Senin, 29 Mei 2017   |   Tsulasa', 3 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 8.190
Hari ini : 48.952
Kemarin : 92.690
Minggu kemarin : 704.729
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.488.719
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Gasing: Permainan Rakyat Kalimantan Timur


Gasing

Gasing adalah mainan tradisional yang terbuat dari kayu dan sebagainya, yang dimainkan dengan cara memusingkannya dengan tali. Di Kalimantan Timur permainan ini disebut begasing. Begasing memuat banyak sekali pelajaran hidup. Begasing hanya dimainkan oleh kaum laki-laki, baik anak-anak, remaja maupun orangtua.

1. Asal-usul

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka tahun 2005 hal 339, “gasing” berarti mainan yang terbuat dari kayu dan sebagainya yang diberi pasak (paku atau kayu) yang dipusingkan dengan tali. Dalam bahasa Indonesia, umumnya gasing berarti “berputar sangat cepat”. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan orang seperti “pemain bola itu badannya berputar seperti gasing setelah bertabrakan dengan pemain lawan”. 

Permainan yang menggunakan gasing dikenal hampir di seluruh provinsi di Indonesia dan semua provinsi mempunyai sebutan yang sama terhadap permainan ini, yaitu permainan gasing.  Di Provinsi Kalimantan Timur, permainan ini disebut dengan begasing (Karim et al., 1993). Asal mula permainan begasing di Kalimantan Timur tidak dapat diketahui dengan jelas, namun dari beberapa cerita di masyarakat, permainan ini dianggap berasal dari daerah Sumatera dan Jawa. Hal ini disebabkan karena budaya oleh masyarakat pendukungnya selalu dibawa dan melekat dalam diri, sehingga jika masyarakat pendukung budaya tersebut berpindah ke daerah baru, budaya itu disosialisasikan dan berkembang sesuai dengan tempat yang baru. Dari sini lahir berbagai versi dari budaya tersebut, salah satunya terjadi pada permainan gasing ini.

Begasing pada zamannya biasa dimainkan oleh orang laki-laki, baik anak-anak, pemuda maupun orangtua. Sungguh sangat disayangkan saat ini permainan begasing tidak banyak lagi dimainkan di perdesaan atau di perkotaan Kalimantan Timur, padahal permainan ini memuat nilai-nilai kehidupan yang baik bagi pendidikan masyarakat. Saat ini para pengrajin gasing juga sudah tidak banyak ditemukan. Di zaman modern sekarang, anak-anak, pemuda dan orangtua lebih suka bermain play station, game, internet atau handphone.

Dalam praktiknya Begasing dapat dimainkan secara perseorangan atau dengan beberapa orang (biasanya 3 orang). Untuk yang dimainkan perseorangan, tidak ada aturan yang pasti, tetapi hanya ditujukan untuk hiburan. Adapun yang dimainkan oleh tiga orang, selain untuk hiburan permainan jenis ini juga bersifat pertandingan, sehingga mempunyai aturan yang cukup mengikat untuk menentukan pemenangnya.

Bagi pemula, begasing mudah untuk dipelajari jika ingin dimainkan. Hal ini dikarenakan peralatannya cukup sederhana dan mudah untuk dipraktekkan secara langsung. Begasing juga sangat mudah untuk dibawa ke mana-mana dan tidak mengganggu jika tiba-tiba ingin memainkannya.

2. Bahan dan Cara Pembuatannya

Bahan gasing di Kalimantan Timur sangat mudah untuk didapatkan. Hal ini disebabkan bahan-bahan tersebut banyak terdapat di lingkungan sekitar perkampungan masyarakat Kalimantan Timur, khususnya di hutan-hutan Kalimantan Timur. Salah satunya adalah kayu ulin yang banyak tumbuh dan ditanam di hutan Kalimantan Timur. Adapun bahan-bahan untuk membuat dan memainkan gasing terdiri dari:

  • Kayu ulin untuk membuat gasing.
  • Tali yang kuat untuk memainkan gasing.
  • Paku untuk dipasang di badan gasing yang lancip (ini tergantung selera pemain).

Kayu ulin dikenal oleh masyarakat Kalimantan Timur sebagai kayu yang keras, sehingga kayu ini cocok untuk bahan gasing. Gasing yang dibuat dari kayu ulin tidak mudah pecah dan tahan lama. Dikarenakan kerasnya, beberapa masyarakat menyebut kayu ulin sebagai kayu besi.

Umumnya gasing dibuat dengan tinggi lebih kurang 15 cm. Namun gasing dapat dibuat dengan berbagai ukuran, dari yang kecil sampai yang besar. Gasing mempunyai dua bagian penting, yaitu:

  • Bagian kepala, yaitu bagian atas gasing yang berbentuk seperti tutup teko dengan lehernya.
  • Badan gasing, yaitu bagian bawah gasing yang berbentuk seperti badan teko dengan ujung bawahnya lancip.

Proses pembuatan gasing cukup sederhana. Pertama-tama adalah memilih kayu ulin yang keras, kemudian kayu dipotong sepanjang lebih kurang 15-20 cm. Kayu bagian atas kemudian diserut (dihaluskan) dengan menggunakan pisau khusus untuk membentuk kepala gasing. Kepala gasing dibuat dengan garis tengah antara 1,5 cm sampai 5 cm, sedangkan tingginya antara 2 sampai 6 cm.

Selanjutnya bagian bawah kayu diserut untuk membentuk badan gasing. Badan gasing dibentuk lebih besar daripada kepala gasing. Ini dimasudkan agar gasing berputar dengan seimbang.  Ujung bawah badan gasing dipola runcing. Bentuk runcing ditujukan untuk tumpuan gasing ketika berputar. Semakin runcing bawahnya maka akan semakin lama gasing berputar.

3. Cara Memainkan dan Aturan Permainan

Di Kalimantan Timur, jika hanya bertujuan untuk hiburan, maka gasing dapat dimainkan kapan saja. Namun jika untuk tujuan pertandingan (gasing sudah dimasukkan ke dalam bidang olah raga) maka gasing dimainkan dalam peristiwa-peristiwa tertentu, misalnya saat menyambut hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus atau hari jadi kabupaten atau Provinsi Kalimantan Timur.

Cara memainkan gasing cukup mudah dan tidak jauh berbeda dengan cara memainkan yoyo (permainan tradisional yang berbentuk bulat seperti ban mobil). Pemain pemula dapat langsung belajar sambil mempraktekkannya. Satu hal yang perlu dicermati sebelum memainkan gasing adalah mencari tanah yang agak keras sebagai ruang atau tempat untuk menjatuhkan gasing. Jika tanahnya gembur maka gasing akan terperosok ke dalam tanah dan tidak dapat berputar. Selanjutnya panjang tali juga harus diperhatikan. Jika talinya panjang maka gasing diayun agak jauh, karena dengan begitu gasing akan berputar lebih lama.

Untuk memulai memainkan gasing, langkah pertama adalah melilitkan tali ke leher gasing dengan kuat. Selanjutnya jari tengah pemain dimasukkan ke lubang pengait yang menjadi satu dengan tali gasing. Kemudian dengan mengangkat atau menarik tangan ke belakang, gasing dilempar ke depan di tanah dengan sekuat tenaga. Seketika gasing akan berputar dengan kencang  jika ujung bawah gasing yang lancip menyentuh tanah yang keras.

Di Kalimantan Timur, jika gasing dimainkan sendiri maka tidak ada aturan yang pasti. Akan tetapi jika gasing dimainkan dalam bentuk pertandingan (dalam bentuk tim), terdapat dua model dan dua aturan yang sederhana dalam pertandingan gasing, yaitu mencari gasing yang paling lama berputar dan mencari gasing yang tidak berhenti berputar ketika dipukul dengan gasing yang lain.

  • Mencari gasing yang paling lama berputar

Pertandingan gasing jenis ini biasanya dilakukan oleh tiga orang. Permainan dimulai dengan memainkan gasing secara serentak. Selanjutnya akan dipilih gasing yang paling lama berputar. Bagi gasing yang lebih dahulu berhenti selanjutnya dinamai hulu (artinya ia bermain sebagai rakyat). Gasing yang berhenti berikutnya dinamai menteri (bermain sebagai menteri), dan gasing yang paling lama berputar dinamai raja (bermain sebagai penguasa).

Pada kondisi tertentu, jika para pemain sama-sama terampil, gasing akan berhenti bersama-sama. Kondisi ini disebut orang Kutai dengan baturai atau seri. Untuk itu permainan harus diulang dari awal, yaitu memainkan gasing secara serentak lagi. Pada kondisi lain, salah satu gasing berhenti lebih dahulu, sementara yang dua berhenti bersamaan. Untuk itu gasing yang berhenti lebih dahulu dinamai hulu, dan dua gasing yang berhenti bersamaan harus mengulang untuk dimainkan secara serentak lagi. Intinya harus anda yang menjadi hulu, menteri dan raja. Urutan ini ditujukan untuk membuat aturan pada permainan model kedua.  

  • Mencari gasing yang tidak berhenti berputar ketika dipukul dengan gasing yang lain

Jika peran hulu, menteri dan raja sudah dipastikan, maka pada model permainan kedua ini, yang pertama kali memainkan gasingnya adalah yang mendapat peran hulu. Selanjutnya yang mendapat peran menteri memainkan gasingnya. Gasing dimainkan dengan melemparkan (memukul) ke gasing hulu. Jika gasing hulu terpukul dan berhenti, maka jabatannya tetap. Jika gasing hulu tetap berputar dan gasing menteri berhenti, maka gasing menteri kalah. Namun jika gasing hulu berhenti dan menteri berputar, maka dilanjutkan dengan gasing raja untuk memukul gasing menteri. Begitulah seterusnya hingga permainan berakhir. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam permainan gasing adalah urutan dari hulu, menteri hingga raja tidak boleh ditukar-tukar.

Permainan ini akan terus berlanjut hingga didapatkan pemenangnya. Perhitungan kalah menang akan ditentukan oleh jumlah hulu. Pemain yang paling banyak berperan menjadi hulu itu yang ditetapkan kalah. Sedangkan pemenangnya adalah yang paling banyak menjadi menteri dan raja.

4. Nilai-nilai

Permainan gasing mengandung nilai-nilai yang bermanfaat bagi kepribadian dan kebudayaan masyarakat Kalimantan Timur. Jika melihat nilai-nilai ini tentunya menjadi ironis ketika gsing makin lama makin sulit ditemui di daerah Kalimantan Timur. Nilai-nilai yang terdapat dalam permainan gasing antara lain:

  • Nilai pelestarian budaya. Begasing merupakan permainan tradisional. Memainkan atau bahkan mempertandingkan gasing berarti pula ikut melestarikan kebudayaan tradisional. Apalagi gasing saat ini dijadikan sebagai olahraga tradisional yang dipertandingkan pada peristiwa-peritiwa olahraga di daerah Kalimantan Timur. Pada permainan gasing, pelestarian budaya sebenarnya tidak hanya terlihat dari penyelenggaraan permainan gasing itu saja, akan tetapi juga pelestarian pakaian adat. Hal itu dikarenakan pada setiap pertandingan pemain diharuskan memakai pakaian adat. Pihak penyelenggara memang sengaja membuat aturan ini, karena bertujuan untuk melestarikan permainan tradisional sekaligus pakaian adatnya.
  • Nilai seni. Nilai ini tercermin dari pembuatan gasing yang tentu saja memerlukan keterampilan seni ukir dan kayu yang mumpuni. Oleh sebagian pengrajin, gasing terkadang dibuat dengan serutan yang sangat halus, sehingga gasing juga dapat dijadikan benda seni yang dapat dikoleksi. Bentuk gasing yang kecil bagian atasnya dan besar bagian bawahnya seperti kendi atau teko tempat minum mengingatkan pada bentuk dewa rezeki dalam kepercayaan orang Cina.
  • Nilai pariwisata. Nilai ini tampak begitu jelas ketika penyelenggaraan pertandingan gasing, karena saat itu banyak orang yang datang, baik dari lokal maupun mancanegara, untuk menonton. Hal ini tentu saja bisa menambah pendapatan daerah dan semakin mengenalkan Provinsi Kalimantan Timur sebagai daerah tujuan wisata yang perlu dikunjungi.
  • Nilai sportivitas (kejujuran). Pertandingan gasing tentu saja mengajarkan pada pemain khususnya dan masyarakat umumnya tentang nilai kejujuran. Hal ini dikarenakan pemain dapat saja tidak jujur dalam bertanding, misalnya dengan memukul gasing musuh terlalu dekat atau bersekutu dengan juri pertandingan sehingga dimenangkan.
  • Nilai menjaga kekompakan tim. Pada beberapa pertandingan gasing, terkadang pertandingan memang sengaja diatur berdasarkan tim bukan perseorangan. Jika atas nama tim maka satu tim harus menjaga kekompakan dan kerjasama yang baik. Pelatih dan pemain harus jeli dalam membuat strategi, khususnya ketika mencarikan lawan pemainnya. Jika salah dalam mencarikan lawan pemainnya tentu saja akan mengakibatkan kekalahan.

5. Penutup

Gasing sebagai sebuah permainan tradisional yang mempunyai nilai yang bermanfaat bagi kebudayaan dan masyarakat Kalimantan Timur menuntut untuk digalakkan kembali, apalagi saat ini permainan ini sudah sulit ditemui. Permainan ini juga dapat dijadikan media perlawanan masyarakat pegiat budaya Kalimantan Timur untuk membendung permainan modern yang tidak berpengaruh positif terhadap perkembangan anak-anak. Tentunya perlu usaha yang keras dari berbagai pihak untuk mewujudkannya, baik pemerintah, pelaku budaya maupun masyarakat sendiri. Dengan niat yang tulus dan usaha yang tak kenal lelah, hal ini pasti akan terwujud.

Yusuf Efendi (bdy/16/02-10)

Referensi

  • M. Saidi Karim, 1993. Peralatan hiburan dan kesenian tradisional daerah Kalimantan Timur. Samarinda: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kalimantan Timur.
  • Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ketiga, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Tim Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1983. Permainan anak-anak daerah Kalimantan Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
  • Tim Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1981. Permainan rakyat daerah Kalimantan Timur. Samarinda: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Tim Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1982. Naskah sejarah seni budaya Kalimantan Timur. Samarinda: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Sumber Foto: sumber: M Saidi Karim et al., 1993
Dibaca : 35.962 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password