Selasa, 21 Oktober 2014   |   Arbia', 26 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 486
Hari ini : 1.718
Kemarin : 20.089
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.249.645
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tenun Sambas
Kain Tradisional Kalimantan Barat


Seorang pengarjin sedang membuat Kain Tenun Sambas

A. Asal-usul

Tenun ikat Sambas atau yang lebih akrab disebut Tenun Sambas, sebagaimana namanya, merupakan kerajinan tenun yang dihasilkan oleh masyarakat Sambas, Kalimantan Barat. Konon, kain ini telah ada sejak kesultanan Sambas dipimpin Sultan Sulaiman (http://www.pontianakpost.com). Sultan Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas pada tahun 1675 M dan memerintah selama selama 10 tahun, yaitu sampai tahun 1685, dengan gelar Sultan Muhammad Shafiuddin I (http://id.wikipedia.org). Namun, dengan melihat motif-motif tumbuhan yang sangat dominan pada Tenun Sambas, tenunan ini mungkin telah ada sebelum berdirinya Kesultanan Islam Sambas, yaitu ketika di Sambas masih berdiri kerajaan-kerajaan Hindu.[1] Jika Tenun Sambas telah ada pada masa Sultan Sulaiman memerintah kesultanan Sambas atau bahkan sebelumnya, maka Tenun Sambas hingga saat ini telah berumur lebih dari 300 tahun.

Keberadaan Tenun Sambas yang mampu melewati rentang waktu tiga abad menunjukkan bahwa tenunan ini mempunyai keistimewaan tertentu yang membuatnya senantiasa dilestarikan. Orang-orang Sambas menggunakan kain tenunan ini sebagai pelengkap pelaksanaan ritual adat, salah satunya adalah upacara adat perkawinan. Dalam upacara perkawinan, kain Tenun Sambas digunakan sebagai pelengkap barang antaran atau seserahan dari pihak mempelai lelaki kepada mempelai perempuan, dan kain cual dijadikan balasan barang antaran dari mempelai wanita ke pihak mempelai laki-laki (balas baki) (www.pontianakpost.com). Dengan digunakannya Tenun Sambas sebagai salah satu pelengkap ritul adat, maka tenunan ini merupakan teman orang-orang Sambas dalam mengarungi hidupnya. Dengan fungsinya tersebut, wajar jika Tenun Sambas terus (baca: harus) dilestarikan oleh masyarakat Sambas.  

Salah satu ciri khas Tenun Sambas adalah keberadaan pucuk rebung atau orang Sambas biasa menyebutnya suji bilang sebagai motifnya. Kain Tenun Sambas, menurut Suhaeri dengan mengutip Sahidah (dalam http://muhlissuhaeri.blogspot.com), selalu ada pucuk rebungnya. Motif pucuk rebung berbentuk segi tiga, memanjang dan lancip. Disebut pucuk rebung karena merupakan stilirisasi dari tunas bambu muda.  Penggunaan pucuk rebung sebagai ciri khas Tenun Sambas bukan sebuah kebetulan, tetapi memiliki makna yang luas dan mendalam. Sedikitnya ada tiga makna dari penggunaan motif ini sebagai ciri khas. Pertama, sebagai pengingat agar orang-orang sambas terus berupaya untuk maju. Pucuk rebung adalah bagian dari pohon bambu yang terus tumbuh dan tumbuh. Semangat trus tumbuh inilah yang ingin disampaikan oleh motif ini. Kedua, orang Sambas harus senantiasa berpikiran lurus, sebagaimana tumbuhnya pucuk rebung. Pucuk rebung selalu tumbuh lurus hingga menjulang tinggi. Ketiga, jika mencapai puncak tertinggi, tidak boleh sombong dan arogan, sebagaimana pohon bambu yang selalu merunduk ketika telah tinggi.


Beberapa bentuk motif pucuk rebung

Dalam membuat Tenun Sambas, keberadaan benang emas sangat penting. Benang emas digunakan untuk membuat bentuk dan penanda motif pada tenunan. Begitu pentingnya keberadaan benang emas dalam membuat Tenun Sambas, sehingga orang-orang Sambas menyebut tenun ini dengan nama kain bannang ammas (kain benang emas). Dalam http://muhlissuhaeri.blogspot.com disebutkan bahwa pada zaman dahulu, benang emas untuk membuat Tenun Sambas terbuat dari benang emas colok. Ciri dari benang ini ringan dan tahan lama, serta warnanya tidak mudah pudar walaupun telah berusia ratusan tahun.

Perubahan pola pikir manusia sebagai imbas dari pencapaian-pencapain yang dialami oleh manusia ternyata juga sedikit banyak berpengaruh terhadap keberadaan Tenun Sambas. Kemajuan peradaban dan teknologi bagai dua sisi mata uang, di satu sisi dia menyediakan beragam kesempatan, tetapi di sisi dia berpotensi mentiadakan yang pernah dihasilkan oleh manusia sebelumnya. Demikian juga Tenun Sambas. Jika keberadaan tenunan ini tidak “diperlukan” lagi, misalnya karena tidak memberikan nilai lebih bagi pewarisnya, maka mungkin saja tenun ini akan dibiarkan hilang tertelan zaman.  

Dalam www.pontianakpost.com disebutkan bahwa pada era 1970-80-an, Tenun Sambas mengalami kejayaan, sehingga relatif cukup banyak keluarga-keluarga di Sambas yang menjadi pengrajin Tenun Sambas. Namun, pada era 1990-an penjualan Tenun Sambas turun drastis, sehingga tidak lagi mampu menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena menjadi penenun tidak lagi menjanjikan secara ekonomi, sebagian besar dari para penenun tersebut memilih menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Malaysia dan Brunei Darussalam, karena menjadi TKI lebih menjanjikan secara ekonomi (www.kompas.com).  Menurut salah seorang pengrajin Tenun Sambas, Sahidah, di desanya hanya tinggal 15 pengrajin saja. Dari ke limabelas orang tersebut, hanya tiga pengrajin yang aktif hanya, dan sisanya akan membuat tenunan bila ada pesanan (http://muhlissuhaeri.blogspot.com).

Selain persoalan penjualan (distribusi) dan semakin langkanya para penenun akibat menjadi TKI, kendala lain yang menghadang eksistensi Tenun Sambas adalah ketersediaan bahan baku. Benang emas sebagai bahan utama membuat Tenun Sambas sangat sulit diperoleh dan, jikapun ada, harganya relatif mahal. Betapa sulitnya mendapatkan benang emas untuk membuat Tenun Sambas dapat dilihat dalam tulisan Suhaeri (http://muhlissuhaeri.blogspot.com).

“Pengrajin tidak bisa mendapatkan benang itu lagi. Sekarang ini, pengrajin menggunakan benang emas dari Jepang dan India. Benang dari Jepang cirinya tahan lama dan warnanya tidak pudar. Benang India kasar dan warnanya gampang berubah. Untuk mendapatkan benang, mesti memesan dari Jakarta..…. Bila ke sana, dia harus membeli benang minimal 50 kg, supaya tidak tekor uang perjalanannya. Dia tentu saja tidak sanggup membeli benang sebesar itu. Membeli benang secara eceran, tentu saja membuatnya tersendat melakukan proses produksi…”

Tenun Sambas memiliki warna-warna cerah cukup beragam, seperti warna merah manggis, orange, warna paru (pink), hijau dan hitam. Tenun ini dapat dipakai oleh kaum laki-laki maupun perempuan. Tenun Sambas yang dipakai untuk kaum perempuan biasanya berukuran panjang 200 cm dengan lebar 1,05 cm. Sedangkan Tenun Sambas untuk laki-laki berukuran panjang 150 cm dengan lebar 60 cm. Khusus untuk laki-laki, tenunan ini dipakai di pinggang dan berfungsi seperti sabuk, sehingga sering juga disebut juga kain sabuk.

Harga Kain Tenun Sambas bervariasi, tergantung pada kualitas bahan dan tingkat kesulitan motif tenunan. Kain Tenun Sambas untuk perempuan dengan kualitas biasa dan motif sederhana harganya sekitar 200 ribu, sedangkan yang berkualitas bagus dengan motif yang rumit  harganya sekitar 1,5 juta. Harga satu lembar Tenun Sambas dapat melonjak hingga 2 juta apabila pelanggan ingin mendapatkan motif khusus. Kain Tenun Sambas untuk kaum laki-laki dengan kualitas biasa harganya minimal 150 ribu, dan harganya 750 ribu untuk yang berkualitas bagus.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa Tenun Songket Sambas merupakan hasil pencapaian kreativitas masyarakat Sambas. Sejarahnya Tenun Sambas yang cukup panjang menjadi penutur bahwa keberadaan kain ini sangat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat Sambas. Selain mempunyai nilai adat yang tinggi, tenunan ini juga mempunyai nilai ekonomis tinggi yang dapat dikembangkan untuk menopang kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika para stakeholder terus melestarikan dan mengembangkan tenunan ini.

Walaupun memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomis yang tinggi, ternyata dalam perkembangannya kini eksistensi Tenun Sambas semakin mengkhawatirkan. Hal ini dapat dilihat dari semakin sedikitnya jumlah para pengrajin, bahan baku yang relatif mahal dan semakin sulit didapat, dan distribusi hasil produksi yang kurang diserap pasar. Ketiga hal ini harus segera dicarikan solusinya agar keberadaan Tenun Sambas tidak semakin tergilas oleh zaman, dan atau dilestarikan oleh pihak lain karena kita lalai menjaganya. 

Ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi problem tersebut. Pertama, untuk mengatasi semakin minimnya para pengrajin Tenun sambas, ada tiga hal yang dapat dilakukan, yaitu: (a) menjamin kesejahteraan pengrajin, sehingga dengan cara ini para pengrajin tidak perlu beralih profesi karena kebutuhan hidupnya terpenuhi. Kasus  eksodusnya para pengrajin Tenun Sambas ke Malaysia dan Brunei Darussalam karena pekerjaan menjadi pengrajin tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya merupakan kerugian sangat besar bagi masyarakat Sambas pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Bukan tidak mungkin, jika suatu saat nanti para pengrajin yang menjadi TKI ini di organisir oleh negara tujuan mereka untuk membuat ”Tenun Sambas”, dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan akan bermunculan Tenun Sambas made in Malaysia atau Brunei; (b) menggiatkan pelatihan keterampilan membuat Tenun Sambas. Dengan cara ini, di Sambas akan senantiasa tersedia para pengrajin Tenun Sambas. Ketersediaan para pengrajin ini, merupakan salah satu cara melestarikan dan mengembangkan Tenun Sambas; (c) menanamkan pada diri anak-anak Sambas rasa memiliki terhadap Tenun Sambas. Cara yang dapat dilakukan adalah melalui palajaran muatan lokal. Selain itu, dapat juga dengan melakukan kunjungan rutin ke sentra-sentra pengrajin Tenun Sambas. Internalisasi kecintaan anak-anak sekolah terhadap Tenun Sambas merupakan investasi strategis terjaminnya kelestarian tenunan ini, karena merekalah dalam jangka waktu 20 tahun mendatang yang akan membuat kebijakan. Jika mereka mempunyai kecintaan terhadap Tenun Sambas, maka ketika menjadi decision maker tentu keputusan-keputusan yang diambil akan berpihak pada pelestarian tenunan ini.


Pemerintah harus membuat regulasi agar
para pengrajin Tenun Sambas tidak beralih profesi,
dan anak-anak tertarik untuk menjadi penenun

Kedua, menjamin ketersediaan bahan baku Tenun Sambas. Ketersediaan bahan baku merupakan salah satu faktor penting bagi berlangsungnya proses produksi Tenun Sambas. Mustahil akan ada Tenun Sambas jika bahan baku yang diperlukan tidak ada. Oleh karena itu, pemerintah harus menjamin ketersediaan bahan baku ini. Jika selama ini para pengrajin harus membeli bahan baku ke luar daerah dengan harga yang mahal, karena selain untuk membeli benang juga harus membayar biaya transportasi yang relatif mahal, sehingga tidak sedikit pengrajin memilih menghentikan produksinya karena tidak sanggup membelinya (http://muhlissuhaeri.blogspot.com), maka pemerintah berkewajiban untuk memfasilitasi para pengarajin agar mudah mengakses bahan baku sehingga proses produksi dapat terus berlangsung. Ada banyak cara yang dapat dilakukan pemerintah, misalnya memproduksi sendiri bahan baku Tenun Sambas, sehingga para pengrajin tidak harus membeli ke luar kota, atau memberikan bantuan modal sehingga para pengrajin mampu membeli bahan baku tenunan tersebut.

Ketiga, memperluas wilayah distribusi hasil produksi. Hukum pasar mengatakan bahwa barang-barang produksi akan diterima oleh pasar, apabila keberadaan barang tersebut diterima oleh konsumernya. Demikian juga dengan Tenun Sambas. Tenunan ini akan diterima (diserap) pasar apabila keberadaannya diperlukan oleh konsumer. Jika tidak, maka jangan harap pasar akan menerima tenunan ini. Oleh karena itu, pengrajin Tenun Sambas harus mampu mengakomodir selera pasar, tentu saja tanpa meninggalkan ciri khas tenunan ini.

Ada tiga hal yang dapat dilakukan agar Tenun Sambas dapat diterima pasar. (a) Mengembangkan motif tenunan. Pengembanagan motif merupakan keharusan agar motif Tenun Sambas semakin banyak dan menarik. Dengan cara ini, Tenun Sambas akan mampu bersaing dengan produk-produk kain modern yang biasanya sangat menarik. Salah seorang pengrajin Kain Tenun Sambas misalnya, membuat motif dengan mengadopsi berbagai tanaman maupun hewan yang ada di sekitarnya, salah satu hasilnya adalah motif daun Gali yang bentuknya pipih dan memanjang. Tumbuhan ini banyak tumbuh di sekitar Sungai Sambas (http://muhlissuhaeri.blogspot.com). Agar motif hasil kreativitas masyarakat tersebut tidak dklaim oleh pihak lain, maka pemerintah seharusnya memfasiltasi agar motif tersebut mendapatkan perlindungan hukum (memiliki hak cipta). (b) Memperbanyak derivasi jenis produk. Untuk memperluas pasar Tenun Sambas, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memperbanyak derivasi produk yang dihasilkan. Jika selama ini hanya digunakan untuk baju bagi kaum perempuan, dan ”ikat pinggang” untuk laki-laki, maka untuk pengembangannya perlu dibuat derivasi produk yang lebih variatif, seperti taplak meja, peci, syal, dasi, sajadah, hiasan dinding, gordyn, hiasan dinding, dan lain sebagainya. (c) Menggencarkan promosi. Setelah motif diperbanyak, dan derivasi produk semakin beragam, maka hal lain yang harus dilakukan adalah mempromosikannya agar tenunan ini semakin dikenal oleh masyarakat. Dengan lebih dikenal, semakin besar peluang Tenun Sambas diminati pemakainya. 

Agar awet, tahan lama, dan warnanya tidak pudar, Kain Tenun Sambas harus diperlakukan secara khusus. Selain harus hati-hati dalam memakainya, kain ini tidak boleh dicuci dan dikucek. Andaikan terpaksa harus dicuci, maka cara mencucinya cukup dengan dibilas. Pada masa kini, cukup dengan dry laundry. Selain itu, kain ini tidak boleh dijemur di bawah terik matahari langsung, karena warna dan motifnya akan cepat memudar dan rusak. Cara menjemurnya cukup dengan diangin-anginkan saja. Demikian juga cara menyimpannya, harus dilakukan secara hati-hati.

B. Bahan-Bahan dan Peralatan

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Tenun Sambas, antara lain:

  • Kapas. Bahan ini merupakan bahan dasar untuk membuat tenunan. Kapas ini dipintal sehingga menjadi benang. Saat ini, para pengrajin tidak perlu lagi memintal kapas menjadi benang, karena benang untuk membuat tenunan telah banyak dijual di toko-toko.
  • Pewarna. Bahan ini diperlukan untuk mewarnai benang yang hendak digunakan untuk membuat Kain Tenun Sambas. Pewarnaan benang berdasarkan warna Kain Tenun Songket yang hendak dibuat. Dan biasanya, proses pewarnaan membutuhkan waktu relatif cukup lama. Saat ini, pengrajin tidak perlu lagi mewarnai benang sendiri, karena benang-benang dengan warna yang dibutuhkan saat ini telah banyak dijual di toko.
  • Benang emas. Keberadaan Kain Tenun Sambas tidak dapat dipisahkan dari benang jenis ini. Dalam Tenun Sambas, benang emas berfungsi sebagai pembatas dan pembentuk motif. Pada zaman dahulu, benang emas terbuat dari benang emas colok. Benang ini relative ringan, awet, dan warnanya tidak mudah pudar asalkan dirawat dengan baik. Namun, saat ini jenis benang ini sudah tidak ada lagi. Sekarang ini, pengrajin menggunakan benang emas dari Jepang dan India.  

Adapun peralatan yang diperlukan, antara lain:

  • Pemintal benang.
  • Gigi suri. Alat ini berbentuk berbentuk seperti sisir dan terbuat dari kulit enau atau kulit bemban. Digunakan untuk menyatukan benang pakan dengan benang lusin.
  • Alat songketan yang terbuat dari bulu landak. Alat ini digunakan untuk memindahkan atau menyalin motif kain dari pola ke benang lusin.
  • Alat tenun. Sebagaimana namanya, alat ini digunakan untuk membuat kain tenun.


Alat pemintal benang

C. Proses Pembuatan

Proses pembuatan Tenun Sambas relatif sukup sulit dan rumit. Untuk mempunyai keahlian menenun, seseorang membutuhkan waktu minimal dua tahun untuk belajar. Keahlian menenun sangat berpengaruh terhadap hasil tenunan yang dihasilkan. Semakin mahir seseorang menenun, motif tenunan yang dibuat juga biasanya semakin rumit dan sulit. Semakin sulit dan rumit motif yang dibuat, semakin mahal harga tenunan yang dihasilkan.

Waktu yang diperlukan untuk membuat satu lembar Tenun Sambas relatif bervariasi. Selain faktor kemahiran penenunnya, lamanya waktu yang diperlukan tergantung pada motifnya. Semakin sulit motifnya, semakin lama waktu yang diperlukan. Jika motifnya relatif sulit, dalam sebulan seorang penenun terkadang hanya mampu menghasilkan selembar Kain Tenun Sambas. Tapi jika motifnya biasa, selembar Kain Tenun Sambas  dapat diselesaikan dalam waktu dua minggu atau lebih cepat. Secara garis besar, ada tiga tahapan dalam pembuatan Kain Tenun Sambas, yaitu persiapan, pembuatan, dan pendistribusian.

1. Tahap Persiapan  

Pada tahap persiapan, ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Membuat motif tenunan yang hendak dibuat. Tahap paling awal dari proses pembuatan Tenun Sambas adalah membuat pola dan motif tenunan. Membuat pola dan motif harus dilakukan dengan teliti dan tidak asal menggambar. Biasanya motif itu digambar terlebih dahulu di kertas bergaris dan berkotak-kotak kecil. Ada strategi khusus agar motif dan pola yang dibuat dapat dipindah ke kain tenunan. Bila dalam membuat gambar motif salah, maka penempatan benangnya juga akan salah. Padahal, salah menempatkan satu benang saja, pekerjaan membuat motif tenunan harus diulangi dari awal.
  2. Mempersiapkan bahan-bahan. Setelah pola dan motif dibuat, maka tahap selanjutnya adalah mempersiapkan benang-benang, baik warna maupun banyaknya, yang diperlukan untuk membuat Kain Tenun Sambas. Mempersiapkan kebutuhan benang sesuai dengan kebutuhan untuk menghindari kekurangan benang pada proses pembuatan tenunan, sehingga proses pembuatan tidak terhambat dan tenunan selesai pada waktu yang telah ditentukan.
  3. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan. Keberadaan peralatan sangat menentukan kelancaran proses pembuatan tenunan. Biasanya, peralatan untuk menenun telah tersedia, sehingga yang diperlukan adalah mengecek jikalau ada masalah dengan peralatan-peralatan yang telah tersedia. 

2. Tahap Pembuatan


Proses pengerjaan Tenun Sambas membutuhkan
ketekunan dan konsentrasi tinggi

Setelah pola dan motif dibuat, benang-benang yang diperlukan disiapkan, dan peralatan telah siap pakai, maka proses pembuatan Kain Tenun Sambas dapat segera dimulai. Namun sebelum memulai proses penenunan, para pengrajin harus berada dalam konsentrasi penuh. Karena pada saat melakukan proses penenunan, seorang pengrajin harus teliti dan sabar agar tidak sekalipun melakukan kesalahan. Satu saja benang letaknya salah, maka harus dimulai lagi dari awal. Tahapan pembuatan Kain Tenun Sambas adalah sebagai berikut:

  1. Tahapan paling awal dari proses pembuatan Tenun Sambas adalah narraw atau memintal benang.
  2. Selanjutnya proses nganek, yaitu menggabungkan benang pakan dengan benang lusin. Alat yang digunakan untuk menggabungkan benang ini disebut gigi suri yang berbentuk seperti sisir dan terbuat dari kulit enau atau kulit bemban.
  3. Kemudian benang digulung dengan papan tandayan. Pekerjaan ini disebut nattar.
  4. Proses selanjutnya adalah ngubung, yaitu menghubungkan benang dari tandayan ke suri (merapatkan benang).
  5. Setelah itu para pengrajin mulai melakukan kegiatan menenun.
  6. Tahap paling akhir dari pembuatan Tenun Sambas adalah proses nyongket, yaitu membuat bunga dan memasukkan benang emas ke motif tenunan (http://muhlissuhaeri.blogspot.com dan www.pontianakpost.com).

Selesainya pemasangan benang emas pada motif yang dibuat, maka pembuatan Kain Tenun Sambas telah selesai. Selanjutnya Kain Tenun Sambas dapat dijual (atau diserahkan kepada pemesannya) atau diolah kembali sehingga menghasilkan produk turunan yang lebih variatif.  

3. Pendistribusian

Setelah Kain Tenun Sambas selesai dibuat, maka tahap selanjutnya adalah mendistribusikannya. Dalam pendistribusian, selain ditopang dengan pengemasan yang bagus, juga harus ditopang dengan pengenalan produk yang terus menerus. Tugas untuk menumbuhkan kecintaan dan kesadaran untuk menggunakan Kain Tenun Sambas, tidak saja tanggungjawab para pengrajinnya, tetapi juga segenap stakeholder.

D. Motif Tenunan

Konon, Kain Tenun Sambas hingga saat ini telah memiliki ratusan motif. Motif-motif Tenun Sambas yang saat ini cukup dikenal masyarakat, di antaranya Tepuk Pedada, Siku Keluang, Mata Punai, Awan Larat, Pucuk Rebung, Bunga Pecah, Bunga Melur, Biji Periak, Angin Putar, Ragam Banji, Bunga Cengkeh, dan Bunga Cempaka. Salah satu keunikan Tenun Sambas adalah walaupun memiliki banyak motif, motif pucuk rebung senantiasa menjadi tajuk dalam setiap helai Kain Tenun Sambas.

Berikut ini beberapa jenis Kain Tenun Sambas dengan beberapa motif yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat (http://rodifekon.blogspot.com).

1. Kain Telur Bunga Cangkring

Disebut Telur Bunga Cangkring karena kain ini memiliki motif bunga-bunga cangkring yang disusun dalam satu bundaran berbentuk telur warna hitam dengan kombinasi pucuk rebung. Kain ini sangat cocok dipakai pada waktu menghadiri kegiatan-kegiatan yang dilaksananakan pada malam hari. Dengan memakai kain ini, seseorang akan terlihat berwibawa.


Kain Tenun Sambas ini memiliki beberapa motif, antara lain: pucuk rebung,
tahi lalat, talok mata ayam, tabur bunga melati kecil, bunga tanjung,
bunga malek, bunga cangkring, dan bunga mawar merah.

2. Kain Rantai Mas

Kain Rantai Mas ini memiliki warna dasar hijau. Kain ini biasanya dipakai oleh kaum wanita untuk menghadiri acara-acara penting, seperti menghadiri undangan dari pembesar suatu daerah atau undangan dari raja.


Kain Tenun Sambas ini merupakan perpaduan beberapa motif,
seperti: pucuk rebung, tahi lalat (berbentuk titik), bunga telur mata ayam,
tujuh tabur bunga melati kecil di tengah- tengah, bunga tanjung,
bunga malek, dan bunga cangkring.

3. Kain Mahkota Berawan


Motif yang paling menonjol dan khas pada kain ini adalah dua ekor burung yang bertengger diatas mohkota raja yang selimuti awan. Menandakan kemerdekaan dan kemakmuran.

4. Kain Sabuk Rantai Berbintang

Kain Tenun Sambas ini biasanya dipakai oleh kaum pria untuk melengkapai baju teluk belanga (baju khas Melayu). Kain yang memiliki warna dasar ungu ini memiliki ukuran setengah dari kain biasa, dan biasanya dipakai lewat batas lutut atau setengah saja.


Tenunan Sabuk Rantai Berbintang ini merupakan kombinasi dari
beberapa motif, seperti: pucuk rebung, tahi lalat, talok mata ayam,
tabur bunga melati kecil, bunga tanjung, bunga malek, bunga cangkring,
dan bunga mawar merah

5. Kain Sabuk Bintang Timur

Kain ini memiliki warna dasar merah muda dengan motif bintang yang sangat mencolok, sehingga mengandung makna cita-cita yang luhur. Oleh karena itu, kain ini sangat cocok dipakai oleh anak- anak yang menjelang baliqh.


Tenunan ini diperkaya oleh beberapa motif, seperti: pucuk rebung,
tahi lalat (berbentuk titik), bunga telur mata ayam, tabur bunga,
bunga tanjung, dan bunga cangkring.

E. Nilai-nilai

Kain Tenun Sambas merupakan salah satu hasil dari kreativitas masyarakat Sambas, Kalimantan Barat, dalam menuangkan ide-ide yang dipahami dan dihayati dalam selembar kain. Oleh karenanya, dengan demikian memperhatikan dan membaca motif-motif yang terhampar dalam selembar Kain Tenun Sambas, kita dapat mengetahui nilai-nilai yang dihayati dan berkembang dalam masyarakat Sambas. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah nilai sakral, sejarah, pemahaman terhadap alam, kreatifitas, inklusifitas, dan nilai ekonomis.

Pertama, nilai sakral. Kain Tenun Sambas merupakan salah satu perlengkapan dari pelaksanaan ritual adat dan keagamaan masyarakat Sambas. Dengan kata lain, keberadaan tenunan ini sangat diperlukan untuk mensukseskan pelaksanaan ritual adat atau keagamaan. Oleh karena itu, keberadaan tenunan ini merupakan pengejawantahan dari keyakinan masyarakat Sambas.

Kedua,  nilai pemahaman terhadap alam. Dengan melihat dan membaca motif pada Kain Tenun Sambas, maka kita mengetahui kondisi alam di mana masyarakat Sambas hidup dan membangun kebudayaannya. Alam bagi para pengrajin Tenun Sambas merupakan sumber inspirasi untuk menciptakan motif-motif tenunan. Sehingga dengan demikian, dengan melihat dan mempelajari motif Kain Tenun Sambas, kita akan mengetahui flora dan fauna di Sambas dari masa ke masa.

Ketiga, nilai kreatifitas dan ketekunan. Ragam hias dan motif pada Tenun Sambas merupakan bukti dari kreativitas masyarakat Sambas. Mereka menghayati alam dan ”melukiskannya” dalam selembar kain. Proses memindahkan ”lukisan” alam ke dalam selembar kain bukan pekerjaan mudah, tetapi memerlukan ketekunan dan kreatifitas tinggi.

Keempat, nilai ekonomi. Dalam paradigma ekonomi kreatif, maka kreatifitas mempunyai nilai ekonomi tinggi. Hal inilah yang nampaknya mulai disadari oleh masyarakat Sambas. Tenun Sambas tidak saja memiliki nilai kultural, tetapi juga nilai ekonomis tingi. Oleh karena itu, yang diperlukan saat ini adalah menggali nilai-nilai ekonomi yang dikandungnya, sehingga keberadaan kain ini dapat memberikan manfaat lebih kepada masyarakat. Sebagai sumber ekonomi, maka Kain Tenun Sambas tidak hanya memberikan kebanggaan secara budaya (imateriil) kepada masyarakat, tetapi juga yang bersifat ekonomi (materiil).

F. Penutup

Tenun Sambas merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang diyakini, hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Sambas. Tenunan ini juga menjadi media untuk mewariskan nilai-nilai tersebut, sehingga dapat menjadi landasan generasi sesudahnya untuk hidup dan membangun kebudayaan yang lebih baik tanpa tercerabut dari akar lokalitasnya. Melihat begitu pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam tenunan ini, maka seyogyanyalah jika kain ini terus dilestarikan.

Ahmad Salehudin (bdy/48/XI/2009)

Kredit Foto:

Daftar Bacaan:



[1] Sebelum Sultan Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas pada tahun 1675 M, di wilayah Sambas sejak abad XIII telah berdiri kerajaan-kerajaan Hindu, seperti Kerajaan Nek Riuh, Kerajaan Tan Unggal, dan Panembahan Sambas (http://id.wikipedia.org dan http://ratulanun.blogspot.com).

Dibaca : 38.811 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password