Kamis, 2 Oktober 2014   |   Jum'ah, 7 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 2.050
Hari ini : 12.189
Kemarin : 22.291
Minggu kemarin : 241.277
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.182.687
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Mangupa Haroan Boru atau Patobang Anak: Nasehat Sakral bagi Pasangan Pernikahan di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara

Upacara Mangupa Haroan Boru adalah salah satu serangkaian upacara adat dalam pesta perkawinan yang bertujuan mengembalikan tondi ke badan. Upacara adat ini berasal dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang memiliki tata laksana spesifik dan fungsi nasihat untuk pasangan pernikahan yang akan mengarungi bahtera kehidupan.

1. Asal-Usul

Upacara Mangupa atau Upah-upah merupakan salah satu upacara adat yang berasal dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Upacara Mangupa bertujuan untuk mengembalikan tondi ke badan dan memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Esa agar selalu selamat, sehat, dan murah rezeki dalam kehidupan. Upaya memanggil tondi ke badan dilakukan dengan cara menghidangkan seperangkat bahan (perangkat pangupa) dan nasehat pangupa (hata pangupa; hata upah-upah) yang disusun secara sistematis dan dilakukan oleh berbagai pihak yang terdiri dari orang tua, raja-raja, dan pihak-pihak adat lainnya.

Ada tiga kondisi di mana upacara Mangupa dapat dilaksanakan, yaitu: (1) hasosorang ni daganak atau kelahiran anak (2) haroan boru atau sering dikenal juga sebagai patobang anak atau perkawinan anak laki-laki, dan (3) marmasuk bagas na imbaru atau memasuki rumah baru (Marakub Marpaung, 1969). Pada saat ini, perkembangan tradisi Mangupa telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Tapanuli Selatan sehingga terdapat banyak jenis Mangupa, misalnya Mangupa memasuki rumah baru (marbongkot bagas).

Wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan pada saat ini terdiri dari 12 Kecamatan dengan total luas wilayah 4502,26 km2. Secara administratif, Kabupaten Tapanuli Selatan mempunyai batas-batas sebagai berikut: di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Tapanuli Tengah; di Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Mandailing Natal; di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu dan Kabupaten Padang Lawas Utara; dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Tengah dan Samudera Indonesia (http://www.tapselkab.go.id).

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Mangupa Patobang Anak atau Haroan Boru dilaksanakan sebelum tengah hari di rumah atau tempat pelaksanaan acara adat pernikahan (horja).

3. Pemimpin dan Peserta

Upacara Mangupa Haroan Boru biasanya dipimpin langsung oleh Raja Panusunan Bulung, yaitu seseorang yang diangkat sebagai pemimpin adat di lingkungan yang sedang mengadakan horja. Raja Panusunan Bulung memegang tampuk adat dalam upacara adat (Marakub, 1969) dan merupakan raja adat yang dianggap ahli tentang adat-istiadat (L.S. Diapari, 1990).

Raja Panusuan Bulung bertindak sebagai pemimpin yang merangkum semua hata pangupa dan membacakan Surat Tumbago Holing. Surat Tumbaga Holing adalah ayat-ayat atau kalimat-kalimat yang berisi ajaran tentang kebenaran, kebaikan, dan estetika. Raja Panusunan Bulung menerjemahkan semua perangkat pangupa dan esensi dari nasehat, harapan, dan doa dari berbagai pihak yang sudah memberikan hata pangupa berdasarkan nilai-nilai dalam Surat Tumbago Holing.

Peserta utama upacara Mangupa Haroan Boru adalah pengantin laki-laki dan perempuan. Selain mempelai, upacara Mangupa Haroan Boru harus memenuhi struktur adat dalam Tapanuli Selatan, yaitu Dalihan na Tolu (Tungku yang Tiga). Tanpa disertai kehadiran Dalihan na Tolu, maka Upacara Mangupa tidak bisa dilaksanakan karena struktur adat tidak terpenuhi. Ketiga unsur Dalihan Na Tolu itu adalah kahanggi, anak boru, dan mora. Diapari (1990) dalam buku Adat Istiadat Perkawinan Dalam Masyarakat Batak Tapanuli Selatan memberikan batasan terhadap ketiga unsur adat tersebut sebagai berikut.

  1. Kahanggi, yaitu pihak atau kelompok keluarga yang semarga. Di Toba, pihak ini disebut sebagai Dongan Tubu atau Dongan Sabutuha.
  2. Anak Boru, yaitu pihak atau kelompok yang mengambil istri dari pihak yang pertama. Pihak ini di Toba disebut sebagai Boru.
  3. Mora, yaitu pihak yang memberikan istri kepada pihak pertama. Pihak ini di Toba Hula-Hula.

Upacara Mangupa sebaiknya juga memenuhi unsur adat lainnya yang mencakup Pisang Rahut, Hatobangon, Raja Pamusuk, Raja Tording Balok, Raja Panusunan Bulung dan ulama (pemuka agama). Pisang Rahut tergolong dalam kelompok anak boru, yaitu anak boru dari anak boru suhut. Hatobangon, menurut Diapari (1990), adalah wakil-wakil dari tiap marga yang bertempat tinggal di kampung yang mengadakan horja. Raja Pamusuk dapat disamakan sebagai ketua kampung pelaksanaan upacara Mangupa (Marakub, 1969). Raja Tording Balok adalah raja-raja yang berasal dari kampung-kampung yang berdekatan dengan kampung yang sedang menyelenggarakan upacara adat. Di perantauan, Raja Tording Balok juga bisa menjadi Raja Panusunan Bulung dalam setiap paguyuban-paguyuban yang ada (Persadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993).

4. Peralatan dan Bahan

Upacara Mangupa menyajikan perangkat makanan yang diletakkan di atas tampi (niru) dan dialasi oleh bagian ujung daun pisang sebanyak tiga helai. Jenis bahan makanan yang digunakan di dalam Mangupa menentukan besar-kecilnya pesta adat (horja). Makanan yang diolah dari hewan yang disajikan dalam perangkat tersebut menandakan tingkatan besar-kecilnya Mangupa yang sedang dilaksanakan. Ada empat jenis bahan dan hewan penting di dalam upacara Mangupa, yaitu:

  1. pira manuk na nihobolan (telur ayam),
  2. manuk (ayam),
  3. hambeng (kambing),
  4. horbo (kerbau), dalam pembicaraan adat dijuluki na bontar (yang putih) (Persadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993).

Tingkatan Mangupa dalam pesta adat kecil dan mendasar paling sedikit harus memenuhi bahan penting sebutir telur ayam, tingkat kedua harus mengandung ayam, tingkatan ketiga harus mengandung kambing, dan tingkatan tertinggi harus mengandung kerbau. Setiap tingkatan Mangupa yang lebih tinggi harus mengandung unsur bahan dan hewan yang ada dalam tingkatan yang lebih rendah. Misalnya, untuk tingkatan Mangupa tertinggi, yang menggunakan hewan penting berupa kerbau, hidangan pangupa itu juga harus menyajikan kambing, ayam, dan telur. Hewan-hewan penting tersebut tentu saja harus dipadukan dengan berbagai hidangan dan perangkat pangupa yang lain.

Perangkat Pangupa dengan hewan kerbau adalah sebagai berikut:

  1. alas paling bawah adalah anduri (tampi)
  2. di atas anduri (tampi) ada tiga helai bulung ujung (daun pisang bagian ujung)
  3. di atas bulung ujung ditaruh indahan sibonang manita (nasi putih yang disebut siribu-ribu)
  4. di atas indahan sibonang wanita diletakkan ikan-ikan kecil dari tujuh sungai, biasanya haporas dan incor
  5. di kiri dan kanan, di atas nasi diletakkan masing-masing seekor ikan
  6. di bagian belakang ditaruh parmiakan ni manuk (bagian punggung ayam)
  7. di bagian kiri dan kanan dalam diletakkan paha kerbau
  8. di samping paha kerbau diletakkan dua paha ayam
  9. di depan paha kerbau dan paha ayam diletakkan tiga pira manuk na dihobolan (telur ayam yang masak dan sudah dikupas), yang dibubuhi garam di tengahnya
  10. bagian paling depan adalah kepala kerbau, mata, telinga, bibir dan dagunya
  11. semua pangupa ditutupi dengan sehelai bulung ujung (daun pisang ujung)
  12. paling atas adalah sehelai kain adat, abit godang (selimut adat)

5. Tata Laksana

A. Persiapan

Tahap awal adalah pengaturan posisi duduk setiap hadirin selama upacara Mangupa berlangsung. (Persadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993) menjelaskan tempat duduk tiap-tiap para pelaksana upacara Mangupa  sebagai berikut.

Sebelah kanan duduk bayo pangoli (pengantin laki-laki) yang didampingi sebelah kanannya oleh kahangginya yang ikut ke tapian raya bangunan. Di sebelah kiri duduk pula Boru na dioli (pengantin perempuan) didampingi oleh anak boru mereka semua di talaga (arah ke pintu masuk) tampak duduk semua suhut laki-laki dan perempuan, anak boru, pisang raut, harajaon, dan hatobangon. Pakaian adat yang dikenakan pengantin ke tapian raya bangunan tetap dipakai.

Setelah semua hadir di ruangan sidang adat dan duduk sesuai dengan aturan, perangkat pangupa dibawa masuk ke dalam ruang sidang adat. Orang Kaya yang bertugas sebagai pembawa acara memperdengarkan ungkapan-ungkapan yang berisi harapan-harapan. Bagian selanjutnya memaparkan tata laksana Upacara Mangupa mulai dari Pembukaan hata pangupa oleh Orang Kaya sampai kepada hata pangupa jawaban dari pengantin.

b. Pelaksanaan

1) Pembukaan oleh Orang Kaya

Perangkat Pangupa diletakkan oleh Orang Kaya di hadapan kedua pengantin. Di sebelah kiri dan kanan perangkat pangupa diletakkan masing-masing satu piring pangupa lain yang isinya adalah ikan dan daging ayam. Satu piring diletakkan di hadapan kelompok kahanggi  dan piring yang lain di hadapan anak boru. Orang Kaya  membuka acara dengan sambutan seperti berikut ini (Persadaan, 1993).

Jagit bo tulang burangir on, jagit bo nantulang burangir sirara unduk sibontar adop-adop. Sataon so ra buruk, sabulan so ra malos. “Sumurdu burangirnami di hamu, di hananaek ni mata ni ari on, anso manaek ma tua, hamomora, hahorasan dohot hagabean di hamu na niadopkon ni pangupa on. Nadung lolot do on tarniat di andora ni suhut sihabolonan. Jadi na palaluhon ma sadarion niat ni roha nadung lolot tarsimpan di bagasan sitamunang ni morangkon. Hara ni godang ni roha i, nipasu baga-baga on.

Jadi onpe patotor hamu ma sanga songon dia na tumbuk mangihutkon partamana di bagasan adat i. Laho paboahon sinta-sinta dohot haul ni roha adop Tuhanta Na Uli Basa i. Anso denggan mardalan karejonta on, jana anso saut dohot tulus na niparsinta ni rohanta i. Jadi sannari kehe ma tu suhut sihabolonan.

Artinya:

Terimalah Tulang (mamak pengantin laki-laki) sirih ini, terimalah nantulang (isteri mamak, pengantin laki-laki) sirih ini, sirih yang merah bagian belakang dan putih bagian depan. Setahun tidak akan busuk, sebulan tidak akan layu. Kami persembahkan sirih kami kepada kamu, ketika matahari mulai naik, agar naik pula tuah, derajad, kesehatan dan kejayaan kepada kamu berdua yang sedang disajikan pangupa ini. Sudah lama terniat bagi suhut sihabolonan (orang tua laki-laki dan kahangginya). Jadi dilaksanakanlah hari ini niat yang sudah lama tersimpan di dalam hati mora  saya ini. Karena kami sangat berbahagia, maka dilaksanakanlah upacara yang mengandung harapan ini.

Jadi dalam hal ini sampaikanlah apa yang tepat menurut adat. Kemudian sampaikanlah angan-angan kamu selama ini dan niat dalam hati kepada Tuhan kita, yang Mahakuasa dan Maha Penyayang itu agar berjalan lancar acara kita ini dan terlaksana apa yang kita inginkan. Sekarang giliran suhut sihabolanan  menyampaikan hata pangupa.

Orang Kaya kemudian melanjutkan Mangupa dengan mempersilakan berbagai pihak untuk menyampaikan hata pangupa. Orang Kaya harus mendahulukan pihak ibu-ibu menyampaikan hata pangupa. Kelompok ibu-ibu yang menyampaikan hata pangupa adalah suhut, kahanggi, anak boru, dan pisang rahut.

2) Hata Pangupa dari Suhut Sihabolanan, Kahanggi, Anak Boru, dan Pisang Rahut dari Pihak Ibu-ibu

Suhut Sihabolanan (tuan rumah yang punya hajat) yang pertama menyampaikan hata pangupa adalah ibu kandung pengantin laki-laki. Dia menguraikan maksud pertemuan adat ini dan maksud pangupa agar semua yang hadir secara resmi mengetahui. Dia menyampaikan hata pangupa penuh keharuan dan biasanya sambil menangis menangis karena bahagia.

Kemudian giliran hata pangupa kepada kahanggi, anak boru dan pisang rahut diberikan kepada kelompok barisan atau kelompok ibu-ibu. Contoh isi hata pangupa dari kahanggi pihak ibu-ibu biasanya sama dengan isi hata pangupa dari suhut (ibu pengantin laki-laki) di atas.

3) Hata Pangupa dari Suhut Sihabolanan, Kahanggi dan Anak Boru, dan Hatobangon dari Pihak Bapak-Bapak

Giliran pertama dari kelompok Bapak-Bapak adalah Suhut Sihabolonan, yaitu tuan rumah, dalam hal ini ayah dari pengantin laki-laki.

Setelah itu, Orang Kaya kemudian akan mempersilahkan kahanggi untuk memberikan hata pangupa. Isi hata pangupa dari kahanggi umumnya sama dengan isi hata pangupa dari Suhut. Setelah kahanggi memberikan hata pangupa, kemudian tiba giliran anak boru dan hatobangon dari pihak bapak-bapak untuk memberikan hata pangupa, yang isinya pada umumnya sama dengan isi hata pangupa dari anak boru pihak ibu-ibu yang telah dipaparkan di bagian sebelumnya.

4) Hata Pangupa dari Harajaon

Harajaon menyampaikan hata pangupa setelah hatobangon menyampaikan hata pangupa. Kelompok Harajaon ini terdiri dari Raja Tording Balok, Raja Pamusuk dan Raja Panusunan Bulung. Hata Pangupa disampaikan oleh Raja Panasunan Bulung yang akan berbicara dengan tegas untuk menyimpulkan hata pangupa yang telah disampaikan sebelumnya. Persadaan Marga Harahap Dohot Boruna (1993) menyebutkan, “Raja Panusunan Bulung menyimpulkon songon tali, mambobok songon soban, sude hata pangupa” yang artinya “Raja Panasunan menyimpulkan seperti tali, mengikat seperti kayu api semua kata pangupa”. Contoh hata pangupa Raja Panusunan Bulung adalah sebagai berikut.

“Sattabi sappulu di anak ni raja-raja dohot namora-mora na ro sian jae dohot sian julu jana tarimo kasi disuhut sihabolonan sahat tu pisangrahutna. Dison ma na pasahat dohot na putuluskon baga-baga sitamunang di bagasan roha, anso ulang i songon singotngot di bagasan ipon tungkol di bagasaan ngadol.

On ma i arina hape, ari na martua marsahala manurut datu parhala na pasampe sigodang ni roha taradop anak dohot parumaen. Sai marsangap ma hamu jana martua, panjang umur mura pancarian.

...

On pe madung songon imbo di  dolok, sarudung di parsiraisan madung sahata sapangondok, roha pe madung marsijagitan.

On pe horas ma tondi madingin sayur matua bulung, pir tondi matogu on tu ginjang ni ari, boti ma jolo …”

Artinya:

“Sembah sepuluh kali kepada anak Raja dan juga para bangsawan yang berasal dari hilir dan hulu, begitu pula ucapan terima kasih kepada suhut sihabolonan sampai kepada pisang rautnya. Dalam hal ini, pada saat ini kita adalah melepas hajat dan niat yang sudah lama terpendam dalam hati agar jangan menjadi beban dalam sanubari.

...

Ini semua kata-kata adat mufakat nenek moyang kita dahulu, pada hari ini dititipkan ke dalam tubuh kamu berdua.

Ini pun sudah seperti siamang di bukit ikan kecil di tangguk sudah pula semufakat, hati mereka juga saling menerima. Ini pun selamat tondi  yang sejuk selamat sampai keakhir zaman, kuatlah tondi dari sekarang sampai masa yang akan datang. Sekian...”

Orang Kaya yang bertindak sebagai pembawa acara kemudian akan mempersilakan seorang harajoan (pemuka adat) yang mahir membaca tamsil perangkat pangupa. Pemuka adat ini bertugas menyampaikan makna pangupa yang dimisalkan sebagai Surat Tumbaga Holing. Pada tahap ini, upacara Mangupa memasuki esensi dari doa yang sesungguhnya, yaitu memanggil tondi ke badan melalui pemaknaan mendalam terhadap hidangan pangupa dan doa atau mantera tertentu yang biasanya sudah baku. Salah satu contoh proses pemanggilan tondi ke badan melalui pembacaan Surat Tumabaga Holing Perangkat pangupa bisa dibaca dari seperti berikut ini (Diapari, 1990).

Antong amang bope hamu inang, baen madung dipasu-pasu hatobangon dohot harajaon hamu, marbanjar mada tondimuyu mangadopi pangupa simangadang tua na godang on jana bege ma tondimuyu disise pangupa on.

Baen madung diungkap pangupa na nitutup ni abit hagodangan i, abit sijugat-jagit na nitonun manghuntak-tak nianikkon manguntek-tek, tapangido ma di Tuhanta Naulibasa i mungkap ma hamomora, hatotorkis ana hadidingin di hamu.

Taparyak di jolomuyu piramanuk na nihobolan na nilompa ni orang tua, dia ma i na nidokna, sai gomgom marsigomgoman ma tondimuyu nadua sampai hamu matua. Dibaen do i tolubangkiang, na gorsing di bagasan na bontar di balian, na paboahan mada on na sahata saoloan do dalihan natolu laho pasahatkon pangupa on tu hamu. Sai dijagit tondi dohot badanmuyu ma sinta-sinta dohot pangidoan ni rohanami on.

Di tonga ni piramanuk na nihobolan i di baen do i sira na ancim pandaian, dia ma i na nidokna, sai mura ma rasoki dohot pancarian

Duri ni pangkat ma i tu duri ni hotang

Tu dia hamu mangalakka sai dapot-dapotan

Nisuak barse-barse di toru ni lambak pining

Marringgit maruse-use marmanuk habangan ding-ding

Tibal muse do disi ihan sayur, ibo rohana, sai sayur matua bulung ma hamu na niadopkon pangupa on. Laing ihan sahat mada i anso sahat mamora jana magabe, laing ihan simundur-undur do i na mangundurkon anak mengundurkon boru laho mangingani bagas na martua on.

Taratak tarhidang muse do dison horbo simaradang tua, namamolus ombun manyap, dompak menek maroban tua dung godang maroban sangap.

Ia horbo on na nioban sian luat Padangbolak,

Na manjampal di padang na lomak,

Marsobur di sosopan na so marlinta,

Di galanggang na so marrongit

Dibaen on sannari gabe upa-upa ni tondi, upa-upa ni badan muyu.

Dipatibal do tulan rincan sian siamun,

Tulan rincan sian siambirang,

Na sian siamun bagian ni suhut sihabolonan,

Sian siambirang bagian ni anakboru.

Songon i huling-kuling dohot bobak na nisale,

Malo-malo hamu mangkuling harana tua ni halak do na

maroban dame.

Horbo saeto tanduk boti mangasa gogo,

Malo hamu marbisuk songon i marpangalaho,

Dison dua mata na tiur panaili marnida borngin dohot arian,

Tutur hamu marpangarohai, rama markoum malo mardongan.

Songon i dila ni horbo, anso malo-malo hamu martutur poda,

Mangalehen hata na denggan tu halak na bahat, songon i pinggol

Ni horbo anso tangi-tangi di siluluton inte di siriaon.

Sudena on payak di ginjang ni indahan, ima indahan sibonang manita, nada dope dipangan madung binoto daina, tanda godang ni roha ni ama-ina di parjolianmuyu on. Indahan na nidippu mada i, na marsintahon anso dippu hamomora di hamu na niadopkon pangupa on, laing on mai indahan ribu-ribu anso hombang ratus hombang ribu pancarian dohot pancamotanmuyu.

Ia pangupa on payak di ginjang ni bulung ujung, sai ibo rohana ni Tuhanta sai marujung tu na dengganna ma sude na hita parsintahon di karenjonta na sadari on.

Ia pangupa on dipayakkon do di ginjang ni anduri na bidang rapakna, dia ma i na nidokna, lainganduri on mada dalanta hiap-hiap tu jolo ni Tuhanta Naulibasa i anso dipasaut-dipasaut jana dipatulussa sude na tarsinta sadari on. Di bagasan ni i laing on ma mangajari hita, anso taboto maradat, maruhum dohot marugari tu hula dongan, hatobangon dohot harajaon tarlobi tu mora.

Laing mangindo hita tu Tuhanta Naulibasa i, sai dipasu-pasu ia ma hamu : Tubuan laklak ma na so tubuan lak-lak, tubuan singkoru naso tubuan singkoru, laklak ma i di ginjang ni pintu singkoru digolom-golom, sai maranak ma sapulu pitu jana marboru sappulu onom, anggo dung mardakka abaramuyu, margosta-gosta margiringgiring, maroppa-oppa mangiring-iring, lobi dope sian on nangkan baenon tanda godang ni roha ni ama dohot ina di pahompu nangkan na ro.

Antong, bariba tor ma i bariba rura, aek mardomu tu muara, totor iba di adatniba, i do tanda ni anak ni namora. Malo-malo hamu marhula dongan songon i marhula marga, inda adong arti ni sinadongan, anggo na so malo iba martutur poda. On sude hata ni adat, padan ni oppunta na dung lalu, di ari na sadarion hami pasahat tu badan simanaremuyu. On pe hehe hamu jolo pangupa jolo pangupa i, kata pembaca pangupa dan beberapa orang mengangkat pangupa itu ke atas setinggi kepala kedua mempelai seraya pembaca pangupa berkata “manaek ma hamamora, hatotorkis jana hadidingin di hamu na niupa on.

(Perangkat pangupa disuruh angkat setinggi kepala kedua pengantin).

Dipahot ma pangupa, hot ma hamamora, hatotorkis jana hadidingin di hamu na niupa on. On pe nada adong be nahurang, madung hot di padanna, cocok dohot suringna, horas tondi madingin sayur matua bulung, pir tondi matogu sian on tu ginjang ni ari, na 1, 2, 3, 4, 5, 6 dohot 7, pitun sundut hamu suada mara, pitun sundut tong magabe. Horaskon bo orangkaya….horas…..horas…horas.

Terjemahan makna doa dan nasehat di atas adalah sebagai berikut.

Ananda berdua (kedua pengantin), karena kalian berdua sudah didoakan oleh hatobangon dengan harajaon, maka siap dan kuat tondi ananda berdua menghadapi pangupa yang membawa tuah ini. Kemudian saya harapkan agar tondi kamu berdua siap mendengarkannya saya akan membacakannya.

Pangupa yang ditutup dengan kain adat kebesaran sudah dibuka. Kain adat ini ditenun tak-tak tek-tek. Kita berdoa kepada Tuhan agar terbukalah hidup yang senang, sehat dan sejuk bagi kamu berdua.

Terletak di hadapan kamu telur ayam yang bulat yang direbus orang tuamu. Apakah itu maknanya? Semoga saling menggenggam tondi kamu berdua sampai hari tua. Telur itu tiga buah, kuning di dalam dan putih di luar. Maksudnya sudah seia sekata dalihan na tolu melaksanakan upacara mangupa kepada kalian berdua. Semoga diterima tondi dan badan kamu berdua hajat dan permintaan kami ini.

Ditengah-tengah telur ayam diletakkan garam yang rasanya asin. Apa pula maknanya? Semoga murah rezeki dan mudah pencaharian.

Duri pangkat itulah duri rotan   

Kemana kamu pergi selalu kamu mendapat

Dirobek barse-barse di bawah pelepah pinang

Ringgit tumpah ruah, ayam berterbangan di dinding.

Di situ terletak pula ikan sayur, semoga Tuhan memberikan hidup sejahtera kepada kamu yang sedang diupa-upa. Mudah-mudahan kamu berdua hidup berbahagia dan kaya raya. Diharapkan kamu juga mendapatkan anak laki-laki dan anak perempuan menempati rumah yang bertuah ini.

Terhidang rapi pula di atasnya kerbau yang menjelang tua, lewat di embun pagi, ketika kecil membawa tuah, sesudah besar membawa kharisma.

Kerbau ini dibawa dari Padangbolak, mencari makan di padang rumput, yang  subur berendam di lubuk yang tidak berlintah di gelanggang yang tak bernyamuk, dibuat jadi pangupa tondi, upa-upa badan kamu berdua.

Diletakkan pula daging empuk disebelah kanan dan kiri. Sebelah kanan bagian suhut, sebelah kiri bagian anak boru.

Begitu juga jangat dan kulit kerbau maksudnya agar kamu bijaksana berbicara. Karena tuah manusia membawa damai.

Kerbau sehasta tanduk lagi pula tenaganya kuat

Pandai kamu berprilaku begitu juga bertata krama

Disini ada dua mata yang terang melihat malam dan siang

Pandai bertenggang rasa, ramah berfamili akrab berteman

Di dalamnya ada lidah kerbau, maksudnya agar kamu pandai bersopan santun.

Diatasnya ada telinga kerbau maksudnya supaya tanggap kita terhadap hal masyarakat baik kemalangan maupun berita kebahagiaana.

Semua bahan pangupa diletakkan di atas nasi. Nasi sibonang manita, belum lagi dimakan sudah tahu rasanya, sebagai tanda rasa bahagia kedua orang tuamu atas pernikahan kamu ini.

Tamsil nasi ini juga adalah agar kedua pengantin mendapatkan kekayaan dan kebahagiaan.

Pangupa diletakkan di atas daun pisang bagian ujung. Maknanya addalah kita berharap agar Tuhan memberikan berkah kepada kedua pengantin agar semua yang dihajat dan dikerjakan selalu selesai dengan sempurna.

Pangupa ini juga diletakkan di atas tampi. Maknanya kita semua berdoa kepada Tuhan yang Mahakuasa agar apa yang dicita-citakan hari ini dan masa yang akan datang selesai dengan sempurna. Lebarnya tampi ini memberikan tamsil pendidikan kepada kedua pengantin agar mereka mempertahankan adat, kebiasaan, aturan-aturan dalam masyarakat. Pandai menjaga hubungan yang baik kepada unsur dalihan na tolu.

Kita selalu mendo’akan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, agar kamu diberkati-Nya mendapat keturunan anak laki-laki dan anak perempuan. Kalau diizinkan beranak laki-laki tujuh belas orang dan anak perempuan enam belas orang. Sekiranya anak kamu berdua sudah banyak kami akan membuat acara yang lebih meriah kepada kamu dan cucu kami kelak.

Dengarkanlah, amalkanlah adat istiadat, itulah tanda anak yang dihormati. Pandai bermasyarakat, tidak ada gunanya harta kalau tidak pandai bergaul. Ini semua kata-kata adat pesan leluhur kita, hari ini kami titipkan kepada kamu berdua.

(Perangkat pangupa disuruh angkat setinggi kepala kedua pengantin)

Datanglah kebahagiaan, kesehatan, kesejukan hati kepada kamu berdua.

Setelah diberikan aba-aba dengan hitungan satu sampai tujuh, pembaca pangupa mengucapkan kata : horas-horas. (selamat, selamat, selamat).

c. Penutup, Pengantin Mencicipi Hidangan Pangupa dan Memberikan Hata Pangupa

Tahap berikutnya dari acara Mangupa adalah kedua pengantin mencicipi hidangan pangupa itu. Ketika mencicipi makanan atau hidangan pangupa tersebut, si pengantin harus memakan telur yang ada mulai dari putih telur dan bagian kuning telurnya, setelah itu dilanjutkan dengan mengambil sedikit garam dan nasi.

Akhir dari upacara Mangupa ditutup dengan kata jawaban dari sepasang pengantin. Setelah kedua pengantin mencicipi hidangan pangupa, mereka dipersilakan menyampaikan kata-kata jawaban dari hata pangupa dari berbagai kalangan di atas. Isi jawaban sambutan mereka umumnya adalah ucapan terima kasih kepada para hadirin yang telah bersusah payah melaksanakan upacara adat yang sangat megah dan sakral itu.

6. Doa atau Mantera

Doa atau mantera pada upacara adat Mangupa Haroan Boru ini terletak pada bagian hata pangupa oleh Raja Adat yang membacakan Surat Tumbaga Holing di atas.

7. Nilai-Nilai

Ada banyak nilai yang terkandung di dalam upacara Mangupa. Selain fungsi paulak tondi tu badan (memanggil tondi ke badan), upacara Mangupa juga memiliki fungsi nasehat, doa, dan harapan. Setiap hata upa-upa yang disampaikan oleh fungsionaris masyarakat adat pada saat pelaksanaan acara Mangupa Haroan Boru atau Patobang Anak berisi nilai-nilai tersebut. Berikut ini adalah pemaparan setiap nilai dari upacara Mangupa.

a. Nilai Kerukunan Berumah Tangga

Nilai menjaga kerukunan berumah tangga dikandung oleh nasihat-nasihat yang terkandung di dalam hata pangupa. Petikan nasihat yang menekankan pentingnya menjaga kerukunan berumah tangga tercermin juga pada pembacaan Surat Tumbaga Holing yang dibacakan oleh Raja Adat.

b. Nilai Spiritual

Harapan dan doa agar kedua pengantin mendapatkan rumah tangga yang langgeng dan memperoleh keturunan anak yang baik-baik. Fungsionaris adat juga mengharapkan dan mendoakan agar rumah tangga yang akan dibina oleh kedua pengantin selalu diberkahi oleh Tuhan. Kesatuan unsur harapan dan doa merupakan fungsi penting dalam pelaksanaan upacara Mangupa ini.

c. Nilai Sosial

Petuah dan nasihat itu umumnya merupakan petunjuk hidup bermasyarakat. Elfitriana Kaspy Lubis (1988) membuat contohnya seperti di bawah ini.

Pature na di ruar ni bagas/Malo mamasukkon diri tu koum kahanggi/Angkon diramban halak dohot/Tale, anso manjagit na denggan iba//Tarpayak di bulung ujung/Di anduri na marbingke maldo/Tardok pangalaho madung marujung/On pe mulai sian sonnari malo hamu marpangalaho//Horbo saeto tanduk/Boti mangasa gogo/Malo hamu marbisuk/Songon i marpangalaho//

Artinya lebih kurang adalah sebagai berikut.

Bina masyarakatmu/pandai memasukkan diri dengan seluruh keluarga/Selalu berbuat baik kepada orang/agar kita selalu menerima kebaikan//Terletak di daun ujung/Di atas tampi berbingkai rotan/Setiap tingkah laku sudah berujung/Sejak saat ini hati-hati kamu berperilaku//Kerbau bertanduk sehasta/Bahkan bertenaga kuat/ Kamu mesti berbaik budi/Begitu juga berperilaku.

Upacara adat Mangupa, berdasarkan hasil penelitian Bahril Hidayat (2004), juga memiliki dampak atau pengaruh penting bagi kematangan psikologis pada pasangan pernikahan atau pengantin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi upacara adat Mangupa yang diberikan kepada pasangan pernikahan pemula Tapanuli Selatan memiliki pengaruh dalam memotivasi mereka agar menjadi pribadi yang matang dan mampu bersosialisasi dengan baik di masyarakat. Kematangan tersebut merupakan potensi psikologis yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan menjalin hubungan baik dengan orang lain.

8. Pantangan dan Larangan

  1. Unsur Dalihan na Tolu tidak terpenuhi atau tidak hadir dalam acara adat Mangupa.
  2. Tidak ada Harajaon yang hadir dalam upacara Mangupa.
  3. Upacara Mangupa sebaiknya tidak dilaksanakan setelah tengah hari (setelah jam 1 siang).
  4. Bahan atau hewan penting pangupa tidak terpenuhi. Untuk melaksanakan Mangupa, minimal bahan dasar sebutir telur yang direbus harus dipenuhi. Jika tidak ada telur rebus tersebut di antara bahan makanan lainnya (perangkat pangupa), maka Mangupa tidak boleh dilaksanakan.

9. Penutup

Pelaksanaan upacara adat Mangupa Patobang Anak atau Haroan Boru dilaksanakan pada saat melaksanakan horja atau pesta perayaan pernikahan anak laki-laki. Pelaksanaan upacara adat Mangupa yang bertujuan untuk mengembalikan tondi ke badan sekaligus mengandung ungkapan-ungkapan metafora yang bermakna doa, harapan, dan nasehat terutama kepada pasangan pernikahan. Semua tata laksana upacara itu dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur karena pihak keluarga laki-laki memperoleh menantu perempuan yang akan menemani anak laki-lakinya tersebut. Harapannya, sejak pernikahan hingga masa tua, pasangan pernikahan itu siap menghadapi kesempitan dan kesusahan, dan berbahagia di dalam kelapangan yang Tuhan ujikan kepada mereka. Ketangguhan dalam mengarungi bahtera rumah tangga tersebut merupakan bukti nyata dari pemanggilan tondi ke badan mereka melalui prosesi upacara adat Mangupa atau Upa-Upa Patobang Anak (Haroan Boru).

Referensi

  • L.S. Diapari, 1990. Adat-istiadat perkawinan dalam masyarakat Batak Tapanuli Selatan. Jakarta: Penerbit Penulis.
  • Bahril Hidayat, 2004. Tema-tema Psikologis dalam tradisi Mangupa pada pasangan pernikahan pemula dalam masyarakat perantau Tapanuli Selatan di Pekanbaru. Yogyakarta: Program Studi Psikologi FPSB UII.
  • Koentjaranigrat, 2002, Manusia dan kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Penerbit Djambatan.
  • Elfitriana Kaspy Lubis, 1988. Tradisi Mangupa dalam masyarakat suku Batak Angkola Mandailing, skripsi (tidak diterbitkan), Pekanbaru: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau.
  • Marpaung Marakub, 1969. Djop ni Roha Pardomuan (Paradaton Tapanuli Selatan) Padang Sidempuan: Pustaka Timur.
  • Persadaan Marga Harahap Dohot Boruna, 1993. Horja: adat-istiadat Dalihan Na Tolu, musyawarah adat Persadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna di Padang Sidempuan 26-27 Desember 1991, Bandung: PT. Grafiti.

Sumber Internet

  • Pemkab Tapanuli Selatan, 2010. Profil Daerah Situs Resmi Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan [Online] Tersedia di http://www.tapselkab.go.id. [Diunduh pada tanggal 14 Februari 2010].
Dibaca : 11.977 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password