Jumat, 28 November 2014   |   Sabtu, 5 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.619
Hari ini : 9.481
Kemarin : 19.832
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.392.408
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tempong: Permainan Rakyat dari Kalimantan Barat


Tempong adalah suatu jenis permainan tradisional dari Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Permainan rakyat yang berasal dari tradisi Suku Dayak Iban ini bersifat kolektif dan harus dilakukan oleh banyak peserta, bahkan, dalam permainan aslinya, tempong bisa melibatkan ratusan orang.

1. Asal-usul 

Kehidupan bermain adalah kehidupan anak-anak. Melalui permainan, anak-anak meniru aktivitas yang dilakukan oleh orang dewasa. Selain itu, bermain juga dapat dikatakan sebagai pijakan dasar yang mengawali munculnya kreativitas. Dengan terlibat dalam suatu permainan, anak-anak mendapat kesempatan untuk berekspresi dan mengeksplorasikan dorongan-dorongan kreatifnya. Anak-anak juga akan merasakan objek-objek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara yang baru (Fitri Astuti, 2009:4). Permainan tradisional tempong yang berasal dari Kalimantan Barat juga mengandung faktor-faktor seperti yang telah disebutkan di atas.

Tempong berasal dari bahasa Dayak Iban nempokng atau nimpukng yang artinya “tendang” atau “menendang”. Suku Dayak Iban (Ibanic) adalah salah rumpun Suku Dayak yang tersebar di wilayah perdalaman Kalimantan Barat, khususnya di Pegunungan Iban (Pegunungan Kapuas Hulu), sebagian hulu Sungai Kapuas, hingga dataran rendah Berpaya Berlumpur Air Hitam di Tanjung Keluang (Sujarni Aloy, dkk., 2008). Populasi orang-orang Suku Dayak Iban juga banyak terdapat di daerah pedalaman Sarawak dan menjadi suku Dayak terbesar di wilayah Malaysia Timur. Daerah Kapuas merupakan pusat sejarah di mana tempat ini dianggap sebagai tanah asal oleh orang-orang Dayak Iban sedangkan wilayah Sarawak dianggap sebagai tempat mencari penghidupan bagi orang-orang Dayak Iban yang berasal dari Kapuas (Mulyawan Karim, 2009).

Permainan tempong yang biasanya dimainkan oleh anak-anak merupakan tiruan dari aktivitas orang dewasa atau tradisi orang-orang Suku Dayak Iban, yakni mengayau. Mengayau, berasal dari kata dasar kayau (kayo) yang berarti “mencari kepala musuh”, adalah sebuah tradisi upacara perang yang dilakukan orang laki-laki dewasa Suku Dayak Iban. Mengayau dilakukan sebagai simbol keberanian dan kejantanan, mempertahankan dan memperluas wilayah, melindungi warga suku, persembahan kepada dewa, serta sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup (Yekti Maunati, 2006). Selain itu, tradisi mengayau juga dilakukan dengan tujuan untuk melindungi pertanian, mendapatkan daya rohaniah, sebagai wujud balas dendam, serta bentuk daya tahan berdirinya suatu bangunan (J.U. Lontaan, 1975:533).

Tempong disebut juga “permainan anak Kayo yang berlomba menendang tengkorak kepala musuh”. Dalam permainan tempong, anak-anak Suku Dayak Iban seolah-olah sedang menendang-nendang kepala musuh yang didapatkan dari mengayau dengan tujuan untuk memancing kemarahan kubu lawan. Karena melihat kepala kawannya dimain-mainkan atau ditendang-tendang, maka pihak musuh akan terpancing dan berusaha untuk merebut kembali kepala kawannya tersebut (Tim Penulis, 2007:18).

Kubu musuh biasanya akan terkecoh karena yang terlihat oleh musuh hanya ada seorang anak yang bermain-main sendirian di depan rumah, padahal terdapat ratusan orang yang sudah bersiap dan bersembunyi untuk menanti kedatangan musuh. Kemudian, ketika pihak musuh datang menyerang untuk mengambil tengkorak kepala kawannya, maka si anak Kayo akan menjerit-jerit minta tolong kepada orang-orang yang bersembunyi dan sedang menanti kedatangan musuh.

Ratusan orang yang semula bersembunyi itu kemudian keluar dengan tiba-tiba dan mengepung musuh sehingga terjadi pertempuran. Pihak musuh tidak mampu mengantisipasi sergapan mendadak tersebut karena sudah dalam keadaan terkepung sehingga mengalami kekalahan yang cukup telak. Selaras dengan perkembangan zaman, permainan tempong pun mengalami modifikasi dan penyesuaian namun tidak serta-merta meninggalkan kemurnian dan kandungan nilai-nilainya. Salah satu bentuk modifikasi tersebut yakni mengganti tengkorak kepala manusia dengan tempurung kelapa. Selain itu, tempong dimainkan dengan diiringi oleh alat-alat musik tradisional Dayak seperti gong, tawak, pabande, gendang, dan lain-lain (Tim Penulis, 2007:19).

2. Peralatan

Terdapat beberapa peralatan yang diperlukan dalam melakukan permainan tempong. Alat-alat tersebut adalah sebagai berikut:

  • 1 (satu) buah tempong yang terbuat dari tempurung kelapa,
  • 5 (lima) buah perisai yang digunakan untuk alat bersembunyi para pemain tempong,
  • Peluit yang digunakan oleh seorang wasit untuk mengatur jalannya permainan/pertandingan tempong,
  • Celana kapoak (pakaian tempong pada zaman dahulu) yang dikenakan untuk lebih menghayati permainan,
  • Seperangkat alat musik tradisional (gong, tawak, pabande, gendang, dan lain-lain) untuk mengiringi permainan agar lebih semarak,
  • Buku pencatat nilai yang dipegang oleh wasit untuk mencatat nilai yang diperoleh para pemain,
  • 1 (satu) santutut, yakni alat yang digunakan untuk menutupi muka pangate (Tim Penulis, 2007:19). 

3. Pemain

Jumlah peserta yang terlibat dalam permainan asli tempong tidak terbatas, bahkan bisa mencapai ratusan orang, yang terdiri dari orang-orang yang bersembunyi untuk menanti kedatangan musuh. Akan tetapi, jumlah yang tidak terbatas ini kemudian mengalami penyesuaian menjadi enam orang. Lima orang bertindak sebagai panempong yang harus mencari tempat persembunyian dan mempersiapkan diri untuk “berduel” apabila tempat persembunyiannya dan namanya telah diketahui. Satu orang lainnya bertindak sebagai penjaga tempong atau yang disebut pangate. Pangate bertugas seorang diri untuk menebak di mana para panempong bersembunyi sekaligus dengan menyebutkan nama panempong yang telah diketahui tempat persembunyiannya. Jumlah enam orang ini belum termasuk satu orang yang ditunjuk sebagai wasit/pengadil yang bertugas untuk mengawasi dan mengatur jalannya permainan tempong serta mencatat nilai yang berhasil dikumpulkan para pemain.

4. Tempat Permainan

Permainan tempong pada zaman dahulu dilakukan di halaman botang, yaitu pelataran di permukiman Suku Dayak Iban. Namun dalam perkembangannya, permainan tempong biasanya dilakukan di tanah lapang atau di halaman rumah. Pada zaman sekarang, permainan tempong sering dijadikan sebagai ajang perlombaan atau pengisi acara dalam agenda-agenda kegiatan budaya/adat dan biasanya dilakukan di dalam gedung olahraga.

5. Aturan Permainan

Tempong merupakan permainan yang disakralkan dalam tradisi masyarakat Suku Dayak Iban. Oleh karena itu, sebelum dan sesudah melakukan permainan rakyat ini, selalu diadakan ritual permohonan kepada Yang Maha Kuasa atau Jubata (konsep ketuhanan dalam masyarakat Dayak). Orang yang bertugas adalah seorang tokoh adat yang dipercaya bisa bertindak sebagai pemantra untuk menyampaikan doa kepada Jubata. Selain itu, permainan tempong sebaiknya dilakukan pada pagi, siang, atau sore hari, dan jangan dilakukan pada malam hari (Tim Penulis, 2007:21).

6. Cara Permainan

Buku Kumpulan Olahraga Tradisional Kalimantan Barat yang disusun oleh tim penulis dari Badan Pemuda, Olahraga dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Kalimantan Barat (2007) menyebutkan tahapan yang harus dilakukan dalam melakukan permainan tempong. Langkah-langkah dalam permainan tempong tersebut adalah sebagai berikut.

  • Semua pemain berkumpul untuk menentukan siapa yang ditunjuk sebagai wasit yang akan bertugas selama permainan berlangsung.
  • Setelah itu, semua perserta bersepakat untuk menunjuk satu orang yang akan berperan sebagai penjaga tempong atau pangate.
  • Sebelum permainan dimulai, pemantra memimpin ritual berdoa untuk memohon restu kepada Jubata untuk melaksanakan pertandingan tempong.
  • Permainan dimulai dengan menutup mata pangate dengan alat yang disebut santutut. Mata pangate harus ditutup dengan tujuan agar pangate tidak bisa melihat para pemain lain yang akan bersembunyi.
  • Setelah mata pangate ditutup, para pemain lain (panempong) segera mencari tempat persembunyian di balik perisai-perisai yang telah ditancapkan di lapangan pertandingan.
  • Sementara para pemain (panempong) mencari tempat persembunyian, musik mulai dibunyikan untuk memacu semangat para pemain. Iringan musik yang berasal dari alat-alat musik tradisional ini dibunyikan selama pertandingan dilaksanakan.
  • Setelah semua panempong bersembunyi, maka penutup mata pangate pun dibuka dan kemudian berusaha mencari panempong yang bersembunyi. Apabila pangate mengetahui persembunyian seorang panempong, maka pangate harus menyebutkan nama si panempong lalu berlari untuk menendang panempong yang dimaksud.
  • Di sinilah kemudian terjadi pertarungan antara pangate dan seorang panempong. Mereka akan saling berusaha menendang terlebih dulu. Apabila si panempong berhasil menendang pangate terlebih dulu, maka panempong itu memperoleh nilai 10 (sepuluh). Sebaliknya, apabila pangate yang berhasil menendang panempong terlebih dulu, maka si penempong dinyatakan mati. Pangate yang telah dinyatakan mati tidak dapat melanjutkan permainan dan dengan demikian ia tidak dapat menambah perolehan nilainya.
  • Setelah seorang penempong dinyatakan mati, maka pangete melanjutkan tugasnya untuk mencari para penempong lain yang masih bersembunyi. Hal ini dilakukan seterusnya sehingga masing-masing penempong berlomba-lomba mengumpulkan nilai dari jumlah tendangan yang bisa mengenai pangete. Panempong yang memperoleh nilai tertinggi dinyatakan sebagai pemenang pertandingan (Tim Penulis, 2007:20).

7. Keahlian Khusus

Permainan tempong memerlukan keahlian khusus untuk memainkannya. Keahlian khusus berlaku untuk pangete maupun para panempong, terutama dalam hal kekuatan/keahlian fisik dan kecermatan dalam menyusun strategi. Setiap peserta permainan tempong harus memiliki stamina dan daya tahan fisik yang prima, selain juga dibekali dengan nyali yang cukup. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya permainan tampong adalah ritual yang dilakukan sebelum perang sehingga tidak mengherankan bila permainan ini cukup mengandalkan kekuatan fisik dan ketahanan stamina.

Kendati faktor fisik menjadi syarat yang harus dipenuhi dalam memainkan tempong, akan tetapi permainan ini juga membutuhkan strategi yang cermat. Bagi para panempong, faktor kecermatan cukup berguna ketika mencari tempat persembunyian dan menjaga supaya posisinya tidak diketahui oleh pangete. Bagi seorang pangete, kecermatan dan taktik yang jitu menjadi unsur yang tidak kalah penting. Seorang pangete harus memiliki kecermatan dan kejelian yang mumpuni untuk bisa melacak dan mengetahui di mana tempat panempong bersembunyi. Selain itu, pangete juga harus cermat dan mempunyai daya ingat yang tajam untuk menebak siapa nama panepong yang telah diketahui tempat persembunyiannya.

Orang yang ditunjuk menjadi wasit juga harus memiliki kelebihan dan keahlian tersendiri. Seorang wasit harus mampu bertindak bijaksana dalam memimpin dan mengawasi jalannya permainan agar pertandingan dapat berjalan dengan adil dan lancar. Pada permainan tempong, kebijakan wasit sangat berpengaruh dalam perolehan nilai yang didapatkan, baik oleh para panempong maupun pangete. Dalam hal ini, kepemimpinan, ketegasan, dan keputusan seorang wasit berperan penting dalam menentukan siapa yang berhak menjadi pemenang dalam permainan tempong.

8. Nilai Budaya

Manfaat dan nilai moral dan budaya yang terkandung dalam permainan tradisional tempong adalah sebagai berikut.

  • Melatih kesabaran. Permainan tempong menuntut kesabaran yang besar dari para pesertanya, baik yang berposisi sebagai panempong maupun orang yang berperan sebagai pangete. Bagi para panempong, kesabaran mutlak diperlukan selama ia bersembunyi dan berharap terhindar dari tebakan pangete. Bagi seorang pangete, sikap sabar sangat diperlukan sebelum dia benar-benar menebak posisi salah seorang panepong dan menyebutkan nama panepong yang dimaksud dengan tepat. Kesabaran panempong dan pangete diuji pada saat terjadi duel satu lawan satu. Masing-masing harus bersabar dan jeli dalam memanfaatkan peluang untuk menendang lawan secara tepat.
  • Melatih ketelitian. Ketelitian seorang pangete akan terlatih dalam permainan tempong. Pangete harus benar-benar teliti dalam mencari dan menebak serta menyebutkan nama panempong yang sedang bersembunyi. Sedangkan bagi panempong, ketelitan juga diperlukan ketika mencari tempat yang tepat untuk bersembunyi supaya tidak mudah diketahui oleh pangete. Ketelitian dari seorang wasit pun akan semakin terlatih dalam permainan ini. Wasit dituntut teliti agar permainan dapat berjalan dengan lancar.
  • Mengajarkan kompetisi dan sportivitas. Tempong adalah permainan yang bersifat massal. Oleh karena itu, dapat dipastikan akan terjadi kondisi yang kompetitif dalam perjalanan menuju kemenangan. Kompetisi dalam permainan tempong mengajarkan agar kita memiliki sifat petarung yang siap berjuang untuk meraih tujuan. Akan tetapi, perjuangan dalam kompetisi itu harus diiringi dengan sikap tetap menjunjung tinggi sportivitas yang tercermin dalam pertarungan antara pangete dan panempong yang berupa duel satu lawan satu. Sportivitas juga wajib tetap dijaga hingga pertandingan berakhir di mana pihak yang kalah harus mengakui kemenangan pihak lawan dengan bijak. Begitu pula sebaliknya, pihak yang menang harus menghargai pihak yang kalah dengan cara tidak bersikap arogan.
  • Membentuk semangat kemandirian. Dalam permainan tempong, unsur kemandirian dipupuk dari bagaimana masing-masing panempong mampu mempertahankan posisinya sebelum keberadaannya diketahui oleh pangete. Begitu juga setelah pangete berhasil menebak dan menyebutkan posisi dan nama si penempong. Dalam kondisi seperti ini, penempong harus mempertahankan sikap mandiri untuk berjuang dan bertarung melawan pangete demi meraih nilai.
  • @Memupuk semangat nasionalisme dan patriotisme. Unsur nasionalisme dalam permainan tempong terlihat pada jumlah pemain setelah mengalami modifikasi. Penempong yang berjumlah lima orang pemain merupakan perlambangan dari lima sila dalam dasar negara Republik Indonesia yakni Pancasila. Lima perisai yang digunakan sebagai tameng persembunyian para penempong dimaknai sebagai lima agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Unsur patriotisme dalam permainan ini tercermin dari semangat berjuang dalam tradisi mengayau yang dilakukan sebagai wujud perlindungan harga diri dan pembelaan terhadap musuh yang datang menyerang.
  • Melatih kekuatan fisik. Tempong pada mulanya adalah tradisi yang dilakukan oleh orang-orang Suku Dayak Iban sebelum berperang. Maka dari itu, permainan tradisional ini melatih unsur fisik yang meliputi kekuatan, kecepatan, stamina, akurasi, dan lain-lain.
  • Melatih kecerdasan intelektual dan emosional. Meskipun cukup banyak mengandalkan kekuatan yang bersifat fisik, namun dalam memainkan tempong juga diperlukan taktik dan strategi yang matang untuk bisa memenangkan jalannya pertandingan. Dalam hal ini, baik para penempong maupun pangate, dirangsang kecerdasan intelektualnya sepanjang berlangsungnya permainan ini. Kecerdasan emosional juga akan diuji dalam pelaksanaan permainan tempong di mana para pemain harus bisa mengendalikan emosi dan perasaan dalam berbagai tahapan yang harus dilalui dalam permainan ini, terutama ketika harus bertarung menghadapi lawan.
  • Melestarikan tradisi dan budaya bangsa. Bahwa permainan tempong adalah salah satu tradisi dan warisan budaya bangsa adalah hal yang tidak bisa dipungkiri lagi. Permainan ini merupakan tradisi berperang orang-orang Suku Dayak Iban di Kalimantan Barat yang diwariskan secara turun temurun hingga dijadikan sebagai salah satu permainan tradisional yang harus dijaga dan dipertahankan kelestariannya. Dengan melestarikan permainan tempong ini, maka kita juga sudah ikut menjaga dan meneruskan tradisi yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia (Tim Penulis, 2007:19).

(Iswara N. Raditya/Bdy/04/06-2010)

Referensi:

“Dolanan bocah, tradisi sarat nilai budaya luhur”. [Online] Tersedia di dari http://dugderan.com [Diakses pada tanggal 27 Mei 2010].

Fauziah Rachmawati, 2009. “Pemanfaatan permainan tradisional dalam pembelajaran”. [Online] Tersedia di dari http://komunikasi.um.ac.id. [Diakses pada tanggal 27 Mei 2010].

Fitri Astuti, 2009. “Efektivitas permainan tradisional untuk meningkatkan kreativitas verbal pada masa anak sekolah”. Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hurlock, Elisabeth. B., 1992. Psikologi perkembangan anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

J.U. Lontaan, 1975. Sejarah hukum adat dan adat istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.

Mulyawan Karim, “Di bawah dua bangsa penjajah”, dalam Kompas, 14 Agustus 2009.

Sujarni Aloy, Albertus, & Ch. Pancer Istiyani, 2008. Mozaik Dayak: Keberagaman subsuku dan bahasa Dayak di Kalimantan Barat. Pontianak: Institut Dayakologi.

Tim Penulis, 2007. Kumpulan Olahraga Tradisional Kalimantan Barat. Pontianak: Badan Pemuda, Olahraga dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Kalimantan Barat.

Yekti Maunati, 2006. Identitas Dayak, komodifikasi dan politik kebudayaan. Yogyakarta: LKIS.

Dibaca : 9.125 kali.