Rabu, 23 April 2014   |   Khamis, 22 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 422
Hari ini : 1.119
Kemarin : 20.000
Minggu kemarin : 147.823
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.625.739
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Hilai, Alat Pertanian Suku Bukit, Kalimantan Selatan



Hilai merupakan peralatan pertanian tradisional yang digunakan oleh Suku Bukit, Kalimantan Selatan.

1. Asal-usul

Kondisi topografi Kalimantan Selatan yang terdiri dari dataran bergelombang, berbukit-bukit, serta bergunung-gunung berpengaruh terhadap peralatan pertanian yang digunakan para petani Suku Bukit, di Kalimantan Selatan. Selain kondisi topografi, peralatan pertanian Suku Bukit juga dipengaruhi oleh kondisi morfologi lahan tersebut yang terbagi ke dalam empat bentuk, yaitu dataran alluvial, dataran, bukit, dan pegunungan. Dari morfologi itu terbentuk tanah kering, tanah sawah, hutan, perkebunan, dan lain-lain (Mardiana, et al. 1999/2000: 3).

Kondisi alam yang demikian memberikan kontribusi bagi perkembangan kebudayaan masyarakat dan berpengaruh pula pada mata pencaharian mereka. Bertani menjadi cara mencari nafkah bagi sebagian besar masyarakat Suku Bukit. Cara bercocok tanam yang diterapkan petani Suku Bukit adalah pertanian ladang berpindah dan pertanian tradisional. Pertanian ladang berpindah juga dilakukan oleh para petani di suku lain di Kalimantan Selatan (Mardiana, et al. 1999/2000: 7-8).

Para petani Suku Bukit menggunakan sistem gotong-royong dalam mengolah lahan mereka. Pertanian dengan sistem gotong-royong tersebut didasarkan pada tolong-menolong yang dilakukan secara bergantian atas dasar suka sama suka dengan porsi areal yang sama, dan umumnya dilakukan dalam musim kerja yang sama pula. Sistem pengelolaan lahan dengan cara gotong-royong tersebut oleh masyarakat Suku Bukit dikenal dengan istilah ba-a-ngingan. Para petani Suku Bukit melakukan ba-a-ngingan  pada waktu membuka ladang yang dimulai dari menebang pohon, menebas dahan dan ranting pohon itu, membakar, dan membersihkan lahan, menanam bibit (manugal), dan panen (mengatam).

Cara bercocok tanam ladang berpindah itu juga mempengaruhi peralatan yang digunakan oleh petani Suku Bukit dalam mengolah lahan pertanian mereka. Beberapa peralatan yang digunakan, antara lain ambang, yaitu sejenis mandau yang berfungsi untuk membabat rumput atau pohon-pohon kecil yang tumbuh di lahan yang ingin ditanami; balayung, berfungsi untuk menebang pohon besar yang tumbuh di lahan tersebut; parang bakumpang yang berfungsi untuk memotong dan membersihkan dahan-dahan yang tidak habis terbakar; kapak yang digunakan untuk memotong kayu-kayu besar; linggis, digunakan untuk mengungkit sisa-sisa kayu; tugal yang digunakan untuk membuat lubang di tanah sebagai tempat menanam bibit padi (Mardiana, et al, 1999/2000: 8).

Cara bercocok tanam pada lahan pertanian Suku Bukit disebut Manugal, yaitu menanam bibit padi dengan menggunakan peralatan sejenis alu yang disebut sebagai tugal. Peralatan ini ditumbukkan ke tanah dan menghasilkan lubang yang selanjutnya dimasukkan bibit padi. Bagi masyarakat Suku Bukit peralatan ini disebut hilai atau kurung-kurung gunung.

Selain Suku Bukit ada suku lain yang menggunakan alat tugal yang serupa dengan hilai, yaitu peralatan yang digunakan oleh Suku Ngaju di Kalimantan Tengah yang disebut katundang. Peralatan ini terbuat dari kayu ulin, berbentuk seperti alu, berujung runcing, dan terdapat alat bunyi di dalam lubang peralatan tersebut. Pada bagian atas katundang terdapat ukiran dengan motif khas Dayak Ngaju. Jenis peralatan lain yang mirip hilai adalah kurung-kurung hantak. Oleh Suku Dusun Deyah atau Suku Banjar yang tinggal di Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, peralatan tersebut tidak digunakan sebagai alat pertanian. Tetapi hanya difungsikan sebagai alat musik tradisional yang dimainkan khusus pada saat melakukan gotong-royong manugal (Mardiana, et al, 1999/2000: 9).


Hilai
Mardiana, et al., 1999/2000. Hillai Alat Pertanian Suku Bukit Kalimantan Selatan.
Banjarbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal
Kebudayaan, Direktorat Permuseuman Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman
Kalimantan Selatan., h. sampul.

 

2. Pembuatan Hilai

Pada dasarnya hilai merupakan peralatan yang tidak terlalu rumit. Para petani dapat membuat sendiri peralatan ini dan bahan serta alat untuk membuat hilai juga mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal mereka. Mardiana (1999/2000: 10-16) menjelaskan proses pembuatan hilai adalah sebagai berikut.

a. Bahan

Para petani Suku Bukit memperoleh bahan untuk membuat hilai dari hutan-hutan sepanjang Pegunungan Meratus. Bahan-bahan untuk membuat hilai, antara lain:

  • Bambu (paring)

Ada dua jenis bambu yang biasa digunakan untuk membuat hilai, yaitu Bambu Buluh dan Bambu Tamiang. Bambu Buluh biasanya terdapat di pinggir sungai besar di Kalimantan Selatan. Dari kedua jenis bambu ini, jenis bambu yang paling baik untuk membuat hilai adalah jenis Bambu Tamiang. Karakter umum Bambu Tamiang adalah batang bambu ini lurus dengan garis tengah yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Bambu yang baik untuk membuat hilai adalah bambu yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, batangnya lurus, dan tumbuh mengarah ke arah matahari terbit. Pemilihan bambu berdasarkan bambu yang tumbuh menghadap ke arah matahari terbit merupakan bentuk kepercayaan masyarakat Suku Bukit tentang harapan bahwa peralatan tersebut akan memberikan berkah bagi kehidupan, terutama terhadap hasil panen kelak. Keunggulan lain dari Bambu Tamiang adalah bambu tersebut lebih mudah mengatur bunyi ketika hilai digunakan.

  • Kayu

Kayu yang digunakan untuk membuat hilai adalah jenis kayu ulin atau disebut pula kayu besi. Jenis kayu ini banyak terdapat di hutan-hutan di Kalimantan. Dalam membuat hilai para petani memilih secara khusus jenis kayu ulin ini, yaitu kayu ulin yang terendam di dalam air ketika masih tumbuh atau hidup di dalam hutan yang disebut Kayu Ulin Halimunan.

  • Rotan

Ada beberapa jenis rotan yang biasanya digunakan untuk membuat hilai, misalnya Rotan Taman, Rotan Irit, Rotan Liliin, dan Rotan Simpuruk. Di antara beberapa yang disebutkan, rotan yang paling baik untuk membuat hilai adalah Rotan Taman dan Rotan Lilin.

  • Getah Kalulut atau Katipi
Getah Kalulut berfungsi sebagai perekat untuk menyambung batang hilai. Getah ini terbuat dari sarang lebah penghasil madu. Lebah ini biasanya banyak terdapat di pohon kayu besar yang diperkirakan berumur kira-kira telah mencapai satu tahun atau lebih.

b. Alat

Beberapa peralatan yang biasanya digunakan untuk membuat hilai adalah sebagai berikut:

  • Pisau

Alat ini digunakan untuk membelah atau meraut rotan serta untuk melaras bunyi.

  • Parang

Parang digunakan untuk menebang kayu dan membersihkan ranting-ranting yang terdapat pada kayu tersebut. Selain itu, parang digunakan untuk membentuk kayu yang akan dijadikan batisan hilai (kaki hilai).

  • Gergaji

Alat ini digunakan untuk memotong kayu atau memotong bambu.

  • Jangatan besi

Jangatan besi berfungsi sebagai alat untuk meratakan dan menghaluskan permukaan rotan yang sudah dibelah dan siap untuk dijadikan simpai pada saat membuat hilai.

  • Belayung

Digunakan untuk memotong kayu ulin yang tidak bisa dipotong dengan gergaji. Alat ini juga berfungsi untuk menarah batisan hilai. 

  • Kapak

kapak fungsinya sama dengan belayung, yaitu untuk memotong kayu yang tidak bisa dipotong dengan gergaji. Pembuat hilai dapat memilih salah satu di antara belayung dan kapak.

  • Amplas
Amplas berperan setelah peralatan hilai selesai dibuat. Fungsi amplas adalah untuk menghaluskan kaki atau batisan hilai yang telah dibuat dan siap dipasang pada batangan hilai.

c. Proses Pembuatan Hilai

Setelah bahan dan peralatan tersedia, langkah selanjutnya adalah membuat hilai. Pembuatan hilai melewati beberapa tahap yang akan dijelaskan berikut ini.

  • Tahap meramu dan mencari bahan baku

Tahap pertama yang dilakukan dalam pembuatan hilai adalah tahap meramu dan mencari bahan baku. Para petani mencari bahan untuk membuat hilai di dalam hutan di lereng-lereng jurang atau di pinggir sungai sekitar wilayah tempat tinggal masyarakat Suku Bukit. Pencarian bahan untuk membuat hilai kerap kali memerlukan waktu yang lama. Untuk mencari bahan baku hilai hingga para petani mendapatkan bahan baku sesuai yang mereka inginkan tidak hanya membutuhkan waktu satu hari atau dua hari. Bahkan, pencarian bahan tersebut bisa memakan waktu berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mendapatkan bahan baku sesuai dengan apa yang dikehendaki. Pencarian tersebut juga membutuhkan banyak tenaga. Paling sedikit tiga orang, kadang empat orang atau lebih, tergantung dari jumlah hilai yang akan dibuat.

  • Tahap pengeringan batang bambu atau kayu ulin

Setelah para petani mendapatkan bahan baku, langkah yang akan mereka lakukan adalah mengeringkan bahan baku tersebut. Batang bambu atau kayu ulin yang diperoleh dikeringkan dengan cara menjemur bambu itu. Proses demikian membutuhkan waktu yang cukup lama, kadang sampai bertahun-tahun. panjang dan pendeknya waktu dalam mengeringkan kayu ulin dan bambu berpengaruh pada bunyi yang ditimbulkan. Semakin lama bahan itu dijemur, semakin bagus pula suara alat itu pada saat digunakan.

  • Tahap pengolahan

Setelah bambu dan kayu ulin cukup kering, tahap berikutnya ialah memotong bambu menjadi beberapa bagian sesuai kebutuhan. Kemudian membuat bagian-bagian hilai. Tahap pertama adalah membuat bagian kumbangan, yaitu bagian ujung atas hilai. Batang bambu yang digunakan untuk membuat kumbangan adalah batang bambu yang berada di pangkal pohon bambu. Setelah bagian pertama selesai, kemudian membuat bagian kedua, yaitu bagian tengah hilai. Bagian tengah hilai terdiri dari tiga bagian, yaitu parang hulu, geligiran, dan butuh itik. Ketiga bagian ini terbuat dari kayu ulin. Fungsi bagian ini adalah agar hilai menimbulkan bunyi apabila alat tersebut ditumbukkan ke tanah. Bagian ketiga, yaitu sambung. Bagian ini terbuat dari batangan bambu yang lebih kecil dibanding bagian bambu kedua. Sambung terletak di bagian bawah di atas batisan hilai.

  • Tahap mengolah batisan hilai

Batisan hilai terbuat dari kayu ulin. Kayu untuk membuat batisan hilai adalah kayu yang terendam di dalam tanah atau di dalam air sewaktu kayu tersebut masih berada di hutan. Cara membuat kaki atau batisan hilai adalah kayu tersebut dipotong-potong sesuai kebutuhan pembuat hilai dengan menggunakan gergaji. Setelah dipotong kayu ditarah menggunakan parang, kapak, dan pisau peraut. Batisan hilai berbentuk seperti umbi talas dan pada pangkal kaki dibuat tangkai yang berbentuk silinder. Ukuran ini menyesuaikan dengan besar lubang yang terdapat pada batangan bambu tersebut. Setelah batisan hilai selesai dibentuk, permukaan bagian ini diratakan dan dihaluskan dengan menggunakan amplas.


Sketsa hilai bagian tengah

Sumber: Mardiana, et al. 1999/2000. Hillai Alat Pertanian Suku Bukit Kalimantan
Selatan.
Banjarbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal
Kebudayaan, Direktorat Permuseuman Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman
Kalimantan Selatan., h. 14.

 

  • Tahap merangkai hilai

Setelah semua bahan selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah merangkai bagian-bagian tersebut, mulai dari kumbangan sampai ke batisan hilai. Pembuatan rangkaian dimulai dengan menyambung satu demi satu bagian yang tadi telah dibuat. Pemasangan rangkaian tersebut dimulai dari atas atau bagian kumbangan, kemudian bagian potongan yang kedua yang terdiri dari tiga bagian yaitu, parang hulu, geligiran, dan butuh itik yang dilanjutkan dengan menyambung potongan bambu bagian yang ketiga. Sambungan masing-masing bagian tersebut direkatkan dengan lem yang terbuat dari getah kalulut. Setelah masing-masing bagian tersambung, batang hilai kemudian dililit dengan tali rotan yang sudah diraut. Batang hilai dililit anyaman tali rotan dengan pola ganjil biasa, 3, 5, atau 7 menyesuaikan besar-kecilnya batang hilai. Pembalutan dimulai dari yang berakhir di bagian akhir batang hilai. Bentuk hilai setelah dirangkai menyerupai galah yang terbalik; pada bagian atas besar kemudian mengecil pada bagian bawahnya. Proses pembuatan hilai ditutup dengan memasang batisan hilai. Setelah itu dililit dengan rotan (di-simpai).  

3. Cara Penggunaan

Hilai digunakan dengan cara menghentakkan alat tersebut ke lahan yang ingin ditanami. Bagian ujung hilai yang runcing akan membentuk lubang di tanah. Lubang-lubang yang diciptakan oleh hilai inilah yang akan ditanami bibit padi. Selain untuk membuat lubang untuk menanam bibit padi, menggunakan hilai berarti memainkan musik. Hentakan tersebut akan menimbulkan suara seperti suara katak pada waktu musim hujan. Jika peralatan ini digunakan secara berkelompok, maka muncullah irama tertentu yang saling bersahutan. Cara penggunaan yang demikian akan memunculkan keindahan irama yang berasal dari hilai.

4. Nilai Sosial-Budaya

Selain sebagai peralatan, hilai juga mengandung beberapa nilai yang telah muncul sejak dari proses pencarian bahan hingga proses penggunaannya. Nilai-nilai tersebut muncul dari dalam peralatan itu sendiri atau pada waktu peralatan tersebut digabungkan dengan entitas lain dalam masyarakat. Beberapa nilai yang terkandung dalam hilai, yaitu:

a. Nilai ekonomi

Hilai merupakan peralatan yang membantu pekerjaan para petani. Dengan menggunakan hilai para petani dapat menekan pengeluaran mereka dalam bercocok tanam. Dengan demikian hilai mempunyai nilai ekonomi.

b. Nilai sosial

Peralatan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut mengandung nilai sosial yang tinggi. Mengerjakan satu lahan secara bersama-sama dalam pola pertanian tradisional akan mempererat ikatan sosial dalam masyarakat. Begitu pula dengan penggunaan peralatan hilai. Peralatan ini digunakan secara berkelompok yang menuntut kekompakan para petani agar hilai menghasilkan irama yang indah. Kekompakan dalam menggunakan hilai akan berpengaruh secara luas pada hubungan personal dan sosial mereka dalam kehidupan sehari-hari.

c. Nilai magis

Mulai dari proses pencarian bahan untuk membuat peralatan ini, sudah terlihat betapa hilai mengandung nilai-nilai yang berkaitan dengan dunia magi. Peralatan ini mengandung makna bahwa dengan menggunakan peralatan tersebut diharapkan hasil pertanian akan melimpah. Selain itu, bunyi-bunyian yang dihasilkan peralatan hilai ketika digunakan dipercaya masyarakat dapat menurunkan hujan. Sedangkan lagu yang dimainkan pada saat menggunakan peralatan ini dapat menjadi penolak kejahatan makhluk halus yang ingin mengganggu masyarakat Suku Bukit.

d. Nilai seni

Hilai bukan hanya merupakan alat pertanian untuk membantu para petani dalam menanam benih. Hilai juga mempunyai nilai seni tinggi. Hilai yang dibuat dengan sedemikian rupa dapat berfungsi sebagai alat musik tradisional pada waktu digunakan. Bahkah, oleh masyarakat Kabupaten Tabalong dan di Kecamatan Istambul, Kabupaten Banjar, hilai hanya berfungsi sebagai alat musik tradisional yang mengiringi Tari Tanduk Pelanduk dan kadang dipertandingkan secara khusus. Dalam pertandingan atau sebagai musik pengiring tarian, seperangkat hilai terdiri dari enam buah hilai yang masing-masing mewakili satu nada.

Sebagai musik instrumental, hilai dimainkan secara ansambel yang menghasilkan beberapa lagu, yaitu Lagu Burung Salungking, yang menirukan suara burung salungking; Lagu Burung Mantuk yang menirukan suara burung yang ingin tidur; dan Lagu Tinggalang Sangkut yaitu lagu yang dimaknai sebagai penolak seluruh kejahatan dari makhluk-makhluk halus yang bisa mengganggu masyarakat Suku Bukit. 

e. Nilai tradisi dan budaya

Peralatan hilai adalah warisan budaya dan tradisi dalam pertanian masyarakat Suku Bukit. Selain itu pola pertanian tradisional yang mulai ditinggalkan saat ini berpengaruh pada pembedaan antara petani yang dapat membeli peralatan modern dan yang tidak mampu membeli atau menggunakan peralatan modern.

5. Penutup

Hilai merupakan peralatan pertanian tradisional yang mempunyai nilai seni tinggi. Peralatan tersebut digunakan pada saat petani ingin menanam benih di lahan pertanian sawah lahan kering. Selain sebagai alat pertanian, hilai juga berfungsi sebagai alat musik tradisional yang dimainkan dalam waktu-waktu tertentu. Sebagai salah satu kekayaan budaya tradisional, peralatan tersebut hendaknya dilestarikan.

(Mujibur Rohman/bdy/06/09-2010)

Sumber foto utama: Agus Triatno, ed. 1991/1992. Koleksi Alat-alat Pertanian Tradisional Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat. Banjarmasin: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Selatan., h. 14.  

Referensi

Mardiana, et al. 1999/2000. Hillai Alat Pertanian Suku Bukit Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Permuseuman Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Selatan.

Agus Triatno, ed. 1991/1992. Koleksi Alat-alat Pertanian Tradisional Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat. Banjarmasin: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan Selatan.

Dibaca : 4.800 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password