Rabu, 18 Oktober 2017   |   Khamis, 27 Muharam 1439 H
Pengunjung Online : 1.293
Hari ini : 7.930
Kemarin : 29.848
Minggu kemarin : 157.490
Bulan kemarin : 7.753.475
Anda pengunjung ke 103.483.158
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

O Bia Moloku dan O Bia Mokara

a:3:{s:3:

O Bia Moloku dan O Bia Mokara adalah dua orang kakak-beradik yang menjadi yatim-piatu tersebab tidak mau mendengar nasehat ibunya. Suatu hari, mereka dinasehati oleh ibu mereka agar tidak memakan telur ikan pepayana yang ada di dalam lemari makan. Karena mereka tidak menghiraukan nasehat itu, akibatnya kedua orang tuanya pun meninggal dunia. Mengapa sang Ibu melarang O Bia Moloku dan O Bia memakan telur ikan pepayana tersebut, sehingga ia dan suaminya meninggal dunia? Ikuti kisahnya dalam cerita O Bia Moloku dan O Bia Mokara berikut ini!

* * *

Alkisah, di sebelah utara Kepulauan Maluku, Indonesia, terdapat sebuah kampung yang bernama Tobelo. Di kampung tersebut hidup seorang nelayan yang bernama Beto. Ia tinggal bersama istri dan dua orang anaknya di sebuah rumah kecil yang beratapkan daun rumbia. Anak sulungnya seorang gadis cantik bernama O Bia Moloku, sedangkan yang bungsu seorang anak laki-laki yang baru berumur dua tahun bernama O Bia Mokara.

Untuk menghidupi keluarganya, Beto mencari ikan di laut dengan menggunakan jala dan perahu kecil. Siang dan malam ia bertempur melawan keganasan gelombang laut dan cuaca buruk yang seringkali mengancam keselamatannya. Meski demikian, ia tidak pernah gentar menghadapi ancaman tersebut, karena ia memiliki kebiasaan yang dipercaya dapat menjaga keselamatannya, yaitu kebiasaan menyimpan telur ikan pepayana di rumahnya sebelum berangkat melaut.

Pada suatu hari, cuaca di laut sangat buruk. Angin bertiup kencang dan gelombang laut sangat ganas. Usai sarapan bersama istri dan kedua anaknya, Beto bersiap-siap untuk pergi melaut. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada istrinya agar menyimpan telur ikan pepayana dengan baik.

“Istriku! Cuaca di laut hari ini sangat tidak bersahabat. Tolong telur ikan pepayana itu disimpan dengan baik!” pesan Beto.

“Baik, Bang! Jaga diri Abang baik-baik! Doa Adik selalu menyertai Abang,” ucap istri Beto dengan hati yang tulus.

Setelah Beto menghilang dari pandangannya, sang Istri pun segera membungkus telur ikan pepayana itu dengan rapi, lalu menyimpannya di dalam lemari kayu yang sudah mulai lapuk. Setelah itu, ia bersiap-siap pergi ke kebun untuk mengambil sayur-sayuran. Sebelum meninggalkan rumah, ia menasehati kedua anaknya agar tidak memakan telur ikan pepayana itu.

“Moloku..., Mokara..., Anakku! Ibu mau pergi ke kebun. Kalian jangan memakan telur ikan pepayana yang Ibu simpan di dalam lemari makan! Jika kamu memakannya, ayah kalian akan terancam bahaya di tengah laut.”

Moloku dan Mokara tidak begitu menghiraukan nasehat itu. Hingga ibunya berlalu berangkat ke kebun, mereka tetap saja asyik bermain di halaman rumah dengan canda dan tawa. Menjelang siang hari, O Bia Mokara tiba-tiba merasa lapar sekali.

“Kak, aku lapar,” rengek O Bia Mokara sambil mengelus-elus perutnya.

Mendengar rengekan adiknya, O Bia Moloku pun segera ke dapur untuk mengambilkannya makanan. Ketika membuka lemari makan, ia hanya mendapati sepiring nasi, sepotong kepala ikan, dan sebungkus telur ikan pepayana. Karena teringat dengan nasehat ibunya, O Bia Moloku hanya memberikan lauk kepala ikan itu kepada adiknya. Namun, Mokara masih saja merengek.

“Kak, aku tidak mau kepala ikan. Aku mau makan telur ikan pepayana,” O Bia Mokara kembali merengek.

“Jangan, Adikku! Bukankah tadi Ibu berpesan untuk tidak memakan telur ikan pepayana itu,” bujuk O Bia Moloku.

Karena permintaannya tidak dipenuhi, O Bia Mokara menangis tersedu-sedu. O Bia Moloku terus berusaha membujuknya. Namun, O Bia Mokara bukannya diam, tapi justru ia menangis semakin menjadi-jadi sambil berguling-guling di tanah. O Bia Moloku tidak tega melihat adiknya menangis terus-menerus. Akhirnya, ia pun memberikan telur ikan itu kepada adiknya. Sambil tertawa O Bia Mokara melahap telur ikan itu tanpa tersisa sedikit pun. Usai makan, ia kembali bermain dengan perasaan riang dan gembira.

Tak berapa lama kemudian, ibu mereka kembali dari kebun membawa singkong, pepaya dan sayur-sayuran. Usai membersihkan badannya, sang Ibu segera ke dapur. Betapa terkejutnya ia ketika membuka lemari makannya. Telur ikan yang disimpannya sudah tidak ada lagi. Ia hanya mendapati bungkusan telur ikan itu. Dengan wajah memerah, ia segera memanggil anak sulungnya yang sedang bermain di depan rumah.

 “Moloku...! Kemarilah sebentar!” serunya.

Rupanya, O Bia Moloku tidak mendengar panggilan ibunya, karena sedang asyik bermain bersama adiknya. Sang Ibu pun mulai kesal. Ia kembali berteriak dengan suara yang lebih keras lagi. Tak berapa lama kemudian, O Bia Moloku pun datang.

Ada apa, Bu?” tanya O Bia Moloku.

“Mana telur ikan pepaya yang ibu simpan di lemari ini?” tanya ibunya.

O Bia Moloku hanya terdiam dan sambil menunduk. Dia tidak berani menjawab pertanyaan ibunya, karena takut dimarahi.

“Moloku...!?? Apakah kamu tidak mendengar pertanyaan Ibu?” bentak ibunya.

“Iii...i... iya, Bu! Saya mendengarnya,” jawab O Bia Moloku dengan gugup.

“Kenapa kamu tidak menjawabnya?” tanya ibunya dengan nada kesal.

“Be... begini, Bu! Tadi O Bia Mokara menangis merengek-rengek ingin makan telur ikan itu. Saya tidak tega melihatnya menangis terus, jadi saya terpaksa memberikannya,” jawab O Bia Moloku bertambah gugup.

Mendengar jawaban anak sulungnya, perempuan paruh baya itu bagai disambar petir. Sejenak, ia tertegun dan sekujur tubuhnya menjadi gemetar. Ia merasakan ada firasat buruk terhadap suaminya yang sedang mencari ikan di tengah laut. Sejak menikah, ia selalu menjaga pesan suaminya. Sebab, ia percaya bahwa kebiasaan menyimpan telur ikan pepayana tersebut benar-benar terbukti keampuhannya, suaminya tidak pernah mendapat bencana saat pergi melaut. Oleh karena merasa tidak berhasil menyimpan telur ikan itu, ia pun yakin bahwa suaminya pasti mendapat bencana, apalagi cuaca di laut sedang buruk sekali. Walaupun hatinya sangat marah, namun ia tidak tega melampiaskan kemarahannya dengan menghukum kedua anaknya. Ia hanya berpesan kepada anak sulungnya, O Bia Moloku, agar menjaga adiknya.

“Maafkan Ibu, Anakku! Ibu harus pergi. Jaga dan rawatlah adikmu baik-baik!” pesannya kepada O Bia Moluku.

“Ibu mau ke mana? Jangan tinggalkan kami, Bu!” rengek O Bia Moluku.

Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, perempuan paruh baya itu segera berlari menuju ke pantai. Hatinya sangat sedih, karena kedua anaknya tidak mau lagi menuruti nasehatnya. O Bia Moloku pun sangat menyesali perbuatannya dan berusaha untuk mencegah ibunya agar tidak pergi meninggalkan mereka.

“Maafkan kami, Bu! Ibu... jangan pergi!” teriak O Bia Moloku sambil menangis.

Berkali-kali O Bia Moloku berteriak, namun ibunya tetap tidak menghiraukannya. O Bia Moloku segera menggendong O Bia Mokara, lalu mengejar ibunya. O Bia Mokara pun terus menangis di dalam gendongannya. Setibanya di pantai, mereka mendapati ibu mereka telah berada di tengah laut.

“Ibu... Ibu... kembalilah! O Bia Mokara menangis ingin menyusu!” teriak O Bia Moloku.

“Peraslah daun katang-katang, ada air susunya!” seru perempuan paruh baya itu.

O Bia Moloku pun segera mencari daun katang-katang yang banyak terdapat di sekitar pantai. Setelah tiga kali O Bia Moloku memberikan air susu dari daun katang-katang kepada adiknya, ibu mereka pun berenang menuju ke tengah laut. Betapa terkejutnya ia, tiba-tiba sebuah batu karang muncul dari dasar laut dan menghadangnya. Ia pun naik di atas batu itu dan berseru, “Terbukalah agar aku dapat masuk!”

Begitu batu karang tersebut terbuka, perempuan paruh baya itu pun segera masuk ke dalamnya, dan kembali berseru, “Tertutuplah!” Seketika itu pula, batu karang itu tertutup untuk selama-lamanya tanpa meninggalkan bekas. Sejak itu, perempuan paruh baya itu tidak pernah keluar dari batu itu. O Bia Moloku dan O Bia Monaka pun menjadi yatim piatu. Ibu mereka tertelan batu tersebut, sedangkan ayah mereka meninggal dunia karena tertimpa musibah saat sedang melaut.

* * *

Demikian kisah O Bia Moloku dan O Bia Mokara dari daerah Maluku, Indonesia. Cerita di termasuk kategori mitos yang hingga kini masih dipercayai oleh masyarakat setempat. Cerita di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa orang yang tidak mau mendengar nasehat atau petuah orang tua akan ditimpa musibah. Hal ini tercermin pada perilaku O Bia Moloku dan O Bia Mokara yang tidak mau mendengar nasehat ibunya untuk tidak memakan telur ikan pepayana yang disimpan dalam lemari. Akibatnya, mereka pun menjadi yatim piatu. Ibu mereka meninggal karena tertelan batu karang, sedangkan sang Ayah tewas akibat diterpa badai di tengah laut.

Dalam kehidupan orang Melayu, sifat tidak mau mendengar nasehat orang lain, khususnya nasehat orang tua, merupakan sifat tercela dan sangat dipantangkan, karena sifat ini dapat mendatangkan malapetaka baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

kalau tak mau mendengar nasehat,
alamat celaka dunia akhirat
 
kalau tak mendengar petuah orang,
martabat habis, marwah pun hilang

(Samsuni/sas/155/07-09)

 

Sumber:

  • Isi cerita diadaptasi dari http://www.bali-directory.com/, diakses pada tanggal 17 Juli 2009.
  • Tenas Effendy. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Proyek Pengembangan Seni Budaya Riau Bappeda Tingkat I Riau.

Sumber foto: Buku 366 Cerita Rakyat Nusantara, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa bekerja sama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, 2008.

Dibaca : 9.488 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password