Minggu, 20 Agustus 2017   |   Isnain, 27 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 10.285
Hari ini : 92.970
Kemarin : 26.357
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.021.749
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Lukah Gilo: Tari Magis Orang Minangkabau, Sumatera Barat

Lukah Gilo adalah sebuah tari magis yang disebabkan oleh gerakan lukah, yakni sebuah alat mencari ikan yang diberi mantra.

1. Asal-usul

Suku Minangkabau adalah suku terbesar yang hidup di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) (Koentjaraningrat, 1970). Suku ini memiliki sebuah kesenian tari tradisional bernuansa magis bernama lukah gilo. Di Provinsi Sumbar, kesenian lukah gilo masih sering digelar, salah satunya dalam festival budaya. Lukah gilo selalu menarik perhatian pengunjung karena sisi magisnya. Masyarakat menganggap kesenian ini sangat unik dan sakral, karena memadukan keindahan seni tari dan kekuatan magis.

Istilah lukah gilo berasal dari dua kata, lukah dan gilo. Lukah adalah perangkap ikan atau belut yang terbuat dari anyaman lidi atau rotan yang diletakkan di aliran sungai. Sementara itu, gilo adalah bahasa Minang untuk kata gila. Dengan demikian, lukah gilo merujuk pada lukah yang bergerak liar seperti orang gila karena diberi mantra oleh seorang kulipah atau pawang. Kata lukah dalam kesenian ini juga digunakan untuk menyebut penarinya (Nuryanah Padang, 2010).

Kesenian tari lukah gilo diduga muncul saat Raja Adhityawarman menguasai pulau Sumatra. Pada masa itu, dalam upacara ritual-ritual kerajaan, raja selalu menggunakan kekuatan-kekuatan animisme dan dinamisme. Pada perkembangannya, ritual itu menjadi sebuah kesenian rakyat yang menghibur dan disenangi, seperti contohnya lukah gilo ini. Pada masa kaum Paderi berkuasa, kesenian ini sempat hilang, akan tetapi hingga kini sebagian masyarakat masih berusaha merawat dan menggelarnya (Nuryanah Padang, 2010).

Sisi keunikan dan kesakralan tari lukah gilo terletak pada gerakan lukah akibat masuknya jin dalam lukah tersebut, setelah diberi mantra oleh kulipah. Selain itu, tari ini akan semakin menarik untuk ditonton jika ada penonton yang kesurupan jin yang masuk dalam lukah gilo. Lukah yang dibentuk seperti boneka akan bergerak liar mengikuti irama musik tradisional Sumatera Barat. Beberapa orang mencoba memegang dan menahan gerakan lukah tersebut, namun mereka tak kuasa lalu ikut berjoget. Gerakan lukah baru berhenti apabila kulipah menarik kembali mantranya.

Kesenian lukah gilo ini mirip dengan permainan jailangkung di Jawa yang juga berkembang di Sumatra. Sehubungan dengan ini, dapat dipahami jika terdapat kesamaan persepsi budaya dalam kehidupan manusia (Alfian, 1985). Tradisi kebudayaan ini menambah kazhanah kekayaan budaya nusantara dan pola hidup orang Minang (Amir M.S, 1997).

Dalam pertunjukannya, tari lukah gilo selalu dilengkapi dengan beberapa syarat, antara lain menghidangkan sesaji berupa makanan dan minuman, ramuan jeruk, kembang, darah ayam, dupa, dan sebagainya. Hal ini diperlukan oleh kulipah untuk memanggil jin. Selama pertunjukkannya, lukah gilo juga akan diiringi musik dan nyanyian tradisional Minang (Nuryanah Padang, 2010).

2. Lukah (penari) dan Busananya

Pada awal kemunculannya, kesenian lukah gilo tidak diiringi penari. Mereka juga tidak dipakaikan busana khusus. Mantra yang dibaca kulipah pun, sekarang ada yang dirahasiakan, diucapkan terbuka, dan ada pula yang didendangkan. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya, lukah gilo dikemas dengan memadukan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat Minang. Sekarang ini, lukah gilo ditarikan oleh orang tertentu dengan busana khusus. Dari sinilah lukah gilo dikenal sebagai bagian dari kesenian tari.

Tari lukah gilo diperankan oleh beberapa orang yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu lukah (penari) dan kulipah (dukun atau pawang). Pembagian peran ini tergantung pada acaranya, apabila diadakan untuk acara adat, maka lukah berjumlah dua atau tiga orang dan satu kulipah. Namun apabila untuk pertunjukan seni atau hiburan, lukah berjumlah dua atau lima orang dan satu kulipah.

Semua lukah dan kulipah di atas harus berjenis kelamin laki-laki, karena hanya kaum lelaki yang dianggap memiliki tenaga kuat untuk mengendalikan gerakan lukah gilo. Dalam tarian lukah gilo, peran kulipah lebih penting daripada lukah. Hal ini dikarenakan lukah gilo hanya dapat dikendalikan oleh mantra kulipah. Dengan mantranya, kulipah dapat menentukan apakah tari lukah gilo dapat diteruskan atau dihentikan. Kulipah juga berperan menyembuhkan dan menyadarkan para lukah dan penonton yang tiba-tiba kesurupan.

Para lukah umumnya akan berbusana adat pendekar atau pesilat Minang. Hal ini ditujukan agar lukah dapat bergerak bebas, karena gerakan yang muncul dari lukah sangat liar seperti pendekar. Saat ini, meskipun bersifat magis (tak terlihat), gerakan-gerakan yang lebih estetis dapat dihasilkan dari lukah gilo, yaitu dengan cara memasukkan jin yang dapat menari. Ketika hal ini terjadi, menjadikan lukah gilo semakin enak untuk ditonton, karena gerakan lukah gilo harmonis dengan tabuhan musik pengiring (tidak terlalu liar). Dan saat ini, lukah gilo semakin digemari dan digelar dalam upacara pengangkatan penghulu, perhelatan Nagari, dan upacara perkawinan.

3. Musik Pengiring

Seperti halnya penari dan busananya, lukah gilo pada awalnya juga tidak disertai dengan unsur seni lain, seperti musik, vokal, atau instrumen. Namun pada perkembangan selanjutnya, musik tradisional Minang dimasukkan menjadi pengiring tari lukah gilo. Penambahan unsur tersebut dikarenakan tujuan pertunjukan lukah gilo tidak lagi hanya untuk hal-hal yang berhubungan dengan magis semata, akan tetapi juga untuk hiburan (bahkan sisi ini yang sekarang sangat ditonjolkan).

Musik tradisional Minang akan dimainkan sepanjang tari dan baru akan berhenti jika penari sudah lelah lalu dihentikan sesuai perintah kulipah. Musik akan dipukul dengan menyesuaikan gerakan yang muncul dari lukah gilo. Dalam kondisi ini, tidak jarang terkadang lukah (bahkan juga terkadang penonton) mengalami kesurupan (trance). Oleh karena itu, peran kulipah sangat berat karena juga harus mengobati mereka yang kesurupan.

4. Waktu dan Proses Pementasan Tari

Lukah gilo biasanya dipentaskan pada malam hari. Menurut kulipah, waktu malam hari dianggap tepat agar mudah memanggil jin yang akan dimasukkan ke dalam lukah gilo. Waktu malam hari ini pula yang menyebabkan pertunjukan lukah gilo terasa semakin magis dan sakral.

Proses pementasan tari lukah gilo secara umum terbagi menjadi tiga bagian, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup.

  • Persiapan

Pada tahap ini yang harus dilakukan adalah mempersiapkan lukah yang akan digunakan untuk tarian. Selanjutnya lukah dibentuk seperti boneka agar menyerupai manusia. Selain itu, menyiapkan pakaian untuk para lukah dan kulipah, alat musik yang akan mengiringi pertunjukan tari, serta beberapa sesaji berupa makanan dan minuman, ramuan jeruk, kembang, darah ayam, dan dupa. Sesaji-sesaji ini ditujukan sebagai sarana untuk memanggil jin.

Semua persiapan ini dikerjakan oleh panitia atau tuan rumah yang mengundang. Untuk lukah, pakaian, dan musik pengiring, biasanya akan diperoleh dari menyewa ke jasa penyewa atau sanggar seni tari. Sementara itu, untuk sesaji akan dibuat sendiri sesuai arahan kulipah.

  • Pelaksanaan

Setelah semua persiapan tersedia, pelaksanaan tari lukah gilo segera dilaksanakan. Pertama-tama para lukah memegang lukah dan berkumpul di tengah tanah lapang. Selanjutnya kulipah mulai membacakan mantra di depan lukah gilo. Sejenak kemudian lukah gilo akan bergerak liar dan seketika itu pula para lukah akan menahan dan mengikuti gerak lukah gilo.

Lukah gilo pada awalnya akan bergerak liar, namun lama kelamaan akan mengikuti iringan musik yang berbunyi. Gerakan lukah gilo semakin berirama dan enak untuk dinikmati ketika dapat menyesuaikan dengan iringan musik. Gerakan lukah gilo baru akan berhenti apabila kulipah merasa para lukah sudah kelelahan. Para lukah biasanya akan bertahan selama lebih kurang lima sampai sepuluh menit.

  • penutup

Tari lukah gilo biasanya ditutup dengan mengembalikan para jin ke alamnya. Lukah gilo pun akan berhenti bergerak dan setelah itu biasanya para lukah akan merasa lemas.

5. Nilai-nilai

Pertunjukan tari lukah gilo memuat nilai-nilai tertentu bagi masyarakat Minang, antara lain:

  • Nilai seni. nilai ini tercermin dari gerakan tari yang muncul dari jin yang masuk dalam lukah gilo serta musik yang mengiringinya. Jin yang masuk ke lukah gilo terkadang sangat pandai menari, sehingga penonton dapat belajar bagaimana menari yang baik. Pemandangan ini menjadikan pertunjukan lukah gilo semakin menarik untuk ditonton. Para penonton juga kagum terhadap kulipah yang pandai memanggil jin tersebut.
  • Nilai spiritual. umumnya orang akan melihat tari lukah gilo bertentangan dengan agama, karena adanya upaya memanggil jin. Akan tetapi sebagian masyarakat Minang menganggap bahwa tari ini justru menambah nilai spiritual mereka, karena sejatinya jin tersebut tetap berada di bawah kendali atau kuasa Tuhan melalui peran kulipah. Selain itu, biasanya setelah tari lukah gilo usai, para orangtua Nagari akan memberi nasehat kepada masyarakat agar mereka tetap beriman kepada Tuhan, bukan kepada jin.   
  • Nilai pelestarian budaya. Tari lukah gilo dipahami masyarakat Minang bukan hanya sekedar pertunjukan hiburan semata. Lebih daripada itu, tari ini dianggap sebagai upaya untuk melestarikan budaya nenek moyang, baik dari sisi tarian, musik, pakaian, dan ide penciptaannya.   

6. Penutup

Tari lukah gilo telah ada sejak jaman dulu. Kenyataan ini semakin memperkaya dan memopulerkan kebudayaan Minangkabau, selain juga budaya pantun dan etos kerja mereka. Terlepas dari perbedaaan pandangan masyarakat Minang saat ini tentang kesenian tari lukah gilo, dalam konteks pelestarian budaya tradisi, maka tari lukah gilo penting untuk terus dilestarikan dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Yusuf Efendi (bdy/30/10-10).

Referensi

Amir M.S. 1997, Pola dan tujuan hidup orang Minang. Jakarta : PT mutiara Sumber widya.

Alfian, 1985. Persepsi manusia tentang kebudayaan. Jakarta : Gramedia

Koentjaranigrat, 1970. Manusia dan kebudayaan Indonesia. Djakarta: Djambatan.

Nurlyana Padang. 2010. Nishi Sumatora No Magek Shakai Ni Okeru Lukah Gilo Odori. Universitas Sumatra Utara, fakultas sastra, program pendidikan non gelar sastra budaya dalam bidang studi bahasa Jepang.

Desfiarni. 2004. Tari lukah gilo sebagai rekaman budaya Minangkabau pra Islam: dari magis ke seni pertunjukan sekuler (online). Terdapat di http://semuasenisini.multiply.com. (Diunduh tanggal 4 Oktober 2010).

Ferry. 2009. Tari lukah gilo. perjalanan dari ritual masyarakat menjadi pertunjukan seni sekuler (online). Terdapat di http://ferrygrunge.blogspot.com (Diunduh tanggal 1 Oktober 2010).

Dibaca : 14.947 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password