Minggu, 26 Oktober 2014   |   Isnain, 2 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 766
Hari ini : 3.248
Kemarin : 20.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.274.476
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kain Ulos, Kerajinan Tradisional Batak Provinsi Sumatra Utara


Pengrajin perempuan sedang membuat kain Ulos

1. Asal Usul

Menurut pandangan orang-orang Batak, ada tiga sumber kehangatan (panas) bagi manusia, yaitu matahari, api, dan Ulos (http://tanobatak.wordpress.com/). Tentu tidak akan menimbulkan pertanyaan jika dikatakan bahwa matahari dan api merupakan sumber panas, tetapi tidak demikian dengan kain Ulos. Adalah wajar jika kemudian orang-orang non Batak mempertanyakan kain Ulos sebagai sumber panas atau kehangatan.

Munculnya pandangan orang-orang Batak bahwa kain Ulos merupakan sumber panas terkait dengan suhu tempat di mana orang-orang Batak membangun tempat tinggalnya. Secara geografis, tempat tinggal orang Batak berada di kawasan pegunungan yang beriklim sejuk (http://www.silaban.net). Kondisi alam ini, menyebabkan panas yang dipancarkan oleh matahari tidak cukup memberikan kehangatan, terutama ketika malam hari. Oleh karenanya, orang Batak kemudian menciptakan sesuatu yang mampu memberikan kehangatan yang melepaskan mereka dari cengkraman hawa dingin. Dalam konteks inilah kain Ulos menjadi sumber panas yang memberikan kehangatan, baik kehangatan secara fisik maupun non fisik kepada orang Batak. Kehangatan kain Ulos tidak saja melindungi tubuh orang Batak dari udara dingin, tetapi juga mampu membentuk kaum lelaki Batak berjiwa keras, mempunyai sifat kejantanan dan kepahlawanan, dan perempuannya mempunyai sifat ketahanan dari guna-guna kemandulan (http://www.silaban.net).

Kain Ulos lahir dari pencarian orang-orang Batak yang hidup di daerah pegunungan yang dingin. Seiring berjalannya waktu, dari sekedar kain pelindung badan, Ulos berkembang menjadi lambang ikatan kasih, pelengkap upacara adat, dan simbol sistem sosial masyarakat Batak (http://tanobatak.wordpress.com; http://www.arthazone.com). Bahkan, kain ini dipercaya mengandung kekuatan yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan kepada pemakainya (http://www.tamanmini.com).

Berbagai jenis dan motif kain Ulos menggambarkan makna tersendiri. Tergantung sifat, keadaan, fungsi, dan hubungan tertentu. Kapan digunakan, diberikan kepada siapa, dan dalam upacara adat yang bagaimana. Bahkan, berbagai upacara adat seperti pernikahan, kelahiran, kematian, dan ritual lainnya tak pernah terlaksana tanpa Ulos (http://www.silaban.net/). Melihat peran sentral kain ulos tersebut, nampaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kain ulos merupakan bagian (baca: pelengkap) dari kehidupan orang Batak.

Bila kain ini dipakai oleh laki-laki, bagian atasnya disebut ande-hande, sedangkan bagian bawahnya disebut singkot. Sebagai penutup kepala disebut tali-tali, bulang-bulang, sabe-sabe atau detar. Namun terkait dengan nilai-nilai sakral yang melingkupi kain Ulos, maka tidak semua Ulos dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya Ulos Jugia, Sadum, Ragi Hotang, Ragidup, dan Runjat, hanya dapat dipakai pada waktu-waktu dan upacara tertentu. Dalam keseharian, laki-laki Batak menggunakan sarung tenun bermotif kotak-kotak, tali-tali dan baju berbentuk kemeja kurung berwarna hitam, tanpa alas kaki (http://www.tamanmini.com).

Bila Ulos dipakai oleh perempuan Batak Toba, bagian bawah disebut haen, untuk penutup punggung disebut hoba-hoba, dan bila dipakai sebagai selendang disebut ampe-ampe. Apabila digunakan sebagai penutup kepala disebut saong, dan untuk menggendong anak disebut parompa. Dalam kesehariannya, perempuan Batak memakai kain blacu hitam dan baju kurung panjang yang umumnya berwarna hitam, serta tutup kepala yang disebut saong (http://www.tamanmini.com).

Secara garis besar, ada tiga cara pemakaian Ulos, yaitu: pertama, siabithononton (dipakai). Ulos yang dipakai di antaranya: ragidup, sibolang, runjat, djobit, simarindjamisi, dan ragi pangko. Kedua, sihadanghononton (dililitkan di kepala atau bisa juga di jinjing). Ulos yang penggunaannya dililit di kepala atau bisa juga ditengteng di antaranya: sirara, sumbat, bolean, mangiring, surisuri, dan sadum. Ketiga, sitalitalihononton (dililit di pinggang). Ulos yang dililitkan di pinggang di antaranya: tumtuman, mangiring, dan padangrusa. Ketiga aturan pemakaian tersebut membawa pesan bahwa menempatkan Ulos pada posisi yang tepat merupakan hal yang sangat penting, tidak saja terkait dengan keserasian dalam berpakaian tetapi juga terkait dengan makna-makna filosofis yang dikandungnya. Dengan kata lain, Ulos tidak hanya berfungsi sebagai penghangat dan lambang kasih sayang, melainkan juga sebagai simbol status sosial, alat komunikasi, dan lambang solidaritas (http://tanobatak.wordpress.com).

Terkait Ulos sebagai ekspresi kasih-sayang, maka dikenal ungkapan mangulosi. Dalam adat Batak, mangulosi (memberikan Ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima Ulos. Dalam hal mangulosi, ada aturan umum yang harus dipatuhi, yaitu mangulosi hanya boleh dilakukan kepada orang yang mempunyai status kekerabatan atau sosial lebih rendah, misalnya orang tua boleh mangulosi anaknya, tetapi sang anak tidak boleh mangulosi orang tuanya (http://ath3r.wordpress.com).

Demikian juga dengan Ulos yang hendak digunakan untuk mangulosi harus mempertimbangkan tujuan dari pemberian Ulos tersebut. Misalnya hendak mangulosi Boru yang akan melahirkan anak sulungnya, maka Ulos yang diberikan adalah Ulos Ragidup Sinagok. Demikian juga jika hendak mangulosi pembesar atau tamu kehormatan yang dapat memberikan perlindungan (mangalinggomi), maka Ulos yang digunakan adalah Ulos Ragidup Silingo.


Menenun Ulos tidak hanya dilakukan oleh kaum perempuan

Melihat begitu pentingnya fungsi Ulos dalam masyarakat Batak, maka upaya-upaya pelestarian harus segera dilakukan. Pelestarian tentunya tidak hanya dimaksudkan agar keberadaan kain tersebut tidak punah, tetapi juga merevitalisasinya sehingga memberikan manfaat (baca: kesejahteraan) bagi orang-orang Batak yang melestarikannya. Namun demikian, revitalisasi harus dilakukan secara hati-hati sehingga tidak melunturkan nilai-nilai yang dikandung oleh kain Ulos. Jangan sampai muncul gugatan, “Kami merasa sangat ngilu. Melihat Ulos diguntingi dan dipotong-potong. Dijadikan taplak meja, bahkan alas jok kursi untuk dihunduli. Itu pelecehan dan sangat tidak menghargai nilai budaya bangso Batak” (http://tanobatak.wordpress.com). Pelestarian dan revitalisasi tidak boleh hanya berorientasi pada nilai ekonomi saja, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sehingga orang Batak tidak mengalami alienasi dan tercerabut dari akar lokalitasnya.

2. Peralatan dan Bahan

a. Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan dalam pembuatan kain Ulos di antaranya adalah (http://penyairmalam.blogspot.com):

  • Alat tenun. Salah satu keunikan dari kain Ulos adalah penggunaan alat tenun yang masih menggunakan kayu atau biasa disebut ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), dan cara pengoperasiaannya dilakukan secara manual.

Alat tenun Ulos yang sudah dimodifikasi
  • Alat pemintal kapas. Alat ini digunakan untuk merubah kapas menjadi benang. Dalam masyarakat Batak, alat ini dikenal dengan nama sorha.
  • Pamunggung, yaitu sandaran punggung. Selain itu, juga berfungsi untuk cantelan mengikat dan menahan benang.
  • Pagabe, berfungsi untuk memegang benang yang dipintal.
  • Baliga, berfungsi untuk menyusun dan mengatur benang.
  • Hatulungan. Alat ini bentuknya seperti tombak dan berfungsi untuk membagi-bagi benang.
  • Pamapan, berfungsi untuk melilitkan benang setelah dibagi-bagi hatulungan.  
  • Sitadoan.
  • Palabuan (periuk tanah). Alat ini digunakan untuk merendam bahan pewarna.
  • Anian. Alat ini terbuat dari sepotong balok kayu yang di atasnya ditancapkan tongkat pendek sesuai ukuran Ulos yang hendak dibuat. Fungsi alat ini adalah untuk menguntai benang sehingga pembuatan Ulos semakin mudah.

b. Bahan

Secara garis besar, ada dua bahan yang digunakan dalam pembuatan Ulos, yaitu: bahan pembuat kain dan bahan pewarna. Bahan pembuat kain adalah benang yang terbuat dari kapas. Sedangkan bahan pewarnanya adalah: kulit kayu, rerumputan, akar-akaran, Lumpur, dan dedaunan (http://penyairmalam.blogspot.com).

3. Cara Pembuatan

Kain Ulos ada beberapa jenis. Setiap jenis memiliki corak, motif, dan fungsi yang berbeda-beda. Namun walaupun berbeda-beda, bahan yang digunakan adalah sama, yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan antara satu jenis Ulos dengan lainnya adalah proses pembuatannya. Dengan kata lain, proses pembuatan Ulos menjadi penentu nilai dan fungsi sebuah Ulos, apakah Ulos tersebut untuk siabithononton, sihadanghononton ataukah sitalitalihononton. Selain itu, proses pembuatannya juga menentukan kepada siapakah kain Ulos digunakan untuk mangulosi.


Membuat kain Ulos dapat dilakukan di ruang-ruang kosong rumah

Proses pembuatan kain Ulos merupakan demonstrasi keahlian orang Batak merubah  benang menjadi kain yang kaya nilai. Pembuatan kain ini merupakan rangkaian proses panjang mulai dari mangunggas (memintal), makkulhul (menggulung), mangani (membentuk), dan manotar (menenun) (http://tanobatak.wordpress.com). Adapun proses pembuatannya adalah sebagai berikut:

a. Tahap Persiapan

Tahap ini meliputi penentuan jenis Ulos yang hendak dibuat, pengadaan dan penyiapan kapas, dan pengadaan bahan pewarna.

1) Pengadaan Bahan

Tahapan pertama pembuatan kain Ulos menyiapkan bahan dasarnya. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

  • Pengadan kapas. Pada zaman dahulu, kapas disediakan secara oleh masyarakat dengan cara bertani. Namun saat ini, kapas biasanya didapat dengan membeli kepada penjuan kapas.
  • Kapas kemudian dibeberkan. Pembeberan bertujuan agar kapas mengembang sehingga memudahkan pemintal membentuk keseragaman ukuran benang.
  • Dilanjutkan dengan pemintalan. Pemintalan benang menggunakan alat yang disebut sorha. Untuk mengoperasikannya, dibutuhkan dua orang. Satu orang memintal benang, dan satunya lagi memutar sorha. Namun seiring perkembangan zaman, sorha telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga pemintalan benang dapat dilakukan dengan tenaga satu orang saja.

2) Pewarnaan

Pewarnaan merupakan salah satu proses paling rumit dalam pembuatan benang Ulos. Hal ini karena proses pewarnaan menggunaan bahan-bahan alami sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama, berbulan-bulan atau bahkan tahunan. Kegiatan untuk mendapatkan warna merah disebut “manubar” dan untuk mendapatkan warna hitam disebut “mansop”. Sedangkan orang yang melakukan pewarnaan benang disebut “parsigira”. Adapaun proses pewarnaan kain Ulos adalah sebagai berikut:


Ulos dengan warna dasar gelap
  • Setelah benang dipersiapkan, dilanjutkan dengan pewarnaan benang Ulos. Untuk memberi warna dasar benang Ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan ke dalam sebuah periuk tanah (palabuan) yang telah diisi air.
  • Tumbuhan ini direndam (digon-gon) selama berhari-hari sampai getahnya keluar.
  • Kemudian tumbuhan itu diperas dan ampasnya dibuang. Proses ini biasanya menghasilkan cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom”.
  • Selanjutnya, palabuan diisi dengan air hujan yang dicampur dengan air kapur.
  • Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tersebut dimasukkan, lalu diaduk hingga larut (manggaru).
  • Setelah cairan pewarna siap, benang Ulos di masukkan ke dalam larutan pewarna tersebut. Namun jika benang tersebut hendak diberi warna lain (baca: tidak hanya satu warna), maka sebelum dicelupkan ke dalam tempat pewarna, bagian-bagian benang yang hendak diberi warna lain terlebih dahulu dililit (diikat) dengan benang. Untuk mendapatkan warna yang berkualitas bagus, pencelupan dilakukan secara berulang-ulang.
  • Kemudian kain benang yang telah berwarna tersebut disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat (marsigira). Pekerjaan ini biasanya dilakukan pada pagi hari di tepi kali atau di pinggiran sungai/danau.
  • Setelah itu, ikatan-ikatan benang dibuka dan diunggas agar menjadi kuat.
  • Benang kemudian dilumuri dengan nasi yang dilumerkan (indahan ni bonang) kemudian digosok dengan kuas bulat dari ijuk.
  • Benang tersebut kemudin dijemur di bawah terik matahari.

3) Penentuan Jenis Ulos

Setelah proses pewarnaan benang selesai, tahapan selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah menentukan jenis Ulos yang hendak dibuat. Hal ini disebabkan karena jenis sebuah Ulos menentukan tata cara pembuatannya.

b. Tahap Pembuatan

Setelah benang Ulos siap dan jenis Ulos yang hendak dibuat telah ditentukan, maka proses pembuatan Ulos dapat segera dilakukan. Adapun proses pembuatanya adalah sebagai berikut:


Kain Ulos yang kaya makna ternyata dibuat hanya dengat alat
yang cukup sederhana
  • Setelah dijemur, benang-benang tersebut kemudian diuntai (mangani). Untuk mempermudah proses penguntaian, benang terlebih dahulu digulung berbentuk bola. Dalam proses ini, kepiawaian pangani sangat menentukan keindahan Ulos sesuai ukuran dan perhitungan jumlah untaian benang menurut komposisi warna.
  • Setelah diuntai, benang Ulos dapat segera diproses menjadi kain Ulos.  Proses ini disebut tonun (tenun). Orang yang bekerja sebagai penenun Ulos disebut “partonun”.
  • Setelah ditenun, kain Ulos diberi hiasan-hiasan pengikat rambu Ulos. Pekerjaan ini disebut manirat, dan orang yang mengerjakannya disebut panirat.

Secara umum, pembuatan kain Ulos terdiri dari mengani, tonum, dan manirat. Namun sebenarnya, proses pembuatannya tidak sesederhana itu karena setiap jenis Ulos membawa kerumitan-kerumitan tersendiri.

4. Jenis dan Fungsi Ulos

Pada dasarnya, sebagaimana telah dipaparkan di atas, bahan-bahan untuk membuat kain Ulos adalah sama, yaitu kapas. Walaupun memiliki bahan dasar sama, tetapi ketika cara membuatnya berbeda, maka akan menghasilkan jenis Ulos yang berbeda, tidak saja pada jenis dan bentuknya, tetapi juga pada nilai dan fungsi yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan cara pembuatan, jenis dan fungsinya, terdapat beberapa macam Ulos, di antaranya adalah (http://tanobatak.wordpress.com/):


Beragam ragi kain Ulos

a. Ulos Jugia (Homitan).

Ulos Jugia disebut juga Ulos Naso Ra Pipot atau Pinunsaan. Ulos ini mengandung nilai budaya yang tinggi dan harganya sangat mahal. Oleh karenanya, Ulos ini biasanya disimpan di hombung atau parmonang-monangan (jenis lemari pada jaman dulu). Menurut kepercayaan orang Batak, Ulos ini hanya dapat dipakai oleh orang yang sudah saur matua atau naung gabe (orang tua yang sudah mempunyai cucu dari anaknya laki-laki dan perempuan). Namun walaupun telah mempunyai cucu, seseorang belum masuk kategori saur matua jika masih ada anaknya yang belum kawin atau belum mempunyai keturuan, walaupun telah mempunyai cucu dari anaknya yang lain.

Sulitnya persyaratan untuk dapat memakai Ulos Jugia menyebabkan Ulos ini menjadi benda langka sehingga banyak orang yang tidak mengenalnya. Ulos ini sering menjadi barang warisan orang tua kepada anaknya, dan nilainya sama dengan sitoppi (emas yang dipakai oleh istri raja pada waktu pesta).

b. Ulos Ragidup

Pembuatan Ulos Ragidup harus selesai dalam waktu tertentu menurut hatiha Batak (kalender Batak). Bila dimulai artia (hari pertama), maka harus selesai di tula (hari tengah dua puluh). Oleh karena pembuatannya dibatasi oleh waktu, maka pembuatan Ulos jenis ini dilakukan secara gotong royong oleh lima orang. Jumlah lima orang berdasarkan pada kain Ulos Ragidup yang terdiri dari lima bagian, yaitu: atas, bawah, kiri, kanan dan tengah. Kedua sisi, kiri dan kanan Ulos (ambi), dikerjakan oleh dua orang, demikian juga dengan bagian atas dan bawah (tinorpa). Sedangkan bagian tengah atau badan Ulos (tor) dikerjakan oleh satu orang. Sehingga secara keseluruhan Ulos ini dikerjakan oleh lima orang. Kemudian, hasil kerja kelima orang ini disatukan (diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut Ulos Ragidup.

Warna, lukisan, serta coraknya (ragi) memberi kesan seolah-olah Ulos ini benar-benar hidup, sehingga orang menyebutnya Ragidup, yaitu lambang kehidupan. Oleh karenanya, setiap rumah tangga Batak mempunyai Ulos Ragidup. Selain lambang kehidupan, Ulos ini juga lambang doa restu untuk kebahagian dalam kehidupan, terutama dalam hal keturunan, yakni banyak anak (gabe) bagi setiap keluarga dan panjang umur (saur sarimatua). Dalam upacara adat perkawinan, Ulos Ragidup diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada ibu pengantin lelaki sebagai Ulos Pargomgom yang maknanya adalah permohonan izin kepada Tuhan agar si pengantin dapat hidup bersama.

Ada yang berpendapat bahwa Ulos Ragidup nilainya setingkat di bawah Ulos Jugia. Namun ada juga yang beranggapan bahwa Ulos Ragidup merupakan Ulos yang paling tinggi nilainya karena selalu digunakan dalam upacara adat Batak, baik upacara duka cita maupun upacara suka-cita.

Ulos biasanya dipakai oleh golongan bangsawan (raja) dan masyarakat menengah ke atas. Pada jaman dahulu juga dipakai untuk mangupa tondi (mengukuhkan semangat) anak yang baru lahir. Selain itu, Ulos ini biasanya dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah) yang sedang mengadakan upacara. Dengan memakai Ulos ini akan jelas kelihatan siapa tuan rumahnya.

Pada upacara perkawinan, Ulos ini biasanya diberikan sebagai Pansamot, yaitu pemberian dari orang tua pengantin perempuan kepada orang tua pengantin laki-laki.  Di beberapa daerah, Ulos Ragidup tidak boleh dipakai oleh kaum wanita.

Jika ada orang tua yang meninggal dunia, maka Ulos Ragidup ini hanya boleh dipakai oleh anak tertua, sedangkan anak yang lainnya hanya boleh memakai Ulos Sibolang. Ulos ini juga bisa digunakan untuk Panggabei (Ulos Saur Matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Pada kondisi ini, Ulos Ragidup mempunyai derajat yang sama dengan Ulos Jugia.

c. Ragihotang

Ulos Ragihotang merupakan Ulos yang mempunyai ragi (corak) rotan (hotang). Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pengantin, sehingga disebut juga Ulos Marjabu. Tujuan pemberian Ulos ini adalah agar ikatan batin kedua pengantin seperti rotan. Pemberian Ulos ini kepada si pengantin dengan cara disampirkan dari sebelah kanan pengantin, ujungnya dipegang dengan tangan kanan laki-laki, dan ujung sebelah kiri oleh perempuan lalu disatukan di tengah dada seperti terikat.

Ulos ini juga digunakan untuk mangulosi seseorang yang dianggap picik, dengan harapan agar Tuhan memberikannya kebaikan sehingga orang tersebut rajin berkerja. Dalam upacara kematian, Ulos ini dipakai untuk membungkus jenazah, sedangkan dalam upacara penguburan kedua kalinya, digunakan untuk membungkus tulang-belulangnya. Oleh karenanya, Ulos ini mempunyai derajat yang cukup tinggi.

d. Ulos Sadum

Ulos Sadum biasanya dipakai dalam acara-acara yang penuh keceriaan. Hal ini dikarenakan Ulos ini mempunyai ragam warna yang cerah. Begitu indahnya Ulos ini sehingga sering digunakan sebagai hiasan dinding atau diberikan sebagai kenang-kenangan, khususnya kepada pejabat yang berkunjung ke daerah Batak.

Di Tapanuli Selatan, Ulos ini biasanya dipakai sebagai panjangki/parompa (gendongan) bagi keturunan Daulat Baginda atau Mangaraja. Selain itu, Ulos ini juga digunakan sebagai alas sirih di atas piring besar (pinggan godang burangir/harunduk panyurduan) untuk mengundang (marontang) raja-raja.

e. Ulos Runjat

Ulos ini biasanya dipakai oleh orang kaya atau orang terpandang ketika edang-edang (menghadiri undangan). Selain itu, Ulos ini juga dapat diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat, misalnya oleh Tulang (paman), pariban (kakak pengantin perempuan yang sudah kawin), dan pamarai (pakcik pengantin perempuan). Ulos ini juga dapat diberikan pada waktu mangupa-upa dalam acara pesta gembira (ulaon silas ni roha).

f. Ulos Sibolang

Ulos ini dapat dipakai baik ketika berduka atau bersuka cita. Untuk dipakai pada saat berduka-cita, biasanya dipilih Ulos Sibolang yang warna hitamnya menonjol, sedangkan bila bersuka cita dipilih yang warna putihnya menonjol.

Dalam upacara perkawinan, Ulos ini biasanya dipakai sebagai tutup ni ampang dan juga dapat disandang. Jika digunakan dalam upacara perkawinan, biasanya dipilih yang warna putihnya menonjol. Ulos Sibolang yang digunakan dalam upacara perkawinan, biasanya disebut Ulos Pamontari.

Oleh karena Ulos ini dapat dipakai dalam semua kegiatan adat Batak, maka Ulos ini dianggap oleh sebagian orang Batak sebagai Ulos yang paling tinggi nilai adatnya. Namun demikian, Ulos ini kurang tepat dipakai sebagai Ulos Pangupa atau Parompa.

g. Ulos Suri-suri Ganjang.

Disebut Ulos Suri-suri Ganjang (biasanya orang Batak hanya menyebutnya Ulos Suri-suri) karena coraknya berbentuk sisir memanjang. Dahulu Ulos ini dipergunakan sebagai ampe-ampe/hande-hande. Pada waktu margondang (memukul gendang) Ulos ini dipakai hula-hula untuk menyambut anak boru. Ulos ini juga dapat diberikan sebagai “Ulos Tondi” kepada pengantin. Ulos ini juga sering dipakai kaum wanita sebagai sabe-sabe. Keistimewaan Ulos ini adalah panjangnya yang melebihi Ulos biasa. Bila dipakai sebagai ampe-ampe bisa mencapai dua kali lilit pada bahu kiri dan kanan sehingga si pemakai seakan mengenakan dua Ulos.

h. Ulos Mangiring

Ulos ini mempunyai corak saling beriringan, yang melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Oleh karenanya, Ulos ini biasanya digunakan oleh seseorang sebagai Ulos Parompa kepada cucunya. Pemberian ini sebagai simbol bahwa si cucu akan diikuti pula oleh kelahiran adik-adiknya yang akan menjadi teman seiring-sejalan.

Ulos ini juga dapat digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Bagi kaum laki-laki dalam bentuk tali-tali (detar), sedangkan bagi kaum wanita dapat dipakai sebagai saong (tudung). Pada waktu upacara mampe goar (pembaptisan anak), Ulos ini juga dapat dipakai sebagai bulang-bulang oleh hula-hula kepada menantunya.

i. Bintang Maratur

Ulos Bintang Maratur sebagaimana namanya mempunyai ragi yang menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jenis ragi ini bermakna kepatuhan dan kerukunan dalam ikatan kekeluargaan. Selain itu, juga bermakna tingkatan sama rata dalam hal sinadongan (kekayaan) atau hasangapon (kemuliaan). Ulos ini dapat dipakai sebagai hande-hande (ampe-ampe), tali-tali, atau saong. Ulos ini mempunyai nilai dan fungsi yang sama dengan Ulos Mangiring.

j. Sitoluntuho-Bolean

Ulos ini biasanya hanya dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna adat kecuali bila diberikan kepada seorang anak yang baru lahir sebagai Ulos Parompa. Jenis Ulos ini dapat dipakai sebagai tambahan, yang dalam istilah adat Batak dikatakan sebagai Ulos Panoropi yang diberikan hula-hula kepada boru yang sudah terhitung keluarga jauh. Disebut Sitoluntuho karena raginya/coraknya yang berjejer tiga, merupakan “tuho” atau “tugal” yang biasanya dipakai untuk melubangi tanah guna menanam benih.

k. Ulos Jungkit

Ulos Jungkit mempunyai hiasan yang terbuat dari permata. Oleh karenanya, Ulos ini juga disebut Ulos Nanidondang atau Ulos Paruda (permata). Pada zaman dahulu, Ulos ini dipakai oleh para anak gadis dan keluarga raja-raja untuk hoba-hoba, menerima tamu pembesar kerajaan, atau pada saat melangsungkam resepsi perkawinan. Namun karena permata semakin sulit didapat, maka bentuk ragi permata pada Ulos ini diganti dengan cara manjungkit (mengkait) benang Ulos. Oleh karena proses pembuatannya sangat sulit, maka Ulos ini merupakan barang langka, dan saat ini sudah sangat sulit untuk menemukannya.

l. Ulos Lobu-Lobu

Ulos Lobu-Lobu merupakan Ulos yang digunakan untuk fungsi khusus, misalnya oleh orang yang sering dirundung kemalangan (kematian anak). Oleh karenanya, Ulos ini tidak pernah diperdagangkan dan orang yang membutuhkan biasanya memesan langsung kepada pengrajinnya. Selain itu, Ulos ini biasanya disimpan diparmonang-monangan, sehingga tidak cukup banyak orang yang mengenal jenis Ulos ini.

Bentuk Ulos ini seperti kain sarung dan rambunya tidak boleh dipotong. Ulos ini juga disebut Ulos giun hinarharan. Jaman dahulu para orang tua sering memberikan Ulos ini kepada anaknya yang sedang mengandung (hamil tua). Tujuannya agar nantinya anak yang dikandung lahir dengan selamat.

Selain keduabelas jenis tersebut, Ulos Batak masih mempunyai banyak macam dan coraknya, seperti: Ragi Panai, Ragi Hatirangga, Ragi Ambasang, Ragi Sidosdos, Ragi Sampuborna, Ragi Siattar, Ragi Sapot, Ragi si Imput ni Hirik, Ulos Bugis, Ulos Padang Rusa, Ulos Simata, Ulos Happu, Ulos Tukku, Ulos Gipul, dan Ulos Takkup. Menurut orang-orang tua, ragam Ulos Batak mencapai 57 jenis.

5. Penerima Ulos

Menurut adat yang berkembang dalam masyarakat, setiap orang Batak akan menerima minimal tiga macam Ulos dalam hidupnya, yaitu sewaktu baru lahir (Ulos Parompa atau Ulos Paralo-Alo Tondi), kawin (Marjabu atau Hela), dan saat meninggal dunia (Ulos Saput). Oleh karena setiap orang pasti mendapatkan ketiganya, maka Ulos ini juga disebut na marsintuhu (Ulos keharusan). (Tentang penerima Ulos sepenuhnya diolah dari http://tanobatak.wordpress.com/).


Kegiatan mangulosi

a. Ulos Saat Kelahiran

Untuk memberikan Ulos pada anak yang baru dilahirkan, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu: Pertama, apakah anak yang baru lahir merupakan anak sulung atau tidak. Jika yang lahir adalah anak sulung dari seorang ayah yang bukan anak sulung, maka yang mampe goar di samping sianak, hanyalah orangtuanya saja (mar amani….). Dengan kata lain, pihak hula-hula harus menyediakan dua Ulos, yaitu Ulos Parompa untuk sianak dan Ulos Pargomgom Mampe Goar untuk ayahnya.

Kedua, apakah anak tersebut merupakan anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga. Jika masuk kategori ini, maka yang mampe goar di samping si anak, juga ayah dan kakeknya (marama ni… dan ompu ni… ). Jika kondisi ini yang terjadi, maka hula-hula harus menyediakan Ulos sebanyak tiga buah, yaitu Ulos Parompa untuk sianak, Ulos Pargomgom untuk ayahnya, dan Ulos Bulang-Bulang untuk kakeknya.

Oleh karena Ulos ini secara khusus diberikan kepada si anak yang baru lahir, maka dalam memberikan Ulos selalu disampaikan kata-kata yang mengandung harapan agar si anak memperoleh berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Ungkapan dalam pemberian Ulos biasanya melalui umpasa (pantun).

b. Ulos Saat Perkawinan

Dalam upacara perkawinan, Hula-Hula dari pihak perempuan harus menyediakan Ulos Si Tot Ni Pansa, yaitu: Ulos Marjabu (untuk pengantin); Ulos Pansamot/Pargomgom untuk orang tua pengantin laki-laki;  Ulos Pamarai diberikan kepada saudara yang lebih tua dari pengantin laki-laki atau saudara kandung ayah; Ulos Simolohon diberikan kepada iboto (adik/kakak) pengantin laki-laki yang sudah menikah. Jika iboto pengantin belum ada yang menikah, maka Ulos ini diberikan kepada iboto dari ayahnya. Jika pernikahan dilaksanakan di rumah mempelai perempuan, maka selain Ulos Si Tot Ni Pansa, Hula-Hula dari pengantin perempuan harus menyediakan Ulos Tutup Ni Ampang.  

Pemberian Ulos dalam upacara perkawinan tidak boleh dilakukan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan aturan adat. Secara sederhana, tata cara pemberian Ulos (biasanya Ragi Hotang) yang disediakan oleh Hula-Hula adalah sebagai berikut:

  • Orang tua pengantin perempuan langsung memberikan (mangUloshon) Ulos yang telah disediakan kepada kedua pengantin. Ulos ini disebut Ulos Marjabu.
  • Apabila orang tua pihak perempuan diwakili oleh keluarga dekatnya, maka si wakil tersebut berhak memberikan Ulos kepada pengantin. Tetapi jika orang tua dari pengantin laki-laki, maka Ulos Pansamot harus diterima secara terlipat.
  • Penyampaian Ulos biasanya diiringi dengan berbagai pantun (umpasa) dan ungkapan-ungkapan yang mengandung tuah (pasu-pasu).
  • Kemudian dilanjutkan pemberian beras pasu-pasu (boras sipir ni tondi). Beras ini ditaburkan kepada umum dengan mengucapkan “horas” tiga kali.
  • Dilanjutkan dengan pemberian Ulos kepada orang tua pengantin laki-laki atau yang mewakilinya. Pemberian ini dilakukan bersamaan dengan penyampaian umpasa dan kata-kata petuah.
  • Setelah itu dilakukan pemberian Ulos Si Tot Ni Pansa kepada pamarai dan simolohon. Ulos ini biasanya diberikan oleh suhut paidua (keluarga/turunan saudara nenek).
  • Yang terakhir (penutup) adalah pemberian Ulos dari tulang (paman) pengantin laki-laki.

c. Ulos Saat Kematian

Ulos ini merupakan Ulos terakhir yang diterima oleh orang Batak. Jenis Ulos yang diberikan kepada orang  pada saat kematiannya ditentukan oleh statusnya (umur dan keturunan). Secara garis besar, ada tiga kategori orang meninggal, yaitu: muda, berkeluarga, dan tua.

  • Jika seseorang mati muda (mate hadirianna) maka Ulos yang diterimanya, adalah Ulos Parompa yang disebut parolang-olangan.
  • Apabila yang meninggal sudah berkeluarga (matipul ulu, marompas tataring), maka yang diberikan adalah Ulos Saput.  Sedangkan yang ditinggalkan (duda, janda) diberikan Ulos Tujung.
  • Bila yang meninggal dunia adalah orang tua yang sudah lengkap menurut sari/saur matua, maka kepadanya diberikan Ulos Panggabei. Sedangkan jika ia belum mempunyai keturunan yang meninggal dunia, maka ia berhak mendapatkan  Ulos Jugia.

6. Nilai-nilai

Kain Ulos tidak sekedar hasil kerajinan yang mempunyai tampilan indah, tetapi juga merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat. Dengan kata lain, dengan mengetahui dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam kain Ulos, maka kita akan mengetahui apa dan siapa orang Batak. Oleh karenanya, upaya pelestarian kain Ulos baik secara fisik maupun nilai-nilai yang dikandungnya harus segera dilakukan. Atau, generasi Batak akan teralienasi karena tercerabut dari akar lokalitasnya.

Secara garis besar, ada empat nilai yang dapat kita ambil dari kain Ulos, yaitu: kearifan lokal, keyakinan, tata aturan, dan kasih sayang. Pertama, kain Ulos merupakan manifestasi dari pengetahuan lokal masyarakat Batak. Kondisi geografis alam tempatan orang Batak yang berhawa cukup dingin menyebabkan matahari dan api tidak cukup memberi kehangatan, kondisi ini telah menggugah orang-orang Batak untuk mencari dan menciptakan sumber kehangatan baru, yaitu kain Ulos. Oleh karenanya, penggunaan kapas sebagai bahan baku utama untuk membuat kain Ulos, bukan suatu kebetulan, tetapi merupakan proses panjang dari sebuah pencarian. Demikian juga pewarna kain yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Kedua, pengetahuan lokal tersebut terus berkembang dan akhirnya menjadi falsafah hidup orang Batak. Menurut orang Batak, ada tiga sumber kehangatan, yaitu: matahari, api, dan Ulos. Eksistensi kain Ulos semakin kuat ketika ia menjadi bagian penting dari upacara-upacara adat yang dilakukan oleh orang Batak. Akhirnya, kain Ulos menjadi kain sakral yang menjadi simpul keyakinan orang Batak kepada Tuhan.

Ketiga, kain Ulos sebagai sumber tertib sosial (baca: tata aturan). Beragam Ulos dengan segenap raksa yang terkandung di dalamnya, jika dikaji secara serius, ternyata merupakan sumber untuk melakukan tertib sosial dalam masyarakat Batak. Ulos Jugia, Ragidup, dan Ragihotang misalnya, mengandung tata aturan bagaimana hidup bermasyarakat dan bagaimana tertib sosial dijaga dalam masyarakat. Mengapa Ulos Jugia hanya boleh dipakai oleh kakek yang telah mempunyai cucu, mengapa Ulos ragidup harus dipakai oleh tuan rumah dalam kegiatan kemasyarakatan, dan mengapa Ulos Sadum harus dijadikan alas sirih ketika menyambut raja. Dengan kata lain, keberadaan beragam jenis Ulos tersebut, merupakan cara masyarakat Batak menjaga harmoni sosial.

Keempat, kain Ulos sebagai pertanda kehangatan (baca: kasih sayang) orang Batak. Pemberian Ulos (mangulosi) agar orang yang diberikan terlepas dari serangan dingin yang menggrogoti tulang merupakan cara orang Batak mengungkapkan kasih sayangnya. Dengan memberikan Ulos, maka ia telah melindungi orang-orang yang dikasihinya.

(Ahmad Salehudin/bdy/34/07-08)

Daftar Bacaan

Dibaca : 64.379 kali.