Minggu, 26 Februari 2017   |   Isnain, 29 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 2.655
Hari ini : 4.412
Kemarin : 67.112
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.800.588
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kelahiran dalam Pengetahuan Orang Sasak, Nusa Tenggara Barat


Perempuan Sasak

Orang Sasak memahami kelahiran sebagai peristiwa yang menegangkan dan sakral. Oleh karena itu, mereka menggelar berbagai upacara adat, selamatan, dan doa untuk menghargai dan menghormatinya.

1. Asal-usul

Suku Sasak[1] adalah penduduk yang mayoritas hidup di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain keunikan upacara adat merarik dan eksotisme kesenian gendang beleq, satu yang tidak kalah unik dari keduanya adalah pengetahuan mereka tentang kelahiran bayi. Kelahiran dianggap orang Sasak sebagai peristiwa sakral dan menegangkan, untuk itu perlu dihormati. Pengetahuan lokal ini mencerminkan pengalaman spiritual orang Sasak yang luhur. Dalam konteks untuk memahami kehidupan orang Sasak, pengetahuan ini menarik untuk ditelusuri.

Kelahiran[2] bagi orang Sasak dipahami sebagai peristiwa yang menegangkan karena siapapun tidak dapat menebak apa yang akan terjadi saat proses kelahiran kelak. Hal yang sering ditakutkan oleh orang Sasak adalah terjadinya sesuatu yang buruk pada ibu yang melahirkan atau bayinya, seperti mati atau cacat. Selain itu, kelahiran juga dianggap sebagai peristwa sakral karena berhubungan dengan kekuasaan Tuhan di mana manusia tidak memiliki kuasa di dalamnya. Manusia hanya bisa pasrah. Oleh karena itu, kelahiran harus ditandai dengan upacara adat dan selamatan sebagai media untuk memohon keselamatan pada Tuhan (Ahmad Amin et al., 1978).

Lebih lanjut Amin et al (1978) menjelaskan bahwa tersebab karena unik dan sakral ini, maka sejak masa-masa menjelang kelahiran hingga bayi berumur kurang lebih setahun, orang Sasak menggelar berbagai upacara adat dan selamatan serta doa seperti upacara beretes (menghormati ari-ari), molang mali’ (memberi nama bayi), dan ngurisang (potong rambut).

Pergelaran upacara adat tersebut bertujuan untuk menjaga dan menghormati jabang bayi serta sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Dari pergelaran upacara adat, selamatan, dan doa tersebut terlihat jelas bahwa kelahiran bayi dimaknai orang Sasak sebagai anugrah Tuhan yang besar bagi manusia, karena memang itulah yang diharapkan oleh sepasang suami istri. Dari pemikiran ini dapat dilihat bahwa orang Sasak memijakkan perilaku hidupnya berdasarkan pengetahuan atau kebudayaan leluhur.

2. Konsep Kelahiran

Berikut adalah konsep kelahiran dalam pengetahuan orang Sasak yang disarikan dari buku karya Ahmad Amin et al., 1978, berjudul Adat istiadat daerah Nusa Tenggara Barat.

Menjelang masa-masa kelahiran, bagi seorang ibu yang hamil pertama kali, orang Sasak akan menggelar upacara adat baretes. Dalam upacara ini dilaksanakan selamatan kecil dengan mengundang sejumlah tetangga dekat. Di sela-sela selamatan, dibacakan lontar yang berisi kisah tentang seorang perempuan yang bernama Juarsah di hadapan perempuan yang hamil tersebut sambil dililitkan sebuah benang ke perutnya. Saat cerita sampai pada bagian kelahiran Juarsah, benang tersebut diputus lalu perempuan yang sedang hamil tersebut dimandikan di halaman rumahnya.      

Kelahiran seorang bayi dalam konsep orang Sasak tidak hanya berhubungan dengan kesehatan sang ibu, makanan sang ibu di mana itu berhubungan dengan asupan gizi bagi bayi di perutnya, kasih sayang dari sang suami, atau doa kedua orangtuanya belaka. Akan tetapi, lebih dari itu semua, kelahiran juga sangat berkaitan dengan perilaku sang ibu saat hamil.  

Jika seorang perempuan Sasak hendak melahirkan, maka sang suami akan sibuk mencari belian bayi (dukun bayi) yang dianggap mengetahui seluk beluk perempuan yang akan melahirkan. Apabila perempuan tersebut mengalami kesukaran dalam proses kelahiran bayinya, maka menurut belian hal itu disebabkan oleh perilaku kasar perempuan tersebut terhadap orangtuanya (ibunya) atau kepada suaminya.     

Dalam kondisi seperti ini, biasanya belian menyarankan agar perempuan tersebut meminum air bekas cuci tangan orangtuanya (ibunya) dan suaminya. Bahkan, di beberapa desa di Lombok, perempuan tersebut disuruh meminum air bekas mencuci kemaluan suaminya. Selain cara itu, belian juga menasehatkan agar perempuan yang akan melahirkan tersebut diinjak ubun-ubunnya oleh suaminya, jika perempuan tersebut berlaku kasar kepada suaminya. Cara-cara ini dilakukan untuk mempercepat kelahiran jabang bayi. 

Ketika jabang bayi telah lahir, maka orang Sasak menganggap bayi tersebut lahir tidak sendirian, akan tetapi berdua, mereka menyebutnya dengan adi’ dan kaka’.[3] Adi’ adalah bayinya sendiri sedangkan kaka’ adalah ari-ari yang masih menempel di pusar jabang bayi. Oleh karena itu, saat kelahiran, ari-ari dirawat dan dihormati seperti halnya jabang bayi. Ari-ari dicuci sampai bersih seakan memandikan orang yang sudah mati, kemudian dimasukkan ke dalam periuk atau tempurung kelapa setengah tua, lalu dikubur di halaman rumah. Sebagai tanda dibuatlah gundukan tanah pada kuburan tersebut dan diletakkan lekesan (tepah sirih) di dekat gundukan tersebut.[4] Lekesan dianggap sebagai simbol doa agar jabang bayi kelak berumur panjang.

Berbeda dengan kebiasaan di atas, di beberapa desa di Lombok, ari-ari tidak dikubur dalam tanah, akan tetapi diletakkan di atas tiang bambu yang ada di pekarangan rumah atau kebun. Ari-ari sebelumnya di masukkan ke dalam tempurung kelapa lalu direkatkan kembali dengan adonan tanah liat yang selanjutnya dibungkus dengan kain putih.

Orang Sasak juga memahami bahwa setelah lahir, bayi tersebut harus terus dijaga, diperingati dan dihormati hingga bayi kurang lebih berumur setahun, yakni dengan diselenggarakan upacara adat atau selamatan agar bayi tetap dalam keadaan sehat dan selamat dari gangguan roh-roh jahat. Pada saat jabang bayi berusia tujuh hari, orang Sasak menggelar upacara adat molang mali’, yaitu mengoleskan tepah sirih ke dada dan dahi sang ibu dan bayinya yang dilakukan oleh belian bayi. Orang Sasak juga meyakini bahwa ketika bayi berusia tujuh hari, maka pusarnya telah gugur. Usia tersebut juga dianggap sebagai usia yang tepat untuk memberi nama pada jabang bayi. Pusar bayi yang gugur biasanya akan dibungkus dengan kain putih lalu disimpan dalam rumah.[5]

Pada beberapa desa di Lombok, saat perayaan upacara molang mali’ biasanya juga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk pertama kali jabang bayi boleh keluar dari rumah dan menjejakkan kakinya di tanah.[6] Jika jabang bayi tersebut berjenis kelamin perempuan, maka kakinya akan dijejakkan di tempat menenun. Adapun jika bayinya laki-laki maka kakinya akan dijejakkan di tempat yang ada alat pertaniannya. Penjejakkan kaki dilakukan sebanyak tujuh kali.[7]   

Bayi yang lahir juga dipahami orang Sasak sebagai amanat Tuhan agar bayi tersebut dibersihkan dan dididik sesuai dengan ajaran agama dan perintah Tuhan. Oleh karena itu, sebagai simbol pembersihan, orang Sasak menggelar upacara ngurisang (potong rambut). Rambut bayi yang dibawa sejak lahir dianggap orang Sasak sebagai bulu panas yang akan berpengaruh buruk pada sifat bayi, untuk itu harus dipotong.

Upacara adat ngurisang biasanya dilakukan dengan mengundang tetangga, handai tolan, dan orang-orang yang pandai mengaji untuk mengadakan selamatan dengan membaca serakalan atau barzanji (syair-syair yang mengagungkan Nabi Muhammad SAW). Saat serakalan atau barzanji dilantunkan, bayi digendong oleh bapaknya kemudian diajak berkeliling menghadap para hadirin dan selanjutnya secara simbolik seluruh hadirin satu per satu memotong sedikit rambut bayi tersebut.        

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan orang Sasak tentang kelahiran bayi ini berpengaruh terhadap kehidupan sosial mereka, antara lain:

  • Solidaritas sosial. Upacara adat yang diselenggarakan mengiringi kelahiran bayi orang Sasak dilakukan secara kolektif, artinya mengundang para tetangga dan handai tolan. Selain bertujuan untuk menyaksikan peristiwa penting tersebut, secara sosial upacara tersebut berpengaruh terhadap menguatnya solidaritas sosial orang Sasak, baik sebagai keluarga maupun masyarakat. Dalam konteks ini, maka penyelenggaraan upacara adat patut untuk diapresiasi sebagai kebudayaan yang tidak selamanya menyimpang dari ajaran agama. Pemahaman ini penting untuk disosialisasikan kepada masyarakat, mengingat upacara-upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran bayi tersebut saat ini hampir tidak ditemukan lagi di masyarakat Sasak, kecuali upacara ngurisang (potong rambut). 
  • Status sosial. Pengetahuan tentang kelahiran secara sosial berpengaruh terhadap pemberian status sosial orangtua bayi. Sebagai orangtua yang dapat menyelenggarakan upacara bagi anaknya, maka status sosialnya akan berbeda dengan orangtua yang tidak dapat menyelenggarakan, apalagi upacara tersebut diselenggarakan dengan mewah. Dalam sistem sosial orang Sasak, biasanya orangtua yang demikian akan dipandang sebagai orang yang kaya dan taat kepada ajaran adat atau agama. Efeknya mereka akan diperlakukan berbeda dalam aktifitas-aktifitas sosial, misalnya akan dijadikan panitia dalam perhelatan upacara adat atau agama.   
  • Mengajarkan bersyukur kepada Tuhan. Pengetahuan tentang kelahiran ini secara sosial juga mengajarkan kepada masyarakat untuk selalu bersyukur kepada Tuhan. Dalam konteks ini, pengetahuan ini memiliki muatan sosial sekaligus spiritual.
  • Menghargai dan menghormati manusia. Pengetahuan tentang kelahiran ini secara sosial juga tampak jelas sekali mengajarkan masyarakat Sasak untuk menghargai manusia. Hal ini tampak dari upacara adat dan hal-hal yang harus dilakukan ketika bayi tersebut lahir. Kelahiran adalah awal kehidupan manusia, untuk itu harus dihormati dan dihargai. Menghormati dan menghargai manusia secara tidak langsung juga menghormati kehidupan itu sendiri.
  • Menghargai dan menghormati perempuan. Secara sosial pengetahuan ini juga mengajarkan masyarakat untuk menghargai dan menghormati kaum perempuan. Perempuan dengan kodratnya, telah sabar dan kuat mengandung bayi dan melahirkannya. Proses kelahiran yang menegangkan membutuhkan keberanian seorang perempuan, untuk itu sosoknya harus dihargai dan dihormati dengan kasih sayang dan penjagaan dari seorang suami.  

4. Penutup

Pengetahuan orang Sasak tentang kelahiran ini merupakan kearifan lokal yang luhur dan unik karena memadukan dua unsur yang sering disalahartikan sebagai sesuatu yang bertentangan, yaitu antara adat dan ajaran agama. Dalam konteks untuk memperkuat semangat menghormati perbedaan dan keberagaman, pengetahuan ini sangatlah penting untuk diapresiasi dengan disosialisasikan kepada masyarakat, mengingat orang Sasak sangat rentan dengan konflik sosial. Selain itu juga agar masyarakat Sasak memahami akar kebudayaan mereka. Yusuf Efendi (bdy/31/09-10).

Referensi   

Ahmad Amin et al., 1978. Adat istiadat daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Depdikbud RI

Aryani Setyaningsih. Lelaki Pepadu (Tesis). 2009. Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Alvons Van Deer Kraan. 1980. Lombok, Conquest, Colonization and Underdevelopment 1870-1940. Australian University Press.

Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Suhartono. 1970. Pengaruh bangsa-bangsa luar di Lombok. Buletin no 3 Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sumber foto: Tropen Museum Royal Tropical Institut, Amsterdam



 

[1] Secara budaya orang Sasak adalah mereka yang terikat dengan adat istiadat Sasak. Pada zaman Belanda, NTB mencakup Bali, Lombok, dan pulau Sumbawa (Alvons Van Deer Kraan, 1980; Aryani Setyaningsih, 2007; Suhartono, 1970). Karena alasan ini, tidak heran jika kebudayaan suku-suku di NTB memiliki kemiripan satu sama lain.

[2] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2005 halaman 625, kelahiran berasal dari kata dasar lahir yang berarti ke luar dari kandungan. Dalam arti lainnya adalah proses gaib kelahiran kembali dalam bentuk tubuh makhluk baru sesudah makhluk yang lama mati (hal ini menjadi keyakinan dalam beberapa agama, seperti agama Hindu dan Buddha yang disebut reinkarnasi).

[3] Konsep adi’ kaka’ ini juga ada dalam pengetahuan orang Jawa. Ari-ari juga bersihkan lalu ditanam dalam tanah untuk menghormatinya.

[4] Orang Sasak yang masih memeluk kepercayaan masa lalu (Boda), ari-ari baru akan ditanam setelah jabang bayi berumur enam bulan dan diadakan upacara adat menunang meloga. Selama itu, ari-ari setelah dibersihkan lalu dimasukkan ke dalam tempurung kelapa muda (kemalam) dan diletakkan di tempat dekat jabang bayi tersebut tidur.

[5] Beberapa orang Sasak menyimpan pusar tersebut dalam tabung yang terbuat dari perak atau kuningan sebagai azimat. Ada juga yang menggunakannya sebagai obat mata yakni dengan menyiram pusar tersebut dengan air lalu air bekas siraman tersabut diteteskan pada mata yang sakit.

[6] Pada kebudayaan Jawa juga dikenal upacara adat yang serupa ini yang didebut dengan upacara tedak siten sedangkan di Bali dikenal dengan upacara ngenteg tanah.

[7] Orang Sasak yang masih menganut Boda, penjejakkan kaki bayi diiringi dengan hitungan seke’ (satu), due (dua), telu (tiga), empat, lima, enem (enam), dan pitu’ (tujuh). 

Dibaca : 13.730 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password