Selasa, 12 Desember 2017   |   Arbia', 23 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 2.920
Hari ini : 19.366
Kemarin : 37.335
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.950.882
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rumah Adat Takpala (Abui)

a:3:{s:3:

1. Asal-Usul

Kampung tradisional Takpala adalah sebuah permukiman adat yang berlokasi di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyarakat Alor pada awalnya dibentuk berdasarkan keluarga inti yang terdiri dari bapak, ibu, dan anak. Keluarga inti ini secara tradisional memilih tempat menetap yang berpisah-pisah. Namun, sering juga didapati beberapa keluarga yang hidup bersama-sama dan membentuk klan yang tidak lain merupakan perluasan dari keluarga inti.

Klan adalah kesatuan geneologis yang menetap di satu tempat tinggal dan menunjukkan adanya integrasi sosial serta merupakan kelompok kekerabatan yang besar. Kelompok kekerabatan dalam suatu klan biasanya terdiri dari semua keturunan seorang nenek moyang yang diperhitungkan dari garis keturunan laki-laki atau bisa juga wanita. Dalam tradisi masyarakat Alor, pembentukan klan didasarkan dari garis keturunan ayah dan masing-masing menetap di dalam satu rumah adat (www.alorkab.go.id).

Penduduk yang mendiami kampung Takpala di Kabupaten Alor adalah Suku Abui. Menurut kepercayaan warga lokal, Suku Abui adalah suku pendiri kerajaan tertua di Alor yang dibangun di pedalaman pegunungan Alor, yaitu Kerajaan Abui (www.alorkab.go.id). Meski pada akhirnya riwayat Kerajaan Abui berakhir, namun Suku Abui masih tetap eksis. Besar kemungkinan, orang-orang Suku Abui yang mendiami wilayah Takpala sekarang adalah keturunan dari penduduk Kerajaan Abui.

Masyarakat Suku Abui dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Suku Kapitang atau suku perang, Suku Aweni yang terdiri dari kaum raja/bangsawan, dan Suku Marang atau suku perantara. Setiap suku memiliki kewenangan sesuai kedudukannya masing-masing. Biasanya, ketiga kelompok suku ini saling berinteraksi saat menjalankan suatu pekerjaan. Sebagai kalangan bangsawan, misalnya, Suku Marang memberi perintah kepada Suku Aweni untuk disampaikan kepada Suku Kapitang agar pergi berperang (Albert Jata dalam Bentara Wisata, 2007).

Di kampung adat Suku Abui di Takpala masih banyak terdapat rumah tradisional yang digunakan sebagai tempat tinggal dan kini menjadi komoditas wisata andalan Kabupaten Alor. Masyarakat Takpala yang masih memegang teguh adat dan tradisi akan menyajikan atraksi budayanya yang khas ketika menyambut para tamu yang datang. Keramahan dan kehangatan dari penduduk lokal inilah yang membuat Takpala sering dikunjungi para pelancong, petualang, serta peneliti dari dalam dan luar negeri (www.nttprov.go.id).

Salah satu keunikan yang menjadi daya tarik kampung Takpala adalah rumah adat Suku Abui. Rumah adat ini berupa rumah panggung dan berbentuk seperti piramida. Secara umum, rumah adat di Takpala terdiri dari tiga macam, yakni rumah adat Kolwat, Kanuarwat, dan rumah gudang atau Fala‘. Ketiga bangunan tradisional ini memiliki fungsi dan peran masing-masing dalam kehidupan keseharian maupun untuk kebutuhan ritual masyarakat Suku Abui. Saat ini, di kampung tradisional Takpala terdapat 12 hingga 15 rumah adat yang masing-masing dihuni oleh sekitar 13 kepala keluarga (Jata, 2007; www.ascensionatsea.net).

Tata letak bangunan tradisional Takpala cukup unik dan menarik. Rumah-rumah adat itu didirikan dan disusun dengan pola menyebar di mana bangunan-bangunan itu dibangun mengelilingi topografi tanahnya. Pola pengaturan bangunan yang seperti ini dikenal dengan pola linear (Met Eman, 2009, www.arsitekturntt.com). Rumah-rumah adat Suku Abui di Takpala didirikan dalam posisi menghadap ruang bersama yang disebut Mesang sebagai tempat berkumpul seluruh warga Suku Abui.

Sentral dari susunan penataan rumah-rumah adat Takpala adalah Mesbah, yakni tiga batu bersusun yang disucikan oleh warga Suku Abui. Rumah-rumah adat Suku Abui dibangun dengan posisi menghadap Mesbah yang terletak di tengah-tengah Mesang. Selain itu, posisi rumah adat juga simetris terhadap peletakan bangunan lainnya, yakni didirikan di sisi kiri sisi kanan Mesang (Eman, 2009, www.arsitekturntt.com). Keberadaan rumah adat Suku Abui di Takpala tidak berdiri sendiri. Rumah adat Suku Abui menjadi bagian dari rangkaian pola permukiman  adat sebagai salah satu unsur penting dari sejumlah benda atau bangunan lainnya.


Warga Abui Berkumpul di Mesang dan Menghadap Mesbah
dengan Latar Belakang Rumah Adat.

2. Tenaga dan Bahan

Rumah-rumah adat yang masih banyak berdiri di Takpala dibangun secara kolektif oleh sejumlah keluarga inti yang membentuk satu klan kecil. Di lingkungan perkampungan Suku Abui di Takpala, beberapa klan kecil ini hidup berdampingan di satu lingkungan yang sama di mana rumah-rumah mereka didirikan dengan posisi menghadap ke Mesang dan Mesbah. Tiap-tiap klan kecil menempati satu rumah adat yang disebut Fala‘ (rumah gudang), yakni rumah tinggal yang juga berfungsi ganda sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga dan persediaan bahan makanan. Fala‘ adalah salah satu dari tiga rumah adat yang dikenal dalam Suku Abui. Kedua rumah adat Suku Abui yang lain akan dijelaskan pada bagian berikutnya.

Bahan yang digunakan untuk membuat rumah panggung Suku Abui di Takpala adalah kayu, bambu, serta rumput ilalang sebagai bahan dinding dan atap. Sebagai penopang agar bangunan dapat berdiri tegak adalah enam tiang yang terbuat dari kayu merah (Jata, 2007). Masing-masing tiang diberi papan yang berfungsi untuk menghadang hama tikus. Untuk membangun kerangka rumah, digunakan kayu dan bambu yang diikat dengan tali dari tanaman merambat yang diambil dari hutan. Tali yang sama namun dengan ukuran yang lebih kecil juga digunakan untuk mengikat lantai bambu, sedangkan untuk tiang utama digunakan tali pengikat yang lebih besar. Anyaman bambu yang disusun secara melebar memang digunakan sebagai bahan untuk melapisi lantai di bagian dalam rumah. Keistimewaan dari rumah adat Suku Abui adalah rumah-rumah itu dibangun dan bisa berdiri tegak tanpa menggunakan paku (Eman, 2009, www.arsitekturntt.com).

Bangunan Suku Abui juga memanfaatkan tanah tebal untuk melapisi bagian lantai yang digunakan sebagai tempat tungku untuk keperluan dapur. Rumah adat Suku Abui tidak mempunyai ventilasi sehingga ruangan akan dipenuhi asap pada saat melakukan aktvitas memasak di dapur. Namun, asap tersebut akan hilang perlahan-lahan dengan sendirinya melalui dinding alang-alang yang tebal. Jadi, tidak mengherankan jika dinding ruangan di dalam rumah menjadi berwarna hitam pekat. Penduduk setempat meyakini bahwa lapisan hitam yang gelap itu justru akan membuat dinding semakin kuat. Kenyataannya memang demikian, dinding dan atap rumah adat Suku Abui yang terbuat dari alang-alang itu cukup kokoh menahan terpaan air hujan (Rohmat Haryadi, 2007, www.katcenter.info).

3. Persiapan dan Pemilihan Tempat

Dalam tradisi adat Suku Abui, membangun rumah adat bukan hanya terkait dengan persoalan fisik semata. Proses mendirikan rumah adat bagi Suku Abui di Takpala tidak cuma sekadar menegakkan tiang sebagai tonggak, memasang atap, ataupun merapikan lantai. Lebih dari hal-hal yang bersifat teknis, pembangunan rumah adat Suku Abui juga memerlukan ritual persiapan dan dukungan sosial dari seluruh komponen masyarakat. Ritual dan dukungan sosial yang melibatkan banyak orang itu terlihat dari prosesi Tari Lego-Lego yang wajib dilakukan sebelum, selama, dan sesudah pembangunan rumah adat (Jata, 2007).

Tari Lego-Lego adalah tarian sakral yang menjadi ciri khas warga Suku Abui. Dalam tiap-tiap acara adat yang dihelat warga Suku Abui, termasuk dalam pembangunan rumah adat, tarian ini menjadi ritual yang tidak boleh ditinggalkan. Bagi orang-orang Suku Abui, Tari Lego-Lego merupakan lambang kekuatan persatuan dan persaudaraan. Para penari Lego-Lego, kaum pria maupun wanita, memakai busana adat Suku Abui. Selain itu, rambut kaum perempuan dibiarkan terurai. Di kaki para penari dipasang gelang perak yang akan memantulkan bunyi gemerincing jika digerakkan. Tetabuhan gong dan gendang dari kuningan (moko) mengiringi aksi para penari yang bergerak rancak sambil mengumandangkan lagu dan pantun dalam bahasa adat setempat (Jata, 2007). Demikianlah, tarian suci ini dilakukan pada saat-saat tertentu dan mengiringi proses pembangunan rumah adat Suku Abui di Takpala.

Sedangkan mengenai pemilihan tempat, rumah adat Suku Abui harus didirikan dengan menghadap ke ruang umum. Di tengah-tengah ruang publik itu telah ditempatkan tumpukan batu Mesbah yang menjadi sentral kehidupan adat Suku Abui. Salah satu pintu rumah Suku Abui harus menghadap ke arah Mesang dan Mesbah sehingga tata letak rumah-rumah di permukiman  masyarakat adat Takpala terlihat berjajar melingkar dengan mengelilingi Mesang dengan Mesbah sebagai pusatnya.


Tari Lego-Lego, Mengiringi Pembangunan Rumah Adat

4. Pola Susunan Rumah Adat

Terdapat komponen-komponen penting yang membentuk pola perkampungan masyarakat Suku Abui di Takpala, antara lain:

a. Mesang

Dalam pola permukiman  Suku Abui di Takpala, terdapat ruang publik yang terletak di pelataran terbuka. Ruang umum inilah yang disebut sebagai Mesang yang letaknya sangat strategis. Mesang berfungsi sebagai sarana komunikasi atau kontak sosial di dalam kehidupan bermasyarakat Suku Abui di Takpala. Pelataran Mesang berbentuk agak bulat telur (oval) dengan diameter memanjang kurang lebih 12 meter. Di tengah-tengah Mesang inilah ditempatkan Mesbah yang berupa tumpukan batu. Rumah-rumah adat di Takpala didirikan melingkar di sepanjang tepi Mesang dengan mengelilingi Mesbah yang berfungsi sebagai pusat.

Pada upacara-upacara adat Suku Abui, Mesang biasanya digunakan untuk tempat duduk warga Suku Abui atau sebagai tempat melakukan pementasan seni budaya, seperti Tari Lego-Lego dan lain-lainnya. Dengan demikian, selain berfungsi sebagai ruang publik, Mesang juga merupakan altar suci yang digunakan untuk menyelenggarakan upacara-upacara adat yang bersifat religius (Eman, 2009, www.arsitekturntt.com).

b. Mesbah

Seperti yang telah sedikit dijelaskan pada bagian sebelumnya, Mesbah merupakan sentral dari susunan penataan rumah-rumah adat di Takpala. Mesbah berupa tiga batu bersusun yang disucikan oleh warga Suku Abui, di mana rumah adat dibangun dengan posisi menghadap Mesbah yang terletak di tengah-tengah Mesang. Antara Mesbah dan Mesang memang terdapat hubungan yang sangat erat dalam tradisi Suku Abui. Dua perangkat budaya ini menjadi simbol persekutuan serta pusat pembentukan mental dan spiritualitas yang beradab (Lazarus Fanlehi, 2005).

Mesbah terbuat dari batu kali atau lempengan-lempengan batu yang ditumpuk dalam posisi melingkar, oval, atau persegi. Oleh para ahli arkeologi, Mesbah diyakini sebagai salah satu produk peradaban megalitikum (zaman batu besar). Ukuran Mesbah bervariasi, misalnya Mesbah yang ada di Takpala memiliki ukuran tinggi 70 cm dengan diameter 185 cm. Pada bagian atas atau puncak Mesbah ditanam tiga buah batu dalam posisi berdiri sehingga menyerupai menhir (tugu batu) yang oleh masyarakat setempat disebut dengan nama kameng halifi. Tradisi mengeramatkan Mesbah sebenarnya tidak hanya berlaku di Takpala saja, melainkan dikenal juga di beberapa tempat atau suku lain yang ada di Kabupaten Alor. Meskipun kini sudah banyak penduduk Alor yang memeluk agama Islam, namun peran Mesbah seolah-olah tidak tergantikan dan masih disucikan sebagai sarana mediasi antara manusia dengan dewa atau arwah nenek moyang (www.digilib.petra.ac.id).

Fungsi utama Mesbah adalah sebagai tempat upacara atau altar pemujaan yang sifatnya sangat sakral, yakni seperti upacara menolak bala, upacara mengusir wabah, upacara memohon kesuburan tanaman, upacara memohon keberhasilan dalam perang, pertemuan atau rapat para tetua adat, dan lain sebagainya. Pada zaman dahulu, upacara-upacara ini biasanya disertai dengan mengorbankan binatang, bahkan manusia, dan menggunakan berbagai kelengkapan upacara lainnya seperti sirih, pinang, nasi, dan telur, dengan diiringi pengucapan doa-doa oleh seorang pemimpin upacara yang disebut Marang (Eman, 2009, www.arsitekturntt.com).

Konon, Mesbah yang sudah ada sejak zaman prasejarah tersebut dibangun dengan mengorbankan kepala manusia sebagai tumbal. Menurut cerita rakyat yang beredar, pada zaman dahulu Mesbah digunakan untuk menanam kepala musuh yang kalah perang. Oleh sebab itu, Mesbah menjadi benda yang dikeramatkan Suku Abui. Mesbah yang berjumlah tiga merupakan simbol dari tiga kelompok dalam Suku Abui, antara lain Suku Kapitang (suku perang), Suku Aweni (suku raja/bangsawan), dan Suku Marang (suku perantara). Saat menarikan Lego-Lego, Suku Abui mengelilingi Mesbah sebagai tanda penghormatan.

c. Rumah Adat Kolwat

Seperti diketahui, keberadaan Mesang dan Mesbah terkait erat dengan tata letak pembangunan rumah adat Suku Abui di Takpala. Rumah-rumah adat harus dibangun dengan posisi melingkari Mesang dan menghadap ke Mesbah sebagai sentral. Rumah adat Suku Abui di Takpala terdiri dari tiga macam rumah, yakni sepasang rumah yang disebut Kolwat dan Kanurwat di mana keduanya dibangun dengan saling berdampingan, dan sebuah rumah lagi yang disebut Fala‘ atau rumah gudang. Kompleks rumah-rumah adat ini merupakan pusat segala kegiatan Suku Abui, terutama dalam urusan adat yang pengaturannya dipimpin oleh kepala suku.

Rumah adat Kolwat dan Kanurwat hanya berfungsi pada saat diadakan upacara-upacara adat. Rumah adat Kolwat boleh dimasuki oleh siapa saja tanpa kecuali, baik pria, wanita, ataupun anak-anak. Rumah adat ini dibangun secara sederhana dengan bentuk bujur sangkar dan biasanya  berukuran kurang lebih 3,70 x 3,70 meter. Bentuk bujur sangkar merupakan cerminan ruang dalam rumah adat Kolwat, yakni terbagi menjadi dua oleh sirkulasi yang letaknya di tengah ruangan dengan membujur dari timur ke barat.

Di bagian utara rumah adat Kolwat terdapat sebuah balai-balai bambu yang tingginya kurang lebih 0,65 meter dari permukaan lantai. Balai-balai ini biasanya digunakan sebagai tempat duduk warga Suku Abui ketika diadakan pesta atau upacara adat. Sedangkan di sebelah kanan rumah terdapat bilik kecil yang dibatasi oleh dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalam bilik ini juga terdapat sebuah balai-balai berukuran kecil. Sementara di sisi sebelah barat terdapat tangga dari bambu yang menghubungkan lantai dasar dengan loteng di atasnya. Loteng ini digunakan sebagai tempat penyimpanan perabotan atau perlengkapan yang akan digunakan pada waktu pelaksanaan upacara adat (Eman, 2009, www.arsitekturntt.com).

d. Rumah Adat Kanurwat

Berbeda dengan rumah adat Kolwat yang bisa dimasuki siapa saja, rumah adat Kanurwat memiliki aturan yang lebih ketat. Menurut kepercayaan Suku Abui,  tidak semua orang boleh menginjakkan kaki di rumah adat Kanurwat. Anak-anak dan perempuan dilarang keras memasuki rumah ini. Apabila aturan tersebut dilanggar, maka dapat menimbulkan penyakit di mana proses penyembuhannya harus dilakukan dengan upacara adat (Bentara Wisata, 16 Maret 2007). Kalangan yang paling berhak memasuki rumah adat Kanurwat adalah anak sulung laki-laki, tetua adat, dan pemimpin upacara adat. Dengan demikian, Kanurwat adalah rumah adat yang paling disakralkan dalam tradisi Suku Abui karena selain menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan upacara adat Suku Abui, rumah adat Kanurwat juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai benda-benda pusaka Suku Abui, seperti moko, periuk, tombak, dan perlengkapan upacara adat lainnya yang diwariskan secara turun-temurun.


Rumah Adat Kanurwat

Bentuk rumah adat Kanurwat sama persis dengan rumah adat Kolwat, yaitu bujur sangkar dengan ukuran kurang lebih 3,70 x 3,70 meter. Perbedaannya terletak pada penempatan tiang utama dan letak pintu. Tiang utama pada rumah adat Kolwat terletak di bagian keempat sudut atau pojok bagian luar bangunan, sedangkan tiang utama pada rumah adat Kanuarwat berada di dalam ruangan. Demikian juga dengan posisi pintunya. Jika pada rumah adat Kolwat pintunya membuka ke arah ke timur dan barat, maka pada rumah adat Kanuarwat salah satu pintunya menghadap ke barat atau ke arah rumah adat Kolwat, sedangkan satu pintu yang lain menghadap ke utara atau ke arah Mesbah dan Mesang.

Tidak ada dinding permanen yang menjadi sekat di ruang dalam rumah adat Kanuarwat. Ruangan dalamnya terbuka dan di tengah-tengah ruangan terdapat balai-balai dari bambu yang tingginya kurang lebih 65 cm dari permukaan lantai. Di atas balai-balai tersebut terdapat sebuah tempat, disebut para-para, yang digantungkan pada balok loteng. Di para-para inilah diletakkan benda-benda pusaka, perlengkapan upacara adat, serta barang-barang suci lainnya. Selain itu, di sisi sebelah barat, tepat di samping tiang utama bagian belakang, terdapat sebuah tangga bambu yang menghubungkan dengan loteng di atasnya. Loteng ini juga digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka (Eman, 2009, www.arsitekturntt.com).

e. Fala‘ (Rumah Gudang dan Rumah Tinggal)

Meskipun dinamakan Fala‘ atau rumah gudang, tetapi justru bangunan inilah yang dijadikan sebagai rumah tinggal oleh masyarakat Suku Abui di Takpala. Penamaan rumah gudang sebenarnya selaras dengan salah satu fungsi Fala‘, yakni sebagai lumbung untuk tempat penyimpanan hasil pertanian, seperti padi dan jagung. Di bagian ujung atas tiang utama Fala‘ ditempatkan penghalau hama tikus.

Secara umum, Fala‘ berbentuk bujur sangkar yang ukurannya bervariasi, tergantung kemampuan ekonomi pemilik rumah. Sedangkan secara vertikal, Fala‘ berbentuk rumah panggung dan terdiri dari beberapa tingkat ruang yang memiliki fungsi masing-masing. Di ruang paling dasar terdapat siwo atau kolong sebagai tempat untuk memelihara binatang ternak. Sedikit di atas siwo terdapat ruang tengah yang disebut liktaha. Ruangan ini berupa balai-balai terbuka tanpa dinding penyekat. Di dalam liktaha terdapat dua serambi yang disebut likhomi dan likhabang. Likhomi biasanya digunakan untuk membersikan hasil panen sebelum disimpan atau sebagai tempat pengolahan makanan sebelum dimasak. Sedangkan likhabang berfungsi sebagai sebagai ruang untuk bersantai kaum pria dan sebagai tempat menjamu tamu, serta terkadang juga digunakan sebagai tempat tidur untuk tamu laki-laki.

Ruangan di atas liktaha adalah falah omi, yaitu ruang keluarga. Kegiatan keluarga seperti tidur, makan, dan aktivitas bersama lainnya dilakukan di ruang ini. Falah omi juga difungsikan sebagai dapur dan tempat penyimpanan perabotan rumah tangga. Ruangan ini tertutup atap dan tidak memerlukan dinding penyekat. Falah omi adalah ruang terbuka yang berpusat pada perapian yang terletak di tengah-tengah ruangan. Dengan kata lain, tidak ada pembagian ruang secara permanen yang membedakan antara area pribadi dengan area umum di dalam tata letak ruang falah omi (Eman, 2009, www.arsitekturntt.com).

Tingkat berikutnya adalah ruang yang disebut akui taha. Ruangan ini berfungsi sebagai lumbung untuk menyimpan hasil pertanian. Masih terdapat satu loteng lagi yang berada di atas akui taha, yaitu akui kiding atau loteng kecil. Sama seperti akui taha, loteng kecil juga digunakan untuk menyimpan hasil pertanian, namun penggunaannya dikhususkan bagi anak lelaki yang belum menikah. Selain itu, akui kiding juga digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga.


Permukiman  Adat Suku Abui di Takpala

5. Ragam Hias

Ragam hias yang paling mencolok dalam susunan rumah adat Suku Abui di Takpala terutama yang terdapat pada rumah adat Kanuarwat di mana ragam hias pada bangunan tradisional ini dapat ditemukan pada tiang-tiang penunjang, balok, dan bingkai daun pintu bagian luar. Ragam hias juga terdapat pada lik, yakni podium atau panggung, yang pada umumnya berbentuk geometris seperti belah ketupat, segi tiga, lingkaran, dan elips, dengan pilihan warna tertentu. Warna dasar yang paling umum digunakan adalah hitam, putih, merah hati, dan kuning. Warna-warna yang diambil dari jenis tanah tertentu ini hampir selalu merupakan satu rangkaian dalam satu ragam hias dan ditempatkan secara berselang-seling.

Komposisi gelap dan terang dalam pemberian warna juga cukup diperhatikan sehingga seringkali ditemukan penekanan warna pada bagian-bagian tertentu. Penekanan itu misalnya seperti yang terlihat pada pintu yang warnanya terlihat lebih menonjol atau lebih terang daripada bagian rumah lainnya. Bahkan untuk lebih menegaskan kesan terang, pada sisi kiri dan kanan pintu dipasang masing-masing dua papan berwarna putih mencolok (Eman, 2009, www.arsitekturntt.com).

Ragam hias utama yang mencolok adalah bentuk dasar dari rumah adat itu sendiri, yakni berwujud rumah panggung yang terbuat dari bahan dasar bambu dengan bentuk rumah menjulang ke atas seperti piramida dan beratapkan ilalang. Di bagian atas rumah terdapat ornamen berbentuk tangan terbuka. Ornamen ini dimaknai sebagai simbol permohonan berkah kepada Yang Maha Kuasa (www.ascensionatsea.net).

6. Nilai-Nilai

Cukup banyak nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam susunan pola permukiman , termasuk rumah adat, masyarakat Suku Abui di Takpala, Kabupaten Alor, NTT. Salah satu unsur yang paling berpengaruh dalam pembangunan rumah adat di Takpala adalah Tari Lego-Lego yang wajib ditarikan beberapa kali dalam waktu-waktu tertentu selama pembangunan rumah. Tari ini merupakan lambang kekuatan persatuan dan persaudaraan Suku Abui. Oleh karena itu, tarian ini harus dilakukan secara massal yang melibatkan seluruh warga. Orang-orang Suku Abui menarikan Lego-Lego dalam formasi melingkar dan saling bergandengan tangan. Aksi utama tarian bermula dari gerakan mengelilingi Mesbah yang sudah dipenuhi tumpukan batu dengan pohon beringin di tengahnya. Dalam satu pertunjukan, Tari Lego-Lego yang dilakukan dengan mengelilingi Mesbah ini bisa berlangsung sepanjang malam. Tak jarang para pelakunya menari dalam keadaan trance atau kerasukan arwah leluhur alias roh halus (www.ascensionatsea.net).

Mesbah sendiri memiliki nilai-nilai yang tidak kalah penting bagi segenap warga Suku Abui. Selain sebagai benda yang paling dianggap suci dan sebagai sentral kehidupan adat Suku Abui, Mesbah yang berupa tiga batu bersusun juga menjadi simbol kekuatan tiga sub Suku Abui yang ada di Takpala, yakni Suku Kapitang, Suku Aweni, dan Suku Marang yang memiliki peran dan wewenang masing-masing dalam kehidupan keseharian di lingkungan perkampungan Takpala. Selain itu, antara Mesbah dan ruang publik (Mesang) terdapat hubungan yang sangat erat dalam tradisi Suku Abui. Dua perangkat budaya ini menjadi simbol persekutuan serta pusat pembentukan mental dan spiritualitas yang beradab (Fanlehi, 2005).

Nilai-nilai filosofis pun terkandung pula dalam rumah adat Suku Abui. Misalnya dari segi bentuk, di mana ketiga jenis rumah adat Suku Abui (rumah adat Korwat, Kanurwat, dan Fala‘) berupa rumah panggung dengan beberapa tingkat, serta fisik bangunannya menjulang ke atas seperti piramida dengan ornamen berbentuk tangan terbuka yang terdapat di bagian paling atas atau di puncak rumah. Bentuk tangan mengadah seperti sikap orang yang sedang meminta tersebut mengandung arti bahwa Suku Abui senantiasa memohon perlindungan dan kesejahteraan kepada para dewa.

Tingkat-tingkat rumah panggung Suku Abui juga mengandung pemaknaan filosofis khusus. Tingkat-tingkat tersebut, biasanya berjumlah 3 hingga 4 tingkat, melambangkan tiga zona kehidupan yang terdapat dalam kepercayaan masyarakat Suku Abui (www.digilib.petra.ac.id). Seperti yang berlaku untuk Fala‘ atau rumah gudang, ruangan di bagian paling bawah rumah panggung atau lantai dasar merupakan bagian kehidupan untuk hewan-hewan ternak. Sementara satu atau dua lantai di atas lantai dasar diperuntukkan bagi manusia sebagai ruang aktivitas keluarga. Sedangkan lantai paling atas merupakan tempat yang dipersembahkan untuk dewa-dewa atau roh leluhur. Hal itu ditandai dengan penggunaan lantai atas sebagai ruang untuk menyimpan benda-benda pusaka yang hanya dikeluarkan ketika diadakan upacara-upacara adat.


Upacara Adat Suku Abui

7. Penutup

Kedudukan rumah adat Suku Abui yang berada di perkampungan tradisional Takpala, Kabupaten Alor, NTT, sangat berkaitan erat dengan pola permukiman  di lingkungan kampung itu sendiri. Terdapat beberapa elemen penting yang menyusun pola permukiman  dan mempengaruhi kehidupan adat di Takpala. Elemen-elemen itu antara lain Mesang, Mesbah, serta tiga jenis rumah adat Suku Abui, yaitu rumah adat Kolwat, Kanurwat, dan Fala‘. Selain itu, tarian adat Lego-Lego dan sejumlah perangkat yang digunakan untuk ritual adat, juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pola permukiman  dan gaya hidup masyarakat adat Suku Abui.

(Iswara NR/bdy/01/01-2010)

Referensi:

  • Albert Jata, “Takpala, Kampung Tradisional nan Merona”, dalam Bentara Wisata, 16 Maret 2007.
  • Ascension. “Takpala Village, Alor – Indonesia”, diunduh tanggal 26 November 2009 dari http://www.ascensionatsea.net.
  • Lazarus Fanlehi. 2005. Rumah adat (Kadang) dan Mesbah (Masang) dalam perspektif  masyarakat Abui. Kupang: Universitas Kristen Artha Wacana.
  • Met Eman. 2009. “Arsitektur Tradisional Alor (Takpala)”, diunduh tanggal 8 Januari 2010 dari http://www.arsitekturntt.com.
  • Pemerintah Kabupaten Alor. “Sejarah Kabupaten Alor”, diunduh pada tanggal 8 Januari 2010 dari http://www.alorkab.go.id.
  • Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. “Objek dan Daya Tarik Wisata Sedaratan Alor”, diunduh pada tanggal 8 Januari 2010 dari http://www.nttprov.go.id.
  • Rohmat Haryadi. 2007. “Piramida Ilalang dan Jejak Perang”. Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil – Departemen Sosial Republik Indonesia, diunduh tanggal 8 Januari 2010 dari http://www.katcenter.info.
  • Universitas Kristen Petra. “Potensi wisata alam khususnya diving dan wisata budaya di Pulau Alor”, diunduh pada tanggal 8 Januari 2010 dari http://www.digilib.petra.ac.id.

Sumber Foto:

Dibaca : 29.291 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password