Selasa, 2 September 2014   |   Arbia', 7 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 2.386
Hari ini : 18.571
Kemarin : 22.071
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.078.545
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rumah Kejang Lako (Rumah Adat Orang Batin V di Jambi)


Rumah Kejang Lako di Rantau Panjang, Jambi

Rumah Kejang Lako adalah salah satu rumah adat tradisional yang merupakan tempat tinggal masyarakat Marga Batin V di Rantau Panjang, Jambi. Rumah ini sangat menarik dan unik karena bentuk bubungannya yang menyerupai perahu, dan usianya pun telah mencapai ratusan tahun. Ruang-ruang pada bangunan ini dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan ketentuan adat yang berlaku dan setiap ruang mempunyai fungsi masing-masing.

1. Asal-usul

Masyarakat Marga Batin V atau yang biasa disebut Orang Batin adalah salah satu suku yang menetap di Jambi. Menurut cerita, Orang Batin berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang pindah dari Koto Rayo, yaitu sebuah dusun yang terletak sekitar 2 km sebelah ilir Rantau Limau Manis. Ada dua versi cerita tentang penyebab kepindahan ke-60 tumbi tersebut dari Dusun Koto Rayo. Versi pertama mengatakan bahwa Poyang Depati yang merupakan pemimpin ke-60 keluarga itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita. Namun, ia selalu menolak setiap ada lamaran yang datang kepada putrinya karena tak satu pun dari para pelamar tersebut yang berkenan di hatinya. Maka untuk menyelamatkan putrinya, Poyang Depati mengajak seluruh keluarga dan warganya untuk meninggalkan Dusun Koto Rayo (Djafar dan Anas Madjid, 1986: 14).

Versi kedua menyebutkan bahwa kepindahan ke-60 keluarga tersebut dari Koto Rayo karena mereka terserang wabah penyakit dan sering mendapat serangan dari Batang Hari. Mereka menyusuri Sungai Tabir hingga akhirnya tiba di ujung Muara Semayo. Di tempat itulah mereka mengadakan perjanjian akan menyebar ke beberapa tempat untuk membuat dusun. Payong Deputi bersama 16 keluarga lainnya membuat dusun di ujung Muara Semayo yang diberi nama Tanjung Muara Semayo yang saat ini dikenal dengan Kelurahan Rantau Panjang. Sementara 41 keluarga lainnya membuat dusun di sepanjang Sungai Tabir, yaitu Dusun Seling, Dusun Kapuk, Dusun Pulau Aro, dan Dusun Muara jernih (Djafar dan Madjid, 1986: 15). Kelima dusun tersebut kini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

Salah satu dusun Orang Batin yang masih utuh hingga saat ini adalah Rantau Panjang. Masyarakat di dusun ini masih teguh memegang nilai-nilai budaya leluhur yang tercermin pada kesetiaan mereka melestarikan rumah Kejang Lako yang merupakan ciri khas dalam kesukuan mereka. Bangunan rumah ini disebut Kejang Lako karena kedua ujung bubungan sebelah atas melengkung sedikit ke atas sehingga menyerupai bentuk perahu  (http://www.balarpalembang.go.id/). Ada juga yang menyebut rumah ini sebagai Rumah Lamo karena menurut sejarah rumah ini sudah cukup tua, yaitu diperkirakan sudah berumur ratusan tahun (Djafar dan Madjid, 1986: 22).

Tipologi rumah ini adalah rumah panggung yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran panjang12 meter dan lebar 9 meter. Secara fungsional, rumah ini dibuat empat persegi panjang dengan tujuan untuk memudahkan dalam penyusunan ruang. Di dalam rumah ini terdapat berbagai etika dan tata kesopanan yang harus dijunjung tinggi, yang didasarkan pada ajaran-ajaran agama Islam. Ada penghormatan terhadap ninik mamak, jaminan perlindungan bagi anak-anak, hidup berkecukupan dalam keluarga, dan keharmonisan sosial dalam bermasyarakat (Irma Tambunan, Kompas 2007). Oleh karena itu, ruang anak gadis dengan pemuda harus diletakkan berjauhan. Ruang anak gadis biasanya terletak di bagian belakang, sedangkan ruang pemuda barada di bagian depan (Djafar dan Madjid, 1986: 22). Sementara alasan mengapa rumah ini dibuat dengan tipologi rumah panggung adalah karena faktor keamanan, yaitu aman dari serangan musuh yang bisa saja datang secara mendadak dan gangguan dari binatang-binatang buas (http://wisatamelayu.com).

Rumah-rumah Kejang Lako di Rantau Panjang dibangun dalam satu kompleks dengan berderet memanjang dan saling berhadap-hadapan. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya rata-rata 2 meter. Di bagian belakang rumah Rejang Lako juga dibuat sebuah bangunan khusus untuk menyimpan padi yang disebut dengan bilik atau lumbung. Bentuk dan tipologi bangunan ini hampir sama dengan bangunan Kejang Lako, yaitu bertipologi rumah panggung dan berbentuk empat persegi panjang. Hanya saja ukurannya lebih kecil daripada rumah tempat tinggal.

Dalam mendirikan rumah Kejang Lako agar menjadi sebuah tempat tinggal yang aman, kokoh, tahan lama, serta memiliki nilai-nilai estitika, maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan yaitu di antaranya pemilihan bahan, waktu dan tempat mendirikan rumah, dan teknik pembuatannya.

2. Bahan-bahan dan Tenaga

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat rumah Kejang Lako biasanya diperoleh dari lingkungan yang tersedia misalnya kayu, bambu, ijuk, dan rotan. Jenis kayu yang digunakan untuk tiang yaitu diambil dari kayu-kayu pilihan seperti kayu bulian, petaling, dan kulim (Djafar dan Madjid, 1986: 50). Untuk membuat dinding, biasanya bahan yang digunakan adalah kayu medang dan meranti. Kedua jenis kayu ini dipilih karena mudah ditarah untuk dijadikan papan yang akan digunakan sebagai dinding rumah. Bambu biasanya digunakan untuk membuat gelegar, baik yang digunakan pada lantai rumah maupun pada loteng. Gelegar yang berfungsi sebagai penahan lantai itu terbuat dari bambu bulat, sedangkan lantai rumah terbuat dari bambu yang telah dibelah kecil-kecil dan diraut hingga halus, kemudian disusun dan dijalin dengan rotan. Sementara bahan ijuk atau daun enau digunakan untuk membuat atap rumah. Bahan-bahan dari kayu atau bambu tersebut biasanya terlebih dahulu direndam di air selama berbulan-bulan.

Pembuatan rumah Kejang Lako sebagian besar dilakukan secara kolektif oleh keluarga inti dan masyarakat. Secara garis besar, tenaga yang dipergunakan dalam membangun rumah Kejang Lako yaitu tenaga perancang, tenaga ahli, dan tenaga umum (Djafar dan Madjid, 1986: 50). Tenaga perancang adalah para pemuka adat yang dianggap memiliki pengetahuan tentang tata cara pembuatan rumah dan pelaksanaannya. Tenaga ahli adalah seseorang yang terampil dan mengetahui teknik membuat rumah. Sebenarnya, penyebutan tenaga ahli ini hanya sekedar gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang berdasarkan profesinya sebagai tukang karena pada dasarnya rata-rata masyarakat Marga Batin V memiliki keterampilan dan pengetahuan tentang tata cara pembuatan rumah.

Tenaga umum adalah masyarakat setempat dengan cara bergotong-royong. Tenaga umum ini hanya bekerja pada waktu-waktu tertentu seperti ketika akan mendirikan rumah, yaitu mulai dari pemasangan tiang hingga berdirinya kerangka bangunan. Selain itu, ada juga tenaga umum yang sifatnya sebagai pembantu umum, yaitu beberapa orang yang juga memiliki keterampilan khusus, namun belum sampai ke tahap ahli, dan tugasnya adalah membantu tenaga ahli. Selain itu, di kalangan masyarakat Marga Batin V juga dikenal istilah sistem pengerahan tenaga, yang terdiri dari tiga macam, yaitu kerja bakti, gotong-royong, dan sistem upah. Penggunaan tenaga dengan sistem upah biasanya dilakukan oleh masyarakat yang mampu dan untuk kepentingan pribadi. Secara umum, sistem pengerahan tenaga ini kebanyakan digunakan ketika akan membangun fasilitas umum seperti tempat ibadah, jalan, dan sekolah.

3. Tahap Mendirikan Rumah Kejang Lako

a. Tahap Persiapan

Menurut adat istiadat masyarakat Marga Batin V, setiap orang tua berkewajiban membuatkan rumah untuk anak perempuannya. Jika sebuah keluarga memiliki enam anak perempuan, maka orang tua berkewajiban membuat rumah sebanyak enam. Namun, rumah tersebut baru akan diserahkan setelah anak perempuan tersebut menikah (Djafar dan Madjid, 1986: 49). Oleh karena itu, langkah pertama yang harus mereka lakukan ketika akan mendirikan rumah adalah tahap persiapan. Tahap ini biasanya dilakukan sejak lahirnya seorang putri dalam sebuah keluarga, terutama dalam hal penyediaan bahan-bahan bangunan. 

Langkah pertama dalam tahap persiapan adalah musyawarah keluarga. Dalam petemuan ini dibicarakan mulai pemilihan waktu, lokasi, dan posisi letak rumah. Menurut kepercayaan masyarakat Marga Batin V, mendirikan rumah di hulu sungai tidak diperbolehkan karena si penghuni rumah akan ditimpa berbagai macam penyakit. Posisi letak rumah juga harus selalu diperhatikan karena posisi letak bangunan rumah yang salah dapat menimbulkan malapateka bagi si penghuni rumah. Apabila bangunan rumah menghadap ke lereng bukit, si penghuni rumah akan ditimpa kematian. Posisi bangunan rumah yang baik menurut mereka adalah ruang Balik Melintang selalu berada di sebelah barat agar si penghuni rumah lebih mudah mengetahui arah kiblat dan tidak menghadap ke dapur ketika akan shalat. Menurut mereka, dalam melaksanakan shalat tidak diperbolehkan menghadap ke dapur.

b. Tahap Pengadaan Bahan

Pengadaan bahan-bahan bangunan dalam membuat rumah Kejang Lako biasanya dilakukan secara berangsur-angsur dan pengambilannya dilakukan secara bergotong-royong, yang dalam istilah masyarakat setempat disebut baselang, yaitu bersama-sama masuk ke dalam hutan untuk menebang kayu sebanyak mungkin (Djafar dan Madjid, 1986: 50). Waktu pelaksanan baselang yang baik menurut adat setempat yaitu pada awal-awal bulan, sedangkan waktu yang kurang baik untuk baselang yaitu pada bulan Safar karena diyakini dapat mendatangkan berbagai penyakit bagi si penghuni rumah. Selain bulan Safar, waktu terang bulan juga dianggap waktu yang kurang baik untuk baselang karena kayu-kayu yang akan dijadikan bahan bangunan mudah lapuk dan akan dimakan kumbang ataupun rayap.

4. Bagian-bagian Rumah Kejang Lako

Sebagai rumah bertipologi panggung, Rumah Kejang Lako dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Bagian bawah meliputi sendi, tiang, lantai, dan tangga; bagian tengah meliputi dinding, pintu, dan jendela; sedangkan bagian atas meliputi penteh (loteng), kerangka atap, dan atap. Setiap bagian memiliki fungsi dan cara-cara pembuatannya.

a. Sendi 

Seperti halnya rumah panggung pada umumnya, bangunan Rumah Kejang Lako tidak menggunakan fondasi. Maka sebagai penggantinya digunakan sendi yang berfungsi sebagai penyangga tiang. Sendi biasanya terbuat dari batu kali atau kayu yang diratakan permukaannya dan ukurannya harus lebih besar daripada tiang, yaitu bergaris tengah sekitar 35 cm. Untuk memperkuat kedudukan sendi dan meratakan tinggi tiang, sendi ditanam ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar tiga perempat tinggi sendi.

b. Tiang dan Pelejang

Kekokohan sebuah bangunan rumah sangat ditentukan oleh tiang yang digunakan karena tiang sebagai tongkat dan kerangka bagian tengah rumah berfungsi untuk menahan beban bagian-bagian rumah yang lain. Untuk itu, masyarakat Marga Batin V dalam mendirikan rumah Kejang Lako senantiasa menggunakan kayu yang keras seperti bulian, petaling, dan kulim. Kayu-kayu yang akan dibuat tiang dibentuk persegi delapan dengan panjang 4,25 meter. Jumlah tiang yang dibutuhkan untuk membuat bangunan ini rata-rata 30 buah yang terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang pelamban. Oleh karena tiang pelamban ini hanya merupakan tiang tambahan di luar bangunan induk, maka tiang ini sengaja dibuat agak lebih pendek dan kecil agar tidak dianggap sebagai sebuah pemborosan (http://wartawarga.gunadarma.ac.id).

Berdasarkan fungsinya, tiang pada bangunan Rumah Kejang Lako dibagi menjadi tujuh macam, yaitu tiang tuo, tiang tengah, tiang tepi, tiang balik melintang, tiang balik menahan, tiang gaho, dan tiang pelamban (Djafar dan Madjid, 1986: 29-30). Pembuatan tiang harus dimulai dari tiang tuo karena ia merupakan tiang paling utama dalam bangunan ini.  Kecuali tiang tuo yang berjumlah 1 batang dan tiang pelamban yang berjumlah 5 batang, tiang-tiang yang lain masing-masing berjumlah 4 batang. Sebelum tiang-tiang tersebut didirikan terlebih dahulu dipasang pelejang, yaitu balok pipih yang berfungsi untuk merangkai tiang-tiang tersebut. Setiap pelejang dipasang 4 buah tiang, yaitu masing-masing tiang tepi depan, tiang tengah (tiang tuo), tiang balik menalam, dan tiang tepi belakang.


Denah Tiang Rumah Kejang Lako

Keterangan:

A = tiang tuo

a = tiang tengah

b = tiang tepi depan

c = tiang tepi belakang

d = tiang balik manalam

e = tiang balik melintang

f  = tiang gaho

g = taing pelamban

c. Tangga

Tangga pada Rumah Kejang Lako dibagi menjadi dua macam berdasarkan fungsinya, yaitu tangga utama dan tangga penteh. Tangga utama terletak di sebelah kanan pelamban dan merupakan jalan utama untuk naik atau masuk ke dalam rumah, sedangkan tangga penteh berfungsi sebagai jalan untuk naik ke penteh. Tangga penteh hanya digunakan pada waktu-waktu tertentu, yaitu pada saat akan menyimpan barang-barang di penteh. Jadi tangga ini hanya dipasang pada saat akan digunakan, setelah itu disimpan di tempat lain.

Bahan yang digunakan untuk membuat tangga utama adalah kayu, sedangkan tangga penteh terbuat dari bambu. Meskipun kedua jenis tangga tersebut menggunakan bahan yang berbeda, namun cara pembuatannya sama, yaitu pada setiap ujung anak tangga dibuatkan “putting” (bagian pangkal kayu yang telah diruncing untuk dibenamkan atau dipasang) pada bagian induk tangga yang dipahat selebar “putting” anak tangga. Setelah dipasang ke dalam lubang pahatan pada induk tangga, anak-anak tangga tersebut kemudian dipasak dengan kayu agar tidak mudah lepas.

d. Dinding

Dinding adalah salah satu bagian Rumah Kejang Lako yang berfungsi menutupi seluruh sisi bagian tengah rumah dan berfungsi sebagai pelindung dari cuaca dingin di waktu malam. Dinding pada rumah adat ini berbeda-beda pada setiap sisinya. Dinding yang berada di sisi ujung kanan dan kiri bangunan induk bersambungan dengan tebar layar, sedangkan dinding pada sisi belakang menutupi seluruh bagian tengah rumah, yaitu dari lantai sampai ke pengarang kasau. Sementara dinding di sisi depan hanya dibuat setinggi satu meter. Dinding yang disebut masinding ini biasanya dilengkapi dengan ukiran-ukiran. Untuk memasang dinding tidak perlu menggunakan paku, tetapi cukup dijepit dengan kayu penutup.

e. Pintu / Jendela

Pada bangunan Rumah Kejang Lako tidak dikenal istilah jendela, yang ada hanya istilah pintu, walaupun pada hakikatnya di dalamnya terdapat pintu yang berfungsi sebagai ventilasi. Masyarakat Marga Batin V dalam membuat pintu harus berdasarkan pada ketentuan-ketentuan adat yang berlaku. Misalnya, pintu utama atau yang dikenal dengan istilah pintu tegak ukurannya lebih pendek dari tinggi kebanyakan orang dewasa, yaitu dengan lebar 1 meter dan tinggi 1,5 meter. Oleh karena itu, seseorang yang akan masuk ke dalam rumah harus menundukkan kepala terlebih dahulu. Sikap menundukkan kepala ini menunjukkan suatu penghormatan kepada si pemilik rumah (Djafar dan Madjid, 1986: 27). Pintu tegak ini terbuat dari papan dan diletakkan di sebelah kiri bangunan rumah induk. Cara pemasangannya cukup unik karena tidak perlu menggunakan paku, melainkan menggunakan jepitan.

Selain pintu tegak, Rumah Kejang Lako juga memiliki dua pintu yang lain, yaitu pintu masinding dan pintu balik melintang. Kedua pintu tersebut memiliki fungsi yang sama yaitu berfungsi sebagai tempat untuk melihat ke bawah dan sebagai ventilasi. Perbedaannya terletak hanya pada jumlah dan pengistilahannya untuk membedakan status sosial si penghuni rumah. Pintu masinding hanya digunakan pada rumah-rumah orang biasa dan jumlahnya sebanyak tiga buah, sedangkan pintu balik melintang digunakan pada rumah para pemuka adat, alim ulama, ninik mamak, maupun cerdik pandai, dan jumlahnya hanya satu buah.

f. Lantai

Sesuai dengan fungsinya, lantai Rumah Kejang Lako dibagi menjadi dua, yaitu lantai utama dan lantai biasa. Kedua lantai tersebut dibuat secara bertingkat, yaitu lantai utama dibuat lebih tinggi yakni sekitar 30 cm dari lantai biasa. Lantai utama dibuat lebih tinggi karena lantai ini berada di ruang balik melintang yang merupakan ruang utama pada Rumah Kejang Lako. Menurut adat setempat, ruang balik melintang ini hanya boleh ditempati oleh para pemuka adat. Sedangkan lantai biasa berada di ruang balik menalam, ruang tamu biasa, gaho, dan pelamban, yang semuanya merupakan ruang bagi orang biasa. Hanya saja lantai pada ruang gaho dan pelamban dibuat agak jarang yaitu dengan jarak sekitar 1,5 cm. Hal ini dimaksudkan agar air dapat mengalir ke bawah dengan mudah.

f. Tebar Layar

Tebar layar pada bangunan ini sama dengan timpak laja yang terdapat pada rumat adat orang Bugis di Sulawesi Selatan, yaitu penutup bubungan rumah yang berbentuk segita. Tebar layar yang terletak pada ujung sebelah kiri dan kanan bagian bubungan rumah ini berfungsi untuk menahan tempias air hujan (http://www.hupelita.com). Bahan yang digunakan untuk membuat tebar layar adalah papan yang disusun memanjang dari pengerang kasau sampai ke tiang bubung.

g. Penteh (loteng)

Penteh atau loteng adalah salah satu bagian dari Rumah Kejang Lako yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang. Lantai penteh terbuat dari anyaman bambu yang telah dibelah. Sebelum lantai penteh dipasang terlebih dahulu dipasang gelegar yang terbuat dari bambu bulat dengan diikat tali rotan agar tidak bergerak. Pada bangunan Rumah Kejang Lako terdapat dua macam penteh yaitu penteh bawah dan penteh atas. Penteh bawah terletak di atas ruang gaho dan ruang balik melintang, sedangkan penteh atas berada di atas penteh bawah dan ukurannya lebih besar. Selain penteh, bangunan rumah ini juga mempunyai tempat penyimpanan barang yang lain, yaitu paho yang juga berada di atas ruang gaho dan ruang balik melintang.

h. Bubungan / Atap

Bubungan atau atap Rumah Kejang Lako disebut juga Gajah Mabuk karena konon si pembuat rumah ini sering mabuk. Bentuk bubungan rumah ini memanjang, di mana kedua ujung bubungan sebelah atas sedikit melengkung ke atas sehingga tampak berbentuk perahu. Oleh masyarakat setempat, bentuk bubungan itu dinamakan lipat kajang atau potong jerambat (Djafar dan Madjid, 1986: 27). Seperti halnya bangunan rumah panggung pada umumnya, atap ini dipasang di atas kerangka atap yang telah dibuat terlebih dahulu. Bahan yang digunakan untuk membuat atap adalah ijuk atau daun enau. Agar kedudukan atap tidak mudah ditembus dan tetap kuat, maka ijuk atau daun enau dilipat dua dan kemudian disisipkan pada reng.

5. Susunan dan Fungsi Ruang pada Rumah Kejang Lako

Berdasarkan fungsinya, ruang yang terdapat pada Rumah Kejang Lako terbagi menjadi menjadi 8 (delapan) ruang, yaitu:

a. Ruang Pelamban

Ruang pelamban terletak di depan sebelah kiri bangunan rumah induk. Ruang ini memiliki beberapa fungsi yaitu tempat mencuci piring, menjemur pakaian, menyimpan peralatan mata pencaharian, memelihara tanaman, tempat sandaran tangga utama, dan tempat menunggu tamu sebelum dipersilakan masuk ke dalam rumah. Di ruang ini juga terkadang disediakan air untuk mencuci kaki sebelum masuk ke dalam rumah.

b. Ruang Gaho

Ruang gaho terletak di ujung sebelah kiri bangunan induk dengan ukuran panjang 9 meter dan lebar 2 meter. Ruang ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan tabung air yang terbuat dari bambu bulat dan barang-barang keperluan sehari-hari seperti bakul dan alat-alat penangkapan ikan. Ruang ini juga berfungsi sebagai tempat memasak (dapur).

c. Ruang Masinding

Ruang masinding adalah ruang di bagian depan yang berfungsi sebagai tempat pertemuan seperti musyawarah dan upacara adat. Ruang seluas 8 x 3 meter ini khusus ditempati oleh orang biasa dari kaum laki-laki. Kaum wanita tidak diperbolehkan duduk di ruang ini untuk menerima tamu. Demikian pula para tamu harus bersikap sopan ketika berada di ruang ini. Para tamu harus duduk bersila dan menggunakan kata-kata yang sopan. Jika ada tamu yang melanggar tata kesopanan pada saat upacara adat berlangsung, maka dia akan dikenakan sanksi adat berupa denda satu ekor kambing dan 40 gantang beras.

d. Ruang Tengah

Sesuai dengan posisinya yang berada di tengah-tengah rumah induk dan bersebelahan dengan ruang masinding, maka ruang ini disebut ruang tengah. Luas ruang ini sama dengan luas ruang masinding. Namun, antara ruang tengah dan ruang masinding tidak dipisahkan oleh dinding tetapi hanya dipasang sebatang balok panjang dari kayu jati dengan ukuran setiap sisinya sekitar 15 cm. Balok panjang ini disebut dengan Bendul Jati. Menurut adat setempat, Bendul Jati tersebut berfungsi sebagai pembatas untuk memisahkan tempat duduk kaum laki-laki dan kaum perempuan pada pelaksanaan setiap kegiatan. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa ruang masinding khusus untuk kaum laki-laki, maka ruang tengah ini khusus untuk kaum perempuan.

Pada dasarnya, ketentuan adat tentang pembagian ruang tersebut sangat terkait dengan ajaran-ajaran agama Islam yang merupakan agama yang dianut oleh kebanyakan penduduk setempat. Ketentuan adat tersebut dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pelanggaran norma-norma susila adat dan agama. Oleh karena itu, jika ada peserta dalam suatu kegiatan, baik peserta yang duduk ruang masinding maupun di ruang tengah melangkahi Bendul Jati tersebut maka dia akan mendapat sanksi adat berupa denda seekor kambing dan satu gantang beras.


Denah Ruang Rumah Kejang Lako

Keterangan:

1 = tangga

2 = pelamban

3 = ruang gaho

4 = ruang dapur

5 = ruang masinding

6 = bendul jati

7 = raung tengah

8 = ruang balik melintang

9 = ruang tidur anak gadis

10 = ruang tidur orang tua

11 = kamar makan

e. Ruang Balik Melintang

Ruang balik melintang merupakan ruang utama pada Rumah Kejang Lako yang terletak di ujung sebelah kanan bangunan rumah induk dengan menghadap ke ruang tengah dan ruang masinding. Ruang ini khusus ditempati oleh pemuka-pemuka adat, alim ulama, ninik mamak dan cerdik pandai pada acara musyawarah dan upacara adat. Oleh karena itu, lantai ruang ini dibuat lebih tinggi dari lantai ruang lainnya. Ruang ini tidak diberi dinding pembatas karena untuk memudahkan kelancaran jalannya kegiatan musyawarah dan upacara adat. Namun pada hari-hari biasa, ruang yang berukuran 9 x 2 meter ini dapat digunakan sebagai ruang tamu, tempat tidur bagi anak-anak gadis, dan tempat tidur pengantin baru.

f. Ruang Balik Menalam

Ruang balik menalam adalah ruang yang terdapat di bagian dalam bangunan rumah. Berdasarkan fungsinya, ruang ini disekat-sekat menjadi tiga buah ruang atau kamar, yaitu ruang makan, kamar tidur orang tua, dan kamar tidur anak gadis. Ruang makan dengan luas 2 x 3 meter ini terletak di ujung sebelah kiri berdampingan dengan ruang gaho atau dapur dan pintunya berada di depan menghadap ke ruang masinding. Biasanya, antara ruang makan dan ruang dapur ini tidak diberi dinding.

Ruang tempat tidur anak gadis terletak di ujung sebelah kanan berdampingan dengan ruang balik melitang. Ruang yang seluas 3 x 3 meter ini diberi dinding pembatas di antara ruang masinding. Pintu kamar ini berada di depan, dan di atas pintu biasanya diberi ukiran yang bermotif Tampuk Manggis dan Bungo Jeruk. Menurut adat setempat, ruang ini tidak boleh dimasuki oleh orang lain kecuali orangtua. Sedangkan ruang tempat tidur orangtua berada di antara ruang makan dan ruang tempat tidur anak gadis. Ukurannya sama dengan luas kamar tempat tidur anak gadis. Pintunya juga berada di depan dan di atas pintu diberi ukiran bermotif Tampuk Manggis.

6. Ragam Hias

Ragam hias pada Rumah Kejang Lako dibuat dengan cara dipahat atau diukir di atas kayu yang keras. Motif hias yang paling menonjol pada bangunan rumah ini adalah motif flora dan fauna. Di samping untuk memperindah bentuk bangunan, penggunaan kedua motif ini dimaksudkan sebagai gambaran bahwa lingkungan alam di daerah tersebut kaya dengan flora dan fauna.

a. Motif Flora

Motif flora yang sering digunakan pada bangunan rumah ini ada 3 macam, yaitu motif Bungo Tanjung, motif Tampuk Manggis, dan motif Bungo Jeruk. Hingga saat ini, ketiga motif tersebut telah banyak mengalami proses stilisasi sehingga hasil ukiran tidak lagi menyerupai bentuk aslinya. Ukiran motif Bungo Tanjung biasanya ditempatkan di bagian depan masinding, sedangkan motif Tampuk Manggis diletakkan di atas pintu. Adapun motif Bungo Jeruk pada umumnya ditempatkan di atas pintu dan diukirkan pada bagian luar rasuk (belandar).

 

b. Motif Fauna

Penggunaan motif fauna pada bangunan rumah ini tidak terlalu menonjol. Hanya ada satu jenis motif fauna yang sering digunakan yaitu motif ikan bersisik besar. Itu pun sudah distilir ke dalam bentuk dedaunan yang dilengkapi dengan bentuk sisik ikan. Makna dari penggunaan motif ikan tersebut untuk menggambarkan bahwa penduduk setempat bermata pencaharian sebagai nelayan atau penangkap ikan di sungai.


Motif Ikan

7. Nilai-nilai

Rumah Kejang Lako tidak saja dibangun sebagai tempat berlindung dari berbagai ancaman bahaya seperti serangan mendadak dari pihak lain dan gangguan binatang buas, tapi ia merupakan sebuah hasil kreasi masyarakat Marga Batin V yang memiliki nilai-nilai dan merupakan simbol identitas mereka. Nilai-nilai yang terkandung dalam Rumah Kejang Lako tercermin pada kemampuan masyarakat setempat dalam beradaptasi dengan lingkungannya, membentuk sistem dan etika sosial, dan menciptakan seni arsitektur yang mengandung nilai-nilai estetika yang tinggi.

a. Pola Adaptasi

Rumah Kejang Lako merupakan sebuah seni arsitektur hasil adaptasi masyarakat Marga Batin V terhadap kondisi alam di sekitarnya. Penggunaan tiang dari kayu yang keras dan atap dari ijuk menunjukkan pola adaptasi mereka terhadap lingkungan alam yang banyak menyediakan bahan-bahan bangunan tersebut. Walaupun hanya menggunakan alat-alat yang sederhana dan bahan-bahan yang hanya tersedia di lingkungannya, masyarakat setempat dapat menghasilkan suatu bangunan rumah yang kokoh dan tahan lama. Kemampuan adaptasi masyarakat Marga Batin V lainnya terlihat pada pembangunan rumah yang bertipologi rumah panggung, dengan harapan dapat terhindar dari gangguan binatang buas yang banyak berkeliaran di lingkungan sekitar.

b. Sistem dan Etika Sosial

Perbedaan bentuk ruang dan fungsi ruang pada Rumah Kejang Lako merupakan sebuah potret sistem sosial masyarakat Marga Batin V di Jambi. Pada bangunan rumah ini ada ruang-ruang tertentu yang dibuat untuk membedakan status sosial yang terdapat dalam masyarakat. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa ruang untuk para pemuka masyarakat dibedakan dengan ruang orang biasa. Perbedaan letak ruang dalam bangunan rumah ini juga merupakan salah satu cara untuk menjaga etika sosial yang dilandasi oleh ajaran-ajaran Islam dalam masyarakat. Misalnya, ruang untuk kaum laki-laki dan kaum perempuan dibedakan, begitu pula ruang untuk anak-anak gadis dan pemuda harus diletakkan secara berjauhan.

c. Sistem Gotong-royong

Nilai kegotong-royongan terlihat sejak awal pendirian rumah, yaitu pada tahap musyawarah. Seseorang yang akan mendirikan rumah harus melalui musyawarah dengan melibatkan berbagai pihak seperti para keluarga inti dan pemuka adat, termasuk para tukang yang telah ditunjuk. Nilai kegotong-royongan juga terlihat pada tahap pengumpulan bahan-bahan bangunan. Dalam tahap ini dikenal istilah baselang, yaitu mencari bahan bangunan di dalam hutan secara gotong-royong. Keberadaan kegiatan baselang ini dapat membantu meringankan biaya pengeluaran bagi pihak yang akan mendirikan rumah, khususnya bagi yang berekonomi lemah.

d. Nilai Estetika

Nilai estetika pada bangunan Rumah Kejang Lako dapat terlihat pada kedua bubungan sebelah atas melengkung sedikit ke atas sehingga tampak seperti bentuk perahu. Kemudian di masing-masing ujung bubungan diberi papan menjulur ke atas melebihi tiang bubungan sehingga berbentuk silang, dan setiap ujung papan diberi ukiran. Jika dilihat dari jauh, maka akan terlihat seperti tanduk kambing. Selain itu, rumah tradisional masyarakat Marga Batin V Jambi ini dilengkapi dengan ragam hias yang diambil dari motif flora dan fauna yang memiliki nilai estetika dan arti simbolik.

8. Penutup

Keberadaan Rumah Kejang Lako ini menunjukkan bahwa masyarakat Marga Batin V di daerah Rantau Panjang pada zaman dahulu memiliki pengetahuan dan daya kreasi dalam menciptakan arsitektur bangunan yang mengagumkan. Namun, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, arsitektur tradisinoal ini telah mengalami pergeseran-pergeseran nilai yang terkandung di dalamnya, terutama pada bentuk, teknik pembuatan, serta bahan dan alat yang digunakan. Oleh karena itu, dalam rangka melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam arsitiketur ini dan sekaligus menjadikannya sebagai identitas, maka salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jambi adalah menetapkan arsitektur Rumah Kejang Lako menjadi ciri khas daerah Jambi pada tahun 1970-an (Irma, Kompas, 2007). Ciri khas tersebut digambarkan melalui sebuah arsitektur rumah adat yang diletakkan pada sisi kanan salah satu bangunan kantor di dalam kompleks perkantoran Gubernur Jambi di Telanipura, Kota Jambi. Rumah adat tradisional tersebut berupa rumah panggung yang berwarna hitam dan dilengkapi dengan tanduk kambing yang bersilang ke arah dalam pada ujung atapnya.

(Samsuni/bdy/02/02-10)

Sumber Buku:

  • Djafar dan Anas Madjid, 2986. Arsitektur tradisional daerah Jambi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentansi Kebudayaan Daerah.

Artikel dari Internet:

  • Darmansyah, “Arsitektur rumah tradisional suku Batin: arti dan fungsinya,” [Online], tersedia dalam http://www.balarpalembang.go.id, [diunduh pada tanggal 10 Februari 2010].
  • Dewi Indrawati, “Hasanah budaya Nusantara: Kejang Lako rumah Orang Batin di Jambi,” [Online], tersedia dalam http://www.hupelita.com, [diunduh pada tanggal 10 Februari 2010].
  • Irma Tambuan, 2007. “Identitas Jambi dalam Rumah Tuo,” Kompas, [Online], 23 Maret 2007, tersedia dalam http://74.125.153.132, [diunduh pada tanggal 10 Februari 2010].
  • Noor Fadli, 2008. “Rumah Panggung Kejang Lako,” [Online], tersedia dalam http://wisatamelayu.com, [diunduh pada tanggal 10 Februari 2010].
  • Vinny Nazalita, 2009. “Perkembangan Arsitektur Part 1 (Rumah tradisional Jambi ‘Kejang Lako’), [Online], tersedia dalam http://wartawarga.gunadarma.ac.id, [diunduh pada tanggal 10 Februari 2010].
  • Sumber foto: http://www.trekearth.com.
Dibaca : 18.678 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password