Kamis, 23 Februari 2017   |   Jum'ah, 26 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 1.553
Hari ini : 4.843
Kemarin : 84.734
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.785.585
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Legenda Bukit Fafinesu

a:3:{s:3:

Diceritakan kembali oleh Samsuni

Bukit Fafinesu terletak di sebelah utara Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fafinesu dalam bahasa setempat yang artinya babi gemuk. Dulu, bukit ini belum mempunyai nama. Namun, setelah terjadi peristiwa ajaib dan mengharukan di bukit itu, maka bukit itu dinamakan Bukit Fafinesu. Peristiwa apakah yang terjadi di bukit itu? Temukan jawabannya dalam cerita Legenda Bukit Fafinesu berikut ini!

* * *

Alkisah, di pedalaman Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, ada tiga orang anak yatim piatu. Mereka adalah Saku dan dua orang adiknya, Abatan dan Seko. Ayah mereka meninggal dunia karena terguling ke jurang ketika sedang berburu babi hutan beberapa tahun yang lalu. Selang tujuh bulan kemudian, ibu mereka menyusul sang ayah karena kehabisan darah ketika sedang melahirkan putra bungsu, Seko. Untungnya, nenek mereka masih hidup sehingga ada yang merawat Seko. Namun, ketika Seko berumur dua tahun, sang nenek pun meninggal dunia karena usia.

Sejak itulah, ketiga anak yatim tersebut harus menghidupi diri mereka sendiri. Meskipun masih ada keluarga ibunya yang bersedia memelihara si bungsu, namun lantaran memiliki rasa tanggung jawab, si sulung mengambil alih peran orangtuanya untuk merawat dan mendidik kedua adiknya. Mereka ingin belajar hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain.

Waktu terus berjalan. Abatan tumbuh menjadi remaja yang rajin dan cerdas. Tanpa disuruh oleh kakaknya, ia rajin menanam jagung dan ketela di ladang. Ia juga rajin mencari kayu bakar dan memasak untuk kakak dan adiknya. Si bungsu pun kini telah berumur lima tahun dan menjadi anak yang penurut. Ia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sungguh bahagia hati Saku melihat kedua adiknya tumbuh menjadi orang yang baik. Walaupun hidup miskin, mereka senantiasa rukun dan bahagia.

Pada suatu malam yang sunyi, si bungsu tidak bisa memejamkan matanya. Tiba-tiba hatinya diselimuti kerinduan yang mendalam terhadap kedua orangtuanya. Sejak bayi, ia tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Ia pun bertanya kepada kakak sulungnya tentang keberadaan kedua orangtua mereka.

“Kaka Saku, ke manakah ayah dan ibu pergi? Kapan mereka akan pulang? Adik sangat merindukan mereka,” kata si bungsu.

Wajar memang jika si bungsu bertanya demikian karena kedua kakaknya tidak pernah menceritakan mengenai keberadaan kedua orangtuanya. Mereka tidak ingin melihat si bungsu menjadi sedih lantaran mengetahui tentang kedua orangtua mereka. Untuk itulah, Saku pun berusaha menghibur adiknya.

“Ayah dan ibu sedang pergi jauh, Adikku! Sebentar lagi mereka pulang membawa daging rusa yang lezat dan anak-anak babi,” kata Saku seraya mendongeng hingga si bungsu tertidur pulas.

Setelah itu, giliran Saku yang tidak bisa memejamkan mata. Ia sedih melihat adik bungsunya. Malam itu, langit tampak cerah. Rembulan bersinar terang dan bintang-bintang pun berkelap-kelip. Saku mengambil serulingnya lalu berjalan menuju ke sebuah bukit tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Suara-suara binatang malam mengiringi perjalanannya hingga tiba di puncak bukit. Di atas bukit itu, Saku berdiri sambil memandang langit.

“Ayah, Ibu! Kami sangat merindukan kalian. Mengapa begitu cepat kalian meninggalkan kami,” keluh Saku sambil mendesah.

Tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya dan mengalir membasahi kedua pipinya. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kemudian meniup serulingnya dan menyanyikan lagu kesukaannya.

Ama ma aim honi
Kios man ho an honi
Nem nek han a amnaut
Masi ho mu lo’o
Au fe toit nek amanekat
Masi hom naoben me au toit
Ha ho mumaof kau ma hanik
kau

Artinya:

Ayah dan Ibu
Lihatlah anakmu yang datang
Membawa setumpuk kerinduan
Walau kamu jauh
Aku butuh sentuhan kasihmu
Walau kalian telah tiada, aku minta
Supaya Ayah dan Ibu melindungi dan memberi rezeki

Saku menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Tanpa sepengetahuannya, ternyata ayah dan ibunya mendengar lagu yang indah itu. Roh kedua orangtuanya pun turun dari langit menuju ke bukit itu. Melalui angin malam, roh sang ayah berkata kepada Saku.

“Anakku, ayah dan ibumu mendengarkanmu. Kami mencintaimu. Meskipun kita berada di dunia yang berbeda, kita tetap dekat.”

Seketika itu, Saku jadi terperangah. Ia tidak tahu dari mana datangnya suara itu. Namun ia tahu kalau itu suara ayahnya. Selang beberapa saat kemudian, suara itu terdengar lagi.

“Anakku, besok malam sebelum ayam berkokok, ajaklah adik-adikmu menemui ayah dan ibu kalian di tempat ini. Jangan lupa membawa seekor ayam jantan merah untuk dijadikan korban!” pesan suara gaib itu.

Setelah suara itu lenyap, Saku bergegas kembali ke rumahnya dan tidur. Keesokan harinya, ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya semalam kepada adik-adiknya. Betapa gembiranya hati si bungsu mendengar cerita itu. Ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan kedua orangtuanya yang selama ini dirindukannya.

Pada saat tengah malam, Saku bersama kedua adiknya berangkat ke puncak bukit. Tidak lupa pula mereka membawa seekor ayam jantan merah pesanan kedua orangtua mereka. Tak berapa lama setelah mereka tiba di bukit itu, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Pepohonan meliuk-liuk dan dedaunan rontok pun beterbangan sehingga menimbulkan suara menderu-deru. Rambut dan pakaian ketiga anak itu melambai-lambai seolah-olah hendak diterbangkan angin. Begitu tiupan angin berhenti, tiba-tiba dua sosok bayangan berdiri di hadapan mereka.

“Ayah, Ibu!” seru Saku saat melihat bayangan-bayangan itu.

Mengerti kedua bayangan itu adalah orangtuanya, si Bungsu segera mendekat ke salah satu bayangan itu dan memeluknya erat-erat.

“Ibu, saya sangat merindukanmu,” kata si Bungsu.

‘Iya, Anakku! Kami juga sangat merindukan kalian. Ibu tidak pernah melupakanmu,” jawab sang Ibu.

Suasana di puncak bukit itu menjadi hening. Pertemuan seluruh anggota kelurga kecil itu membawa perasaan haru di hati mereka. Setelah mereka selesai melepaskan kerinduan, sang ayah mengajak istri dan ketiga anaknya untuk pergi ke dasar jurang.

“Sekarang marilah kita turun ke jurang. Di sana kita akan mengorbankan ayam jantan merah yang kalian bawa dan kemudian mengambil dua ekor babi,” ujar sang ayah.

Setibanya di dasar jurang, Seko segera menyembelih ayam jantan itu. Tatkala darah ayam itu menyentuh bumi, tiba-tiba dua ekor babi gemuk muncul di tengah-tengah mereka. Betapa senangnya ketiga anak itu. Mereka segera mendekati kedua babi itu dan mengelus-elusnya.

“Terima kasih, Ayah, Ibu,” ucap ketiga anak itu serentak.

“Dengarlah wahai, Anak-anakku! Peliharalah kedua babi itu baik-baik sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita di tempat ini,” ujar sang ayah.

Selang beberapa saat setelah sang ayah berpesan, ayam jantan mulai berkokok. Cahaya kemerahan-merahan mulai tampak di ufuk timur pertanda pagi menjelang. Angin pun kembali bertiup kencang. Pada saat yang bersamaan, bayangan orangtua ketiga yatim piatu itu memudar lalu hilang.

Saku dan kedua adiknya segera menggiring kedua babi itu ke gubuk mereka untuk dipelihara. Sejak itu, ketiga anak yatim piatu itu dan keturunannya menjadikan babi sebagai salah satu hewan peliharaan.

Untuk mengenang peristiwa itu, ketiga anak yatim tersebut menamai bukit itu “Bukit Fafinesu”, yang berarti bukit babi gemuk. Hingga saat ini, Bukit Fafinesu masih dapat disaksikan di sebelah utara Kota Kefamenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

* * *

Demikian cerita Legenda Bukit Fafinesu dari daerah Nusa Tenggara Timur. Legenda yang menceritakan asal-mula nama Bukit Fafinesu ini masih dipercayai oleh masyarakat pendukungnya. Adapun pelajaran yang dapat dipetik dari cerita ini adalah bahwa dalam persaudaraan, anak sulung seperti Saku semestinya memiliki rasa tanggung jawab untuk mengasuh adik-adiknya, apalagi jika kedua orangtua telah tiada. Sifat tanggung jawab Saku tampak ketika ia memutuskan untuk merawat dan mendidik sendiri adik-adiknya tanpa harus bergantung kepada orang lain.

(Samsuni/sas/196/05-10)

Dibaca : 6.446 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password