Jumat, 31 Oktober 2014   |   Sabtu, 7 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 2.295
Hari ini : 16.850
Kemarin : 21.335
Minggu kemarin : 154.939
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.294.224
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tenun Buton


Aneka corak dan motif tenun Buton

A. Asal-Usul

Sampai tahun 1960 yang dimaksud dengan orang-orang Buton menurut JW Schoorl, sebagaimana dikutip Yamin Indas adalah mereka yang tinggal di Kesultanan Buton, yang meliputi Pulau Buton, Muna, Kabaena, Kepulauan Tukang Besi, Rumbia dan Poleang di daratan besar jazirah Sulawesi Tenggara (Kompas, 22 Jul 2005). Saat ini, wilayah Kesultanan Buton telah terbagi-bagi ke dalam beberapa kabupaten dan kota, yaitu kota Bau-Bau, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana, dan Kabupaten Buton sendiri. Tidak hanya itu, seiring meningkatnya mobilitas orang akibat semakin mudahnya alat-alat transportasi, masyarakat Buton juga ternyata telah mendiami daerah-daerah di luar kawasan Kesultanan Buton. Uniknya, walaupun berbeda secara geografis dan administrasi pemerintahan, secara kultural mereka tetap satu. Hal ini terjadi karena masyarakat Buton mempunyai nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pengikat dan perekat hubungan sosial antarmasyarakat Buton di manapun mereka berada. Menurut Indas, salah satu perekat sosial itu adalah kain tenun tradisional Buton (Indas, Kompas, 22 Juli 2005).

Tenun Buton mampu menjadi perekat sosial bagi masyarakat Buton karena dua hal. Pertama, tenun Buton merupakan pengejawantahan dari penghayatan orang-orang Buton dalam memahami lingkungan alamnya. Hal ini dapat dilihat dari corak dan motif yang terdapat pada tenun Buton. Menurut Hasinu Daa, sebagaimana dikutip Indas (Kompas, 22 Jul 2005), motif tenun Buton dibuat berdasarkan pengamatan dan penghayatan orang Buton terhadap alam sekitarnya. Misalnya, motif betano walona koncuapa yang terinspirasi dari abu halus yang melayang-layang hasil pembakaran semak saat membuka ladang, motif colo makbahu atau korek basah, motif delima bongko (delima busuk), motif delima sapuua, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, dengan melihat tenun Buton kita akan mengetahui bagaimana pemahaman orang Buton terhadap alamnya, dan pada saat bersamaan kita seolah-olah diajak bertamasya menikmati alam Buton.

Kedua, tenun Buton sebagai identitas diri dan sosial. Bagi orang Buton, pakaian tidak semata-mata berfungsi sebagai pelindung tubuh dari terik matahari dan dinginnya angin malam, tetapi juga berfungsi sebagai identitas diri dan stratifikasi sosial. Dengan melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita Buton misalnya, kita bisa mengetahui apakah dia telah menikah atau belum. Melalui pakaian yang dikenakan, kita juga dapat mengetahui apakah seorang perempuan dari golongan awam atau bangsawan. Misalnya, motif tenun kasopa biasanya dipakai oleh perempuan kebanyakan, sedangkan motif kumbaea yang didominasi warna perak biasanya dipakai oleh perempuan dari golongan bangsawan dengan gelar Wa Ode. Menurut Hasinu Daa sebagaimana dikutip oleh Indas (Kompas, 22 Jul 2005), dengan melihat tenun yang dipakai orang Buton, kita dapat mengetahui kedudukan seseorang dalam masyarakat Buton, seperti sapati atau kenepulu. Sebagai simbol kedirian orang Buton, maka sudah sewajarnya jika orang Buton menjaga agar simbol jati diri sosialnya tetap lestari. Salah satu cara yang digunakan untuk menjaga kelestariannya adalah dengan mengajari perempuan Buton tetanu (menenun) sejak mereka masih kecil, yaitu sekitar umur 10 tahun. Oleh karenanya, tidak heran apabila sebagian besar perempuan Buton, termasuk para istri sultan, mahir menenun (Kompas, 22 Juli 2005 dan 23 Januari 2009; http://produkboeton.blogspot.com).

Selain sebagai perekat sosial, faktor lain yang menjadikan tenun Buton tetap terjaga kelestariannya adalah fungsinya yang sangat vital dalam menopang keyakinan masyarakat Buton, yaitu sebagai pelengkap dalam pelaksanaan ritual masyarakat Buton. Sejak dilahirkan sampai meninggal dunia, orang Buton selalu menggunakan tenun Buton dalam setiap ritual yang dilakukan. Tanpa tenun Buton, kesakralan upacara adat Buton menjadi berkurang (http://orangbuton.wordpress.com).

Sayang, keberadaan tenun Buton dari hari-hari semakin terancam kelestariannya. Problem serius yang dihadapi oleh tenun Buton—sebagaimana kain tradisional lainnya adalah serbuan produk-produk kain yang dihasilkan oleh industri yang menggunakan peralatan modern. Mesin modern tidak saja menghasilkan kain-kain dengan corak yang lebih variatif dan atraktif, tetapi juga lebih efisien dalam waktu pengerjaan dan harganya jauh lebih murah. Dalam kondisi demikian, tenun Buton akan semakin tersisih. Mungkin sebagai perekat solidaritas sosial dan pelengkap ritual, tenun Buton akan tetap lestari, tetapi ia akan kesulitan untuk berkembang. Ketika tenun sudah tidak lagi berkembang, maka ia akan tersisih digantikan oleh produk tenun lain dan segera dilupakan orang. Artinya, jika kondisi ini terus menerus dibiarkan bukan tidak mungkin tenun Buton akan hilang sama sekali.


Tenun Buton digunakan sebagai hiasan dinding

Melihat fungsinya yang sangat besar bagi orang-orang Buton, maka sudah seharusnya semua pihak berpartisipasi untuk melakukan revitalisasi fungsi Tenun Buton. Jika selama ini tenun Buton hanya menjadi simbol perekat sosial orang Buton, penanda stratifikasi sosial, dan pelengkap ritual adat, maka perlu juga dilakukan eksplorasi lebih jauh terhadap nilai ekonomis yang terkandung dalam tenun Buton. Dengan kata lain, perlu upaya kreatif agar tenun Buton tidak sekedar menjadi identitas dan kebanggaan sosial, tetapi juga mampu menjadi sumber penopang ekonomi masyarakat Buton. Jika tenun Buton mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat Buton, maka dengan sendirinya masyarakat akan kembali bergiat untuk belajar menenun dan mengembangkan tenun Buton.  

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memunculkan potensi ekonomi tenun Buton. Pertama, mendokumentasikan dan memperkenalkan motif tenun Buton. Tenun Buton memiliki potensi ekonomi yang sangat besar untuk potensi ekonomisnya, karena tenun ini mempunyai motif yang sangat kaya. Konon, motif tenun Buton berjumlah ratusan, tapi belum terdokumentasi dan diketahui oleh masyarakat luas   (http://www.sultra.go.id; http://profilesmakassar.blogspot.com; Kompas, 23 Januari 2009). Oleh karenanya, yang perlu dilakukan segera oleh segenap stake holder adalah melakukan inventarisasi terhadap semua motif tenun Buton dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, tenun Buton tidak saja akan lestari, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai penopang kesejahteraan masyarakat Buton, terutama kesejahteraan materialnya.

Kedua, meningkatkan mutu dan kualitas tenun Buton agar bisa bersaing dengan produk tenun lainnya, misalnya dengan membuat tenun Buton dari benang sutra. Dengan cara ini, tidak saja kualitas tenun Buton yang meningkat, tapi juga penghasilan para penenun juga akan naik. Harga kain sarung Buton misalnya, paling tinggi harganya Rp 150.000 per lembar, tapi jika dibuat dari benang sutra maka harganya bisa mencapai Rp 400.000 per lembar (http://profilesmakassar.blogspot.com).

Ketiga, memperbanyak jenis derivasi produk tenun Buton. Jika dulunya kain Buton hanya digunakan untuk busana, maka perlu kreativitas agar tenun Buton dapat multifungsi, seperti digunakan untuk membuat gorden, taplak meja, dan alat dekorasi. Semakin banyak fungsi yang dimiliki oleh Tenun Buton, maka semakin banyak manfaat yang bisa diambil dari tenun Buton. Jika tenun Buton semakin bermanfaat, khususnya sebagai penopang ekonomi masyarakat, maka akan semakin banyak orang atau kelompok yang akan ikut menjaga, melestarikan, dan mengembangkannya. 


Kipas tangan dari tenun Buton (kiri); Tas Gaul dari tenun Buton (kanan)

Keempat, memperluas wilayah pemasaran. Agar mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat Buton, maka hasil produk tenun Buton harus dapat diterima oleh masyarakat non Buton. Jika tenun Buton telah diterima oleh masyarakat non Buton, maka dengan sendirinya jumlah permintaan terhadap tenun Buton akan semakin banyak. Bertambahnya jumlah permintaan akan menjamin keberlangsungan produksi tenun Buton. Oleh karena itu, segenap stake holder harus bekerjasama agar tenun Buton bisa dikenal dan diterima oleh masyarakat non Buton, misalnya menjadikan tenun Buton sebagai souvenir resmi pemerintah daerah, aktif mengikuti pameran kain adat, dan lain sebagainya.


Penutup gelas dari tenun Buton

Keempat cara untuk menumbuhkan nilai ekonimis yang dikandung tenun Buton di atas akan berhasil jika masyarakat Buton sendiri mempunyai rasa bangga terhadap tenun mereka. Artinya, sebelum orang lain menggunakan tenun Buton, masyarakat Buton sendiri harus menjadi pengguna utama Tenun Buton. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa bangga dan memiliki terhadap tenun Buton, yaitu: pertama, melalui pendidikan, baik formal maupun non formal. Anak-anak Buton harus dikenalkan kembali terhadap khazanah kebudayaan mereka, misalnya melalui mata pelajaran muatan lokal. Mereka harus diajarkan bagaimana mengenali, memahami makna filosofis yang terkandung di dalamnya, dan bagaimana cara membuat tenun Buton. Dengan cara ini, anak-anak akan mempunyai kecintaan dan kepedulian terhadap tenun Buton; kedua, mobilisasi secara formal. Cara ini dapat dilakukan, misalnya, dengan menjadikan tenun Buton sebagai seragam wajib pegawai pemerintah. 

B. Bahan-bahan dan Peralatan

Menurut Syukri Rauf (Wawancara tanggal 16 Maret 2009), peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat tenun Buton, di antaranya adalah:

  • Seperangkat alat tenun. Ada dua macam alat tenun yang digunakan untuk membuat tenun Buton, yaitu alat tenun tradisional (gedokan) dan alat tenun bukan mesin (ATBM).


 Alat tenun tradisional (kiri); Alat Tenun Bukan Mesin (kanan)

  • Benang. Benang merupakan bahan utama untuk membuat tenun Buton. Pada zaman dahulu, benang dibuat sendiri oleh masing-masing pengrajin. Saat ini, benang tenun Buton telah banyak tersedia di pasaran.
  • Pewarna kain. Saat ini pewarna kain sudah tidak dibutuhkan lagi, karena dipasaran telah tersedia benang berwarna. Para pengrajin tinggal membeli benang warna apa yang dibutuhkan, sesuai dengan motif yang hendak dibuat. 

C. Proses Pembuatan

Pembuatan tenun Buton secara garis besar terdiri dari dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pembuatan.   

1. Tahap Persiapan

Tahap paling awal dalam pembuatan tenun Buton adalah mempersiapkan peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan, serta corak tenun yang hendak dibuat. Peralatan biasanya telah tersedia, hanya saja perlu dicek ulang agar peralatan betul-betul siap untuk digunakan. Jika peralatan yang ada kurang berfungsi dengan baik misalnya, maka segera dilakukan perbaikan. Sedangkan untuk bahan tenun (benang) biasanya didapat dengan membeli dari toko yang menjual benang untuk tenun Buton. Pembelian benang disesuaikan dengan corak yang hendak dibuat.

Menurut Syukri Rauf, jika dulu harus membuat sendiri benang untuk tenun, sekarang para penenun dapat memperoleh benang tenun dari toko yang menjualnya. Menurutnya, dengan cara ini, waktu yang dibutuhkan untuk membuat tenun Buton menjadi lebih cepat. Selain itu, juga tidak perlu melalui proses pewarnaan, karena benang yang dijual biasanya telah berwarna. Pengarajin tenun tinggal membeli benang yang warnanya sesuai dengan corak yang hendak dibuat (Wawancara tanggal 16 Maret 2009).

2. Tahap Pembuatan

Setelah peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan telah siap, maka tahap selanjutnya adalah proses pembuatan. Tahap ini merupakan tahapan merangkai dan merajut benang sehingga menjadi selembar kain dengan panjang empat meter dan lebar 65 sentimeter. Satu lembar kain paling cepat diselesaikan dalam waktu tiga hari. Jika ada kerja lain, seperti memasak dan mencuci, maka selembar kain baru selesai dalam seminggu (Kompas, 23 Januari 2009).

Proses pembuatan tenun Buton secara cukup baik dinarasikan oleh Agung Setyahadi sebagai berikut (Kompas, 23 Januari 2009):

 “Jemari tangan Halimah (61) dengan cekatan menarik kayu balida yang merapatkan benang-benang menjadi kain tenun. Sesekali ia merapikan sulur-sulur benang supaya tidak kusut dan memukul papan tenun dengan martil kayu untuk meluruskan posisinya.

Bunyi ”tek... tek..., tek... tek...” kembali terdengar saat balida beradu dengan papan tenun. Suara itu terdengar di lorong-lorong Desa Sulaa, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.”

Pekerjaan tetanu (menenun) dilakukan oleh perempuan Buton sepanjang hari saat kaum laki-laki libur melaut, misalnya karena ombak sangat besar. Ketika para suami libur melaut, mereka tidak akan mendapatkan uang untuk menghidupi keluarganya. Dalam kondisi inilah, keberadaan tenun Buton dapat berperan sebagai penopang ekonomi keluarga.


Perempuan Buton sedang tetanu (menenun)

D. Tahap Pendistribusian

Setelah berbentuk kain, maka tahap selanjutnya adalah mendistribusikannya. Kain biasanya dijual ke pedagang pengumpul dengan harga sekitar Rp100.000 sampai Rp 150.000 per lembar. Harga akan bertambah sekitar Rp 50.000 – Rp 100.000 jika tenun Buton dipajang di etalase toko cendera mata dan hotel (Kompas, 23 Januari 2009).

Untuk lebih melebarkan pangsa pasar, biasanya tenun Buton tidak hanya digunakan untuk membuat pakaian laki-laki dan perempuan, tetapi juga produk lain, seperti gorden, taplak meja, hiasan dinding, penutup nasi, dan lain sebagainya.


Tenun Buton digunakan sebagai tudung saji makanan

E. Corak dan Motif

Pada dasarnya, tenun Buton mempunyai corak yang sederhana, yaitu garis-garis searah untuk bahan pakaian wanita dan garis-garis berpotongan untuk pakaian pria. Garis-garis itu sering dipertegas dengan benang emas atau perak. Walaupun coraknya sederhana, tapi tenun Buton mempunyai motif yang sangat kaya, yaitu berjumlah ratusan (Setyahadi, Kompas, 23 Januari 2009). Banyaknya motif tersebut disebabkan oleh cara orang Buton dalam mengenali dan memahami setiap fenomena alam yang terjadi di sekitar mereka. Oleh karena dalam membuat corak tenun berdasarkan pada apa yang dilihat di alam, maka para perajin tenun Buton, ibarat seorang pelukis, dianggap menganut menganut aliran surealisme (Kompas, 22 Juli 2005). 

Menurut Setyahadi (Kompas, 23 Januari 2009),  di antara ratusan motif tenun Buton, saat ini hanya ada beberapa motif yang masih dikenal oleh masyarakat, yaitu:

  • Motif betano walona koncuapa. Pembuatan motif diinspirasi oleh abu halus yang melayang-layang hasil pembakaran semak saat membuka ladang. Motif ini mengombinasikan warna coklat, merah muda, merah, biru, dan putih.
  • Motif colo makbahu atau korek basah menggabungkan benang putih, merah tua, merah muda, dan biru.
  • Motif delima bongko (delima busuk).
  • Motif delima sapua.
  • Motif delima mangura.
  • Motif kambano sampalu (bunga asam).
  • Motif bancamo kalukubula (bunga kelapa).
  • Motif Leja.


Tenun Buton motif leja dengan benang mastulin

  • Motif lau.


Tenun Buton motif lau dengan benang ekstra (kiri) dan dengan benang perak (kanan)

  • Motif pagar.


Motif pagar dengan benang ekstra (kiri), dan deagan benang mastulin (kanan)

F. Nilai-nilai

Tenun Buton merupakan salah satu khazanah kebudayaan Buton. Melalui tenun Buton, kita bisa melihat dan mengetahui kondisi alam Buton, memahami pemikiran orang Buton terhadap alam lingkungannya, dan juga struktur sosial masyarakat Buton. Hal ini terjadi karena tenun Buton merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Buton. Nilai-nilai tersebut antara lain:

Pertama, pemahaman terhadap alam. Tenun Buton merupakan pengejawantahan dari pemahaman dan penghayatan masyarakat Buton terhadap alam lingkungannya. Dengan melihat motif-motif tenun Buton, maka kita dapat mengetahui apa saja yang terjadi dan berada di alam Buton. Motif betano walona koncuapa secara jelas menunjukkan adanya abu halus hasil pembakaran bongko diciptakan oleh para penenun setelah melihat delima yang membusuk. Motif kambano sampalu lahir setelah melihat bunga asam, dan lain sebagainya. Dengan melihat tenun Buton, kita tidak saja mengetahui dan memahami kreativitas orang Buton, tetapi juga akan mengetahui betapa kayanya alam negeri Buton.

Kedua, identitas dan stratafikasi sosial. Motif dan corak pada tenun Buton, juga sebagai penanda stratifikasi sosial di masyarakat. Identitas diri dan kedudukan sosial orang Buton dalam masyarakat dapat dilihat dari corak dan motif tenun yang ia pakai. Jika seseorang menggunakan semak saat membuka ladang yang sedang melayang-layang diudara. Motif delima motif tenun kasopa, maka dapat dipastikan ia termasuk golongan orang biasa. Tetapi jika ia menggunakan motif kumbaea maka dapat dipastikan ia merupakan golongan bangsawan (Wa Ode). Penggunaan corak dan motif pakaian sebagai penanda status sosial seseorang dapat kita jumpai di daerah-daerah lain di Indonesia. Di  Solo dan Yogyakarta misalnya, ada corak dan motif tertentu yang hanya boleh dipakai oleh raja. 

Ketiga, cinta lingkungan. Corak dan motif tenun Buton yang didasarkan kepada fenomena alam sekitar merupakan upaya masyarakat Buton untuk mengajarkan kepada generasi mendatang agar mencintai alam. Dengan mengetahui dan memahami alam, maka kita akan mempunyai kepedulian untuk melestarikan alam.

Keempat, nilai keyakinan. Penggunaan kain tenun Buton sebagai pelengkap pelaksanaan ritual oleh masyarakat Buton sejak dilahirkan sampai hendak dikuburkan menunjukkan bahwa tenun Buton diyakini oleh masyarakat Buton tidak hanya memiliki nilai-nilai profan, tetapi juga sakral. Artinya, tenun Buton berada dalam dua wilayah, yaitu sakral dan profan, secara bersamaan.

G. Penutup

Dari pemaparan di atas kita ketahui bahwa tenun Buton mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Buton. Oleh karena itu, setiap orang Buton perlu secara bersama-sama ikut melestarikan dan mengembangkan tenun Buton. Jika tidak, bukan hanya tenun Buton yang akan hilang dari peredaran sejarah, tetapi juga orang-orang Buton sendiri akan kehilangan perekat sosialnya. Selain itu, musnahnya tenun Buton tidak mustahil juga akan menyebabkan masyarakat Buton teralienasi dari akar lokalitasnya.

Agar orang-orang Buton mempunyai kepedulian dan ketertarikan untuk melestarikan dan mengembangkan tenun Buton, maka tenun Buton harus direvitalisasi fungsinya sehingga dapat memberikan kepuasan secara sosia, spiritual, dan juga secara finansial. Jika tenun Buton mampu menjadi lahan untuk menopang kehidupan ekonomi keluarga, maka dengan sendirinya masyarakat akan menjaga, melestarikan, dan mengembangkan tenun Buton.

(Ahmad Salehudin/bdy/41/03-2009) 

Kredit Foto:

Daftar Pustaka

Dibaca : 14.645 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password