Rabu, 20 Agustus 2014   |   Khamis, 23 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 643
Hari ini : 1.527
Kemarin : 22.144
Minggu kemarin : 178.124
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.033.861
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kain Tapis
Kain Tradisional Lampung


Seorang pengrajin sedang menyulam Kain Tapis (kiri),
Kain Tapis siap untuk dijual (kanan)

A. Asal-usul

Kain Tapis adalah pakaian wanita suku Lampung berbentuk kain sarung yang dibuat dari tenunan benang kapas dengan motif-motif yang beragam seperti motif alam, flora, dan fauna yang disulam (sistim cucuk) dengan benang emas dan benang perak. Tenunan ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah (http://www.visitLampung2009.com).

Menurut Van der Hoop, sebagaimana disebutkan http://www.visitLampung2009.com, sejak abad II Masehi orang-orang Lampung telah menenun kain brokat yang disebut nampan (tampan) dan kain Pelepai. Kedua hasil tenunan tersebut memiliki motif-motif seperti motif kait dan konci, pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia yang telah meninggal, binatang, matahari, bulan, serta bunga melati. Setelah melewati rentang waktu yang cukup panjang, akhirnya lahirlah Kain Tapis Lampung. Orang-orang Lampung terus mengembangkan Kain Tapis sesuai dengan perkembangan zaman, baik pada aspek teknik dan keterampilan pembuatannya, bentuk motifnya, maupun metode penerapan motif pada kain dasar Tapis (http://lili.staff.uns.ac.id).


Alam dan fenomenanya menjadi sumber inspirasi Para Pengrajin Kain Tapis
dalam membuat motif dan ragam hias.

Ragam hias Kain Tapis misalnya, terus berkembang seiring terjalinnya interaksi dan komunikasi antara masyarakat adat Lampung dengan kebudayaan lain. Pertemuan tersebut menyebabkan terjadinya akulturasi antara unsur-unsur hias kebudayaan tempatan (lama) dengan unsur-unsur hias kebudayaan asing (baru). Unsur-unsur asing yang datang tidak menghilangkan unsur-unsur lama, akan tetapi semakin memperkaya corak, ragam, dan gaya yang sudah ada. Berbagai kebudayaan tersebut terpadu dan terintegrasi dalam satu konsep utuh yang tidak dapat dipisahkan dan melahirkan corak baru yang unik dan khas. Kebudayaan yang memberikan pengaruh pada pembentukan gaya seni hias Kain Tapis antara lain, kebudayaan Dongson dari daratan Asia, Hindu-Budha, Islam, dan Eropa (http://lili.staff.uns.ac.id). Dalam perkembangannya, tidak semua orang Lampung menggunakan Kain Tapis. Hanya suku Lampung yang beradat Pepadun[1] yang memroduksi, menggunakan, dan mengembangkan Kain Tapis sebagai sarana perlengkapan hidup (http://wisataLampung.com, http://id.wikipedia.org, http://arthaliwa.wordpress.com).

Selain sebagai bukti pencapaian kreativitas[2] masyarakat Lampung dalam merespon fenomena alam dan menyerap nilai-nilai kebudayaan luar, Kain Tapis bagi masyarakat Lampung juga merupakan sebagai simbol kesucian. Orang-orang Lampung meyakini bahwa kain ini akan melindungi mereka dari segala macam kotoran yang berasal dari luar tubuhnya. Keyakinan tersebut tersimbolkan dalam motif dan hiasan yang menyatu secara utuh dengan kain dasar Tapis (http://lili.staff.uns.ac.id, http://id.wikipedia.org, http://wisataLampung.com, http://arthaliwa.wordpress.com).

Kain Tapis biasanya dipakai dalam setiap upacara adat dan keagamaan, dan merupakan perangkat adat yang serupa pusaka keluarga (http://lili.staff.uns.ac.id). Dalam kegiatan sosial dan keagamaan tersebut, Kain Tapis berfungsi sebagai penanda status sosial pemakainya. Penggunaan Kain Tapis sebagai penanda status sosial dapat dilihat pada masyarakat Lampung yang beradat Pepadun. Dalam kelompok adat ini, masyarakat tersusun dalam tiga tingkatan, yaitu (1) punyimbang marga atau paksi yang membawahi tiyuh (kampung), (2) punyimbang tiyuh yang membawahi beberapa suku atau bilik, dan (3) punyimbang suku yang membawahi beberapa nuwow balak (rumah adat). Tingkatan-tingkatan status sosial tersebut memunculkan aturan pemakaian Kain Tapis. Dengan kata lain, jenis Kain Tapis yang dipakai harus disesuaikan dengan status sosial seseorang dalam masyarakat (http://lili.staff.uns.ac.id, http://id.wikipedia.org).

Seiring perkembangan zaman, Kain Tapis juga mengalami perkembangan dan perubahan, baik pada aspek makna simbolis-filosofis yang terkandung dalam kain, maupun pada bentuk fisik dan ragam motifnya. Perubahan makna simbolis-filosofis motif Kain Tapis merupakan perubahan hal yang paling esensial. Jika pada awalnya pembuatan motif disesuaikan dengan keperluan-keperluan adat yang spesifik atau mengungkapkan pesan-pesan tertentu,[3] maka saat ini motif Kain Tapis hanya dilihat dari aspek keindahannya semata.

Perubahan pandangan tersebut ---dari melihat motif Kain Tapis sebagai seperangkat simbol-simbol menjadi sekedar keindahan— merupakan akibat dari berubahnya pemaknaan dan persepsi masyarakat Lampung terhadap Kain Tapis. Kain Tapis tidak sekedar dilihat sebagai benda adat yang sakral yang terkait erat dengan adat dan kepercayaan masyarakat Lampung, tetapi juga hasil kreativitas manusia yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Perubahan pandangan ini telah mereduksi Kain Tapis yang ragam motifnya mengandung makna simbolis-filosofis menjadi benda profan yang bernilai ekonomis tinggi. Dengan kata lain, jika pada awalnya Kain Tapis dibuat untuk memenuhi kebutuhan adat, maka saat ini produksi Kain Tapis bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Perkembangan dan perubahan juga terjadi pada bentuk fisik dan ragam motif Kain Tapis. Hal ini secara mudah dapat dilihat dari semakin beragamnya derivasi produk Kain Tapis. Jika pada awalnya produk Kain Tapis hanya berupa kain sarung adat dan dibuat hanya untuk memenuhi keperluan adat, maka saat ini produk Kain Tapis telah mengalami modifikasi dan diversivikasi sehingga tercipta berbagai produk seni kerajinan Kain Tapis, seperti busana muslim, hiasan dinding, kaligrafi, perlengkapan kamar tidur, tas, dompet, kopiah, dan lain sebagainya (http://lili.staff.uns.ac.id). Beragamnya derivasi produk Kain Tapis merupakan bukti nyata bahwa kain ini selain memiliki nilai budaya tinggi, juga memiliki nilai-nilai ekonomis.

Benda budaya yang telah teridentifikasi dan disadari mempunyai nilai ekonomis biasanya akan diikuti oleh munculnya klaim-klaim untuk memiliki nilai ekonomis kain tersebut. Oleh karena itu, maka sudah seharusnya jika segenap stake holder berupaya untuk menjaga dan melindungi Kain Tapis, tidak saja pada nilai budayanya, tetapi juga nilai-nilai lain yang dikandungnya, seperti nilai ekonominya.


Derivasi produk Kain Tapis: hiasan dinding (kiri), songkok (kanan)

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga, melindungi, dan mengembangkan Kain Tapis, di antaranya adalah mematenkan hak cipta, sosialisasi Kain Tapis, dan eksplorasi nilai ekonomis Kain Tapis. Pertama, mematenkan hak cipta Kain Tapis. Kelalaian mematenkan hak cipta Kain Tapis tidak saja dapat menghilangkan hak ekonomi yang melekat pada kain, tetapi juga hilangnya kebanggaan masyarakat karena diklaim oleh pihak lain. Seringkali kita sangat bangga dengan banyaknya warisan budaya yang kita miliki, tetapi terkadang hak ekonominya tidak kita miliki sehingga warisan budaya tersebut tidak bisa digunakan untuk menopang kesejahteraan pemilik warisan budaya tersebut.

Kedua, Sosialisasi Kain Tapis. Ketika tulisan ini dibuat, cukup sulit untuk mencari referensi tentang Kain Tapis. Dari beberapa referensi yang penulis dapatkan, hampir semua isinya sama. Minimnya referensi tentang Kain Tapis ternyata juga pararel dengan minimnya orang-orang Lampung, khususnya generasi mudanya, yang mengetahui kain ini. Beberapa orang Lampung yang penulis hubungi misalnya, hanya mengetahui bahwa Kain Tapis adalah kain tradisional Lampung. Kondisi ini tentu cukup memprihatinkan dan berbahaya terhadap kelangsungan eksistensi Kain Tapis. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan sosialisasi, khususnya kepada siswa-siswa sekolah. Misalnya dengan menjadikan  Kain Tapis sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal. Melalui cara ini, para siswa tidak hanya mengetahui bentuk formal (fisik) Kain Tapis, tetapi juga nilai-nilai yang dikandungnya.         

Ketiga, agar masyarakat mempunyai ketertarikan untuk melestarikan dan mengembangkan Kain Tapis, maka keberadaan Kain Tapis harus memberikan manfaat bagi peningkatan kesehjateraan masyarakat. Oleh karena itu pemerintah dan lembaga terkait harus bekerjasama untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondusif dan memberikan kemudahan dalam bidang produksi, permodalan, distribusi, dan pemasaran.


Kain Tapis dengan beragam motif siap dijual

B. Bahan-bahan

Secara garis besar, ada dua macam bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kain Tapis, yaitu bahan-bahan untuk membuat kain dan motifnya, serta bahan-bahan untuk pewarna kain.


Kain Tapis disulan dengan benang emas

1. Bahan untuk membuat kain dan motif, di antaranya adalah:

  • Benang katun, adalah benang yang berasal dari bahan kapas (khambak) dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan Kain Tapis.
  • Benang emas, adalah benang yang berasal dari kepompong ulat sutera, dan dipakai untuk membuat ragam hias pada Tapis dengan sistim sulam.
  • Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang.
  • Akar serai wangi untuk mengawetkan benang.

2. Bahan-bahan untuk pewarna kain, diantaranya adalah:

  • Buah pinang muda, daun pacar, dan kulit kayu kejal untuk membuat warna merah.
  • Kulit kayu salam dan kulit kayu rambutan untuk membuat warna hitam.
  • Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk membuat warna coklat.
  • Buah deduku atau daun talom untuk membuat warna biru.
  • Kunyit dan kapur sirih untuk untuk membuat warna kuning.
  • Dan daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur

Saat ini, pengrajin Kain Tapis tidak perlu lagi mengolah bahan-bahan dasar tersebut, seperti memintal kapas untuk dijadikan benang katun atau mengolah kulit kayu salam dan kulit kayu rambutan untuk membuat warna hitam, karena bahan-bahan dasar siap pakai telah tersedia di pasaran. Tersedianya bahan-bahan siap olah tersebut menjadikan pembuatan Kain Tapis menjadi lebih cepat. Jika zaman dahulu untuk membuat selembar Kain Tapis membutuhkan waktu berbulan-bulan, maka saat ini dalam satu bulan dapat dihasilkan beberapa lembar Kain Tapis (http://www.korantempo.com).   


Kain Tapis Modern: Tapis Hitam Bawang (kiri), dan Tapis Hitam Matahari (kanan)

C. Peralatan

Peralatan yang digunakan untuk membuat Kain Tapis adalah:

1. Sesang, yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun.

2. Mattakh, yaitu alat untuk menenun kain. Mattakh terdiri dari:

  • Terikan (alat menggulung benang).
  • Cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mattakh).
  • Belida (alat untuk merapatkan benang).
  • Kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang).
  • Apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan).
  • Guyun (alat untuk mengatur benang).
  • Ijan atau Peneken (tunjangan kaki penenun).
  • Sekeli (alat untuk tempat gulungan benang pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang).
  • Terupong/teropong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan).
  • Amben (alat penahan punggung penenun).
  • Tekang yaitu alat untuk merentangkan kain pada saat menyulam benang emas.

D. Proses Pembuatan

Kain Tapis biasanya dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) ketika waktu senggang. Pembuatan kain ini bertujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Saat ini, pembuatan Kain Tapis dibuat oleh penenenun profesional di rumah-rumah produksi tenun, dan digunakan untuk memenuhi permintaan pasar (http://www.visitLampung2009.com).

Tahap paling awal pembuatan Kain Tapis adalah pemintalan kapas (khambak) menjadi benang katun, dan pemintalan kepompong ulat sutera menjadi benang emas. Kemudian benang-benang tersebut diawetkan dengan cara direndam dalam air yang dicampur dengan akar serai wangi. Setelah proses pengawetan selesai, tahap selanjutnya adalah proses pewarnaan benang dengan menggunakan bahan-bahan alami. Untuk mendapatkan benang berwarna coklat misalnya, benang katun direndam dalam air yang dicampur dengan serbuk kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian. Setelah warna benang sesuai dengan warna yang diinginkan, maka benang direndam dalam air yang dicampur daun sirih. Perendaman ini bertujuan agar warna benang tidak mudah luntur.

Setelah benang yang dibutuhkan siap, maka tahap selanjutnya adalah merajut benang menjadi kain. Setelah kain terbentuk, maka tahapan selanjutnya adalah membuat motif-motif, seperti motif alam, flora, dan fauna, dengan menggunakan benang-benang berwarna. Selanjutnya motif tersebut disulam (sistim cucuk) dengan benang emas dan benang perak. Setelah disulan dengan benang emas dan perak, maka selembar Kain Tapis sudah selesai dibuat.


Proses menyulam Kain Tapis

Saat ini, bahan-bahan untuk membuat Kain Tapis telah banyak tersedia di pasaran. Oleh karena itu para pengrajin Kain Tapis tidak perlu lagi melakukan pemintalan dan pewarnaan benang sendiri. Demikian juga dengan pembuatan Kain Tapis, jika pada awalnya oleh kaum ibu dan para gadis diwaktu senggang, maka saat ini dilakukan oleh penenun profesional di rumah-rumah produksi tenun.

Untuk membuat Kain Tapis Inuh misalnya, seorang penenun membutuhkan tiga hingga empat benang yang telah diberi warna, yakni kuning, hitam, hijau, dan merah. Warna-warna benang tersebut harus dibuat redup (tidak cerah) agar mirip dengan warna asli Kain Tapis Inuh tempo dulu. Benang yang telah diwarnai tersebut kemudian ditenun secara kasar, lalu diberi motif sablon untuk memandu tenunan. Tenunan kasar itu lantas diurai hingga hanya meninggalkan motif yang diinginkan. Selanjutnya, benang yang diberi warna disisipkan membentuk motif warna. Setelah itu, kain hasil tenunan dipres dengan mesin agar halus dan ikatan tenunannya kuat. Selanjutnya disulam dengan sistim cucuk dengan menggunakan benang emas dan perak. Penyulaman merupakan proses terakhir pembuatan Kain Tapis (http://www.korantempo.com).


Pembuatan Kain Tapis di rumah produksi Kain Tapis

E. Jenis-jenis Kain Tapis

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa seiring perkembangan zaman Kain Tapis telah mengalami perkembangan yang diakibatkan pertemuan dengan kebudayaan lain dan meningkatnya kreativitas dan inovasi para pengrajin, maka Kain Tapis memiliki banyak ragam, baik jika dilihat pada aspek daerah asal Kain Tapis maupun pemakainya (http://id.wikipedia.org/).

1. Kain Tapis menurut daerah asalnya, di antaranya adalah:

Tapis Lampung dari Pesisir, di antaranya:  Tapis Inuh, Tapis Cucuk Andak, Tapis Semaka, Tapis Kuning, Tapis Cukkil, dan Tapis Jinggu.

Tapis Lampung dari Pubian Telu Suku, di antaranya: Tapis Jung Sarat, Tapis Balak, Tapis Laut Linau, Tapis Raja Medal, Tapis Pucuk Rebung, Tapis Cucuk Handak, Tapis Tuho, Tapis Sasap, Tapis Lawok Silung, dan Tapis Lawok Handak.

Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan, di antaranya: Tapis Jung Sarat, Tapis Balak, Tapis Pucuk Rebung, Tapis Halom/Gabo, Tapis Kaca, Tapis Kuning, Tapis Lawok Halom, Tapis Tuha, Tapis Raja Medal, dan Tapis Lawok Silung.

Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak, di antaranya: Tapis Dewosano, Tapis Limar Sekebar, Tapis Ratu Tulang Bawang, Tapis Bintang Perak, Tapis Limar Tunggal, Tapis Sasab, Tapis Kilap Turki, Tapis Jung Sarat, Tapis Kaco Mato, Tapis Kibang, Tapis Cukkil, dan Tapis Cucuk Sutero.

Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego, di antaranya: Tapis Rajo Tunggal, Tapis Lawet Andak, Tapis Lawet Silung, Tapis Lawet Linau, Tapis Jung Sarat, Tapis Raja Medal, Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung, Tapis Cucuk Andak, Tapis Balak, Tapis Pucuk Rebung, Tapis Cucuk Semako, Tapis Tuho, Tapis Cucuk Agheng, Tapis Gajah Mekhem, Tapis Sasap, Tapis Kuning, Tapis Kaco, Tapis Serdadu Baris.

2. Kain Tapis menurut pemakainya, di antaranya adalah:

  • Tapis Jung Sarat. Tapis ini dipakai oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat. Selain itu, kain ini juga dapat dipakai oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua yang menghadiri upacara mengambil gelar, upacara pengantin, dan muli cangget (gadis penari) pada upacara adat.
  • Tapis Raja Tunggal. Dipakai oleh isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara perkawinan adat dan pengambilan gelar, baik gelar pangeran maupun sultan. Khusus untuk daerah Abung Lampung Utara, Tapis jenis ini dipakai oleh para gadis dalam menghadiri upacara adat.
  • Tapis Raja Medal. Tapis ini biasanya dipakai oleh kelompok isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara adat, seperti upacara mengawinkan anak dan pengambilan gelar pangeran. Khusus untuk daerah Abung Lampung Utara, Tapis ini digunakan oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat.
  • Tapis Laut Andak. Kain jenis ini biasanya dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada acara adat cangget. Dipakai juga oleh Anak Benulung (isteri adik) sebagai pengiring pada upacara pengambilan gelar sultan, dan oleh dipakai juga oleh menantu perempuan pada acara pengambilan gelar sultan.
  • Tapis Balak. Biasanya dipakai oleh adik perempuan dan menantu perempuan dalam menghadiri upacara pengambilan gelar atau upacara mengawinkan anak. Tapis ini juga dapat dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada upacara adat.
  • Tapis Silung. Tapis jenis ini biasanya dipakai oleh kelompok para perempuan tua yang masih kerabat dekat dalam upacara adat, seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan lain-lain. Dapat juga dipakai pada saat pengarakan pengantin.
  • Tapis Laut Linau. Tapis ini biasanya dipakai oleh: a) kerabat isteri yang tergolong kerabat jauh ketika menghadiri upacara adat, b) para gadis pengiring pengantin pada upacara turun mandi pengantin dan mengambil gelar pangeran, dan c) gadis penari (muli cangget).
  • Tapis Pucuk Rebung. Tapis ini biasanya dipakai oleh para ibu/para isteri ketika menghadiri upacara adat. Di daerah Menggala, Tapis ini disebut juga Tapis Balak, yang dipakai oleh wanita pada saat menghadiri upacara adat.
  • Tapis Cucuk Andak. Dipakai oleh para isteri keluarga penyimbang (kepala adat/suku) yang sudah bergelar sultan dalam menghadiri upacara perkawinan atau pengambilan gelar adat. Di daerah Lampung Utara, Tapis ini dipakai oleh pengantin wanita dalam upacara perkawinan adat, dan di daerah Abung Lampung Utara dipakai oleh ibu-ibu pengiring pengantin dalam upacara adat perkawinan.
  • Tapis Limar Sekebar dan Tapis Cucuk Pinggir. Kedua jenis Tapis ini biasanya digunakan oleh para isteri dalam menghadiri pesta adat, dan para gadis pengiring pengantin dalam upacara adat.
  • Tapis Tuho (Tapis Tua). Tapis ini biasanya dipakai oleh: a) seorang isteri yang suaminya sedang mengambil gelar sultan, b) orang tua (mepahao) yang sedang mengambil gelar sultan, dan c) isteri sultan yang menghadiri upacara pengambilan gelar kerabat dekatnya.


Tapis Tuho dipakai oleh kalangan berstatus sosial tinggi

  • Tapis Agheng/Areng. Dipakai oleh para isteri yang suaminya telah mendapatkan gelar sultan pada upacara pengarakan naik pepadun/pengambilan gelar. Tapis ini juga biasanya dipakai oleh pengantin untuk pakaian sehari-hari.
  • Tapis Inuh. Kain Tapis ini biasanya dipakai pada saat menghadiri upacara-upacara adat.


Tapis Inuh Warna hitam (kiri), dan Tapis Inuh warna coklat (kanan)

  • Tapis Dewosano. Di daerah Menggala dan Kota Bumi, Kain Tapis ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat.
  • Tapis Kaca. Dipakai oleh para wanita ketika menghadiri upacara adat atau mengiring pengantin. Di daerah Pardasuka Lampung Selatan, Tapis ini juga dipakai oleh laki-laki ketika menghadiri upacara adat.
  • Tapis Bintang dan Bintang Perak. Dipakai oleh pengantin wanita pada saat upacara adat.
  • Tapis Bidak Cukkil. Tapis ini dipakai oleh laki-laki pada saat menghadiri upacara-upacara adat.

F. Nilai-nilai

Kain Tapis merupakan salah satu bentuk pencapaian peradaban Lampung. Di dalam kain ini, tersimpan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Lampung. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah nilai sakral, stratifikasi sosial, sejarah, pemahaman terhadap alam, kreativitas, inklusivitas, dan nilai ekonomis.

Pertama, nilai sakral. Kain Tapis biasanya dipakai dalam setiap upacara adat dan keagamaan, dan merupakan perangkat adat yang serupa pusaka keluarga. Kain ini bagi masyarakat Lampung merupakan simbol kesucian. Kain ini diyakini dapat melindungi pemakainya dari segala macam kotoran luar. Sebagai simbol kesucian, maka proses pembuatan Kain Tapis dilakukan secara cermat dan melalui tahapan-tahapan yang cukup rumit.  Nilai-nilai sakral ini juga dapat dilihat pada bentuk motifnya yang mengandung makna-makna simbolis-filosofis, seperti motif pohon hayat dan bangunan yang berisikan roh manusia, dan adanya aturan-aturan kapan dan pada acara apa kain ini digunakan.

Kedua, stratifikasi sosial. Kain ini juga berfungsi sebagai penanda status sosial seseorang. Artinya, dengan melihat Kain Tapis yang digunakan, maka kita akan mengetahui status sosial orang tersebut. Misalnya dalam upacara pengambilan gelar adat ada orang yang menggunakaan Tapis Tuho, maka orang tersebut dipastikan mempunyai status sosial yang tinggi. Menurut aturan adat, yang berhak menggunakan Tapis Tuho adalah isteri dari orang yang sedang mengambil gelar sultan, orang tua (mepahao) yang sedang mengambil gelar sultan, dan atau istri sultan yang menghadiri upacara pengambilan gelar kerabat dekatnya.

Ketiga, nilai sejarah dan pemahaman terhadap alam. Dengan melihat motif Kain Tapis, maka kita akan mengetahui sejarah perkembangan masyarakat Lampung, dan sekaligus mengetahui kondisi alam di mana masyarakat Lampung hidup. Alam bagi para pengrajin Tapis merupakan sumber inspirasi bagi penciptaan motif-motif. Misalnya penggunaan beragam jenis transportasi laut telah memberi ide penggunaan motif hias berupa aneka macam bentuk kapal. Dengan melihat motif-motif kapal tersebut, maka kita akan mengetahui bahwa sejak zaman dahulu masyarakat Lampung telah mengenal beragam bentuk dan konstruksi kapal.

Keempat, nilai kreativitas dan inklusivitas. Ragam hias dan motif pada Kain Tapis merupakan bukti dari kreativitas masyarakat Lampung. Mereka menghayati alam dan ”melukiskannya” dalam kain. Selain itu, Kain Tapis juga merupakan manifestasi dari akulturasi antara antara unsur-unsur hias kebudayaan tempatan (lama) dengan unsur-unsur hias kebudayaan lain (baru). Terjadinya akulturasi ini merupakan sifat kebudayaan Lampung yang inklusif. Para pendahulu orang Lampung mengajarkan kepada kita agar tidak merubah khazanah kebudayaan sendiri dan merubahnya dengan kebudayaan orang lain, tetapi menjadikan kebudayaan lain sebagai sumber inspirasi untuk memperkaya kebudayaan sendiri. 

Kelima, nilai ekonomi. Dalam paradigma ekonomi kreatif, maka kreativitas mempunyai nilai ekonomi tinggi. Hal inilah yang nampaknya mulai disadari oleh masyarakat Lampung. Dengan kreativitas dan inovasi, misalnya menciptakan Kain Tapis yang sesuai kebutuhan pasar, maka Kain Tapis dapat menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat Lampung. Sebagai sumber ekonomi, maka Kain Tapis tidak hanya memberikan kebanggaan secara budaya (imateriil) kepada masyarakat, tetapi juga yang bersifat ekonomi (materiil). Namun pengembangan nilai ekonomis Kain Tapis harus dilakukan secara hati-hati dan cermat agar Kain Tapis tidak tercerabut dari akar lokalitasnya.  


Motif dan ragam hias Kain Tapis mengandung makna simbolis-filosofis

G. Penutup

Kain Tapis merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang berkembang dan hidup di tengah-tengah pergaulan orang-orang Lampung. Ia merupakan pengejawantahan dari kepercayaan masyarakat Lampung terhadap yang sakral, menjadi media membangun struktur sosial, menjadi simbol sifat inklusif masyarakat Lampung, dan dalam paradigma ekonomi kreatif sebagai sumber ekonomi. Karena begitu pentingnya keberadaan Kain Tapis bagi masyarakat Lampung, maka sudah selayaknya para pemangku kebijakan melakukan persekutuan untuk melestarikan dan mengembangkan Kain Tapis.

Untuk melestarikan Kain Tapis, ada tiga hal yang dapat dilakukan, yaitu mematenkan hak cipta Kain Tapis, mensosialisasikan nilai-nilai yang dikandung Kain Tapis, dan mengeksplorasi nilai ekonomis yang terkandung dalam Kain Tapis. Eksplorasi terhadap nilai ekonomis Kain Tapis harus dilakukan secara hati-hati, yaitu tidak semata-mata berorientasi pada harga jual Kain Tapis sehingga hanya mementingkan keindahan motifnya, tetapi juga harus tetap berpedoman pada nilai-nilai simbolis-filosofis yang dikandung Kain Tapis. Hanya dengan cara ini, Kain Tapis akan menjadi warisan budaya yang membanggakan secara kultural dan menyejahterakan secara finansial.

(Ahmad Salehudin/bdy/44/05-2009)

Sumber Foto:

Daftar Bacaan



[1] Secara garis besar, suku Lampung terbagi kedalam dua kelompop besar, yaitu masyarakat adat Saibatin dan masyarakat adat Pepadun. Masyrakat adat Saibatin terdiri dari lima golongan, yaitu Paksi Pak Sekala Brak (Sekala Brak Empat Paksi), Krui Marga Pitu (Krui Tujuh Marga), Komring Buay Lima (Komring Lima Kebuayan), Peminggir Semaka, dan Melinting. Sedangkan masyarakat adat Pepadun terdiri dari golongan: Abung Siwo Mego (Abung Sembilan Marga), Tulang Bawang Mego Pak (Tulang Bawang Empat Marga), Pubian Telu Suku (Pubian Tiga Suku), Buay Lima Way Kanan (Way Kanan Lima Kebuayan), dan Sungkay Bunga Mayang (http://id.wikipedia.org).

[2] Pada zaman dahulu, Kain Tapis bagi masyarakat Lampung menjadi media untuk menuliskan perjalanan hidupnya. Sejarah kehidupan mereka tersebut ditulis dengan menggunakan simbol-simbol yang dirujukkan kepada fenomena alam yang berada di sekitarnya, seperti gambar kapal dan binatang laut.” (lihat http://www.korantempo.com).

[3] Kain Tapis Inuh misalnya, waktu pembuatannya berbulan-bulan. Hal ini terjadi karena kain tersebut menjadi tempat para gadis Lampung menungkan perasaan, hasrat, dan kesetiaannya kepada sang pujaan hati. Dan, kain ini nantinya akan menjadi saksi bisu perkawinannya dengan seorang pria yang menyuntingnya (http://www.korantempo.com).

Dibaca : 23.663 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password