Kamis, 29 Juni 2017   |   Jum'ah, 4 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 3.626
Hari ini : 38.892
Kemarin : 49.268
Minggu kemarin : 258.991
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.728.223
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Keroncong Johor: Keroncong dengan Irama Melayu


Grup Musik Keroncong "Lukisan" dari Kuala Lumpur

A. Asal Usul

Pengaruh kaum kolonialis ternyata tidak selamanya buruk. Di bidang kebudayaan misalnya, ternyata pengaruh baik kaum kolonialis tetap dilestarikan. Salah satu pengaruh baik itu terdapat pada seni musik keroncong. Meskipun terdapat pro dan kontra apakah keroncong termasuk musik asli Melayu atau tidak, tapi perlu diakui di sini bahwa keroncong mendapat pengaruh musik atau alat musik dari Barat.

Salah satu bangsa yang diduga kuat mempengaruhi musik keroncong sampai menjadi salah satu kebudayaan Melayu adalah Bangsa Portugis. Pengaruh Portugis pada keroncong dapat dirunut melalui kisah jatuhnya Malaka dari Portugis ke Belanda pada 1648. Kekalahan perang memberi konsekuensi munculnya para tawanan perang yang umumnya berasal dari keturunan Bengali, Goa (India), Malabar, Maluku, Asia, Malaka, dan opsir Portugis. (www.kompas.com, edisi 18 November)

Para tawanan perang ini kemudian dibawa ke Batavia (Jakarta) dan ditempatkan di kawasan yang waktu itu disebut Tanah Serani (Jakarta Utara). Kini kawasan tersebut dikenal sebagai Kampung Tugu. Di daerah inilah para tawanan perang memainkan musik fado, sejenis musik yang memiliki hubungan historis dengan Portugis. Bentuk awal musik fado disebut moresco yang diiringi oleh alat musik dawai (ukulele). Dirunut dari kisahnya, musik jenis moresco adalah irama tari Bangsa Mor yang tumbuh di Portugal dan Spanyol pada abad ke-15, lalu dikenal di Belanda pada abad ke-16. (J.B. Kristanto, 2000: 419).


Awal mula musik keroncong dimainkan

Seperti efek domino, moresco cepat terkenal dan diminati banyak kalangan. Sekitar abad ke-19, moresco sudah dikenal dengan nama musik keroncong. Keroncong akhirnya menyebar ke Nusantara. Mulai dari Yogyakarta, Solo, bahkan ke luar negeri. Salah satunya mewabah di Johor, Malaysia.

Perkembangan musik keroncong menemui titik penting saat muncul istilah periode “keroncong abadi” (1920-1959). Pada periode ini muncul bentuk keroncong jenis Stambul, Keroncong Asli, dan Langgam. Langgam sendiri adalah bentuk adaptasi keroncong terhadap musik gamelan Jawa. Langgam memiliki ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan adanya suluk berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh (www.gong.tikar.or.id, edisi 109/X/2009). Pengaruh periode “keroncong abadi” inilah yang kemudian turut terbawa sampai ke Johor, Malaysia.

Perkembangan keroncong di Malaysia sendiri tidak lepas dari kedatangan pekerja dari Jawa dan masuknya gamelan pada abad ke-18. Orang-orang inilah yang kemudian mengembangkan keroncong. Perkembangan keroncong semakin pesat dengan banyaknya minat dari warga Johor pada kesenian ini (keroncong). Selain orang Jawa, warga di kalangan kaum Baba dan Nyonya  (sebutan untuk orang-orang Cina di Semenanjung Malaka) juga sangat menggemari musik keroncong.

Keroncong dapat tumbuh subur di daerah yang mempunyai penduduk orang Jawa. Daerah sekitar semenanjung menjadi tempat dengan populasi orang Jawa yang cukup banyak. Daerah tersebut misalnya di daerah Johor (Batu Pahat dan sekitarnya), pantai barat negeri Selangor,  Ipoh, dan Perak (www.tprasetyo.multiply.com).


Daerah semenanjung inilah yang menjadi lahan subur bagi
pertumbuhan musik keroncong di Malaysia, seperti di Perak,
Selangor, hingga Johor (Johor Bahru)

Di Johor sendiri, perkembangan musik keroncong awalnya didominasi lagu-lagu yang berasal dari Indonesia. Tapi revolusi musik keroncong mulai terjadi selepas Perang Dunia ke-II. Mulai saat itu, beberapa lagu dengan irama Melayu mulai memasuki musik keroncong. Di sinilah akulturasi antara budaya keroncong dengan Melayu dimulai.

Akulturasi keroncong-Melayu turut memberi andil munculnya musisi keroncong dari Johor. Mereka menciptakan lagu-lagu keroncong dengan corak Melayu seperti Zubir Said, Ahmad Jaafar, Puteh Ramlee, Mohd. Wan Yet, Johar Bahar, Sudar Mohammad, Zainal Ibrahim, Mahzan Manan dan Muhammad Ariff Ahmad.


Mahzan Manan, salah satu musisi keroncong Malaysia

Munculnya lagu keroncong dengan irama Melayu ini diikuti pula dengan tumbuhnya beberapa grup keroncong. Sekitar tahun 1950-an di Johor, khususnya di Johor Bahru telah terbentuk beberapa grup musik keroncong seperti ‘Suara Timur Keroncong Orkes‘ di Kampung Stulang Darat; ‘Pepat Keroncong Party‘ di Kampung Tambatan dan Mohd. Amin Johor Bahru; serta ‘Mawar Puteh Keroncong Party‘ di Kampung Chik Ami Ngee Heng yang diketui oleh Encik Omar bin Abu Samah ( www.kabarindonesia.com).

Di awal terbentuknya grup keroncong tersebut, biasanya para grup mempertunjukkan musik keroncong di berbagai jamuan atau pesta. Tapi seiring perkembangan zaman dan komunitas penikmat, musik keroncong mulai digubah ke dalam orkestra, kumpulan gitar rancak, masuk ke dunia rekaman, hingga disiarkan di beberapa stasiun radio di Johor.

Salah satu radio di Johor yang menyiarkan musik keroncong adalah Radio Johor Best 104. Radio milik Pemerintah Negara Bagian ini menyiarkan musik keroncong dan Stambul sejak pukul 22.00-02.00 waktu Malaysia. Hebatnya lagi, siaran khusus keroncong diadakan atas perintah Sultan Johor (www.beriman-hati.blogspot.com, edisi 22 Januari 2008).

Selain radio, perkembangan musik keroncong di Johor didukung pula oleh Yayasan Warisan Johor (Johor Heritage Foundation) yang berlokasi di JKR 293, Jalan Mariamah, 80100 Johor Bahru, Johor, Telp. 07-2266172, Fax. 07-2267549. Yayasan ini sengaja dibentuk untuk mendukung tumbuhnya kelompok seni keroncong dan gamelan di seluruh distrik di Johor.


Kantor Pejabat AM Yayasan Warisan Johor

Program pengembangan musik keroncong telah dimulai sejak 1997. Sebagai langkah awal, dalam program ini diambil 5 orang tenaga pengajar keroncong dari Indonesia. Dua di antara 5 orang pengajar tersebut adalah Kuntoro Edhi S.Pd dan Suranto Hadi Widodo. Dari sini muncul pembentukan bengkel-bengkel musik atau tempat latihan musik keroncong. Bengkel ini telah diresmikan keberadaannya pada 15-18 Juni 1999 di Pusat Kegiatan Seni, Yayasan Warisan Johor. Dari bengkel musik keroncong ini lahir pula grup keroncong di beberapa daerah, seperti di Batu Pahat, Johor Bahru, Kluang, Kota Tinggi, Pontian, Mersing, dan Segamat.

Selain itu usaha keras dari Yayasan Warisan Johor tampak pula pada keberhasilan yayasan ini dalam mengeluarkan album keroncong. Tidak kurang dari 25 album keroncong dengan irama khas Melayu, muncul atas kerja keras Yayasan Warisan Johor. Masih melalui Yayasan Warisan Johor, sepanjang tahun 2000, sering digelar lomba musik keroncong dan nyanyian lagu-lagu keroncong di seluruh daerah negeri Johor. Acara ini rutin digelar di setiap tahun. (www.kabarindonesia.com; www.keroncongjowo.blogspot.com).

Tidak hanya di dalam negeri, bahkan di luar negeri Yayasan Warisan Johor juga menunjukkan eksistensinya. Salah satu eksistensi tersebut ditunjukkan oleh Yayasan Warisan Johor dalam International Keroncong Festival (IKF) 2008 yang diselenggarakan pada 4-6 Desember 2008 di Pendopo Pagelaran Sitihinggil Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Surakarta.

Acara ini diikuti  15 peserta dari Indonesia dan 1 dari Malaysia yang diwakili oleh Yayasan Warisan Johor. Dalam IKF 2008, lagu “Gerimis Mengundang” yang dibawakan oleh Yayasan Warisan Johor dengan vokalisnya Wahidah A.R. sanggup memberikan warna tersendiri, musik keroncong dengan sentuhan irama Melayu (www.tjroeng.com).

B. Peralatan (Alat Musik)

Agak berbeda dengan musik keroncong di Indonesia, musik keroncong di Johor dipadukan dengan irama Melayu. Meski demikian, peralatan yang dipakai dalam setiap jenis musik keroncong secara umum sama. Peralatan tersebut antara lain:

1. Biola (Violin)

Alat musik berdawai empat ini dimainkan dengan cara digesek dengan alat penggeseknya yang khas. Sebutan umum untuk alat ini ialah biola. Violin dan Viola mempunyai sedikit perbedaan. Viola lebih besar daripada violin dan bunyi viola lebih kasar. Violin digunakan dalam musik keroncong sebagai alat melodi.


Biola

2. Seruling (Flute)

Sejenis alat musik tiup. Flute menghasilkan bunyi yang lembut sehingga sesuai dengan musik keroncong.


Flute

3. Cuk (Ukulele)

Merupakan alat musik berdawai empat. Cuk adalah alat utama untuk musik keroncong.


Ukulele

4. Cak (Tenor Banjo)

Alat musik berdawai empat ini berpasangan dengan cuk (ukulele) dan digunakan dalam musik keroncong untuk meningkatkan irama.


Tenor Banjo

5. Gitar

Alat musik berdawai enam ini digunakan dalam musik keroncong. Biasanya dipergunakan gitar akustik


Gitar

6. Selo (Cello)

Sebenarnya cello dimainkan dengan cara digesek. Tapi dalam musik keroncong, alat musik berdawai empat ini dimainkan dengan cara dipetik seperti gitar.


Cello

7. Double-Bass

Alat musik paling besar ini mempunyai empat dawai. Dalam orkestra simfoni alat ini dimainkan dengan cara digesek. Tapi dalam musik keroncong dimainkan dengan cara dipetik dan hanya tiga dawai saja yang dipakai, yaitu G, D, dan A. (www.keroncongmalaya.blogspot.com)


Doble Bass

C. Tipe Musik Keroncong Johor

Tipe musik keroncong yang ada di Johor bisa dirujuk dari akulturasi antara budaya Jawa dan Melayu. Dari akulturasi ini, bisa disimpulkan jika tipe yang dipakai dalam musik keroncong di Johor bercirikan Langgam. Ciri Langgam merupakan sebuah ciri yang melekat kuat pada musik keroncong yang menjamur di wilayah Jawa, khususnya Yogyakarta dan Solo. Lagu-lagu dari daerah ini (Jawa) sifatnya lebih tenang dan lembut. Irama dan perpindahan nadanya lambat, sehingga memungkinkan banyak cengkok dalam menyanyikan lagunya. Di sinilah celah yang memungkinkan masuknya irama Melayu ke dalam keroncong. Tapi meski bercirikan Langgam, musik keroncong di Johor tetap mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu aroma irama Melayu. Inilah yang membedakan antara Langgam di Jawa dengan musik keroncong di Johor.

Irama cengkok Melayu sendiri dapat dirujuk ketika S.M. Mochtar, pianis orkes studio NIROM Surabaya menggubah lagu “Pulau Brandan” sekitar tahun 1918-1919. Cengkok keroncong gubahan pianis asal Padang, Sumatera Barat ini sangat khas bergaya Melayu. Akibatnya, perkembangan keroncong melahirkan lagu jenis Stambul, yaitu keroncong yang dimainkan di pagelaran komedi khas Melayu yang disebut komedi stambul. Dari dua tipe yang bersatu (Langgam dan Stambul), maka sebenarnya musik keroncong di Johor bisa pula berbaur dengan tipe Stambul. 

1. Tipe Langgam

Tipe Langgam sendiri mempunyai dua versi. Pertama A - A - B - A dengan pengulangan dari bagian A kedua seperti lagu standar pop: Verse A - Verse A - Bridge B - Verse A, panjang 32 birama. Kedua, yakni pengulangannya langsung pada bagian B. Meski sudah memiliki bentuk baku, namun pada perkembangannya irama ini lebih bebas diekspresikan.

Alur akord Langgam sebagai berikut:

  • Verse A | V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
  • Verse A |V7 , , , | I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
  • Bridge B |I7 , , , |IV , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | II# , , , | II# , , , | V , , ,|
  • Verse A |V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |

2. Tipe Stambul

Nama Stambul merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan nama Komedi stambul. Nama "stambul" diambil dari nama Istambul di Turki.

Alur akord Stambul Keroncong adalah sebagai berikut. (tanda - adalah tacet atau iringan tidak dibunyikan):

  • |I - - - | - - - - | - - - - |IV , , , | dibuka dg broken chord I utk mencari nada
  • |IV , , , |IV , , , |IV , V ,|I , , , |
  • |I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
  • |V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |
  • |I , , , |I , , , |I , , , |IV , , , |
  • |IV , , , |IV , , , |IV , V , |I , , , |
  • |I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
  • |V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |

(www.id.wikipedia.org/wiki/Keroncong)

D. Kesimpulan


Musik keroncong merupakan suatu jenis musik yang mendapat pengaruh Barat. Musik ini berkembang seiring dengan kolonialisme yang ada di Nusantara. Akulturasi budaya menjadikan musik keroncong mempunyai beragam tipe, yaitu Keroncong Asli, Langgam dan Stambul. Lewat beragam tipe inilah, menjelma musik keroncong yang bisa masuk ke berbagai budaya, salah satunya adalah budaya Melayu di Johor.

Perkembangan musik keroncong di Johor tidak bisa dilepaskan dari keberadaan orang Jawa dan Yayasan Warisan Johor (Johor Heritage Foundation). Lewat orang Jawa keroncong disebarkan, dan lewat Yayasan Warisan Johor keroncong dikembangkan dan diberi ciri khas tersendiri. Ciri khas tersebut adalah keroncong dengan paduan irama Melayu. Inilah ciri khas yang tidak dipunyai jenis keroncong lain, kecuali di daerah Malaysia.

(Tunggul Tauladan/bdy/01/06-2009)

Referensi:

Buku:

J.B. Kristanto (ed.), Seribu Tahun Nusantara, Jakarta: Kompas, 2000

Artikel di Internet:

....., “Keroncong dan Sejarahnya,” tersedia di www.keroncongmalaya.blogspot.com, diakses pada 6 Juni 2009.

....., “Keroncong di Tanah Melayu,” tersedia di www.tprasetyo.multiply.com, diakses pada 6 Juni 2009.

....., “Keroncong,” tersedia di www.id.wikipedia.org/wiki/Keroncong, diakses pada 2 Juni 2009.

....., “Musik Keroncong Cermin Luhur Budaya Bangsa,” tersedia di www.beriman-hati.blogspot.com, 22 Januari 2008, diakses pada 6 Juni 2009.

....., “Sejarah Pengembangan Muzik Keroncong di Johor,” tersedia di www.keroncongjowo.blogspot.com, diakses pada 6 Juni 2009.

....., “Sekilas Sejarah Keroncong,” tersedia di www.kompas.com,edisi 18 November 2007 diakses pada 2 Juni 2009.

….., Keroncong Goes Internasional,” tersedia di www.tjroeng.com, diakses pada 6 Juni 2009.

Eko Pujiono, “Keroncong Riwayatmu Kini,” tersedia di www.kabarindonesia.com, diakses pada 2 Juni 2009.

Joko S. Gobloh, “Keroncong: Pusaka Musik,” tersedia di www.gong.tikar.or.id, edisi 109/X/2009, diakses pada 5 Juni 2009.

Sumber Foto:

Dibaca : 18.793 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password