Minggu, 19 Februari 2017   |   Isnain, 22 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 2.498
Hari ini : 18.766
Kemarin : 31.517
Minggu kemarin : 215.672
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.761.821
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Bakaba, Pertunjukan Sastra Lisan Minangkabau


Pertunjukan rebab (barabab), salah satu ragam pertunjukan kaba

Bakaba (berkaba) merupakan pertunjukan kaba. Kaba adalah sastra tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat Melayu Minangkabau, Sumatra Barat. Kisah-kisah dalam kaba telah dikenal luas oleh masyarakat Minangkabau (selanjutnya disebut Minang) dan diwariskan secara turun-temurun.

1. Asal-usul

Secara etimologis kaba berasal dari bahasa Arab khabar (tunggal), akhbaruun (jamak). Khabar berarti berita, cerita, atau pesan. Kaba dapat pula disamakan dengan hikayat dalam sastra Melayu (sastra Indonesia lama). Pada umumnya kaba tidak menceritakan asal-usul terbentuknya suatu adat, tetapi menceritakan cara kehidupan yang ideal sesuai dengan peraturan adat tersebut. Kaba merupakan percampuran berbagai konsep universal yang sejalan dengan tradisi masyarakat Minang (Taufik Abdullah, 2009: 118).

Menurut I.D Dt. Tumanggung (1982: 9), struktur kaba sama dengan pantun dalam sastra Sunda, yaitu ditulis dalam bahasa berirama. Namun, kaba adalah jenis sastra lisan prosa yang kemudian dimasukkan dalam kategori prosa liris atau prosa berirama. Gaya prosa liris mempunyai penanda yang khas, yaitu pola kalimatnya terdiri dari gatra-gatra dengan jumlah suku kata yang relatif tetap. Kalimat dalam kaba ditulis pendek-pendek dan biasanya setiap gatra terdiri dari delapan hingga dua belas suku kata. Konsistensi susunan kalimat inilah yang memungkinkan munculnya irama sewaktu mendendangkan kaba.

Umumnya, pengarang kaba adalah anonim, hanya beberapa nama saja pengarang kaba yang dikenal, semisal Sultan Pangaduan, Sjamsuddin St. Rahardjo Endah, dan Selasih. Anonimitas pengarang kaba membuat kaba menjadi milik masyarakat, bukan milik individual. Selain itu, kisah-kisah dalam kaba merupakan bagian dari cerita rakyat, yaitu cerita yang sudah diketahui oleh masyarakat umum. (Edwar Jamaris, 2002: 78).

Kaba adalah sejenis sastra pelipur lara. Biasanya kaba berisi kisah-kisah yang bersifat menghibur dan memberi nasihat. Sastra tradisi lisan ini bercerita tentang peristiwa yang menyedihkan, perantauan, dan penderitaan dari tokoh utama yang kemudian berakhir bahagia (happy end). Alur cerita dibuat tidak terlalu rumit dan lebih sering berupa alur maju (Edward Jamaris, 2002: 78). Pada dasarnya karya sastra Minang yang berpretensi prosa bisa disebut kaba. Syaratnya, cerita tersebut bersifat tragedi-komedi dengan unsur merantau sebagai “ramuan” yang harus ada di dalam cerita. Ada kemungkinan pula, dengan memenuhi persyaratan tadi, kaba dapat mengangkat kisah hidup seseorang sebagai cerita. (Suryadi, ed., 1993: 3).

Edwar Jamaris dalam buku Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau (2002: 79), membagi kaba ke dalam dua kelompok, yaitu kaba lama dan kaba baru. Sedangkan Junus (dalam Edward jamaris, 2002: 79) mengelompokkan kaba ke dalam dua kelompok, yaitu kaba klasik dan nonklasik.

Edwar Jamaris menambahkan beberapa ciri yang terdapat dalam kaba lama dan kaba baru. Kaba lama mempunyai ciri: a. berkisah tentang perebutan kekuasaan antara dua kelompok yang salah satunya adalah “orang luar” (dari suatu kesatuan keluarga); b. kisah itu dianggap berlaku pada masa silam tentang anak raja yang mempunyai kekuatan supranatural. Kaba lama rata-rata disebarkan dalam bentuk tradisi lisan atau bentuk naskah. Beberapa contoh dari kaba lama adalah Kaba Cindua Mato, Kaba si Untuang Sudah, Kaba Magek Manandin, Kaba Malin Deman dengan Puti Bungsu, Kaba Rambun Pamenan, dan Kaba si Umbuik Mudo.

Kelompok yang kedua, disebarkan dalam bentuk cetakan. Beberapa cerita kaba baru, misalnya Kaba si Rambun Jalua, Kaba Siti Fatimah, Kaba Rang Mudo Salendang Dunia, Kaba Karantau Madang di Hulu, dan Kaba Siti Jamilah dengan Tuanku Lareh Simawang. Kaba baru menceritakan kehidupan orang kebanyakan beserta dengan persoalan, penderitaan, dan tragedinya.

Kini, kisah-kisah dalam kaba tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat Minang, namun juga dikenal oleh masyarakat di hampir semua daerah di Indonesia. Tak dapat dipungkiri, hal ini berkat perkembangan media massa, baik cetak maupun elektronik. Diterimanya kaba oleh masyarakat di luar masyarakat Minang memperlihatkan bahwa kaba mengandung nilai-nilai universal yang bisa diterima oleh masyarakat mana pun.  

2. Pertunjukan Kaba (Bakaba)

Sebagai sebuah sastra lisan, kaba disebarkan ke masyarakat luas melalui berbagai pertunjukan. Pertunjukan inilah yang disebut bakaba. Dalam pertunjukan itu seorang tukang kaba menyampaikan kisah-kisah kaba dalam bentuk nyanyian atau dendang dengan iringan alat musik tradisional dan diselingi dengan nyanyian. Alat musik yang digunakan antara lain kecapi, saluang, rabab (rebab), pupuik, talempong, korek api,  dan peralatan tradisional lainnya.

Dalam kaitannya dengan penampilan cerita, tukang kaba dibagi menjadi dua, yaitu tukang kaba dan pencipta kaba. Tukang kaba adalah orang yang mendendangkan kaba. Ia bisa merupakan penulis kaba tersebut, bisa juga bukan. Sedangkan penulis kaba adalah orang yang menyampaikan kaba secara tertulis. (Syamsuddin Udin dan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1987: 16). Kata “tukang” adalah istilah masyarakat Minang yang dalam kaitannya dengan sastra lisan. Kata ini mengandung makna “profesionalisme”, misalnya tukang rabab (ragam rabab Pesisir dan rabab Pariaman), tukang selawat (ragam selawat dulang), dan lain-lain (Suryadi, ed., 1993:4).

Bakaba mempunyai banyak ragam antara daerah satu dengan yang lain. Hal tersebut menjadi keunikan dan kekayaan dalam pementasan kaba. Klasifikasi dan penamaan pementasan bakaba didasarkan pada alat musik pengiring yang digunakan dan judul cerita yang dibawakan. Misalnya, jika alat yang digunakan adalah rabab maka pementasannya dinamakan barabab (berebab). Beberapa contoh ragam bakaba menurut alat musik pengiring, daerah berkembangnya, dan nama kaba di antaranya:

  • Sijabang—Suryadi (1993: 3), menulis sijobang—merupakan pertunjukan kaba Nan Tongga Magek Jabang dengan iringan musik kecapi. Ini merupakan ragam sastra lisan daerah Payakumbuh dan sekitarnya serta Kabupaten Lima Puluh Kota. Pertunjukan bakaba ini hanya mengisahkan satu kaba saja.
  • Basimalin, juga berasal dari daerah Payakumbuh, tepatnya di daerah Tarantang Harau. Basimalin merupakan pertunjukan Kaba Malin Deman. Sama halnya dengan Sijabang, pertunjukan Basimalin merupakan bakaba yang mengisahkan hanya satu kaba.
  • Baikayaik dan Rebab Pariaman merupakan bakaba di daerah Kabupaten Padang Pariaman.
  • Rebab Pesisir Selatan merupakan pertunjukan kaba di daerah Kabupaten Pesisir Selatan. Pertunjukan ini menggunakan rabab sebagai musik pengiring. Salah satu contohnya adalah Rebab Pesisir Selatan Malin Kundang.
  • Dendang Pauah, merupakan ragam bakaba daerah Pauah dan sekitarnya, yang merupakan kawasan pinggiran sebelah timur Kota Padang. Dendang Pauah menggunakan alat musik saluang untuk mengiringi pertunjukan (Edwar Jamaris, 2002: 127) dan (Suryadi, ed., 1993: 3).

Bakaba lazimnya digelar malam hari. Cerita yang disampaikan oleh tukang kaba diselesaikan pada malam itu juga. Kalau cerita tidak selesai dalam satu malam, maka dilanjutkan malam berikutnya. Namun, bila kondisinya tidak memungkinkan untuk menggelar pertunjukan selama dua malam, tukang kaba akan mengambil bagian-bagian yang menarik untuk diselesaikan dalam satu malam.

Pertunjukan tradisi lisan ini acap kali digelar pada acara-acara tertentu, misalnya acara pernikahan, acara adat, maupun pesta keramaian desa. Pertunjukan digelar di luar ruangan menggunakan panggung atau hanya di tanah lapang. Seorang tukang kaba kadang tidak sendiri dalam mementaskan kaba, ia ditemani satu atau dua orang yang akan memainkan musik pengiring. Tukang kaba bisa juga menggelar pertunjukan sendirian, ia akan mendendangkan kaba dan memainkan musik sendiri. Hal tersebut bisa dilihat pada pertunjukan Rebab Pesisir Selatan.

A. Unsur-unsur Bakaba

Ada beberapa unsur penting yang harus ada dalam pertunjukan bakaba (Syamsuddin Udin, ed., 1996: 9). Unsur-unsur tersebut yaitu:

  • Tukang kaba.

Tukang kaba adalah orang yang mendendangkan cerita-cerita kaba. Ia boleh menyampaikan cerita yang sebelumnya telah ada di masyarakat, atau menciptakan sendiri cerita yang baru. Kemampuan untuk mencipta cerita yang baru inilah yang menjadi salah satu kelebihan tukang kaba. Cerita-cerita baru yang diciptakan oleh tukang kaba dimaksudkan untuk merespon perkembangan zaman dan supaya para penonton tidak bosan.

Berdasarkan kemampuan menyampaikan cerita dan menciptakan cerita, terdapat beberapa tingkatan tukang kaba (Syamsuddin Udin, ed., 1993: 10). Tingkatan dalam tukang kaba dijelaskan sebagai berikut:

      • Tukang kaba yang berkaba dengan akal pengalaman.

Tukang kaba pada tingkat ini galibnya masih pemula. Ia akan mendendangkan kisah kaba sesuai dengan semua yang ia ketahui. Kaba yang disampaikan tukang kaba ini dapat dimengerti alurnya, tetapi tidak meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.  

      • Tukang kaba yang berkaba dengan akal zahir.

Tukang kaba di tingkat yang kedua ini lebih baik daripada tukang kaba yang disebutkan sebelumnya. Ia akan mendalami terlebih dahulu cerita yang ingin ia  dendangkan. Setelah ia dapat menghayati cerita tersebut, baru ia menggelar pertunjukannya. Cerita yang disampaikan tukang kaba ini dapat ditangkap oleh khalayak dan meninggalkan kesan di hati mereka. Tetapi, tukang kaba ini sering kehilangan alur cerita.

      • Tukang kaba yang berkaba dengan akal batin disertai doa.

Tingkatan ketiga ini adalah tukang kaba yang telah menguasai ilmu bakaba. Dalam pertunjukan ia akan bercerita dengan penghayatan penuh disertai kekuatan batin. Ilmu kebatinan itulah yang akan memimpinnya selama pertunjukan berlangsung. Cerita yang ia sampaikan akan diterima dengan jelas dan meninggalkan kesan yang dalam bagi para pendengar.

  • Kaba (disampaikan dalam bentuk dendang atau lagu).
  • Musik pengiring dendang kaba. Bunyi gesekan rabab, gesekan biola, suara kecapi, ataupun tiupan saluang merupakan musik pengiring berfungsi untuk memperkuat suasana kisah yang disampaikan.

Di samping tiga hal yang disebutkan di atas, faktor lain yang juga mempengaruhi pertunjukan kaba adalah penonton. Khalayak ramai yang menyambut bakaba dengan antusias berarti membantu kelancaran pertunjukan. Sebaliknya, penonton yang ribut dan kacau dapat mengacaukan pertunjukan karena tukang kaba kehilangan konsentrasi. Begitu pula, bila khalayak cuma diam tanpa memberikan reaksi, pertunjukan akan berjalan begitu saja dan suasana pertunjukan menjadi tidak hidup. Karena itu diperlukan seseorang yang bertugas membantu menghidupkan suasana dan memeriahkan jalannya pertunjukan. Sipatuang Sirah merupakan orang yang mendapat tugas tersebut. Ia adalah orang yang mengetahui alur cerita dan bersedia mereaksi cerita. Dalam suasana tertentu, Sipatuang Sirah akan mereaksi pertunjukan melalui teriakan yang ia tujukan pada cerita atau pencerita.

B. Musik Pengiring

Terdapat beberapa alat musik tradisional Minangkabau yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan kaba sebagaimana disebutkan di atas. Di sini akan dijelaskan dua contoh dari alat musik tradisional pengiring pertunjukan kaba. Dua alat musik tersebut adalah rabab (Syamsuddin Udin, ed., 1993) dan saluang (Suryadi, ed., 1993).

a. Rabab

Rabab merupakan alat musik gesek yang berasal dari Minangkabau. Peralatan ini biasanya dimainkan pada malam hari untuk mencapai rasa gundah pada diri pemainnya. Sebagai pengiring kaba, peralatan musik ini dapat menciptakan suasana sedih yang mendalam. Alunan suara rabab, meskipun cerita yang disampaikan berada dalam suasana gembira, akan selalu mengesankan kesedihan bagi mereka yang belum paham karakter peralatan ini. Rabab mempunyai beberapa bagian, yaitu:

  • Badan rabab.

Badan rabab terbuat dari tempurung kelapa yang besar dan tua yang dipotong memanjang. Untuk membuat badan rabab, diambil setengah bagian tempurung yang berkulit tebal. Bagian punggung diberi lubang dengan diameter 1-2 cm agar terdengar lebih nyaring. Bagian yang berongga dan terbuka dari tempurung tersebut ditutup dengan kulit sapi.

  • Tangkai rabab.

Tangkai rabab terbuat dari bambu dan dipasang pada ujung tempurung. Di sepanjang tangkai dipasang senar sebanyak tiga buah yang terentang mulai dari pangkal hingga ke ujung hingga ke pangkal tangkai.

  • Batang penggesek.

Batang penggesek terbuat dari rotan. Di bagian pangkal batang penggesek terdapat pegangan. Pada batang penggesek dipasang tali dari ekor kuda yang terentang dari pangkal hingga ujung batang penggesek.

Cara memainkan peralatan ini adalah pemain rabab akan duduk bersila. Rabab berada di depan pemain rabab di antara kedua betisnya dengan posisi miring ke kiri. Kemudian pemain akan menggesek senar-senar tersebut dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Pemain rabab hanya menggesek dua senar, sedang dua senar yang lain sesekali dijentik.

Pada perkembangan selanjutnya alat musik gesek sebagai pengiring bakaba mengalami perubahan. Peralatan musik modern tak ayal turut berperan dalam pertunjukan kaba. Sejak tahun 1920-an biola mulai menggeser atau bahkan melengkapi rabab sebagai alat musik pengiring bakaba. Sehingga, pertunjukan kaba mulai menggunakan biola. Pembuat biola tersebut dulunya juga merupakan pembuat rabab. Perubahan alat musik yang digunakan ini menambah lengkap peralatan yang digunakan untuk mengiringi bakaba.  

b. Saluang

Saluang merupakan alat musik khas Minangkabau. Ini adalah jenis alat musik lain yang salah satu fungsinya adalah untuk mengiringi bakaba. Cara memainkan alat musik ini adalah dengan ditiup. Saluang terbuat dari bambu yang dalam bahasa Minangkabau disebut talang. Dalam kepercayaan orang Minang, bambu yang baik untuk membuat saluang adalah bambu untuk jemuran atau bambu yang ditemukan hanyut di sungai.

Saluang berbeda dengan seruling meskipun bahan bakunya sama dan bentuknya mirip. Perbedaan tersebut terletak pada cara memainkan alat musik ini. Saluang ditiup pada bagian penampangnya. Salah satu penampangnya diletakkan di bibir pemain, sedangkan bagian ujung yang lain berada di bawah. Sedangkan seruling dimainkan dengan meniup lubang yang berada di ujung dan membuka dan menutup lubang yang berjajar di batang seruling dengan jari. Pada saat dimainkan posisi seruling adalah mendatar.

3. Nilai-nilai Kaba dan Bakaba

Sebagai sebuah karya sastra, meskipun karya itu adalah sastra lisan, biasanya mengandung pesan-pesan tertentu di dalam karya tersebut. Begitu pula dengan kaba. Secara intrinsik kaba mempunyai banyak pesan atau nasihat serta ibarat. Selain itu, pertunjukan karya sastra tersebut juga mengandung beberapa nilai. Nilai-nilai tersebut antara lain:

a. Nilai Pendidikan

Kaba telah lama hidup dalam masyarakat Minang. Secara tidak langsung kisah-kisah dalam kaba dan pesan yang disampaikan melalui cerita itu membentuk kesadaran dan karakter masyarakat. Bahkan, bukan hanya masyarakat Minangkabau saja yang dapat mengambil hikmah dari pesan yang disampaikan dalam kaba. Kaba Malin Kundang misalnya, memberikan nasihat secara tidak langsung kepada anak untuk menghormati orangtua. Nasihat ini diterima tidak hanya di kalangan masyarakat Minangkabau, namun juga hampir semua daerah di Indonesia.  

Kisah-kisah dalam kaba dapat menjadi contoh untuk pendidikan karakter. Karakter tokoh dalam kaba, misalnya pantang menyerah, sabar, tahan terhadap cobaan, dan kerja keras dalam menjadi karakter yang dicontoh untuk ditiru. Sedangkan karakter yang buruk dapat menjadi contoh untuk dihindari. Setiap kaba berisi nilai-nilai tertentu, begitu pula dengan kaba yang belakangan diciptakan oleh pencipta atau tukang kaba.

Tentunya setiap kaba menyampaikan pesan yang berbeda. Jika Kaba Malin Kundang menceritakan kisah anak yang durhaka, lain hanya dengan misalnya Kaba Cinduo Mato. Kaba Cinduo Mato menggambarkan kepahlawanan seseorang, perjuangan seorang tokoh untuk mencapai tujuan yang mulia.

b. Nilai sosial

Bakaba mempunyai banyak nilai sosial. Pertunjukan kaba merupakan ruang di mana keluarga, handai taulan, sanak-famili, dan masyarakat umum bertemu. Ini menjadi ruang untuk membangun ikatan sosial di antara mereka. Di samping itu, dengan mengalami peristiwa yang sama ikatan sosial di antara mereka akan semakin erat.

Dalam pertunjukan kaba juga terlihat bagaimana masyarakat Minang mengenal Kato nan ampek. Kato nan ampek merupakan bahasa tutur atau cara seseorang terhadap orang lain dalam masyarakat Minang. Ini merupakan salah satu bentuk untuk menghormati orang lain. Kato nan ampek mengenal empat cara bertutur, yaitu kato mendaki, merupakan cara bertutur pada orang yang lebih tua; kato menurun, adalah cara bertutur dengan orang yang lebih muda; kato mendatar, adalah cara bertutur dengan orang sebaya; dan kato melereng merupakan cara bertutur dengan orang yang disegani atau tokoh masyarakat, misalnya ipar, menantu, pemuka masyarakat, dan tokoh agama.

Nilai-nilai sosial lain yang muncul dalam pertunjukan kaba selain kato nan ampek adalah bagaimana semestinya tingkah laku seorang pemimpin, bagaimana bersopan-santun, dan bagaimana kerjasama masyarakat terjalin. Dalam hal ini Kaba bukan hanya memunculkan nilai yang mengacu pada masyarakat biasa atau memberi nasihat kepada orang biasa, namun juga memunculkan nilai yang semestinya dianut oleh para pemimpin.

c. Nilai Budaya

Disadari atau tidak kaba telah memberikan sumbangan besar terhadap kekayaan sastra, baik sastra tradisi, maupun sastra Indonesia modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan karya-karya sastra dan sastrawan di negeri ini tak lepas dari sastra tradisi yang berkembang di masyarakat, termasuk di dalamnya sastra lisan. Oleh karena itu, sudah semestinya sastra lisan mendapat perhatian, selain perhatian pada perkembangan sastra Indonesia modern. Karena disadari atau tidak sastra tradisional semakin sedikit peminatnya.

d. Nilai Tradisi

Kaba merupakan kekayaan tradisi yang hidup dan berkembang di masyarakat. Cerita-cerita dalam kaba tersebut sudah lama hidup dan berkembang di masyarakat Minang. Bahkan, boleh dikatakan kaba sudah menyatu dengan masyarakat Minang.

Menjaga dan mengembangkan kaba dan bakaba menjadi bagian dari upaya untuk menjaga dan mengembangkan tradisi. Perkembangan kaba dapat didorong melalui pertunjukan bakaba atau dengan memberikan ruang penyebaran kaba melalui media cetak. Memberikan kesempatan kepada para tukang kaba untuk menggelar pertunjukan adalah hal paling sederhana yang dapat dilakukan. Jalan ini dapat ditempuh dengan mengundang mereka untuk menggelar pementasan dalam acara yang digelar pemerintah ataupun pemerhati kebudayaan yang lain.

4. Penutup

Kaba merupakan salah satu kekayaan tradisional masyarakat Melayu. Cerita-cerita dalam kaba itu sendiri merupakan warisan nenek moyang. Kekayaan budaya ini penting untuk terus dijaga kelestariannya.

(Mujibur Rohman/bdy/04/08-10)

Sumber foto: http://suprizal-tanjung.blogspot.com

Referensi

Edwar Jamaris, 2002. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

I.D. Dt Tumanggung, 1982. Kaba Rang Mudo Salendang Dunia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Suryadi, ed., 1993. Dendang Pauah, Cerita Orang Lubuk Sikaping. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Syamsuddin Udin, ed., 1996. Rebab Pesisir Selatan, Malin Kundang. Cetakan kedua. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Syamsuddin Udin dan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1987. Struktur Kaba Minangkabau, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Taufik Abdullah, 2009. “Beberapa Catatan Tentang Kaba Cindua Mato: Satu Contoh Sastera Tradisional Minangkabau", dalam Jurnal Terjemahan Alam dan Tamadun Melayu, 1.

Fe, 2008. “Rabab1, Seni Tradisi dari Pesisir Selatan“ [Online] Tersedia di: http://purikata.blogspot.com [Diunduh pada 23 Agustus 2010]

Dibaca : 22.915 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password