Sabtu, 27 Mei 2017   |   Ahad, 1 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 8.321
Hari ini : 59.087
Kemarin : 79.515
Minggu kemarin : 688.898
Bulan kemarin : 5.828.511
Anda pengunjung ke 102.475.771
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kendi Gayo: Wadah Air Minum Masyarakat Gayo, Nanggroe Aceh Darussalam


Kendi Rawan,
salah satu bentuk Kendi Gayo

Kendi Gayo adalah salah satu peralatan rumah tangga masyarakat Gayo Lues yang terbuat dari campuran tanah liat dan pasir. Kendi ini berfungsi sebagai wadah untuk menampung air minum yang biasa diambil dari sumber mata air di gunung untuk dibawa dan disimpan di rumah.

1. Asal-usul

Menurut sejarahnya, kendi pertama kali dikenal di India yaitu sejak tahun 2000 SM. Kata kendi berasal dari bahasa Sanskrit India “kundika” yang berarti wadah air minum. Dalam ikonografi Hindu, kundika merupakan atribut dari Dewa Brahma dan Dewa Siwa, sedangkan dalam ajaram Budha kundika merupakan “Awalokisteswara” dan dianggap sebagai salah satu dari delapan belas wadah suci yang dibawa oleh Pendeta Buddha dalam perjalanannya mencari kitab suci (A. Hamid Rasyid, et.al., 2001:3).

Di Indonesia, kendi secara khusus sebagai wadah air telah dikenal sejak abad ke-9 M. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya bentuk-bentuk kendi pada relief-relief Candi Borobudur yang dibangun sekitar 824 M., khususnya yang terlihat pada serambi Kamadathu (Waluyono, 2010). Bukti ini diperkuat dengan hasil temuan para arkeolog yaitu beragam kendi di sekitar Candi Borobodur. Menurut para arkeolog, kendi-kendi tersebut digunakan sebagai sarana ibadah oleh umat Budha pada masa lalu. Selain itu, benda gerabah tersebut juga digunakan pada acara Nadran sebagai wadah air untuk menyiram si mayit sebagai simbolisasi penyejuk (Rasyid, et.al., 2001:3-4).

Sementara itu, menurut J. Kreemer, seorang peneliti Belanda, sebagaimana dikutip oleh Rasyid, et.al. (2001:4), kendi atau yang sekarang dikenal dengan Kendi Gayo baru dikenal oleh masyarakat Gayo Lues pada abad ke-16 M, yaitu ketika Aceh masih merupakan kerajaan Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bentuk dan ragam hias Kendi Gayo banyak dipengaruhi oleh kendi logam dari Timur Tengah. Hal ini dapat dilihat pada bentuknya yaitu hanya mempunyai dua lubang pada bagian atasnya dan cara mengisinya melalui salah satu lubang tersebut. Demikian pula ragam hias yang digunakan yaitu menggunakan desain geometris yang digores halus pada bagian dinding luarnya dengan warna kelabu tua kehitam-hitaman.

Kendi Gayo sebagai hasil kerajinan tangan kaum perempuan masyarakat Gayo dibedakan menjadi empat macam bentuk yang disesuaikan dengan jenis kelamin pemakainya. Masing-masing bentuk memiliki ciri serta fungsi yang berbeda, misalnya Kendi Rawan yang berkaki tinggi dan melebar ke bawah dipakai oleh kaum laki-laki, Kendi Banan yang berbentuk bulat tanpa kaki dipakai kaum perempuan, Kendi Labu yang bentuknya mirip buah labu dipakai oleh sesepuh perempuan, serta Kendi Ganyong yang juga bentuknya mirip buah labu dengan ukuran lebih kecil dipakai oleh anak-anak (Rasyid, et.al., 2001:4). Namun secara umum, kegunaan utama kendi bagi masyarakat Gayo adalah sebagai wadah air minum.

2. Bahan dan Peralatan

Bahan baku pembuatan Kendi Gayo terdiri dari dua macam yaitu dah (tanah liat) dan kresik (sejenis pasir yang halus dan berwarna hitam). Pasir ini dipilih karena dapat menimbulkan warna hitam pada kendi yang dihasilkan. Adapun peralatan yang dipergunakan para perajin untuk membuat Kendi Gayo menurut Rasyid, et. al., (2001:8-9) adalah sebagai berikut:

  • Pelandas, yaitu batu yang permukaannya rata untuk digunakan sebagai landasan adonan tanah liat dan pasir pada proses pembentukan kendi.
  • Batu penggilas, yaitu batu berbentuk bulat panjang yang digunakan untuk memipihkan adonan tanah liat dan pasir di atas pelandas.
  • Wat atau papan penggebuk, yaitu papan berukuran kecil yang digunakan untuk memukul-mukul bagian luar dinding kendi pada saat pembulatan.
  • Atu lenesan atau batu bulat, yaitu digunakan untuk melapisi bagian dalam bakal kendi atau sebagai penahan pada saat kendi tersebut dipukul-pukul.
  • Sendok makan, yaitu digunakan untuk mengorek bagian dalam bakal kendi yang menonjol.
  • Batu pipih, yaitu batu yang tipis dan licin untuk melincinkan bagian luar bakal kendi.
  • Munuk atau pisau, yaitu digunakan untuk meratakan bagian-bagian bakal kendi yang menonjol
  • Bulu landak, yaitu digunakan untuk membuat lubang pada bagian-bagian tertentu bakal kendi.
  • Mata uang logam, pecahan piring, lidi, dan rader baju, yaitu digunakan untuk membuat ragam hias dengan cara menggoreskannya pada permukaan dinding bakal kendi.

3. Bentuk dan Fungsi Kendi Gayo

Menurut Rasyid, et.al (2001:16), para perajin Kendi Gayo di daerah Blangkejeren, Kabupaten Gayo hanya mengenal dua macam bentuk kendi, yaitu Kendi Rawan dan Kendi Banan.

a. Kendi Rawan

Kendi ini berbentuk tinggi langsing, bagian badannya berbentuk seperti labu, dan kakinya berbentuk lingkaran dengan dasar rata. Bagian lehernya yang cukup tinggi dan menyatu dengan penutupnya berfungsi untuk pegangan. Pada bagian penutupnya terdapat beberapa lubang yang berfungsi sebagai jalan untuk memasukkan air ke dalamnya. Sementara pada bagian puncak penutupnya terdapat tonjolan berbentuk kerucut. Kendi ini memiliki corong atau tangkai yang berbentuk silinder dengan ujung mengembung dan bibir corongnya berbentuk melebar. Pada umumnya, hiasan yang digunakan Kendi Rawan adalah motif geometris (garis-garis segitiga dan titik-titik) dengan teknik gores.

b. Kendi Banan

Bentuk Kendi Banan lebih mirip dengan Kendi Rawan. Perbedaannya hanya terletak pada bagian dasar dan bentuk corongnya. Pada bagian dasar Kendi Rawan terdapat kaki berbentuk lingkaran, sedangkan pada Kendi Banan bagian dasarnya berbentuk cembung dan agak lebar sekaligus sebagai perut yang berfungsi untuk menampung air. Dari segi bentuk corong, Kendi Banan memiliki corong yang berbentuk silinder. Adapun hiasan yang biasa digunakan pada Kendi Banan adalah motif geometris dan bunga dengan teknik gores.

Kedua kendi tersebut di atas memiliki nilai sakral yang tinggi dalam upacara adat masyarakat Gayo. Keduanya kerap digunakan sebagai salah satu perangkat di antara benda-benda sakral lainnya sebagai barang bawaan dari mempelai perempuan kepada mempelai laki-laki dalam upacara perkawinan maupun upacara tempah, yaitu upacara memisahkan pengantin perempuan dari orang tuanya untuk bergabung dengan keluarga suaminya.

Sementara itu, menurut Barbara Leach dalam Rasyid, et.al, (2001:16), selain kedua bentuk kendi di atas masih terdapat dua bentuk kendi lain yang khas dari daerah Gayo, yaitu:

a. Kendi Labu

Dinamakan Kendi Labu karena bentuknya mirip buah labu. Sejak dulu, buah labu sering menjadi inspirasi penciptaan bagi para perajin gerabah. Hal ini dimungkinkan karena buah labu yang sudah dikeringkan merupakan salah satu wadah air yang pertama-tama digunakan sebelum orang memakai gerabah (Waluyono, 2010). Demikian pula perajin gerabah di Gayo diduga meniru bentuk buah labu tersebut untuk menciptakan Kendi Labu sebagai wadah air minum.

Dari segi bentuk, bagian dasar Kendi Labu berbentuk cembung, namun sedikit lebih gepeng daripada Kendi Banan. Bagian leher kendi ini agak tinggi yaitu berfungsi sebagai tempat pegangan. Sementara itu, bagian bawah kendi berbentuk menggembung.

Berbeda dari kedua jenis kendi yang disebutkan di atas, Kendi Labu tidak memiliki corong atau tangkai dan bibirnya berada di ujung atas leher dengan bentuk melebar. Bibir kendi ini berfungsi sebagai jalan untuk memasukkan air ke dalam kendi sekaligus sebagai tempat untuk minum. Ragam hias kendi ini juga mengunakan motif geometris dengan teknik gores. Menurut fungsinya, kendi ini digunakan sebagai tempat air minum bagi sesepuh perempuan pada upacara adat perkawinan masyarakat Gayo.

b. Kendi Ganyong

Kendi ini juga bentuknya mirip buah labu, namun ukurannya lebih kecil daripada Kendi Rawan maupun Kendi Banan. Selain itu, bentuk bibirnya lebih sempit dari bibir Kendi Labu. Kendi ini juga menggunakan ragam hias geometri dan bunga dengan teknik gores. Kendi jenis ini digunakan sebagai tempat air minum bagi golongan anak-anak pada masyarakat Gayo.

Meskipun kerap digunakan dalam upacara adat, menurut Rasyid, et.al, (2001:16), Kendi Gayo memiliki kegunaan utama sebagai wadah air minum. Bagi masyarakat Gayo, meminum air kendi terasa memiliki aroma yang sengam atau enak. Maka sebab itulah, hampir di setiap rumah penduduk Gayo terdapat seperangkat kendi sebagai wadah air untuk konsumsi keluarga.

4. Cara Pembuatan

Proses pembuatan Kendi Gayo cukup sederhana. Meski demikian, proses pembentukan dan pembuatan ragam hiasanya tetap mengandalkan keterampilan tangan para perajin. Menurut, Rasyid, et.al, (2001:16), ada empat tahapan yang harus dilalui dalam proses pembuatan Kendi Gayo, yaitu:

a. Penyiapan dan Pengolahan Bahan

Tahap penyiapan dimulai dari pengambilan tanah liat di perbukitan dan pasir di dasar sungai yang berada di sekitar permukiman penduduk. Selanjutnya, kedua bahan tersebut diolah dengan menggunakan cara tradisional yaitu pengolahan bahan secara kering. Pertama-tama bahan-bahan ditumbuk sampai halus kemudian disaring untuk membersihkan kotoran atau sampah yang terkandung di dalamnya. Setelah bersih, kedua bahan tersebut dicampur dengan perbandingan 1 (satu) bambu tanah liat dan 3 (tiga) mok pasir. Kemudian campuran kedua bahan tersebut ditambahkan air secukupnya lalu diaduk rata hingga adonan tanah dan pasir menjadi seragam. Adonan tersebut kemudian didiamkan selama satu malam. Sebelum dibentuk menjadi bulatan, adonan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan hingga agak mengeras. Tujuannya adalah agar adonan mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan.

b. Pembentukan

Teknik pembentukan yang digunakan oleh para perajin Kendi Gayo di Aceh umumnya menggunakan teknik pijit (pinching), yaitu teknik membentuk kendi dengan cara dipijat-pijat atau ditekan-tekan sesuai dengan desain yang diinginkan. Teknik pijat ini merupakan teknik dasar dalam pembuatan gerabah sebelum dikenal teknik pembentukan yang lain seperti teknik putar (wheel/throwing), teknik cetak (casting), teknik lempengan (slab), teknik pilin (coil), dan gabungan dari beberapa teknik tersebut (I Wayan Mudra, 2010).

Langkah pertama dalam tahap pembentukan ini dimulai dari pembentukan badan kendi. Pada proses ini seorang perajin menggunakan tangan untuk memijat-memijat dan kemudian menjepit-jepit adonan sambil menarik-menarik ke arah yang diinginkan sesuai dengan bentuk yang dikehendaki. Untuk membentuk badan kendi digunakan alat papan penggembuk untuk memukul-mukul bagian luar dinding kendi pada saat pembulatan dilakukan. Pada bagian dalam bakal kendi dilapisi batu bulat sebagai penahan pada saat dipukul-pukul. Setelah badan kendi mulai terbentuk, bagian dalam bakal kendi yang menonjol dikorek dengan menggunakan sendok makan agar menjadi lebih halus.

Setelah bentuk badan kendi mulai mengering, langkah selanjutnya adalah membentuk leher dan corong kendi. Adonan tanah liat dan pasir yang masih basah diletakkan di atas badan kendi untuk membentuk leher dan corong kendi. Langkah ini menggunakan pisau untuk meratakan bagian-bagian yang menonjol dan batu tipis yang licin untuk melicinkan bagian luar kendi.

c. Pembuatan Ragam Hias

Sebelum dikeringkan melalui proses pembakaran, bakal kendi yang masih lunak terlebih dahulu diberikan ragam hias pada seluruh bagiannya. Caranya adalah menggores atau mengorek permukaan dinding bakal kendi dengan menggunakan beberapa alat-alat tertentu berupa mata uang logam, pecahan piring, lidi, rader baju, atau tanduk hewan. Jenis motif yang paling menonjol pada Kendi Gayo adalah motif geometris dan bunga. Menurut Melalatoa (1982:136), selain kedua motif tersebut, Kendi Gayo juga menggunakan motif jenis lain seperti kekukut, memayang kekuyang, tapak tikus, gegenit, uruk, dan sebagainya.

d. Pembakaran

Sebelum dibakar, kendi yang masih lunak terlebih dahulu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan tanpa panas matahari selama 10 hari. Proses pengeringan ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air yang terkandung di dalam bahan dasar kendi yang berasal dari tanah liat. Adapun tujuan dari menghilangkan kadar air tersebut yaitu agar kendi tidak retak atau pecah pada saat pembakaran berlangsung.

Setelah kendi benar-benar kering, barulah dilakukan pembakaran dengan cara sederhana, yaitu kendi-kendi diletakkan di atas tumpukan sampah sebagai bahan pembakaran pada permukaan atau di dalam lubang yang dangkal dan kemudian menyangganya dengan pecahan-pecahan gerabah agar tidak bergerak ketika proses pembakaran berlangsung. Kemudian di antara kendi-kendi tersebut diletakkan daun-daun kering, jerami, tempurung kelapa, dan kulit pinus yang asapnya berfungsi untuk memperkuat struktur kendi dan mengkilapkan warnanya.

Selanjutnya, pembakaran dilakukan selama lebih kurang delapan jam hingga kendi-kendi terlihat menyala bagaikan bara api. Setelah masak, kendi-kendi tersebut didinginkan dan kemudian disimpan di atas para-para atau dapur agar terkena asap setiap saat sehingga warnanya berubah menjadi hitam mengkilap. Setelah itu, kendi siap untuk digunakan sebagai wadah air minum.

5. Arti dan Makna Ragam Hias Kendi Gayo

Bagi masyarakat Gayo, kegunaan kendi lebih penting daripada bentuk ataupun ragam hiasnya. Oleh karena itulah, menurut Melalatoa (1982:134, Kendi Gayo tidak demikian kaya dengan variasi ragam hias. Jika pun hasil kerajinan tangan masyarakat Gayo ini mempunyai ragam hias, umumnya tidak mempunyai arti atau makna tertentu. Para perajin hanya menuangkan ragam hias pada kendi-kendi tersebut dengan meniru ragam hias yang telah digunakan pada benda-benda gerabah sebelumnya tanpa mempertimbangkan arti dan maknanya.

Meski demikian, ada beberapa jenis ragam hias pada Kendi Gayo yang memiliki arti dan makna, salah satunya yang paling terkenal adalah ragam hias tapak rama yang mengandung makna kesaktian (Rasyid, et.al, 2001:22).            .

6. Nilai-nilai

Kendi bukan sekadar peralatan rumah tangga yang berfungsi untuk menyimpan air minum, tetapi ia merupakan warisan budaya nenek moyang masyarakat Gayo yang sarat dengan nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut di antaranya nilai budaya, kreativitas, ekonomi, seni, pemberdayaan perempuan, dan identitas budaya.

a. Nilai Budaya.

Secara fungsional, Kendi Gayo merupakan salah satu perlengkapan baik dalam upacara perkawinan maupun upacara adat tempah masyarakat Gayo. Hal ini menunjukkan bahwa kendi ini memiliki peranan penting dalam upacara adat tersebut. Oleh karena itu, keberadaan Kendi Gayo merupakan ekspresi dari keyakinan masyarakat Gayo dalam menunjukkan eksistensi kebudayaan mereka.

b. Nilai Kreativitas.

Nilai kreativitas masyarakat Gayo dapat terlihat dari bahan baku yang digunakan membuat kendi. Melalui tanah liat dan pasir mereka mampu menciptakan beragam bentuk kendi yang memiliki fungsi dan nilai-nilai estetis tinggi dalam kehidupan mereka. Dari sini dapat dipahami bahwa masyarakat Gayo juga memiliki pemahaman dan penghayatan yang tinggi terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka.

c. Nilai Ekonomi

Meskipun pada awalnya hanya sebagai wadah air minum untuk keperluan sehari-hari, Kendi Gayo pada perkembangannya mampu mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat Gayo, khususnya para perajin yang tinggal di Kecamatan Blangkejeren. Mereka berkeyakinan bahwa kerajinan membuat gerabah kendi ini merupakan warisan leluhur yang patut dipertahankan karena dapat memberikan kesejahteraan.

d. Nilai Pemberdayaan Perempuan

Proses pembuatan Kendi Gayo di Kecamatan Blangkejeren umumnya dilakukan oleh kaum perempuan. Hal ini dimungkinkan karena proses pembuatan Kendi Gayo memerlukan ketekunan, kecermatan, dan ketelitian yang tinggi dan hanya merekalah yang dianggap mampu untuk melakukannya. Dengan didukung oleh sumber daya alam yang tersedia kaum perempuan masyarakat Gayo mampu menghasilkan kreasi berupa kendi yang bernilai tinggi.

e. Nilai Identitas

Kendi Gayo memiliki bentuk dan ragam hias yang khas dan unik. Dengan menyebut kata Kendi Gayo sudah tentu akan memberikan identitas budaya bagi masyarakat Gayo di Blangkejeren, Nanggroe Aceh Darussalam.

7. Penutup

Kendi Gayo adalah salah satu warisan budaya nenek moyang masyarakat Gayo di Nanggroe Aceh Darussalam yang perlu dilestarikan dan dikembangkan mengingat begitu pentingnya fungsi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pengembangan terhadap hasil kerajinan tangan masyarakat Gayo ini tidak sekadar menggali nilai-nilai budayanya, tetapi juga pada pengembangan nilai ekomonisnya sehingga mampu memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat Gayo, terutama para perajin yang tinggal di Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia.

(Samsuni/bdy/12/08-10)

Referensi:

Anonim. “Blangkejeren, Gayo Lues”, [Online], tersedia di  (http://id.wikipedia.org), [diakses pada tanggal 30 Agustus 2010].

A. Hamid Rasyid, et.al., 2001. Kendi Gayo. Bagian Proyek Permuseuman Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

I Wayan Mudra. “Proses Pembuatan Gerabah”, [Online], tersedia di  (http://jurnal.isi-dps.ac.id), [diakses pada tanggal 30 Agustus 2010].

M.J., Melalatoa. 1982. Kebudayaan Gayo. Jakarta:. P.N. Balai Pustaka.

Waluyono. “Kendi”, [Online], tersedia di  (http://www.pelita.or.id), [diakses pada tanggal 30 Agustus 2010].

Foto: A. Hamid Rasyid, et.al., 2001. Kendi Gayo. Bagian Proyek Permuseuman Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

Dibaca : 24.621 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password