Selasa, 21 Oktober 2014   |   Arbia', 26 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 2.306
Hari ini : 15.974
Kemarin : 22.025
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.248.444
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah


Halaman Judul Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah
Manuskrip Klinkert No. 3, Leiden
Sumber: Amin Sweeney, 2005

 

Serta masuklah aku ke dalam negeri yang mulia
Maka terlupalah aku akan ni’mat dan kesukaan dunia
Seperti mendapat syurga dengan isinya sedia
Mengucaplah aku beribu2 syukur akan Tuhan yang Mahamulia
Terlupalah beberapa kesusaan dan syeksa di jalan
Oleh sebab berahi dan rindu akan bait Allah itu beberapa bulan.

(Sweeney, 2005:293)

A. Pendahuluan

Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah adalah sebuah karya berupa catatan atau cerita perjalanan pengarangnya, yakni Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, ketika hendak melakukan ibadah haji ke Mekah. Tetapi, perjalanan yang diceritakan oleh Abdullah dalam karya ini hanya sampai pada bagian ketika dia tiba di Jedah, yaitu pelabuhan di Arab Saudi yang menjadi tujuan akhir kapal-kapal dari kawasan Melayu yang mengangkut calon jamaah haji. Sedangkan perjalanan ke Mekah dan ritual ibadah haji itu sendiri tidak dikisahkan, mungkin karena Abdullah menganggap akan lebih tepat jika dikisahkan dalam karya dengan judul yang berbeda. Akibatnya, sering muncul anggapan bahwa karya ini adalah karya yang belum selesai.

Kisah Pelayaran Abadullah ke Mekah sering dipasangkan dengan Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan dan dikenal sebagai Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan dan Negeri Jedah (Maman S. Mahayana, 1995:154) atau Hikayat Pelayaran Abdullah (Muhammad Haji Salleh, 1988:xiii) atau Kisah Pelayaran Abdullah saja. Walaupun demikian, kedua karya ini jelas merupakan karya yang berbeda. Sementara Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan merupakan pangkal karir penerbitan Abdullah (1838), Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah merupakan karya terakhirnya (1854).

Kedua karya tersebut juga berbeda secara dramatis dalam beberapa hal. Dalam karyanya yang pertama, Abdullah masih “mentah” dan terkungkung oleh pantauan Inggris, sedangkan dalam Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah ini, Abdullah telah menjadi lebih “matang” dan santai, seolah-olah telah terbebas dari kongkongan pemantau Inggris (Sweeney, 2005:53). Namun, kedua karya tersebut, sebagaimana karya-karya Abdullah yang lain, masih memiliki ciri-ciri yang sama. Salleh (1988:xiii) secara ringkas merinci ciri karya-karya Abdullah sebagai “penggunaan gaya klasik namun dengan isi dan sikap yang lebih independen dan kritis, serta pemanfaatan elemen-elemen modern dan perspektif yang baru”.

B. Manuskrip dan Publikasi

Setelah Abdullah meninggal tak lama setelah tiba di Mekah, catatan-catatannya dibawa kembali ke Singapura oleh seorang rekan sepelayarannya, lalu sampai ke tangan Keasberry (H.C. Klinkert dalam Sweeney, 2005:257). Empat tahun kemudian, Keasberry menerbitkan karya ini dalam majalah Cermin Mata (Tjeremin Mata) sebanyak tiga episode selama rentang 1858-1859. Walaupun demikian, Sweeney (2005:263) menegaskan bahwa terdapat satu versi teks karya ini yang paling awal yang bukan berupa edisi tercetak melainkan manuskrip, yakni W215, yang kini tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. Manuskrip dan edisi-edisi karya ini adalah sebagai berikut:

  1. Pelayaran Abdullah Munsyi dari Singapura ke Mekah, manuskrip W215, dari koleksi Von de Wall, tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.
  2. Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah, tiga episode dalam majalah Cermin Mata, Singapura, 1858-1859.
  3. Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah, manuskrip salinan dari edisi-edisi dalam Cermin Mata, menjadi MS Klinkert 63 (MS Kl. 63), selesai disalin di Riau, 10 Juli 1865, tersimpan Perpustakaan Universitas Leiden.
  4. Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah, terjemahan ke dalam bahasa Belanda, berdasarkan MS Klinkert 63, 1867, terbit dalam Bijdragen van het Kon. Inst. Voor T. L. En Vikk, seri 3, hal. 384-410.
  5. Kisah Pelayaran Abdullah ke Judah, 1889, dalam satu edisi bersama dengan Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan, berdasarkan versi yang terbit dalam majalah Cermin Mata.
  6. Kisah Pelayaran Abdullah (Ke Judah), transkripsi, koleksi Dr. P. Voorhoeve (tahun ?)
  7. Kisah Pelayaran Abdullah (ke Judah) edisi Kassim Ahmad, 1960, berdasarkan transkripsi Dr. P. Voorhoeve.
  8. Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah, berdasarkan W215, dalam Amin Sweeney, 2005, Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 1, Jakarta, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole francaise d’Extreme-Orient, hal. 273-293.


Iluminasi, Majalah Cermin Mata
Foto oleh Annabel Gallop
Sumber: Sweeney, 2005.

C. Beberapa Kajian tentang Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah

1. Penonjolan Diri

Sebagaimana dalam Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan, Abdullah tetap menjadi sosok penting dalam Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah ini, baik sebagai narator maupun tokoh utama dalam narasi. Sentralitas tokoh Abdullah dalam karya ini ditegaskan dengan acuan yang samar-samar (Sweeney, 2005:266) tentang tokoh-tokoh lain. Di halaman 7, misalnya (dalam Sweeney, 2005:280), tokoh Wan Yusuf hanya disebutkan namanya saja. Ketika Abdullah turun dari kapal ketika singgah di negeri Hudaidah dan berjalan-jalan di sana, dia bercerita bahwa “kami tiada taukan jalan” (dalam Sweeney, 2005:289). “Kami” di situ sangat terbuka untuk ditafsirkan sebagai rekan-rekan sepelayaran Abdullah, sesama penumpang kapal, atau seluruh penumpang kapal. Sedangkan “seorang sahabat” yang menemani Abdullah berjalan-jalan setiba di Judah (Jedah) (dalam Sweeney, 2005:293) tidak jelas mengacu kepada siapa.

Kiat lain yang diterapkan oleh Abdullah untuk menegaskan sentralitasnya adalah dengan memanfaatkan khalayak dalaman sebagaimana yang diterapkannya juga dalam Kisah Pelayaran Abdullah ke Kelantan. Menurut Sylvia Tiwon (dalam Sweeney, 2005:70), ada satu kaidah yang sering digunkaan dalam sastra Melayu sebagai penghubung antara lakonan tokoh-tokoh diraja dalam cerita dan khalayak yang mendengarkan dendangan ceritanya. Khalayak dalaman ini dapat berupa dayang-dayang atau tokoh-tokoh sampingan yang memberi isyarat kepada pembaca atau pendengar bagaimana hendaknya cara bersikap yang benar. Tujuannya adalah memperlihatkan kelebihan diri tokoh utama atau memperkuat ucapannya melalui reaksi khalayak dalaman.

Kiat khalayak dalaman tampak jelas ketika Abdullah turun sejenak dari kapal di Kalikut. Ketika hendak bertanya tentang “rahsia” suatu masjid, tokoh penjaga masjid itu tampaknya justru keheranan dan katanya, “Aku hairan sekian lama ini seorang tiada pedulikan bertanya akan pekerjaan itu. Engkau ini orang mana? Apa sebabnya hendak mengetahui itu?” (dalam Sweeney, 2005:281). Sedangkan setelah turun di Jedah dan menggambar peta, Abdullah dihampiri oleh seorang ‘asykar yang keheranan dan bertanya “Ini orang mana?” dan berkata “Kalau Basyah tau yaini tau menulis peta2 tentu diambilnya” (Sweeney, 2005:291). Pasase-pasase ini seakan-akan hendak menegaskan bahwa Abdullah begitu penuh perhatian kepada tempat suci umat Islam dan memiliki keahlian yang dicari-cari oleh orang-orang besar.


Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 1
Amin Sweeney, 2005.
Sumber: Dokumentasi BKPBM

2. Objektif, Tidak Mengkritik, dan Menyatakan Keislaman

Walaupun dikenal sebagai pengkritik Melayu, tetapi dalam karya ini Abdullah cenderung menahan diri untuk tidak mengungkapkan penilaian yang bersifat mengkritik. Sweeney (2005), dengan mendasarkan diri pada manuskrip W215 yang merupakan versi teks paling awal, menyatakan bahwa Abdullah dalam karya ini seolah-olah telah terbebas dari pantauan orang-orang Inggris yang menjadi “periuk nasi”-nya. Sehingga, dia terbebas dari “kewajiban” untuk menghasilkan karya-karya yang direstui oleh para majikannya (yaitu karya yang mengkritik semua yang bukan Inggris/Barat).

Ketiadaan “kewajiban” itu menjadikan Abdullah leluasa untuk bersikap objektif dan berperan sebagai saksi mata. Dia leluasa ketika berusaha keras untuk memberikan penggambaran yang meyakinkan dan juga perincian yang sekecil-kecilnya tentang masjid, kolam, pasar, bentuk rumah, tata kota, dan sebagainya. Namun, mungkin dia “tak begitu terlatih” untuk menulis dengan bebas seperti itu. Sehingga, biarpun berusaha keras untuk bersikap objektif, dia sempat silap juga. Menurut Sweeney (2005:267), keterangan Abdullah tentang orang Badui yang disamakan kelakuannya dengan orang Jakun (orang asli) di Tanah Melayu tidak meyakinkan karena Abdullah tidak memerikan kelakukan yang seperti apa.

Ketiadaan pantauan Inggris juga memungkinkan Abdullah untuk menyatakan keislamannya. Selama kerjanya di bawah pemantauan majikan Protestan, Abdullah tidak berani sekali pun menyebut nama Nabi Muhammad SAW. Namun, dalam karya ini, Abdullah menyatakan rujukan kepada Islam secara terbuka: selawat tiga kali (Sweeney, 2005:290), “membaca Fathihah nama bapa kita Adam ‘alaihi ‘s-salam” (Sweeney, 2005:276), dan “maka sekaliannya membacalah Fathihah” setelah selamat melintasi Bab Iskandar (Sweeney, 2005:284), serta penggambaran tentang kemegahan masjid-masjid di semua tempat yang disinggahinya.

3. Invasi Erosentrisme

Sweeney (2005) telah membuktikan bahwa teks-teks karya ini yang telah terpublikasikan sejak abad ke-19 dalam majalah Cermin Mata maupun edisi-edisi terjemahannya dalam bahasa Belanda, dan bahkan juga edisi Kassim Ahmad yang diterbitkan pada 1960-an, adalah teks komposit yang telah mengalami penyuntingan dalam kadar yang berbeda-beda oleh para misionaris Protestan yang menjadi teman sekerja Abdullah. Dalam versi-versi yang telah mengalami penyensoran itu, hampir seluruh rujukan kepada Islam dikikis. Tindakan penyensoran yang paling kentara adalah penghilangan syair “penutup” karya ini, yang menyiratkan kebahagiaan Abdullah sebagai seorang muslim yang berhasil mencapai tanah suci untuk melaksanakan salah satu rukun iman dalam agamanya (syair tersebut dikutip di bagian awal tulisan ini).

Keputusan untuk menerbitkan karya ini oleh para misionaris Protestan pada saat itu pun agaknya tidak begitu tegas. Sweeney (2005:260) menduga bahwa jika Abdullah berhasil menunaikan fardhu hajinya di Mekah serta berhasil mengisahkannya, mungkin pihak misionaris Protestan tidak akan tertarik untuk menerbitkan tulisannya. Pasalnya, pengisahannya tentu akan memberikan dampak yang menyentuh bagi khalayak Islam. Tetapi pada kenyataannya Abdullah meninggal di Mekah. Sehingga, misionaris Protestan Keasberry merasa bahwa kisah Abdullah ke Mekah ini cukup aman untuk diterbitkan karena hanya mengisahkan perjalanan Abdullah sampai di Jedah saja.

D. Penutup

Kisah Pelayaran Abdullah ke Mekah memperlihatkan perkembangan kepenulisan seorang sastrawan Melayu yang bertahun-tahun berdiri sendirian, tanpa pengikut, pada masa ketika kesusastraan Zaman Klasik masih mendominasi lanskap kesusastraan Melayu. Kematangan narasi, retorika, dan pengungkapan pikiran Abdullah dalam karya ini tidak semata-mata bernilai sastra dan sejarah, tetapi juga bernilai psikologis bagi khalayak pembaca Melayu. Jika dalam karya-karya sebelumnya, sebagaimana telah dibuktikan oleh Sweeney (2006) Abdullah mengandikan khalayk pembacanya adalah khalayak non-Melayu, maka dalam karya ini Abdullah seakan-akan sepenuhnya berbicara kepada khalayak Melayu, sekaligus membuka diri sejujur-jujurnya.

Karya ini seolah-olah menjadi pembuktian Abdullah bahwa setelah bertahun-tahun menjadi penganut, atau paling tidak sebagai penganjur atau terpaksa menjadi penganjur, nilai-nilai modern (Barat) yang penuh prasangka kepada orang Melayu, adat istiadatnya, dan agama Islam yang lekat dengan kemelayuan, pada hakikatnya Abdullah adalah tetap seorang Melayu. Pada diri Abdullah ketika menulis karya ini, seolah-olah krisis identitasnya telah purna seiring dengan pengakuannya sebagai seorang Melayu yang beragama Islam dan hendak melaksanakan salah satu rukun iman dalam agamanya.***

(An. Ismanto/Sas/17/11-09)

________

Referensi

Amin Sweeney, 2005. Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient di Jakarta.

Maman S. Mahayana, 1995. Kesusastraan Malaysia modern. Jakarta: PT Pustaka Dunia Jaya.

Muhammad Haji Salleh (ed.), 1988. An anthology of contemporary Malaysian literature. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Dibaca : 4.564 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password