Kamis, 21 Agustus 2014   |   Jum'ah, 24 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 2.337
Hari ini : 21.253
Kemarin : 22.144
Minggu kemarin : 178.124
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.036.473
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Jukung: Perahu Tradisional Suku Banjar di Kalimantan Selatan


Jukung adalah sebutan untuk perahu tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan. Jukung dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu jukung sudur, jukung patai, dan perahu betambit. Jukung berfungsi sebagai alat perhubungan dan perdagangan serta perlengkapan menangkap ikan di sungai, danau maupun di rawa-rawa.

1. Asal-usul

Sungai merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Kondisi geografis wilayah Kalimantan Selatan memang sarat dengan aliran sungai, baik sungai besar maupun sungai kecil.

Sungai Barito yang merupakan sungai terbesar di Kalimantan Selatan mempunyai dua anak sungai, yaitu Sungai Martapura dan Sungai Negara. Kedua anak sungai ini juga mempunyai banyak cabang sungai yang semuanya dapat dilayari. Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai prasarana perhubungan dan pengangkutan yang sangat penting bagi penduduk di kawasan tersebut (http://eprints.undip.ac.id).

Fakta di atas menggambarkan bahwa pelayaran merupakan bagian penting dari kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Banjar. Menurut Endang Susilowati, sejak zaman dahulu, sungai merupakan prasarana transportasi yang mendukung aktivitas ekonomi maupun sosial penduduk Kalimantan Selatan. Jaringan sungai telah menjadi urat nadi perekonomian penduduk karena sebagian besar aktivitas ekonomi mereka dilakukan melalui sungai (http://eprints.undip.ac.id). Dengan demikian, tak diragukan lagi bahwa perahu sungai merupakan sarana transportasi air yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat Banjar, terutama bagi mereka yang bermukim di sekitar aliran-aliran sungai (http://www.ristek.go.id).

Perahu tradisional suku Banjar biasa disebut dengan jukung. Jukung ini memiliki daya angkut antara 10 - 200 ton. Selain sebagai sarana perhubungan dan perdagangan, jukung juga digunakan sebagai perlengkapan untuk mencari ikan di sungai, danau atau pun di rawa-rawa.

Perahu khas suku Banjar ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar berdasarkan bahan dan cara pembuatannya, yaitu jukung sudur, jukung patai, dan perahu betambit. Setiap kelompok masing-masing terbagi lagi ke dalam beberapa jenis (Agus Triatno, et. al., 1997/1998:29). Pada dasarnya, perahu khas suku Banjar ini termasuk ramah lingkungan karena selain terbuat dari kayu juga tidak menggunakan bahan bakar minyak.

Namun, hingga saat ini, sebagian dari bentuk atau jenis jukung telah mengalami perubahan menjadi kelotok atau perahu motor seiring perkembangan teknologi yang semakin modern. Bahkan, beberapa di antaranya telah hilang dari peredaran karena masyarakat beralih ke alat transportasi darat yang lebih cepat, efektif, dan efisien akibat perkembangan teknologi yang semakin canggih (http://adirizqoni.blogspot.com).

Keadaan ini diperparah oleh semakin meningkatnya pemakaian kendaraan roda dua akibat uang muka yang murah dan kredit yang terjangkau serta dibangunnya sejumlah jembatan penyeberangan di daerah tersebut. Di samping itu, kelangkaan dan makin tingginya harga kayu untuk bahan baku pembuatan jukung juga menjadi salah satu penghambat perkembangan alat transportasi air di daerah tersebut.

Perkembangan teknologi memang membuat jukung tersisih. Akan tetapi keberadaan jukung-jukung khas Banjar masih dapat kita jumpai di Pasar Terapung Muara Kuin yang terletak di atas Sungai Barito, Kota Banjarmasin. Oleh karena itu, pasar tradisional suku Banjar yang unik dan khas ini perlu dijaga dan dipertahankan karena keberadaannya merupakan konskuensi logis dari berkembangnya perahu-perahu Banjar sebagai alat untuk melakukan aktivitas ekonomi (jual-beli). Dengan demikian, perahu-perahu tradisional khas suku Banjar tersebut mampu bertahan di tengah arus modernisasi (http://adirizqoni.blogspot.com).

2. Bahan-bahan

Sebagian besar dari bahan baku yang digunakan untuk membuat Perahu Banjar adalah kayu lokal yang diambil dari hutan-hutan di sepanjang aliran sungai besar di kawasan Kalimantan Selatan. Secara umum, bahan-bahan baku tersebut adalah sebagai berikut (Triatno, et. al., 1997/1998:5):

  1. kayu ulin atau kayu besi
  2. panaga atau kayu kapur naga
  3. kayu lanan
  4. kayu balangiran
  5. kayu taras atau kayu taras jingah
  6. kayu mada hirang
  7. kayu pipil
  8. kayu damar putih
  9. kayu mahui
  10. kayu rasak
  11. kayu halaban
  12. kayu bungur
  13. kayu bulan.

3. Peralatan

Jenis-jenis alat yang biasa digunakan untuk membuat jukung adalah sebagai berikut (Triatno, et. al., 1997/1998:9-11):

a. Balayung atau beliung, yaitu sejenis kapak yang matanya melintang atau tidak searah dengan tangkainya. Berdasarkan fungsinya, balayung dibagi menjadi empat macam bentuk.

  1. Balayung panabang, yaitu jenis balayung yang digunakan untuk menebang pohon besar untuk bahan baku badan perahu dan untuk menatak atau memotong kayu yang sudah rebah.
  2. Panarah luar, digunakan untuk menarah atau meratakan bagian luar badan perahu.
  3. Panarah dalam, digunakan untuk menarah atau meratakan bagian dalam perahu.
  4. Tamparang, digunakan untuk menarah atau meratakan perahu secara bahalang atau melintang. Oleh karena itu, ukuran tamparang ini lebih besar daripada jenis balayung lainnya.

b. Parang pambalokang, digunakan untuk menebang dan membentuk dasar perahu serta untuk maubang atau melubang badan perahu, terutama pada pembuatan jukung sudur yang terbuat dari kayu hampul atau kayu lunak.

c. Katam atau serut, digunakan untuk meratakan atau menghaluskan permukaan bentuk dasar perahu.

d. Mal atau acuan atau pola, digunakan untuk membentuk badan perahu secara keseluruhan, terutama pada bagian haluan (muka) dan bagian buritan (belakang) perahu.

e. Gergaji, digunakan pada tahap penyelesaian akhir pembuatan perahu yakni untuk memotong bagian-bagian yang tidak diperlukan dan juga untuk memotong perlengkapan perahu lainnya.

f. Bor dan pahat putar, digunakan untuk merekatkan dan mengikat bagian-bagian perahu sehingga menyatu dengan kuat.

g. Baji, yaitu kayu yang telah dipotong kecil untuk digunakan membelah kayu bulat.

h. Penggodam, yaitu sejenis palu besar yang digunakan untuk menancapkan baji pada kayu bulat yang akan dibelah.

4.Jenis-jenis Perahu Banjar

Perahu Banjar terbagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu jukung sudur, jukung patai, dan parahu batampit (Triatno, et. al., 1997/1998:29-32).

a. Jukung sudur adalah perahu yang terbuat dari kayu bulat yang dibelah dua dan kemudian ditakik memanjang di tengahnya. Bentuknya seperti lesung yang memanjang. Ujung dan pangkalnya berbentuk lancip atau runcing. Jukung sudur terdiri dari tiga jenis, yaitu:

  • Jukung sudur biasa, jukung sudur yang masih dalam bentuk aslinya
  • Jukung bakapih, yaitu jukung sudur yang diberi kapih atau rubing (dinding lambung ditinggikan dengan sekeping papan) dan diberi sampung atau kepala perahu


Jukung bakapih, salah satu jenis jukung sudur

  • Anak ripang, yaitu jukung sudur yang berukuran paling besar tanpa diberi kapih dan sebagainya.

b. Jukung patai adalah perahu yang terbuat dari kayu bulat. Ukuran dinding lambungnya dibuat agak tipis dan diberi sampung (kepala perahu), baik pada haluan maupun pada buritannya. Jukung patai terdiri dari enam jenis, yaitu:

  • Jukung patai biasa, yaitu jukung patai yang masih dalam bentuk aslinya
  • Jukung hawaian, yaitu jukung patai yang telah diberi rubing untuk memperbesar tonage (muatan) perahu, diberi sangkar dan lantai. Selain itu, bagian-bagian lainnya telah mengalami penyempurnaan
  • Jukung kuin, yaitu jukung patai yang telah ditambit atau diberi tambahan dinding lambungnya dengan papan kayu ulin
  • Jukung palanjaan, yaitu jukung patai yang bentuknya agak panjang dan ramping serta haluannya agak lancip sehingga jalannya lebih cepat. Jukung jenis ini dirancang khusus untuk perahu lomba dan alat transportasi berbelanja di sungai besar
  • Jukung ripang atau ripang hatap, yaitu jukung patai yang ukurannya lebih besar daripada jukung patai biasa. Disebut ripang hatap karena jukung ini diripang atau digandeng dua untuk mengangkut atap daun rumbia yang akan dipasarkan ke Kota Banjarmasin
  • Parahu pamadang, yaitu jukung patai berukuran kecil yang khusus digunakan untuk mencari ikan di daerah rawa-rawa dengan diberi lantai berupa bambu sebagai tempat duduk sedangkan ruang di bawah lantai tersebut digunakan untuk menyimpan atau mengurung ikan hasil tangkapan.


Parahu pamadang untuk mencari ikan di daerah rawa-rawa

c. Parahu batambit adalah perahu yang terbuat dari susunan balok kayu dan papan tebal dari kayu ulin. Perahu ini umumnya jauh lebih besar ukurannya dari jukung sudur dan jukung patai. Parahu batambit terdiri dari tujuh jenis, yaitu:

  • Perahu tambangan, yaitu perahu yang memiliki sampung (kepala) dan ekor yang panjang serta di buritannya diberi ukiran yang khas. Jenis perahu ini terdiri dari dua jenis yaitu tambangan bini yang memiliki badan lebih besar dan tambangan laki yang badannya lebih ramping
  • Perahu babanciran, yaitu perahu yang memiliki pakajangan (atap) dan dinding. Pada dasarnya, bentuk perahu ini hampir sama dengan bentuk perahu lainnya, tetapi ukurannya lebih besar
  • Perahu undaan, yaitu perahu yang atapnya hanya separo atau seperdua dari badan. Bentuknya demikian karena disesuaikan dengan fungsinya sebagai perahu paunda atau pengangkut barang
  • Perahu parahan, yaitu perahu yang ukurannya relatif besar dan memiliki pakajangan atau atap yang menutupi seluruh badannya. Perahu ini khusus digunakan untuk mengangkut penumpang. Perahu ini juga memiliki ruang di bawah lantai yang dalam dan lebar untuk menyimpan barang-barang penumpang
  • Perahu gundul. Dinamakan perahu gundul karena ujung sampung belakangnya menyerupai bentuk kepala orang yang gundul
  • Perahu pandan liris, yaitu perahu yang bentuk sambung belakangnya mirip dengan perahu tambangan, hanya tidak memakai ukiran. Dahulu, perahu ini beroperasi di sungai di daerah Sapala, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara
  • Jukung tiung, yaitu perahu yang ukurannya lebih besar dari jenis-jenis perahu lainnya. Oleh karena itu, perahu ini tidak bisa didayung tetapi harus ditarik oleh kapal sungai dengan cara digandeng. Perahu ini dibuat khusus untuk mengangkut bahan baku pembuatan rumah seperti balok dan papan, dan hanya beroperasi di daerah penggergajian kayu seperti di daerah Alalak dan Berangas, Kabupaten Barito Kuala.


Jukung Tiung untuk mengangkut bahan baku pembuatan rumah

5. Cara Pembuatan Perahu Banjar

Perahu Banjar memiliki banyak bentuk atau jenis. Namun, pada dasarnya keberagaman jenis perahu Banjar tersebut dapat dipilah ke dalam tiga kelompok besar yang terdiri dari jukung sudur, jukung patai, dan parahu betampit. Oleh karena itu, cara atau proses pembuatan perahu Banjar dapat dijelaskan berdasarkan ketiga kelompok besar tersebut.

a. Cara membuat jukung sudur

1. Manabang kayu (menebang kayu)

Bahan yang biasa digunakan untuk membuat jukung sudur terdiri dari berbagai jenis kayu, baik kayu keras maupun kayu lunak. Cara pemilihan kayu disesuaikan dengan ukuran perahu yang akan dibuat. Jika perahu berukuran besar yang akan dibuat, maka tentu saja kayu yang dipilih adalah kayu yang keras dan relatif besar. Demikian sebaliknya, jika perahu berukuran kecil yang akan dibuat, maka kayu yang digunakan adalah kayu yang lunak dan relatif kecil. Alat yang biasa digunakan untuk menebang kayu besar adalah balayung sedangkan untuk kayu lunak atau berukuran kecil digunakan parang pambalokan.

Pohon bahan perahu ini ditebang di bagian atas banir (akar yang muncul di pangkal batang) jika terdapat banir. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, bagian kayu yang ada banir-nya tidak baik jika dijadikan bahan baku pembuatan perahu. Oleh karena itu, kayu jenis ini harus ditebang di bagian atas banir tersebut dengan menggunakan teknik rampatai, yaitu batang pohon tersebut diberi perancah sebagai tempat berpijak setinggi banir tersebut.

2. Menatak (memotong kayu)

Kayu yang telah ditebang kemudian dipotong sesuai dengan ukuran panjang perahu yang akan dibuat dengan menggunakan balayung atau parang pambalokan. Agar bentuk perahu bagus serta panjang dan lebarnya tampak seimbang, maka panjang kayu yang dipotong harus disesuaikan dengan diameter kayu tersebut. Ukuran perahu yang ideal yaitu memiliki lebar sekitar 70-80 cm dan panjang sekitar 4,5 depa. Oleh karena itu, kayu yang dipilih harus yang berdiameter lebih kurang 1 meter.

3. Mambalah (membelah kayu)

Proses mambalah kayu terdiri dari dua tahap, yaitu:

  • Mambilatuk kayu bulat, yaitu melubangi kayu bulat yang telah dipotong untuk selanjutnya dibelah menjadi dua. Caranya, kayu bulat tersebut diberi garis memanjang dan membujur pada bagian tengahnya lalu kemudian dilubangi selebar mata balayung
  • Mambaji, yaitu memasukkan atau menancapkan baji pada lubang yang telah dibuat dan kemudian dipukul dengan penggodam hingga kayu tersebut terbelah menjadi dua. Kedua belahan kayu tersebut dapat dijadikan dua buah perahu.

4). Manampirus (membentuk haluan dan buritan perahu)

Kayu yang telah dibelah diruncingkan ujung dan pangkalnya untuk dibentuk menjadi haluan dan buritan perahu.

5. Menakik

Menakik adalah membentuk sekat-sekat pada bagian tengah belahan kayu tersebut. Jumlah sekat adalah tiga pasang, yaitu di bagian kiri-kanan pada bagian haluan perahu, di kiri-kanan bagian tengah perahu, dan di kiri-kanan bagian buritan perahu. Hal ini bertujuan untuk memudahkan membalik-balik perahu pada tahap pengerjaan selanjutnya.

6. Maubang (mengeruk)

Maubang atau mengeruk adalah membuat lubang pada bagian tengah bakal perahu secara membujur dari haluan hingga ke buritan perahu. Proses pengerjaannya sama seperti membuat lesung, yaitu mengeruk dan mengeluarkan bungkalan bagian tengah belahan kayu dengan menggunakan balayung atau parang pembalokan.

7. Manarah

Manarah adalah meratakan permukaan bagian dalam dan luar perahu dengan menggunakan balayung panarah.

8. Managas (penyelesaian akhir)

Tahap ini umumnya dilakukan di pemukiman penduduk. Namun, di beberapa daerah seperti di daerah Barito, mulai dari tahap penebangan hingga tahap managas biasanya dilakukan di lokasi penebangan kayu.

Pekerjaan yang dilakukan dalam tahap managas ini di antaranya menghaluskan bagian luar dan bagian dalam perahu. Setelah itu, perahu dibentuk sesuai dengan keinginan pemiliknya. Untuk perahu yang berukuran kecil, biasanya diberi tambahan kapih, yaitu memasang dinding tambahan berupa papan pada badan, bagian haluan dan buritan perahu, dan diberi sampung untuk meletakkan kapih tersebut. Perahu jenis inilah yang disebut dengan jukung bakapih.

b. Cara membuat jukung patai

Proses pembuatan jukung patai yang dimulai dari tahap penebangan pohon hingga tahap penyelesaian akhir umumnya dilakukan di daerah aliran Sungai Barito Kalimantan Tengah. Hal ini dikarenakan bahan baku pembuatannya seperti kayu cangal atau rasak hanya terdapat di daerah tersebut. Adapun tahap-tahap pembuatannya sebagai berikut.

  1. Manabang, yaitu menebang pohon kayu bulat yang telah dipilih dengan menggunakan teknik rampatai.
  2. Manatak, yaitu memotong pohon kayu besar yang telah ditebang sesuai dengan panjang yang diperlukan.
  3. Manampius, yaitu membentuk ujung dan pangkal potongan kayu untuk dibuat haluan dan buritan perahu.
  4. Manadah, yaitu membentuk badan perahu dengan menggunakan balayung panarah.
  5. Manarah, yaitu menarah bagian atas kayu secara perlahan dan kemudian mengeluarkan ubangan atau potongan-potongan kayu hasil tarahan tadi.
  6. Memberi lubang mata kakap pada badan perahu dengan menggunakan bor. Tujuannya adalah untuk mengetahui ukuran atau menyamakan kerataan tebal lambung perahu. Pengeboran dilakukan dari arah luar badan perahu dengan kedalaman sama dengan tebal badan perahu tersebut, yaitu sekitar 2 cm. Lubang mata kakap ini menjadi panduan atau dasar untuk proses pengerukan bagian dalam perahu. Setelah pelubangan selesai, lubang-lubang mata kakap tersebut ditutup atau disumbat dengan kayu bulat panjang agar air tidak masuk ke dalam perahu.
  7. Mamuangi, yaitu mengeruk bagian dalam perahu dengan menggunakan balayung. Pengerukan ini dilakukan hingga pada batas lubang mata kakap. Jika lubang mata kakap tersebut sudah terlihat, maka proses pengerukan dianggap selesai.
  8. Mambanam, yaitu memanggang bakal atau calon perahu di atas api. Bahan bakar yang digunakan untuk memanggang biasanya diambil dari bekas ubangan atau hasil tarahan kayu. Proses pemanggangan dilakukan hingga bakal perahu tersebut berbunyi gabab atau tidak nyaring pada saat dipukul.
  9. Mambangkilas, yaitu mengikat bakal perahu yang telah dipanggang dengan tali atau menjepitnya dengan kayu kecil agar haluan dan buritan kapal tidak pecah pada saat bakal perahu tersebut dibuka.
  10. Membuka badan perahu. Badan perahu yang telah diikat atau dijepit dibuka secara perlahan-lahan. Jika ukuran lebar perahu sudah cocok dengan panjangnya, maka terbentuklah sebuah jukung patai. Bentuk ini merupakan bentuk dasar dari jukung patai yang siap dipasarkan ke daerah Kalimantan Selatan.
  11. Managas atau penyelesaian akhir, yaitu membentuk perahu hingga siap digunakan. Sebagai bentuk dasar, jukung patai ini dapat dijadikan berbagai jenis perahu sesuai dengan keperluan, misalnya memberinya sampung, marubing atau mempertinggi badan dengan papan, atau memberinya perlengkapan lainnya seperti atap, sangkar atau bingkai penguat yang sekaligus tempat meletakkan lantai, dan sebagainya.

c. Cara membuat parahu batambit

Proses pembuatan parahu batambit sangat jauh berbeda dengan pembuatan kedua jenis jukung di atas karena bahan yang digunakan bukan dari kayu bulat melainkan dari susunan balok dan papan kayu ulin. Adapun proses pembuatannya adalah sebagai berikut.

1. Pembuatan lunas perahu

Lunas atau bagian terbawah atau dasar dari sebuah perahu merupakan bagian terpenting dari sebuah perahu. Lunas ini berfungsi sebagai tempat melekat atau bertumpunya tajuk dan tempat mengikatkan dinding kapal. Selain itu, lunas juga berfungsi sebagai tempat melekatkan sampung muka maupun sampung belakang perahu. Lunas pada perahu batambit terbuat dari balok kayu ulin yang berukuran besar dan dipasang membujur dari haluan ke buritan perahu.

2. Pemasangan lambung atau dinding perahu

Lambung atau dinding perahu yang terbuat dari papan kayu ulin dipasang dengan cara ditambit (disusun) dan dirangkai antara satu sama lainnya dengan menggunakan pasak dari kayu ulin. Pasak ini berfungsi seperti baut dan mur, yakni untuk merekatkan dinding pada lunas perahu. Setelah itu, dinding perahu dilapisi dengan batang enau yang bentuknya seperti kapas dan kupak (kulit) kayu galam untuk menahan air agar tidak masuk ke dalam perahu melalui celah-celah tambitan atau susunan dinding perahu. Dengan selesainya pemasangan dinding ini maka bentuk dasar parahu batambit dianggap sudah selesai dan siap untuk dibentuk sesuai dengan keperluan.

3. Managas (penyelesaian akhir)

Terdapat beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dalam tahap ini, di antaranya melapisi badan perahu dengan getah kayu aur yang berwarna merah atau kecoklatan hingga kemudian menjadi berwarna hitam. Tujuannya adalah agar badan perahu tahan lama atau tidak mudah lapuk. Selain itu, bentuk dasar perahu batambit ini diberi kelengkapan sesuai keperluan seperti lantai, pakajangan, dinding tambahan, sampung gundul, dan sebagainya. Dengan pemberian berbagai kelengkapan tersebut maka terbentuklah berbagai jenis parahu betambit sebagaimana disebutkan sebelumnya. Agar perahu ini dapat dioperasikan, maka perlu juga dibuatkan kelengkapan seperti dayung, pengayuh, pananjak atau galah, dan sebagainya.

6. Nilai-nilai

Perahu Banjar dengan berbagai variannya tidak saja menjadi karakteristik budaya yang unik dan khas, tetapi lebih dari itu, ia merupakan warisan budaya nenek moyang suku Banjar yang sarat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut di antaranya nilai adaptasi, kedekatan dengan alam, ekonomi, seni, identitas, dan pariwisata.

  • Nilai adaptasi. Keberadaan perahu Banjar dengan berbagai variannya merupakan hasil dari adaptasi suku Banjar terhadap alam sekitarnya yang sebagian besar wilayahnya dilalui banyak aliran sungai. Kondisi alam demikian memaksa mereka untuk menyesuaikan diri dalam menjalani berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari, baik aktivitas ekonomi, sosial, maupun budaya mereka.
  • Nilai kedekatan dengan alam. Suku Banjar dikenal sangat dekat dengan alam. Hal ini terlihat dari penggunaan bahan-bahan pembuatan perahu yang ramah terhadap lingkungan karena terbuat dari bahan kayu alami yang banyak tumbuh di hutan-hutan di daerah tersebut.
  • Nilai ekonomi. Perahu Banjar merupakan salah satu alat transportasi yang sangat vital dalam kehidupan ekonomi masyarakat Banjar. Perahu tersebut digunakan sebagai sarana pengangkutan untuk mendistribusikan berbagai jenis hasil hutan, tambang, maupun hasil bumi yang melimpah di daerah tersebut. Oleh karena itu, keberadaannya telah memberi pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan ekonomi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.
  • Nilai seni. Perahu Banjar merupakan hasil kreativitas suku Banjar yang memiliki nilai estitika yang sangat tinggi. Dengan hanya berbahan baku kayu, suku Banjar mampu menciptakan berbagai jenis perahu dalam bentuk yang unik dan menarik. Salah satu jenis perahu Banjar yang nilai seninya cukup mononjol adalah perahu gundul karena ujung sampung belakangnya menyerupai bentuk kepala orang yang gundul. Selain bentuknya yang menarik, proses pembuatannya pun memiliki cara yang cukup unik, khususnya pada proses pembuatan jukung patai. Salah satu tahap yang harus dilalui dalam proses pembuatannya yaitu mambanam atau memanggang bakal perahu di atas api. 
  • Nilai identitas budaya. Perahu Banjar memiliki bentuk dan jenis yang khas dan unik sehingga ketika kita mendengar atau pun melihat perahu Banjar maka ingatan kita akan tertuju pada suku Banjar. Oleh karena itu, perahu ini menjadi salah satu identitas budaya suku Banjar di Kalimantan Selatan.
  • Nilai pariwisata. Kehadiran perahu Banjar menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Kalimantan Selatan. Perahu Banjar dengan berbagai bentuk dan jenisnya menjadi alat transportasi untuk melakukan transaksi jual-beli di Pasar Terapung Muara Kuin di Kota Banjarmasin. Dengan demikian, pasar tradisional sebagai tempat berkumpulnya perahu-perahu Banjar menjadi pemandangan yang sangat menarik dan memiliki nilai daya tarik wisata yang tinggi. Oleh karena itu pemerintah setempat telah menjadikan Pasar Terapung tersebut sebagai ikon pariwisata Kota Banjarmasin. Di samping itu, Pemerintah Kota Banjarmasin juga telah mengupayakan pembangunan museum yang menyimpan berbagai dokumen perahu khas suku Banjar untuk menunjang sektor kepariwisataan daerah tersebut.

7. Penutup

Dengan memahami nilai-nilai yang terdapat pada perahu Banjar tersebut di atas, dapat diketahui bahwa suku Banjar di Kalimantan Selatan mempunyai banyak kearifan lokal dalam menyikapi kondisi alam di sekitar mereka. Oleh karena itu, tindakan nyata yang diperlukan sekarang adalah menjaga eksistensi perahu khas suku Banjar ini dan menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, mengingat bahan baku pembuatannya, terutama kayu ulin, semakin langka, maka pelestariannya perlu terus diupayakan. Selain itu, mengingat penduduk wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar mengandalkan transportasi air, maka perahu Banjar perlu segera direvitalisasi agar tidak tergerus oleh arus modernisasi.

(Samsuni/bdy/10/06-10)

Sumber foto: M. Suriansyah Ideham, et. al. 2005. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan

Keterangan foto utama: Jukung patai salah satu jenis perahu tradisional suku Banjar
di Kalimantan Selatan

Referensi

Adi Rizqoni. 2008. “Perahu tradisional Banjar di tengah modernisasi”, [Online], tersedia di  (http://adirizqoni.blogspot.com, [diakses pada tanggal 03 Juni 2010]

Agus Triatno, et.al., 1997/1998. Perahu tradisional Kalimantan Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Selatan.

Endang Susilowati, 2010. “Peranan jaringan sungai sebagai jalur perdagangan di Kalimantan Selatan pada pertengahan kedua Abad XIX”, [Online], tersedia di (http://eprints.undip.ac.id), [diakses pada tanggal 03 Juni 2010]

ZH-AD-PBIPT/Humasristek. 2010. “Kebijakan perlindungan industri transportasi air rakyat perlu mendapat perhatian”, [Online], tersedia di (http://www.ristek.go.id), [diakses pada tanggal 03 Juni 2010]

Dibaca : 12.721 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password