Kamis, 25 Mei 2017   |   Jum'ah, 28 Sya'ban 1438 H
Pengunjung Online : 7.722
Hari ini : 45.739
Kemarin : 92.738
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.459.814
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Siput Gonggong


Saat mendengar kata gonggong pasti yang ada di benak Anda adalah suara anjing. Tentu saja Anda tidak salah, karena anjing memang identik dengan gonggongannya. Namun di Pulau Bangka, Bintan, dan Batam, selain merujuk pada suara anjing, kata gonggong juga digunakan untuk menamai siput laut. Masyarakat menyebutnya gonggong atau siput gonggong. Siput gonggong merupakan jenis seafood yang rendah lemak dan kaya akan protein.

Penduduk lokal menjadikan siput gonggong sebagai sumber pangan alternatif. Mereka mengolah gonggong dengan cara yang sederhana namun rasanya dijamin lezat. Saat ini siput gonggong tidak hanya dikonsumsi oleh penduduk lokal saja, melainkan digemari oleh para wisatawan yang berkunjung ke Bangka, Bintan, dan Batam. Siput gonggong menjadi salah satu menu andalan yang ada di sebagian besar restoran seafood di daerah-daerah tersebut.

Bahan:

  • 1 kg Siput Gonggong
  • Air secukupnya

Bumbu:

  • 5 siung bawang putih di geprek
  • 3 siung bawang merah diiris
  • Jahe
  • Lengkuas
  • 2 lbr daun salam
  • Garam secukupnya
  • Gula pasir secukupnya

Bumbu Sambal:

  • Kecap manis secukupnya
  • Cabai rawit
  • Bawang merah
  • Jeruk nipis

Cara Pembuatan:

  1. Cuci siput gonggong hingga bersih.
  2. Masukkan ke panci yang telah diisi dengan air hingga terendam.
  3. Tambahkan semua bumbu dan rebus sekitar 30 menit.
  4. Angkat gonggong dan tiriskan.
  5. Bawang merah dan cabai rawit diiris kecil-kecil, masukkan dalam mangkuk.
  6. Tambahkan kecap dan kucuran jeruk nipis.
  7. Sajikan siput gonggong bersama sepiring nasi putih hangat dan sambal kecap.

Tips:

Untuk melepaskan gonggong dari cangkangnya Anda dapat menggunakan tusuk gigi. Tarik gonggong mengikuti bentuk cangkangnya jangan sampai terputus. Sebab jika dagingnya putus akan sulit untuk ditarik atau dikorek-korek lagi.

Elisabeth Murni (kul/8/10-09)

Dioleh dari berbagai sumber

Foto diambil dari: http://anied.tehobenk.com/

Dibaca : 17.976 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password