Kamis, 27 April 2017   |   Jum'ah, 30 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 3.022
Hari ini : 9.566
Kemarin : 60.590
Minggu kemarin : 401.091
Bulan kemarin : 5.093.107
Anda pengunjung ke 102.221.385
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Nyobeng
Upacara Tolak Bala dan Perdamaian


Ketua adat sedang memandikan tengkorak

A. Asal-usul

Bagi masyarakat adat Dayak, bencana dan ketidakharmonisan disebabkan oleh dua hal, yaitu gangguan secara fisik dan non fisik. Gangguan non fisik biasanya dilakukan oleh mahluk-mahluk halus yang menguasai tempat-tempat keramat, sedangkan gangguan yang bersifat fisik biasanya dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat adat lainnya, khususnya dalam kegiatan mengayau (perburuan kepala).[1] Untuk menanggulangi dan terhindar dari akibat buruk kedua jenis gangguan tersebut, masyarakat Dayak mengadakan Upacara Nyobeng, yaitu ritual memandikan tengkorak musuh yang didapat pada saat mengayau. (Maunati, 2004: 10-11, http://www.p2kp.org, http://bajenx.blogspot.com, http://muhlissuhaeri.blogspot.com, http://ace-informasibudaya.blogspot.com)  

Pelaksanaan Upacara Nyobeng atau ritual memandikan tengkorak musuh merupakan upaya untuk menjaga agar kekuatan supranatural yang terdapat dalam tengkorak orang yang sudah meninggal terus melindungi mereka. Masyarakat Dayak meyakini bahwa tengkorak manusia merupakan pusat kekuatan supranatural. Kekuatan suprantural ini jika diperlakukan dengan tepat dapat melindungi masyarakat dari segala macam bencana, dapat digunakan sebagai media untuk mendatangkan hujan, meningkatkan hasil panen, dan lain sebagainya (Maunati, 2004: 9-10). Menurut Miller, sebagaimana dikutip Maunati, orang-orang Dayak meyakini bahwa tengkorak manusia mempunyai kekuatan suprantural untuk melindungi dan memberikan kebaikan (Maunati, 2004:10).

“Bagi orang-orang Dayak, tengkorak kepala manusia yang sudah dikeringkan adalah sihir paling kuat di dunia. Sebuah kepala yang baru dipenggal, cukup kuat untuk menyelamatkan seantero dari wabah penyakit. Sebuah kepala yang sudah dibubuhi ramu-ramuan, bila dimanipulasi dengan tepat, cukup kuat untuk menghadirkan hujan, meningkatkan hasil panen padi, mengusir roh-roh jahat, dan membagikan pengetahuan dari orang-orang pintar suku itu. …… Tentu Saja, semakin banyak tengkorak kering yang ada, semakin besar kekuatan yang dihasilkan oleh gabungan dari kekuatan-kekuatannya. Suku yang tak memiliki kepala, atau ulu, atas namanya tidak akan mampu melawan mandau-mandau dan panah-panah beracun milik suku tetangga mereka yang lebih lengkap peralatannya.”  

Didasari atas keyakinan bahwa tengkorak manusia mempunyai kekuatan supranatural yang maha dahsyat, maka orang-orang Dayak menyelenggarakan ritus-ritus untuk menjamin agar kekuatan tersebut terus memberikan kebaikan kepada mereka. Lebih dari itu, ritual yang dilakukan terhadap tengkorak-tengkorak musuh juga merupakan upaya untuk menjadikan musuh tidak saja sebagai pelindung, tetapi juga sahabat dan pemberi rezeki. McKinley, sebagaimana dikutip oleh Maunati (2004:10), mengatakan:

 “……. langkah-langkah ritual yang dilakukan terhadap kepala-kepala itu merupakan cara komunitas yang bersangkutan mengatakan kepada dirinya sendiri: orang-orang yang dulu menjadi musuh kita, dengan ini menjadi pelindung, sahabat, dan pemberi rezeki bagi kita.”

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa Upacara Nyobeng merupakan upaya orang-orang Dayak untuk untuk menjamin keberlangsungan eksistensi mereka (hidup secara damai dan terhindar dari segala macam bencana) dengan meminta perlindungan kepada kekuatan supranatural yang berada dalam tengkorak manusia.

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Upacara Nyobeng dilaksananakan setiap tahun sekali, biasanya pada bulan Juni, dan diadakan di Rumah Balug.  Rumah Balug berbentuk panggung dan biasanya dibangun di tengah kampung. Di rumah adat ini, berbagai benda pusaka yang dikeramatkan oleh masyarakat biasanya disimpan, seperti tengkorak untuk Upacara Nyobeng. Tengkorak ini biasanya dimasukkan ke dalam kotak dan diletakkan di bubungan rumah adat.


Rumah Adat Balug. Di tempat ini, Upacara Nyobeng
diadakan sekali dalam setahun 

C. Peralatan dan Bahan-bahan

Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk melaksanakan upacara ini, di antaranya adalah:

  • Senapan lantak, simlog, dan mercon. Bunyi dari alat-alat tersebut digunakan untuk ucapan selamat datang kepada para tamu, memanggil ruh leluhur, dan meminta izin bagi pelaksanaan upacara adat.
  • Air. Digunakan untuk ritual mandi.
  • Daun anjuang. Digunakan untuk memercikkan air yang telah dibacai mantra kepada para peserta Upacara Nyobeng. Daun ini digunakan karena orang-orang Dayak percaya bahwa daun ini mempunyai kekutan magis
  • Bambu hutan. Bambu yang digunakan adalah bambu hutan yang telah mempunyai diameter sekitar 10 cm.
  • Mandau. Alat ini merupakan senjata khas masyarakat Dayak. Dalam upacara ini, benda ini digunakan untuk memotong bambu hutan, anak anjing, ayam, dan babi.
  • Rumah-rumahan, dan patung perempun dan laki-laki. Paralatan ini sebagai simbol nenek moyang.
  • Seperangkat sesajian. Sesajian biasanya diletakkan diperbatasan desa, dan tempat-tempat yang dianggap keramat.
  • Anak anjing, ayam dan telur ayam.
  • Beras putih dan beras kuning.
  • Tuak dari pohon niru yang dicampur kulit pohon pakak. Kulit pohon ini memberi warna kemerahan dan rasa manis pada tuak.
  • Tengkorak. Tengkorak merupakan salah satu benda yang harus ada dalam upacara Nyobeng.

D. Prosesi upacara

Nyobeng merupakan upacara yang kegiatan utamanya adalah memandikan tengkorak yang tersimpan dalam rumah adat. Sebagaimana halnya dengan upacara-upacara adat lainnya, Upacara Nyobeng harus dilaksanakan dengan tata aturan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ketidaksesuaian dengan aturan yang telah berlaku secara turun-temurun dapat menyebabkan tujuan pelaksanaan upacara tidak tercapai.

Prosesi Upacara Nyobeng secara garis besar ada dua tahap, yaitu persiapan dan pelaksanaan upacara. Pada tahap persiapan, hal-hal yang dilakukan di antaranya adalah menentukan waktu pelaksanaan, mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan, mengundang sanak saudara dan pihak-pihak yang dianggap perlu diundang, serta mengumpulkan dana untuk menopang kelancaran upacara.

Setelah semua persiapan dilakukan, maka pada hari yang telah ditentukan upacara dilaksanakan. Rangkaian pelaksanaan upacara dilangsungkan sejak pagi hingga malam hari. Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:

  • Rangkaian Upacara Nyobeng diawali dengan penyambutan para tamu di batas desa. Pada awalnya, ritual ini dilakukan untuk menyambut anggota kelompok yang datang dari mengayau (berburu kepala). Para penyambut biasanya mengenakan selempang kain merah dengan hiasan manik-manik dari gigi binatang. Sebagian dari para penyambut tamu biasanya membawa senapan lantak dan sumpit.
  • Ketika para tamu undangan hendak memasuki batas desa, orang-orang yang menyambut mengacungkan sumpit dan membunyikan senapan lantak yang dibawanya. Selain isyarat penyambutan, bunyi senapan lantak juga berfungsi sebagai pemanggil ruh leluhur dan permintaan izin bagi pelaksanaan Upacara Nyobeng.


Senapan dibunyikan untuk menyambut rambongan tamu
yang hendak mengikuti Upacara Nyobeng 

  • Kemudian para tetua adat menyambut tamu. Penyambutan tamu oleh para tetua adat ditandai dengan melemparkan anak anjing ke udara.
  • Ketua rombongan tamu kemudian menebas anak anjing yang dilemparkan oleh tetua adat. Jika tebasan tidak kena (tidak mati), anak anjing tersebut harus dipotong dengan mandau sesampainya di tanah.
  • Setelah anak anjing, tetua juga melemparkan ayam ke rombongan tamu. Ketua rombongan juga harus menebas ayam yang dilempar. Jika tidak kena, maka ayam tersebut juga harus dipotong sebagaimana yang dilakukan pada anak anjing sebelumnya.
  • Setelah anak anjing dan ayam, tetua adat melempar telur ayam kepada rombongan tamu. Menurut kepercayaan masyarakat, jika telur yang dilemparkan tidak pecah,  maka tamu yang datang tidak tulus/kurang ikhlas. Kalau pecah, berarti tamu datang dengan ikhlas.
  • Dilanjutkan pelemparan beras putih dan kuning ke rombongan tamu. Pelemparan beras tersebut dilakukan sambil membaca mantra.
  • Selanjutnya para gadis menyuguhkan minuman tuak dari pohon niru yang dicampur kulit pohon pakak yang telah dikeringkan kepada rombongan tamu. Kulit pohon pakak digunakan agar tuak berwarna kemerahan dan berasa manis.
  • Setelah meminum tuak, rombongan tamu dipersilahkan memasuki perkampungan dan diantar menuju Rumah Balug yang berada di tengah perkampungan. Rumah Balug merupakan rumah adat yang berupa rumah panggung dan berbentuk bulat. Lebarnya sekira 10 meter dengan tinggi 15 meter dari tanah. Untuk memasuki rumah ini, dibuatkan undakan yang terbuat dari bilah pohon.
  • Memasuki tempat upacara, rombongan diperciki air yang telah diberi mantra dengan daun anjuang. Tujuannya agar para tamu terhindar dari bencana. Menurut keyakinan orang-orang Dayak, air bermantra yang dipercikkan menggunakan daun anjuang berfungsi sebagai tolak bala.
  • Selain itu, ketika memasuki area upacara para tamu harus menginjak buah kundur yang diletakkan dalam baskom. Ritual ini disebut pepasan.
  • Kemudian para tamu beserta para warga menari bersama sambil mengitari rumah adat. Tarian itu bernama mamiamis, yaitu tarian untuk menyambut dan menghormati para pembela tanah leluhur yang baru datang dari mengayau.


Kaum laki-laki dan perempuan dengan berpakaian
adat menarikan tarian mamiamis

  • Tetua adat mengiringi tarian mamiamis dengan menyanyikan lagu dan membaca matra.
  • Lalu, para tetua adat naik Rumah Balug.
  • Kemudian simlog dipukul dan mercon dinyalakan. Bunyi dua benda itu bertujuan untuk memanggil arwah leluhur dan juga penanda Upacara Nyobeng telah dimulai.
  • Dilanjutkan dengan makan bersama di sekitar Rumah Balug. Makanan yang disajikan berupa nasi dengan lauk ikan babi. Bagi yang beragama Islam, disediakan makanan khusus yang tidak mengandung babi.
  • Setelah makan bersama, para tamu dipersilahkan meninggalkan area rumah adat dan menuju rumah penduduk untuk beristirahat. Setiap rumah dapat digunakan untuk  mandi dan beristirahat. Biasanya, di setiap rumah penduduk telah tersedia berbagai suguhan untuk para tamu yang datang ke rumah mereka, seperti panganan kecil di ruang tamunya. Setiap keluarga juga biasanya menyembelih ayam untuk disuguhkan kepada para tamu yang beragama Islam.     
  • Pada saat para tamu beristirahat, sebagian laki-laki di daerah tersebut pergi menyusuri hutan yang ada di sekitar perkampungan untuk mencari bambu hutan yang berdiameter sekitar 10 cm.
  • Ketika sebagian laki-laki sibuk mencari bambu hutan, setiap rumah membuat sesajian. Sesajian tersebut harus dioles dengan darah dari sayap ayam. Selain digunakan untuk mengolesi sesajian, darah ayam juga dipercikkan ke bagian-bagian rumah dan pekarangan yang dianggap sakral. Setelah membuat dan meletakkan sesajian di tempat-tempat sakral, para keluarga dan para tamu menuju rumah adat.
  • Setelah para lelaki yang menyusuri hutan menemukan bambu hutan yang dicarinya, mereka kemudian menggotong bambu hutan tersebut beramai-ramai menuju ke rumah adat. Beberapa lelaki dengan memegang mandau mengitari bambu dan mulai berbaris. Mandau yang dibawa bukan sembarang mandau, tetapi mandau yang menjadi pusaka keluarga. Kehebatan mandau dapat dilihat pada hiasan yang terdapat pada gagang mandau yang biasanya dibuat dari tulang atau kayu. Hiasan melambangkan makna dan prestasi tertentu dari si pemegang mandau dalam mengayau.


Kaum lelaki bersiap untuk memotong bambu

  • Setelah siap, ketua adat memberikan isyarat untuk memulai kegiatan. Salah seorang maju ke depan dan meloloskan mandau dari sarungnya. Dia memegang gagang mandau dengan kedua tangannya dan menebas batang bambu sekuat tenaga sehingga batang bambu dapat terpotong dalam sekali tebas. Menurut kepercayaan masyarakat, keberhasilan memotong bambu dalam sekali tebasan merupakan pertanda baik.
  • Setelah acara potong bambu selesai (biasanya ketika hari telah beranjak sore), ketua adat melakukan pemanggilan ruh. Pemanggilan ruh bertujuan untuk menghadirkan dan memohon ijin kepada ruh para leluhur yang telah melindungi mereka bahwa upacara Nyobeng akan segera dimulai.
  • Ketua adat kemudian menaiki rumah panggung dan membuat 7 macam sesajian yang nantinya diletakkan di batas desa.


Ketua adat melakukan ritual pemanggilan ruh nenek moyang.

  • Setelah itu, ketua adat mengambil kotak yang berada di bubungan rumah adat. Di dalam kotak tersebut tersimpan tengkorak manusia dan kalung dari taring babi hutan.
  • Ketua adat melumuri tangannya dengan ramuan khusus dan mengoleskannya pada tengkorak yang tersimpan dalam kotak.
  • Kemudian ketua adat memotong seekor ayam hinga kepalanya putus. Kepala ayam dan tetesan darah dari ayam tersebut dioleskan pada tengkorak.
  • Setelah diolesi ramuan dan darah ayam, tengkorak dimasukkan lagi pada kotak dan disimpan.
  • Acara dilanjutkan dengan memotong anjing. Darah yang keluar dari tubuh anjing tersebut diusapkan pada tiang penyangga rumah adat, rumah-rumahan kecil, dan patung laki-laki dan perempuan yang berada di samping rumah adat dan patung. Rumah-rumahan dan patung-patung tersebut dianggap sebagai asal-usul nenek moyang mereka. Pemotongan anjing dimaksudkan untuk menolak ruh jahat.
  • Sebagian daging anjing yang baru dipotong kemudian dibawa ke atas rumah adat.
  • Acara selanjutnya adalah mandi-mandi. Air yang digunakan untuk mandi-mandi adalah air yang telah dibacai mantra. Air tersebut dimasukkan dalam tempayan besar. Dengan sebuah gayung, tetua adat mengambil air dan mengalirkan air itu lewat daun anjuang. Ritual yang dilakukan untuk membersihkan jiwa dan raga ini diikuti oleh segenap masyarakat, laki-laki, perempuan, tua dan muda.


Ketua adat mengalirkan air suci dengan menggunakan daun anjuang

  • Dilanjutkan dengan pemotong babi. Hati babi yang dipotong diambil dan dibakar untuk dipersembahkan kepada arwah para leluhur.

E. Doa-doa atau Mantra

Mantra yang digunakan dalam upacara ini adalah mantra untuk tolak bala dan mantra memanggil leluhur.  

F. Pantangan dan Larangan

Sebagaimana upacara-upacara adat pada umumnya, ada hal-hal tertentu yang harus dihindari oleh orang-orang yang mengikuti Upacara Nyobeng, di antaranya adalah:   

Menurut keyakinan masyarakat Dayak, jika salah satu pantangan tersebut di atas dilanggar, maka orang yang melakukan pelanggaran akan tertimpa malapetaka. Selain itu, selama berlangsungnya ritual, setiap orang dilarang untuk membuat hal-hal yang dapat membatalkan upacara, seperti berbuat gaduh, berkelahi, dan lain sebagainya. bagi orang yang melakukan suatu tindakan yang menyebabkan berhenti atau terganggunya pelaksanaan ritual, maka orang yang bersangkutan harus menganti semua biaya yang telah dikeluarkan untuk keperluan ritual tersebut (http://muhlissuhaeri.blogspot.com).

G. Nilai-nilai

Pelaksanaan Upacara Nyobeng tidak sekedar ritual memandikan tengkorak merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Dayak Bidayuh. Melalui rangkaian upacara yang dilakukan, kita dapat mengetahui nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara tersebut di antaranya adalah: nilai keyakinan, penghormatan terhadap leluhur, menghargai perbedaan, solidaritas sosial, dan ketaatan pada aturan bersama (adat).

Pertama, nilai keyakinan. Pelaksanaan Upacara Nyobeng merupakan manifestasi dari keyakinan masyarakat terhadap hal-hal yang bersifat gaib. Menurut keyakinan masyarakat, mereka akan terhindar dari segala macam bencana jika mereka merawat kekuatan gaib yang melindungi daerah mereka, salah satunya dengan melakukan ritual memandikan tengkorak musuh yang didapat ketika mengayau. Tengkorak-tengkorak tersebut diyakini mempunyai kemampuan untuk melindungi mereka dari segala macam bencana. Selain ritual memandikan tengkorak, manifestasi keyakinan masyarakat juga dapat dilihat dari pembuatan sesajian dan meletakkannya di tempat-tempat yang dianggap keramat, pemotongan dan pengolesan darah binatang, seperti ayam, anjing, dan babi, pada benda-benda tertentu. Dengan melihat ritual tersebut, maka kita tidak saja dapat mengetahui bagaimana keyakinan sebuah komunitas masyarakat, tetapi juga bagaimana keyakinan tersebut mewarnai kehidupan mereka.    

Kedua, penghormatan kepada leluhur. Penghormatan terhadap leluhur dapat dilihat pada penggunaan mantra, bunyi-bunyian, dan tarian mamiamis dalam Ritual Nyobeng. pembacaan mantra, bunyi-bunyian, dan tarian mamiamis merupakan ekspresi penghormatan terhadap leluhur. Para leluhur telah berjasa dalam menjaga eksistensi mereka dari ancaman musuh yang selalu mengancam.

Ketiga, menghargai perbedaan. Kesediaan orang-orang yang berlainan agama untuk ikut merayakan (menghadiri, terlibat dalam ritual, dan menikmati suguhan) Upacara Nyobeng pada satu sisi, dan keterbukaan serta kerelaan masyarakat yang melaksanakan upacara untuk menerima dan menjamu para tamunya dengan suguhan yang diperbolehkan oleh keyakinan sang tamu merupakan potret nyata penghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan.

Keempat, membangun solidaritas sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa ritual ini merupakan salah satu cara masyarakat untuk mengembalikan solidaritas sosialnya yang mungkin saja semakin mengendor seiring perubahan zaman. Upaya membangun kembali solidaritas sosial tersebut dapat dilihat dari berkumpulnya anggota keluarga yang pada hari-hari biasa tidak hidup dalam lingkungan mereka. Selain itu, upaya menumbuhkan kembali spirit solidaritas sosial juga dapat dilihat pada pelaksanaan tarian mamiamis dan makan bersama.

H. Penutup

Upacara Nyobeng merupakan manifestasi dari nilai-nilai luhur yang diyakini dan  berkembang dalam masyarakat lokal dalam menjaga kedamaian dan melindungi mereka dari segala macam bencana. Secara lahiriah, upacara ini memang cenderung kelihatan sadis (menebas anak anjing dan ayam) dan berpuncak pada ritual memandikan tengkorak manusia, pada hakekatnya semua hal itu merupakan cara masyarakat adat untuk membangun harmoni, melindungi diri, dan membangun solidaritas sosial. Melihat pentingnya fungsi tersebut, maka sudah seharusnya jika keberadaan ritual tersebut dilestarikan dan dikembangkan.

Hanya saja, pengunaan tengkorak manusia yang didapat dari mengayau sebagai media utama Upacara Nyobeng perlu dipikirkan ulang. Sedikitnya ada dua hal yang menjadi alasannya. Pertama, aktivitas mengayau telah menyebabkan orang-orang Dayak mendapatkan label orang-orang liar dan buas. Jika aktivitas mengayau terus dilakukan, bukan mustahil orang-orang Dayak akan terus dianggap sebagai orang-orang liar dan buas. Agar label negatif tersebut hilang, tentu saja, orang-orang Dayak harus menghentikan aktivitas mengayau. Kedua, zaman telah berubah, sehingga tradisi mengayau tidak lagi dianggap sebagai representasi kewiraan lelaki Dayak, tetapi sebuah tindakan kriminal di mata hukum.

Dengan melihat tujuan Upacara Nyobeng sebagai salah satu cara masyarakat agar terhindar dari malapetaka dan terciptanya harmoni sosial (perdamaian), maka upacara ini perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan. Namun penggunaan tengkorak manusia sebagai medianya perlu ditinjau ulang. Para stakeholder perlu bekerjasama untuk menciptakan simbol baru penganti tengkorak manusia. Cara ini tidak saja dapat melestarikan khazanah budaya lokal tentang ritual tolak-bala, tetapi juga dapat menghapus citra negatif (liar dan buas) yang terlanjur dilekatkan pada orang-orang Dayak.  

(Ahmad Salehudin/bdy/46/07-2009)        

Kredit Foto:

Daftar Bacaan



[1] Mengayau atau tradisi perburuan kepala yang dilakukan masyarakat Dayak telah memunculkan citra kurang baik bagi masyarakat. Tradisi mengayau ini telah menjadikan masyarakat Dayak memiliki citra sebagai masyarakat primitif yang liar dan barbar. Namun sifat liar dan barbar yang ditunjukkan masyarakat Dayak melalui tradisi mengayau tidak semata-mata demonstrasi kekerasan, tetapi juga merupakan cara mereka menunjukkan dan menjaga eksistensinya. Miller misalnya, sebagaimana dikutip oleh Maunati (2004: 9-10) mengungkapan bahwa perburuan kepala dapat dijelaskan sebagai upaya untuk menghimpun kekuatan supranatural, yang oleh orang Dayak diyakini berada dikepala, manusia untuk melindungi diri dan kelompoknya.  

Dibaca : 11.355 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password