Rabu, 1 Oktober 2014   |   Khamis, 6 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.847
Hari ini : 12.840
Kemarin : 22.967
Minggu kemarin : 241.277
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.178.686
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Kematian Masyarakat Aceh


Mayat diusung menuju ke pemakaman

A. Asal-usul

Bagi masyarakat Aceh kematian bukan akhir dari perjalanan manusia yang ditandai oleh berhentinya detak jantung dan berhentinya fungsi-fungsi biologis organ tubuhnya, tetapi sebuah terminal dari perjalanan panjang manusia untuk memasuki dunia baru, yang keberadaannya berdasarkan keimanan. Oleh karena itu, kematian bagi masyarakat Aceh  merupakan salah satu siklus kehidupan manusia, baik sebagai mahluk sosial yang memiliki relasi hidup bersama manusia lainnya, maupun mahluk religius yang membangun relasi vertikal dengan Tuhannya.

Oleh karena itu, ketika ada anggota masyarakat yang akan dan kemudian meninggal dunia, anggota masyarakat lainnya akan segera melakukan tindakan-tindakan sebagai bentuk ekspresi kehilangan dan penghormatan kepada si mayat, serta solidaritas kepada keluarga yang ditinggalkan. Ekspresi ini dapat dilihat dari persiapan-persiapan yang dilakukan oleh anggota keluarga dan masyarakat yang berada di sekitar orang yang meninggal dunia.

Pada saat ada anggota masyarakat yang dicurigai akan segera meninggal dunia, keluarga dan dan masyarakat di mana orang itu tinggal segera melakukan persiapan-persiapan yang relatif rumit jika pada akhirnya orang tersebut meninggal dunia. Jika kemudian orang tersebut meninggal dunia, maka kabar kematiannya akan segera disebarluaskan kepada kerabat, saudara, dan masyarakat. Orang-orang yang mendengar kabar kematian ini akan segera menghentikan aktivitas yang dijalankan, dan bergegas menuju tempat orang yang meninggal tersebut untuk melepas kepergiannya menuju kehidupan selanjutnya.

“Suatu kebiasaan pada masyarakat Aceh ……. jika ada orang yang sedang mengalami saket nadak (sakit parah), maka semua kerabat diberitahukan supaya dapat menjenguknya sebelum meninggal. Kalau hal ini tidak diberitahukan, maka akan terjadi retak di dalam keluarga. Karena seakan-akan oleh keluarga yang mengalami musibah itu, tidak menghiraukan kerabatnya….

Apabila orang yang sakit itu sudah nyata meninggal, maka salah seorang dari keluarganya datang memberi tahukan yang pertama-tama kepada teungku melasah (imam langgar), kemudian baru diberi tahukan kepada semua kerabat baik yang dekat maupun yang jauh dari tempatnya. Pemberitahuan kepada masyarakat gampong dilakukan oleh teungku melasah dengan membunyikan tambur sesuai dengan irama dan jumlah pukulan yang menurut kebiasaan…….. Kalau masyarakat gampong mendengar bunyi tambur yang demikian, mereka berbondong-bondong datang ke rumah di mana orang yang saket nadak tadi.” (Ahmad, dkk., 1984: 42-43)

Menurut orang-orang Aceh, perjalanan yang akan dilakukan pasca kematian seseorang adalah perjalanan untuk menghadap Tuhannya. Untuk menghadap Tuhannya, bekal yang utama yang harus dibawa adalah bekal iman. Oleh karena itu, orang Aceh yang diperkirakan akan segera meninggal dunia senantiasa diingatkan agar selalu mengingat Tuhannya, salah satunya adalah dengan selalu membisikkan bacaan syahadat di telinga orang yang hendak meninggal dunia.

Apabila orang yang sakit parah itu sedang menghadapi maut ahli famili yang duduk di sekelilingnya geu peu entat (mengantarkan) dengan ucapan Laillahhaillallah, muhammadarrasullullah, ……. dan seterusnya. Kadang-kadang ucapan ini dibisik di telinga orang yang sedang menghadapi maut itu. Suatu keanehan bagaimanapun parahnya orang yang sakit itu, begitu mendengar kalimah syahadah ia langsung mengikutinya, walaupun kadang-kadang hampir tidak kedengaran lagi. Acara geu peu entat ini merupakan suatu keharusan, kalau tidak demikian para keluarga akan dicerca oleh masyarakat dengan sindiran mate kafe (mati kafir). (Ahmad, dkk., 1984: 42)

Selain berbekal iman, badan orang mati yang hendak menghadap Tuhannya tidak saja harus dalam keadaan suci, tetapi berpakaian bersih dan juga menggunakan wewangian. Oleh karena, sebelum dimakamkan, mayat terlebih dahulu disucikan (dimandikan dan diwudhui) dengan cara-cara yang khusus, dishalatkan, dan diberi wewangian. Melalui proses yang cukup rumit inilah, pada akhirnya seorang mayat pantas dan layak menghadap Tuhannya.

Keyakinan masyarakat Aceh bahwa dikuburkannya jasad seseorang bukan merupakan akhir dari kehidupan seseorang, tetapi merupakan pintu untuk melakukan perjalanan dalam proses panjang menghadap Tuhannya, sehingga memerlukan bekal yang banyak, maka keluarga yang ditinggalkan “seolah-olah” mempunyai kewajiban terus menerus mensuplay kebutuhan bekal yang dibutuhkan. Ekspresi dari keyakinan ini dapat dilihat dari beragam ritual yang dilakukan pasca dikuburkannya jasad seseorang, seperti ritual malam pertama sampai ketujuh kematian mayat, malam keempat puluh, keseratus, dan lain sebagainya. Ritual-ritual yang dilakukan tersebut tujuannya hanya satu, yaitu mendoakan orang yang telah meninggal agar ”selamat” dalam perjalanannya.

Agar dalam perjalanan si mayat menghadap Tuhannya mendapatkan kemudahan, maka pihak keluarga dalam pelaksanaan ritual, sejak mayat baru meninggal hingga pasca penguburannya, selalu diusahakan memberikan yang terbaik berdasarkan kemampuan masing-masing keluarga. Sehingga tanpa disadari, terkadang pelaksanaan upacara kematian dan ritual-ritual yang menyertainya menjadi penanda status sosial seseorang di dalam masyarakat. Dalam ritual malam ketujuh misalnya, orang yang kaya dan mempunyai status sosial tinggi akan menyembelih sapi atau lembu sebagai lauk-pauk dari ritual yang dilakukan, tetapi bagi orang-orang dari status sosial biasa cukup menyembelih kambing atau ayam saja.

Kematian bagi masyarakat Aceh, dengan demikian, merupakan ranah tumpang tindih antara wilayah sakral (keyakinan) pada satu sisi, dan sosial pada sisi yang lain. Keduanya tidak dapat dipisahkan sehingga tidak mungkin dipahami dalam wilayah yang terpisah. Dengan melihat keduanya dalam perspektif yang utuh, maka kita akan mengetahui keyakinan masyarakat Aceh yang hidup dalam masyarakat, dan  persoalan sosial yang mempunyai nilai-nilai religius.

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Upacara kematian bagi masyarakat Aceh merupakan rangkaian ritual yang dilaksanakan sejak seseorang meninggal dunia hingga pasca penguburannya. Penguburan mayat biasanya dilakukan sesegera mungkin pada hari kematian orang tersebut. Jarang sekali dilakukan sampai keesokan harinya, kecuali ada alasan-alasan yang cukup kuat, seperti menunggu kedatangan kerabat dekat yang sangat penting. Ritual-ritual yang mengiringi upacara kematian biasanya diadakan setelah salat mangrib. 

Selain kuburan yang menjadi tempat mayat dikuburkan, rumah dan halaman merupakan tempat sentral pelaksanaan upacara kematian masyarakat Aceh. Begitu seseorang meninggal dunia, maka mayatnya segera dibaringkan di dalam salah satu ruangan yang ada di dalam rumah. Rumah mayat juga digunakan sebagai tempat memandikan, mengkafani, dan menyelenggarakan ritual-ritual pasca kematian.

C. Bahan-bahan dan Peralatan

Upacara kematian dapat terlaksanan sebagaimana aturan yang berlaku di dalam masyarakat jika ditopang oleh ketersediaan bahan-bahan dan peralatan upacara. Tanpa bahan-bahan dan peralatan, maka upacara mustahil dapat dilaksanakan sebagaimana seharusnya. Dalam upacara kematian masyarakat Aceh, bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan secara garis besar ada dua macam, yaitu: berkategori harus ada dan berkategori penopang.

1. Bahan-bahan dan peralatan berkategori harus ada

Yang termasuk bahan-bahan dan peralatan berkategori harus ada di antaranya adalah: kain kafan, lubang kubur, keranda Mayat (peti mayat), dan air untuk memandikan jenasah.

2. Bahan-bahan dan peralatan berkategori penunjang

Bahan-bahan dan peralatan berkategori penunjang dapat dilihat berdasarkan tahapan-tahapan dalam upacara kematian, seperti masa mayat di rumah, masa memandikan mayat, masa mensalatkan, masa penguburan, dan pasca penguburan.

Bahan dan peralatan yang dibutuhkan ketika mayat berada di rumah, antara lain:

  • Tempat tidur untuk membaringkan mayat disaat menunggu waktu dimandikan, disalatkan, dan dikuburkan.
  • Kain baru, digunakan sebagai alas dan untuk menghias tempat tidur mayat.
  • Beberapa lembar kain batik. Digunakan untuk menyelimuti mayat.
  • Baskom dan/atau piring berisi beras. Peralatan ini difungsikan sebagai tempat jika ada pengunjung yang hendak menyumbang. Oleh karena itu, peralatan ini biasanya ini diletakkan di ruang tamu.

Bahan dan peralatan yang dibutuhkan ketika mayat dimandikan, antara lain:

  • Bunga-bunga pewangi, antara lain: bunga cempako (cempaka), bunga seulanga (selanga), bunga pandak (sejenis melati), limau paruet (Jeruk purut), kabelu (sejenis rumput), dan daun pandan musang.
  • Tempat memandikan mayat.
  • Kain putih. Digunakan sebagai penahan air yang disiramkan ke tubuh si mayat, sehingga air yang disiramkan tidak langsung mengenai tubuhnya.
  • Aeu limau, yaitu air ramuan dari bunga-bunga beraroma wangi seperti cempaka, selanga, pandak, limau purut, kabelu, dan daun pandan musang.
  • Kain panuri (kain lap mayat). Untuk mengeringkan mayat.

Bahan dan peralatan ketika mayat dikafani dan disalatkan, antara lain:

  • Beberapa lembar kain kafan. Jumlah kain kafan 3, 5 atau 7 lapis sepenuhnya tergantung kepada kemampuan keluarga. Biasanya keluarga kaya akan menggunakan tujuh lapis, sedangkan keluarga miskin cukup menggunakan 3 lapis.
  • Minyak dan bunga-bunga wangi, termasuk kikisan kayu cendana. Wangi-wangian ini digunakan agar mayat yang dibungkus kain kafan berbau harum.
  • Kapas. Digunakan untuk menutupi lubang-lubang yang ada di tubuh mayat.
  • Kain penghias keranda. Oleh karena tujuannya agar keranda kelihatan indah, maka jenis kain yang digunakan antara keluarga kaya dan miskin biasanya berbeda.
  • Tempat untuk mensalatkan mayat.

Bahan dan peralatan ketika mayat dimakamkan, antara lain:

  • Kayu penahan tanah.
  • Batu Merijan. Sebagai penanda makam, terutama bagian kepala dan kaki sebelum kemudian diganti dengan nisan permanen atau diberi tanaman.
  • Pohon tanaman jarak dan tanaman puding. Fungsinya sama dengan batu merijan.
  • Aie babungo (air ramuan bunga).
  • Buku talkin. Bagi sebagian masyarakat Aceh, upacara penguburan diakhiri dengan pembacaan talkin, namun ada juga yang menganggap tidak perlu atau tidak boleh membaca talkin.
  • Ketan kuning.

Bahan dan peralatan ritual pasca pemakaman mayat, antara lain:

  • Makanan dan kue untuk untuk dihidangkan pasca ritual.
  • Sapi, lembu, kambing, dan ayam. Digunakan untuk lauk pauk hidangan ritual.
  • Beras dan perlengkapan memasak.

D. Prosesi Upacara

Refleksi bahwa kematian merupakan peristiwa yang sangat penting bagi masyarakat Aceh dapat dilihat dari rangkaian upacara kematian yang dilaksanakan. Dari rangkaian upacara yang dilakukan sejak seorang meninggal dunia sampai dikebumikan, kita mendapatkan fakta bahwa kematian tidak sekedar berhentinya organ-organ tubuh manusia menjalankan fungsinya, tetapi juga merupakan kompilasi dari peristiwa sosial dan sakral. Secara garis besar, prosesi ritual kematian sebagai berikut (prosesi ritual sepenuhnya diolah dari buku Zakaria Ahmad, dkk., 1984: 21-81).

1. Saat Mayat di Rumah

Upacara di rumah dimulai ketika seseorang baru saja meninggal sampai pada proses penguburan. Adapun ritual-ritual yang dilakukan meliputi: melayani orang yang diperkirakan akan segera meninggal dunia, membuat keranda, mempersiapkan kain kafan, memandikan, membungkus, mensalatkan, dan menguburkan mayat.

Dalam tradisi masyarakat Aceh, bila ada anggota keluarga yang saket nadak (sakit parah) sehingga diperkirakan akan meninggal dunia, maka semua kerabat wajib diberitahu supaya mempunyai kesempatan menjenguk sebelum meninggal. Jika tidak tidak dilakukan, apalagi sampai benar-benar mati, maka dapat menciderai dan merusak hubungan kekeluargaan. Selain itu, pemberitahuan ini bertujuan untuk mengumpulkan semua anggota keluarga agar dapat mendampingi orang yang saket nadak menghadapi sakratul maut (detik-detik menjelang matinya seseorang).

Pada saat orang yang saket nadak sakit parah itu sakratul maut, para keluarga dan ahli agama duduk di sekelilingnya geu peu entat (mengantarkan) sambil membaca Laillahhaillallah, muhammadarrasullullah dan seterusnya. Kadang-kadang ucapan ini dibisik di telinga orang yang sedang menghadapi maut itu sampai orang tersebut benar-benar mati. Tujuan acara geu peu entat ini untuk menjamin agar orang yang akan mati tersebut tidak mate kafe (mati kafir), tetapi dalam keadaan iman.

Jika si sakit akhirnya meninggal, mayatnya dibaringkan di tempat tidur yang telah dihiasi dengan kain-kain baru. Kemudian manyat diselimuti dengan kain batik panjang sampai beberapa lapis tebalnya, sambil menunggu waktu penguburan. Pada saat bersamaan, salah seorang keluarga si mati menginformasikan perihal kematian tersebut pertama-tama kepada teungku melasah (imam langgar), kemudian baru diberi tahukan kepada semua kerabat baik yang dekat maupun yang jauh dari tempatnya. Setelah teungku melasah mengetahui kabar kematian tersebut, ia kemudian membunyikan ta buoh atau tambir (beduk) dengan irama-irama khusus. Seiring berkembangnya informasi, informasi tentang kematian seseorang juga disampaikan melalui peralatan modern, seperti pengeras suara yang ada di masjid.

Biasanya, begitu masyarakat mendengar bunyi-bunyian tersebut, mereka akan menghentikan semua aktivitasnya dan berbondong-bondong mendatang rumah orang yang baru saja mati. Mereka biasanya datang tidak dengan tangan kosong, tetapi membawa barang-barang yang dapat meringankan beban keluarga yang ditimpa musibah, seperti membawa uang, beras, dan lain sebagainya. Pengunjung yang hendak memberikan uang misalnya, disediakan tempat berupa baskom atau piring berisi beras yang diletakan di ruang tamu.  

Setelah keluarga dan masyarakat berkumpul, teungku menasah dan geucik (kepala desa) mendistribusikan pekerjaan kepada warga gampong, seperti memerintahkan anak-anak laki-laki muda untuk menggali kuburan, anak-anak perempuan mengangkut air untuk mandi mayat, para orang tua membuat keureunda (peti mayat), dan para ahli agama lainnya mempersiapkan kain kafan. Pendistribusian kerja ini memungkinkan segala persiapan untuk menguburkan mayat dapat segera dilakukan. Karena mempercepat penguburan mayat, menurut anggapan mereka adalah sunat, sebab orang yang meninggal sering mereka katakan minta dikubur. Namun, jika ada ada beberapa kerabat yang belum datang, di mana kerabat itu sangat penting, maka acara penguburan dapat ditunda.

Setelah waktu penguburan ditentukan, tahap selanjutnya adalah memandikan mayat. Ritual memandikan mayat sangat terkait erat dengan keyakinan bahwa siapapun, termasuk mayat, yang hendak menghadap Tuhannya harus bersih jasmaninya. Agar badan mayat benar-benar bersih dan suci ketika menghadap Tuhannya, maka dalam proses memandikan mayat harus dilakukan secara hati-hati dengan mengikuti aturan-aturan yang telah berlaku dalam masyarakat. 

Sebelum mayat dimandikan, sedikitnya ada empat hal yang harus dipersiapkan. Pertama, mempersiapkan tempat untuk memandikan mayat. Biasanya mayat di mandikan di salah satu kamar dari rumah si mayit. Jika rumahnya berbentuk pangung, maka lantai kamar yang akan digunakan untuk memandikan mayat terlebih dahulu dilobangi untuk tempat pembuangan air. Kedua, mempersiapan bunga-bunga wewangian, seperti bunga cempako (cempaka), bunga seulanga (selanga), bunga pandak (sejenis melati), limau paruet (jeruk purut), kabelu (sejenis rumput), dan daun pandan musang. Ketiga, air. Air harus disediakan cukup banyak agar pada saat proses memandikan jenasah tidak kekuarangan air. Keempat, mempersiapkan orang yang akan memandikan. Biasanya yang memandikan berasal dari keluarga dekat si mayit dan memiliki jenis kelamin yang sama. Selain berjenis kelamin sama, yang memandikan juga harus berjumlah ganjil dengan aturan tertentu. Jika yang hendak memandikan ada lima orang, maka dua orang mengambil posisi di sebelah kanan, 2 orang di sebelah kiri, dan yang satunya lagi (biasanya yang paling tua) memangku bagian kepala.

Setelah persiapan untuk mandi mayat siap, maka teungku melasah membaca doa sambil meremas-remas air ramuan yang disebut dengan iee si kureung (air sembilan). Kemudian air diambil dengan baskom, lalu dituang oleh teungku kepada mayat dengan perlahan-lahan, agar tubuh mayat tidak terasa sakit atau terkejut.

Kemudian yang memandikan membersihkan tubuh mayat dari kotoran-kotoran yang menempel sambil terus menyiramkan air biasa, seperti membersihkan mulut, kedua mata dan telinga, ubun-ubun, daerah pusat, lubang anus serta pada sela-sela kuku jari dan kuku kaki. Setelah bagian-bagian tersebut diangap bersih, mayat kemudian dimandikan dengan air limau yang biasanya telah diletakkan dalam gelas dengan jumlah ganjil, yaitu antara 5, 7, atau 9 gelas. Setelah dimandikan dengan air limau, si mayat kembali disiram dengan menggunakan air biasa sampai bersih, dan dilanjutkan dengan me-wudhui si mayat. Setelah semua proses memandikan selesai, badan mayat dilap menggunakan kain panuri (kain lap mayat) sampai kering.

Setelah prosesi memandikan mayat selesai, mayat dibungkus dengan kain dan dibawa ke sebuah ruangan yang telah disediakan untuk dikafani (dibungkus menggunakan kain putih). Biasanya kafan telah disiapkan sejak mayat dimandikan dengan ketebalan antara 3 sampai 5 lapis, diberi minyak wangi dan ditaburi berbagai jenis bunga-bunga beraroma wangi, termasuk kikisan kayu cendana. Mayat dibaringkan diatas kafan tersebut, dan bagian-bagian tertentu dari si mayat, seperti mata, siku, ketiak, telapak kaki, tangan, hidung, kemaluan dan pada lubang anus diberi (ditutup) dengan kapas. Kemudian mayat dibungkus dengan kafan dan dikat dengan tali yang dibuat dari bagian kain kafan tersebut.

Mayat yang telah dikafani tersebut dimasukkan ke dalam keranda yang telah dipersiapkan sebelumnya. Keranda yang telah diisi dengan mayat tersebut kemudian dihias (baca: ditutup) dengan kain warna-warni. Kwalitas kain penghias keranda biasanya berbanding lurus dengan status sosial yang meninggal tersebut. Semakin tinggi status sosial seseorang, biasanya kualitas kain penghiasnya semakin tinggi. Bahkan, keranda golongan bangsawan biasanya dipayungi dengan payung berwarna kuning sebagai simbol kebesaran.

Setelah proses menghias keranda selesai, keranda dibawa ke luar rumah agar terlihat oleh semua pengunjung. Kemudian perwakilan keluarga menyampaikan perasaan duka atas meninggalnya salah satu anggota keluarganya, memintakan maaf jika si mayat pada masa hidupnya ada kesalahan, dan mengucapkan terimaksih atas bantuan semua warga dalam proses penguburan.

Kemudian peti mayat itu diusung bersama-sama ke langgar atau masjid, dan diletakkan  di bagian depan dengan posisi kepala mayat ke sebelah Utara dan kaki ke sebelah Selatan untuk disembahyangkan. Acara sembahyang mayat dipimpin oleh teungku imeum (imam), dan diikuti oleh para jemaah lainnya. Setelah sembahyang selesai, pihak keluarga memberikan sedekah kepada orang-orang yang menyolatkan si mayat. Pahala dari pemberian sedekah ini dihadiahkan kepada orang yang meninggal.

2. Menguburkan Mayat

Setelah disembahyangi, mayat kemudian dibawa ke tempat penguburan. Bagi masyarakat Aceh, menguburkan mayat sesegera mungkin merupakan keharusan. Dalam pepatah Aceh disebutkan, "ureung udeip geubri bu, ureung matee geubri kubu" (orang hidup diberi nasi, orang mati diberi kubur). Hal ini nampaknya dipengaruhi oleh Islam yang menganjurkan untuk mensegerakan (tidak menunda-nunda) penguburan mayat.

Setelah sampai ke lokasi kuburan, usungan mayat diletakkan di pinggir lubang kubur. Tokoh agama membaca doa sebelum mayat dimasukkan ke dalam kubur. Kemudian mayat diangkat dengan perlahan-lahan sambil dipayungi, terus dimasukkan ke dalam kubur. Semua ikatan bungkusan mayat tadi dilepaskan. Tindakan ini dilakukan karena ada anggapan bahwa bila mayat tidak dibuka ikatan, roh dari mayat itu akan jadi buroung punjeot (syaitan berbalut).

Di dalam kubur, mayat diletakkan dengan posisi tidur miring ke kanan. Kemudian di atas mayat diberi penyekat dari kayu. Kemudian teungku mengucapkan Bismillah sambil mengambil tanah satu genggam dan dijatuhkan ke dalam kuburan perlahan-lahan. Kemudian baru diikuti oleh orang lain untuk menimbun lubang kuburan hingga membentuk gundukan.

Kemudian pada arah kepala dan kaki mayat diletakkan penanda berupa dua buah batu (batu merijan), dengan ukuran batu pada bagian kepala lebih besar dari bagian kaki. Selain batu, penanda juga dapat menggunakan pohon, seperti pohon tanaman jarak dan tanaman puding. Seperti halnya halnya pemasangan batu sebagai penanda, penanaman pohon juga diletakkan pada bagian kepala dan kaki. Pada saat menanam pohon, biasanya  disertai pembacaan doa.

Tahap selanjutnya adalah menyiram kuburan dengan aie babungo (air ramuan bunga) sebanyak tiga kali dari kepala ke kaki dengan disertai pembacaan doa. Setelah itu, dilakukan pembacaan talkin yang dipimpin oleh ahli agama. Namun ada juga yang memilih tidak melakukan talkin, karena menganggap bahwa pembacaan talkin tidak ada dalam aturan agama. Selesainya pembacaan talkin (bagi yang mengamalkan), maka selesailah acara penguburan mayat. Biasanya, pada saat para pelayat hendak meninggalkan tanah pekuburan, anggota keluarga orang yang meninggal dunia akan memberikan sedikit imabalan (baca: sedekah) kepada para penggali kuburan, orang yang memandikan mayat, dan orang yang ikut menyembahyangi. Pemberian sedekah itu acap kali diiringi dengan makan ketan kuning.

4. Upacara-upacara Pasca Penguburan

Setelah mayat dikuburkan, bukan berarti ritual mengurusi mayat telah selesai. Masih ada ritual-ritual yang harus dilakukan oleh anggota keluarganya. Ritual tersebut meliputi ritual sejak kematian, sampai seratus hari sejak kematiannya. Prosesi upacaranya adalah sebagai berikut:

a. Malam Pertama hingga ke Enam.

Sebagaimana namanya, ritual ini dilaksanakan pada malam pertama mayat berada di dalam kubur. Pada ritual ini, warga yang datang bertujuan untuk mendoakan orang yang baru meninggal agar mendapatkan pengampunan dari Allah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Biasanya, ritual ini diisi dengan pembacaan Al Qur‘an, dan samadiah (pembacaan tahlil dan bacaan-bacan lainnya), serta diakhiri dengan pembacaan doa. Selain itu, kehadiran para warga ini juga untuk menghibur dan meringankan beban keluarga yang baru meninggal dunia. Ritual pada malam pertama ini biasanya dihadiri oleh tokoh agama, niniek mamak, para tetangga, dan kaum kerabat.

Ritual ini biasanya dilaksanakan setelah Mangrib. Begitu selesai salat mangrib di masjid atau surau, orang-orang ini akan segera menuju ke rumah orang yang meninggal.   Setelah orang-orang yang hadir dianggap cukup, maka sang tuan rumah mempersilahkan tokoh agama yang hadir untuk memulai acara. Kemudian sang tokoh agama memberitahukan kepada orang yang hadir bahwa acara akan segera dimulai. Setelah itu, dia memimpin pembacaan Al Qur‘an dan samadiah. Setelah selesai, tuan rumah menghidangkan makanan, minuman, dan kue-kue. Jenis dan kualitas makanan yang dihidangkan biasanya berkaitan dengan status sosial seseorang. Semakin tinggi status sosialnya, maka hidangan yang disajikan biasanya semakin komplit. Setelah menikmati hidangan, para peserta kembali ke rumah masing-masing.

Ritual semacam ini sebenarnya berlangsung terus hingga malam keenam mayat dalam kuburan. Bedanya, pada malam kedua sampai keenam hanya membaca samadiah sebanyak seratus kali secara bersama-sama. Setelah pembacaan samadiah selesai, tuan rumah biasanya menyuguhkan minuman dan kue, seperti ie bu puteh [air nasi putih] (semacam dodol yang putih warnanya dibuat dari tepung), kue pampi (kue Bugis), ke cingkhui (sejenis lontong), dan kue putroi manou (tepung bentuk bulat).

b. Malam ka Tujueh

Ritual malam ketujuh merupakan puncak dari ritual pasca kematian. Orang-orang Aceh meyakini bahwa pada malam ketujuh sejak kematiannya, ruh orang yang meninggal tersebut akan segera meninggalkan mereka menuju alam lain. Oleh karena itu, ritual malam ketujuh diselenggarakan secara khusus dan biasanya dihadiri oleh peserta yang lebih luas dari ritual malam pertama hingga malam keeenam, seperti para tetua kampung, orang-orang terhormat, tetangga, kaum kerabat baik yang dekat maupun yang berada ditempat jauh. Para kerabat yang datang biasanya membawa bahan-bahan mentah berupa beras satu naleeh (16 bambu) dan kelapa 40 buah. Ada juga yang membawa uang, sayur-sayuran, dan gula untuk keperluan upacara.

Selain peserta yang bersifat lebih luas, suguhan yang disajikannya juga lebih istimewa. Bagi keluarga yang mempunyai status sosial tinggi, dan kaya, ritual malam ketujuh ditandai dengan pemotongan kerbau atau lembu, dan kambing, biri-biri atau ayam bagi orang biasa.

Sama seperti halnya ritual malam pertama sampai keenam, ritual malam ketujuh juga dilaksanakan setelah shalat mangrib. Oleh karena itu, sejak selesainya salat mangrib, satu perstau tamu mulai berdatangan. Ketika sampai di depan pintu, para tamu tersebut mengucapkan salam (assalammualaikum) dan dijawab oleh tuan rumah dan para tamu yang lebih dulu hadir. Setelah itu, sang tamu menempati tempat yang telah disediakan.

Jika waktu menunggu tamu dianggap cukup, biasanya setelah para pemimpin agama datang, tuan rumah mempersilahkan tokoh agama memimpin ritual. Ritual diisi dengan pembacaan pembacaan samadiah, membaca syahadat, selawat nabi, surat al-Ikhlas, surat an-Naas, surat al-Falak, dan diakhiri dengan doa penutup.

Selesainya pembacaan doa penutup bukan berarti ritual malam ketujuh telah selesai. Setelah pembacaan doa selesai, dilanjutkan dilanjutkan dengan pembacaan al-Qur‘an. Jika pada tahap pertama semua yang hadir ikut membaca, maka pembacaan al-Quran biasanya hanya dilakukan orang-orang yang pandai dan fasih dalam mengaji. Sedangkan hadirin yang lain menunggu selesainya pembacaan al-Quran. Ritual amalm ketujuh kemudian diakhiri dengan makan bersama, dan pemebrian sedekah kepada orang-orang yang mengaji pada saat mereka pulang dengan berjabat tangan.

Keesokan harinya (pada hari ke tujuh), anggota keluarga si mayat mengadakan ziarah ke makam. Pada ziarah hari ketujuah ini, dilakukan penanaman batu nisan, penyiraman aie bungo (air ramuan) mulai dari kepala ke kaki mayat (kuburan) sebanyak tiga kali, dan diakhiri dengan makan ketan kuning.

c. Ritual Paska Malam Ketujuh

Paska malam ketujuh, masyarakat Aceh masih mengadakan beberapa rangkaian ritual kematian lagi yang terkait dengan kematian, di antaranya ritual malam uroi keusiploh, duwo kali tujueh, geunap sibelun, peut ploh dan peut ploh peut, kasaratus, setahun dan ritual malam keseribu. Kesemua ritual-ritual tersebut diadakan sebagai bentuk penghormatan dan kepatuhan orang yang ditinggalkan kepada orang yang telah meninggal dunia.

Ritual pasca malam ketujuh biasanya tidak lebih besar dari ritual malam ketujuh, baik dari suguhan yang disajikan, maupun pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan ritual. Bacaan yang dibaca dan waktu pelaksanaan ritual ritual pasca malam ketujuh juga sama dengan ritual malam pertama hingga ketujuh, yaitu pembacaan samadiah, Al Qur‘an dan diakhiri dengan pembacaan doa, serta ditutup dengan makan bersama.

E. Doa-doa

Doa-doa yang dibaca dalam upacara kematian, di antaranya:

  • Syahadat
  • Salawat nabi
  • Tahlil dan beberapa surat al-Quran (al-Ikhlas, an-Naas, dan al-Falak)
  • Samadiah
  • Talkin

F. Nilai-nilai

Mengamati secara seksama penyelenggaraan upacara kematian masyarakat Aceh, kita akan mengetahui bahwa kematian merupakan bagian yang sangat penting dalam siklus kehidupan orang-orang Aceh. Kematian tidak semata-mata persoalan behentinya fungsi-fungsi biologis dan mikanis organ-organ tubuh, tetapi terkait dengan keyakinan tentang tahapan-tahapan perjalanan manusia menghadap tuhannya. Oleh karena itu, masyarakat Aceh selalu menyikapi peristiwa kematian dengan cara tidak biasa, sebagaimana terlihat sejak seseorang disangka akan segera mati hingga ritual-ritual yang dilakukan pasca penguburannya.

Adanya keyakinan bahwa kemtaian merupakan gerbang menuju kehidupan yang lain pada satu sisi, dan peristiwa sosial yang dipicu oleh kematian tersebut meletakkan kematian berada pada posisi tumpang tindih, yaitu antara wilayah sakral dan profan. Dengan kata lain, walaupun ritual kematian yang diselenggarakan oleh masyarakat berdasarkan keyakinan (sakral) sehingga aktivitas-aktivitas yang dijalankan terkait dengan keyakinan, ritual itu sendiri berada pada ranah sosial (profan) sehingga memicu munculnya nilai-nilai yang diyakini dan dipraktekkan oleh masyarakat. Nilai-nilai itu antara lain:

Pertama, nilai religius. Sebagaimana dijelaskan di atas, kematian bagi masyarakat Aceh adalah gerbang perjalanan panjang untuk menghadap Tuhannya. Berdasarkan hal ini, ada tiga hal yang dapat dilakukan oleh orang yang mati. 1). Harus mati dalam keadaan iman. Karena adanya keyakinan ini, maka ketika seseorang dianggap akan segera mati, maka sanak-sudaranya akan membaca kalimat tauhid dan syahadat, dengan harapan orang tersebut mati dalam keadaan membaca kalimat tersebut. 2). Harus dalam keadaan suci. Ritual memandikan mayat dengan segala tata caranya bertujuan agar jasad si mayat dalam keadaan bersih dan suci. 3). Membawa bekal yang cukup. Selain amalan baik yang telah dilakukan oleh si mayat, pihak keluarga dan masyarakat juga berperan untuk menjamin ketercukupan bekal si mayat. Untuk menjamin ketersediaan bekal tersebut, pihak keluarga mengadakan ritual-ritaul pasca kematian si mayat dan banyak melakukan sedekah  yang pahalanya dikirimkan kepada si mayat sebagai tambahan bekal.

Kedua, nilai akulturasi. Penyelenggaraan ritual kematian yang dilakukan masyarakat Aceh menunjukkan bahwa keyakinan selalu berkait kelindan dengan lokaliltasnya, sehingga bentuk ekspresi dari keyakinan akan senantiasa berubah seriring dengan perubahan aras lokalitasnya. Dengan kata lain, ekspresi keagamaan tidak beku, tetapi akan senantiasa berubah. Menurut Naguib al-Attas (1972:12), sebelum Islam masuk ke Aceh, wilayah tersebut telah menganut agama Hindu dan Buddha yang bercampur aduk dengan agama lokal. Hal tersebut dapat dilihat beragam ritual yang dijalankan oleh masyarakat Aceh. Dengan melihat pelaksanaan ritual kematian masyarakat Aceh, maka kita akan mengetahui bahwa pelaksanaan ritaul tersebut merupakan hasil akulturasi keyakinan Islam dengan budaya lokal.

Ketiga, penghormatan kepada kemanusiaan. Pada saat nafas telah keluar dari tubuh seseorang, tubuh tersebut telah berubah manjadi bangkai, sebagaimana mahluk hidup lainnya. Namun, adanya keyakinan bahwa ketika seseorang mati maka dia sedang memasuki tahapan kehidupan selanjutnya, maka masyarakat menciptkan sebuah rangkaian ritual untuk melepaskan dan mengantarkan kepergiannya sebagai bentuk penghormatan. Di jenguk ketika sakit, dibaringkan membujur utara-selatan setelah ajal menjemput, dimandikan dengan tata cara yang rumit, dikafani dengan kain berwarna putih, disembayangi, diusung dengan tandu secara bergantiaan oleh segenap masyarakat, dan lain sebagainya merupakan bukti dari pemulyaan tersebut. Hal inilah, yang membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya.

Keempat, solidaritas. Pelaksanaan rangkaian ritual kematian merupakan manifestasi dari solidaritas sosial yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Aceh. Meninggalnya salah seorang anggota keluarga pada satu sisi, memicu munculnya kembali solidaritas masyarakat sebagai wadah yang secara mikanis terbentuk dari keluarga-keluarga tersebut pada sisi yang lain. Solidaritas itu tidak saja dalam bentuk merasakan duka keluarga yang ditinggal mati oleh salah satu anggotanya, tetapi juga untuk mengurangi beban yang dirasakan. Hal ini dapat dilihat di antaranya dari pengunjung yang membawa barang-barang bawaan untuk meringankan beban kebutuhan pelaksanaan ritual kematian, penggalian lubang kubur oleh anak-anak muda laki-laki, pengambilan air perempuan-perempuan muda, dan para kaum ibu yang membantu mempersiapkan hidangan ritual. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kematian dapat menjadi media untuk mengembalikan solidaritas dalam masyarakat.

G. Penutup

Upacara kematian yang dilaksanakan oleh masyarakat Aceh merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang diyakini, diamalkan, dan dilestarikan oleh masyarakat Aceh. Oleh karena itu, dengan mengamati pelaksanaan ritual tersebut, kita akan dapat mengetahui bagaimana orang Aceh membangun dan mengkonstruksi kebudayaannya, yaitu kebudayaan yang lahir dari proses akulturasi antara keyakinan (baca: Islam) dengan adat budaya lokal. Dengan melihat fenomena ini, maka kita dapat menilai perkembangan dinamika keislaman yang terjadi di Aceh saat ini.

(Ahmad Salehudin/bdy/47/10-2009)

Daftar Pustaka

Agus Budi Wibowo, “Reaktualisasi dan Revitalisasi Budaya Aceh di tengah Pusaran Globalisasi Menuju Aceh Yang bermartabat Pasca Gempa dan Tsunami”, dalam http://agusbwaceh.blogspot.com/, diunduh 15 Oktober 2009.

Agus Budi Wibowo, ”Pandangan Teori Liminalitas Victor Turner Terhadap Adat dan Upacara Kematian di Aceh” dalam http://agusbwaceh.blogspot.com/.

Eko Iskandar, ”Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Upacara Kematian pada Masyarakat Suku Alas,” dalam http://www.wacananusantara.org/, diunduh 15 Oktober 2009.

Naguib al-Attas, 1972, Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur: UKM.

Ridwan Hasan, Pemurnian Kepercayaan di Kalangan Masyarakat Islam Aceh, dalam http://pkukmweb.ukm.my/, diunduh 15 Oktober 2009.

Zakaria Ahmad, dkk., 1984, Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Istimewa Aceh, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Kredit Foto: Iskandar Usman, dalam http://www.serambinews.com/, diunduh 15 Oktober 2009.

Dibaca : 8.683 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password