Senin, 20 Februari 2017   |   Tsulasa', 23 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 3.003
Hari ini : 20.226
Kemarin : 31.517
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.761.951
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Bungan Malan Peselung Luan: Tuhan Bagi Dayak Kenyah di Kalimantan Timur


Pria  Dayak Kenyah sedang memainkan “sampe”,
sejenis gitar atau alat musik petik dengan dawai
berjumlah 3 atau 4. Biasanya diberi hiasan atau
ukiran khas suku Dayak.

1. Asal-usul

Suku Bangsa Dayak tersusun dari berbagai macam sub Suku Bangsa Dayak. Padahal jika ditilik dari asal usulnya, Suku Bangsa Dayak awalnya berasal dari rumpun yang sama. Keadaan geografis dan proses penyesuaian alam, menjadi penyebab tercerai-berainya Suku Bangsa Dayak menjadi ratusan sub Suku Bangsa Dayak.

Dilihat dari asal usul, Suku Bangsa Dayak berasal dari daratan Asia yang bermigrasi secara besar-besaran sekitar tahun 3.000-1.500 SM. Para imigran tersebut berasal dari Propinsi Yunan, Cina Selatan. Mereka mengembara ke Tumasik (Singapura) dan Semanjung Melayu dan akhirnya di Borneo (Kalimantan), Indonesia. Sebagian imigran lain memilih “pintu masuk” melalui Hainan, Taiwan, dan Filipina. Pada “gelombang pertama” imigran yang masuk ke Kalimantan adalah kelompok Negrid dan Weddid, atau lazim disebut Proto Melayu. Sedang “gelombang kedua” disebut Deutro Melayu. Kelompok ini menghuni wilayah pantai Kalimantan dan kini dikenal sebagai Suku Melayu (Widjono, 1998: 2-3).

Ketika sampai di Kalimantan, awalnya imigran “gelombang pertama” mendiami daerah pantai. Tapi kedatangan “gelombang kedua” membuat mereka terdesak sampai ke pedalaman sehingga menghuni daerah sekitar hulu sungai. Dari sinilah timbul ungkapan untuk menyebut orang-orang yang tinggal di hulu sungai. Mereka mendapat sebutan “orang hulu” yang kemudian disebut “Dayak” (Umberan, dkk., 1993: 32).

Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah “Dayak”. Menurut Lindblad, kata “Dayak” berasal dari sebuah kata “daya” dari Bahasa Kenyah (sebuah sub Suku Bangsa Dayak), yang berarti hulu (sungai) atau pedalaman (J. Thomas Lindblad, “Between Dayak and Dutch: The Economic History of Southeast Kalimantan 1880-1942, 1988: 2 dalam Maunati, 2004: 8). Sedang King menduga bahwa istilah “Dayak” mungkin juga berasal dari kata “aja”, sebuah kata dari Bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi (Victor T. King, “The People of Borneo”, 1993: 30 dalam Ibid.). Pada perkembanganya kemudian, istilah “Dayak” paling umum digunakan untuk menyebut “orang-orang asli non-muslim, non-Melayu yang tinggal di pedalaman pulau itu (Kalimantan)” (Victor T. King, 1993: 29 dalam Ibid.).

Terdesaknya Suku Bangsa Dayak ke pedalaman Kalimantan menjadi pemicu mulai tercerai berainya suku bangsa ini menjadi berbagai macam sub Suku Bangsa Dayak. Beberapa versi kemudian muncul untuk mengelompokkan Suku Bangsa Dayak. Beberapa versi tersebut, antara lain, versi pertama dikemukakan oleh H.J. Malinckrodt berdasarkan kesamaan hukum adat yang mengelompokkan Suku Bangsa Dayak ke dalam enam rumpun suku yang dinamakan Stammenras. Pengelompokkan itu adalah: Stammenras Kenyah-Kayan-Bahau; Stammenras Ot Danum, meliputi Ot Danum, Ngaju, Maayan, Dusun, dan Luangan; Stammenras Iban; Stammenras Murut; Stammenras Klemantan; dan Stammenras Punan, meliputi Basap, Punan, Ot, dan Bukat (J. Mallinckrodt, “Adatrech van Borneo, 1928 dalam Widjono, 1998: 4).

Versi kedua dari W. Stohr yang bertolak dari segi ritus kematian, mengelompokkan Suku Bangsa Dayak ke dalam 6 kelompok. Kelompok tersebut adalah: Kenyah-Kayan-Bahau; Ot Danum, yang terbagi menjadi Ot Danum-Ngaju, Maayan-Lawangan; Iban; Murut, meliputi Dusun-Murut-Kelabit; Klemantan, meliputi Klemantan, dan Dayak Barat; Punan. (W. Stohr, “Das Totenritual der Dajak, 1959 dalam Ibid.).

Versi ketiga dari Tjilik Riwut yang membuat pembagian sub Suku Bangsa Dayak menjadi 18 sub suku untuk seluruh Kalimantan. Sub suku bangsa ini masih terbagi lagi menjadi 403-450 sub suku bangsa yang lebih kecil. Pengelompokan tersebut sebagai berikut:

1. Kelompok Ngaju yang terbagi atas 4 sub suku besar,

a. Ngaju: terdiri dari 53 sub suku kecil
b. Maayan: terdiri dari 8 sub suku kecil
c. Lawangan: terdiri dari 21 sub suku kecil
d. Dusun: terdiri dari 8 sub suku kecil

2. Kelompok Apau Kayan yang terbagi atas 3 sub suku besar,

a. Kenyah: terdiri dari 24 sub suku kecil
b. Kayan: terdiri dari 10 sub suku kecil
c. Bahau: terdiri dari 26 sub suku kecil

3. Kelompok Iban yang terdiri dari 11 sub suku kecil

4. Kelompok Klemantan yang terbagi atas 2 sub suku besar

a. Klemantan: terdiri dari 47 sub suku kecil
b. Ketungau: terdiri dari 39 sub suku kecil

5. Kelompok Murut yang terbagi atas 3 sub suku besar

a. Idaan (Dusun): terdiri dari 6 sub suku kecil
b. Tindung: terdiri dari 10 sub suku kecil
c. Murut: terdiri dari 28 sub suku kecil

6. Kelompok Punan yang terbagi atas 3 suku besar

a. Basap: terdiri dari 20 sub suku kecil
b. Punan: terdiri dari 24 sub suku kecil
c. At: terdiri dari 5 sub suku kecil

7. Kelompok Ot Danum yang terdiri dari 61 sub suku kecil (Tjlik Riwut, “Kalimantan Memanggil”, 1956 dalam Ibid, 4-5).

Berdasarkan pengelompokan di atas, terdapat versi yang seragam atas pengelompokan dari sub Suku Bangsa Dayak Kenyah. Sub Suku Bangsa Dayak Kenyah dikelompokkan menjadi satu rumpun dengan Kenyah-Kayan-Bahau. Dari pengelompokan ini bisa disimpulkan bahwa kelompok Kenyah-Kayan-Bahau mempunyai kesamaan di bidang hukum adat maupun ritus kematian.


Peta Migrasi Suku Dayak Kenyah dari Serawak ke Kalimantan Timur
yang akhirnya terpecah menjadi dua kelompok.
Pertama, mendiami daerah Apau Kayan dan kedua, daerah Bahau.

Sub Suku Bangsa Dayak Kenyah (selanjutnya ditulis Dayak Kenyah) adalah salah satu sub Suku Bangsa Dayak yang mendiami wilayah di Kalimantan Timur. Ditilik dari asal usulnya, Dayak Kenyah berasal dari daerah Baram, Serawak. Dari wilayah tersebut Dayak Kenyah memasuki Kabupaten Malinau di Kalimantan Timur. Ketika masuk ke Kalimantan Timur, kelompok migrasi ini terpecah menjadi dua bagian, sebagian menuju daerah Apau Kayan yang sebelumnya telah ditempati Dayak Kayan, sedang sebagian lainnya menuju daerah Bahau. Pergerakan Dayak Kenyah menuju hilir akhirnya sampai di daerah Mahakam dan menetap di Kampung Pampang, Samarinda Utara, Samarinda. Sebagian lainnya bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas. Di kedua tempat inilah, Dayak Kenyah menetap. Dari kedua tempat itulah, Dayak Kenyah mulai menampakkan ciri khas yang tertuang dalam seni budaya Suku Dayak Kenyah yang terkenal sangat halus dan menarik. Ragam seni hias dari Dayak Kenyah bahkan banyak dipakai pada bangunan-bangunan di Kalimantan Timur. Bukan saja terdiri dari seni ukir semata, tetapi tarian dan juga cara hidup (“Suku Kenyah,” tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kenyah. Diakses pada 13 Juni 2009).


Topeng dan tameng khas Suku Dayak Kenyah

Secara mitos dan legenda, muncul pula asal usul dari Dayak Kenyah. Jika dilihat dari mitos yang santer beredar, leluhur Dayak Kenyah dikatakan berasal dari saudagar keturunan Cina bernama Haka. Diceritakan bahwa sang saudagar pada suatu waktu bertransaksi dagang di Borneo. Dalam perdagangannya tersebut singgahlah dia di sebuah gua untuk beristirahat. Ternyata di dalam gua tersebut dihuni pula oleh seekor naga yang mempunyai batu permata di kepala. Haka sangat menginginkan untuk memiliki batu permata tersebut, tapi tak kuasa melawan sang naga yang sanggup mengeluarkan api dari mulutnya. Niat untuk mengambil batu permata diurungkan dan pulanglah Haka ke Cina untuk meminta bala bantuan dari sang raja.

Raja setuju dengan permintaan Haka. Akhirnya dikirimlah pasukan dari Cina bersama Haka untuk merebut permata yang menghias kepala sang naga. Singkat cerita, permata berhasil direbut oleh pasukan Cina bersama Haka ketika sang naga dalam kondisi tertidur. Tetapi sayang, dalam situasi terakhir ketika kapal pasukan Cina akan bertolak kembali ke Negeri Cina, sang naga terbangun dan mengejar pasukan Cina. Malang bagi Haka, dia tertinggal di belakang perahu yang telah angkat sauh kembali ke Negeri Cina bersama permata. Akhirnya Haka dan sebagian prajurit yang masih tertinggal beringsut masuk ke pedalaman hutan, menyusuri sungai dan sampailah mereka ke sebuah perkampungan. Di sini Haka dan para prajurit berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat sekitar hingga berkeluarga. Dari situlah asal mula penduduk Pulau Borneo (Kalimantan) memiliki ras dari Negeri Cina. Setelah sekian tahun perkembangan penduduk semakin pesat, Haka membawa sebagian penduduk untuk pindah ke daerah lain. Tempat tersebut bernama Apau Ahe. Di sini masyarakat Haka terus berkembang pesat dan diyakini sebagai leluhur dari Dayak Kenyah (“Sejarah Asal Usul Dayak Kenyah,” tersedia di http://balikpapan.olx.co.id/cerita-dongeng-legenda-mitos-dayak-kenyah. Diakses pada 13 Juni 2009)

Mitos memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan di kehidupan Dayak Kenyah dan sub Suku Dayak lainnya. Mitos yang salah satunya melembaga lewat paham animisme memang menjadi ciri kepercayaan-kepercayaan supernatural, ritual-ritual, dan praktisi supernatural (dukun) tertentu. Conley misalnya, menulis bahwa “agama bagi semua orang Kenyah sebelum Agama Kristen datang disebut Adet Tepun , di mana tepun berarti nenek moyang”. Menurut Conley, Dayak Kenyah percaya pada tiga jenis roh (bali), yaitu roh baik, jahat, dan yang tidak dapat diduga. Bungan Malan Peselung Luan adalah contoh roh baik, yang biasanya dipuja oleh Dayak Kenyah dalam upacara keagamaan. Bungan Malan Peselung Luan inilah yang lazim dikatakan sebagai Tuhan bagi Dayak Kenyah. (W. William Conley, “The Kalimantan Kenyah: A Study of Tribal Conversionin Term of Dinamic Cultural Themes, 1973: xvii dan 52 dalam Maunati, 2004: 80-81).

Mitos ini pula yang menyebabkan penampilan sosok Bungan Malan Peselung Luan diibaratkan sebagai bentuk keseimbangan antara manusia dan kekuatan di luar batas kewajaran manusia, disingkat dengan alam. Bagi Dayak Kenyah dan Suku Bangsa Dayak pada umumnya, menjaga kesimbangan alam merupakan adat yang turun temurun dari nenek moyang. Salah satu ikatan yang tidak terpisahkan dalam menjaga alam adalah menjaga ikatan harmonis antara sang pencipta alam dengan manusia. Adat diyakini sebagai solusi menciptakan keseimbangan kehidupan, antar sesama manusia, antara mereka dengan alam sekitar dan antara mereka dengan sang penguasa alam semesta. Melanggar adat berarti mengancam kehidupan. (Yohanes Supriyadi, “Filsafat Dayak”, tersedia di http://yohanessupriyadi.blogspot.com/2009/03/kekayaan-tradisi-dan-religi-dayak.html. Diakses pada 5 Juni 2009). 

Bungan Malan Peselung Luan adalah sang pencipta yang sangat dipercaya oleh Dayak Kenyah. Suatu kekuatan yang terbangun dari adat yang diturunkan secara turun temurun oleh para leluhur. Atas alasan menjaga eksistensi adat inilah, upaya untuk menjaga keharmonisan antara Bungan Malan Peselung Luan dan Dayak Kenyah, harus terus dilakukan. Simbol penghormatan terhadap Bungan Malan Peselung Luan dilakukan melalui beragam ritual keagaman yang menyertakan berbagai sesaji/ persembahan. Sebab, menurut kepercayaan Dayak Kenyah, apabila Bungan Malan Peselung Luan sampai murka maka akan timbul beragam bencana yang sangat ditakutkan oleh Suku Dayak Kenyah. Sedang menurut Conley, tujuan utama pelaksanaan upacara keagamaan bagi kelompok-kelompok Dayak adalah menjamin keberlangsungan hidup mereka dari satu generasi ke generasi selanjutnya (W. William Conley, “The Kalimantan Kenyah: A Study of Tribal Conversionin Term of Dinamic Cultural Themes, 1973 dalam Maunati, 2004: 82).

Tidak hanya di dalam ritual keagamaan saja, sosok Bungan Malan Peselung Luan juga sangat dipuja dalam ritual lainnya, misalnya di bidang pertanian dan tolak bala. Jadi jelas di sini, bahwa ritual yang mengarah pada pengakuan tentang adanya kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, sengaja ditujukan untuk memohon kelancaran dalam semua lini kehidupan. Unsur ketakutan memang menjadi salah satu alasan untuk tetap membina hubungan baik antara Bungan Malan Peselung Luan dan Dayak Kenyah. Di luar ketakutan itu, sisi keharmonisan yang diwujudkan dengan menjaga hubungan baik antara Bungan Malan Peselung Luan dan Dayak Kenyah tetap bertahan, meski pengaruh Agama Kristen mulai masuk ke dalam kehidupan Suku Dayak Kenyah.

2. Konsep Bungan Malan Peselung Luan

Bungan Malan Peselung Luan atau Bungan Malan adalah roh baik yang dipuja oleh Dayak Kenyah. Roh ini diibaratkan sebagai Tuhan bagi kepercayaan yang melingkupi Suku Dayak Kenyah. Beberapa upacara adat penting, tidak pernah absen untuk menyertakan semacam persembahan atau sesaji yang ditujukan bagi Bungan Malan Peselung Luan. Sebut saja upacara Erau Kepala (permohonan doa sebelum membuka lahan) dan Ukaw Mending (doa ketika sebuah kampung tertimpa bencana).

Menurut kepercayaan Dayak Kenyah, Bungan Malan Peselung Luan adalah makhluk di luar dunia manusia yang direpresentasikan sebagai sosok seorang wanita cantik (dewi) yang arif, bijaksana, serta sakti. Atas kelebihan inilah, Bungan Malan Peselung Luan sangat disegani dan diagungkan oleh Dayak Kenyah (“Jenis-Jenis Tarian,” tersedia di http://www.dayakborneo.com/tari2.php. Diakses pada 17 Juni 2009). Selain itu, sosok Bungan Malan Peselung Luan juga digambarkan sebagai sesosok wanita cantik yang mempunyai telinga panjang. Alasan inilah yang kemudian dibawa dalam tradisi wanita Dayak Kenyah untuk memanjangkan daun telinganya (Maunati, 2004: 150).


Wanita Dayak Kenyah yang memanjangkan daun telinganya

Dalam sistem kepercayaan, Dayak Kenyah meyakini bahwa mereka diciptakan oleh Bungan Malan Peselung Luan. Cerita penciptaan ini lahir ketika manusia diciptakan dengan kayu aran (ara) oleh Bungan Malan Peselung Luan. Dari cerita tradisi ini, kayu aran kemudian menjadi lambang kehidupan bagi manusia dan memiliki nama “kayu udiep” (pohon kehidupan) (“Cerita Penciptaan,” tersedia di http://ateisindonesia.wikidot.com/cerita-penciptaan. Diakses pada 13 Juni 2009).

Pengertian kayu aran (ara) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pohon jenis fikus yg banyak getahnya, banyak jenisnya, ada yg berupa pohon, tumbuhan perdu, dan tumbuhan memanjat. (Moeliono (ed.), 2001: 62). Pohon ara yang mempunyai nama latin Ficus Carica juga diartikan sejenis pohon beringin. Di Indonesia terdapat sekitar 30 jenis pohon ara yang dapat dijumpai buahnya sepanjang tahun. Buah ara ini sangat disukai oleh satwa hutan dan burung-burung. Itulah alasan kenapa kemudian pohon ara oleh Dayak Kenyah dinamakan pula “kayu udiep” yang berarti pohon kehidupan. Selain pohon ara berperan penting dalam menjaga ekosistem hutan, buah ara juga mempunyai peran penting dalam rantai makanan di hutan, terutama bagi binatang (“Pohon dan Buah Ara di Antara Bising Berita FPI," tersedia di http://papaemarvel.multiply.com. Diakses pada 18 Juni 2009).


Pohon Aran (ara) atau “kayu udiep” (pohon kehidupan)

Dalam menjalin komunikasi dengan Suku Dayak Kenyah, Bungan Malan Peselung Luan membutuhkan perantaraan. Ada dua perantara yang menjembatani komunikasi antara Bungan Malan Peselung Luan dan Dayak Kenyah. Pertama, melalui pertanda yang biasanya terapresiasi dalam wujud binatang atau peristiwa alam, misalnya petir. Kedua, menurut kepercayaan Dayak Kenyah, Bungan Malan Peselung Luan menyampaikan perintah melalui perantaraan Bali Utung (roh penjaga penghuni rumah panjang) (Maunati, 2004: 81).

Bagi Dayak Kenyah, sikap taat terhadap Bungan Malan Peselung Luan diwujudkan dalam mematuhi setiap pertanda yang dianggap sebagai perintah dari Bungan Malan Peselung Luan. Misalnya saja, suku Dayak Kenyah percaya jika mereka melihat burung pelatuk dan burung elang terbang, berarti kebaikan akan datang. Tetapi apabila burung tersebut terbangnya menghalang atau melintang itu pertanda datangnya kecelakaan. Untuk itu apabila mereka menempuh perjalanan di hutan sebaiknya cepat-cepat pulang, karena mereka mempercayai bahwa itulah larangan dari Bungan Malan Peselung Luan yang disampaikan dengan perantara binatang. Mereka percaya apabila larangan itu tidak dipatuhi, Bungan Malan Peselung Luan akan murka lalu dikirim hantu-hantu untuk menyiksa manusia. Mereka percaya hantu masing-masing punya nama. Ada yang bernama Bali Meet, Bali Tenget, Bali Ketatang, Bali Li-it, dan Bali Sakit. Hantu-hantu adalah piaraan Bungan Malan Peselung Luan yang bisa mencelakakan jiwa seseorang (Kehidupan Suku Dayak Kenyah (Kalimantan Timur),” tersedia di http://adbpolnes.blogspot.com. Diakses pada 13 Juni 2009).

3. Pengaruh Sosial

Bagi Suku Dayak Kenyah, penghambaan terhadap Bungan Malan Peselung Luan merupakan sebuah kehormatan untuk mematuhinya. Wujud dari penghormatan bagi Sang Bungan Malan Peselung Luan, ditampilkan dalam ragam tradisi/ adat yang melekat dalam keseharian Suku Dayak Kenyah. Sebut saja tradisi Erau Kepala, Ukaw Mending, Maleng Ta‘u, hingga diapresiasikan dalam bentuk seni tari, misalnya Takenaq Bungan Malan.

A. Upacara Adat Maleng Ta‘u

Maleng Ta‘u merupakan upacara adat yang telah menjadi tradisi secara turun temurun dan harus dilakukan secara adat setiap tahunnya oleh Suku Dayak Kenyah. Upacara ini dilakukan saat menjelang tanam padi atau ketika merencanakan dan menentukan pembukaan lahan atau ladang. Dalam pelaksanaannya, Upacara Maleng Ta‘u hanya dapat dilakukan atau dipimpin oleh seorang iman adat yang telah mendapat pengakuan dan dikukuhkan oleh para tokoh adat melalui suatu upacara adat pentahbisan. Seorang imam yang telah ditahbiskan diberi gelar “Mengamen Bai‘ ”. Melalui seorang Imam Adat Mengamen Bai‘ inilah, segala niat, rencana, maksud dan keinginan, ataupun permohonan disampaikan kepada para dewa seperti Bungan Malan Peselung Luan (sang pencipta) dan  Bali Utung. Persembahan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam upaya memohon sesuatu dalam upacara ini. Sebagai salah satu rangkaian dalam Maleng Ta‘u disajikan tari kepahlawanan yang bercerita tentang kembalinya para ksatria dari medan perang. Bagian ini bisa dikatakan sebagai salah satu tahapan pokok dalam penyelenggaraan Upacara Adat Maleng Ta‘u. (http://www.wisata-kutaibarat.com. Diakses pada 13 Juni 2009).

B. Erau Kepala

Erau Kepala kini lebih dikenal sebagai pesta permohonan doa agar Bungan Malan Peselung Luan dan Bali Utung sudi memberikan kesuburan kepada tanah ladang yang baru dibuka. Ritual ini ditujukan untuk meminta hasil yang melimpah dan dijauhkan dari segala penyakit tanaman (hama) (Kehidupan Suku Dayak Kenyah (Kalimantan Timur),” tersedia di http://adbpolnes.blogspot.com. Diakses pada 13 Juni 2009).

Pada awalnya, Erau Kepala merupakan tradisi berburu kepala (pemenggalan kepala) yang bertujuan sebagai penggambaran citra kelompok Dayak yang disebut dengan mamat (pesta perburuan kepala). Kepala disimbolkan sebagai tumbal kepada Bungan Malan Peselung Luan untuk memohon sesuatu, termasuk kesuburan ladang (Frank M. Lebar, “Ethnic Groups of Insular Southeast Asia”, 1972: 171 dalam Maunati, 2004: 82).

Bukan rahasia lagi jika Dayak Kenyah adalah pemburu yang paling terkenal di Kalimantan. Di kalangan Dayak Kenyah sendiri, mamat juga dihubungkan dengan upacara untuk mengakhiri hari berkabung. Tapi sejak penghujung tahun 1980, ritual perburuan kepala dilarang. Akibatnya, kini dalam Erau Kepala, ritual perburuan kepala telah dihilangkan. Seperti disampaikan Lebar, “Sejak dihapuskannya perburuan kepala di awal abad ini, (tengkorak-tengkorak) kepala yang sudah tua atau berbagai benda pengganti lainnya-lah yang digunakan” (Frank M. Lebar, “Ethnic Groups of Insular Southeast Asia”, 1972: 171 dalam Ibid., 84).

C. Ukaw Mending

Upacara lainnya yang menempatkan Bungan Malan Peselung Luan sebagai tokoh sentral adalah Ukaw Mending. Ukaw Mending adalah ritual yang dilakukan ketika suatu kampung tertimpa bencana. Sebelum Ukaw Mending dimulai, seluruh penduduk diberitahu untuk ber”tabu” selama tiga hari yaitu: jangan memancing, berburu, menumbuk padi, menjahit, keluar kampung, dan jangan pula menerima tamu selama bertabu. Selama upacara berlangsung, seseorang yang memimpin ritual tersebut, secara terus menerus membaca mantera agar Bungan Malan Peselung Luan melenyapkan malapetaka (Kehidupan Suku Dayak Kenyah (Kalimantan Timur),” tersedia di http://adbpolnes.blogspot.com. Diakses pada 13 Juni 2009).

D. Tekenaq Bungan Malan


Takenaq Bungan Malan

Tekenaq Bungan Malan merupakan sebuah seni tari hasil apresiasi dari sosok Bungan Malan Peselung Luan. Tuhan bagi Dayak Kenyah ini diwujudkan dalam bentuk tarian dengan tokoh sentral seorang wanita cantik. Sesuai dengan kepercayaan Dayak Kenyah, Bungan Malan Peselung Luan merupakan Tuhan yang berbentuk seorang wanita cantik, sakti, arif, dan bijaksana. Keagungan ini diambil dalam bentuk tarian, Takenaq Bungan Malan. Sebuah babak dalam Takenaq Bungan Malan, menampilkan adegan seorang penari perempuan yang diangkat oleh para ajai (penari pria) dengan memakai gong, sebagai perlambang bahwa Bungan Malan peselung Luan sangat disanjung dan dipuja (“Jenis-Jenis Tarian,” tersedia di http://www.dayakborneo.com/tari2.php. Diakses pada 17 Juni 2009).

(Tunggul Tauladan /bdy/02/06-2009)

Referensi

Buku

Widjono, Roedy Haryo. Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok, Jakarta: P.T. Grasindo. 1998.

Umberan, Musni, dkk. Sejarah Kebudayaan Kalimantan, Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1993.

Maunati, Yekti. Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan, Yogyakarta: LKIS, 2004.

Moeliono, A.M. (ed.). Kamus Besar Bahasa Indonesia Jilid 3, Jakarta: Balai Pustaka, 2001.

Artikel di Internet

http://www.wisata-kutaibarat.com. Diakses pada 13 Juni 2009

“Cerita Penciptaan,” tersedia di http://74.125.153.132/. Diakses pada 13 Juni 2009.

“Jenis-Jenis Tarian,” tersedia di http://www.dayakborneo.com/. Diakses pada 17 Juni 2009).

“Kehidupan Suku Dayak Kenyah (Kalimantan Timur), “ tersedia di http://74.125.153.132/. Diakses pada 13 Juni 2009.

“Pohon dan Buah Ara di Antara Bising Berita FPI," tersedia di http://74.125.153.132/. Diakses pada 18 Juni 2009.

“Sejarah Asal Usul Dayak Kenyah,” tersedia di http://74.125.153.132/. Diakses pada 13 Juni 2009.

“Suku Kenyah,” tersedia di http://74.125.153.132/. Diakses pada 13 Juni 2009.

Yohanes Supriyadi, “Filsafat Dayak”, tersedia di http://yohanessupriyadi.blogspot.com/. Diakses pada 5 Juni 2009. 

Sumber Foto

Dibaca : 34.273 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password