Jumat, 31 Maret 2017   |   Sabtu, 3 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 3.597
Hari ini : 32.460
Kemarin : 33.260
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.022.698
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Hikayat Merong Mahawangsa


Hikayat Merong Mahawangsa

Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Penerbit Universiti Malaya

Sumber: Dokumentasi BKPBM, diambil dari Siti Hawa Haji Salleh, 1998

A. Pendahuluan

Hikayat Merong Mahawangsa (HMM) bercerita tentang asal-usul dinasti yang menguasai Kedah. Sebagai sebuah dokumen tertulis, karya ini kemungkinan besar baru diciptakan pada akhir abad ke-18 namun versi lisannya diyakini telah beredar jauh sebelum kurun itu. Karena kandungannya berkaitan dengan sejarah Kedah, karya ini sering juga dirujuk sebagai Kedah Annals atau Sejarah Kedah, misalnya oleh R.O. Winstedt dalam edisi karya ini yang diterbitkan dalam JMBRAS Vol. XVI, pt. 2, (1938), halaman 31 (Liaw Yock Fang, 1975:226).

HMM tersusun atas tiga bagian. Bagian pertama bercerita tentang raja pertama di Kedah, yaitu Raja Merong Mahawangsa, yang namanya sekaligus diambil sebagai judul karya ini. Bagian kedua bercerita tentang salah satu raja penerus Raja Mahawangsa, yaitu Raja Bersiung, yang berlaku lalim kepada rakyatnya. Sedangkan bagian ketiga bercerita tentang proses pengislaman Kedah.

Salah satu hal yang sering dibahas oleh para pengkaji karya ini adalah penggambarannya tentang kedekatan hubungan antara Kedah dengan Siam, Perak, Patani, Cina dan Timur Tengah. Dalam karya ini, Kedah direpresentasikan sebagai sebuah negeri yang memiliki banyak hubungan dengan negeri-negeri lain. Bahkan, kesan yang dimunculkan dalam karya ini adalah bahwa Kedah lebih besar daripada tiga negeri penting yang lain di bagian utara Semenanjung Melayu, yaitu Perak, Pattani, dan Ayyutthaya. HMM mengklaim bahwa pendiri ketiga negeri tersebut adalah para pangeran dari Kedah (Kobkua Suwannathat-Pian, 2003:207).

Bagi orang Melayu sendiri, HMM merupakan bukti tentang kemampuan komunitas Melayu, pada suatu kurun tertentu dalam sejarah, untuk menghasilkan pengetahuan sejarah dengan cara yang khas. Karena khas Melayu, maka karya ini memiliki komposisi yang tidak mesti cocok dengan persyaratan historiografi saintifik modern – bahkan yang paling minimal sekalipun. Jadi, dapat dimafhumi jika karya ini – dan juga karya-karya bergenre sastra kesejarahan yang lain – kerap dipandang secara negatif oleh para pengkaji dari Barat.

B. Manuskrip dan Publikasi

Siti Hawa Haji Salleh (1998:xx-xxxiv) telah menelusuri berbagai versi manuskrip dan publikasi edisi HMM. Manuskrip dan publikasi HMM menurut penelusuran Salleh tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Hikayat Merong Mahawangsa dalam koleksi W. Maxwell, disebut sebagai Ms. Maxwell 16. Naskah aslinya tersimpan di perpustakaan Royal Asiatic Society di London. Naskah ini tamat disalin mungkin pada 2 September 1889. Naskah ini disalin di Pulau Pinang oleh Muhammad Nuruddin bin Ahmad Rajti.
  2. Hikayat Merong Mahawangsa, Ms. Maxwell 21, juga koleksi W. Maxwell yang telah diserahkan kepada Royal Asiatic Society, London. Terdapat tanda tangan Maxwell dan catatan Singapore, 1884 pada naskah ini.
  3. Hikayat Merong Mahawangsa atau Sejarah Negeri Kedah. Naskah ini disalin di Kampung Sungai Kallang, Singapura, dan tercatat tahun 1876 pada akhir hikayat ini (mungkin merupakan tahun ketika karya ini disalin). Naskah ini tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford, Inggris, sebagai Malay c.5 dalam meja pameran.
  4. Sebuah versi hikayat ini dikenal dengan nama von de Wall No. 201, dan menggunakan judul Sjadjarah Negeri Kedah juga di samping Hikayat Merong Mahawangsa. Von de Wall memperoleh jumlah manuskrip yang besar ketika berada di Riau dan manuskrip yang berasal dari Kedah ini adalah salah satu dari koleksi tersebut. Versi ini tinggal nama saja karena tidak dapat dilacak lagi dalam penyimpanan di Museum Nasional, Jakarta.
  5. Hikayat Merong Mahawangsa, yang dikenal sebagai versi Wilkinson. Versi ini dicetak batu dalam tulisan Jawi, berukuran fulskap, oleh Kim Sik Hian Press, Nomor 78, Penang Street. Versi ini disalin oleh Muhammad Yusuf Nasruddin dan tamat disalin pada 2 Rejab 1316 bertepatan dengan 16 November 1889, untuk R.J. Wilkinson.
  6. Terjemahan ke dalam bahasa Inggris dari bagian-bagian hikayat ini yang dianggap penting telah diterbitkan dalam JIAEA, Jilid 3, pada tahun 1849, hasil penelitian dan terjemahan James Low (?).
  7. Hikayat Merong Mahawangsa A.J. Sturrock. Hikayat ini diselenggarakan penerbitannya oleh Sturrock dalam JRASSB [JMBRAS?] Nomor 72, Mei 1916 (hal. 37 – 123), dalam tulisan Rumi (Latin). Tidak terdapat maklumat apapun tentang di mana naskah asal diperoleh, siapa penyalinnya atau kapan versi ini disalin.
  8. Hikayat Merong Mahawangsa versi Logan. Naskah yang asalnya dari koleksi J.R. Logan ini tersimpan di Perpustakaan Nasional Singapura dengan nomor qMR 8999, 2302 HR. Naskah ini tertulis dengan dawat hitam pada kertas laid Inggris, berukuran 29 x 18 cm. Tulisan Jawi-nya rapi dan cantik, mungkin ditulis oleh seorang penyalin saja, walaupun terlihat kadang-kadang penyalin keletihan dan tulisannya menjadi agak kasar dan seolah-olah dipaksa. Naskah ini tidak menyebut siapa penyalinnya, di mana disalin, untuk siapa dan kapan disalin. Hikayat ini dimulai di tengah-tengah halaman pertama dan di bagian atas yang kosong tercatat nama J.R. Logan, pemilik manuskrip ini.
  9. Hikayat Merong Mahawangsa koleksi Thomson. J.T. Thomson sendiri memberitahu dalam makalahnya bahwa dia memperoleh sebuah naskah hikayat ini, mungkin di Pulau Pinang. Naskah ini muncul pada tahun 1934 dalam koleksi Thomson yang disimpan oleh cicitnya di London. Belum terdapat maklumat tentang versi ini karena koleksi tersebut belum dibuka untuk umum.
  10. Hikayat Merong Mahawangsa “edisi sekolah” atau “edisi tidak ilmiah” yang diselenggarakan oleh Abdullah bin Haji Lubis pada tahun 1965. Edisi ini didasarkan pada versi Wilkinson dan disempurnakan dengan suatu pendahuluan yang informatif dan ilmiah oleh Arena Wati. Atribut “edisi sekolah”/“edisi tidak ilmiah” diberikan karena edisi ini diterbitkan dengan tujuan murni menggalakkan pembaca umum agar terus meminati hasil-hasil kesusastraan Melayu tradisional.
  11. Hikayat Merong Mahawangsa yang terbit pada tahun 1968. Menurut Fang (1975:226), versi ini diusahakan oleh Dzulkifli bin Mohd. Salleh dan diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, dalam bentuk fotokopi.
  12. Hikayat Merong Mahawangsa edisi transliterasi yang disunting oleh Siti Hawa Haji Salleh. Naskah ini diterbitkan oleh Yayasan Karyawan dan Penerbit Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 1998. Edisi ini didahului oleh “Pengenalan” oleh Siti Hawa Haji Salleh dan melampirkan faksimili Hikayat Merong Mahawangsa versi R.J. Wilkinson.

C. Beberapa Kajian tentang Hikayat Merong Mahawangsa

1. Pandangan Negatif

HMM dikenal luas oleh para pengkaji dari Eropa dan selanjutnya menjadi obyek penelitian ilmiah setelah beberapa bagiannya diterjemahkan oleh James Low dan diterbitkan dalam JIAEA, Jilid 3, pada tahun 1849. James Low sendiri terkesan dengan karya ini sehingga dia sendiri mengembara di negeri Kedah untuk mencari tempat-tempat yang disebutkan di dalam karya ini: “... I am happy to add that my observations have verified pretty closely our author’s accounts of localities, and not only in the above instance, but in those which he brings forward in the subsequent parts of his work” (Salleh, 1998:xvi).

Beberapa pengkaji dari Eropa memandang rendah terhadap karya ini berdasarkan penilaian dan pandangan yang sempit. Segala unsur persamaan dengan karya-karya lain seperti Hikayat Raja Pasai, Hikayat Aceh, Sulalat-us-Salatin, dan sebagainya, dianggap sebagai peniruan (Salleh, 1998:xiv). Penilaian negatif dari para pengkaji Eropa mulai muncul pada tahun 1856, ketika John Crawfurd  menanggapi penilaian tinggi yang diberikan oleh James Low dengan pernyataan negatif: “My friend, Colonel James Low, translated a Malay manuscript, entitels ‘Annals of Queda’, but his production is a dateless tissue of rank fable, from which not a grain of reliable knowledge can be gathered” (Salleh, 1998:xvi).

Winstedt merujuk pada HMM ketika membicarakan tentang sejarah negeri Kedah meskipun pandangannya negatif. Dalam sebuah tulisan yang diterbitkan pada tahun 1920, Winstedt menyatakan bahwa cerita tentang Raja Bersiung dalam HMM menunjukkan bahwa leluhur dinasti Melayu di Kedah bukan orang Melayu (Salleh, 1998:xvii). Pada tahun 1938, Winstedt menerbitkan sebuah tulisan lagi yang menafikan pandangan positif para pengkaji dari Barat yang lain dengan mengungkapkan lima hasil analisis, yaitu:

  1. Cerita tentang Raja Buluh Betung adalah mitos setempat
  2. Kisah Raja Bersiung berasal dari mitos India
  3. Pengembaraan Syeh Abdullah dengan penghulu setan ditulis oleh seorang pengarang Jawa [sic]
  4. Adanya penyebutan tentang Seri Rama dan Hanuman merupakan pengaruh dari wayang kulit Siam
  5. Penyebutan tentang Nabi Allah Sulaiman adalah hasil dari pengaruh Islam (Salleh, 1998:xviii)

Pandangan Winstedt terhadap HMM tidak pernah berubah. Dalam sebuah tulisan yang terbit dalam JRASMB pada tahun 1940, dan diterbitkan ulang dalam JRSAMB pada tahun 1958 serta sebagai sebuah buku oleh Oxford University Press pada tahun 1966, Winstedt menyatakan bahwa jika saja HMM tidak mencantumkan silsilah penguasa Kedah, maka karya ini tidak akan pernah disebut sebagai “Kedah Annals” atau diterima sebagai karya sejarah yang serius” (Fang, 1975:226, Salleh, 1998:xviii). Pada tahun 1961, Winstedt mengulangi lagi pandangan negatifnya: “The work is full of omissions, gross anachronism and errors” (Salleh, 1998:xix).

J.C. Bottoms, dalam sebuah makalah berjudul “Malay Historical Works”, kemungkinan besar juga merujuk HMM ketika menyatakan bahwa sejarah bagi orang Melayu bukan merupakan ilmu atau seni, melainkan hiburan (Salleh, 1998:xvii). Pada tahun 1963, C. Hooykas menyatakan dalam Perintis Sastra bahwa HMM bukan merupakan sebuah sumber sejarah melainkan kumpulan cerita yang aneh-aneh (Salleh, 1998:xvii).

2. Pandangan Positif

Para ilmuwan modern, baik dari Barat maupun kalangan Melayu sendiri, dalam tahun-tahun belakangan telah mengambil posisi yang lebih adil dalam memandang HMM. Walaupun demikian, ada juga ilmuwan Barat yang memandang positif terhadap karya ini. Selain James Low, ilmuwan lain yang memberikan pandangan positif kepada karya ini adalah C.O. Blagden (1899) dan van Ronkel (1909).

C.O. Blagden (1899) menyebutkan adanya dua naskah HMM yang berlainan dalam koleksi manuskrip Melayu W. Maxwell dalam sebuah makalah yang tersiar dalam JRAS. Selain itu, Blagden juga menumpukan perhatian kepada tokoh Raja Bersiung. Dia menggunakan sumber-sumber dari sastra India dan cerita-cerita Jataka untuk membuktikan bahwa tokoh ini adalah tokoh saduran (Blagden dalam Salleh, 1998:xvii). Sementara itu, van Ronkel menyediakan katalog manuskrip dalam koleksi Bataviaasch Genootschap di Batavia, yaitu versi yang dikenal sebagai Sjadjarah Negeri Kedah (Salleh, 1998:xvii).

Pada tahun 1940, H.G.Q. Wales, seorang ahli arkeologi, melakukan penyelidikan atas beberapa tempat di negeri Kedah dan menyimpulkan bahwa tinggalan-tinggalan arkeologis yang dikemukakan oleh James Low jauh lebih tua tarikhnya daripada yang disebutkan dalam HMM. Namun, tentang tokoh Raja Merong Mahawangsa sendiri, Wales masih sepakat dengan Winstedt: “... evidently merely a legendary adventure (possibly a memory of the Maharaja, King of the Mountain), from whom the Kedah kings are supposed ultimately to have derived their origin” (Salleh, 1998:xvi).

Pada tahun 1964-1966, Siti Hawa Haji Salleh menyelesaikan sebuah tesis sarjana sastra berjudul “Hikayat Merong Mahawangsa: Sebuah Kajian Kritikan Teks” di Jabatan Pengajian Melayu, Universiti Malaya, dengan menggunakan pendekatan filologi. Hasil kajian ini diterbitkan pada tahun 1970 dan 1991 oleh Penerbit Universiti Malaya. Kajian ini menggunakan perpaduan dari beberapa versi HMM yang telah ada, yaitu versi Wilkinson, versi Sturrock dan Ms. Maxwell 21. Dalam bagian pendahuluannya, Salleh mempertahankan kedudukan karya ini sebagai sebuah karya kesejarahan Melayu yang dihasilkan berdasarkan ciri-ciri penulisan sejarah Melayu tradisional yang tertentu. Salleh juga membuktikan kesimpulan-kesimpulan Winstedt yang salah. Untuk pertama kali, penerbitan teks hikayat ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Salleh, 1998:xxi).

Pada tahun 1985, H.M.J. Maier dengan menggunakan pendekatan Foucault menumpukan perhatian kepada lapisan-lapisan interpretasi teks, bagaimana sebuah teks dibangun atas dasar lapisan-lapisan dan unsur-unsur budaya yang mempengaruhi pengarang ketika menulis. Tanpa menyentuh teks secara langsung, Maier membicarakan tentang perkembangan sosial, politik dan ekonomi yang sezaman dengan zaman penciptaan HMM (Salleh, 1998:xxi).

Penerbitan hasil kajian Maier menimbulkan reaksi di kalangan para sarjana kesusastraan Melayu tradisional, khususnya di kalangan pendukung ilmu filologi konvensional. Umar Junus menjadi penghubung antara kajian yang dihasilkan oleh Maier dengan peminat kesusastraan di Malaysia termasuk ahli-ahli filologi Melayu. Hasilnya adalah sebuah makalah yang berjudul “Henk Maier dan Hikayat Merong Mahawangsa” (Salleh, 1998:xxi).

3. Kandungan

Latar belakang penulisan suatu karya sejarah sastra tradisional Melayu adalah titah raja. Seorang raja Melayu tradisional selalu ingin menampilkan kebesarannya sendiri dengan berbagai macam cara. Salah satu cara yang ditempuhnya adalah dengan memerintahkan penulis yang berada di bawah naungannya untuk menuliskan karya yang sesuai dengan keinginannya tersebut (Harun Mat Piah et al., 2000, Salleh, 1998).

Tentu saja seorang raja Melayu tradisional bertempat dalam sebuah konteks politik yang tidak selalu mendukung klaim kebesarannya. Hal ini tampak jelas dalam HMM. Raja yang memerintahkan penulisan HMM adalah raja yang menghadapi ketegangan dan tekanan inferiorisasi dari negeri-negeri lain di bagian utara Semenanjung Melayu. Oleh karena itu HMM dengan jelas berusaha mengungkapkan kesan bahwa Kedah lebih besar daripada negeri-negeri lain di kawasan tersebut.

Citra kebesaran raja Melayu tradisional juga diciptakan sedemikian rupa di dalam karya sastra kesejarahan Melayu dengan menyisipkan narasi yang terkait dengan konsep “daulat” dan “durhaka” (derhaka). Konsep daulat menyatakan bahwa seorang raja adalah penguasa tertinggi di suatu negeri. Sementara itu, konsep durhaka menyatakan bahwa rakyat yang melakukan pembangkangan terhadap raja akan ditimpa bencana. Dalam karya kesejarahan Melayu tradisional, daulat raja ditekankan sedangkan durhaka diperlihatkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa takut untuk membangkang pada audiens.

HMM justru mengambil pola yang berbeda. Hal ini terlihat dalam narasi ketika keempat menteri utama berinisiatif untuk menggulingkan Raja Bersiung. Raja Bersiung adalah seorang penguasa Kedah yang suka memakan daging manusia. Setiap hari dia mewajibkan salah seorang rakyatnya untuk dijadikan santapannya. Menurut konsep daulat dan durhaka, maka perintah itu harus ditaati oleh seluruh rakyat Kedah. Akan tetapi pengarang HMM memberikan perkecualian dalam kasus Raja Bersiung dengan membenarkan upaya kudeta oleh para menteri yang juga didukung oleh permaisuri. Bagi pengarang HMM, kekuasaan raja tidak mutlak, tetapi kondisional. Jika raja berbuat lalim, maka rakyat berhak memakzulkannya.

Sebagai sebuah karya sastra kesejarahan Melayu tradisional, HMM mematuhi prinsip penulisan yang berbeda dari prinsip penulisan sejarah saintifik modern. Menurut Piah et al. (2002) dan Salleh (1998), historiografi Melayu tradisional mengandung lima unsur yang selalu ada, yaitu a) asal-usul keturunan raja, b) pembukaan sebuah negeri, c) jurai keturunan raja yang pertama sampai yang terakhir, d) proses pengislaman raja dan seluruh negeri, dan e) situasi ketika penulisan atau penyalinan terakhir dilaksanakan. Hampir semua unsur tersebut, kecuali yang terakhir, dituliskan berdasarkan mitos, legenda, perlambangan dan lain-lain (Salleh, 1998:xi).

Asal-usul raja Kedah pada saat HMM dituliskan diawali dari keluarga raja negeri Rom. Negeri Rom pada masa itu tentu merupakan sebuah negeri yang besar dan termasyhur kemegahannya di kalangan rakyat negeri-negeri Melayu. Dengan mengklaim raja Rom sebagai leluhurnya, maka para penguasa Kedah memperoleh legitimasi populer atas kekuasaannya.


Hikayat Merong Mahawangsa
Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Penerbit Universiti Malaya

Sumber: Dokumentasi BKPBM, diambil dari Siti Hawa Haji Salleh, 1998

HMM menyatakan bahwa Raja Merong Mahawangsa menamakan negeri yang disinggahinya dalam perjalanan ke benua China dengan “Langkasuka”. Kemudian Langkasuka diganti dengan Kedah Zamin Turan. Setelah menyebutkan nama ini secara lengkap, pengarang HMM hanya menuliskan nama “Kedah” saja untuk merujuk pada negeri tersebut. Salleh (1998:xii) menyatakan bahwa sejarah telah membuktikan bahwa Langkasuka bukan Kedah. Kedah adalah pelabuhan atau pintu masuk ke Langkasuka di sebelah barat ketika kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaannya.

Pengarang HMM memilih cara yang unik untuk menceritakan tentang kedatangan Islam di Kedah. Pada karya-karya kesejarahan yang lain, misalnya pada Hikayat Raja Pasai dan Sulalat-us-Salatin, proses tersebut mengandung unsur mimpi. Raja pasai dan Malaka bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada malam sebelum sebuah kapal tiba dari Mekah. Dalam HMM, proses pengislaman diawali dengan keinginan Syekh Abdullah Yamani yang ingin belajar kepada penghulu setan. Dengan bantuan gurunya, dia berhasil menemui penghulu setan bergerak ke seluruh dunia sebelum akhirnya tiba di Kedah.

Si penghulu setan bersedia memberikan pelajaran kepada Syekh Yamani dan memerintahkan Syekh Yamani untuk memegang jubahnya sehingga Syekh Yamani tidak dapat terlihat oleh mata manusia. Dengan cara itu, Syekh Yamani dapat mengikuti si penghulu setan tanpa harus terlihat oleh manusia lain. Syarat utama yang diajukan oleh penghulu setan adalah bahwa Syekh Yamani tidak boleh memprotes apapun tindakan yang dilakukan oleh si penghulu setan.

Syekh Yamani sempat beberapa kali melakukan protes atas tindakan si penghulu setan yang menurutnya tidak dapat dibenarkan. Si penghulu setan masih memberikan beberapa kali toleransi kepada Syekh Yamani. Akan tetapi pada saat berada di bilik peraduan Raja Phra Ong Mahawangsa, penguasa Kedah, Syekh Yamani tidak tahan ketika melihat si penghulu setan mengencingi arak yang akan diminum oleh sang raja. Si penghulu setan marah sehingga meninggalkan Syekh Yamani. Karena tidak lagi memegang jubah si penghulu setan, maka Syekh Yamani dapat terlihat Raja Phra Ong Mahawangsa.

Narasi tentang perjumpaan Syekh Yamani dan Raja Phra Ong Mahawangsa merupakan sebuah simbolisasi yang masih terikat pada ajaran Islam. Arak dalam narasi tersebut disamakan dengan kencing setan sehingga menjadi barang yang najis dan hukumnya haram.

HMM menguraikan dengan jelas jurai keturunan raja dari Raja Merong Mahawangsa sampai dengan keturunan raja yang ketujuh, yaitu Raja Phra Ong Mahawangsa atau Sultan Muzalfal Syah. Sultan Muzalfal Syah menabalkan putra sulungnya menjadi raja dengan gelar Sultan Muazzam Syah di Kota Palas. Ketika Sultan Muzalfal Syah mangkat, dia digantikan oleh Sultan Muazzam Syah. Lampiran terakhir HMM menyatakan dengan ringkas tentang raja-raja yang memerintah negeri Kedah sejak Sultan Muazzam Syah hingga Sultan Ahmad Tajudin Halim Syah. Salleh (1998:xiv) menduga bahwa lampiran terakhir ini ditambah dan dibenahi ketika disalin pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Tajuddin Halim Syah (1797 – 1843).

D. Penutup

HMM sebagai sebuah karya sastra kesejarahan memang dapat didekati dengan metode yang saintifik. Namun, jika hendak dipandang dengan cara demikian, maka pertama-tama HMM harus diletakkan sesuai dengan tempatnya di dalam sistem kesusastraan dan masyarakat pembaca di mana karya ini ditulis, dibaca, dan dilestarikan.

Salleh (1998:xiv) menyerukan bahwa pengarang HMM sebenarnya mematuhi konvensi kesusastraan dan memenuhi prinsip-prinsip penulisan sejarah Melayu pada zamannya. Penulisan karya ini selanjutnya turut membentuk konsep sejarah Melayu tradisional yang disepakati bersama oleh seluruh masyarakat Melayu.

Aspek yang harus diperhatikan adalah bahwa HMM – Paling tidak narasinya – merupakan karya yang sangat populer bagi masyarakat Melayu, terutama bagi masyarakat Kedah, dan telah mencapai taraf sebagai legenda. Demikian populernya narasi karya ini, sehingga perusahaan film KRU Movie dari Malaysia pada tahun 2009-2010 membuat sebuah film berdasarkan narasi karya ini (mmail.com.my).

Referensi

  • Harun Mat Piah, 2002. Traditional Malay literature. 2nd edition. Diterjemahkan dari judul asli Kesusastraan Melayu tradisional dalam Bahasa Melayu ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Kobkua Suwannathat-Pian, 2003. “Dialog of two pasts: ‘historical facts’ in traditional Thai and Malay historiography”. Dalam Abu Talib Ahmad & Liok Ee Tan (eds.), 2003. New terrains in Southeast Asian history. Athens: Ohio University Press. Hal. 199-218.
  • Liaw Yock Fang, 1975. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Singapura: Pustaka Nasional.
  • Nur Aqidah Azisi, 2009. “Merong Mahawangsa: epic movie with a twist”. The Malay Mail [internet] 10 Juni 2009, tersedia di http://www.mmail.com.my [Diakses pada 15 Februari 2010].
  • Siti Hawa Haji Salleh, 1998. Hikayat Merong Mahawangsa. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Penerbit Universiti Malaya.

(An. Ismanto/sas/19/02-2010)

Dibaca : 13.156 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password