Sabtu, 24 Juni 2017   |   Ahad, 29 Ramadhan 1438 H
Pengunjung Online : 3.678
Hari ini : 19.068
Kemarin : 39.176
Minggu kemarin : 557.755
Bulan kemarin : 7.570.538
Anda pengunjung ke 102.684.030
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Langa, Peralatan Pengolahan Tanah Tradisional Ureung Aceh


Langa atau disebut juga Langai merupakan istilah lokal masyarakat Aceh untuk menyebut bajak. Peralatan tradisional ini digunakan para petani Aceh untuk menggemburkan lahan pertanian agar mudah ditanami. Langa terdiri dari beberapa bagian dan terbuat dari kayu. Pengoperasian peralatan tersebut menggunakan tenaga sapi atau kerbau.

1. Asal-usul

Membajak (me’ue), merupakan pekerjaan utama dari rangkaian pengolahan lahan pertanian sebelum ditanami. Orang yang melakukan pekerjaan membajak disebut ureung me’ue. Tenaga yang digunakan untuk menarik langa berbeda antara lahan yang mengandung banyak air dan lahan yang kering. Para petani menggunakan kerbau untuk lahan pertanian yang banyak mengandung air atau daerah rawa-rawa yang biasanya terdapat di dataran rendah. Sedangkan untuk lahan yang mengandung sedikit air, yang biasanya menjadi ciri lahan pertanian dataran tinggi, para petani menggunakan sapi (Fadjria Novari Manan, 1985/1986: 15).

Berdasarkan tinggi dan rendahnya, lahan pertanian tanaman padi di Aceh terbagi menjadi dua jenis, yaitu pertanian padi sawah dan pertanian ladang. Pertanian padi sawah mendominasi lahan pertanian yang terletak di dataran rendah. Sedangkan pertanian padi ladang biasanya merupakan ciri khas pertanian di daerah dataran tinggi. Lahan pertanian padi sawah terutama berada di daerah Kabupaten Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara. Sedangkan lahan untuk pertanian padi ladang terutama berada di Aceh Timur, Aceh Besar, dan Aceh Barat (Dinas Pertanian Rakyat Daerah Istimewa Aceh, 1976: 11-12).

Pertanian tradisional tersebut diterapkan oleh sebagian besar masyarakat petani Aceh, misalnya masyarakat Aceh Besar. Pola pertanian tradisional merupakan warisan nenek moyang dan telah dilakukan para petani Aceh selama puluhan bahkan ratusan tahun. Para petani tradisional menggunakan metode dan peralatan sederhana untuk mengelola lahan pertanian mereka. Salah satu metode sederhana yang dilakukan para petani untuk menggemburkan tanah adalah dengan cara menghalau kerbau atau sapi mereka ke tengah lahan yang ingin ditanami. Namun, sekarang cara seperti ini sudah jarang dilakukan karena para petani telah menemukan langa sebagai alat untuk membajak tanah (Fadjria Novari Manan, 1985/1986: 13).

Peralatan tradisional yang digunakan masyarakat petani Aceh dalam mengolah tanaman bukan hanya langa. Masih banyak jenis peralatan tradisional lain yang digunakan  oleh para petani Aceh. Peralatan tersebut antara lain cangkoy (cangkul), droem seumibu (alat untuk menyiram tanaman), culek (cungkil), tukoy (alat untuk menyaingi tanaman), dan empang duk (wadah bibit padi). Biasanya para petani membuat sendiri peralatan-peralatan tersebut, termasuk langa. Kadang pula para petani akan menyuruh tukang kayu untuk membuat peralatan tersebut.

Sistem pertanian tradisional masyarakat Aceh tidak hanya terlihat pada peralatan yang digunakan, namun juga pada pengelolaan lahan. Pengelolaan lahan pertanian tradisional masyarakat Aceh dilakukan dengan gotong-royong. Gotong-royong tersebut meliputi sebagian tahapan dalam pengelolaan lahan pertanian, misalnya waktu menanam bibit padi. Penanaman bibit padi dilakukan secara gotong-royong karena padi harus segera ditanam dan penanaman tersebut dilakukan secara serentak, sehingga membutuhkan banyak orang. Sebagian masyarakat Aceh menggunakan sistem upah untuk penanaman padi tersebut, sedangkan sebagian yang lain murni tolong-menolong. Sistem gotong-royong dalam pertanian tradisional tersebut dikecualikan pada membajak lahan. Setiap petani mengerjakan sendiri lahan mereka, kecuali dalam kasus-kasus tertentu, misalnya pekerjaan tersebut telah terbengkalai atau seorang petani tidak sanggup menyelesaikan pekerjaannya. Dalam keadaan demikian, petani tersebut akan dibantu oleh petani yang lain dalam membajak sawahnya (M. Yunus Melalatoa dan Rifai Abu, ed. 1979/1990: 25-26).

Sistem pertanian tradisional yang menggunakan konsep gotong-royong dalam penggarapan lahan tersebut digambarkan oleh Emile Durkheim sebagai ciri masyarakat tradisional. Dalam pandangan Durkheim masyarakat tradisional biasanya tinggal di daerah pedesaan dengan pembagian kerja yang relatif masih rendah. Solidaritas yang terbangun dalam masyarakat ini adalah sistem solidaritas mekanis. Solidaritas tersebut muncul berdasarkan atas kesamaan profesi mereka (Doyle Paul Djhonson, 1994: 183).

Perkembangan teknologi dan peralatan pertanian yang semakin modern saat ini tak ayal mulai menggeser peran peralatan tradisional, termasuk juga langa. Modernitas menuntut masyarakat untuk serba cepat dan efisien. Hal tersebut juga dialami para petani. Kebutuhan para petani untuk meningkatkan hasil pertanian dengan waktu sependek mungkin menyebabkan para petani beralih menggunakan peralatan modern. Langa, misalnya, mulai ditinggalkan para petani, masyarakat menggunakan peralatan yang lebih modern yaitu traktor. Melihat hal tersebut bukan tidak mungkin suatu ketika langa akan sama sekali ditinggalkan oleh para petani.

2. Bagian-bagian Langa

Langa terdiri dari bagian-bagian yang mempunyai nama masing-masing. Namun, dalam penggunaannya bagian-bagian tersebut merupakan satu kesatuan (Fadjria Novari Manan, 1985/1986: 15). Berikut adalah bagian-bagian langa.

a. Boh Langa

Boh Langa merupakan bagian yang terletak di paling bawah langa. Fungsi bagian ini adalah sebagai tempat memasang mata langa. Boh Langa terbuat dari kayu (bak mane). Mata Langa dipasang pada Boh Langa.  Bentuk lancip mata langa mengikuti bentuk Boh Langa yang menyerupai anak panah besar. Bagian inilah yang mengorek atau membalik tanah ketika langa ditarik sehingga tanah menjadi gembur. Oleh karena itu, Mata Langa menjadi bagian yang sangat penting dan harus kuat. Mata Langa terbuat dari besi agar kuat dan bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama. Mata Langa yang terbuat dari kayu hanya akan bertahan selama dua atau tiga hari. Berbeda dengan Mata Langa yang terbuat dari besi atau baja yang bisa bertahan selama bertahun-tahun.


Sumber: Fadjria Novari Manan, 1985/1986. Peralatan Produksi Tradisional dan
Perkembangannya Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai
Tradisional, Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah, h. 15-16.

b. Eh Langa

Selain bagian yang disebutkan di atas, bagian lain yang terdapat dalam langa adalah Eh Langa. Eh Langa juga merupakan bagian penting dari peralatan ini, karena tanpa Eh Langa peralatan membajak ini tidak dapat digunakan. Eh Langa berfungsi untuk menghubungkan kerbau atau sapi penarik langa dengan bagian lain yang berada di belakangnya, yaitu bagian Boh Langa dan Yok Langa. Eh Langa terbuat dari sepotong kayu yang keras dan kuat, misalnya batang pohon aren.

Eh Langa mempunyai panjang sekitar 2,5 meter dengan lebar sekitar 10-12 cm dan membujur dari depan ke belakang. Bagian belakang peralatan ini ada yang dibuat melengkung ke bawah, ada pula yang hanya lurus dari ujung ke pangkal. Untuk Eh Langa yang dibuat melengkung bagian belakangnya, ketika digunakan setengah batang Eh Langa akan berbentuk mendatar. Sedangkan jika Eh Langa dibuat lurus dari bagian depan sampai ke bagian belakang, batang Eh Langa akan berbentuk miring ketika digunakan dengan bagian depan berada di atas. Pada ujung peralatan ini dibuat lekukan yang dipakai untuk memasang tali. Lebar bagian ujung berbeda dengan bagian pangkal. Bagian ujung lebih sempit, sehingga bentuk Eh Langa  mengerucut ke depan. Biasanya bagian yang menyempit dibuat pada bagian bawah Eh Langa.


Sumber: Fadjria Novari Manan, 1985/1986. Peralatan Produksi Tradisional dan
Perkembangannya Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai
Tradisional, Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah, h. 17.

c. Yok Langa

Bagian lain dari langa adalah Yok Langa. Yok Langa dibuat dari bahan kayu dengan bentuk khas. Bentuknya menyesuaikan dengan punggung sapi atau kerbau di mana Yok Langa akan dipasang. Fungsi Yok Langa adalah mengangkut Eh Langa yang ditarik sapi atau kerbau. Di atas bagian Boh Langa, terdapat peralatan lain, yaitu sepotong kayu yang dihaluskan. Kayu ini disebut lamat. Panjang lamat sekitar 1,5 meter. Lamat terletak di bagian paling belakang peralatan langa. Lamat berbentuk miring dan berfungsi sebagai pegangan orang yang menggunakan langa. Ureung mau’e menekan bagian ini agar mata langa terbenam ke dalam tanah. Selain itu, lamat juga berfungsi sebagai tempat para petani mengendalikan dan mengatur arah langa berbelok ke kanan, ke kiri atau memutar.


Sumber: Fadjria Novari Manan, 1985/1986. Peralatan Produksi Tradisional
dan Perkembangannya Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah
dan Nilai Tradisional, Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah, h. 17.

d. Bagian-bagian Lain

Selain beberapa bagian yang telah disebutkan di atas, langa juga mempunyai bagian tambahan. Di antara bagian tambahan dalam langa, yaitu:

  • Dua helai tali yang terbuat dari sabut kelapa atau tali ijuk. Tali tersebut berguna untuk mengarahkan sapi atau kerbau agar berbelok ke kanan atau ke kiri. Tali tersebut membentang dari depan ke belakang, menghubungkan ureung mau’e dengan sapi atau kerbau penarik langa. Untuk mengarahkan sapi agar mau membelok ke kanan, urang mau’e akan menarik tali sebelah kanan. Begitu pula sebaliknya.
  • Cambuk, yang terbuat dari kayu kecil atau sejenis kulit kayu. Cambuk berfungsi untuk memukul sapi atau kerbau agar mau berjalan atau menarik bajak.
  • Anyaman dari rotan selebar telapak tangan. Fungsi anyaman ini adalah menghubungkan bagian Yok Langa yang terdapat di bawah leher sapi atau kerbau.

3. Pembuatan Langa

Biasanya para petani membuat sendiri peralatan membajak ini. Beberapa bagian langa dapat diperoleh dengan mudah di dekat tempat tinggal mereka. Hanya satu bagian yang mungkin tidak bisa mereka buat sendiri, yaitu Mata Langa. Bagian ini dibuat oleh pandai besi. Para petani tinggal memesan pada pandai besi. Beberapa langkah untuk membuat langa adalah:  

  • Mencari bahan baku langa. Kayu yang baik untuk membuat langa adalah kayu yang mempunyai karakter kuat dan keras. Selain itu kayu tersebut mempunyai serat yang baik. Setelah kayu didapatkan, kemudian dipotong dan dibentuk sesuai dengan bentuk masing-masing bagian langa. Masing-masing bagian langa ini dibuat secara terpisah atau dibuat sendiri-sendiri.
  • Setelah masing-masing bagian langa selesai dibuat, langkah berikutnya adalah menggabungkan bagian-bagian tersebut menjadi satu bagian. Bagian Eh Langa dan Yok Langa disatukan dengan Boh Langa. Pangkal Eh Langa dimasukkan ke dudukkan yang telah dibuat di Boh Langa. Kemudian memasang Yok Langa pada Boh Langa sama seperti cara memasang Eh Langa pada Boh Langa, yaitu memasukkan salah satu ujung yok langa ke dalam dudukan yang dibuat pada Boh Langa.
  • Pemasangan peralatan dengan sapi atau kerbau yang menarik langa dilakukan di lahan yang ingin digarap.

4. Penggunaan Langa

Cara menggunakan langa adalah sebagai berikut:

Pertama yang harus disiapkan adalah peralatan langa dan hewan penarik langa. Jika keduanya telah tersedia, langkah selanjutnya adalah memasang Yok Langa ke atas leher sapi atau kerbau. Kemudian memasang tali yang terdapat pada bagian Yok Langa agar bagian ini tidak lepas. Kemudian memasang Eh Langa pada Boh Langa, atau bila sudah terpasang tinggal melakukan langkah selanjutnya yaitu, memasang bagian belakang (Eh Langa dan Boh Langa) pada Yok Langa. Untuk memasang kedua bagian ini diperlukan sebuah tali.

Setelah masing-masing bagian terpasang dengan benar, selanjutnya menjalankan peralatan tersebut. Lahan pertanian dibajak mulai dari pinggir yang satu ke pinggir yang lain, berjalan dari satu ujung ke ujung yang lain. Kerbau atau sapi cukup dihela dengan dicambuk. Kalau sudah mencapai ujung dan ingin berbelok, tali yang menghubungkan sapi atau Yok Langa dengan Eh Langa ditarik. Menarik tali ini tergantung pada arah kerbau atau sapi tersebut kita ingin berbelok ke arah mana sesuai kebutuhan dalam membajak. Kalau ingin berbelok ke arah kiri, maka petani mesti menarik tali yang sebelah kiri, sedangkan jika ingin sapi tersebut berbelok ke kanan maka tali yang ditarik adalah yang sebelah kanan.

Ureung Mau’e berjalan di belakang langa mengikuti peralatan ini. Satu tangan Ureung Mau’e menekan langa di bagian Bok Langa agar Mata Langa dapat menembus ke dalam tanah, sedang tangan yang lain memegang cambuk. Sesekali, bila menemukan atau melewati tanah yang lebih keras, kedua tangan dapat menekan bagian Boh Langa dengan tekanan yang lebih kuat. Hasil lahan yang telah dibajak adalah galur-galur tanah yang telah terkelupas atau terbalik.

5. Kelebihan dan Kekurangan

Langa mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan peralatan modern semisal traktor. Beberapa kelebihan dan kekurangan tersebut adalah:

a. Kelebihan

  • Langa dapat dibuat sendiri, sehingga para petani tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu besar dalam mengolah tanah. Hal tersebut menjadi jalan keluar para petani yang tidak punya modal besar dan hanya mempunyai lahan pertanian yang sempit.
  • Ramah lingkungan.

Semua bagian peralatan ini tidak menyebabkan pencemaran, sehingga lahan pertanian bisa terjaga dari pencemaran. Berbeda dengan traktor yang tak jarang bahan bakarnya jatuh ke areal persawahan dan membuat lahan pertanian tersebut menjadi tercemar.

  • Bahan untuk membuat langa banyak terdapat di sekitar tempat tinggal para petani Aceh.

b. Kekurangan

  • Tidak efektif dan efisien.

Menggunakan peralatan tradisional tentu saja memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan menggunakan peralatan modern. Efisiensi ini yang kadang menjadi alasan mengapa banyak orang memakai peralatan pertanian modern, termasuk juga peralatan membajak. Selain itu, peralatan langa tergantung pada kekuatan penariknya, yaitu sapi atau kerbau. Waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan sebuah lahan jika kekuatan sapi atau kerbau tidak sesuai keinginan.

  • Peralatan ini tidak tahan lama.

Jika dibandingkan dengan traktor, peralatan ini tidak lebih lama dari traktor. Karena peralatan tersebut terbuat dari kayu, maka akan cepat lapuk. Apalagi bila peralatan tersebut sering digunakan di lahan basah.

  • Harus menggunakan sapi atau kerbau untuk menarik alat tersebut.

Hal ini akan menyulitkan para petani yang tidak mempunyai sapi. Mereka akan kesulitan dalam menggunakan peralatan ini. Berbeda dengan traktor yang sudah menggunakan mesin secara otomatis.

6. Nilai-nilai

Penggunaan langa sebagai peralatan pertanian mengandung beberapa nilai. Nilai-nilai tersebut adalah:

  • Nilai Tradisi.

Langa merupakan peralatan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Penggunaan peralatan ini mempunyai nilai-nilai dalam menjaga kelestarian warisan peralatan tradisional.

  • Nilai Kearifan Lokal.

Penggunaan peralatan ini merupakan bentuk kearifan lokal. Upaya untuk menjaga tanah dari pencemaran akibat penggunaan peralatan modern.

  • Nilai Ekonomi.

Peralatan ini berguna dalam pertanian tradisional yang rata-rata para petaninya berasal dari keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan. Penggunaan peralatan ini, yang tidak terlalu banyak memakan biaya akan membantu dalam mata pencaharian mereka.

  • Nilai Pelestarian Budaya.

Penggunaan peralatan ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga kekayaan budaya masyarakat. Saat ini banyak petani yang telah meninggalkan peralatan tradisional dengan berbagai alasan.

7. Penutup

Peran peralatan pertanian tradisional saat ini semakin tergeser oleh peralatan pertanian modern. Pergeseran peralatan yang digunakan masyarakat petani, baik di Aceh maupun di daerah lain, merupakan salah satu akibat perkembangan pola pikir masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman. Peralatan tradisional juga tidak berbeda dengan peralatan pertanian tradisional yang lain, langa mulai jarang digunakan para petani karena faktor efektivitas dan efisiensi. Bagaimanapun, langa telah banyak berperan dalam pertanian, sehingga melestarikan keberadaan dan penggunaan peralatan ini adalah sesuatu yang semestinya dilakukan.

(Mujibur Rohman/bdy/05/09-2010)

Sumber foto utama: http://sinarmentarisenja.blogspot.com

Referensi

Fadjria Novari Manan, ed. 1985/1986. Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Daerah.

Doyle Paul Johnson, 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid I. Terj. Robert MZ Lawang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Dinas Pertanian Rakyat Daerah Istimewa Aceh, 1976. Aceh dalam Tulisan. Banda Aceh: Panitia Penyelenggara Rapat Kerja Regional Wilayah Pembangunan Utama “A”.

M. Yunus Melalatoa dan Rifai Abu, ed. 1979/1990. Sistim Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Banda Aceh: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.  

Dibaca : 12.063 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password