struktur dan fungsi. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa.
  • V.I. Braginsky. 1998. Yang indah, berfaedah dan kamal sejarah sastra Melayu dalam Abad 7 – 19. Jakarta: INIS.

Artikel

  • Abdul Rahman Haji Ismail, 2008. Sulalat-us-Salatin atau Sejarah Melayu: penelitian mukadimah, judul, dan pengertian. Dalam: Abdul Rahman Haji Ismail & Haron Daud, eds.. 2008. Sulalat-us-Salatin (Sejarah Melayu) Cerakinan Sejarah, Budaya dan Bahasa. Kuala Lumpur: Penerbit Universiti Sains Malaysia.
  • Hendrik J. Maier, 2005. An epik that never was an epik – the Malay Hikayat Hang Tuah. Dalam Jan Jansen & Hendrik J. Maier, 2004. Epic adventures: heroic narrative in the oral performance traditions of four continents. Berlin: LIT Verlag
  • Noriah Mohamed, 1997. Pengenalan Tambahan. Dalam: Kassim Ahmad, Hikayat Hang Tuah. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka.

(An. Ismanto/sas/18/12-09)

Dibaca : 47.446 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password