Jumat, 21 Juli 2017   |   Sabtu, 26 Syawal 1438 H
Pengunjung Online : 4.807
Hari ini : 40.571
Kemarin : 75.246
Minggu kemarin : 692.982
Bulan kemarin : 6.361.067
Anda pengunjung ke 102.874.343
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Besale: Upacara Penyembuhan Orang Rimba


Orang rimba

1. Asal-usul

Besale merupakan istilah Orang Rimba yang secara umum berarti membangunkan semangat atau jiwa manusia untuk dibersihkan dari pengaruh roh-roh jahat yang merasukinya. Belum ada buku khusus yang membahas tentang upacara tradisional Orang Rimba ini. Akan tetapi beberapa buku yang membahas tentang Orang Rimba sedikit banyak telah menyinggung tema ini. Dan itu yang akan dijadikan referensi dalam tulisan ini.

Asal-usul upacara Besale ini didasari oleh kepercayaan Orang Rimba terhadap dewa yang menguasai hutan. Menurut hasil penelitian Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (1977: 127), Orang Rimba meyakini bahwa jika ada keluarga atau saudara mereka yang sakit, berarti dewa telah menurunkan malapetaka. Oleh sebab itu, sebagai bujukan kepada dewa agar menyembuhkan penyakit tersebut, mereka mengadakan upacara Besale.

Secara khusus, penyelenggaraan upacara Besale ditujukan untuk membersihkan atau mengusir roh-roh jahat yang dianggap sebagai sumber penyakit dan untuk mengembalikan kesucian jiwa orang yang sakit agar kembali sehat. Secara umum, Besale ditujukan untuk menjaga keseimbangan hubungan antara kehidupan manusia dengan alam gaib, yang bagi Orang Rimba keduanya harus dijaga dengan baik. Jika tidak dijaga dengan baik, maka ketidakseimbangan itu  akan berpengaruh buruk terhadap kehidupan mereka secara luas, seperti meluasnya penyakit yang sulit diobati (Eddy Ramlan, 1997).

Pada saat upacara dilakukan, orang yang sakit akan dibacakan mantera. Mantera tersebut akan dibaca dengan cara dinyanyikan sambil menari. Selain itu, disediakan sesaji berupa buah-buahan dan makanan sebagai persembahan kepada dewa-dewa agar memberikan kebaikan kepada mereka dan melindungi mereka dari roh jahat (Ramlan, 1997).

Seperti layaknya upacara adat Orang Rimba yang lain, Besale juga menetapkan larangan dan pantangan bagi mereka yang diobati. Pantangan ini harus ditaati, karena jika tidak, maka upacara dianggap gagal dan harus diulangi lagi dari awal. Upacara Besale dapat dilakukan secara sendiri-sendiri (perseorangan) atau bersama-sama.

Pada proses pelaksanaannya, syarat dan larangan yang ditetapkan adalah sama. Hanya waktu penyelenggaraan saja yang berbeda. Besale perseorangan membutuhkan waktu yang relatif lebih singkat daripada jika dilakukan secara bersama-sama.

2. Peralatan dan Waktu Pelaksanaan

Upacara adat Besale dipimpin oleh dukun Besale. Dalam uacara adat lain, dukun Besale juga difungsikan sebagai pemimpin agama dan perantara antara manusia dengan kekuatan gaib. Pada saat pelaksanaan upacara, dukun Besale dibantu oleh beberapa orang, antara lain Inang (dukun perempuan yang bertindak sebagai pengarah dan pendamping dukun Besale), Pembayu (pengawas bagi dukun Besale dan Inang), Biduan (penabuh redab), dan Pembina (pelindung dalam pelaksanaan upacara Besale).

Waktu dan tempat penyelenggaraan upacara Besale tergantung pada jenis dan tempat upacara Besale yang akan dilaksanakan. Adapun jenis dan tempat upacaranya sebagai berikut:


Jenis

Tempat

Besale biasa

Dalam hutan, dibangunkan bangsal (rumah) beratap nipah yang kemudian dibakar

Besale bejanan

Di tanah yang biasa dipakai untuk menguburkan dukun atau Sidi

Besale berumah putih

Di tepian sungai atau semilu aik

Besale berungguk ungguk

Di rumah si sakit, jika dukun mendapat ilham baru upacara dapat dipindahkan


Peralatan yang perlu disediakan dalam upacara Besal
e antara lain:

  • Kembang Berte (alat penangkal atau pagar)
  • Minyak rambut (untuk bersuci)
  • Sisir
  • Sampang (penutup kepala)

Adapun peralatan yang berfungsi sebagai pelengkap upacara antara lain:

  • Kemenyan
  • Lilin madu
  • Sirih pinang
  • Kembang mayang
  • Lonceng kecil
  • Tepung beras
  • Telur ayam
  • Sesaji
  • Kayu aro (simbol kesejahteraan)
  • Alat musik berentak
  • Alat musik redap

3. Prosesi Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara adat Besale terbagi dalam dua bagian besar, yaitu persiapan dan pelaksanaan.

a. Persiapan

Persiapan dimulai dengan perundingan antara keluarga si sakit dengan dukun Besale, untuk menentukan hari pelaksanaan, perlengkapan dan lokasi pelaksanaan. Setelah lokasi ditentukan, langkah selanjutnya adalah membangun sejenis bangsal beratapkan daun nipah (rumah kecil) secara bergotong royong oleh Orang Rimba. Pada bangsal tersebut diletakkan empat balai (tempat sesaji) yang mengandung simbol tertentu, yaitu:

  • Balai Pengasuh, merupakan simbol persembahan kepada roh halus yang telah masuk ke dalam tubuh dukun Besale
  • Balai Kurung Resio, merupakan simbol jiwa manusia yang paling dalam
  • Balai Bertajuk Kembang, merupakan simbol berkumpulnya roh para leluhur
  • Balai Gelanggang Kuning, merupakan simbol “penunggu” desa, yaitu jin, iblis, dan setan yang bergentayangan di lautan dan udara

b. Pelaksanaan

Setelah semua peralatan siap, maka proses pengobatan dimulai. Pertama-tama dukun Besale makan sirih, kemudian merapikan rambut dengan cara memberinya minyak dan menyisirnya secara rapi, dengan tujuan untuk menyucikan diri. Sejenak kemudian, dukun Besale mengambil duduk bersila untuk bersemedi dan memusatkan pikiran. Dalam semedi ini (dengan dibantu oleh Inang), roh Sidi akan masuk ke raga dukun Besale. Saat roh Sidi masuk ke raga sang dukun, maka seketika itu juga dukun disebut Sidi.

Kemudian Inang menebarkan kembang berte di sekitar telapak kaki Sidi, dengan maksud agar setiap langkah Sidi terlindung dari roh jahat. Sejenak kemudian Sidi dan orang yang akan diobati melakukan berentak, yaitu menari berkeliling.

Proses selanjutnya adalah menurunkan perlengkapan balai pengasuh kira-kira satu meter dari atap, dan orang yang sakit didudukkan di bawah balai. Sambil melakukan berentak (menari), Sidi mengobati dengan mengibaskan selendang yang telah diolesi minyak pada orang yang sakit. Hal ini diikuti juga oleh Pembayu dan Inang.

Setelah selesai, Balai Kurung Resio diturunkan dan seluruh peserta upacara disuruh duduk di bawah Balai Kurung Resio sambil ditutup kepalanya dengan kain putih. Selanjutnya, Sidi dan peserta melakukan berentak sementara Inang dan pembantu Inang memberikan pengobatan. Berikutnya, Balai Betajuk Kembang diturunkan, diiringi Berentak yang dipimpin oleh Sidi. Seusai berentak, Sidi diam sejenak untuk beristirahat (Sanglo).

Tahapan berikutnya adalah mengarak Balai Gelanggang Kuning. Balai dipegang oleh empat orang peserta upacara Besale. Adapun peserta yang lain duduk di bawah Balai Gelanggang Kuning sambil diobati oleh Sidi. Upacara dilanjutkan dengan “naik Kayu Aro” yang berbentuk segi empat. Pohon sengaja ditanam di luar bangsal agar semua peserta upacara dapat ikut memanjat, dengan tujuan supaya roh-roh jahat tidak menganggu lagi.

Bagian akhir upacara ditandai dengan mengeluarkan roh halus yang masuk ke dalam raga dukun Besale dengan bantuan Inang dan Sidi.

4. Doa

Selama proses pengobatan, Sidi, Inang, dan Pembayu secara bersamaan atau bergantian membaca doa keselamatan dan penyembuhan. Doa diucapkan seperti membaca mantera dan menyanyi, sambil berentak (menari). Doa dibacakan agar orang yang sakit cepat sembuh dan kembali tersucikan serta dilindungi dari roh jahat.

5. Pantangan atau Larangan

Larangan ini diperuntukkan bagi siapa saja yang mengikuti upacara Besale. Larangan ini berlaku saat upacara berlangsung dan setelahnya. Jika larangan ini dilanggar, maka upacara Besale dianggap gagal dan harus diulangi lagi. Larangan itu antara lain meliputi:

  • Dilarang berbicara keras, tertawa terbahak-bahak atau sejenisnya di area upacara
  • Tidak boleh melakukan perbuatan kotor seperti melakukan perbuatan melanggar norma kesusilaan dan kejahatan (mencuri, merampok, mencopet) di lokasi upacara.
  • Tidak boleh membantu persiapan upacara, kecuali diminta oleh dukun Besale

6. Nilai-nilai

Upacara penyembuhan Besale mengandung nilai-nilai tertentu dalam kehidupan Orang Rimba, antara lain:

  • Nilai kebersamaan. Nilai ini tercermin dalam aktivitas gotong royong yang dilakukan oleh Orang Rimba ketika mempersiapkan upacara Besale. Nilai ini akan lebih terasa ketika mereka harus menanggung akibat melanggar larangan secara bersama-sama, sehingga upacara harus diulang dari awal. Nuansa kebersamaan ini akan terasa sekali baik saat upacara Besale dilakukan secara bersama-sama atau perseorangan.
  • Nilai menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam gaib. Nilai ini tercermin dari alasan atau tujuan pelaksanaan upacara Besale itu sendiri, yang memang demikian adanya. Orang Rimba meyakini bahwa orang yang sakit berarti mengalami masalah dalam berhubungan dengan dunia gaib (roh). Kedua alam itu dianggap tidak seimbang, untuk itu perlu dipulihkan dengan upacara adat, yaitu Besale.
  • Nilai seni. Nilai ini tercermin dari berbagai pernak-pernik balai (tempat sesaji) yang dibuat dengan indah. Nilai ini juga tampak jelas dari nyanyian serta tarian yang mengiringi dalam setiap pembacaaan mantera yang dibacakan saat pengobatan. Tampaknya leluhur Orang Rimba sengaja menggabungkan kedua unsur tersebut, yaitu ritual adat dan seni, dengan tujuan agar tidak membosankan dan dapat dilakukan dengan semangat gembira.

7. Penutup

Walaupun upacara Besale sekilas tampak seperti sekedar ritual pengobatan, namun satu hal yang perlu dicatat adalah adanya kandungan nilai kebersamaan dalam bentuk gotong royong menyiapkan upacara adat Besale tersebut. Dalam konteks kehidupan modern sekarang, di mana semangat gotong royong (kolektivisme) sudah luntur tergantikan oleh sikap perseorangan (individualisme), tampaknya penting untuk terus mengapresiasi nilai ini, agar semangat kebersamaan yang luntur tersebut dapat kembali, karena dengan itu Orang Rimba sendiri dapat menjaga eksistensi mereka. Yusuf Efendi (bdy/10/01-10).

Referensi

  • Eddy Ramlan (et al), 1996-1997. Pengkajian nilai-nilai luhur budaya spiritual masyarakat Kubu di Propinsi Sumatera Selatan : studi budaya spiritual masyarakat Kubu di Desa Bukit Lintang, Kecamatan Buyung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

  • Tim penelitian Departemen Pendidikan Nasional (eds), 2000. Upacara Besale pada Masyarakat Suku Anak Dalam di Sumatera Selatan. Palembang: Kantor Wilayah Propinsi Sumatera Selatan.

  • Tim penelitian Departemen Pendidikan Nasional (eds), 1977. Adat istiadat daerah Jambi. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber internet

Dibaca : 6.959 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password