Minggu, 19 Februari 2017   |   Isnain, 22 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 2.309
Hari ini : 13.242
Kemarin : 31.517
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.761.424
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Ingkling


Seorang anak sedang berusaha mengambil gacuknya

A. Pengantar

Sekelompok anak secara bergantian melemparkan gacuk pada gambar kotak-kotak di atas tanah, kemudian melompat-lompat dengan satu kaki mengelilingi kotak-kotak yang ada, dan berupaya secara sungguh-sungguh untuk memiliki kotak sebanyak-banyaknya. Barang siapa memiliki kotak paling banyak, maka dialah yang akan memenangkan permainan. Permainan ini disebut ingkling, yaitu permainan yang dilakukan dengan berjalan melompat-lompat dengan satu kaki. Selain nama ingkling, permainan ini juga dikenal dengan nama engklek, lempeng, dampu, dan beberapa sebutan lainnya.

Ingkling merupakan salah satu permainan anak yang cukup populer di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Permainan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Walaupun cukup populer di kalangan masyarakat pedesaaan, belum ada data yang menjelaskan dari mana asal mula permainan ini.

Seiring perkembangan zaman dan membanjirnya permainan-permainan modern, ingkling semakin hari semakin hilang dari peredaran. Anak-anak saat ini, baik yang hidup di daerah pedesaaan apalagi yang hidup di perkotaan lebih senang menghabiskan waktu mereka di depan televisi, bermain playstation, dan permainan lainnya yang diproduksi oleh pabrik. Hiburan dan permainan modern tersebut berhasil mencuri perhatian anak-anak karena bentuk-bentuknya yang menarik, jenisnya yang beraneka ragam, sangat mudah mendapatkannya, dan dapat dimainkan secara individual dalam ruang-ruang privat, seperti kamar tidur. Sedangkan permainan tradisional, seperti ingkling, bentuknya kurang menarik dan hanya dapat dimainkan secara bersama-sama dalam ruang-ruang publik, seperti di halaman rumah, masjid, gereja, surau, dan sekolah. Menurut perkiraan penulis, anak-anak yang lahir tahun 1990-an tidak lagi mengenal permainan ingkling.

Memudarnya budaya komunal, berkurangnya ruang-ruang publik yang memungkinkan permainan ini dimainkan, serta serbuan produk-produk permainan modern yang mempunyai kemasan menarik, mudah didapatkan, dan bersifat individualis sehingga anak-anak tidak perlu berbagi dengan kawan-kawannya, telah menjadikan permainan yang melatih anak-anak untuk bersosialisasi, berkepribadian kuat, dan merangsang kreativitas anak semakin ditinggalkan. Padahal, permainan tradisional merupakan hasil kreativitas masyarakat lokal untuk mewariskan nilai-nilai luhur, seperti kejujuran, tanggung jawab, solidaritas, dan perhargaan kepada orang lain. Dengan kata lain, melalui permainan ini masyarakat mewariskan dan menanamkan nilai-nilai luhurnya agar generasi mendatang hidup secara harmonis dan tidak tercerabut dari akar lokalitasnya. Hilangnya permainan tradisional, seperti ingkling, dari kehidupan sosial masyarakat dapat mengakibatkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi–pribadi yang asosial, tercerabut dari akar lokalitasnya, dan berdaya kreatif rendah. Oleh karenanya, perlu kiranya setiap orang tua, para guru, dan para pemangku kepentingan untuk secara bersama-sama menghidupkan kembali permainan tradisional, termasuk ingkling.

Tulisan ini membahas tentang beberapa aspek dalam permainan ingkling, di antaranya tempat dan waktu bermain, peralatan yang digunakan, dan cara memainkannya. Selain itu, tulisan ini juga akan menjelaskan fungsi dan nilai sosial permainan ingkling. Pengetahuan tentang nilai dan fungsi sosial permainan ingkling diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran para pemangku kepentingan untuk melestarikan dan mengembangkannya.

B. Tempat, Peralatan dan Waktu Bermain

1. Tempat

Ingkling adalah permainan yang relatif mudah dimainkan dan tidak mahal. Untuk memainkannya, hanya dibutuhkan lapangan datar berupa  tanah atau tanah bersemen sekitar 2 X 3 meter. Lapangan datar tersebut kemudian diberi garis dengan menggunakan gacuk, atau menggunakan kapur tulis jika tanahnya bersemen, yang bentuknya disesuaikan dengan jenis ingkling yang hendak dimainkan. Ada ingkling pesawat yang bentuknya menyerupai pesawat; ingkling gunung dan ingkling kitiran (kincir angin) yang bentuknya seperti gunung dan kitiran; ingkling saruk yang dimainkan dengan susunan kotak ingkling pesawat dan ingkling segi empat. Disebut ingkling saruk karena gacuknya disaruk (ditendang dengan menggunakan ujung kaki).

Oleh karena tempat yang diperlukan untuk memainkan ingkling tidak terlalu luas, maka permainan ini dapat dimainkan di emperan dan halaman rumah, halaman sekolah, masjid, gereja, atau surau. Dengan kata lain, dimana tersedia tempat untuk membuat lapangan ingkling, di situlah permainan ini dapat dimainkan.

2. Peralatan

Peralatan yang diperlukan untuk memainkan ingkling adalah sebuah gacuk, yaitu berupa benda pipih berdiameter sekitar 4-5 cm. Gacuk biasanya dibuat dari pecahan genteng atau tegel. Penggunaan gacuk dengan spesifikasi pipih, karena benda pipih akan lebih mudah dikontrol ketika dilemparkan ke dalam kotak ingkling.

3. Waktu

Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak pada pagi hari ketika hendak masuk kelas, pada saat jam istirahat, atau sore hari sekitar pukul 15-17 waktu setempat. Ketika ingkling dimainkan pada saat anak-anak sedang menunggu waktu masuk kelas atau sedang istirahat, besar kemungkinan seragam mereka menjadi kusut dan kotor akibat keringat yang bercucuran. Oleh karenanya, terkadang guru di sekolah melarang anak-anak bermain ingkling.

C. Pemain

Ingkling biasanya dimainkan oleh dua orang anak atau lebih yang berumur 7-12 tahun. Dan untuk alasan-alasan khusus, para remaja di atas umur 12 tahun terkadang juga masih memainkan permainan ini. Jika hanya dimainkan oleh dua orang anak, makan untuk menentukan siapa yang berhak bermain terlebih dahulu ditentukan melalui pingsut. Sedangkan jika lebih dari dua orang, maka penentuan urutannya dilakukan dengan hompimpa. Oleh karena pemain pertama mempunyai kesempatan lebih besar untuk memiliki kotak ingkling, maka mereka akan berusaha agar pada saat pingsut atau hompimpa menjadi pemenangnya.


Ingkling terkadang juga dimainkan oleh para remaja (umur diatas 12 tahun)

D. Tata Cara Permianan

Secara garis besar, permainan ingkling terdiri dari dua tahapan, yaitu persiapan dan permainan.

1. Persiapan

Pada tahap ini, ada tiga hal yang dilakukan oleh mereka yang hendak bermain ingkling, yaitu:

  • Mengumpulkan anak yang hendak bermain. Bagi anak-anak yang tinggal di desa, berkumpul dengan teman-teman sebaya merupakan hal yang sangat mudah dilakukan, bahkan terjadi seolah-olah secara alami. Mereka akan datang ke suatu tempat bermain tanpa terlebih dahulu membuat perjanjian, misalnya berkumpul di halaman sekolah, di depan surau, atau rumah salah seorang warga yang berhalaman luas. Tetapi tidak demikian dengan anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan. Untuk berkumpul dengan kawan-kawan sebayanya, mereka membutuhkan usaha yang lebih serius. Bahkan, tidak jarang mereka harus menyewa tempat untuk dapat berkumpul dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Pada saat mereka telah berkumpul, barulah mereka menentukan jenis permainan apa yang hendak mereka mainkan.
  • Membuat gacuk ingkling. Jika anak-anak tersebut sepakat untuk bermain ingkling, maka selanjutnya mereka mencari dan membuat gacuk. Bahan untuk membuat gacuk biasanya berasal dari benda-benda yang banyak tersedia di sekitar mereka, seperti pecahan genteng atau tegel. Oleh karena bahannya banyak tersedia tanpa harus membeli, maka siapapun dengan latar belakang yang bagaimanapun asalkan secara fisik dan rohani sehat dapat ikut merasakan kegembiraan bermain ingkling.


Anak-anak yang hendak bermain ingkling menunjukkan gacuknya

  • Membuat lapangan. Setelah mereka bersepakat untuk bermain ingkling dan telah mempersiapkan gacuknya, maka tahap selanjutnya adalah membuat lapangannya. Sebagaimana telah disampaikan di atas, untuk membuat arena bermain ingkling sangat mudah, yaitu hanya dengan membuat garis-garis di atas tanah sesuai dengan jenis ingkling yang hendak dimainkan.


Secara umum, ada empat jenis lapangan untuk memainkan ingkling

2. Permainan

Setelah gacuk dan arena bermain dipersiapkan, maka permainan ingkling dapat segera dimainkan. Sebelum dimulai, terlebih dahulu ditentukan siapa yang akan memainkan ingkling kali pertama. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, urutan pemain ditentukan dengan pingsut jika pemain hanya terdiri dari dua orang, atau hompimpa jika pemain lebih dari dua orang.


Jika pemain ingkling lebih dari dua orang, urutan pemain ditentukan
dengan hompimpa.

Menurut tata cara permainannya, ada dua model permainan ingkling, yaitu melompat-lompat dengan satu kaki sambil memegang gacuk, dan melompat-lompat dengan satu kaki sambil menyaruk gacuk.

  • Melompat-lompat dengan satu kaki sambil memegang gacuk.

Pemain yang berhasil mendapatkan urutan pertama dapat memulai permainan dengan melemparkan gacuknya pada kotak pertama. Jika gacuk yang dilemparkan ke luar dari kotak yang menjadi target, atau berada di atas garis antar kotak, maka pemain tersebut dinyatakan gugur dan kesempatan diberikan kepada pemain selanjutnya. Setiap pemain yang gagal harus menunggu giliran sampai seluruh pemain mendapat giliran.


Seorang pemain ingkling sedang melemparkan gacuknya.

Jika lemparan gacuknya berada di dalam kotak, maka si pemain dapat melanjutkan permainan. Ia harus melompati kotak yang ada gacuk miliknya, dan melompat-lompat dengan satu kaki mengitari kotak-kotak yang lain sampai akhirnya kembali pada kotak yang ada gacuknya. Sebelum masuk pada kotak yang ada gacuknya, si pemain harus berhenti sejenak untuk mengambil gacuknya. Barulah kemudian ia dapat melanjutkan perjalannya. Pada saat melompat-lompat mengitari kotak-kotak, si pemain juga harus berhati-hati karena jika menginjak gacuk pemain lain, atau menyentuh garis-garis tepi kotak, ia dinyatakan gagal dan kesempatan diberikan kepada pemain urutan selanjutnya.

Seandainya pada putaran tersebut ia sukses, si pemain dapat melemparkan gacuknya pada kotak berikutnya. Selanjutnya sesuai dengan tata cara yang awal, yaitu berjalan melompat-lompat, dan pada kotak yang ada ingkling miliknya, dia harus melompatinya. Demikian seterusnya sampai gacuknya melewati semua kotak yang ada pada arena ingkling. Bagi yang berhasil melewati semua kotak, maka dia bepeluang untuk memiliki secara eksklusif sebuah kotak, yaitu pemain lain tidak boleh menginjakkan kaki pada kotak yang telah ada pemiliknya. Namun sebelum memiliki kotak secara eksklusif, peserta harus memutari kotak-kotak ingkling dengan melompat-lompat menggunakan satu kaki, dan meletakkan gacuknya pada bagian punggung tangannya. Setelah itu, ia dapat menentukan kotak miliknya dengan melemparkan gacuknya ke kotak ingkling dengan membelakangi arena permaianan. Kotak tempat jatuhnya gacuk itulah yang berhak menjadi kotaknya. Untuk menandai kepemilikannya, biasanya kotak yang menjadi miliknya diberi tanda khusus, seperti gambar bintang.

Jika salah satu pemain memiliki banyak kotak, dan pemain lain kesulitan untuk melompati kotak-kotak yang telah ada pemiliknya tersebut, maka pemain yang lain dapat meminta bagian dari kotak yang telah ada pemiliknya tersebut. Dipenuhi atau tidaknya permintaan untuk membagi kotak, sepenuhnya ditentukan oleh kebaikan si pemilik kotak. Namun biasanya akan dikabulkan, karena jika tidak mengabulkan pemain tersebut dicap pelit. Pada akhirnya, pemenang permainan ini adalah pemain yang mempunyai banyak kotak. 

  • Melompat-lompat dengan satu kaki sambil menyaruk gacuk.

Selain cara di atas, ingkling juga dapat dilakukan dengan menyaruk gacuk dengan menggunakan kaki. Khusus untuk permainan ingkling model ini, semua gacuk para pemain sejak awal telah diletakkan pada kotak pertama. Pemain dengan urutan pertama memulai permainan dengan menyaruk gacuknya sambil terus berjalan melompat-lompat dengan satu kaki. Si pemain harus menyaruk gacuknya sampai gacuknya melewati semua kotak ingkling.


Seorang anak sedang menyaruk gacuknya sambil melompat-lompat
dengan satu kaki

Jika pada permainan ingkling tipe pertama si pemain harus melompati kotak yang ada gacuk miliknya, maka pada tipe yang kedua ini si pemain harus menyaruk gacuk yang ada di dalam kotak sambil tetap melompat-lompat dengan satu kaki. Oleh karena si pemain harus menyaruk gacuk sambil melompat-lompat dengan satu kaki, maka permainan tipe kedua ini akan terasa lebih sulit. Pada saat menyaruk gacuk, misalnya, kaki si pemain tidak boleh menginjak atau keluar garis kotak; gacuk yang disaruk  tidak boleh keluar atau berhenti di atas garis; dan gacuk tidak boleh membentur gacuk pemain yang lain.

Demikian seterusnya sampai melewati semua kotak. Penentuan kepemilikan sebuah kotak pada permainan ingkling tipe kedua ini sama dengan permainan ingkling tipe pertama. Demikian juga dengan penentuan pemenangnya, yaitu pemain yang mempunyai jumlah kotak lebih banyak menjadi pemenangnya.

E. Nilai-nilai

Bermain ingkling, dan juga permainan tradisional lainnya, bagi anak-anak tidak sekedar wahana untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk mengembangkan dan meningkatkan daya tahan fisik, menghilangkan stres dan menumbuhkan keceriaan, bersosialisasi dan bernegosiasi, mengasah kreativitas, mentaati aturan, dan mengenal lingkungan.

Pertama, melatih dan meningkatkan fisik anak. Ketika anak-anak melompat-lompat dengan menggunakan satu kaki dan menyaruk gacuk secara langsung telah melakukan latihan agar otot-otot tubuh berkembang dan berkoordinasi dengan baik. Motorik kasar dan motorik halus si anak dilatih dan dikembangkan secara bersama-sama sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk menjaga keseimbangan badan, melatih kemampuan reka visual, mengembangkan kemampuan motor planning (perencanaan gerak), dan meningkatkan kemampuan differensiasi tekstur.

Kedua, menghilangkan stres dan menumbuhkan keceriaan. Pada dasarnya, anak seperti halnya orang tua, mempunyai rasa stress. Oleh karenanya, stres harus diminimalisir agar perkembangan mental anak tidak terhambat. Ingkling dalam konteks ini dapat menstimulus anak untuk selalu ceria dan bersuka cita. Gerakan berjalan melompat-lompat dengan satu kaki selain bermanfaat untuk mengembangkan fisik juga berfungsi untuk melepaskan energi stress. Suasana ceria yang dibangun senantiasa melahirkan dan menghasilkan kebersamaan yang menyenangkan. Pada saat inilah, spirit hidup rukun dan harmonis pada anak dikembangkan.

Ketiga,  bersosialisasi dan bernegosiasi. Ketika beberapa anak berkumpul dan bersepakat untuk bermain ingkling, misalnya, maka pada saat itu mereka belajar untuk bersosialisasi dan bernegosiasi. Tentu setiap anak mempunyai keinginan berbeda-beda tentang permaianan apa yang hendak dimainkan, namun karena tidak semua permaianan dapat dilakukan secara bersamaan, maka mereka harus mengkomunikasikan keinginannya masing-masing. Terjadilah negosiasi walaupun mungkin dalam kategori yang sangat sederhana. Ketika mereka bernegosiasi, maka mereka juga belajar untuk menghargai dan menghormati pendapat dan keinginan anak yang lain. Selain itu, mereka juga belajar untuk bisa menerima jika usulnya tidak terpilih.

Keempat, membangun kreativitas dan sportivitas. Ketika anak-anak bersepakat untuk bermain ingkling, maka mereka semua mempunyai tanggung jawab agar permainan berlangsung semarak, menyenangkan, dan adil. Untuk menciptakan kondisi demikian, mereka bersama-sama harus membuat aturan. Untuk menghasilkan aturan yang baik, anak-anak tersebut harus mengerahkan nalar budinya secara sungguh-sungguh walaupun mungkin tidak mereka disadari. Selain itu, adanya obsesinya pada setiap anak untuk memenangkan pertandingan, juga menuntut anak-anak untuk membuat dan merumuskan strategi  pemenangannya. Mereka belajar berkompetisi, belajar memenangkannya, dan juga belajar bagaimana menerima kekalahan secara kesatria.

Kelima,  mentaati aturan. Setelah anak-anak berkreasi membuat aturan permainan, maka pada saat bersamaan mereka dituntut untuk mentaati aturan yang telah mereka sepakati. Bagi anak-anak yang bertindak curang, atau tidak mematuhi aturan main, dia akan mendapatkan sanksi sosial dari sesamanya. Pada kesempatan ini, anak mulai belajar hidup bermasyarakat dan menjadi bagian dari masyarakat. Jika anak yang melakukan kecurangan mengakui kesalahannya, maka teman-temannya yang lain biasanya bersedia menerimanya kembali. Suatu bentuk proses belajar memaafkan dan menerima kembali mereka yang telah mengakui kesalahannya (rekonsiliasi).

Keenam, mengenal lingkungan. Ingkling merupakan salah satu permainan anak tradisional yang peralatannya berasal dari alam. Lapangan sebagai tempat bermain dan gacuknya yang terbuat dari pecahan genteng atau tegel semuanya tersedia secara gratis. Hal ini melahirkan interaksi antara anak dengan lingkungan sedemikian dekatnya. Kebersamaan dengan alam merupakan bagian terpenting dari proses pengenalan anak-anak terhadap lingkungannya. Mereka yang telah mengenal dan merasa menjadi bagian dari alam akan mempunyai kepedulian untuk senantiasa merawat dan melestarikan alamnya. Alam menjadi sesuatu yang dihayati keberadaannya, tak terpisahkan dari kenyataan hidup manusia.

(Ahmad Salehudin/bdy/39/11-2008)  

Kredit Foto:

Daftar Bacaan

Dibaca : 18.567 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password