Minggu, 21 Desember 2014   |   Isnain, 28 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.822
Hari ini : 12.265
Kemarin : 18.132
Minggu kemarin : 186.674
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.480.294
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rapai, Alat Musik Tradisional Aceh


Rapai digunakan dalam Tarian Rapai Geleng

1. Asal-usul

Peralatan musik tradisional rapai merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh, baik secara filosofis maupun kultural. Pertunjukan musik rapai melibatkan 8 hingga 12 pemain yang disebut awak rapai. Peralatan ini berfungsi untuk mengatur tempo serta tingkahan-tingkahan irama bersama serune kalee maupun buloh perindu (Z. H. Idris et al, 1993: 79).

Menurut Z. H. Idris, et al (1993: 79), peralatan rapai berasal dari Baghdad (Irak), dibawa oleh seorang penyiar agama Islam bernama Syeh Rapi. Sedangkan jika dilihat dari syair yang selalu dinyanyikan dalam rapai, peralatan musik tersebut asalnya dari Syeh Abdul Kadir. Berikut syair yang dilantunkan pada pertunjukan rapai yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

Di langit tinggi bintang bersinar
Cahaya bak lilin memancar ke bumi
Asal rapai dari Syeh Abdul Kadir
Inilah yang sah penciptanya lahir ke bumi.

Berdasarkan besar rapai dan suaranya, rapai terbagi menjadi beberapa jenis (Firdaus Burhan, ed. 1986: 68-69), yaitu:

  • Rapai Pasee (rapai gantung)
  • Rapai Daboih
  • Rapai Geurimpheng (rapai macam)
  • Rapai Pulot
  • Rapai Anak/ tingkah (berukuran kecil)
  • Rapai Kisah

Masing-masing rapai di atas mempunyai fungsi-fungsi yang berbeda, tergantung pada pertunjukan rapai itu sendiri. Misalnya, Rapai Anak merupakan rapai kecil yang berfungsi mengadakan tingkahan karena suaranya lebih nyaring dan mendenting (Z. H. Idris, et al 1993: 83).

Selain pertunjukan yang digelar dalam acara-acara tertentu, rapai kadang kala juga dilombakan di kalangan antarkelompok pemain rapai. Kriteria penilai perlombaan itu adalah bunyi, irama pukul rapai, tingkahan, dan membalas jawaban pantun lawan. Lomba dimulai malam hari hingga pagi esoknya. Pada perlombaan tersebut para pemain mengenakan pakaian adat Aceh.

2. Fungsi Rapai dalam Masyarakat Aceh

Terdapat kedekatan tertentu peralatan musik ini di hati masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh menggunakan peralatan dan menyelenggarakan pertunjukan musik rapai dalam berbagai kesempatan, misalnya pasar malam, upacara perkawinan, ulang tahun, mengiringi tarian, memperingati hari-hari tertentu, dan sebagainya. Selain dimainkan secara tunggal, rapai dapat pula digabungkan dengan alat musik yang lain, semisal Sarune Kalee atau buloh perindu. Rapai dapat mendukung melodi buloh perindu, peralatan tiup yang mempunyai nada diatonis.

Masyarakat Aceh juga menggunakan rapai untuk mengiringi pertunjukan debus (daboih). Menurut Z. H. Idris, et al (1993: 82) Daboih adalah sejenis senjata yang terbuat dari besi runcing di ujungnya dan berhulu bundar. Senjata ini sebesar telunjuk dan mempunyai panjang kira-kira setengah jengkal. Permainan tersebut dipimpin oleh seorang khalifah yang memiliki ilmu kebal sehingga badannya tidak terluka oleh tusukan benda tajam, dapat melilitkan rantai panas ke bagian tubuhnya, menari dalam api, dan sebagainya.

Rapai yang digunakan sebagai pengiring pertunjukan daboih adalah Rapai Daboih. Dalam pertunjukan Rapai Daboih ini, pada saat saleum (salam) pemain rapai memukul alat musiknya dengan tempo lambat sebagai pengiring kisah atau syair yang dilantunkan penabuh dabus. Kemudian tempo berubah sedang pada waktu mengiringi syair wanole. Ketika dilantunkan syair Amanah Guru tempo iringan rapai berubah menjadi agak cepat. Dan menjadi cepat ketika mengiringi Syair Nyo He Rakan.

Pertunjukan Rapai Pase yang terdapat di Aceh Utara melibatkan 30 buah rapai beserta pemainnya. Ini adalah formasi yang paling besar dalam pertunjukan Rapai Pase. Untuk formasi sedang terdiri dari 15 orang dan formasi kecil antara 10 hingga 12 buah rapai beserta pemainnya. Di antara rapai yang berukuran kecil terdapat sebuah rapai berukuran besar yang digantung. Pertunjukan tersebut membawakan lagu-lagu berbau keagamaan, upacara gembira, sunat Rasul, nasihat, maulid, dan upacara lain selain Islam.

Pertunjukan Rapai Pulot diawali dengan lagu-lagu sebagai salam perkenalan yang dilanjutkan dengan permainan akrobatik. Permainan rapai ini juga digunakan untuk mengiringi ratoih (lagu). Pertunjukan Rapai Kisah digelar dengan mengisahkan atau menyanyikan lagu sesuai permintaan yang punya rumah. Seorang syeh rapai memimpin pertunjukan dan bersama-sama dengan pemain yang lain melagukan syair-syair kisah tersebut yang diikuti irama tingkahan rapai. 

3. Bentuk Rapai

Rapai berbentuk seperti tempayan atau panci dengan berbagai macam ukuran. Di bagian atas rapai ditutup dengan kulit,  sedangkan bagian bawahnya kosong. Bagian bawah yang kosong tersebut membuat kulit akan berbunyi dan berdengung jika dipukul. Pada bagian buloh diukir dengan ragam hias yang sederhana, yaitu berupa ukiran-ukiran strimline lurus sepanjang bundaran buloh. Ukuran lingkar luar buloh antara 38 hingga 50 cm, sedangkan tinggi paloh (dinding frame) kurang lebih 8-12 cm, lebar paloh jika dilihat dari posisi belakang adalah 4-6 cm, dan untuk ukuran induk Rapai Pase garis tengah bulatan adalah 1 meter atau lebih.

Sebuah rapai terdapat beberapa bagian, yaitu:

  • Bolah atau paloh.
  • Selaput atau membran yang terbuat dari kulit kambing. Untuk rapai berukuran besar, membran terbuat dari kulit sapi yang telah diolah dan ditipiskan.
  • Rotan untuk mengencangkan atau meninggikan suara.
  • Lempengan logam pada bagian pinggir paloh yang menciptakan suara gemerincing.


Bentuk rapai terlihat dari samping dan belakang
Sumber: Z. H. Idris, et al. 1993. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional
Propinsi Daerah Istimewa Aceh.
Jakarta: Proyek Penelitian, Pengkajian,
dan Pimbaan Nilai-Nilai Budaya, p. 85.

4. Pembuatan Rapai

Bahan untuk membuat rapai adalah gelondongan kayu berukuran besar. Hal tersebut menyebabkan para pembuat rapai saat ini kekurangan bahan untuk membuat peralatan ini. Untuk membuat peralatan ini dibutuhkan kayu nangka, merbau, medang-ara yang berumur ratusan tahun. Kayu untuk membuat rapai direndam terlebih dahulu hingga beberapa bulan agar kayu tersebut lebih awet. Baru kemudian mengorek bagian dalamnya dan hanya menyisakan bagian pinggir saja. Hasilnya adalah sebuah lobang bundar besar yang menggeronggong.

Pinggiran yang menjadi sisa korekan tadi merupakan kelawang atau body yang perlu dihaluskan dan diukir dengan pahatan berupa tekuk-tekuk garis lurus. Di tengah pinggiran frame dipahat dan diberi lubang memanjang kurang lebih 6 cm dan 2 cm untuk menempatkan lempeng tembaga dengan lebar 1 cm. Di bagian atasnya diberi kulit kambing yang telah disamak sedemikian rupa sehingga tipis dan halus kemudian dijepit.

Menurut Z. H. Idris, et al (1993: 81), peralatan musik rapai yang ada sekarang merupakan warisan nenek moyang yang mungkin telah berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Mengingat bahan untuk membuat rapai yang sulit didapatkan untuk saat ini. Rapai merupakan peralatan musik tradisional yang mengandung nilai artistik yang tinggi. Jenis kayu yang digunakan juga jenis kayu pilihan, sehingga peralatan tersebut kukuh dan jarang retak atau pecah.

5. Cara Memainkan Rapai

Rapai biasanya dimainkan oleh beberapa orang secara serempak. Para pemain rapai duduk berbanjar membentuk lingkaran sambil memukul peralatan tersebut. Tangan kiri memagang paloh atau palong (body) rapai, sedangkan tangan kanan memukul kulit rapai. Peralatan musik ini akan menghasilkan suara dengungan atau gema yang besar bila dipukul di tengah-tengah membran. Rapai akan menghasilkan suara yang tajam dan nyaring kalau dipukul pada bagian pinggir membran (Z. H. Idris, et al. 1993: 83).

Sebuah formasi pemain rapai dipimpin oleh seorang syeh yang dibantu oleh beberapa pemukul yang lain. Beberapa buah rapai akan dipukul dengan tempo rata untuk membentuk kekompakan suatu irama lagu. Beberapa yang lain akan dipukul dengan tingkahan-tingkahan dan suara dinamik. Suara “cring” dari lempengan tembaga muncul di sela-sela permainan itu secara satu-satu atau beruntun. Kadang-kadang dibarengi dengan suara chorus secara ensambel atau sahut-sahutan ulangan yang gegap gempita. Hal tersebut memberikan kesan meriah pada suatu pertunjukan yang diadakan.

Permainan rapai dalam sebuah pertunjukan biasanya diawali dengan tempo lambat (andante) yang dilanjutkan dengan tempo sedang (moderate), kemudian cepat (allegro), dan lebih cepat lagi (allegretto) sebagai klimaksnya. Pada waktu memainkan musiknya, kadang para pemain musik ikut bergerak mengikuti alunan musik, kadang kepala terangguk-angguk menurut irama yang dimainkan saat itu. Para pemain itu masih dalam keadaan duduk dengan rapai tetap dalam keadaan tegak di atas ujung kaki.

6. Nilai-nilai

Rapai bukan sekadar alat musik yang dapat dinikmati pada waktu pertunjukan, tapi rapai juga mengandung nilai-nilai tertentu sebagaimana berikut.

a. Nilai Tradisi

Pertunjukan rapai merupakan warisan tradisi yang perlu dilestarikan. Pertunjukan rapai masih digelar hingga saat ini dalam berbagai acara. Baik acara yang bersifat seremonial maupun acara yang bersifat perayaan. Hal tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh, di tengah perkembangan ke arah modenitas, masih tetap berusaha untuk mempertahankan tradisi mereka.

b. Nilai Budaya

Masyarakat Aceh mempunyai kekayaan kebudayaan yang beragam. Mulai dari sastra hingga seni musik. Rapai merupakan salah satu kebudayaan yang dilestarikan oleh masyarakat Aceh hingga kini. Pertunjukan rapai menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat luar Aceh.

c. Nilai Kekompakan

Memainkan musik rapai selalu menuntut kekompakan. Hal tersebut secara tidak langsung berpengaruh pada karakter para pemain di mana mereka akan mempunyai keterikatan yang kuat satu sama lain. Secara luas hal kekompakan yang muncul dalam permainan musik rapai diharapkan mempengaruhi masyarakat. Sehingga dengan musik rapai, terbentuk solidaritas di dalam masyarakat.

d. Nilai Keindahan

Permainan rapai, baik sebagai musik pertunjukan maupun sebagai musik pengiring, selalu menyimpan keindahannya sebagai sebuah karya seni. Keindahan ini menjadikan pertunjukan rapai sebagai media refreshing atau hiburan bagi masyarakat. Tentunya hiburan dalam rapai dimaknai bukan sekadar hura-hura atau perayaan belaka, namun juga bentuk penyadaran kepada masyarakat bahwa kesenian tradisional juga dapat dijadikan media untuk “bersenang-senang” dalam arti yang luas.

7. Penutup

Rapai merupakan permainan musik yang masih identik dengan masyarakat Aceh hingga kini. Sejak dimainkan pertama kali dimainkan sekitar tahun 900 masehi di Bandar Khalifak, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, rapai terus mengalami perkembangan. Masyarakat Aceh yang memainkan rapai juga semakin luas, bukan hanya di wilayah Aceh Besar saja. Hingga kini, rapai masih menjadi peralatan dan permainan musik tradisional yang menjadi simbol kebudayaan Aceh.

(Mujibur Rohman/bdy/12/11-2010) 

Sumber: http://vibizdaily.com

Referensi

Z. H. Idris, et al. 1993. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Proyek Penelitian, Pengkajian, dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya.

Firdaus Burhan, ed. 1986. Ensiklopedia Musik dan Tari  Daerah, Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Banda Aceh: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Dibaca : 16.521 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password