Senin, 11 Desember 2017   |   Tsulasa', 22 Rab. Awal 1439 H
Pengunjung Online : 3.692
Hari ini : 35.741
Kemarin : 35.061
Minggu kemarin : 254.041
Bulan kemarin : 5.609.877
Anda pengunjung ke 103.936.421
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Jamuan Laut: Upacara Tolak Bala Adat Melayu Serdang, Sumatera Utara


Upacara Jamuan Laut merupakan salah satu jenis upacara tolak bala yang terdapat pada masyarakat Melayu Serdang, Sumatera Utara. Upacara adat ini sudah berlangsung sejak lama, yakni sejak masa pra-Islam, dan masih dilestarikan hingga saat ini namun diselaraskan dengan ajaran agam Islam yang dianut sebagian besar masyarakat Melayu Serdang.

1. Asal-usul

Setiap komunitas budaya Melayu memiliki upacara ritual yang masih dipercayai oleh pemiliknya dan dihubungkan dengan kepercayaan yang bersifat gaib. Masyarakat Melayu Serdang juga memiliki kekayaan tradisi yang berupa acara dan upacara ritual yang merupakan salah satu budaya Melayu yang paling tua. Upacara ritual masih dilakukan oleh masyarakat Melayu Serdang karena etnis ini merupakan salah satu kelompok masyarakat yang pernah mendapat pengaruh dari kebudayaan Hindu dan Budha sebelum masuknya agama Islam.

Pelaksanaan adat ritual kerap dibayangkan sebagai upacara yang bersifat keramat karena para pendukungnya mengikuti dengan khidmat dan meyakininya sebagai sesuatu yang bersifat magis. Dalam upacara adat disertai dengan berbagai perasaan dan perlengkapan simbolis. Terdapat pula rangkaian perangkat lambang-lambang yang berupa benda atau materi, kegiatan fisik, hubungan tertentu, kejadian-kejadian, isyarat-isyarat, dan berbagai situasi tertentu dalam proses pelaksanaannya (Wan Syaifuddin, 2002).

Salah satu upacara ritual masyarakat Melayu Serdang adalah ritual Upacara Jamuan Laut yang termasuk dalam jenis upacara tolak bala. Upacara adat ini bertujuan untuk memberikan persembahan kepada para penunggu laut atau yang dikenal dengan sebutan Jimbalang atau Mambang Laut. Upacara Jamuan Laut berasal dari masyarakat Melayu lama yang terus hidup sesuai dengan perkembangan kepercayaan masyarakat Melayu itu sendiri. Kepercayaan atau upacara ini mempunyai asal yang sama dengan asal nenek moyang bangsa-bangsa Nusantara yakni dari Asia Belakang Indo-China yang datang sekitar ratusan tahun yang lalu.

Upacara Jamuan Laut diselenggarakan agar kaum nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut mendapat berkah dalam penghidupannya (Tengku Luckman Sinar dalam http://pussisunimed.wordpress.com). Masyarakat Melayu Serdang yang hidup di daerah pesisir meyakini bahwa Upacara Jamuan Laut dapat melindungi diri dari marabahaya (Trisni Andayani, dalam http://www.geocities.ws). Dengan kata lain, Upacara Jamuan Laut adalah suatu upacara tolak bala atau selamatan yang berhubungan dengan kehidupan di laut. Dalam pelaksanaan Upacara Jamuan Laut terdapat tahap perjamuan makan yang ditujukan kepada jin yang menguasai laut dan kaum nelayan percaya bahwa itu akan mendatangkan keselamatan dan berkah (Sudirman, dalam http://dirmanmanggeng.blogspot.com).

Menurut Tengku Muhammad Lah Husni, sebelum ajaran Islam masuk ke wilayah Serdang, masyarakat pesisir mempercayai bahwa terdapat kekuatan gaib yang ada di laut. Kepercayaan itu diartikan dan diwujudkan dengan cara melakukan upacara yaitu sebagai persembahan kepada penunggunya, misalnya jin penunggu pohon atau jin penunggu laut (Husni, 1972). Koentjaraningrat juga menyatakan bahwa kaum nelayan merupakan kelompok yang intensif menggunakan metode ilmu gaib dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini disebabkan lebih banyak tantangan yang dihadapi di laut dibandingkan dengan di darat (Koentjaraningrat, 1985).

Kaum nelayan mempercayai bahwa seluruh lautan dikuasai oleh makhluk halus, yakni jin atau Mambang Laut. Diyakini, Mambang Laut terdiri dari 8 penguasa yang bersemayam di 8 penjuru mata angin. Masing-masing penguasa laut itu dikenal dengan nama: Mayang Mengurai, Laksamana, Mambang Tali Arus, Nambang Jeruju, Katimanah, Panglima Merah, Datuk Panglima Hitam, dan Babu Rahman. Empat dari kedelapan jin laut tersebut merupakan pemimpin dari seluruh jin yang ada di laut, yakni Datuk Panglima Hitam (penguasa bagian utara), Mambang Kali Arus (penguasa bagian selatan), Mayang Mengurai (penguasa bagian timur), dan Katimanah (penguasa bagian barat).

Sebagai titik tengah dari empat arah kekuasaan penguasa laut, diletakkan Tapak Jamuan Laut. Letak Tapak Jamuan Laut ini sebelumnya telah ditentukan melalui musyawarah antara ketua adat, pemuka masyarakat, utusan pemerintah daerah, dan pawang laut. Posisi Tapak Jamuan Laut harus terletak di hamparan lahan yang luas dan dipercaya bersih dari kemaksiatan, serta dipastikan tidak mengganggu alam di sekitarnya. Selain itu, letak Tapak Jamuan Laut harus mengandung nilai historis bagi masyarakat daerah itu (biasanya daerah yang diyakini sebagai tempat awal kedatangan masyarakat di tempat itu) dan mudah dijangkau oleh khalayak ramai (Syaifuddin, 2002).

Orang yang paling berpengaruh dalam pelaksanaan Upacara Jamuan Laut adalah pawang laut, yakni orang yang diyakini mempunyai kekuatan magis dan mampu menguasai penghuni laut. Pawang laut berperan penting dalam kehidupan masyarakat pesisir dan menjadi tumpuan nelayan untuk berkomunikasi dengan roh-roh gaib yang menguasai samudera. Para nelayan percaya bahwa makhluk halus akan murka jika ada yang melanggar pantangan. Masyarakat Melayu Serdang juga meyakini bahwa gangguan makhluk halus laut hanya dapat diselesaikan oleh pawang laut (Syaifuddin, 2002).

Sejak ajaran Islam masuk dan berkembang di wilayah Sumatera Timur (sekarang menjadi Sumatera Utara), Upacara Jamuan Laut tidak lagi lekat dengan ritual memohon berkah dan perlindungan kepada makhluk gaib penunggu laut, melainkan mulai diselaraskan dengan ajaran Islam, yakni sebagai media permohonan dan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun, makna dari pelaksanaan Upacara Jamuan Laut tetap diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dengan harapan agar dapat diambil hikmahnya (Andayani, dalam http://www.geocities.ws).

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Ritual adat Upacara Jamuan Laut idealnya dilaksanakan 4 tahun sekali, namun itu bukan hal yang wajib, biasanya disesuaikan dengan datangnya “isyarat” (biasanya berupa mimpi) yang dialami oleh pawang laut. Masyarakat lokal meyakini bahwa “isyarat” itu akan datang mengikuti keadaan masyarakat, misalnya ketika perolehan ikan dirasakan mulai berkurang.

Ketentuan waktu pelaksanaan Upacara Jamuan Laut biasanya dilakukan pada tanggal 1, 5, dan 30 pada bulan Hijriah atau bulan Juli dan Agustus pada penanggalan Masehi. Lamanya waktu yang diperlukan untuk Upacara Jamuan Laut ditentukan oleh kesepakatan antara pawang laut, tokoh adat, utusan pemerintah daerah, pemuka masyarakat, tokoh agama, dan anggota masyarakat lainnya. Upacara Jamuan Laut biasanya berlangsung selama tiga hari, tujuh hari, atau sembilan hari (Wan Syaifuddin, 2002).

Sedangkan tempat penyelenggaraan Upacara Jamuan Laut bagi masyarakat Melayu Serdang dapat dikategorikan menjadi beberapa bagian. Pertama, kawasan yang diperuntukkan untuk tahap persiapan penyelenggaraan, yaitu ruangan dari rumah atau ruang balai desa untuk bermusyawarah. Kedua, tempat yang diperuntukkan bagi seluruh peserta upacara, yaitu di pinggir laut atau pantai dalam jarak sekitar 300 meter menuju ke tengah laut. Ketiga, kawasan yang diperuntukkan dan dikuasai oleh pawang laut guna keperluan penyampaian persembahan, misalnya di Pantai Jaring Halus atau Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara (Wan Syaifuddin, 2002).

3. Bahan dan Peralatan

Upacara Jamu Laut memerlukan bahan-bahan dan peralatan yang akan dipersembahkan kepada penunggu laut. Sesaji atau perlengkapan itu disebut sebagai Ramuan Jamu Laut. Benda-benda yang akan dipersembahkan mengandung makna tertentu serta disesuaikan dengan adat-istiadat dan kepentingan sosial-budaya masyarakat setempat. Persembahan Ramuan Jamu Laut terdiri dari:

  • Satu piring beras putih.
  • Satu piring beras kuning.
  • Satu piring beras hitam.
  • Bartih yang tidak ditampi.
  • Bartih yang dibersihkan.
  • Satu talam bunga rampai.
  • Limau purut dan limau pagar.
  • Kemenyan dan tepung tawar.
  • Gambar berbagai jenis ikan (sumber daya laut) yang terbuat dari timah, yaitu ikan terkecil, seperti ikan bilis hingga kepada ikan besar, seperti ikan bawal, tongkol, jenahar, udang, kepiting, dan lain sebagainya.
  • Kain lima warna untuk bendera, yaitu warna kuning, putih, hitam, biru, dan hijau.
  • Sebatang nibung.
  • Setalam kue.
  • Seekor kambing dan ayam jantan berwarna hitam.

4. Tata Cara Pelaksanaan Upacara

Pelaksanaan Upacara Jamuan Laut menganut cara dan syarat yang berbeda-beda di masing-masing daerah pesisir karena tergantung pada permintaan pawang laut. Dalam Upacara Jamuan Laut masyarakat Melayu Serdang yang dilangsungkan di Pantai Cermin, misalnya, memiliki perbedaan dalam hal penyampaian dengan daerah Melayu lainnya di Sumatra Timur (sekarang Sumatra Utara). Upacara ritual Jamuan Laut masyarakat Melayu Serdang di Pantai Cermin, baik secara kepercayaaan maupun secara kultur, menimbulkan fenomena sosial dari masyarakat Melayu Serdang tersebut sebagai komunitas pendukungnya.

Di luar masa persiapan, Upacara Jamuan Laut Melayu Serdang terdiri dari 6 (enam) tahapan. Masing-masing tahapan merupakan pokok utama dari seluruh rangkaian penyelenggaraan upacara yang diadakan. Kelima tahapan tersebut tersusun secara berurutan sedemikian rupa, yaitu: (1) pemancangan panji dan pembuatan balai, (2) penyembelihan hewan, (3) menguras pantai dan mengantar persembahan, (4) barjanji (ikrar) dan doah (berdoa), (5) pengumuman pantangan, dan (6) makan bersama (Sudirman, http://dirmanmanggeng.blogspot.com).

Tahap pertama adalah mendirikan balai upacara, yaitu bangunan sederhana yang didirikan di tempat upacara. Balai tersebut dibangun dengan batang pohon, berwujud tanpa dinding, dan beratap anyaman daun kelapa. Letaknya memanjang dan sejajar dengan sisi pantai. Balai-balai ini digunakan untuk meletakkan perlengkapan yang dipersembahkan (sesaji) dan dipercayai masyarakat sebagai tempat menerima makhluk halus. Di balai itulah pawang laut mengibarkan bendera untuk memanggil makhluk halus penunggu laut. Selain itu, pawang laut juga menaburkan bunga dan kemudian meletakkan sesaji yang akan dipersembahkan untuk para penguasa laut (Wan Syaifuddin, 2002).

Seluruh warga masyarakat diharapkan menyumbang beras semampunya, sebagian digunakan untuk kepentingan upacara dan sebagian lainnya untuk makan bersama-sama. Selanjutnya, disediakan sebatang bambu berukuran 6 meter untuk memancang bendera dan panji-panji yang dilengkapi dengan kain berwarna putih berukuran dua meter. Di kain putih itu telah dituliskan kalimat syahadat dengan menggunakan aksara Arab-Jawi. Pemancangan panji-panji dilakukan tujuh hari sebelum pelaksanaan upacara. Perhitungan hari yang dianggap tepat adalah pada tarikh 13, 15, atau 17 dalam penanggalan tahun Masehi. Pemancangan panji-panji dilakukan oleh para pawang laut pada saat matahari terbit (Wan Syaifuddin, 2002).

Di balai upacara, pawang laut mengibarkan bendera untuk memanggil para penunggu laut. Bendera yang diikat pada potongan batang bambu dipacakkan di dua tempat penyelenggaraan upacara dan satu lagi dipacakkan sejauh 100 meter dari tempat-tempat upacara itu. Masyarakat mempercayai bahwa ritual pemancangan panji-panji merupakan tanda pemberitahuan kepada para penguasa laut bahwa akan diselenggarakan Upacara Jamuan Laut. Tahap pemancangan itu sekaligus juga sebagai peringatan bagi masyarakat agar memelihara kebersihan di sekitar lokasi upacara.

Selanjutnya, disediakan kambing dan ayam jantan untuk persembahan. Kedua hewan itu telah ditambatkan atau dikurung di lokasi upacara sejak malam sebelumnya. Sebelum dipotong, hewan persembahan terlebih dulu dimandikan air bunga oleh pawang laut. Pagi hari setelah shalat Subuh, nazir dan pawang laut menyembelih serta memimpin penyembelihan kambing dan ayam jantan. Tempat penyembelihan dilakukan di atas sebuah lubang kecil yang digali untuk menampung darah. Proses ini adalah tahap bersatunya darah dengan tanah yang mengandung arti simbolik, yakni keeratan hubungan makhluk hidup, terutama manusia dengan lingkungan sekitarnya. Setelah disembelih, kambing dan ayam jantan dipotong-potong dan dipisahkan menjadi dua bagian. Bagian kepala, tulang, dan kulit dikemas untuk dipersembahkan kepada para penguasa laut. Sedangkan dagingnya dicincang halus dan dimasak untuk dimakan bersama-sama.

Saat matahari beranjak naik, upacara persembahan dimulai dan dipimpin oleh pawang laut bersama tokoh-tokoh agama dan pemuka masyarakat. Sambil memancangkan panji-panji dan bendera, pawang laut menghadap kiblat sejenak dan membaca mantera serta memercikkan air ramuan ke atas kain bendera dan tanah di tempat bambu itu dipancangkan. Selain itu, pawang laut juga menaburkan bunga dan kemudian meletakkan sesaji yang akan dipersembahkan untuk para penguasa laut. Oleh pawang, Ramuan Jamu Laut disebarkan ke arah delapan penjuru mata angin (Wan Syaifuddin, 2002).

Prosesi yang berikutnya adalah mengarak Ramuan Jamu Laut di sepanjang 2 mil dari pantai, yakni di suatu tempat yang dipercaya masyarakat sebagai sempadan pangkal pusaran angin. Saat arak-arakan Ramuan Jamu Laut berhenti, semua peserta upacara berdiri menghadap kiblat. Selanjutnya seorang ustadz membaca shalawat dan diiringi suara adzan dalam suasana hening. Sehabis adzan dikumandangkan, giliran pawang laut merapal mantera dan dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh ustadz. Kemudian seluruh peserta meninggalkan tempat upacara dengan pantangan tidak boleh melihat ke arah belakang.

Setelah ritual inti Upacara Jamuan Laut usai dilaksanakan, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian nasehat yang bersifat pengarahan dan bimbingan dari wakil pemerintah daerah. Di dalam kata-kata nasihat itu dinyatakan bahwa pihak pemerintah mendukung dan mengukuhkan Upacara Jamuan Laut sebagai aktivitas masyarakat. Setelah itu, panitia mempersilahkan seluruh peserta untuk bersama-sama menyantap makanan yang telah tersedia. Seluruh peserta upacara dipastikan harus mendapat makan karena diyakini bahwa penyelenggaraan Upacara Jamuan Laut tidak akan sempurna dan tidak akan sampai pada tujuannya apabila ada salah seorang peserta saja yang tidak/belum mendapat bagian makan bersama-sama. Terakhir, sesudah makan bersama-sama selesai, dilaksanakan doa yang dipimpin oleh ustadz, kemudian seluruh peserta upacara kembali ke rumah masing-masing (Wan Syaifuddin, 2002).

Selain kelima tahap pokok yang sudah disebutkan di atas, di dalam pelaksanaan upacara  Jamuan Laut juga kerap diselingi dengan berbagai acara lainnya. Acara-acara tambahan itu misalnya pertunjukan kesenian adat, kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekitar, dan berbagai macam kegiatan yang bersifat sosial-kemasyarakatan lainnya (Sudirman, http://dirmanmanggeng.blogspot.com).

5. Pantangan dan Larangan

Terdapat beberapa pantangan dan larangan yang tidak boleh dilakukan di lingkungan sekitar laut, antara lain sebagai berikut:

  • Dilarang menelusuri muara untuk menangkap ikan di laut pada tiap-tiap hari Jumat, sejak terbitnya matahari (jam 06.00) hingga terbenamnya matahari (jam 18.00).
  • Dilarang menelusuri muara untuk menangkap ikan di laut pada hari-hari besar Islam, sejak terbitnya matahari (jam 06.00) hingga terbenamnya matahari (jam 18.00).
  • Dilarang menelusuri muara pada hari Kemerdekaan Republik Indonesia (setiap 17 Agustus), dari terbitnya matahari (jam 06.00) hingga terbenamnya matahari (jam 18.00).
  • Dilarang berkelahi di laut dan di sekitar muara.
  • Dilarang membanting ikan secara sengaja maupun tidak sengaja.
  • Dilarang menjatuhkan atau mengambil ikan dari daun pinang sebagai umpan hak orang lain, sebelum tengah hari.
  • Sewaktu penyelenggaraan Upacara Jamuan Laut dan sehari sesudahnya tidak diperbolehkan menangkap ikan di laut (Wan Syaifuddin, 2002).

6. Nilai-nilai

Pelaksanaan upacara adat Jamuan Laut sedikit-banyak mengandung nilai-nilai positif yang bermanfaat. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Akulturasi Budaya

Upacara Jamuan Laut merupakan ritual yang sudah dilakukan sejak zaman sebelum Islam masuk dan berkembang di wilayah Sumatera Timur, yakni sedari era Hindu, Budha, ataupun aliran kepercayaan warisan nenek moyang. Setelah ajaran Islam datang dan menjadi agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat di sana, Upacara Jamuan Laut tidak serta-merta dihapuskan, melainkan tetap dijalankan namun diselaraskan dengan nilai-nilai Islami sehingga pelaksanaannya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan upacara Jamu Laut mengandung nilai-nilai akulturasi budaya yang memadukan antara tradisi leluhur dengan ajaran Islam.

b. Pelestarian Tradisi

Pelaksanaan Upacara Jamuan Laut yang masih diselenggarakan hingga sekarang merupakan salah satu upaya untuk melestarikan tradisi atau warisan nenek moyang agar tidak punah di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi. Kearifan lokal yang terkandung di dalam upacara-upacara adat, termasuk Upacara Jamuan Laut masyarakat Melayu Serdang harus senantiasa dijaga dan dilestarikan.

c. Menghargai Alam dan Lingkungan

Upacara Jamuan Laut adalah suatu kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap alam dan lingkungan yang telah memberikan sumber dayanya demi keberlangsungan hidup manusia, dalam hal ini adalah laut yang menjadi sumber penghidupan kaum nelayan Melayu Serdang. Dengan adanya pelaksanaan upacara adat seperti ini, masyarakat dengan sendirinya akan melakukan hal-hal yang baik terhadap lingkungan dengan tidak merusak alam.

d. Solidaritas Sosial

Dalam rangkaian penyelenggaraan upacara adat Jamuan Laut, juga dibarengi dengan berbagai macam kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan dengan melibatkan semua warga masyarakat. Misalnya dengan adanya kerja bakti membersihkan tempat pelaksanaan upacara dan lingkungan sekitar dengan bergotong-royong oleh seluruh warga. Selain itu, tradisi makan bersama yang menjadi bagian dari rangkaian acara Upacara Jamuan Laut juga mencirikan bahwa upacara adat ini tidak mengabaikan kepentingan rakyat banyak dan tidak hanya mengedepankan acara-acara yang bersifat seremonial belaka. Dengan demikian, rasa solidaritas sosial masyarakat akan semakin erat dan harmonis dengan sendirinya.

7. Penutup

Upacara Jamuan Laut merupakan salah satu jenis upacara adat dalam tradisi masyarakat Melayu Serdang yang perlu dilestarikan keberadaannya. Upacara adat ini termasuk ke dalam jenis upacara tolak bala yang sudah dijalani oleh nenek moyang orang-orang Melayu Serdang sejak masa pra-Islam. Pada perkembangannya, Upacara Jamuan Laut beralkuturasi dengan budaya Islam sehingga tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

__________

(Iswara N Raditya/bdy/01/02-2011)

Sumber Foto: Koleksi Kesultanan Serdang

Dibaca : 16.365 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password