Rabu, 1 Oktober 2014   |   Khamis, 6 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.453
Hari ini : 8.755
Kemarin : 22.967
Minggu kemarin : 241.277
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.177.817
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Adat Mandi Safar pada Masyarakat Ketapang, Kalimantang Barat


Ritual Mandi Safar di pantai

1. Asal Usul

Salah satu upacara adat yang terdapat di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat, adalah tradisi Mandi Safar. Tradisi ini telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Ketapang karena dipercaya sebagai upaya menolak bala di bulan Safar. Bulan Safar dipercaya sebagai bulan yang banyak mengandung bahaya. Oleh karenanya, Mandi Safar ditujukan untuk membersihkan diri agar terhindar dari bahaya (bala) tersebut.

Di kalangan masyarakat Ketapang, tradisi yang dilakukan pada bulan kedua dalam penanggalan kalender Hijriyah ini erat kaitannya dengan budaya Islam. Meskipun tidak termasuk kewajiban dalam hukum Islam, tetapi tradisi Mandi Safar sangat kental dengan nuansa Islam. Misalnya saja asal-usul Mandi Safar diambil dari beberapa kejadian yang dialami para nabi terdahulu yang terjadi pada bulan Safar, seperti diselamatkannya kapal Nabi Nuh dari bahaya banjir, terhindarnya Nabi Ibrahim dari api, dan lolosnya Nabi Musa dan Harun dari kejaran tentara Fir’aun dengan cara membelah Laut Merah (M. Natsir, 2007:33).

Mengambil hikmah dari beberapa kejadian yang menimpa para nabi terdahulu, masyarakat di Ketapang percaya bahwa bulan Safar mengandung banyak bahaya. Untuk menghindarkan diri dari bala, maka ditempuh beberapa cara seperti memanjatkan doa, menambah amalan dengan cara berdzikir, dan melakukan ritual mandi.

Hari Rabu minggu terakhir di bulan Safar menjadi hari yang penting dalam tradisi Mandi Safar. Pada hari inilah tradisi Mandi Safar dilakukan. Belum diketahui secara jelas asal-usul pengambilan hari Rabu minggu terakhir di bulan Safar untuk dipakai sebagai hari pelaksanaan ritual Mandi Safar. Hanya saja, menurut H. Abdurrahman bin H. Abdul Aziz dalam kitab Jawahir, disebutkan bahwa Allah SWT menurunkan 320.000 bala pada setiap tahunnya dan sebagian besar diturunkan pada hari Rabu terakhir bulan Safar (http://www.harianberkat.com/)

Berawal dari kepercayaan akan kejadian di masa lalu dan banyaknya bala yang turun pada bulan Safar, maka beberapa ritual adat dilakukan untuk mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu sekaligus menghindarkan diri dari datangnya bala. Ritual Mandi Safar yang dilakukan oleh masyarakat Ketapang merupakan salah satu cara untuk menghindarkan diri dari bala tersebut.  

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Upacara Mandi Safar dilakukan pada hari Rabu minggu terakhir di bulan Safar (Natsir, 2007:32). Pada hari tersebut, masyarakat yang akan melakukan ritual Mandi Safar tidak melakukan pekerjaan sebagaimana biasanya. Mereka hanya menunggu sampai waktu Mandi Safar tiba, sambil menyiapkan segala peralatan untuk Mandi Safar.

Umumnya ritual Mandi Safar dilakukan di beberapa tempat, seperti di pantai, muara sungai, persimpangan aliran sungai, parit-parit kecil, maupun di dalam rumah (kamar mandi)  (Natsir, 2007:34-36). Kadangkala sebelum memutuskan untuk menentukan tempat Mandi Safar, terlebih dahulu diadakan pertemuan warga. Dalam pertemuan tersebut diputuskan untuk menunjuk lokasi tertentu sebagai tempat untuk mengadakan Mandi Safar.

Tidak jarang hasil akhir keputusan rapat menunjuk suatu tempat pelaksanaan ritual Mandi Safar yang jauh dari dari kampung di mana masyarakat setempat tinggal. Meskipun demikian para warga tetap menjunjung tinggi hasil keputusan rapat dan berusaha melaksanakannya dengan sistem gotong royong. Misalnya saja para warga melakukan iuran untuk menyewa beberapa bus yang nantinya akan dijadikan sebagai sarana transportasi ke tempat pelaksanaan Mandi Safar (Natsir, 2007:36).

3. Peralatan dan Bahan

Seperti dikutip dalam Natsir (2007), sebelum pelaksanaan ritual Mandi Safar, terlebih dahulu disiapkan beberapa peralatan upacara yang terdiri dari:

1. Air tolak bala.

Air yang dimaksud adalah air bersih yang digunakan untuk mandi. Air ini dimaksudkan sebagai sarana untuk membersihkan diri (melunturkan) dari bala.

2. Air doa.

Air doa merupakan air bersih yang telah diberi mantra (doa). Air ini kemudian diminum oleh orang-orang yang mengikuti ritual Mandi Safar.

3. Daun menjuang.

Daun menjuang merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Kalimantan Barat. Daun yang bentuknya lebar ini kemudian ditulisi dengan tulisan arab yang diambil dari ayat dalam Al-Qur’an yang disebut dengan Salamun Tujuh (tujuh kesejahteraan).


Daun Menjuang

Selain digunakan sebagai alat dalam Mandi Safar, daun menjuang juga digunakan sebagai alat dalam upacara tolak bala pada masyarakat Melayu Sambas. Daun tersebut dijadikan alat pemercik tepung mawar yang digunakan untuk menolak bala. Tepung mawar adalah  tepung beras yang dihaluskan kemudian dicampur dengan kasai langgir dan diseduh dengan air bersih (http://wisatasambas.wordpress.com/).  

4. Ketupat lemak dan kue-kue tradisional.

Makanan ini digunakan sebagai pelengkap karena Mandi Safar merupakan tradisi di mana banyak orang berkumpul untuk melakukan ritual Mandi Safar, mulai dari keluarga, para pendatang, sampai orang-orang dari berbagai suku. Sebagai media interaksi, biasanya para peserta Mandi Safar akan saling menawarkan kue tradisonal atau ketupat lemak kepada para peserta Mandi Safar (Natsir, 2007:40). 

4. Prosesi Upacara

Bisa dikatakan prosesi ritual Mandi Safar telah dimulai sejak subuh di hari Rabu minggu terakhir pada bulan Safar. Setelah salat Subuh, orang-orang yang akan melakukan ritual Mandi Safar menyiapkan segala macam peralatan dan bersiap menuju tempat yang telah menjadi kesepakatan, baik secara rombongan maupun individu.

Secara umum, tempat pelaksanaan Mandi Safar dapat dikategorikan pada dua tempat, yaitu di dalam dan di luar rumah. Ritual Mandi Safar di dalam rumah biasanya dilakukan di kamar mandi layaknya mandi besar pada umumnya. Sedangkan ritual Mandi Safar yang dilakukan di luar rumah, sebagaimana telah dijelaskan dalam sub-bab tempat, dilakukan di sungai, parit, maupun pantai. Meskipun terdapat dua tempat sebagai lokasi pelaksanaan, akan tetapi pada dasarnya prosesi Mandi Safar memiliki persamaan di antara keduanya.

Prosesi pertama dari ritual Mandi Safar adalah mempersiapkan daun menjuang yang selanjutnya diserahkan kepada tetua kampung atau orang yang dianggap memiliki ilmu agama yang cukup tinggi. Selanjutnya daun menjuang ditulisi potongan ayat Al-Qur’an yang disebut dengan Salamun Tujuh (tujuh kesejahteraan). Penulisan di atas daun menjuang mempergunakan benda-benda keras seperti lidi yang dibuat menyerupai pensil dengan ujung yang dilancipkan (Natsir, 2007:38). 

Tahap selanjutnya yaitu merendam daun menjuang ke dalam air bersih. Air yang telah direndam daun menjuang selanjutnya dipergunakan untuk Mandi Safar atau diminum. Masyarakat yang melaksanakan ritual Mandi Safar percaya bahwa bala dapat dihindari dengan cara meminum atau mandi dengan air rendaman daun menjuang. Selain direndam ke dalam air bersih, fungsi daun menjuang sebagai tolak bala juga bisa dilakukan dengan cara menggantungnya di atas pintu rumah (Natsir, 2007:38).

Sedangkan untuk proses mandi tidak diatur dengan syarat khusus. Mandi Safar dilakukan seperti halnya mandi besar pada umumnya. Yang penting seluruh bagian tubuh dari ujung rambut kepala sampai ujung kaki dibasahi dengan air. Tujuannya adalah menghanyutkan bala seiring dengan guyuran air bersih yang dilakukan saat mandi.

Sedikit berbeda dengan orang-orang yang melakukan ritual Mandi Safar di rumah, keluarga yang bertempat tinggal jauh dari lokasi ritual Mandi Safar biasanya menyiapkan bekal makanan, seperti kue maupun ketupat lemak. Kue maupun ketupat ini nantinya dijadikan bekal perjalanan maupun dimakan setelah sampai di lokasi. Kue maupun ketupat ini nantinya tidak hanya dimakan oleh anggota dalam satu keluarga, melainkan bisa ditukar maupun dibagikan kepada keluarga yang lain, bahkan tidak jarang kepada orang-orang yang tidak dikenal sekalipun.

5. Doa-Doa

Dalam prosesi Mandi Safar, sebelum acara mandi besar dilakukan, terlebih dahulu tetua adat memimpin doa memohon keselamatan untuk menghindarkan diri dari bala. Doa keselamatan dirangkum ke dalam satu istilah yang disebut dengan doa Salamun Tujuh. Doa Salamun Tujuh mengandung makna permohonan untuk kesejahteraan bagi seluruh alam; ucapan syukur kepada nabi dan rasul yang terhindar dari bahaya; dan untuk menghindarkan diri dari bala yang terjadi pada hari-hari yang dianggap nahas, yaitu mulai terbitnya matahari pada hari Rabu sampai keesokan harinya (hari Kamis) (Natsir, 2007:40).

6. Pantangan dan Larangan

Pantangan dan larangan yang umumnya diketahui oleh masyarakat di Ketapang sebagai pelaku ritual Mandi Safar adalah tidak melakukan pekerjaan dengan risiko tinggi, tidak mencari nafkah di laut, dan tidak menyakiti binatang. Pantangan atau larangan tersebut dimaksudkan untuk menghindari malapetaka yang menimpa para warga (Natsir, 2007:40).

7. Nilai

Seperti dikutip dalam Natsir (2007), beberapa nilai yang terkandung dalam ritual Mandi Safar adalah:

  1. Mandi melambangkan hakikat penyucian diri dan mengambil berkah dari apa yang pernah dirasakan oleh para nabi dan rasul pendahulu.
  2. Ketupat melambangkan perginya bencana yang datang menimpa keluarga.
  3. Daun menjuang yang ditulisi Salamun Tujuh (tujuh kesejahteraan) mengandung makna permohonan untuk kesejahteraan bagi seluruh alam; ucapan syukur kepada nabi dan rasul yang terhindar dari bahaya; dan untuk menghindari diri dari bala yang terjadi pada hari-hari yang dianggap nahas, yaitu mulai terbitnya matahari pada hari Rabu sampai keesokan harinya (hari Kamis) (Natsir, 2007:40).

8. Penutup

Ritual adat Mandi Safar merupakan salah satu tradisi di kalangan masyarakat di Ketapang, Kalimantan Barat. Ritual ini telah menjadi tradisi yang turun-temurun dilakukan oleh masyarakat pelestarinya.

Safar dipandang sebagai bulan yang mengandung banyak bala. Oleh karenanya masyarakat di Ketapang berusaha untuk menghindarkan diri dari pengaruh bala. Salah satunya adalah melakukan ritual Mandi Safar. Masyarakat Ketapang percaya bahwa air yang digunakan untuk mandi dapat berfungsi sebagai media untuk melunturkan bala seiring dengan mengalirnya air dari ujung rambut kepala sampai ujung kaki.

Hari Rabu minggu terakhir adalah waktu di mana masyarakat Ketapang melakukan ritual Mandi Safar. Mulai pagi hari setelah salat Subuh, masyarakat yang akan melakukan ritual Mandi Safar telah mempersiapkan segala jenis peralatan yang digunakan untuk menunjang ritual Mandi Safar. Beberapa persiapan di antaranya adalah daun menjuang dan ketupat lemak.

(Tunggul Tauladan/Bdy/01/01-2010)

Referensi

  • “Air Salamun Tujuh tradisi menolak bala” dalam Harian Berkat edisi 7 Maret 2008, diunduh dari http://www.harianberkat.com pada 12 Janari 2010.
  • “Tepung Mawar masyarakat Sambas,” diunduh pada tanggal 4 Januari 2010 dari http://wisatasambas.wordpress.com.
  • M. Natsir. 2007. Upacara adat dan kesenian khas masyarakat Kayong Kabupaten Ketapang. Pontianak: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Sumber Foto

  • http://kotimkab.go.id
  • M. Natsir. 2007. Upacara adat dan kesenian khas masyarakat Kayong Kabupaten Ketapang. Pontianak: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Dibaca : 10.879 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password