Kamis, 30 Maret 2017   |   Jum'ah, 2 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 1.633
Hari ini : 10.219
Kemarin : 33.260
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.020.768
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Jalur: Perahu Tradisional Masyarakat Kuantan Singingi, Riau


Festival Pacu Jalur

Jalur adalah salah satu alat transportasi air masyarakat Kuntan Singingi di Provinsi Riau. Perahu yang terbuat dari kayu gelondongan ini biasa digunakan sebagai alat perhubungan dan perdagangan, serta sarana lomba pada Festival Pacu Jalur yang digelar setiap perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus) di Sungai Kuantan.  

1. Asal-usul

Kuantan Singingi atau biasa disingkat Kuansing adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia. Wilayah kabupaten yang dulu dikenal sebagai Rantau Kuantan atau daerah perantauan orang-orang Minangkabau ini dilintasi oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Kuantan (kini dikenal Sungai Indragiri) dan Sungai Singingi. Kedua sungai tersebut memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kuantan seperti untuk minum, mandi, dan sebagainya. Selain itu, sungai tersebut juga berfungsi sebagai sarana transportasi untuk menghubungkan satu desa dengan desa yang lain (Anonim, wikipedia).

Dapat dipastikan bahwa perahu sungai merupakan sarana transportasi air yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat Kuantan, khususnya mereka yang bermukim di kawasan tepi sungai. Salah satu jenis dari perahu sungai tersebut adalah jalur. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Ketiga (2005:454), kata jalur diartikan sebagai sampan kecil yang dibuat dari sebatang pohon. Sementara itu, dalam dialek Melayu masyarakat Kuatan kata jalur diartikan sebagai perahu yang memiliki panjang kurang lebih 25 hingga 30 meter dan lebar kurang lebih 1 hingga 1,5 meter. Jalur dalam pengertian masyarakat Kuantan ini dibuat dari sebatang pohon kayu gelondongan tanpa dibelah-belah atau dipotong-potong atau pun disambung (Suwardi, MS., 1984/1985:32).

Pengertian jalur yang dimaksud oleh KBBI dan masyarakat Kuantan di atas memang tampak bertolak belakang. Meski demikian, kedua pengertian tersebut memiliki keterkaitan jika dilihat dari sejarah perkembangan jalur itu sendiri. Sejak awal abad ke-17 M, saat transportasi darat belum berkembang, perahu merupakan alat transportasi utama bagi masyarakat desa di Rantau Kuatan, terutama bagi mereka yang tinggal di sepanjang Sungai Kuantan antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu hingga Kecamatan Cerenti di hilir.

Pada awalnya, jenis perahu yang digunakan oleh masyarakat Kuatan disebut dengan perahu kenek yang berukuran kecil dengan panjang sekitar 2-2,5 meter, lebar 60 cm, dan tebal 2 cm. Perahu yang hanya memuat satu orang ini biasa digunakan sebagai alat transportasi pribadi ke ladang untuk memotong/menakik getah atau karet. Selain itu, perahu ini juga digunakan untuk memancing, menambai (menangkap ikan dengan semacam jaring berukuran kecil), dan mengguntang (sejenis alat penangkap ikan dengan pancing yang dikaitkan pada apung-apung (Suwardi, 1984/1985:34-36).

Dalam perkembangan selanjutnya, masyarakat Kuantan menciptakan perahu yang ukurannya lebih besar yang disebut dengan perahu muatan berompek, yaitu perahu yang dapat memuat empat orang. Jenis perahu ini biasa digunakan untuk menjala ikan maupun mengangkut padi dan hasil tanaman lainnya. Selanjutnya, mereka menciptakan lagi sebuah jenis perahu yang disebut dengan perahu tambang. Tambang adalah bahasa daerah setempat yang berarti ongkos atau biaya. Jadi, perahu yang mampu memuat sekitar 8 hingga 15 orang ini digunakan sebagai alat transportasi umum oleh masyarakat setempat dari satu desa ke desa yang letaknya saling berseberangan di tepi sungai.

Setelah itu, masyarakat Kuantan menciptakan perahu yang disebut dengan perahu godang¸ yang panjangnya sekitar 15-20 meter dan lebar 1-1,5 meter. Perahu yang daya angkutnya mencapai satu ton ini digunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti karet, kelapa, tebu, dan barang-barang dagangan (seperti beras, gula, tepung). Perahu inilah kemudian yang menjadi cikal bakal terciptanya perahu yang ukurannya lebih besar, yang kini lazim dikenal dengan nama jalur. Perahu jenis ini memiliki ukuran panjang sekitar 25-30 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter.

Tidak diketahui secara pasti kapan jalur ini diciptakan. Namun, dapat dipastikan bahwa jalur mulai poluler di kalangan masyarakat Kuantan sekitar awal ke-19 M. (Suwardi, 1984/1985:27). Dari segi bentuk dan ukuran, jalur ini lebih halus, ramping, dan lebih panjang dibandingkan dengan perahu godang. Perahu tradisional masyarakat Kuantan ini juga dilengkapi dengan haluan dan kemudi yang panjang, serta selembayung yang berukir untuk memberi keindahan pada jalur tersebut. Selain sebagai mahkota sebuah jalur, selembayung berfungsi sebagai tempat pegangan bagi tukang onjoi (pembuat irama untuk menggerakkan jalur).

Bentuk jalur semakin berkembang dengan dilengkapi berbagai bentuk ukiran seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung. Selain itu, jalur juga dilengkapi dengan payung, tali-temali, selendang, dan gulang-gulang (tiang tengah). Perubahan tersebut menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, tetapi juga untuk menunjukkan identitas sosial bagi yang mengendarainya. Jalur yang berhias ini hanya dikendarai oleh para penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk (Anonim, wikipedia). 

Pada masa berikutnya, fungsi jalur terus berkembang. Sekitar tahun 1903, perahu tradisional masyarakat Kuantan ini mulai digunakan sebagai sarana lomba dalam pesta rakyat yang lazim dikenal sebagai pacu jalur. Pada mulanya, jalur digunakan untuk berpacu dalam merayakan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri, atau Tahun Baru 1 Muharam. Seiring kedatangan Kolonial Belanda sekitar tahun 1905, tradisi pacu jalur dimanfaatkan untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina pada setiap tanggal 31 Agustus. Pesta yang meriah tersebut oleh masyarakat Kuantan dianggap sebagai datangnya tahun baru sehingga mereka menamakannya TAMBARU, yaitu singkatan dari Tahun Baru (Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1988).

Ketika penjajah Jepang masuk ke wilayah Indonesia, termasuk daerah Kuantan, tradisi pacu jalur sempat terhenti. Setelah masa kemerdekaan, tradisi ini kembali diadakan secara rutin untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus) dan biasanya diselenggarakan pada tanggal 23-26 Agustus. Hingga saat ini, tradisi pacu jalur dikemas menjadi acara festival untuk menarik minat para para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Festival yang meriah ini kemudian ditetapkan sebagai Kalender Pariwisata Nasional (Irfan Afifi, 2008). 

2. Bahan dan Peralatan

Bahan baku utama untuk membuat jalur adalah kayu gelondongan. Kayu tersebut diambil dari jenis kayu banio, kulim, dan kuyiang yang memiliki panjang sekitar 20-30 meter dengan garis tengah 1-2 meter. Ketiga jenis kayu ini dipilih karena dianggap kuat dan tahan terhadap air, serta dapat dapat diperoleh di hutan-hutan walaupun jaraknya cukup jauh dari permukiman penduduk, yakni sekitar 10-20 km. (Suwardi, 1984/1985:59).

Adapun jenis-jenis alat yang biasa digunakan untuk membuat jalur adalah sebagai berikut:

  • baliung dan kampak, yaitu digunakan untuk menebang dan memotong kayu. Ada pula jenis baliung yang khusus digunakan untuk men-caruk atau mengeruk bagian-bagian bakal jalur
  • benang, yaitu digunakan untuk mengukur panjang dan lebar kayu sesuai dengan ukuran bagian-bagian jalur yang diperlukan
  • bar atau bor, yaitu digunakan untuk melubangi badan jalur
  • tali rotan, yaitu digunakan untuk menghela atau menarik jalur ke kampung atau desa
  • galangan atau kayu bulat, yaitu berfungsi sebagai landasan untuk dilalui jalur pada saat ditarik ke desa.

3. Proses Pembuatan Jalur

Proses pembuatan jalur tergolong rumit, terutama jika jalur tersebut akan dijadikan sebagai perahu lomba pada festival pacu jalur. Selain membutuhkan proses yang panjang, hampir setiap proses disertai dengan suatu upacara khusus. Adapun proses tersebut adalah sebagai berikut (Suwardi, 1984/1985: 57-69):

  • Rampek kampung

Proses pembuatan sebuah jalur biasanya diawali dengan rampek kampung atau musyawarah desa yang dihadiri oleh para cerdik pandai, dukun (pawang), pemuka adat, para pemuda, dan kaum ibu di Balai Desa. Musyawarah ini dipimpin langsung oleh seorang pemuka (kepala desa) atau pemuka adat.

Dalam musyawarah tersebut dibicarakan berbagai hal seperti waktu yang tepat untuk mencari kayu, daerah atau hutan mana yang cocok untuk dijadikan tempat mencari kayu, dan waktu yang tepat untuk berangkat. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, setiap tempat atau benda senantiasa dikuasai oleh kekuatan gaib. Oleh karena itu, peran pawang atau dukun sangatlah dibutuhkan karena ia dianggap mengetahui keadaan tersebut. Jika dalam pertemuan tersebut diperoleh kata sepakat, maka tahap selanjutnya dapat dilaksanakan.

  • Mencari kayu 

Jenis kayu yang digunakan untuk membuat jalur bukanlah kayu sembarangan, melainkan kayu yang memiliki nilai spiritual tinggi atau dalam istilah masyarakat tempat harus mempunyai mambang (sejenis makhluk halus). Oleh karena itu, sebelum mencari kayu ke hutan, sang dukun terlebih dahulu melakukan upacara khusus di rumahnya atau di rumah kepala desa. Ada dua pilihan upacara yang bisa dilakukan oleh seorang dukun, yaitu upacara babalian atau upacara batonuang.

Pertama, upacara babalian, yaitu suatu upacara tari-tarian yang dilakukan oleh sang dukun dengan iringan musik rebab (sejenis alat gesek). Kedua, upacara batouang, yaitu suatu upacara yang khusus yang dilakukan oleh dukun untuk mencari kayu dengan cara menggunakan kekuatan magis dan mantra-mantra. Dengan cara tersebut, seorang dukun dapat menemukan tempat atau lokasi hutan yang cocok untuk mencari kayu yang diinginkan. Dukun juga dapat mengetahui ciri-ciri atau situasi tempat atau lokasi hutan yang akan dituju sehingga mudah untuk menemukannya pada saat pencarian kayu berlangsung.

  • Menobang kayu

Sebelum acara penebangan kayu dimulai, terlebih dahulu dilakukan sebuah upacara khusus yang biasa disebut upacara menyemah, yaitu menyerahkan semah (sesajen) kepada mambang yang diyakini sebagai penunggu kayu tersebut. Upacara ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti menimbulkan bencana bagi tukang dan orang-orang yang menyaksikan acara penebangan kayu. Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun dengan beberapa rangkaian kegiatan seperti penyembelihan ayam hitam jamui (putih suci), pembakaran kemenyan, tepung tawar, dan sebagainya.

Setelah dukun membaca mantra-mantra, para tukang mulai menebang dengan mengayunkan baliung sebanyak tiga kali. Serpihan kayu atau biasa disebut sarok ba-an tuo yang jatuh dari tebasan pertama akan diambil dan disimpan oleh dukun untuk dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan proses selanjutnya. Menurut keyakinan masyarakat, melalui sarok ba-an tuo tersebut seorang dukun dapat mengetahui perkembangan jalur yang akan dibuat. Selain itu, serpihan kayu tersebut juga dapat digunakan sebagai obat jika di antara tukang pembuat jalur ada yang sakit.

Setelah kayu tersebut mulai rebah, dukun segera melemparkan telur ayam ke pohon kayu untuk memberikan makanan kepada mambang. Telur ayam tersebut merupakan pertanda hubungan pertama mereka dengan mambang. Menurut keyakinan dukun, mambang tersebut akan terus mengikuti kayu itu ke mana dibawa. Oleh karena itu, upacara menyemah ini menjadi titik tolak kerja sama antara dukung mambang dengan maksud meminta pertolongan hingga pembuatan jalur selesai, bahkan hingga jalur digunakan.

  • Mengabung

Mengabung berarti memotong kayu pada bagian ujung. Setelah kayu rebah, para tukang segera memperkirakan ukuran panjang kayu yang dibutuhkan untuk sebuah jalur. Selain pekerjaan memotong, pada proses ini juga dilakukan kegiatan membersihkan keseluruhan kayu yang akan dibentuk dan membersihkan kayu-kayu yang ada di sekitarnya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar.

  • Melepas benang

Melepas benang berarti melakukan kegiatan pengukuran dengan menggunakan benang. Dengan benang ini, para tukang dapat memperhitungkan perbandingan ukuran pada tiap-tiap bagian jalur yang akan dibuat. Setiap tukang mempunyai bagian masing-masing.  Proses pengukuran ini dipimpin oleh kepala tukang sehingga pekerjaan dapat berjalan menurut ukuran yang telah ditentukan.

  • Pendadaan

Pendadaan berasal dari kata dada. Jadi, pendadaan dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan membuat bagian dada jalur. Bagian kayu yang biasa dibuat dada jalur adalah bagian atasnya. Proses pendadaan dilakukan dengan cara meratakan bagian atas kayu yang memanjang mulai dari bagian pangkal sampai ke bagian ujung. Meskipun dikerjakan secara bersama-sama oleh seluruh tukang, proses pendadaan ini membutuhkan waktu tiga hari. Oleh karena itu, para pekerja dibekali berbagai macam minuman dan makanan, baik makanan berat maupun makan ringan. Untuk melindungi diri dari hujan dan terik matahari pada saat bekerja, mereka membuat dangau (pondok) yang terbuat dari kayu dengan atap daun-daun secukupnya.

  • Mencaruk

Mencaruk berarti mengeruk bagian kayu yang telah diratakan. Pekerjaan ini dimaksudkan untuk melubangi kayu secara seimbang dengan ketebalan yang sama di masing-masing bagiannya. Kegiatan mencaruk memerlukan ketelitian dan waktu yang cukup lama yaitu 3-7 hari. Oleh karena itu, pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh tukang secara bersama-sama dengan menggunakan baliung khusus.

  • Menggiling

Yang dimaksud dengan menggiling adalah melicinkan bagian luar atau pinggir bakal jalur. Tujuannya adalah untuk membentuk bakal jalur menjadi ramping seperti perahu. Oleh karena itu, pekerjaan ini harus dilakukan dengan ekstra hati-hati dan pelan-pelan.

  • Manggaliak

Manggaliak pada proses ini diartikan sebagai menelungkupkan jalur. Pekerjaan ini tergolong berat dan membutuhkan tenaga yang banyak. Oleh karena itu, para tukang harus meminta bantuan kepada penduduk desa. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada hari libur agar semua lapisan masyarakat dapat ikut berpartisipasi. Kaum laki-laki laki biasanya membantu para tukang dalam pekerjaan manggaliak, sedangkan kaum ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan. Pada proses ini, tukang tidak hanya menelungkupkan jalur, tetapi juga melepas tali kedua yaitu mengukur dan meluruskan bentuk jalur.  

  • Membuat perut

Kegiatan membuat perut jalur biasanya dilakukan setelah jalur ditelungkupkan. Pekerjaan ini tergolong rumit dan memerlukan keahlian khusus karena perut jalur harus dibentuk melengkung dari bagian haluan sampai ke kemudi dengan seimbang. Demikian pula kedua sisi atau pinggir jalur harus dibuat secara seimbang. Selain itu, seorang tukang juga harus dapat memperkirakan ukuran tebal pinggir jalur secara keseluruhan.

  • Membuat lubang kakok

Lubang kakok adalah lubang yang dibuat pada perut jalur dengan menggunakan alat bor. Lubang ini berfungsi sebagai pengontrol bagi tukang agar tidak meleset pada saat mengukur ketebalan perut jalur. Selain itu, lubang kakok juga berfungsi untuk mencegah pecahnya jalur pada saat dipanaskan atau diasap. Lubang-lubang ini dibuat pada bagian perut jalur secara memanjang dengan jarak 50 cm dan secara melintang dengan jarak 15 cm. Lubang-lubang kakok tersebut nantinya akan ditutup kembali dengan kayu keras yang ukurannya pas dengan lubang tersebut. Kayu penutup itulah yang disebut dengan istilah kakok.

  • Manggaliak

Pengertian manggaliak pada proses ini adalah menelentangkan jalur. Pekerjaan ini tidak seberat pekerjaan menelungkupkan jalur yang memerlukan tenaga banyak. Menelentangkan jalur dapat dilakukan sendiri oleh para tukang tanpa harus meminta bantuan tenaga kepada penduduk karena bentuk bakal jalur sudah agak ramping dan ringan.

  • Menggantung (membuat) timbuku

Timbuku adalah bendulan-bendulan yang berfungsi sebagai landasan panggar atau tempat duduk. Timbuku ini dibuat sejajar di antara kedua sisi perut jalur secara membujur dengan jarak masing-masing timbuku sekitar 60 cm. Pada proses ini, para tukang juga sekaligus membersihkan atau menghaluskan perut jalur secara merata dan seimbang.

  • Membentuk haluan dan kemudi

Pada proses ini, bagian yang akan dibuat jalur diukur dengan tepat. Ukuran haluan ini berkisar antara 1-1,5 meter. Setelah itu, kemudi dibentuk dengan ukuran kira-kira 2 meter.

  • Menghela (menarik) jalur

Setelah haluan dan kemudi terbentuk, maka sebuah jalur telah dianggap selesai setengah jadi dan siap untuk dibawa pulang ke desa. Pekerjaan ini memerlukan banyak tenaga manusia dan waktu yang cukup lama, yaitu bisa mencapai lima atau enam minggu. Jalur setengah jadi tersebut harus ditarik secara beramai-ramai dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam sebuah upacara yang disebut upacara maelo jalur (menarik jalur).  

Alat yang digunakan untuk menarik jalur adalah tali pengikat dari rotan yang panjang dan kuat. Tali rotan tersebut diikatkan pada telinga jalur di bagian depan untuk ditarik oleh orang banyak. Selain itu, ada juga tali rotan yang diikatkan pada bagian belakang jalur yang berfungsi sebagai pengontrol untuk meluruskan jalur pada saat ditarik. Agar jalur dapat ditarik dengan mudah, pada bagian bawah jalur diberi kayu galangan (kayu bulat) yaitu berfungsi sebagai landasan yang akan dilalui jalur tersebut.

  • Menghaluskan

Setelah sampai di desa, jalur kemudian dihaluskan. Ada dua pekerjaan yang dilakukan dalam proses ini yaitu menghaluskan bagian-bagian jalur yang masih kasar dan memperbaiki ukuran bagian-bagian jalur yang belum tepat. Selanjutnya, jalur tersebut dibentuk secara keseluruhan agar menjadi lebih ramping dan menarik. Demikian pula bentuk keindahan pada jalur juga mulai diperhatikan secara teliti.

  • Malayur jalur

Malayur adalah proses pembakaran atau pengasapan jalur. Proses ini dimulai dari menaikkan jalur ke atas rampaian (tempat pengasapan) setinggi 1,20 meter. Setelah berada di atas rampaian dalam posisi tertelungkup, jalur kemudian diasap dengan membakar kayu di bawahnya. Proses pembakaran ini biasanya berlangsung kurang lebih 5 jam, yang dimulai dari pukul 08.00 pagi. Setelah itu, jalur diterlentangkan dan sekaligus nyala api dikurangi selama tiga jam. Setelah jalur mulai dingin, tukang naik ke atas jalur untuk memasang panggar yang terbuat dari kayu keras dan berkualitas. Pemasangan panggar ini membutuhkan waktu sekitar dua jam yang biasanya dimulai pada pukul 06.00 pagi.

Setelah pemasangan panggar selesai, jalur segera diturunkan dari rampaian dan diletakkan pada tanah yang bersih dan tidak basah atau dalam istilah setempat disebut tanah ketikar kering. Selanjutnya, ular-ular atau tempat duduk anak pacu dari batang pinang yang dibelah-belah selebar 10 cm segera dipasang. Agar jalur dapat diopersikan, maka perlu juga dibuatkan perlengkapan seperti pengayuah (dayung), galah, penimbo (alat yang terbuat dari pangkal pelepah daun pinang untuk menimba air yang masuk ke dalam jalur), selembayung, dan sebagainya. Setelah semua bagian dan perlengkapan jalur selesai, maka selanjutnya jalur siap diturunkan ke sungai untuk dicoba, dipacukan. Proses penurunan jalur ke sungai disebut dengan istilah jalur turun mandi, sedangkan proses pertama kali jalur dipacukan disebut dengan istilah pacu godok.  

4. Ragam Hias

Sebagai hasil karya seni, jalur dilengkapi dengan ragam hias, terutama pada bagian selembayung jalur. Selain berfungsi sebagai tempat berpegang tukang onjoi, selembayung merupakan satu kesatuan bentuk sebuah jalur yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, selembayung ini harus diberi hiasan yang berukiran untuk memberikan keindahan pada jalur. Motif-motif ukiran yang dibuat pada selembayung biasanya ada hubungannya dengan nama jalur itu. Misalnya, jika sebuah jalur bernama Naga Sakti, maka motif ukiran pada selembayung-nya bermotif naga sakti (Suwardi, 1984/1985:41).

Pada masa jalur mulai berkembang, motif-motif ukiran yang banyak digunakan di antaranya motif bunga, daun, dan binatang. Misalnya, motif kaluak paku (tumbuhan pakis), tales (daun keladi), ular naga, burung layang, dan sebagainya. Sementara itu, motif yang banyak digunakan pada masa berikutnya lebih banyak menggunakan motif benda-benda modern seperti pesawat terbang, roket, dan sebagainya (Suwardi, 1984/1985:53-54).

5. Nilai-nilai

Jalur bukan sekadar alat transportasi atau perahu lomba, tetapi lebih dari itu, ia merupakan warisan budaya nenek moyang masyarakat Kuantan Singingi yang sarat dengan nilai-nilai- Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah nilai adaptasi, kedekatan dengan alam, nilai ekonomi, sosial, seni, religius, dan pariwisata.

  • Nilai adaptasi. Kehadiran jalur merupakan hasil dari adaptasi masyarakat Kuantan terhadap kondisi alam sekitar yang dilalui oleh dua aliran sungai besar. Kondisi demikian memberikan inspirasi atau imajinasi bagi mereka untuk menciptakan jalur sebagai alat transportasi sungai.
  • Nilai kedekatan dengan alam. Masyarakat Kuantan dikenal memiliki kedekatan dengan alam. Hal ini terlihat dari penggunaan bahan-bahan pembuatan jalur yang ramah terhadap lingkungan karena terbuat dari bahan kayu alami yang banyak tumbuh di hutan-hutan di daerah tersebut.
  • Nilai ekonomi. Jalur merupakan salah satu alat transportasi yang sangat vital dalam kehidupan ekonomi masyarakat Kuantan. Jalur tersebut digunakan sebagai alat transportasi untuk mencari ikan di sungai dan pergi ke ladang, serta sebagai sarana pengangkutan untuk mendistribusikan berbagai jenis hasil bumi. Dengan demikian, keberadaan jalur tersebut menjadi salah satu faktor penting peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat Kuantan Singingi di Riau.
  • Nilai seni. Jalur merupakan hasil kreasi masyarakat Kuantan yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Melalui sentuhan tangan-tangan terampil masyarakat tersebut, kayu gelondongan yang panjang dan besar dapat “disulap” menjadi sebuah jalur yang ramping dan indah. Nilai estitika pada jalur juga terlihat jelas pada selembayung-nya yang diberi beragam motif ukiran dengan teknik ukir yang tinggi.
  • Nilai sosial. Wujud dari nilai sosial terlihat pada proses pembuatan jalur. Mulai dari proses awal hingga akhir senantiasa dilaksanakan secara bergotong-royong dan suka rela. Segala tenaga dan biaya yang diperlukan untuk membuat sebuah jalur menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat dalam suatu desa.    
  • Nilai pariwisata. Kehadiran jalur menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Kuantan Singingi. Jalur ini menjadi salah satu sarana lomba dalam festival yang dikenal dengan pacu jalur. Festival tersebut kini menjadi salah satu even wisata kebanggaan Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.

6. Penutup

Penjelasan di atas memberi gambaran kepada kita bahwa masyarakat Kuantan Singingi memiliki banyak kearifan lokal dalam menyikapi kondisi alam di sekitarnya. Kehadiran jalur sebagai sarana transportasi merupakan bukti dari kearifan tersebut. Oleh karena itu, hasil kreasi masyarakat Kuantan ini perlu dilestarikan agar tetap eksis hingga akhir zaman. Yang lebih penting dari itu adalah menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, dan kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

(Samsuni/bdy/13/09-10)

Referensi:

Suwardi, MS., 1984/1985. Pacu jalur dan upacara pelengkapnya. Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Jakarta, Depateemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim Koordinasi Siaran Dierktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka ragam khasanah budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Irfan Afifi, 2008. “Pestival Pacu Jalur di Kuantan Singingi,” [Online], tersedia di  (http://wisatamelayu.com/id/object/62/34/festival-pacu-jalur-di-kuantan-singingi/&nav=geo), [diakses pada tanggal 27 September 2010].

Anonim. “Kabupaten Kuantan Singingi”, [Online], tersedia di  (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kuantan_Singingi), [diakses pada tanggal 27 September 2010].

Sumber foto: http://wisatamelayu.com/id/object/62/34/festival-pacu-jalur-di-kuantan-singingi/&nav=geo

Dibaca : 23.475 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password