Hikayat Gul Bakawali
Dalam Hikayat Gul Bakawali juga terdapat percampuran unsur Hindu dan Islam, antara lain:
- Adanya kayangan.
- Orang-orang Brahmana mempunyai peran penting dalam penceritaan.
- Adanya unsur penjelmaan atau inkarnasi, misalnya Tajul Muluk dapat menjelma menjadi gagak, perempuan, dan laki-laki.
- Adanya penyucian diri melalui proses pembakaran diri tokoh.
- Adanya penggunaan sebutan Dewata Mulia Raya.
- Adanya hukuman berupa perubahan wujud diri seseorang karena melanggar perintah maharaja kayangan.
- Adanya sumpah dari seseorang kepada tokoh, karena tidak menuruti kehendak tokoh tertentu dalam suatu kurun waktu, misalnya seseorang dikutuk menjadi binatang tertentu yang nantinya bisa berubah wujud menjadi manusia seperti semula jika ada pertolongan dari seorang tokoh.
- Adanya tokoh yang berasal dari kayangan tetapi karena kesalahannya, ia dibuang ke dunia.
- Adanya ungkapan dalam bahasa Arab di awal penceritaan.
- Pemakaian kata-kata dalam bahasa Arab, seperti: alhamdulillah, almarhum, alqisah, astaghfirullah, astafhimu, ghafar al-rahim, khatim al-Sulaiman, subbanahu wa taala, subhanallah, rahmah al-alamin, dan lain-lain.
- Pemakaian kata-kata sebutan: Laksana Nabi Allah Ya`kub, Zaleha, Yusuf, mendapat Lailatu`l-qadariah, dan lain-lain.
- Penggunaan kata takdir Allah Taala.
- Adanya pernyataan yang pada intinya bahwa betapapun berkuasanya dewa-dewi dan maharaja di kayangan namun Allah-lah yang lebih berkuasa.
(FX. Indrojiono/Sas/5/10-08)
Dibaca : 19.579 kali.
Berikan komentar anda :