Sabtu, 22 Juli 2017   |   Ahad, 27 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 7.485
Hari ini : 79.588
Kemarin : 75.246
Minggu kemarin : 719.265
Bulan kemarin : 6.361.067
Anda pengunjung ke 102.877.707
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Basunat
Simbol Pengislaman Anak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan


Anak yang hendak disunat diarak keliling kampung

1. Asal-usul

Basunat bagi masyarakat Banjarmasin, Kalimantan Selatan, merupakan hal yang sangat penting. Bahkan, keislaman seseorang belum dianggap sempurna apabila orang tersebut belum bersunat. Oleh karenanya, orang-orang Banjar sejak masih anak-anak (laki-laki berumur antara 6 – 12 tahun, dan perempuan biasanya lebih muda) telah disunat (Alfani Daud, 1997: 252). Asa bakalalangan haja kaalah kita (terasa mengganggu perasaan kita), demikian biasanya orang-orang mengomentari orang-orang Islam (bersyahadat) yang belum disunat. Selain dilakukan oleh kalangan orang Islam untuk menyempurnakan keislamannya, ternyata sunat juga dipraktekkan oleh masyarakat lokal yang masih menganut agama Balian maupun yang beragama Kristen (ibid). Namun sayang, belum ada cukup informasi yang menjelaskan mengapa mereka mempraktekkan sunat. 

Sunat bagi laki-laki dan perempuan pada prakteknya tidak sama. Sunat untuk laki-laki, adalah membuang kulit kemaluan (kulup) yang menutupi kepala kemaluan laki-laki. Sedangkan bagi perempuan, sunat adalah pemotongan sebagian jaringan clitoris. Di kalangan masyarakat Banjar, dikenal tiga metode menyunat untuk laki-laki, yaitu: (1) basupit. Disebut basupit karena kulit zakar yang harus dibuang dijepit dengan supitan yang terbuat dari kayu yang keras atau bambu selama dua sampai tiga minggu. Pemotongan dilakukan setelah kulup yang dijepit tersebut kering. Cara ini menimbulkan penderitaan yang luar biasa pada orang yang disunat, baik sebelum disunat maupun setelahnya. Metode basupit ini masih dijalankan oleh masyarakat Banjar sampai tahun 1940-an. 2) basunat. Metode ini merupakan kelanjutan dari metode basupit. Jika pada basupit kulup zakar harus dijepit dalam waktu 2-3 minggu, maka dalam basunat kulup dijepit hanya pada saat dipotong. Dengan cara ini, penderiataan orang yang bersunat jauh berkurang. (3) Penyunatan oleh dokter atau mantri kesehatan. Cara ini merupakan metode penyunatan paling modern. Jika pada basupit dan basunat orang yang melakukan adalah ahli sunat yang mendapat keahlian melalui pewarisan dari orang tuanya, maka pada metode yang terakhir orang yang melakukan penyunatan mendapat keahlian melalui pendidikan formal (ibid, 252-253).


Saat ini, para orang tua banyak beralih ke dokter atau
mantri untuk menyunat anaknya

Jika pada laki-laki basunat identik dengan pemotongan kulup zakar, maka pada perempuan lebih pada pengurangan jaringan clitoris dengan cara mengerik dengan menggunakan silet (lebih lanjut akan dijelaskan pada prosesi penyunatan). Oleh karena dengan cara mengerik, maka anak perempuan yang disunat tidak akan mengalami penderitaan akibat rasa sakit sebagaimana pada anak laki-laki. Bahkan, mereka dapat langsung bermain setelah prosesi penyunatan. 

Akhir-akhir ini, sunat perempuan tidak sedikit mendapat penetangan, khususnya dari kalangan feminis. Bahkan, secara formal penentangan terhadap praktek sunat perempuan juga dilakukan sepuluh Kelompok badan PBB, yaitu United Nation Program on HIV/AIDS (UNAIDS), United Nation Development Program (UNDP), United Nation Economic Commission for Africa (UNECA), United Nation Educational, Scientific and Cultural Organizations (UNESCO), United Nation Population Fund (UNFPA), Office of the High Commissioner on Human Rights (OHCHR), United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR), United Nation Children Fund (UNICEF), United Nation Development Fund for Women (UNIFEM), dan World Health Organization (WHO) (http://www.antara.co.id/). Kelompok penentang ini beralasan bahwa pemotongan terhadap clitoris perempuan (female genetical mutilation/FGM) merupakan kekerasan yang disengaja terhadap perempuan. Pada saat dewasa, anak perempuan yang dipotong clitorisnya akan mengalami bergabai gangguan infertilitas, terserang pembengkakan pada area genitalnya, mengalami sakit luar biasa saat melahirkan, sulit mengontrol kencingnya, dan parahnya lagi perempuan tersebut tidak bisa menikmati hubungan seksual dengan pasangannya (http://www.conectique.com/).

Namun ada juga yang menentang pelarangan tersebut dengan alasan agama. Kelompok ini biasanya mengambil argumen bahwa sunat perempuan yang dilarang adalah model sunat yang dilakukan di daerah Afrika, yaitu dengan memotong klitoris. Bagaimanakah dengan sunat perempuan yng dilakukan oleh masyarakat Banjarmasin? Apakah sunat yang dilakukan merusak organ reproduksi sehingga dapat dikategorikan kekerasan? Berikut ini akan dipaparkan bagaimana praktek sunat terhadap perempuan di Banjarmasin, sehingga dapat dijadikan referensi untuk mendukung atau menolak sunat terhadap perempuan.


2. Bahan dan Peralatan

Peralatan dan bahan yang digunakan untuk basunat antara lain (data ini sepenuhnya diolah dari Daud, 1997, 252-256):

  • Alat pemotong (pisau). Alat ini merupakan alat utama untuk melakukan proses khitan. Pada awalnya, alat yang digunakan adalah sembilu. Dan seiring perkembangan zaman, alat yang digunakan juga semakin modern, misalnya gunting.
  • Alat penjepit. Penjepit hanya digunakan dalam proses mengkhitan anak laki-laki, sedangkan anak perempuan tidak. Pada zaman dahulu, yaitu ketika khitan menggunakan metode basupit, bahan yang digunakan sebagai alat penjepit adalah kayu yang keras atau bambu.
  • Peralatan tolak bala. Peralatan ini terdiri bahan-bahan yang diyakini berkhasiat melindungi orang yang disunat dari ganguan mahluk halus dan tidak pusing setelah selesai disunat. Bahan-bahan tersebut diantaranya jeruk nipis, bawang tunggal, dan daun jariangau.
  • Panai (baskom dari gerabah). Alat digunakan anak-anak yang hendak basunat untuk berendam. Tujuanya agar daging kemaluannya keriput, sehingga ketika disunat tidak merasa sakit.  
  • Perlengkapan berhias. Peralatan ini di antaranya terdiri dari sarung batik, gelang dan kalung emas, serta balaung. Tujuan disediakannya peralatan ini agar para mahluk halus menyangka bahwa orang yang bersunat adalah perempuan.
  • Piduduk. Pada dasarnya piduduk berfungsi sebagai biaya persunatan yang harus dibayarkan oleh orang tua si anak yang bersunat. Piduduk terdiri dari beras (satu gantang), gula aren, kelapa, rempah-rempah dapur, dan uang. Piduduk yang harus diberikan antara anak laki-laki dan perempuan jenisnya sama, hanya saja jumlahnya berbeda. Piduduk untuk anak perempuan biasanya separoh (bahkan kurang) dari piduduk   anak laki-laki. Piduduk untuk anak laki-laki ditambah dengan seekor ayam jantan berwarna hitam, pisau atau diganti dengan sekeping baja, dan sehelai kain putih. Sedangkan untuk anak perempuan, piduduk ditambah dengan peralatan makan sirih. 


3. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Tempat dan waktu pelaksanaan penyunatan antara laki-laki dan perempuan pada dasrnya sama, yaitu pada pagi hari atau sebelum tengah hari, dan bertempat di rumah si anak yang hendak disunat. Anak laki-laki yang akan disunat biasanya berumur 6-12 tahun. Sedangkan perempuan biasanya berumur lebih muda dari itu, atau bahkan dilakukan sesaat setelah si anak perempuan lahir.

Jika penyunatan diadakan di kampung lain, dan diperlukan perjalanan yang cukup lama, misalnya karena di tempatnya tinggal tidak ada tukang sunat, maka pada saat anak yang hendak disunat akan berangkat biasanya terlebih dahulu diadakan ritual tertentu, seperti selamatan, upacara tepung tawar, pembacaan shalawat dan penyebaran beras kuning. Rtual-ritual ini juga diadakan ketika anak kembali pulang setelah disunat.


4. Prosesi Penyunatan

Secara garis besar, upacara basunat terdiri dari tiga tahap, yaitu persiapan, saat basunat, dan pasca basunat (prosesi penyunatan sepenuhnya diolah dari Daud, 1997, 253-257).


a. Tahap Persiapan

Pada tahap ini, orang tua anak yang hendak disunat melakukan persiapan sebagai berikut:

  • Menghubungi tukang sunat. Sampai sekitar tahun 1970-an, penyunatan untuk anak laki-laki hanya dilakukan oleh tukang sunat tradisional yang biasanya mewarisi keahlian menyunat dari orang tuanya. Para penyunat tradisional ini, biasanya mempunyai kemampuan untuk memindahkan rasa sakit akibat penyunatan kepada seekor ayam, biasanya ayam jantan yang berbulu hitam. Seiring perkembangan zaman, jumlah tukang sunat tradisional semakin sedikit dan perannya banyak digantikan oleh mantri kesehatan yang mendapatkan keahlian menyunat melalui pendidikan formal. Peralihan dari tukang sunat tradisional ke mantri mengakibatkan terjadinya perubahan tradisi yang menyertai pelaksanaan basunat, misalnya keharusan berendam di pagi hari telah ditinggalkan; dan pemakaian kalung yang terbuat dari jeruk nipis, bawang tunggal, dan daun jariangau yang seharusnya dipakai sejak sebelum penyunatan, berubah setelah penyunatan. Bahkan, menurut beberapa informasi telah ditinggalkan sama sekali.
  • Menentukan waktu baik. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, penyunatan biasanya dilakukan pada pagi hari sampai sebelum tengah hari. Seiring perkembangan zaman, kebiasaan ini juga semakin ditinggalkan. Saat ini, waktu sunatan biasanya ditentukan berdasarkan libur sekolah si anak.
  • Mempersiapkan piduduk. Untuk saat ini, piduduk telah banyak diganti dengan uang tunai sesuai dengan tarif mantri. 


b. Tahap Pelaksanaan

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa basunat bagi orang Banjarmasin merupakan salah satu penyempurna keislaman seseorang. Oleh karenanya, laki-laki dan perempuan harus basunat. Tentu saja tata-cara penyunatan berbeda antara anak laki-laki dan anak perempuan. Berikut ini akan dipaparkan tahapan penyunatan yang dilakukan secara tradisional.

1) Sunat untuk laki-laki

Prosesi basunat untuk anak laki-laki secara garis besar adalah sebagai berikut:

  • Anak laki-laki yang hendak disunat, sejak pagi hari (setelah shalat subuh) disuruh berendam dalam panai yang berisi campuran air dan tanah liat, atau adakalanya hanya berendam dalam air dingin di sungai. Cara ini diyakini oleh masyarakat Banjar dapat mengurangi (bahkan menghilangkan) rasa sakit dan pendarahan.


Seorang anak sedang bersiap untuk disunat

  • Setelah dianggap cukup, anak tersebut kemudian dibilas dengan air bersih dan dikeringkan.
  • Kemudian anak tersebut diberi pakaian bagus, cincin dan gelang emas, dipersolek bagai mempelai dan di lehernya digantungi sebuah azimat penangkal gangguan makhluk halus yang terbuat dari jeruk nipis, bawang tunggal, dan daun jariangau. Selain itu, agar si anak tidak pusing pada saat disunat. Khusus untuk keturunan bangsawan, sarung yang dipakai harus berwarna kuning.
  • Anak yang hendak disunat kemudian diarak keliling desa dan kemudian didudukkan di atas sasanggan terbalik, dan diselimuti bahalai (kain batik panjang). Sebelum tengah hari, bahkan lebih pagi lebih baik, proses basunat harus sudah dilakukan. Pemilihan waktu pagi didasarkan atas keyakinan bahwa udara pagi yang dingin akan mengurangi rasa sakit dan meminimalisir pendarahan.
  • Potongan kulup (kulit bagian pucuk zakar) kemudian dimasukkan ke dalam wadah khusus (sasanggan) berisi abu yang telah dipersiapkan.
  • Wadah tempat kulup tersebut kemudian diletakkan di bawah pohon pisang atau melati. Belum ada informasi mengapa kulup tersebut harus ditanam di bawah pohon pisang atau melati. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa kulup tersebut diberikan kepada ayam jantan yang hendak diberikan kepada si penyunat.


Seorang anak sedang disunat

  • Dilanjutkan ceramah keagamaan, pembacaan doa, dan pelafalan dua kalimah syahadat. Kegiatan ini sebagai penanda bahwa si anak yang disunat telah menjadi anak muslim.

2) Sunat perempuan

Penyunatan terhadap anak perempuan dilakukan dengan memotong atau mengerik jaringan bagian ujung clitoris. Secara garis besar tahapannya adalah sebagai berikut:

  • Kain putih dilubangi bagian tengahnya.
  • Kemudian kain yang berlubang tersebut ditempelkan pada kemaluan si anak perempuan hingga clitoris mencuat keluar.
  • Sedikit bagian clitoris tersebut kemudian dipotong atau dikerik. Jika dipotong, terkadang menimbulkan pendarahan, sedangkan jika dikerik biasanya tidak ada pendarahan. Namun ada juga penyunatan terhadap anak perempuan dilakukan secara simbolis tanpa melakukan pemotongan terhadap jaringan clitoris, yaitu dengan memberikan warna merah darah pada ujung clitoris sehingga selah-olah telah disunat.
  • Setelah proses penyunatan, bagian ”luka” pada clitoris diolesi irisan kunyit. Biasanya setelah proses basunat, si anak perempuan dapat langsung bermain.


c. Pasca Pelaksanaan

Terdapat perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki dan perempuan setelah basunat. Bagi anak perempuan, basunat adalah peristiwa biasa yang sekedar untuk prasyarat untuk menyempurnakan keislamannya. Sedangkan bagi anak laki-laki, basunat merupakan peristiwa yang gawat sehingga pasca basunat harus diberikan perlakuan khusus. Hal-hal yang perlu dilakukan setelah basunat di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Siang harinya, atau malam hari setelah Magrib, diadakan selamatan dengan hidangan wadai khusus, yakni nasi lakatan balamak yang ditempa dan dipotong persegi empat, di atasnya dihiasi inti nyiur bagula habang, lengkap dengan kopi atau teh manis. Selamatan ini diakhiri dengan pembacaan doa selamat dan ditutup dengan makan bersama.
  • Setelah selamatan, pada malam harinya, diadakan pesta keramaian yang tujuannya untuk bajajagaan (berjaga-jaga). Misalnya acara keseniaan batambur, yaitu pembacaan syair dengan diiringi permainan terbang (rebana besar, lambur).  Tingkat kemeriahan pesta biasanya terkait dengan status sosial dan ekonomi sang keluarga. Semakin tinggi status sosial dan ekonominya, semakin meriah pesta yang diadakan.
  • Tiga hari berikutnya diadakan upacara batumbang, yaitu upacara pemberkatan kepada si anak.

Khusus untuk kegiatan selamatan seperti selamatan paska basunat, bajajagaan, dan batumbang, antara laki-laki dan perempaun tidak ada bedanya. Bahkan, walaupun tata-cara basunat telah berbeda, pelaksanaan selamatan masih terus diadakan.       


5. Pantang Larang

Pantang larang dalam basunat hanya berlaku untuk anak laki-laki. Adapun pantang larang tersebut di antaranya adalah (Daud, 1997: 255):

  • Dilarang makan makanan yang terbuat dari ketan, ikan baung (sejenis ikan rawa), dan telur. Belum ada data yang menjelaskan tentang alasan mengapa ada larangan memakan tersebut. Mungkin ini semata-mata didasari pada keyakinan bahwa setiap penyakit berpantang terhadap makanan tertentu.


Pantang larang yang harus dipatuhi seorang anak yang disunat
pada hakekatnya bertujuan agar si anak banyak istirahat
sehingga cepat sembuh

  • Dilarang tidur miring. Larangan ini nampaknya merupakan antisipasi agar bekas luka sunat tidak menyentuh bagian-bagian tubuh lainnya, seperti paha. Jika tidur miring misalnya, kemungkinan bekas luka yang sudah mulai mengering akan kembali terbuka. Berdasarkan pertimbangan tersebut, nampaknya pantang larang ini diberlakukan. 
  • Dilarang melangkahi kotoran ayam. Larangan ini berdasarkan keyakinan masyarakat Banjar bahwa ”hawa” kotoran ayam, khususnya yang masih baru, dapat mengakibatkan luka sunat mengalami peradangan atau bengkak sehingga dapat menghambat proses penyembuhan. Selain itu, larangan ini nampaknya merupakan cara untuk memaksa agar anak yang baru disunat beristirahat di dalam rumah. Banyaknya kotoran ayam di halaman, misalnya, mengharuskan anak yang disunat harus berjalan pelan dan hati-hati untuk menghindari kotoran ayam. Berjalan secara perlahan dan melangkah secara hati-hati (tidak banyak gerak) merupakan salah satu keharusan orang yang basunat agar proses penyembuhan bekas sunatan berlangsung lebih cepat. 


6. Nilai-nilai

Basunat tidak sekedar memotong kulup pada ujung zakar laki-laki dan mengerik bagian clitoris kemaluan perempuan, tapi merupakan kumpulan simbol-simbol yang kaya makna dan kearifan. Sejak penentuan kapan waktu yang baik untuk bersunat, apa yang harus dipersiapkan, bagaimana melaksanakannya, sampai pantang larang yang harus ditaati merupakan pengejawantahan beraneka ragam nilai yang bekerja di dalam masyarakat Banjar. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah: religius, pembentukan identitas, solidaritas sosial, dan perubahan budaya.  

Pertama, nilai religius. Basunat merupakan salah satu ekspresi keberagamaan masyarakat Banjar. Oleh karenanya, basunat tidak sekedar pemotongan kulup kemaluan laki-laki dan pengurangan jaringan clitoris pada perempuan, tetapi sebuah peristiwa sakral yang merupakan manifesatsi dari ketundukan dan kepatuhan kepada Tuhan. Nilai-nilai religius pada peristiwa basunat ini diperkuat oleh upacara-upacara yang dilakukan. Adanya perasaan belum sempurna keislaman seseorang tanpa bersunat secara jelas menunjukkan betapa ritual ini mempunyai nilai-nilai religius yang terkait dengan keyakinan dan keimanan seseorang kepada dzat yang sakral. Oleh karenanya laki-laki dan perempuan Banjar harus disunat.

Sunat terhadap laki-laki cenderung tidak ada permasalahan karena relatif diterima dan dipahami oleh segenap elemen masyarakat, namun tidak demikian dengan sunat perempuan. Kampanye dan desakan penghapusan sunat terhadap perempuan yang dilakukan oleh sepuluh badan dibawah PBB, menteri pemberdayaan perempuan Indonesia, dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat tidak mampu menghalangi keinginan para orang tua untuk menyunat anak-anak perempuannya. Hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa yang berasal dari Banjar yang kuliah di Yogyakarta menunjukkan bahwa sunat terhadap perempuan sampai saat ini masih terus berlangsung (wawancara tanggal 7 September 2008).   

Kedua, penguatan identitas. Selain sebagai tanda kesempurnaan dalam berislam, sunat juga sebagai pembentukan identitas kelompok, yaitu sebagai pembeda dengan orang-orang yang masih menganut agama lokal. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya sekelompok masyarakat yang beragama Kristen di Banjarmasin yang juga  melakukan ritual basunat. Pewartaan tentang seseorang yang disunat melalui upacara-upacara dan hiburan kepada masyarakat luas, merupakan jalan untuk menginformasikan adanya identitas baru yang dimilikinya. Melalui identitas baru yang diwartakan ini, ia mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari kelompok tertentu.   

Ketiga, nilai solidaritas sosial. Oleh karena berfungsi sebagai identitas sosial, maka secara fungsional, sunat dengan segala ritual yang mengirinya menjadi sarana untuk menumbuhkan solidaritas sosial. Pelaksanaan acara bajajagaan (berjaga-jaga) untuk menjaga anak yang disunat dari segala hal yang membahayakan merupakan ekspresi munculnya solidaritas sosial baru.

Keempat, nilai perubahan. Perkembangan dan perubahan metode menyunat dan acara-acara yang menyertainya merupakan bukti nyata bahwa perubahan akan senantiasa terjadi seiring dengan meningkatknya kreatifitas manusia yang diakibatkan oleh perubahan waktu dan kondisi sosial masyarakat, walaupun hal tersebut berada dalam wilayah sakral. Fenomena ini menunjukkan bahwa segala sesuatu berubah, dan berusaha mempertahankannya dalam bentuk yang asli bertentangan dengan dinamika perubahan zaman.

Dari keempat nilai tersebut di atas, dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa basunat sebagai sebuah ekspresi keberagamaan yang bersifat sakral tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang bersifat sosial (profan), seperti solidaritas sosial dan identitas kelompok. Oleh karenanya, walaupun substansi dari basunat berada dalam wilayah sakral, tetapi hal-hal yang mengiringinya dapat saja berubah sesuai dengan perubahan sosial-budaya mayarakat. Fenomena ini juga membuktikan kegagalan teori evolusi yang mengatakan bahwa agama akan ditinggalkan ketika masyarakat memasuki fase industri.    

(Ahmad Salehudin/bdy/37/09-08)


Daftar Pustaka

Kredit Foto: http://flickr.com/photos/rayhan/2327883249/in/photostream/

Dibaca : 17.168 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password