Minggu, 23 November 2014   |   Isnain, 30 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.622
Hari ini : 12.700
Kemarin : 17.747
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.372.934
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Ghazal: Musik Tradisional Masyarakat Melayu Kepulauan Riau


Musik ghazal merupakan salah satu jenis musik tradisional yang berkembang di tanah Melayu, salah satunya di Kepulauan Riau. Ghazal memadukan keindahan musik dan kedalaman makna syair.

1. Asal-usul

Ghazal merupakan salah satu jenis musik yang berkembang di Kepulauan Riau. Salah satu wilayah yang menjadi tempat berkembangnya permainan musik ini adalah Pulau Penyengat yang merupakan salah satu dari gugusan pulau-pulau di Kepulauan Riau. Pulau Penyengat terletak di sebelah Pulau Bintan (Asri, 2008: 13).

Mayoritas masyarakat Pulau Penyengat beragama Islam dan inilah yang menjadi alasan mengapa kesenian yang berkembang di pulau ini kental dengan kebudayaan Islam. Salah satu jenis kesenian yang bercorak Islam itu adalah musik ghazal. Islam yang dibawa oleh kaum saudagar Arab dan persia mulai masuk ke wilayah Kepulauan Riau sejak abad ke-18. Selain bermaksud untuk berniaga, kaum pedagang asing itu ersebut juga membawa agama, kebudayaan, dan berbagai macam kesenian.

Musik ghazal merupakan hasil perpaduan antara kebudayaan yang dibawa oleh pendatang dengan kebudayaan setempat. Perpaduan konsep musik ghazal dengan budaya dan tradisi setempat ini memunculkan bentuk budaya baru. Salah satu kekhasan musik ghazal masyarakat Melayu dibanding bentuk musik ghazal aslinya adalah adanya syair-syair Melayu dalam permainan musik tersebut.

Di daerah asalnya, Persia dan kawasan Arab lainnya, ghazal merupakan bentuk puisi berima yang setiap barisnya memiliki bentuk yang sama. Puisi ini merupakan bentuk ekspresi rasa sakit karena kehilangan atau perpisahan. Ghazal juga merupakan bentuk ekspresi rasa cinta meski di dalamnya terdapat rasa sakit yang diderita itu. Penyair mistik Persia, Jalaludin Rumi, adalah orang pertama yang menulis jenis syair ini pada abad ke-13.

Kiprah Rumi dilanjutkan oleh Hafez selang satu abad kemudian. Selanjutnya menyusul penyair Fuzuli Azeri pada abad ke-16, serta Mirza Ghalib (1797-869) dan Muhammad Iqbal (1877-1938). Dua orang ini menulis ghazal dalam bahasa Persia dan Urdu. Kesenian ghazal mulai menyebar ke Asia Selatan sejak abad ke-12. Saat kini, bentuk kesenian ini telah berkembang di berbagai daerah dan bentuk puisinya ditemukan dalam berbagai bahasa (wikipedia.org).

Masuknya musik ghazal di Kepulauan Riau tidak lepas dari peran seorang tokoh bernama Lomak. Awalnya, Lomak menyebarkan ghazal di daerah Johor, Malaysia. Lambat-laun, ghazal berkembang ke berbagai daerah di sekitarnya, termasuk Pulau Penyengat. Masyarakat Melayu menggunakan musik ghazal sebagai sarana dakwah Islam melalui pelantunan Rubaiyat Oemar Khayam. Namun, sebelum musik ini berkembang, yang pertama kali dilakukan oleh Lomak adalah mengembangkan musik ghazal agar diterima oleh masyarakat Melayu. Musik ghazal yang mulanya kental dengan budaya Arab kemudian “dimelayukan” dengan variasi alat musik dan syairnya.

Di Pulau Penyengat, permainan musik ghazal mendapat sambutan positif. Ini terbukti dengan pemberian ruang kepada musik ini untuk berkembang. Sambutan itu muncul bukan hanya dari kalangan masyarakat, namun juga pemerintah daerah. Suasana yang kondusif itulah yang mendorong kemunculan berbagai kelompok musik ghazal di Pulau Penyengat.

Hingga saat ini, permainan musik Melayu ghazal terus berkembang. Para pemain tidak saja semakin piawai dalam memainkan peralatan musiknya, mereka pun melakukan berbagai inovasi dengan menambah jumlah lagi dalam musik tersebut. Musik Melayu ghazal terus dimainkan dalam berbagai kesempatan dan menjadi hiburan dalam berbagai upacara adat atau ketika menyambut tamu kehormatan.

2. Fungsi Musik Ghazal bagi Masyarakat Melayu

Selain sebagai bagian dari entitas kebudayaan, musik juga mempunyai nilai fungsi tertentu bagi masyarakat. Begitu pula dengan musik tradisional Melayu ghazal. Dalam buku Selayang Pandang Musik Melayu Ghazal (Asri, 2008: 37-38) disebutkan beberapa fungsi musik Melayu ghazal, yakni antara lain:

a. Sarana Mengungkapkan Emosi

Musik mempunyai kekuatan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan atau emosi pendengarnya. Pendengar musik seolah-olah mempunyai hubungan yang kuat dengan lagu yang sedang didengarkan, baik secara musikal maupun dari lirik lagu tersebut. Meskipun demikian, pandangan atau perasaan setiap orang yang mendengar suatu musik berbeda-beda. Dalam pandangan psikologi umum, emosi merupakan respon yang khusus yang berorientasi untuk merespon pelaku. Emosi muncul sebagai respon atau reaksi personal terhadap sebuah situasi. Emosi tertentu dapat muncul ketika seseorang mendengarkan musik Melayu ghazal. Kita akan secara langsung dan tanpa sadar merespon musik tersebut ketika mendengarkannya dan mengatakan musik tersebut bagus.   

b. Sebagai Hiburan

Musik selalu menjadi sarana hiburan bagi sebagian besar orang. Begitu pula dengan musik tradisional ghazal yang dapat menjadi sarana hiburan bagi masyarakat, misalnya ketika menyambut tamu atau sebagai hiburan dalam acara-acara tertentu.

c. Kenikmatan Estetis

Kenikmatan estetis juga terkandung dalam musik Melayu ghazal, meskipun pandangan antara satu orang dengan yang lain tentunya tidak sama. Namun, secara umum nilai estetis dalam sebuah karya seni dapat diakui secara bersama-sama. Fungsi kenikmatan estetis dalam musik ghazal sangat jelas dan berlaku bagi semua orang.

d. Sarana Komunikasi

Menurut Asri (2008:39), musik dapat digunakan untuk berkomunikasi dalam hubungannya dengan Tuhan (hablum minallah) dan manusia (hablum minannas). Musik sebagai sarana berkomunikasi dengan Tuhan dapat dirasakan pada waktu para pemain memahami dan menghayati syair dan lagu yang dibawakan. Semakin banyak pemain menguasai nilai dan ajaran dalam syair, semakin tinggi pula ketundukannya kepada Tuhan. Musik ghazal dapat menjadi sarana yang dijadikan sebagai alat untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

3. Musik Ghazal dalam Pertunjukan

Berikut ini adalah hal-hal penting terkait dengan pementasan musik Melayu ghazal:

a. Peralatan Musik

Dalam sebuah pementasan musik, peralatan yang digunakan mempunyai peranan yang sangat penting. Apalagi pementasan tersebut merupakan gabungan dari beberapa alat musik, yang tentunya tidak hanya membutuhkan kekompakan para pemain, namun juga peralatan musiknya. Kekompakan alat musik inilah yang terdapat dalam musik Melayu ghazal. Lewat alat musik yang digunakan, musik ghazal memunculkan suara yang khas dan unik untuk diperdengarkan (Asri, 2008: 45).

Dalam permainan musik Melayu ghazal, alat musik memegang peranan penting. Alat musik ini akan menghasilkan irama yang memberikan kesan bagi para pendengarnya. Ada beberapa alat musik dalam permainan musik Melayu ghazal menurut Asri (2008: 46), yaitu syarenggi, sitar, harmonium, dan tabla.

Syarenggi merupakan alat musik yang berbentuk seperti tongkat kayu. Pada peralatan ini terpasang tiga tali yang ketika dimainkan akan menghasilkan suara. Alat ini dimainkan dengan cara digesek dan mengeluarkan suara yang khas ketika dimainkan.

Sitar berbentuk seperti gitar dan sama-sama merupakan alat musik petik. Berbeda dengan gitar, pada bagian pangkal sitar atau bagian yang dipetik berbentuk lebih bundar dan gembung seperti buah labu. Tali senar sitar berjumlah tujuh buah yang terkait dari ujung ke pangkal. Di ujung sitar, tali dikaitkan dengan pengatur nada. Harmonium adalah alat musik yang berbentuk kotak seperti balok kayu. Alat musik ini mirip dengan piano, begitu pula dengan cara memainkannya.

Tabla merupakan alat musik pukul berbentuk bundar. Bagian atasnya terdapat tutup dari bahan kulit yang ditali dari atas ke bawah yang berfungsi untuk mengatur tinggi dan rendah nada irama tabla. Untuk menghasilkan nada tinggi, tali ditarik dengan lebih kencang. Sebaliknya, untuk nada rendah, maka tali harus dikendorkan.

Pada perkembangannya kemudian, peralatan musik ghazal mengalami perubahan. Biola menggantikan syarenggi, gambus menggantikan sitar, serta gitar sebagai tambahan. Dua alat musik yang masih dipertahankan adalah harmonium dan tabla. Meskipun mengalami perubahan dalam peralatan musiknya, namun irama musik ghazal tetap dipertahankan sebagaimana aslinya.

b. Syair dalam Pementasan Musik Ghazal

Syair dalam pementasan musik Melayu ghazal memegang peranan penting. Syair merupakan jalan masuk untuk menjiwai musik, selain irama yang disuguhkannya. Selain itu, melalui syair, musik Melayu ghazal menyampaikan pesan moral dan spiritual kepada para pendengarnya. Dalam hal ini, musik Melayu ghazal bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi mempunyai fungsi edukasi dan informasi.

Syair dalam musik Melayu ghazal berupa puisi, terkadang juga pantun. Bahasa yang digunakan dalam syair lagu, yang bentuk awalnya adalah pantun, menggunakan kata-kata kiasan. Dalam budaya Melayu, pantun merupakan media sastra yang paling utama dalam berkomunikasi (Agus Trianto, 2007: 20). 

Contoh pantun dalam pementasan musik Melayu ghazal misalnya Embun Berderai dan Patah Hati. Keduanya merupakan pantun yang sangat terkenal di masyarakat Melayu, terutama di Riau. Pantun Embun Berderai mengisahkan tentang seseorang yang sebenarnya tidak ingin berpisah dari pasangannya, namun mereka ditakdirkan berpisah. Sedangkan Patah Hati menceritakan tentang seseorang yang merantau dan teringat akan kampung halamannya. Berikut dua pantun berjudul Embun Berderai dan Patah Hati yang dikutip dari Asri (2008: 51):

Embun Berderai

Tiup api embun berderai

Patah galah di haluan perahu

Niat hati tak mau bercerai

Kuasa Allah siap yang tahu

Patah Hati

Patah hati terus merajuk

Merajuk sampai ke belukar

Hati panas kembali sejuk

Ibarat burung kembali ke sangkar

4. Nilai-nilai

Musik Melayu ghazal mempunyai nilai-nilai yang dapat dijadikan panutan bagi generasi sekarang. Beberapa nilai yang terdapat dalam musik Melayu ghazal, yakni:

a. Nilai Tradisi

Musik Melayu ghazal adalah musik lintas generasi yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagai sebuah tradisi, musik Melayu ghazal dapat menjadi salah satu ukuran sampai sejauh mana perkembangan peradaban masyarakat. Kemajuan peradaban tersebut terkait dengan sejauh mana masyarakat menciptakan dan mengembangkan potensi dan kemampuannya.

b. Nilai Akulturasi Budaya

Kebudayaan bukan sesuatu yang sudah “jadi” atau entitas yang kaku. Kebudayaan selalu mengalami perkembangan, perpaduan, hingga dihasilkannya kebudayaan baru.

c. Nilai Keindahan

Bermain musik selalu mensyaratkan kekompakan. Hal ini juga yang ada pada musik Melayu ghazal. Keindahan musik ini terciptakan dari keselarasan nada dan irama, kekompakan, dan syair lagu tersebut. Keindahannya terletak pada syair lagu yang dimainkan dan spontanitas para pemain dalam mementaskan musik Melayu ini.

d. Nilai Edukasi

Musik juga dapat berfungsi sebagai sarana edukasi. Syair-syair pada musik Melayu ghazal, baik yang berbentuk pantun atau puisi, merupakan cerminan pandangan hidup dan kearifan masyarakat Melayu. Nilai-nilai kearifan tersebut dapat menjadi pedoman bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Dengan demikian, musik Melayu ghazal cukup berperan penting dalam proses edukasi masyarakat

5. Penutup

Musik Melayu ghazal adalah salah satu entitas budaya lokal yang harus dilestarikan demi memperkaya kebudayaan nasional.

(Mujibur Rohman/bdy/18/01-2011)

Sumber foto: alunanmustika.blogspot.com

Referensi

Agus Trianto, 2007. Pembahasan Tuntas Kompetensi Bahasa Indonesia untuk SMP dan MTs. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Asri, 2008. Selayang Pandang Musik Melayu Ghazal. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.

 “Ghazal”, dalam http://en.wikipedia.org, data diunduh pada 17 Januari 2011.

Dibaca : 21.651 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password