Kamis, 30 Maret 2017   |   Jum'ah, 2 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 888
Hari ini : 3.569
Kemarin : 33.260
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.019.246
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Tumpang Negeri
Ritual Tolak Bala Raja Ismahayana Landak


Istana Landak tampak depan (gambar kiri); tampak samping (gambar kanan)

A. Asal-usul

Bencana alam, seperti banjir, menurut masyarakat yang hidup di sepanjang aliran Sungai Landak disebabkan oleh kemarahan mahluk gaib kepada masyarakat. Kemarahan tersebut terjadi karena manusia telah merusak alam dan bersikap kurang bersahabat terhadap para mahluk yang hidup di alam gaib. Dengan kata lain, agar tidak terjadi bencana, maka masyarakat harus menjaga agar mahluk gaib tersebut tidak marah. Salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Landak untuk menghindari kemarahan mahluk-mahluk gaib tersebut adalah dengan melaksanakan Upacara Tumpang Negeri.

Sebagai kegiatan yang dilakukan untuk “merayu” mahluk gaib agar tidak marah dan menimbulkan bencana, pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri dipenuhi hal-hal mistis dan simbolis. Misalnya ayam yang digunakan untuk upacara, harus dari jenis ayam kampung. Penggunaan ayam kampung merupakan simbol kemandirian. Ayam kampung selalu berusaha untuk mencari makan sepanjang hari, semenjak subuh hingga hari menjelang petang. Begitupun manusia dalam menjalani hidupnya, harus berusaha mandiri. Tidak perlu menunggu disantuni, atau mengharap bantuan orang lain. Selain ayam, benda lain yang digunakan adalah boneka berbentuk manusia. Boneka ini merupakan simbol mahluk gaib yang diminta (diusir) untuk pergi (http://nurul-cori.blogspot.com, http://mobile.liputan6.com). Untuk barang-barang dan peralatan upacara akan dijelaskan kemudian.   

Upacara Tumpang Negeri biasanya dilaksanakan sekali dalam setahun, yaitu pada akhir atau awal tahun dengan mempertimbangkan kondisi alam. Jika kondisi alam sedang kurang bersahabat dengan manusia, misalnya hujan turun dengan intensitas besar atau sangat sedikit sehingga dapat menyengsarakan manusia, maka pada saat itulah Upacara Tumpang Negeri dilaksanakan. Mengapa harus melaksanakan Upacara Tumpang Negeri? Kondisi alam yang kurang atau tidak bersahabat dengan manusia, menurut keyakinan masyarakat Landak karena mahluk yang menguasai alam tersebut sedang marah kepada manusia. Oleh karena itu, perlu dilakukan upacara agar mahluk gaib tersebut tidak marah dan menyengsarakan manusia. Dengan demikian, Upacara Tumpang Negeri bersifat tolak bala, yaitu upacara yang dilakukan agar manusia terhindar dari segala macam bencana (Wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009).

Sebagai upacara tolak bala, Upacara Tumpang Negeri harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan teliti, dimulai dari mempersiapkan bahan-bahannya hingga pelaksanaannya. Kecerobohan tidak saja dapat menggagalkan tujuan upacara, tetapi juga dapat mendatangkan bencana. Banjir Bandang yang menerjang daerah Landak pada tahun 2002 misalnya, menurut penuturan Gusti Suryansyah karena tumpang yang diantar ke sungai digantung terlalu tinggi.

”Pelaksanakan Tumpang Negeri harus dilakukan secara cermat dan hati-hati. Jika tidak, bukan saja tujuan upacara tidak tercapai, tetapi juga dapat mendatngkan bencana bencana. Banjir yang melanda kawasan Landak pada tahun 2002, merupakan akibat dari kecerobohan orang yang mengantar Tumpang Negeri ke sungai Landak. Tumpang itu seharusnya digantung cukup rendah, tetapi oleh salah seorang pengantar digantung cukup tinggi. Entah tujuannya apa. Tidak sampai satu minggu, terjadi hujan besar. Banjir bandang melanda kawasan Landak, dan pemukiman penduduk banyak yang terendam. Setelah banjir selesai, baru kita mengetahui bahwa banjir yang terjadi setinggi tumpang yang digantung di atas sungai. Memang banyak orang yang tidak percaya bahwa banjir bandang terjadi karena tumpang digantung terlalu tinggi, tetapi bagi kami yang mengalami, peristiwa itu sungguh nyata.” (Wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009).

Bagi sebagian masyarakat, Upacara Tumpang Negeri yang dilakukan oleh masyarakat Landak dianggap sebagai perbuatan syirik, yaitu menyekutukan Allah. Pendapat tersebut muncul karena mereka beranggapan bahwa Upacara Tumpang Negeri dilaksanakan sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada mahluk selain Allah. Terkait hal tersebut, Gusti Suryansyah menjelaskan sebagai berikut.

”Kita meminta kepada Tuhan yang berkuasa atas mahluk-mahluk, supaya urat nadi kehidupan ini tidak diganggu,” kata Suryansyah. Jadi, bukan meminta kepada alam gaib. Bila meminta pada alam gaib, sifatnya menjadi syirik dan menyekutukan Tuhan. Itulah makna filosofinya. Tumpang Negeri mempunyai dua dimensi, yaitu permohonan agar masyarakat Landak terhindar dari segala macam balak, bencana alam, penyakit, dan permohonan supaya tahun mendatang kehidupan semakin lebih baik dan sejahtera” (Wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009).

Menurut http://www.liputan6.com/video, pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kahar (1472-1542), Sultan Landak pertama yang memeluk Islam. Nama Abdul Kahar merupakan gelar yang digunakan oleh pangeran Ismahayana setelah ia memeluk agama Islam. Pangeran Ismahayana yang mempunyai nama kecil Abhiseka Sultan Dipati Karang Tanjung merupakan putra dari Ratu Sang Nata Pulang Pali VII dan Putri Dara Hitam (sejarah lebih lengkap tentang kerajaan Ismahayana Landak dapat dilihat di http://www.malaytourism.com/id/). Oleh karena itulah, dalam pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri selalu diawali dengan ziarah ke makam Sultan Abdul Kahar. 


Upacara Tumpang Negeri diawali dengan ziarah ke makam Sultan Abdul Kahar

Munculnya anggapan bahwa Upacara Tumpang Negeri dilaksanakan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kahar, nampaknya didasarkan kepada dua hal, yaitu: pertama, yang menjadi titik sentral upacara ini adalah sungai Landak, yaitu sungai yang berada di depan komplek kerajaan Ismahayana Landak. Kerajaan Landak berada di pertemuan Sungai Landak dan Sungai Mungguk ketika berada di bawah kekuasaan Sultan Abdul Kahar. Berdasarkan pertimbangan inilah, nampaknya, muncul pandangan Upacara Tumpang Negeri kali pertama diadakan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kahar. Kedua, adanya doa-doa yang menggunakan doa-doa Islam, yaitu doa tolak bala dan doa selamat yang semuanya berbahasa Arab. Penggunaan doa-doa Islam berbahasa Arab cukup memberikan landasan bagi munculnya pendapat bahwa Upacara Tumpang Negeri diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kahar karena raja-raja Landak sebelumnya semuanya beragama Hindu.


Masyarakat Dayak juga ikut berpartisispasi dalam
pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri

Hanya saja, jika dilakukan anlisis lebih jauh terhadap Upacara Tumpang Negeri, khususnya pada ritual dan tata cara pelaksanaannya, maka bisa jadi anggapan bahwa upacara ini dilaksanakan pertama kali pada pemerintahan Sultan Abdul Kahar perlu dikaji ulang. Ada dua alasan yang mendasari keraguan tersebut. Pertama, Upacara Tumpang Negeri merupakan upacara yang bersifat lokal dan tidak dikenal dalam kalender hari-hari besar Islam. Kedua, tata cara ritual Tumpang Negeri tidak dikenal dalam Islam. Hal ini misalnya dapat dilihat pada penggunaan mantra-mantra dalam bahasa lokal, serta penggunaan sesajian. Berdasarkan kedua hal tersebut, maka ritual Tumpang Negeri nampaknya telah ada sebelum Islam masuk ke daerah Landak. Penggunaan doa-doa berbahasa Arab dalam Upacara Tumpang Negeri bisa saja merupakan bentuk akomodasi terhadap masuknya agama baru, Islam. Dengan kata lain, masyarakat Landak memahami Islam dengan menggunakan paradigma lokal.  

B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Upacara Tumpang Negeri dilaksanakan sekali dalam setahun, yaitu pada awal atau akhir tahun. Pertimbangan utama yang harus diperhatikan dalam menentukan kapan upacara tersebut harus dilakukan adalah kondisi alam, misalnya ketika terjadi hujan yang terus-menerus, atau ketika terjadi kekeringan. Sedangkan tempat pelaksanaannya dipusatkan di Sungai Landak. Tentang penentuan waktu dan tempat pelaksanaan upacara ini, Pangeran Ratu Keraton Ismahayana Landak, Gusti Suryansyah, menjelaskan sebagai berikut:

“Untuk menentukan kapan Tumpang Negeri dilaksanakan, kita melihat kondisi alam, misalnya ketika curah hujan sangat tinggi, atau ketika terjadi kekeringan. Hal ini dilakukan agar curah hujan yang tinggi tidak menimbulkan Banjir, sehingga tidak menyengsarakan masyarakat. Demikian juga jika terjadi kekeringan, maka Tumpang Negeri dilaksanakan. Tujuannya adalah agar segera turun hujan, dan masyarakat tidak kelaparan karena kekeringan.” (Wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009).

Selama beberapa tahun, pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri pernah dilaksanakan setiap tanggal 24 Januari, yaitu bertepatan dengan tanggal penobatan Pangeran Ratu Gusti Suryansyah sebagai Raja Keraton Ismahayana Landak. Menurut Suryansyah, pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri pada tanggal 24 Januari kurang tepat, karena kurang sesuai dengan tujuan dilaksanakannya upacara ini. Ia menjelaskan sebagai berikut:

“Upacara Tumpang Negeri pernah kita laksanakan bersamaan dengan tanggal pelantikan saya sebagai Raja Keraton Ismahayana Landak, yaitu tanggal 24 Januari. Pelaksanaan Tumpang Negeri bersamaan dengan ulang tahun penobatan saya sebagai raja sebenarnya kurang tepat, karena keduanya mempunyai substansi nilai yang berbeda. Peringatan pelantikan sebagai raja merupakan ungkapan syukur kepada Allah SWT, sedangkan Upacara Tumpang Negeri merupakan permohonan agar masyarakat terhindar dari bencana. Selain itu, secara prinsip waktu pelaksanaan upacara ini didasarkan kepada tanda-tanda alam,  sehingga waktunya bisa berubah-ubah, bukan kepada tanggal penobatan raja yang cenderung tetap.” (Wawancara tanggal 20 Maret 2009).

Adapun tentang tempat pelaksanaan Tumpang Negeri yang dipusatkan di Sungai Landak, lebih lanjut Suryansyah menjelaskan sebagai berikut:

“Sejak dahulu kala, Sungai Landak merupakan urat nadi kehidupan masyarakat di daerah ini. Sungai Landak tidak saja sebagai jalur lintas, tetapi juga menjadi sumber penghidupan masyarakat Landak. Selain itu, perlu juga disadari bahwa sungai terkadang juga menjadi sumber penderitaan, misalnya ketika terjadi banjir bandang. Oleh karena itu, masyarakat Landak berupaya agar sungai senantiasa terus menjadi sumber kebaikan, dan tidak menjadi sumber malapetaka. Salah satu cara yang kami lakukan agar sungai tetap menjadi sumber kebaikan adalah dengan melakukan Upacara Tumpang Negeri.” (Wawancara tanggal 20 Maret 2009).

C. Bahan-bahan dan Peralatan

Sesuai dengan namanya, maka benda utama yang harus ada dalam upacara ini adalah tumpang. Tumpang yang harus disediakan ada dua macam, yaitu tumpang berbentuk keranjang dan tumpang berbentuk kapal. Tumpang berbentuk keranjang dibuat dari anyaman daun kelapa yang masih muda. Sedangkan tumpang berbentuk kapal atau yang lebih dikenal dengan sebutan tumpang agung dibuat dari kayu meranti dengan bentuk menyerupai miniatur kapal atau rakit.  


Tumpang agung (kiri); tumpang berbentuk keranjang (kanan).

Tumpang berbentuk keranjang diisi dengan barang-barang sebagai berikut (wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009; http://mobile.liputan6.com, http://nurul-cori.blogspot.com; dan http://arsip.pontianakpost.com/):   

  • Ayam kampung jantan yang telah dipanggang. Ayam kampung digunakan untuk mengingatkan semua orang Landak agar hidup secara mandiri dan tidak minta dikasihani, sebagaimana ditunjukkan oleh ayam kampung. Ayam kampung setiap hari, sejak pagi hari sampai menjelang malam, mencari makan sendiri. Dia tidak bergantung kepada ayam yang lain. Sedangkan jenis ayam berkelamin jantan digunakan untuk menggugah semangat setiap orang Landak. Setiap pagi, ayam kampung jantan selalu berkokok menyambut pagi dan membangunkan semua mahluk yang ada di muka bumi untuk kembali mencari nafkah.  


Tumpang berisi ayam kampung jantan yang telah dibakar, telur, dan lain sebagainya

  • Beberapa macam jajanan pasar. Jajanan pasar merupakan simbol dari kesejateraan.
  • Pulut aneka warna. Nasi pulut merupakan simbol kerekatan sosial antarindividu, dan keselarasan hidup antara manusia dengan alam. Setiap anggota masyarakat harus menjadi satu-kesatuan sebagaimana nasi pulut, kenyal dan tidak kaku. Demikian juga antara manusia dan alam, harus menjadi satu-kesatuan yang sinergis.


Nasi pulut: simbol kerekatan sosial antarindividu,
dan keselarasan hidup antara manusia dengan alam

  • Telur ayam kampung. Telur merupakan simbol kebersihan hati dan kebulatan tekad. Selain itu, telur juga sebagai simbol bahwa manusia berada dalam perlindungan yang Maha Kuasa, sebagaimana kuning dan putih telur yang dilindungi oleh cangkang telur yang keras. 
  • Setanggi wangi dan dupa menyan. Wewangian dan asap dupa digunakan untuk memanggil dan mengumpulkan mahluk mahluk halus.

Sedangkan di dalam tumpang agung, selain benda-benda yang di sebutkan di atas, juga ditambah dengan bahan-bahan sebagai berikut: (Wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009; http://mobile.liputan6.com, http://nurul-cori.blogspot.com).

  • Anak ayam.
  • Kandang ayam.
  • Beras dan segala macam bumbu dapur.
  • Patung laki-laki dan perempuan yang dibuat dari tepung.

Selain bahan-bahan dan peralatan untuk Tumpang Negeri di atas, ada bahan-bahan lain yang dibutuhkan, yaitu peralatan dan bahan-bahan untuk upacara buang-buang. Upacara ini merupakan ritual pembuka Upacara Tumpang Negeri. Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk ritual ini antara lain:

  • Sebutir telur ayam kampung.
  • Beberapa buah paku. Benda ini sebagai simbol keteguhan hati.
  • Beberapa lembar daun sirih. Daun sirih sebagai lambang kesejahteraan.
  • Sebutir buah pinang. Warnanya yang kuning seperti emas digunakan sebagai simbol kemulyaan dan kesejahteraan. 
  • Lilin. Cahaya lilin diharapkan menjadi penerangan mahluk halus yang dilarung (dibuang) ke Sungai Landak.

D. Prosesi Upacara

1. Persiapan

Tahap ini merupakan bagian paling awal dari tahapan pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri. Sebagaimana disebutkan pada bagian awal tulisan ini, bahwa pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri diadakan untuk menyelaraskan kembali hubungan manusia dengan alam, maka upacara ini dilaksanakan ketika terjadi fenomena alam yang dapat menyebabkan kesengsaran dan penderitaan, seperti banjir atau kekeringan.

Terjadinya banjir atau kekeringan merupakan pertanda adanya kekurang-selarasan hubungan antara manusia dan alam. Melihat fenomena tersebut, raja dengan meminta pendapat dari para tokoh adat, meminta kepada segenap keluarga keraton dan segenap masyarakat untuk segera mengadakan Upacara Tumpang Negeri.

Mendapat titah dari raja, para sesepuh adat berkumpul untuk memperbincangkan hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri, khususnya tentang kapan waktu pelaksanaannya dan dari mana pembiayaannya didapatkan. Terkait persoalan penentuan waktu pelaksanaan upacara, Gusti Suryansyah (Wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009) menjelaskan sebagai berikut:

”Jika hujan terjadi secara terus menerus, sehingga memungkinkan terjadinya banjir, atau malah hujan tidak pernah turun, sehingga terjadi kekeringan, maka saat itulah Upacara Tumpang Negeri harus dilaksanakan. Melalui upacara ini, kita mohon kepada Allah agar masyarakat Landak terhindar dari bencana bajir, walaupun terjadi hujan secara terus menerus. Demikian juga jika hujan tidak pernah turun, maka melalui upacara ini kita mohon agar tidak kelaparan.” 

Sedangkan pembiayaan Upacara Tumpang Negeri ditanggung oleh raja, kerabat keraton, dan masyarakat umum. Pembiayaan juga terkadang mendapat bantuan dari pemerintah daerah, sebagaiamana diungkapkan oleh Gusti Suryansyah (wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009).

”Pada zaman dahulu, pembiayaan Upacara Tumpang Negeri ditanggung bersama oleh raja, keluarga keraton, dan rakyat. Hal ini menjadi bukti bahwa Upacara Tumpang Negeri tidak hanya milik raja dan keluarga kerajaan, tetapi juga masyarakat umum. Selain itu, pembiayaan secara bersama-sama upacara ini juga menunjukkan kemenyatuan raja dan keluarganya dengan rakyatnya. Selain itu, sejak beberapa tahun terakhir, pendanaan upacara juga mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah.” (wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009)

Setelah waktu dan sumber pembiayaan ditentukan, maka tahap selanjutnya adalah menyebarluaskan hasil keputusan kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, masyarakat mengetahui dan mempersiapkan semua kebutuhan upacara.  

2. Pelaksanaan

Upacara Tumpang Negeri merupakan rangkaian ritual yang terdiri dari sedekah desa, buang-buang, dan Tumpang Negeri itu sendiri. Secara prosedural, rangkaian pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

a. Sedekah desa

Sedekah kampung merupakan ritual pembuka Upacara Tumpang Negeri. Dinamakan sedekah kampung karena dilaksanakan di kampung-kampung yang berada di sekitar Keraton Ismahayana Landak. Selain diisi dengan pembacaan doa selamat, upacara ini juga diisi dengan bermacam-macam hiburan, seperti lomba sampan, pencak silat, pertunjukkan hadrah dan zapin, festival makanan tradisional, dan lainnya. Tujuannya adalah untuk memberikan kegembiraan kepada masyarakat yang berada di luar keraton.  


Acara sedekah desa dimeriahkan dengan berbagai macam hiburan

Ritual ini dilaksanakan selama tiga hari dengan melibatkan semua warga kampung dari hulu sampai hilir sungai Landak. Pada hari pertama, ritual sedekah kampung dilaksanakan di kampung yang berada dibagian hulu sungai. Pada hari kedua semakin ke hilir, sampai akhirnya kampung yang paling hilir pada hari ketiga. Setelah sedekah kampung, maka tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan ritual buang-buang. 

b. Buang-buang

Setelah tiga hari melaksanakan sedekah kampung, maka pada hari berikutnya dilaksanakan upacara buang-buang. Disebut buang-buang, karena ritual ini ditandai dengan pembuangan (larung) barang-barang, seperti telur ayam kampung, paku, daun sirih, dan pinang ke Sungai Landak, tepatnya yang berada di depan Keraton Ismahayana Landak.


Benda-benda yang hendak dilarung dalam ritual buang-buang

Sebelum melarung benda-benda tersebut di Sungai Landak, terlebih dahulu diadakan ritual di Keraton Ismahaya Landak, dengan dipimpin oleh seorang pawang (dukun). Selain sang pawang, ritual ini juga dihadiri oleh Raja Ismahayana Landak, para kerabat keraton, dan para pemuka adat. Ritual ini diisi dengan pembacaan doa-doa dan mantra-mantra (http://www.liputan6.com/video/).

Setelah ritual selesai, sang dukun beserta masyarakat beranjak menuju ke Sungai Landak untuk melarung barang-barang. Sebelum barang-barang tersebut dilarung, sang dukun terlebih dahulu membaca mantra-mantra dalam bahasa setempat (http://www.liputan6.com/video). Konon, ritual buang-buang ini sebagai bentuk penghormatan dan permohonan kepada leluhur. Selain itu, ritual ini juga untuk mencegah pengaruh buruk Upacara Tumpang Negeri (http://mobile.liputan6.com).  

Melihat tata cara dan bahan-bahan yang digunakan dalam ritual buang-buang, sebagian masyarakat menganggap bahwa ritual ini merupakan tindakan syirik (menyekutukan Tuhan Yang Maha Kuasa). Terkait hal ini, Gusti Suryansyah menjelaskan sebagai berikut:

“Orang-orang yang kurang mengerti terkadang menganggap ritual buang-buang sebagai tindakan syirik, yaitu menyekutukan Tuhan. Mereka beranggapan bahwa kami memohon keselamatan kepada mahluk-mahluk gaib penunggu Sungai Landak, padahal yang kami lakukan adalah meminta kepada Tuhan, yang berkuasa atas mahluk-mahluk gaib, supaya urat nadi kehidupan ini tidak diganggu. Jadi, bukan meminta kepada alam gaib. Kami tahu kok… meminta kepada selain Tuhan itu perbuatan syirik, dan kami tentu tidak akan melakukan itu.” (Wawancara dengan Gusti Suryansyah, 20 Maret 2009).

Pada saat sebagian orang sibuk melakukan ritual buang-buang, sebagian yang lain sibuk menyiapkan keperluan untuk upacara puncak, yaitu Upacara Tumpang Negeri keesokan harinya.

c. Tumpang Negeri

Sehari sebelum acara Tumpang Negeri dilaksanakan, atau ketika sebagian orang sibuk menjalankan ritual buang-buang, sebagian lainnya dengan keahlian masing-masing sibuk mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaaan Upacara Tumpang Negeri keesokan harinya. Persiapan-persiapan yang harus dilakukan antara lain:

  • Membuat anyaman daun kelapa muda berbentuk keranjang. Biasanya, anyaman berbentuk keranjang ini dibuat oleh kaum wanita. Di dalam wadah ini, nantinya diisi dengan berbagai perlengkapan, seperti panggang ayam kampung jantan, telor, nasi pulut, dan lain-lain yang esok hari akan diantarkan ke berbagai penjuru landak.
  • Menyembelih dan memanggang ayam kampung jantan. Jumlah ayam jantan yang disembelih dan dipanggang disesuaikan dengan kebutuhan upacara. Pada suatu ketika, jumlah ayam yang disediakan sebanyak empat puluh ekor. Setelah dipanggang, ayam tersebut diletakkan dalam wadah berbentuk keranjang yang terbuat dari anyaman daun kelapa muda. Setiap wadah diisi satu ekor panggang ayam jantan.
  • Membuat miniatur perahu dari kayu meranti. Di dalam perahu dipasang boneka laki-laki dan perempuan yang terbuat dari tepung. Selain itu, juga dilengkapi dengan beberapa boneka yang bertugas sebagai pengawal atau pengayuh perahu. Sebagai pelengkap, miniatur perahu tersebut juga diisi dengan dengan berbagai macam makanan (bekal) seperti layaknya perahu berpenumpang yang akan bepergian jauh. Semua perlengkapan dalam miniatur perahu tersebut merupakan bekal bagi roh yang akan dihantarkan (baca: diusir).   
  • Membuat boneka/patung laki-laki dan perempuan dari tepung. Patung-patung ini sebagai simbol orang laki-laki dan perempuan yang dilarung (dikorbankan).
  • Membuat nasi pulut, pulut rasul, dan jajanan pasar. Semua barang-barang tersebut biasanya dikerjakan oleh perempuan-perempuan tua.
  • Menyiapkan sesajian khusus. Sesajian ini secara khusus dibuat oleh para wanita suci, yaitu para wanita yang sudah menopause.


Perempuan suci (menopause) mempersiapkan sesajian khusus

Pada hari yang telah ditentukan, sejak pagi buta semua orang sibuk mempersiapkan ritual. Secara garis besar, ada dua kegiatan penting pada hari ini, yaitu mempersiapkan dan mengatur semua barang-barang (termasuk sesajian) agar sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan dalam pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri, dan melakukan ritual Tumpang Negeri itu sendiri. Adapun tahapan prosesinya adalah sebagai berikut:

  • Sejak pagi buta, para abdi keraton, khususnya kaum perempuan, mempersiapkan barang-barang yang diperlukan dalam pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri.
  • Ketika para abdi keraton sibuk menyiapkan barang-barang untuk keperluan upacara, sebagian orang pergi menyusuri Sungai Munggu menuju ke Munggu Ayu untuk melakukan ziarah kubur ke makam pendiri kerajaan Landak yang beragama Islam, yaitu Raja Abdul Kahar atau Ismahayana, biasa disebut juga Iswara Mahayana. Ziarah ini diikuti oleh raja dan kerabatnya, pemuka agama dan masyarakat, serta masyarakat umum. Acara ziarah di makam Raja Abdul Kahar ini diisi dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, dan cerita tentang riwayat hidup Raja Abdul Kahar yang disampaikan oleh Raja Ismahayana Landak.
  • Setelah ziarah, rombongan kembali ke Keraton Landak untuk memulai Upacara Tumpang Negeri.


Raja Ismahayana Landak memberikan sambutan

  • Upacara dimulai dengan seremonial, yaitu sambutan-sambutan dari panitia acara, raja, dan pejabat pemerintahan.
  • Setelah acara seremonial selesai, Tumpang Negeri didoakan oleh raja dan langsung diantarkan ke berbagai penjuru negeri, seperti pertemuan muara sungai, persimpangan jalan, rumah tua bersejarah, dan ke 10 kecamatan di Kabupaten Landak. Khusus untuk Tumpang Agung, dilarung dari muara keraton, menuju hilir sungai Landak.


Setaleh dibacakan doa oleh Raja Ismahayana Landak, tumpang diarak menuju
tempat yang telah ditentukan. Khusus tumpang agung diarak menuju Sungai Landak.

Dilarungnya tumpang agung di Sungai Landak menjadi penutup dari rangkaian Upacara Tumpang Negeri.  Perjalanan perahu menuju ke muara merupakan simbol perginya segala macam bencana dari tanah Landak.

E. Doa-doa atau Mantra

Dalam pelaksanaan upacara ini, doa-doa dan mantra yang dibaca antara lain:

  • Doa tolak bala dan doa selamat. Doa ini dibacakan oleh tokoh agama ketika melaksanakan sedekah desa.
  • Bacaan tahlil. Doa ini dibaca pada saat melakukan ziarah kubur di makam Raja Abdul Kahar, raja pertama Kerajaan Ismahayana Landak yang beragama Islam.
  • Mantra dalam bahasa setempat. Mantra ini dibacakan oleh pawing (dukun) adat ketika hendak melaksanakan ritual buang-buang.   

F. Nilai-nilai

Upacara Tumpang Negeri merupakan salah satu potret bagaimana masyarakat yang hidup di daerah Landak berinteraksi dan membangun hubungan yang harmonis dengan alam di sekitar mereka. Selain mengetahui bagaimana masyarakat Landak berinteraksi dengan alamnya, upacara ini juga mengajarkan kepada kita nilai-nilai yang diyakini dan berkembang di dalam masyarakat Landak. Nilai-nilai tersebut antara lain:

Pertama, penghormatan kepada alam. Alam tidak saja menjadi tempat manusia hidup, tapi juga menjadi sumber manusia mendapatkan penghidupan. Alam akan menjadi sumber penghidupan bagi manusia apabila manusia memperlakukannya secara baik. Tetapi jika manusia memperlakukan alam dengan semena-mena, maka alam akan menjadi sumber malapateka bagi kehidupan manusia. Tanah longsor dan banjir bandang yang sering terjadi saat ini merupakan akibat dari ketamakan manusia, yaitu menebangi hutan-hutan dan menggunduli gunung-gunung. Dalam jangka panjang, tidak mustahil penebangan hutan-hutan dan penggundulan gunung-gunung akan menyebabkan kekeringan yang akan menyengsarakan kehidupan umat manusia. Dalam konteks inilah, kita dapat belajar kepada masyarakat Landak bagaimana memanfaatkan alam tanpa merusaknya. 

Kedua, gotong royong dan solidaritas sosial. Beban berat akan menjadi ringan jika ditanggung secara bersama-sama. Pesan itulah yang dapat kita ambil dari pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri. Dalam upacara yang dilakukan sebagai upaya agar terhindar dari bencana ini, raja dan rakyatnya bersatu padu untuk menyukseskannya. Sejak dari penyediaan bahan-bahan dan peralatan upacara sampai pelaksanaan upacara itu sendiri dilakukan secara bersama-sama. Gotong royong dalam pelaksanaan upacara itu sendiri juga menunjukkan bahwa solidaritas sosial dalam masyarakat masih ada. Masyarakat Landak di bawah komando raja, secara bersama-sama, melalui Upacara Tumpang Negeri, merapatkan tangan untuk menangkal segala macam bencana yang mengancam. Semangat gotong royong dan solidaritas sosial inilah yang saat ini semakin menipis dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, perlu kiranya kita kembali menggali kearifan khazanah budaya sebagai modal untuk membangun kehidupan yang lebih baik.   

Ketiga, nilai religius. Melalui Upacara Tumpang Negeri, kita dapat melihat apa dan bagaimana keberagamaan masyarakat Landak. Kita dapat menyaksikan nuansa religius tersebut dalam sedekah desa, ziarah ke makam raja Abdul Kahar, ritual buang-buang, barang-barang untuk tumpang, dan pelarungan tumpang agung di Sungai Landak. Dari serangkaian ritual tersebut, kita dapat menyaksikan sebuah corak ekspresi keagamaan yang unik, yang khas masyarakat Landak. Selain mengetahui apa dan bagaimana religiusitas masyarakat Landak, kita juga mengetahui sebuah bentuk penghayatan nilai-nilai keagamaan yang digunakan untuk melindungi dan melestarikan alam. Spirit ini nampaknya perlu dieksplorasi lebih jauh, sehingga nilai-nilai agama dapat didayagunakan sebagai modal untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.   

G. Penutup

Pelaksanaan Upacara Tumpang Negeri merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Landak untuk membangun hubungan yang harmonis dengan alam. Bagi mereka, hubungan baik dengan alam akan menghindarkan mereka dari segala macam bencana, khususnya bencana alam.

Upacara ini juga menyadarkan kita bahwa keyakinan mampu menjadi modal untuk menyelamatkan lingkungan. Nenek moyang orang Landak telah mengajarkan bagaimana menjadikan keyakinan sebagai media untuk menyelamatkan lingkungan. Melihat pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam Upacara Tumpang Negeri dalam pelestarian lingkungan, maka sudah seharusnya jika para pemangku kepentingan bersama-sama melestarikan dan mengembangkan upacara ini. Jika cara-cara lokal dalam menjaga lingkungan terus dilakukan, maka kita akan menyaksikan alam yang lestari.   

(Ahmad Salehudin/bdy/42/04-2009)

Kredit Foto:

  • Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (Fotografer Aam Ito Tistomo).
  • Lukas B. Wijanarko, Borneo Tribune.
  • Video Upacara Tumpang Negeri (pemberian Pangeran Ratu Drs. Gusti Suryansyah)
  • http://www.liputan6.com/video/?

Sumber Bacaan

Khidir Marsanto, ”Keraton Ismahayana Landak,” dalam http://www.malaytourism.com/, diunduh tanggal 16 Maret 2009.

_____________, ”Makam Raja-raja Landak,” dalam http://www.malaytourism.com/, diunduh tanggal 16 Maret 2009.

M. Natsir,  ”Sekilas Upacara Ngantar Tumpang Negeri,” dalam http://arsip.pontianakpost.com/, diunduh tanggal 16 Maret 2009.

Muhlis Suhaeri,  ”Tumpang Negeri Simbol Interaksi Manusia dengan Alam,” dalam http://muhlissuhaeri.blogspot.com/, diunduh tanggal 16 Maret 2009.

Narasi Video Liputan 6 SCTV, dalam http://www.liputan6.com/, diunduh tanggal 16 Maret 2009.

ORS/Hardjuno Pramundito dan Bondan Wicaksono, ”Tumpang Negeri, Penolak Bala Raja Landak,” http://mobile.liputan6.com/, diunduh tanggal 16 Maret 2009.

Wawancara dengan Drs. Gusti Suryansyah (Raja Keraton Ismahayana Landak) via handphone tanggal 20 Maret 2009

Dibaca : 9.224 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password