Rabu, 13 Desember 2017   |   Khamis, 24 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 3.680
Hari ini : 35.043
Kemarin : 37.335
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.953.473
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pukat Aceh: Peralatan Penangkap Ikan Nelayan di Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam


Pukat Aceh
Sumber Foto: http://www.acehkita.com

1. Asal-usul

Menangkap ikan di laut atau meupayang merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat di Kabupaten Aceh Besar, khususnya mereka yang mendiami daerah sepanjang pantai barat dan timur (Rusdi Sufi, et al., 1997:36). Secara geografis, kabupaten tempat kelahiran Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien ini terletak di bagian paling ujung utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan berbatasan dengan Samudera Hindia (Nasruddin Sulaiman, et al., 1992/1993:ix). Dari segi topografinya, daerah tersebut merupakan tanah daratan yang landai sehingga memungkinkan untuk dijadikan sebagai pusat perekonomian oleh masyarakat setempat di sektor perikanan laut.

Dalam mengembangkan sektor perikanan laut, sebagian nelayan di Kabupaten Aceh Besar masih melakukannya secara tradisional. Hal ini jika tampak jelas dilihat dari peralatan-peralatan yang digunakan. Salah satu alat tersebut adalah pukat aceh. Pada dasarnya, pukat ini adalah sejenis pukat pantai (beach seine), yaitu suatu alat penangkap ikan yang berbentuk jaring panjang, bersayap, dan memiliki sebuah kantong pada bagian ujungnya http://www.scribd.com. Di Aceh, alat ini khusus digunakan untuk menangkap ikan pada lokasi yang berpantai landai dan berpasir, serta pada lokasi-lokasi tertentu yang ditetapkan oleh Panglima Laôt (http://www.acehforum.or.id). Pukat ini dioperasikan oleh sekurang-kurangnya 15 orang dengan cara dilingkarkan pada lokasi tertentu dan kemudian ditarik menelusuri dasar perairan menuju ke pantai dengan menggunakan perahu dayung.

Menurut Sulaiman, et al., penamaan pukat aceh ini hanya sekadar untuk membedakannya dari pukat pantai lain yang banyak digunakan oleh para nelayan di daerah-daerah lain di Nusantara (Sulaiman, et.al., 1992/1993:10). Di beberapa daerah di Pulau Jawa, pukat pantai dikenal nama seperti puket, krikit, dan kikis. Khusus di daerah Trenggalek, Jawa Timur, alat ini lebih dikenal dengan nama krakat prigi karena beroperasi di Perairan Prigi (http://fiqrin.wordpress.com). Jadi, pada dasarnya, pukat pantai ini memiliki nama dan ciri yang berbeda-beda pada setiap daerah.

Pukat pantai dari Aceh ini termasuk alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan karena tidak mengganggu biota laut lainnya. Tidak mengherankan jika pukat ini termasuk salah satu peralatan penangkap ikan yang ideal menurut hukum adat nelayan setempat yang dikenal dengan nama Hukôm Adat Laôt, yaitu hukum adat nelayan yang berfungsi untuk mengatur tata-cara penangkapan ikan di laut (http://wapedia.mobi).

Pembentukan Hukôm Adat Laôt tersebut tidak terlepas dari sistem pengetahun atau persepsi masyarakat setempat terhadap pemeliharaan laut. Mereka sadar bahwa merusak laut juga dapat merusak sumber mata pencaharian mereka. Menurut Oto Soemarwoto (dikutip dalam Poltak Johansen), pada umumnya masyarakat lokal memiliki persepsi mengenai lingkungan—baik melalui pengalaman atau pengetahuan yang diwarisi secara turun-temurun dari para leluhur—yaitu bagaimana mereka harus beradaptasi, mengelola, dan memanfaatkan lingkungan (Poltak Johansen, 2008:42). Penggunaan alat-alat penangkapan ikan tradisional seperti pukat aceh ini merupakan salah satu bentuk kepedulian para nelayan di Aceh terhadap pemeliharaan lingkungan laut.

2. Komponen-komponen Pukat Aceh

Pukat aceh merupakan suatu unit peralatan yang terdiri dari beberapa unsur atau komponen yang saling mendukung dan tidak dapat dipisahkan dari sebuah pukat. Menurut Sulaiman, et al., jika salah satu komponen tersebut tidak terpenuhi, maka pukat ini tidak dapat berfungsi sebagai suatu alat penangkap ikan (Sulaiman, et al., 1992/1993:10-11).

Secara garis besar, komponen pukat aceh dapat dibagi menjadi empat bagian penting, yaitu jok pukat atau sayap (wings), ulaya atau badan (shoulder), euntong atau kantong (bag), dan lamat atau tali penarik (warps). Setiap komponen terbuat dari bahan-bahan yang berbeda. Adapun komponen-komponen dan bahan-bahan yang digunakan adalah sebagai berikut.

  1. Jok pukat atau sayap, yaitu sepasang jaring yang terletak di sisi kiri dan kanan pukat yang berfungsi sebagai dinding untuk menggiring ikan agar masuk ke dalam kantong pukat. Pada umumnya, komponen ini terbuat dari polyethylene. Namun, jok pukat yang digunakan oleh nelayan di Aceh terbuat dari tali ijuk atau tali pohon enau.
  2. Ulaya atau badan pukat, yaitu bagian badan jaring yang berbentuk bulat panjang dan terletak di tengah-tengah, yakni berada di antara jok pukat dan euntong. Komponen ini berfungsi untuk mengurung ikan yang sudah terperangkap agar masuk ke dalam kantong. Bahan yang digunakan untuk membuat komponen ini adalah benang katun.
  3. Euntong atau kantong, yaitu sebuah kantong yang berbentuk kerucut sebagai tempat ikan-ikan terperangkap. Komponen ini terletak di bagian paling ujung pukat yang berfungsi untuk menampung hasil tangkapan. Euntong pada pukat aceh terbuat dari benang yang dirajut dengan lebih kecil daripada jok dan ulaya, yaitu kira-kira sebesar ukuran jari telunjuk.
  4. Lamat dan rundok, yaitu tali penarik (warps) yang berfungsi untuk menarik pukat ke pantai. Kedua komponen ini terletak pada bagian sayap pukat. Lamat terletak pada sisi kiri pukat dan disebut sayap I, sedangkan rundok terletak pada sisi kanan pukat dan disebut sayap II. Biasanya, tenaga yang dibutuhkan untuk menarik tali penarik tersebut sekitar 15 nelayan atau lebih, tergantung pada panjang dan besarnya sebuah pukat. Komponen ini terbuat dari beberapa batang rotan yang dipilin kira-kira sebesar pergelangan tangan. 


Lamat pukat aceh
Sumber Foto: Nasruddin Sulaiman, dkk. 1992/1993.
Peralatan menangkap ikan tradisional di Kabupaten Aceh Besar.

Daerah Istimewa Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Daerah Istimewa Aceh.

Selain keempat komponen utama di atas, pukat aceh juga memiliki komponen tambahan, yaitu berupa pemberat (sinker) dan pelampung (floats). Kedua komponen ini memiliki peranan penting dalam sebuah pukat karena berfungsi untuk mengatur kedudukan atau posisi pukat di dalam air.

a. Pemberat (sinker), yaitu benda berat yang dipasang atau digantung pada bagian bawah jok pukat. Jenis pemberat yang digunakan oleh nelayan di Aceh umumnya adalah batu kali yang bulat atau timah. Secara spesifik, pemberat ini berfungsi untuk menahan tekanan arus air sehingga posisi jaring dalam air tidak bergerak. Selain itu, pemberat ini juga berfungsi untuk mempercepat penenggelaman jaring ke dalam air, serta membantu membuka mulut jaring ke arah bawah. 

b. Pelampung (floats), yaitu benda ringan (pengapung) yang dipasang pada bagian atas jok pukat yang diberi sebuah kaja (tali) sebagai tempat untuk mengikatkan pelampung. Pukat aceh memiliki dua jenis pelampung, yaitu pelampung utama dan pelampung tambahan.

  1. Pelampung utama adalah sejumlah pelampung yang dipasang secara berjejer di atas jok yang berfungsi untuk memberi daya apung atau mengapungkan bagian atas jaring pukat, merentangkan jaring sayap, dan membantu membuka mulut jaring ke arah atas.
  2. Pelampung tambahan adalah sebuah pelampung berukuran besar yang dipasang pada bagian atas kantong. Pelampung ini berfungsi sebagai tanda untuk mengetahui posisi atau letak kantong pukat di laut dan sebagai petunjuk bagi pawang untuk mengetahui keseimbangan posisi antara jaring kiri dan jaring kanan. Biasanya di atas pelampung besar ini juga dipasangi sebuah bendera agar posisi kantong pukat lebih mudah diketahui.

Dengan bantuan pelampung besar tersebut, seorang pawang dapat dengan mudah mengetahui dan mengarahkan para penarik lamat yang berada di darat, yaitu kapan mereka harus bergeser dan seberapa jauh pergeserannya. Pada umumnya, bahan yang digunakan untuk membuat pelampung besar tersebut adalah kayu gabus atau galong (Sulaiman, et al., 1992/1993:14).

Selain itu, pukat aceh juga harus dilengkapi dengan alat penunjang atau alat bantu lainnya yang berupa peraho (perahu). Menurut Sulaiman, et al., perahu merupakan sarana penunjang paling utama bagi sebuah pukat karena tanpa alat ini pelaksanaan menangkap ikan dengan pukat aceh tidak dapat dilakukan. Alat penunjang ini digunakan sebagai sarana untuk menebar pukat di perairan atau laut (Sulaiman, et al, 1992/1993:15). Penggunaan perahu sebagai alat bantu dalam pengoperasian pukat di setiap daerah sangat bervariasi. Ada yang dilengkapi dengan katir, dan ada pula yang dilengkapi dengan perahu motor. Namun, para nelayan di Aceh hanya menggunakan perahu kayuh atau perahu dayung yang bahannya terbuat dari kayu pilihan.

3. Cara Pembuatan

Pukat aceh adalah salah satu alat penangkap ikan tradisional nelayan di Aceh yang cara pembuatannya cukup sederhana namun memerlukan ketekunan. Untuk membuat satu unit pukat aceh diperlukan waktu yang cukup lama, terutama pada proses pembuatan lamat, jok, ulaya, dan euntong karena komponen-komponen yang terbuat dari tali tersebut harus dipilin terlebih dahulu, kemudian dirajut sedemikian rupa sehingga panjangnya bisa mencapai ratusan meter. Berikut ini cara dan urutan pembuatan komponen-komponen tersebut.

a. Pembuatan Lamat

Pembuatan satu unit pukat aceh biasanya dimulai dari pembuatan lamat karena komponen ini menjadi dasar untuk merangkai komponen-komponen berikutnya. Bahan yang digunakan untuk membuat komponen ini agak berbeda dengan bahan yang digunakan untuk tali penarik pukat pada umumnya. Komponen ini dibuat khusus dari sejumlah atau beberapa batang rotan berukuran kecil—biasanya berjumlah lebih kurang 6 batang—yang dipilin pipih sebesar pergelangan tangan laki-laki dewasa. Lamat ini sengaja dibentuk pipih agar mudah untuk ditarik dan digulung. Proses pemilinan biasanya dilakukan dengan membuat tempat duduk untuk memilin di atas sebuah pohon yang kuat. Hal ini dilakukan agar tali yang sudah dipilin mudah dijulurkan ke bawah sehingga tidak mudah kusut. Batang-batang rotan yang telah dipilin tersebut dinamakan glong atau gulungan. Panjang setiap satu glong berkisar antara 30 sampai 50 meter. Sementara itu, jumlah lamat yang dibutuhkan untuk setiap pukat tergantung pada jarak lokasi penangkapan ikan dengan pantai. Jika jarak antara lokasi penangkapan ikan dengan pantai relatif dekat, maka jumlah lamat yang dibutuhkan hanya satu glong. Namun, jika jaraknya relatif jauh dari pantai, maka jumlah gulungan yang dibutuhkan terkadang mencapai 20 glong.

b. Pembuatan Jok Pukat

Setelah pembuatan lamat selesai, maka proses selanjutnya adalah pembuatan jok pukat. Komponen ini dibuat dari tali ijuk atau tali pohon enau yang dirajut agak renggang (lebar) dan panjang lamat bisa mencapai 200 meter. Sebelum dirajut, terlebih dahulu tali ijuk tersebut dipilin selebar telapak tangan. Meskipun rajutan jok pukat ini dibuat agak lebar, namun ikan-ikan yang telah terperangkap di dalamnya tetap tidak mudah untuk menerobos keluar. Jika dilihat dari segi fungsinya, maka ukuran mata jaring pada jok pukat ini bukan untuk menjerat ikan, tetapi hanya berfungsi sebagai penghalang atau penghalau agar ikan-ikan yang telah terperangkap tidak keluar dan berkumpul pada bagian euntong atau kantong pukat.

Setelah itu, bagian atas tali jok diberi kaja (tali) sebagai tempat untuk mengikat pelampung, dan bagian bawahnya diberi benda pemberat berupa batu kali yang bulat atau timah. Penggunaan pelampung sebagai penahan pada bagian atas jok dan batu kali sebagai pemberat di bagian bawahnya dimaksudkan agar posisi pukat di dalam air tidak kusut.

c. Pembuatan Ulaya

Pembuatan komponen ini sama dengan cara pembuatan jok pukat. Hanya saja, bahan yang digunakan untuk membuat ulaya terbuat dari benang katon yang dipilin dan dirajut menjadi mata jaring yang lebih kecil, yaitu selebar telapak tangan. Dengan demikian, kawanan ikan yang telah terperangkap di dalam ulaya akan lebih sulit untuk menerobos keluar. Panjang komponen ini berkisar antara 30 sampai 40 meter. Seperti halnya dengan jok, komponen ini diberi pelampung pada bagian atasnya dan pemberat pada bagian bawahnya.

d. Pembuatan Euntong

Pembuatan komponen berikutnya adalah pembuatan euntong atau kuncong. Komponen ini merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu unit pukat aceh. Komponen ini merupakan tempat kawanan ikan terperangkap. Oleh karena itu, mata jaring pada kantong ini harus dirajut lebih kecil, yaitu biasanya sebesar ukuran jari telunjuk sehingga semua jenis ikan, baik yang berukuran besar maupun kecil, tidak dapat menerobos keluar. Setiap euntong memiliki mulut yang disebut dengan babah euntong yang merupakan jalan bagi ikan-ikan yang terperangkap untuk masuk ke dalam euntong.

Setelah seluruh komponen pukat selesai, maka proses selanjutnya adalah pembuatan perahu. Disebutkan sebelumnya bahwa pelaksanaan penangkapan ikan dengan pukat ini tidak dapat dilakukan tanpa bantuan perahu. Oleh karena itu, perahu ini harus dibuat sedemikian rupa dengan menggunakan bahan-bahan kayu pilihan yang banyak tersedia di alam sekitar. Penggunaan material kayu sebagai bahan pembuat perahu memiliki beberapa kelebihan, yaitu bahannya mudah didapat, harganya lebih murah, teknik pembuatannya sederhana, dan perawatannya pun cukup mudah.

Secara praktis, perahu pukat ini dibuat sedemikian ramping, yaitu bagian kepala dibuat lebih lancip dari pada bagian ekornya. Hal ini bertujuan agar perahu dapat bergerak lebih lincah, cepat, dan mudah menjalankannya (Sulaiman, et al., 1992/1993:15). Panjang perahu ini sekitar 10 meter dengan kapastitas penumpang sekitar 4 - 6 orang, yaitu terdiri dari seorang pawang pukat dan 4 – 5 orang pekerja atau awak. Oleh karena itu, sebuah perahu harus memiliki enam buah kayu pendayung.

5. Teknik Pengoperasian

Secara garis besar, teknik pengoperasian pukat aceh dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan cara labo laot (payang) dan labo darat (laboh pasi).

a. Teknik labo laot atau payang

Teknik labo laot adalah sebuah teknik penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan Aceh dengan cara melemparkan atau menebar pukat ke laut dengan menggunakan perahu dayung. Pukat tersebut ditebar pada lokasi tertentu yang diyakini terdapat banyak ikannya. Setelah ditebar secara melingkar untuk mengurung kawanan ikan, pukat tersebut kemudian ditarik naik ke atas perahu. Oleh karena itu, teknik menangkap dengan sistem labot laot ini tidak memerlukan lamat atau tali penarik yang panjang.

Pada umumnya, penangkapan ikan dengan teknik labo laot ini dilakukan pada lokasi yang air lautnya keruh, seperti di muara-muara sungai besar. Tak jarang pula teknik ini dilakukan pada lokasi yang berair jernih, tapi harus dilakukan sebelum matahari terbit di ufuk timur atau pada saat hari sudah senja. Pemilihan lokasi dan waktu dalam teknik tersebut dimaksudkan agar kawanan ikan yang telah terperangkap tidak mudah menerobos jok pukat (Sulaiman, et al., 1992/1993:19). Selain itu, teknik labo laot ini biasa juga dilakukan pada musim ombak besar karena pada musim tersebut pukat sulit dilabuhkan ke pantai (http://id.wikipedia.org).

b. Teknik labo darat

Teknik labo darat adalah teknik penangkapan ikan dengan cara mengepung kawanan ikan pada suatu lokasi tertentu di sekitar pantai. Teknik ini biasanya dilakukan oleh sekurang-kurangnya 10 - 15 orang nelayan yang terdiri dari seorang pawang atau pemimpin, lima orang awak perahu, dan selebihnya adalah para pembantu tarek pukat atau teumupoh (awak teumare). Pawang bertugas mengatur penebaran atau penurunan pukat ke laut dari atas perahu dengan dibantu para awak perahu sedangkan para pembantu tarek pukat bertugas menarik pukat dari arah pantai setelah mendapat isyarat dari pawang. Ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk melaksanakan teknik ini, yaitu persiapan, penebaran pukat, penarikan pukat, dan pengambilan hasil tangkap.

1). Tahap Persiapan

Langkah pertama dalam tahap persiapan ini adalah para awak perahu dan pawang terlebih dahulu naik ke atas perahu yang ditambatkan di pantai. Setelah itu, komponen-komponen pukat seperti lamat, jok, dan ulaya mulai disusun sedemikian rupa dengan dibantu oleh para teumupoh untuk mempermudah proses penebaran pukat di laut. Adapun susunan komponen dalam perahu yaitu dimulai dari yang paling dasar dengan urutan sebagai berikut: gulungan tali pertama II (rundok), jok pukat, kantong (euntong), dan teratas adalah sayap I (lamat). Selain itu, letak pelampung dan pemberat juga diatur sedemikian rupa. Pelampung diletakkan pada bagian sisi kanan perahu dengan menghadap ke arah laut, sedangkan pemberat diletakkan di sebelah kiri perahu dengan menghadap ke pantai. Sebelum perahu dikayuh ke laut, salah satu ujung lamat (tali penarik) dipegang oleh para teumupoh atau biasanya ditambatkan pada sebuah patok kayu yang telah ditancapkan dengan kokoh di pantai. Selain sebagai tempat untuk menambatkan tali penarik (lamat), patok kayu ini juga berfungsi sebagai penggulung lamat.


Mendorong perahu ke laut

Sumber Foto: http://www.acehkita.com

2). Tahap Penebaran Pukat

Setelah tahap persiapan selesai, para awak kapal segera mengayuh perahu menuju ke laut seraya menurunkan jok pukat dan ulaya bagian kiri secara bertahap. Jika perahu telah sampai pada jarak tertentu (disesuaikan dengan panjang lamat), maka kantong pukat segera diturunkan. Setelah itu, perahu dikayuh ke arah kanan menuju ke pantai sambil menurunkan jok dan ulaya bagian kanan. Proses penurunan jok dan ulaya diusahakan membentuk setengah lingkaran dengan menghadap ke garis pantai. Ketika perahu mendekati pantai, tali rundok segera dilemparkan ke pantai dan disambut oleh para teumupoh.

3). Tahap Penarikan Pukat

Begitu tali rundok sampai di pantai, sang pawang segera kembali ke laut dengan menggunakan sebuah sampan untuk melihat keadaan kantong. Setelah melihat kawanan ikan telah terperangkap dalam kantong, sang pawang segera memberi isyarat dengan melambaikan suatu benda ke atas, misalnya topi, tudung, atau kain kepada para teumupoh agar segera menarik ujung lamat dan rundok. Selama proses penarikan berlangsung, sang pawang harus mengikuti dan mengatur penarikan pukat agar posisi lamat dan rundok tetap kencang dan berimbang sampai ke pantai. Sementara itu, para teumupoh secara bersama-sama menarik ujung lamat dan rundok dengan diiringi teriakan kecil lantunan syair-syair yang indah dalam bahasa Aceh.


Menarik pukat dari pantai
Sumber Foto: http://www.mediaindonesia.com

4). Tahap Pengambilan Hasil Tangkapan

Setelah seluruh jok dan ulaya pukat tiba di pantai, kantong pukat segera ditarik dan hasil tangkapan dikeluarkan. Selanjutnya, sebagian nelayan memilih ikan hasil tangkapan yang jenisnya bermacam-macam tersebut dengan cara memisahkan dan kemudian memasukkannya ke dalam keranjang yang telah disiapkan. Sementara itu, nelayan yang lain bertugas menaikkan lamat dan komponen pukat lainnya ke atas perahu. Namun, jika ada komponen pukat yang rusak akibat gesekan batu karang, terlebih dahulu komponen tersebut diperbaiki (dirajut) sebelum digunakan pada pengoperasian selanjutnya.


Kantong pukat berisi ikan hasil tangkapan

Sumber Foto: http://www.acehkita.com

Hasil tangkapan tersebut tidak semuanya dijual, melainkan sebagian dibagi kepada mereka yang terlibat dalam kegiatan pengoperasian pukat tersebut. Jika seandainya hasil tangkapan (ikan) yang didapatkan 10 keranjang, maka cara pembagian hasilnya adalah seperti berikut: 2 keranjang di antaranya dibagi untuk semua anggota penarik pukat, yaitu seorang pawang pukat mendapat bagian 10%, awak perahu yang terdiri dari 4 hingga 5 orang mendapat bagian 40%, dan pembantu tarek pukat atau teumupoh/awak teumarek yang terdiri dari beberapa nelayan mendapat 50%. Dengan kata lain, 20% dari hasil tangkapan dinikmati oleh pawang, awak perahu, dan awak teumarek, sementara 80% sisanya dijual kepada muge (agen atau pembeli grosiran) (http://www43.indowebster.com). Sistem bagi hasil tradisional dengan model seperti di atas, hingga saat ini masih berlaku di kalangan nelayan di Kabupaten Aceh Besar dan diatur oleh Panglima Laôt setempat.

6. Kelebihan dan Kelemahan

Pada umumnya, setiap alat penangkapan ikan memiliki kelebihan dan kekurangan. Peralatan penangkap ikan tradisional nelayan Aceh ini juga memiliki kelebihan dan kelemahan.

a. Kelebihan

Adapun kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh pukat aceh adalah sebagai berikut:

  1. bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pukat tersebut mudah didapatkan
  2. beknik pembuatannya sederhana dan perawatannya cukup mudah
  3. hasil tangkapan relatif banyak
  4. alat ini termasuk alat tangkap aktif, yaitu alat tangkap yang digerakkan memburu ikan sehingga terperangkap
  5. alat ini termasuk alat tangkap yang ramah lingkungan karena tidak merusak biota laut lainnya dan tidak berbahaya bagi nelayan. Kriteria ini berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh Food Agriculture Organization (FAO) pada tahun 1965 (http://tadjuddahmuslim.wordpress.com)

b. Kelemahan

Adapun kelemahan atau kekurangan alat ini adalah sebagai berikut:

  1. alat ini harus dioperasikan oleh orang banyak sehingga membutuhkan tenaga yang banyak
  2. hasil tangkapannya hanya jenis-jenis ikan yang hidup di dasar pantai dan udang (shrimp)

7. Nilai-nilai

Pukat aceh adalah salah satu jenis peralatan penangkap ikan masyarakat Aceh yang mengandung nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Nilai pelestarian alam. Pukat aceh termasuk peralatan penangkap ikan yang ramah lingkungan karena tidak merusak habitat dan tempat tinggal serta tempat berkembangbiaknya ikan dan oganisme lainnya. Hal ini dapat dilihat pada bahan-bahan yang digunakan oleh alat ini terbuat dari bahan-bahan alami yang tidak mengandung unsur berbahaya, seperti tali ijuk untuk membuat jok pukat, benang untuk membuat ulaya dan kantong, dan kayu untuk membuat perahu.
  2. Nilai keterampilan. Pembuatan komponen-komponen pukat aceh seperti lamat, jok, dan ulaya memerlukan keterampilan khusus, misalnya keterampilan memilin rotan menjadi lamat, dan keterampilan merajut ijuk menjadi ulaya. Di samping itu, seorang pembuat jok atau ulaya harus mengetahui ukuran luas mata jaring yang harus dibuat sehingga tidak mudah diterobos oleh kawanan ikan
  3. Nilai ekonomis. Dapat dikatakan bahwa hampir semua bahan yang digunakan untuk membuat komponen pukat aceh, termasuk alat penunjang utamanya (perahu), diambil dari alam. Bahan-bahan tersebut diolah sendiri nelayan untuk dibuat pukat aceh. Bahkan, tali ijuk yang digunakan untuk membuat jok pukat merupakan hasil kerajinan masyarakat setempat (Sulaiman., et al., 1992/1993:17). Dengan keterampilan yang dimiliki tersebut, para nelayan tidak perlu lagi mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli tali ijuk untuk keperluan pembuatan jok pukat.
  4. Nilai gotong-royong dan keadilan. Pukat aceh merupakan peralatan penangkap ikan yang memerlukan tenaga yang banyak. Oleh karena itu, untuk mengoperasikan alat ini harus dilakukan secara bergotong-royong oleh para nelayan dan hasilnya kemudian dibagi secara adil dengan sistem bagi hasil berdasarkan sistem pembagian yang disepakati bersama oleh para nelayan. 

8. Penutup

Pukat aceh adalah salah satu hasil kreasi masyarakat nelayan di Aceh yang perlu dilestarikan dan dikembangkan karena merupakan alat tangkap ikan yang hemat energi dan ramah lingkungan. Penciptaan alat ini tidak lepas dari persepsi masyarakat setempat tentang cara memelihara lingkungan alam sehingga dapat dijadikan tempat untuk mencari nafkah secara berkesinambungan. Walaupun masih tergolong sebagai peralatan penangkap ikan tradisional, pukat aceh ini tetap menjadi alat tangkap yang sangat penting bagi nelayan Aceh karena dapat memberikan hasil tangkap yang cukup baik.

(Samsuni/bdy/04/03-10)

Referensi

Buku:

  • Nasruddin Sulaiman, et al. 1992/1993. Peralatan menangkap ikan tradisional di Kabupaten Aceh Besar. Daerah Istimewa Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Daerah Istimewa Aceh.
  • Poltak Johansen. 2008. Teknologi tradisional pada masyarakat nelayan di Tarakan. Pontianak: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak wilayah kerja Kalimantan.
  • Rusdi Sufi, et al. 1997. Sistem bagi hasil tradisional pada masyarakat etnis Aceh dan Aneuk Jamee. Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh.

Internet:

  • Agus Sarwo. 2009. “Merajut pukat”, [Online], tersedia di (http://www.acehforum.or.id) [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
  • Anonim. “Panglima La” [Online], tersedia di (http://wapedia.mobi). [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
  • Fiqrin. “Pukat pantai”, [Online], tersedia di (http://fiqrin.wordpress.com) [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010].
  • Nazamuddin, “Antara laut dan gunung: Keunikan dan keberagaman penghidupan penduduk Aceh sebagai daya tarik wisata.” [Online], tersedia di (http://www43.indowebster.com) [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
  • Supardi Ardidja. 2007. “Alat penangkap ikan”, [Online], tersedia di (http://www.scribd.com) [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
  • Tadjuddah Muslim. 2009. “Kajian keramahan lingkungan alat tangkap menurut klasifikasi statistik internasional standar FAO, [Online], tersedia di (http://tadjuddahmuslim.wordpress.com) [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]

Sumber foto:

  • Nasruddin Sulaiman, dkk. 1992/1993. Peralatan menangkap ikan tradisional di Kabupaten Aceh Besar. Daerah Istimewa Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Daerah Istimewa Aceh.
  • http://www.acehkita.com [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
  • http://www.mediaindonesia.com [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
Dibaca : 14.782 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password