Jumat, 25 Juli 2014   |   Sabtu, 27 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 2.397
Hari ini : 16.608
Kemarin : 23.254
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.946.048
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Syair Singapura Terbakar



Syair Singapura Terbakar adalah karya sastra Melayu berbentuk puisi karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi yang bercerita tentang peristiwa kebakaran besar yang terjadi di Singapura pada masa kolonial Inggris. Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi menulis karya ini pada tahun 1830 namun baru menerbitkannya untuk khayalak luas pada tahun 1843.

A. Pendahuluan

Syair Singapura Terbakar adalah karya paling tua yang pernah diciptakan oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Karya ini diperkirakan ditulis pada tahun 1830 namun baru diterbitkan untuk khalayak luas pada tahun 1843 oleh Mission Press, Singapura, dalam bentuk cap batu Jawi dan cetak huruf rumi (Latin). Karya ini bercerita tentang peristiwa kebakaran besar yang terjadi di Singapura pada masa kolonial Inggris.

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi menulis karya lain yang juga berbentuk puisi dan bercerita tentang peristiwa kebakaran yang terjadi di Singapura, yaitu Syair Kampung Gelam Terbakar (1847). Sebelum terbitnya kajian serius oleh Amin Sweeney (2006) terhadap Syair Singapura Terbakar dan Syair Kampung Gelam Terbakar,  kedua karya ini sering dikelirukan. Pengeliruan itu terjadi karena edisi-edisi kedua karya ini sangat langka sehingga sulit untuk dilakukan dokumentasi dan kajian terhadapnya. Selain itu, kebanyakan sarjana Belanda dan Inggris yang meneliti kedua karya tersebut mendasarkan penelitian mereka pada deskripsi Abdullah sendiri tentang karya-karya itu di dalam karya prosanya yang terkenal, Hikayat Abdullah (1849).


Litograf 1843. Halaman judul 51-52. Ikat-ikatan.
Sumber: Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
Julid 2 Puisi dan Ceretera
. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan
ecole francaise d’Extreme-Orient., h. 386.

Pengeliruan tersebut dapat bertahan sangat lama, mulai dari masa kolonial dan bahkan hingga masa kemerdekaan negara-negara rumpun Melayu, karena terus-menerus diulang dalam berbagai buku tentang kesusastraan Melayu yang disusun oleh para sarjana Barat dan digemakan begitu saja oleh para akademisi Melayu sendiri. Pengeliruan itu bahkan bisa memunculkan kesalahan total tentang kedua karya tersebut, seperti yang dilakukan oleh Maman S. Mahayana (1995:154) yang menyebutkan bahwa judul karya ini adalah Syair Singapura Dimakan Api.

B. Manuskrip dan Publikasi


Litograf 1843. Halaman Terakhir.
Sumber: Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
Julid 2 Puisi dan Ceretera
. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan
ecole francaise d’Extreme-Orient., h. 389.

Deskripsi tentang manuskrip dan publikasi Syair Singapupra Terbakar berikut ini diambil dari hasil penelusuran Amin Sweeney yang diterbitkan dalam Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Julid 2 Puisi dan Ceretera (2006:44-49).

  1. Syair Singapura Terbakar Edisi 1843 Jawi. Cap Batu; 63 halaman (2-63) yang berukuran 20 x 16 cm dalam bingkai 15 x 12 cm, dengan 12 baris per halaman. Tanpa penomoran halaman. Penerbit: Mission Press, 1843. Syair dicetak dalam dua kolom sejajar, berukuran 5,25 cm lebarnya masing-masing. Akan tetapi kolom untuk pantun dan ikat-ikatan lebih sempit, yaitu 4 cm saja. Tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden.
  2. Syair Singapura Terbakar Edisi 1843 Rumi. Cetak huruf; 63 halaman yang berukuran 22 x 17,5 cm dalam bingkai 15 x 12 cm, dengan 12 baris per halaman. Tanpa penomoran halaman. Terdapat nota pengantar dalam bahasa Inggris. Syairnya tidak dicetak dalam dua kolom sejajar seperti cara Melayu, yaitu 2 x 2, melainkan dalam satu kolom, dengan rangkap empat barus menurun, 4 x1, yaitu cara Inggris. Enam rangkap per halaman. Penerbit: Mission Press, Singapura, 1843. Tersimpan di Perpustakaan Houghton, Universitas Harvard.
  3. Manuskrip Or. 853, Cambridge University Library. Katalog Ricklefs dan Voorhoeve (1977) memberi deskripsi sebagai berikut: Shair Singapura Terbakar, oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munshi; disusul oleh Shair ikat-ikatan. Bertarikh 16 Agustus 1871. Tanda pemilik: T.J. Chamberlaine, Singapura, Desember 1871. 24 halaman ff. kertas Eropa; ‘1870’; halaman berukuran 21,5 x 14 cm. Diperoleh dari G. David, 1910. Taib Osman (1972) salah memberikan nomor naskah ini sebagai 852.
  4. Syair Singapura Terbakar, 2006, terdapat dalam Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Julid 2 Puisi dan Ceretera. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan ecole francaise d’Extreme-Orient: 93-143.

C. Beberapa Kajian tentang Syair Singapura Terbakar

1. Pengeliruan dengan Syair Kampung Gelam Terbakar

a. Kekeliruan membaca eksemplar

H.C. Klinkert kemungkinan tidak melihat naskah yang sebenarnya dengan matanya sendiri ketika menyediakan edisi Syair Kampung Gelam Terbakar. Pada halaman pertama naskah Syair Kampung Gelam Terbakar yang disalinnya, tertulis dengan sangat terang “Sya’ir Singapura Terbakar”. Pada halaman pertama naskah Codex Orientalis (CO) 3346, yaitu naskah Syair Kampung Gelam Terbakar yang sebenarnya, terdapat catatan dengan tulisan tangan: “Sjair Singapore terbakar door Abdullah ibn Abd al Kadir”. Naskah itu disimpan dalam amplop warna manila, yang juga ditulisi dengan tulisan tangan: “Sjair Singapore terbakar door Abdullah ibn Abdelgader” (Sweeney, 2006:43).

Kekeliruan Klinkert bisa jadi berawal dari deskripsi yang disediakan oleh katalog naskah Bataviaasch Genootschap (van Ronkel dalam Sweeney, 2006:42) tentang satu naskah Syair Kampung Gelam Terbakar yang tersimpan di Jakarta, akan tetapi judul yang diberikannya adalah “Sja’r Singapoera Dimakan Api”. Di Singapura, memang pernah terbit juga edisi cap batu Syair Kampung Gelam Terbakar dengan judul Sya’ir Singapura Dimakan Api. Ketika mendeskripsikan lagi dua syair kebakaran tersebut, van Ronkel kembali memberikan judul yang lain, yaitu “Sja’ir Singapoera Terbakar”. Katalog-katalog inilah yang dimanfaatkan oleh Winstedt.

b. Keterangan dari Hikayat Abdullah

Para sarjana Inggris pada awal abad ke-20 pada umumnya kesulitan memperoleh naskah eksemplar kedua syair kebakaran karya Abdullah baik dalam bentuk naskah maupun edisi tercetak. Oleh karena itu kebanyakan mereka mengandalkan diri pada keterangan dari Hikayat Abdullah. Hikayat Abdullah, karya Abdullah yang paling banyak dikenal di kalangan masyarakat Melayu sendiri maupun pembaca dari luar, terutama dari Barat, memberikan keterangan panjang lebar tentang proses penciptaan Syair Singapura Terbakar dan Syair Kampung Gelam Terbakar. Namun, pembahasan Abdullah ini sebenarnya tidak dapat diandalkan.

Hikayat Abdullah edisi 1849 halaman 330-334 menerangkan bahwa kebakaran yang diceritakan dalam Syair Singapura Terbakar terjadi pada tahun 1823, yaitu sebelum Malaka diserahkan oleh Belanda kepada Inggris. Padahal, Traktat London baru disepakati pada tahun 1824. Namun, kebakaran dahsyat di Singapura sebagaimana yang dikisahkan dalam Syair Singapura Terbakar diceritakan terjadi pada tahun 1830 dan mengandung eulogi untuk beberapa pejabat Inggris. Jadi, kronologi Abdullah tidak tepat.

Hikayat Abdullah memiliki dua versi, yaitu versi manuskrip (1843) dan versi cap batu (1849). Kedua versi ini mengandung narasi tentang kebakaran pada tahun 1830 (yang diceritakan dalam Syair Singapura Terbakar). Namun, hanya edisi 1849 yang memberikan keterangan tentang kebakaran pada tahun 1847 (yang diceritakan dalam Syair Kampung Gelam Terbakar). Narasi dan sanjungan tentang Gubernur Butterworth tidak terdapat dalam manuskrip 1843. Jadi, Syair Kampung Gelam Terbakar tentu baru selesai ditulis setelah 1843. Semestinya, keterangan ini cukup untuk membedakan Syair Singapura Terbakar dari Syair Kampung Gelam Terbakar.

c. Salah pemahaman oleh para peneliti

Kamus Melayu R.J. Wilkinson membubuhkan satu entri, yaitu “tersoja-soja”. Entri ini merujuk pada Syair Singapura Terbakar halaman 22. Dalam daftar pustaka hanya disebutkan “Shaer Singapura Terbakar, romanized, Singapore”. Sweeney (2006:31-32) menegaskan bahwa rujukan itu adalah Shayar Singapura Tur-Bakar (1843, Mission Press, Singapura). Teks ini ditemukan kembali oleh Ian Proudfoot di Houghton Library, Universitas Harvard. Kemungkinan besar inilah satu-satunya eksemplar teks ini yang masih berwujud.

R.O. Windstedt (dalam Sweeney, 2006:32) mengelirukan Syair Singapura Terbakar dengan Syair Kampung Gelam Terbakar karena kemungkinan besar dia tidak memiliki edisi Syair Singapura Terbakar. Paling tidak, dia tidak mencantumkan judul itu dalam daftar pustakanya. Lagipula, dia mengutip dua rangkap yang memuji Gubernur Butterworth dari syair yang disebutnya sebagai “his Sha’ir Singapura (or Kampung Gelam) Terbakar”.

A.H. Hill (dalam Sweeney, 2006:33) mengomentari kesalahan Winstedt dengan mendasarkan pemahamannya pada teks Hikayat Abdullah, namun Hill tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kedua syair yang terkelirukan itu. Dia hanya mengandaikan bahwa tentu ada dua perangkat puisi yang dikarang pada dua waktu yang berbeda. Hill sekaligus mengkritik J.T. Thomson, penerjemah Hikayat Abdulah ke dalam bahasa Inggris (1874), yang dianggapnya mengelirukan kedua syair kebakaran tersebut.

Thomson (dalam Sweeney, 2006:33) menyatakan bahwa Abdullah salah menyebutkan tarikh kebakaran besar yang terjadi pada tahun 1830. Thomson hanya pernah menyaksikan kebakaran yang menyamai kedahsyatan kebakaran 1830, yaitu kebakaran 1847 yang dikisahkan dalam Syair Kampung Gelam Terbakar. Tarikh yang disebut Abdullah salah, bukan 1823 melainkan 1830. Hill salah mengerti maksud Thomson yang disangkanya mengatakan bahwa deskripsi Abdullah mengacu pada kebakaran di Kampung Gelam. Tentu hal ini tidak mungkin karena naskah Hikayat Abdullah yang dimiliki oleh Thomson adalah naskah 1846, sebelum Kampung Gelam terbakar.

2. Karya reportase wartawan Melayu pertama

Abdullah, seperti biasa, muncul sebagai tokoh yang penting dalam karya ini. Akan tetapi tujuan penulisan karya ini cukup jelas terlihat berbeda daripada karya-karya lainnya yang biasanya mengandung retorika tertentu untuk memperkuat posisi Abdullah di hadapan para majikan Eropa/Barat yang melindunginya sebagai patron. Dalam karya ini, Abdullah cenderung terbebas dari pengawasan para patron, terutama Alfred North, misionaris Amerika Serikat yang berperan besar dalam mendorong lahirnya karya-karya Abdullah yang terkenal (Sweeney, 2006:79).


Cetak huruf Rumi 1843. Prakata oleh Alfred North.
Sumber: Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
Julid 2 Puisi dan Ceretera
. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan
ecole francaise d’Extreme-Orient., h. 389.

Syair Singapura Terbakar memiliki tendensi untuk menjadi sebuah karya reportase, yaitu hanya mengungkapkan apa yang aktual dan faktual, bukan ideal sebagaimana dalam kebanyakan karya-karya tradisional Melayu. Oleh karena itu, berdasarkan karya ini, Thomson (dalam Sweeney, 2006:78) menjuluki Abdullah sebagai jurnalis pertama seraya merujuk pada keterangan tentang kisah kebakaran 1830 ini dalam Hikayat Abdullah: “Menurut laporannya sendiri, ia menyerupai wartawan koran Times sejati”.

Syair Singapura Terbakar memang berusaha mengisahkan banyak hal dan hampir semua peristiwa, termasuk suasana Tahun Baru Cina sebelum kebakaran terjadi, beberapa peristiwa yang terjadi sesudahnya, hingga pembagian harta yang berhasil diselamatkan dari api. Cakupannya sangat luas hingga menceritakan hal yang tidak dilihat sendiri oleh pengarang, seperti reaksi orang Melaka tentang kebakaran yang terjadi di Singapura (Sweeney, 2006:76).

Sweeney (2006:77) menduga bahwa Abdullah kemungkinan terdorong untuk menulis syair panjang ini karena pada zaman itu terdapat hanya satu koran di Singapura, yaitu Singapore Chronicle yang terbit dua minggu sekali. Koran Inggris ini pun meliput peristiwa kebakaran besar 1830, tetapi titik tekannya pada orang Eropa. Sementara itu, syair Abdullah justru menekankan pada nasib orang Baba – bahkan ia tidak menekankan tentang nasib kaumnya sendiri, yaitu orang Keling.

Sifat reportase semakin tampak jelas karena Syair Singapura Terbakar juga tidak bersifat eulogis. Peliputan terhadap tokoh-tokoh yang dimunculkan tidak berat sebelah pada individu Eropa, tetapi justru sebaliknya. Sebanyak 34 nama orang Cina disebutkan. Ini jumlah yang besar jika dibandingkan dengan 12 individu Eropa, dan 9 orang Muslim India. Karya ini juga memberikan “lukisan kalam” mengenai kelakuan baik buruk individu dari berbagai bangsa, termasuk Cina, India, Armenia dan bahkan Eropa. Misalnya, Tuan Frazer “menggeletar kaki tangan” menyelamatkan tong araknya, Baba Kim Swee begitu bengong hingga membuang hartanya ke dalam sungai karena “sungai besar dikiranya daratan”, dan “Baba Sab terlentang di tengah rumahnya. Ia hendak mati bersama2 hartanya” (Sweeney, 2006:77).

Penekanan pada nasib korban berbangsa Baba ini terbayang dengan jelas dalam penentuan tarikh oleh pengarang. Untuk menunjukkan kapan peristiwa kebakaran 1830 terjadi, Abdullah tidak memakai perhitungan Hijriah atau Masehi melainkan kalender Tionghoa, yaitu 14 hari bulan, malam Cap Gomeh (pada tahun 1830, Tahun Baru Imlek jatuh pada hari Senin, 25 Januari). Upacara Ti Kong Si yang diceritakan dalam syair ini juga disebutkan dilaksanakan pada tanggal 9 hari bulan (Sweeney, 2006:79).

Kaum Baba rupanya memang tidak asing bagi Abdullah. Sweeney (2006:80) menerangkan bahwa biasanya, dalam karya-karyanya, Abdullah akan memberikan keterangan bagi kata-kata yang diperkirakannya akan sulit dipahami oleh khalayak pembaca. Namun, banyak kata-kata dalam syair ini yang tidak diberi keterangan, seperti pek ji, nenek duit, tangkapan, loksan, tek ho dan sebagainya. Kata-kata ini tidak terdapat dalam kamus bahasa Melayu, tetapi Abdullah merasa tidak perlu menguraikan artinya. Jelas bahwa kaum Baba yang bahasa ibunya memang bahasa Melayu itu tersirat juga dalam khalayak andaian Abdullah.

3. Puitika Melayu

Syair Singapura Terbakar adalah syair yang “sama tapi beda” daripada bentuk syair yang banyak dikenal pada waktu karya ini ditulis. Syair adalah ciptaan khas sastra Melayu tradisional yang memiliki rumusan atau formula atau aturan tertentu dalam penulisannya. Syair biasanya disusun dalam rangkap-rangkap atau bait, sebagian besar berupa kuatrin, dan setiap baris atau larik dalam rangkap terdiri dari empat suku kata dengan jumlah suku kata yang tertentu pula. Baris-baris dalam satu bait memiliki persamaan rima akhir di mana bunyi kata terakhir dalam satu baris sama dengan bunyi kata terakhir pada baris sebelum atau sesudahnya sehingga membentuk pola (jika terdiri dari empat baris) a-a-a-a.

Sweeney (2006:66) menerangkan bahwa Abdullah tidak menulis Syair Singapura Terbakar dengan mengandalkan prinsip komposisi formulaik-lisan yang, secara tradisional, mendasari penciptaan syair Melayu. Walaupun secara sekilas karya ini tampak ditulis dengan cara yang mirip dengan syair tradisional Melayu biasa, misalnya, rima akhir yang membentuk pola a-a-a-a, akan tetapi Abdullah memodifikasi aturan atau formula tentang jumlah kata dan jumlah suku kata dalam setiap baris.

Sweeney (2006:68) telah menghitung bahwa hanya 56% larik yang mengandung empat kata. Jadi, jelas bahwa syair ini tidak dimaksudkan untuk diapresiasi dengan cara yang biasa diterapkan pada syair tradisional, misalnya dengan cara dinyanyikan sebagaimana lazimnya yang terjadi pada masyrakat yang masih memiliki budaya kelisanan yang kuat, melainkan untuk dibaca secara visual, yang merupakan praktek yang muncul hanya setelah pembaca mengenal atau hidup dengan budaya keberaksaraan. Baris-baris yang lebih panjang itu misalnya sebagai berikut.

Ada pula yang berteriak katanya: “Sahaya menumpang!” (236c)

Banyaklah pula orang yang tunggang langgang (102a)

Sebab sahaya ini orang yang belum biasa (360a)

Ketidaklaziman ini rupanya berpengaruh juga pada edisi-edisi karya ini. Edisi cap batu 1843 dan Or. 853 mengandung banyak perbedaan dalam panjang baris ini. Sweeney (2006:69) menjelaskan bahwa penyalin naskah Or. 853 berusaha terus-menerus mengurangi panjangnya larik edisi cap batu Abdullah. Ia bukan hanya berurusan dengan kata yang utuh. Jelas bahwa suku kata diperhitungkan ketika memperpendek larik itu. Maka beberapa momosilabel sering dipotong, misalnya lah, nya, dan, pun, yang (monosilabel tanpa tekanan yang biasanya tidak diperhitungkan).


Cetak huruf Rumi 1843. Halaman 1-2.
Sumber: Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
Julid 2 Puisi dan Ceretera
. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan
ecole francaise d’Extreme-Orient., h. 387.

Modifikasi panjang baris tidak selalu diterapkan di setiap rangkap. Abdullah menyela atau memberi jeda pada narasi tentang peristiwa kebakaran, sebagai narasi utama karya ini, dengan beberapa pantun dan satu bagian yang diberi semacam subjudul “Ikat-ikatan”. Pada bagian ini, hampir semua rangkapnya mematuhi aturan syair yang lazim dalam hal jumlah kata, yaitu terdiri dari empat kata. Kepatuhan pada aturan lazim ini diabsahkan secara formal oleh format pecetakan. Bagian kolom ikat-ikatan ini ditampilkan dalam kolom sejajar yang lebarnya hanya 4 cm sementara lebar kolom untuk seluruh syair adalah 5,25 cm per kolom. Strategi ini rupanya berkaitan dengan narasi kebakaran: tempo peristiwa dalam teks menjadi lebih lambat.

Kehadiran “Ikat-ikatan” dan pantun membuktikan bahwa Abdullah memiliki kemahiran untuk menciptakan karya yang patuh pada “keindahan” tradisional. Akan tetapi, dari berbagai modifikasi yang telah dilakukannya, Abdullah jelas memilih untuk tidak mematuhi aturan itu. Sweeney (2006:70) menegaskan bahwa dengan cara ini, Abdullah memang tidak memaksudkan karyanya ini sebagai sebuah karya untuk didendangkan, yang cenderung membuai dan memberikan penikmatan kepada fakultas apresiatif literer, melainkan sebagai sebuah laporan yang cenderung menyasar aspek rasional dari fakultas tersebut. Oleh karena itu pula Winstedt menyayangkan ketidakpatuhan ini dan menyebut karya puisi Abdullah sebagai puisi picisan (Sweeney, 2006:70).

Tidak semua aturan “keindahan” dari zaman lama diterabas oleh Abdullah. Paling tidak, dia masih menggunakan beberapa formula tertentu untuk menyusun baris-barisnya. Sweeney (2006:74-75) menguraikan bahwa Abdullah masih memanfaatkan beberapa formula selarik atau separuh larik serta menjadikannya sebagai dasar permutasian untuk menghasilkan larik baru. Formula ini sering dijumpai dalam syair tradisional, misalnya bukan kepalang, berperi2, tempuh-menempuh, tunggang-langgang, bukan buatan, tunduk tengadah dan lain-lain. Pemanfaatan ini membantu pemilihan rima sekaligus memenuhi “selera” syair yang lazim.

Frase-frase tersebut bisa muncul dalam larik yang lazim dan berfungsi mengisi separuh bagian larik yang mengandung jeda atau caesura. Hal ini terlihat dalam beberapa baris berikut ini.

Celakanya badan bukan kepalang (295a)

Duduk di kursi tunduk tengadah (348d)

Ketakutan berlarilah tunggang-langgang (145c)

Frase-frase ini sering pula muncul dalam baris yang memanjang. Hal ini terlihat dalam beberapa baris berikut ini.

Seperti laku orang hendak berperang (229b)

Waktu itulah seperti orang berperang (183a)

Ada yang kena pukul jatuhlah terkangkang (236d)

Hendak bangun jatuh pula terkangkang (102c)

Sweeney (2006:75) menyimpulkan bahwa Abdullah jelas tidak lagi mengandalkan komposisi rumus-lisan, akan tetapi bukan berarti dia menghindari perulangan. Ketika pengembangan budaya beraksara cetak semakin meningkat, formula mulai dianggap klise. Rupanya, hal ini belum terjadi pada Abdullah sehingga dia masih dapat menggunakan puitika perbendaharaan dari khasanah lama. Dia tidak mencari pilihan kata yang “orisinal”, melainkan mencari jalan yang praktis untuk memajukan narasinya. Jika frase-frase yang dimilikinya, atau malah larik yang pernah diciptakannya, dianggap cocok dengan situasi yang dihadapi, maka digunakannya, biarpun untuk kesekian kali.

D. Penutup

Syair Singapura Terbakar adalah puisi modern Melayu pertama yang ditulis oleh Abdullah Abdul Kadir Munsyi, seorang pengarang yang sering dianggap sebagai pembaharu kesusastraan Melayu modern. Walaupun masih memanfaatkan estetika (atau “aturan”) puisi dari khasanah tradisional, namun Abdullah melakukan modifikasi dan pengembangan terhadap estetika tersebut dan di beberapa tempat menghadirkan beberapa kebaruan. Akan tetapi, karena tarikh penciptaan (1830) dan publikasinya (1843) relatif sudah lama, manuskrip dan edisi-edisi karya ini sangat langka sehingga sering menimbulkan kerancuan dalam apresiasinya.

(An. Ismanto/sas/07/05-2010)


Keterangan foto utama: Litograf 1843. Halaman judul 1-2. Sumber: Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Jilid 2 Puisi dan Ceretera. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan ecole francaise d’Extreme-Orient., h. 385.


Referensi

Amin Sweeney, 2006. Karya lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi Julid 2 Puisi dan Ceretera. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan ecole francaise d’Extreme-Orient.

Maman S. Mahayana, 1995. Kesusastraan Malaysia modern. Jakarta: Pustaka Jaya.

Dibaca : 10.146 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password