Jumat, 25 Juli 2014   |   Sabtu, 27 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 2.419
Hari ini : 16.601
Kemarin : 23.254
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.946.048
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Nyanyi Panjang Orang Petalangan: Identitas atas Hutan Tanah Wilayat dalam Bentuk Sastra Lisan.


Buku Bujang Tan Domang, Sastra lisan orang Petalangan,
Kabupaten Pelalawan, provinsi Riau

1. Asal-usul

Masyarakat Petalangan merupakan salah satu puak “suku asli” di Provinsi Riau yang bermukim di Kecamatan Langgam, Pengkalan Kuras, Bunut dan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan (Tenas Effendy et.al., tt.:107). Disebut sebagai “suku asli” karena menurut Tenas Effendy, mereka termasuk suku bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) yang menjadi penduduk awal di daerah yang kini kita kenal sebagai Provinsi Riau. Atas dasar inilah, masyarakat Petalangan disebut sebagai “Orang Asal” atau “Orang Asli” (Effendy et.al., tt:107). 

Penyebutan nama Petalangan ditengarai karena orang-orang di daerah ini pada masa dahulu memagari kampungnya dan mengambil air dengan buluh “talang”. Maka dari itu, masyarakat di daerah ini disebut dengan “Orang Talang”, yang secara umum masyarakatnya disebut dengan puak “Orang Petalangan” (Effendy et.al., tt.:107).

Masyarakat Petalangan bermukim di Hutan Tanah Wilayat secara turun temurun. Secara turun-temurun pula mereka mewariskan tradisi kebudayaan yang mereka miliki kepada keturunannya. Di sinilah pentingnya menjaga agar kebudayaan (tradisi) orang Petalangan dan Tanah Hutan Wilayat agar tidak luntur. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan penyampaian lewat tradisi lisan.

Bagi masyarakat Petalangan, Hutan Tanah Wilayat memegang peranan yang sangat penting. Hutan Tanah Wilayat merupakan sumber mata pencaharian, budaya, kegiatan adat dan tradisi, kebanggaan dan harga diri, bahkan sebagai jati diri suku tertentu (Effendy, 1997:24). Kehilangan Hutan Tanah Wilayat berarti pula kehilangan jati diri. Sebab, dalam konsep kepercayaan tradisional masyarakat Petalangan, alam merupakan lambang dari diri mereka sendiri dan tempat mereka mendapatkan berbagai jenis bahan untuk kepentingan upacara, termasuk pengobatan dan sebagainya. Karena pentingnya Hutan Tanah wilayat bagi masyarakat Petalangan, maka upaya maksimal harus dilakukan untuk menjaga Hutan Tanah Wilayat tersebut.

Dalam mengelola Hutan Tanah Wilayat, masyarakat Petalangan telah mengatur pemanfaatan Hutan Tanah Wilayat menurut acuan adat. Mereka membagi Hutan Tanah Wilayat menjadi empat bagian, yaitu tanah kampung (tempat permukiman); tanah dusun (tempat berkebun dan cadangan tempat permukiman); tanah perladangan (tempat berladang secara berpindah-pindah); dan rimba larangan yang terbagi dua, yaitu rimba kepungan sialang tempat pohon sialang tumbuh (yakni pohon tempat lebah bersarang), dan rimba simpanan (yakni habitat dari berbagai jenis pohon dan hewan) (Effendy, 1997:25-26).

Menurut adat, hak atas Tanah Hutan Wilayat ditentukan berdasarkan tombo atau terombo suku masing-masing. Tombo dapat dipahami sebagai petuah, petunjuk, dan sejarah atas asal-usul Tanah Hutan Wilayat. Atas dasar tombo inilah, pada masa dahulu, para raja di Kerajaan Pelalawan mengukuhkan pemilikan, penguasaan, dan pemanfaatan serta pemeliharaan Hutan Tanah Wilayat dengan memberikan semacam Surat Keterangan Hutan Tanah Wilayat kepada setiap kepala suku yang memilikinya (Effendy, 1997:19)[1].

Selain berisi asal-usul Hutan Tanah Wilayat dan suku pemiliknya, tombo juga mengandung tunjuk ajar, yaitu petuah dan nasehat yang berisi nilai-nilai kebudayaan masyarakatnya, rujukan hukum adat, dan falsafah yang diwariskan secara turun temurun  (Effendy, 1997:19 dan 43). Karena isinya tersebut, tombo menjadi sangat penting dan diwariskan secara turun-temurun lewat tradisi lisan (sastra lisan), yang antara lain dituturkan lewat Nyanyi Panjang (Effendy, 1997:19).

Dalam tombo atau terombo suku umumnya terbagi menjadi dua. Bagian pertama mengisahkan tentang orang yang pertama kali membuka Hutan Tanah Wilayat yang kemudian menjadi Hutan Tanah Wilayat suku tersebut atau dengan kata lain asal-usul suku itu sendiri dan dituturkan dalam bentuk Nyanyi Panjang. Bagian kedua dibawakan dalam bentuk cerita biasa (cerita biaso), yaitu tanpa irama, yang kemudian berkembang menjadi jenis Nyanyi Panjang Biasa (Effendy, 1997:30-31).

Asal-usul Nyanyi Panjang adalah tradisi penamaan tempat di mana mereka tinggal yang disebut dengan Hutan Tanah Wilayat atau Tanah Wilayat (Effendy, 1997:19). Masing-masing suku memiliki Hutan Tanah Wilayat sendiri. Pemilikan, pemanfaatan, dan pemeliharaan Hutan Tanah Wilayat diatur secara baik dan cermat oleh adat setempat, sebagaimana tercermin lewat berbagai ungkapan adatnya. Sampai saat ini Nyanyi Panjang masih terpelihara di dalam kebudayaan masyarakat Petalangan.

2. Ciri-ciri Nyanyi Panjang

Nyanyi Panjang adalah suatu cerita yang dinyanyikan atau dilagukan dengan penyampaian yang memakan waktu yang panjang atau lama, biasanya lebih dari satu malam untuk satu cerita. Cerita-cerita tersebut disampaikan oleh tukang cerita (kadangkala dipanggil dengan sebutan tukang Nyanyi Panjang) dengan menggunakan lagu dan irama tertentu yang sesuai dengan judul cerita tersebut[2]. Nyanyi Panjang merupakan cerita tokoh atau wira yang mempunyai kekuatan supranatural yang didapatkan melalui berbagai cara (Sudirman Shomary, 2004:2-3).

Nyanyi Panjang merupakan sastra lisan yang bercorak naratif (cerita) dan dipertunjukkan kepada khalayak ramai oleh tukang Nyanyi Panjang orang Petalangan dalam bentuk nyanyi atau dilagukan (Shomary, 2004:35). Istilah “Nyanyi Panjang” mengandung arti “Nyanyi” yang bermakna bentuk pertunjukan, dan “Panjang” yang bermakna waktu yang diperlukan untuk penyampaian (Shomary, 2004:35).

Menurut Walter J. Ong (1982) dalam Shomary (2004), cerita-cerita dalam Nyanyi Panjang dapat diklasifikasikan ke dalam Kelisanan Primer (Primary Orality). Maksudnya, cerita-cerita dalam Nyanyi Panjang merupakan hasil karya masyarakat Petalangan yang dituturkan dan diwariskan secara lisan. Sampai saat ini belum ada satu buku yang dijadikan sumber rujukan bagi masyarakat Petalangan jika mereka akan bercerita. Tradisi Nyanyi Panjang agak berbeda dengan budaya sastra lisan pada umumnya yang dijumpai di Alam Melayu, seperti pembacaan syair, nazam (dalam bahasa Arab berarti puisi yang digunakan untuk menyampaikan ajaran agama Islam), dan barzanji (doa pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada). Umumnya budaya sastra lisan di Alam Melayu mempunyai fondasi yang kuat berupa teks dasar yang dapat dikategorikan sebagai tradisi separuh lisan (Semi Primary Orality) (Shomary, 2004:35).

Beberapa ciri dari kelisanan primer dalam Nyanyi Panjang adalah gaya bahasa bercorak prosa lirik atau prosa berirama; banyak pengulangan; struktur cerita seperti hikayat Melayu lainnya, yaitu pengenalan, pengembaraan, dan penyelesaian; dan diawali dengan pantun bebalam. Awalan berupa pantun ini karena cara menyanyikan pantunnya mirip dengan suara burung Balam (http://melayuonline.com/).

Dalam prakteknya terdapat dua jenis Nyanyi Panjang, yaitu Nyanyi Panjang Tombo dan Nyanyi Panjang Biasa. Tombo adalah jenis Nyanyi Panjang yang berisi tentang sejarah, hukum dan aturan adat. Oleh sebab itu, tombo dianggap sakral dan merupakan salah satu sumber hukum di masyarakat (http://melayuonline.com).

Tukang cerita tombo disebut Pebilang Tombo. Statusnya sangat dihormati dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk tombo merupakan prosa berirama dan dinyanyikan dalam bentuk yang baku (tetap) dan tidak boleh diubah. Dalam tombo terdapat banyak formula puitis kuno, petuah dan amanah moral. Isi Nyanyi Panjang tombo bersifat partikular (hanya berkaitan dengan suku tertentu). Sedangkan Nyanyi Panjang Biasa bersifat umum, milik semua warga masyarakat dari semua suku (http://melayuonline.com/).

3. Jenis Nyanyi Panjang

  • Nyanyi Panjang Tombo

Nyanyi Panjang Tombo adalah salah satu jenis Nyanyi Panjang yang merupakan prosa berirama dan dinyanyikan dalam bentuk ungkapan baku (tetap) dan tidak boleh diubah. Bahkan ungkapan baku tersebut dalam penyajiannya seringkali diucapkan secara berulang-ulang (Effendy, 1997:31). Dalam tombo terdapat banyak formula puitis kuno, petuah dan amanah moral. Isi Nyanyi Panjang Tombo bersifat partikular, hanya berkaitan dengan suku tertentu (http://melayuonline.com/). Jenis Nyanyi Panjang Tombo mempunyai ciri-ciri:

  1. Bahasanya terikat dengan pola yang lazim (baku)
  2. Cerita yang dikisahkan selalu panjang
  3. Tidak berisi rincian tapal batas Hutan Tanah Wilayatnya secara jelas
  4. Dilengkapi dengan tunjuk ajar dan ungkapan-ungkapan baku yang lazim
  5. Penuturannya memakai irama
  6. Cara untuk menghafalkannya relatif sulit karena ceritanya panjang dan penuturannya sulit (Effendy, 1997:31-32)
  • Nyanyi Panjang Biasa

Nyanyi Panjang Biasa bersifat umum, milik semua warga masyarakat dari semua suku (http://melayuonline.com/). Jenis Nyanyi Panjang Biasa mempunyai ciri-ciri:

  1. Bahasa dituturkan secara bebas
  2. Cerita lebih singkat
  3. Berisi rincian tapal batas Hutan Tanah Wilayatnya secara jelas.
  4. Khusus mengenai tombo saja dan tidak dilengkapi dengan tunjuk ajar atau ungkapan-ungkapan baku lainnya.
  5. Dituturkan secara biasa.
  6. Cara menghafalkannya lebih mudah karena penuturannya tidak memerlukan persyaratan khusus (Effendy, 1997:31-32)

4. Peralatan dan Pemain

Dalam pertunjukan Nyanyi Panjang terdapat empat unsur yang saling berkaitan dan mempengaruhi, yaitu tukang Nyanyi Panjang, cerita, suasana pertunjukan, dan penonton (khalayak) (http://melayuonline.com/). Tukang Nyanyi Panjang atau penutur merupakan tokoh sentral dari pertunjukan seni Nyanyi Panjang. Penutur memainkan peranan yang sangat penting pada saat pertunjukan Nyanyi Panjang digelar, yaitu bukan saja sebagai tukang Nyanyi Panjang, tetapi juga sebagai penggubah, penyanyi, dan pencipta (Shomary, 2004:52).

Selain itu tukang Nyanyi Panjang juga dituntut untuk mampu menghidupkan cerita sehingga penonton (khalayak) atau pendengar dapat menikmati keindahan susunan bahasa dan musik cerita. Adanya persajakan, aliterasi (persamaan huruf vokal dalam baris puisi), asonansi (persamaan huruf konsonan dalam bait puisi), irama, serta pararelisme (kesejajajaran makna maupun bunyi) dapat menimbulkan efek khusus bagi khalayak (Shomary, 2004:52).


Seorang tukang Nyanyi Panjang bernama Leman sedang mempertunjukkan
Nyanyi Panjang Sutan Duani di Tambun, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan.

Musik dalam pertunjukan Nyanyi Panjang kurang mendapatkan porsi tersendiri. Bahkan pada zaman dahulu para penutur menceritakan kisah hanya dengan diiringi gendang atau dulang yang ditabuhnya sendiri (Effendy, 1997:9).   

5. Pertunjukan Nyanyi Panjang

Pertunjukan Nyanyi Panjang merupakan bagian yang penting dalam melestarikan tradisi Nyanyi Panjang itu sendiri. Nani Tuloli (1994:6) dalam Shomary (2004) menyatakan bahwa “Penampilan atau penceritaan merupakan kesempatan untuk mempertahankan, menyebarluaskan, dan meneruskan sastra lisan. Tanpa penampilan, maka sastra lisan akan dilupakan orang atau tidak berwujud” (Shomary, 2004:57).

Pentingnya media berupa pertunjukan membuat tradisi Nyanyi Panjang dimasukan ke dalam beberapa agenda pesta adat, misalnya dalam acara perkawinan. Untuk suatu pesta perkawinan, Nyanyi Panjang ditampilkan antara lima sampai tujuh malam, dari pukul 21.00 – 03.00 waktu setempat (http://melayuonline.com/).

Secara umum pertunjukan Nyanyi Panjang digelar antara pukul 20.30 – 04.00 waktu setempat. Ketika pertunjukan akan dimulai, tukang Nyanyi Panjang menempati tempat yang telah disediakan oleh pihak tuan rumah yang menyelenggarakan pesta. Tempat tukang Nyanyi Panjang (tempat duduk) biasanya berupa tilam kecil atau tikar biasa. Sebelum mulai pentas, tukang Nyanyi Panjang meminta izin terlebih dahulu kepada tuan rumah dan orang yang hadir (khalayak) dalam tutur bahasa yang biasa. Setelahnya dilanjutkan dengan melantunkan pantun bebalam (panjang-pendek pantun bebalam disesuaikan dengan kehendak tukang Nyanyi Panjang dan respon khalayak). Selesai melantunkan pantun bebalam, tukang Nyanyi Panjang kemudian mulai bercerita (Nyanyi Panjang) (Shomary, 2004:58).

Suasana pertunjukan dalam Nyanyi Panjang sangat tergantung dari jalannya cerita yang dikisahkan oleh tukang Nyanyi Panjang. Untuk lebih menyemarakkan suasana dan menambah semangat tukang Nyanyi Panjang, pada bagian tertentu biasanya khalayak akan menyahut dengan kata-kata tertentu, seperti a a, hu hu, kurrih, itu dia, lantaklah, dan lain-lain (Shomary, 2004:59). Suasana semakin meriah apabila sahutan tadi disambut oleh tukang Nyanyi Panjang dengan intonasi yang semakin tinggi. Hal ini sekaligus juga penanda bahwa pengiriman pesan atau makna cerita diterima dengan baik oleh khalayaknya. Kadang kala tukang Nyanyi Panjang akan berhenti sejenak dan melantunkan pantun bebalam (Shomary, 2004:59).

Pada bagian-bagian tertentu dari cerita, tukang Nyanyi Panjang akan melakukan jeda sejenak. Untuk mengisi kekosongan, tukang Nyanyi Panjang menyelingi dengan berbagai bualan yang biasanya tentang pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Masa rehat ini juga dimanfaatkan untuk minum, merokok, dan menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Setelah jeda sekitar 15-30 menit, cerita dimulai kembali. Setiap babak memerlukan waktu sekitar 20-45 menit. Demikianlah persembahan Nyayi Panjang sampai cerita tersebut tamat (Shomari, 2004:59 dan 62).    

Dalam tradisi orang Petalangan, Nyanyi Panjang tidak dibacakan dengan nada monoton, melainkan disenandungkan menurut satu lagu. Tukang Nyanyi Panjang (penutur cerita) boleh memilih salah satu di antara dua lagu, Indang Padonai atau Indang Padodo, bahkan boleh beralih dari satu lagu kepada yang lain. Akan tetapi kebanyakan para penutur cerita hanya memakai salah satu lagu, yaitu Indang Padonai (Tenas Effendy, 1997:9).   

Seperti dikutip dalam Effendy (1997), dalam proses menceritakan Nyanyi Panjang, khususnya jenis Nyanyi Panjang Tambo, secara umum terkandung pembabakan kandungan isi ke dalam beberapa bagian, yaitu:

  • Asal-usul tokoh utamanya yang dianggap sebagai nenek moyang suku yang bersangkutan

Diceritakan juga tentang profil tokoh utama yang meliputi orang tua si tokoh (bapak dan ibu), keluarga, negeri asal, kemudian dilanjutkan dengan cerita si tokoh utama sampai kepada keturunannya, setidaknya sampai si tokoh menetap di suatu wilayah dan membuka Hutan Tanah Wilayat.

  • Asal-usul Hutan Tanah Wilayat

Diceritakan bagaimana si tokoh mendapatkan Hutan Tanah Wilayat tersebut, upaya yang dilakukan dalam memperoleh Hutan Tanah Wilayat (hasil usaha sendiri atau pemberian orang lain), lokasi Hutan Tanah Wilayat, nama asal tempat Hutan Tanah Wilayat, dan sebagainya.

  • Tunjuk ajar

Yaitu pengungkapan petuah, amanat, hukum adat, dan berbagai ketentuan yang berlaku dalam masyarakat, yang sarat dengan pesan-pesan moral yang diwariskan secara turun-temurun.

  • Lain-lain

Yaitu berisi tentang berbagai hal sebagai pelengkap cerita sebagaimana biasanya sastra lisan ini diceritakan, termasuk ungkapan-ungkapan baku mengenai rimba, keadaan siang hari atau malam hari, kecantikan gadis atau ketampanan pemuda, dan sebagainya.

  • Penutup

Nyanyi Panjang Tombo selalu diakhiri dengan kebahagiaan. Si Tokoh selalu berhasil mencapai cita-citanya, menjadi raja, orang besar, atau orang sakti, serta berhasil pula mendapatkan kawasan tertentu untuk Hutan Tanah Wilayatnya. Tokoh yang berhasil inilah yang kemudian dianggap sebagai nenek moyang suku, diagungkan, dan dibesarkan secara turun-temurun. Semakin tinggi kedudukan tokoh yang dianggap nenek-moyang tersebut, berarti semakin tinggi pula kebanggan mereka.

Di dalam pelaksanaannya, pertunjukan Nyanyi Panjang didahului dengan menyanyikan pantun pembuka yang sering disebut dengan pantun bebalam. Berikut ini contoh dari lirik pantun bebalam model lagu Indang Padonai yang dikutip dari http://melayuonline.com/:

 Indai donai...

 Indai donai...

 Aaii..............

 Aaii..............

 Buah lakom di dalam somak

 Buah lakom di dalam semak

 Pada seumpun ditimpo bonto

 Padi serumpun ditimpo bento

 Salamualaikum kepado sanak

 Assalamualaikum kepada sanak

 Kami bepantun membukak ceito

 Kami berpantun membuka cerita

 ................................

 …………………………..

 Indang donai...

 Indang donai...

 Aaii.................

 Aaii.................

 Untuk apo mumasang pelito

 Untuk apa memasang pelita

 Untuk penoang uang di balai

 Untuk penerang orang di balai

 Untuk apo mungonang ceito

 Untuk apa mengenang cerita

 Untuk pogangan uang nan amai

 Untuk pegangan orang yang ramai

 .......dan seterusnya.

 .......dan seterusnya.

6. Nilai Budaya

Seperti dikutip dalam Shomary (2004), sebagai suatu cerita pelipur lara Melayu yang berfungsi sebagai media pendidikan dan pengajaran bagi masyarakatnya, cerita-cerita dalam Nyanyi Panjang mengandung berbagai unsur pemikiran dan nilai-nilai yang bermanfaat dalam kehidupan. Sebelum adanya bentuk sekolah formal, suatu persembahan Nyanyi Panjang merupakan “sekolah terbuka” bagi masyarakatnya. Oleh ketua dan para tetua adat Petalangan, melalui cerita-cerita itu disampaikan pelbagai pemikiran dan nilai-nilai kepada masyarakatnya. Penyampaiannya dilakukan secara informal, akrab, dan berbentuk hiburan (Shomary, 2004:115).

Pewarisan tombo pada suku sangat dimungkinkan dengan cara menceritakan lewat seni pertunjukan Nyanyi Panjang. Cerita dalam  tombo yang merupakan identitas dari suatu suku secara otomatis ikut pula terlestarikan dengan digelarnya pertunjukan Nyanyi Panjang. Cerita yang diulang-ulang, bahkan digelar tidak hanya di suku yang sama, akan semakin membuat nilai budaya yang dimiliki oleh suatu suku tertentu menjadi lestari.

7. Penutup

Nyanyi Panjang merupakan warisan budaya bagi masyarakat Petalangan. Nyanyi Panjang bukan semata-mata seni pertunjukan biasa, tetapi juga wujud tradisi yang banyak memuat pesan moral seperti tunjuk ajar, yang dipakai sebagai media untuk melestarikan Hutan Tanah Wilayat, bahkan suatu identitas suku tertentu.

Setiap Nyanyi Panjang (khususnya jenis Nyanyi Panjang Tombo) dilengkapi dengan amanat, petuah, dan nasehat yang tidak saja berkaitan dengan pelestarian Hutan Tanah wilayat, tetapi mengandung juga pesan moral yang berisi nilai-nilai luhur kebudayaan dan norma-norma sosial masyarakat. Itulah sebabnya dalam ungkapan dikatakan bahwa “di dalam tombo banyak yang bersua”, atau juga “kalau hendak mengenal bangsa, lihat kepada tombo-nya” (Effendy, 1997:43).

Nyanyi Panjang berisi antara lain tentang asal-usul suatu suku tertentu dan tentang pembukaan Hutan Tanah Wilayat. Melestarikan Nyanyi Panjang berarti pula mengajarkan kepada generasi penerus di Petalangan untuk menjaga Hutan Tanah wilayat mereka. Nyanyi Panjang merupakan media alami untuk mengajarkan bagaimana pesan moral disampaikan lewat bahasa sastra lisan


(Tunggul Tauladan/bdy/02/01-2010)

Referensi

  • “Koba/ Nyanyi Panjang” diunduh dari http://melayuonline.com, pada tanggal 23 Januari 2010.
  • “Nyanyi Panjang Bujang Tan Domang” diunduh dari http://melayuonline.com, pada tanggal 25 Januari 2010.
  • Sudirman Shomary, 2004. Nyanyi Panjang orang Petalangan Kabupaten Pelalawan. Pekanbaru: UIR Press.
  • Tenas Effendy et.al., tt. Dari Pekantua ke Pelalawan. Riau: Penerbitan Buku Sejarah Pelalawan.
  • Tenas Effendy, 1997. Bujang Tan Domang: Sastra lisan orang Petalangan. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Sumber Foto

  • Sudirman Shomary, 2004. Nyanyi Panjang orang Petalangan Kabupaten Pelalawan. Pekanbaru: UIR Press.
  • Tenas Effendy, 1997. Bujang Tan Domang: Sastra lisan orang Petalangan. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

[1] Pada masa Kerajaan Pelalawan masih berkuasa, masyarakat Petalangan termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Pelalawan. Sehubungan dengan faktor kekuasaan inilah, masyarakat Petalangan mengakui kedaulatan Raja Kerajaan Pelalawan sebagai raja mereka (masyarakat Petalangan).

[2] Pernyataan ini bukan bermakna bahwa jenis-jenis cerita lainnya tidak menghibur atau melipur lara khalayaknya. Selain itu, cerita lipur lara bukan hanya berfungsi untuk melipur lara khalayaknya saja, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan, penerangan, dan media kritik sosial.

 
Dibaca : 4.860 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password