Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.128
Hari ini : 6.248
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.269.747
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tari Lenggang Patah Sembilan: Tari Klasik Kesultanan Serdang di Sumatra Utara

 


Tari Lenggang Patah Sembilan adalah salah satu tradisional atau
tari klasik dari Kesultanan Serdang, Sumatera Utara.
 

1. Asal-usul

Tari Lenggang Patah Sembilan adalah kesenian tari Melayu yang indah. Tari ini hingga kini masih terus dipentaskan dalam acara-acara adat di daerah Melayu, seperti di Kesultanan Serdang, Sumatera Utara. Tari Lenggang Patah Sembilan hingga sekarang terus dikembangkan di wilayah Serdang. Di kawasan ini, terdapat seorang tokoh tari bernama Guru Sauti (almarhum) yang merupakan guru tari tradisional yang disegani.

Karya-karya Guru Sauti hingga kini terus dikenang dan dikembangkan, salah satunya oleh putri Kasultanan Serdan, Tengku Mira Sinar. Guna mengenang jasa Guru Sauti, Tengku Mira Sinar menuliskan buku berjudul Teknik Pembelajaran Dasar Tari Melayu Tradisional karya Guru Sauti (2009).

Menurut cerita yang ada, tari Lenggang Patah Sembilan berasal dari ajaran leluhur Melayu yang banyak diinspirasi dari adat kebudayaan Melayu yang memang menyukai seni. Nama Lenggang Patah Sembilan diambil dari pepatah Melayu yang berbunyi: lenggang patah sembilan, semut dipijak tak mati, andan terlanda patah tiga. Pantun ini bermakna bahwa “ketika semut dipijak tidak mati, maka orang yang menginjak (penari) akan bergerak di tempat dengan lemah-gemulai”. Gerakan ini seolah-olah menandakan bahwa kalau dipijak semut tidak akan mati (Tengku Mira Sinar, ed., 2009).

Menurut Mira Sinar (2009), secara umum gerakan tari Lenggang Patah Sembilan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu lenggang di tempat, lenggang memutar satu lingkaran, dan lenggang maju atau berubah arah. Ketiga model gerakan ini harus ditarikan secara dinamis dan gemulai untuk mendapatkan sajian tari yang menarik.

Tari Lenggang Patah Sembilan dalam pementasannya ditarikan oleh sepasang laki-laki dan perempuan. Keduanya menari dengan serempak dan dinamis, sambil diiringi musik dan lagu-lagu Melayu. Menurut seniman tari Melayu, gerakan tari Lenggang Patah Sembilan sebenarnya hampir sama dengan tari Melayu lainya. Namun, perbedaannya terdapat pada saat memulai gerakan, yaitu penari yang ada di sebelah kiri memulai gerakannya dengan kaki kiri. Begitu pula sebaliknya, penari yang ada di sebelah kanan memulai gerakannya dengan kaki kanan.     

2. Penari dan Busana

Tari Lenggang Patah Sembilan pada umumnya ditarikan oleh muda-mudi secara berpasangan. Namun, saat ini sudah terjadi modifikasi di mana tidak harus muda-mudi, tari ini juga dapat ditarikan oleh bapak-bapak maupun ibu-ibu. Meskipun demikian, syarat terpenting dari tari ini adalah penarinya harus berpasangan, karena tari ini termasuk tari yang mengutamakan kesatuan gerakan.

Penari Lenggang Patah Sembilan umumnya memakai busana adat khas Melayu, yakni celana, baju, dan kopiah untuk laki-laki, serta kebaya, selendang, dan hiasan di kepala bagi perempuan. Warna busana bisa bermacam-macam, namun pada umumnya berwarna hijau dengan paduan warna emas. Dengan busana tersebut, pementasan tari Lenggang Patah Sembilan tampak semarak dan meriah. Dari sisi ini, tari Lenggang Patah Sembilan tampak berusaha ingin memperkenalkan dua kebudayaan Melayu sekaligus, yaitu tari dan busananya, karena keduanya memang memiliki kekhasan masing-masing.

3. Musik Pengiring

Tari Lenggang Patah Sembilan termasuk tari yang gembira karena diriingi oleh musik dan lagu-lagu Melayu berirama senandung. Dengan tarian, iringan musik, dan lagu-lagu yang bertempo senandung ini, saat dipentaskan tari ini dapat membuat penonton merasa gembira. Lagu-lagu Melayu yang mengiringi tari ini antara lain adalah kuala deli, makan sirih, tudung periuk, tudung saji, burung putih, damak, anak tiung, batu belah, mas merah, dan lagu-lagu lain yang bertempo langgam (senandung).

4. Ragam Gerak

Gerak tari Lenggang Patah Sembilan mencerminkan kesenian Melayu yang mendayu-dayu. Dengan iringan lagu-lagu Melayu, suasana dan aroma Melayu begitu kental dalam tarian ini. Ragam gerakan tari Lenggang Patah Sembilan berjumlah 8 gerakan. Seperti tarian Melayu pada umumnya, patokan untuk hitungan tari adalah 1x8 ketuk, dan tari Lenggang Patah Sembilan terdiri dari 14x8 ketukan, di mana setiap 1x8 ketuk dibagi menjadi dua bagian, yaitu lenggang (dari 1-4) dan patah sembilan (dari 5-8).

Gerak lenggang secara umum dibagi atas 3, yaitu lenggang di tempat, lenggang maju merubah arah, dan lenggang memutar satu lingkaran. Sementara itu, gerak patah sembilan adalah gerakan setelah gerakan lenggang. Pada bagian patah sembilan, terdapat hitungan bantu yang biasanya dilafalkan dengan kata hop yang berarti jeda sejenak (Sinar, ed., 2009).

Ragam gerak antara penari yang ada di sebelah kanan dan kiri secara umum sama, hanya berbeda dalam gerakan pertamanya saja. Berikut ini adalah penjelasannya:

a. Penari Sebelah Kanan

1) Gerakan Kaki

Pada hitungan 1 dan hitungan ganjil berikutnya dimulai dengan kaki kanan, sedangkan hitungan 2 dan hitungan genap berikutnya dimulai dengan kaki kiri.

  • Hitungan 1-4:

Melangkah

  • Hitungan 5:

Kaki kanan diantarkan serong ke kanan disusul kaki kiri menyilang di belakang kaki kanan dengan mempergunakan hitungan bantu atau kata hop.

  • Hitungan 6:

Kaki kanan ditarik kembali sejajar dengan kaki kiri.

  • Hitungan 7:

Kaki kiri diantarkan serong ke kiri disusul kaki kanan menyilang di belakang kaki kiri dengan mempergunakan hitungan bantu atau kata hop.

  • Hitungan 8:

Kaki kiri ditarik kembali sejajar dengan kaki kanan.

2) Gerakan Tangan

  • Hitungan 1-4:

Melenggang seperti orang berjalan

  • Hitungan 5:

Tangan kanan diangkat ke arah samping kanan sambil telapak tangan ditelungkupkan. Pada hitungan hop, telapak tangan diputar ke arah dalam seperti dikepalkan dengan posisi telentang. Tangan kiri berada di sisi kiri badan, untuk penari pria tangan berkacak pinggang, sedangkan untuk penari perempuan tangan berada di pangkal paha dan biasanya sambil sedikit menyingsingkan kain.

  • Hitungan 6:

Kepalan tangan dibuka sambil meneruskan putaran telapak tangan sampai menghadap ke kanan dengan melentikkan ujung jari sejajar dengan bahu.

  • Hitungan 7:

Sambil menurunkan tangan kanan, tangan kiri diangkat ke arah samping kiri, telapak tangan ditelungkupkan. Pada hitungan hop, telapak tangan diputar ke arah dalam seperti dikepalkan dengan posisi telentang. Tangan kanan berada disisi kanan badan, untuk penari pria tangan berkacak pinggang, sedangkan untuk perempuan tangan berada di pangkal paha dan biasanya sambil sedikit menyingsingkan kain.

  • Hitungan 8:

Kepalan dibuka sambil meneruskan putaran telapak tangan sampai telapak tangan menghadap ke kiri dengan melentikkan ujung jari yang sejajar dengan bahu. Tangan diturunkan pada rentang waktu menjelang hitungan berikutnya.

b. Penari Sebelah Kiri

1) Gerakan Kaki

Pada hitungan 1 dan hitungan ganjil berikutnya dimulai dengan kaki kiri, sedangkan hitungan 2 dan hitungan genap berikutnya dimulai dengan kaki kanan.

  • Hitungan 1-4:

Melangkah.

  • Hitungan 5:

Kaki kiri diantarkan serong ke kiri disusul kaki kanan menyilang di belakang kaki kiri dengan mempergunakan hitungan bantu atau kata hop.

  • Hitungan 6:

Kaki kiri ditarik kembali sejajar dengan kaki kanan.

  • Hitungan 7:

Kaki kanan diantarkan serong ke kanan disusul kaki kiri menyilang di belakang kaki kanan dengan mempergunakan hitungan bantu atau kata hop.

  • Hitungan 8:

Kaki kanan ditarik kembali sejajar dengan kaki kiri.

2) Gerakan Tangan

  • Hitungan 1-4:

Melenggang seperti orang berjalan 

  • Hitungan 5:

Tangan kiri diangkat ke arah samping kiri sambil telapak tangan ditelungkupkan. Pada hitungan hop, telapak tangan diputar ke arah dalam seperti dikepalkan dengan posisi telentang. Tangan kanan berada di sisi kanan badan, untuk penari pria tangan berkacak pinggang, sedangkan untuk penari perempuan tangan berada di pangkal paha dan biasanya sambil sedikit menyingsingkan kain.

  • Hitungan 6:

Kepalan tangan dibuka sambil meneruskan putaran telapak tangan sampai menghadap ke kiri dengan melentikkan ujung jari sejajar dengan bahu.

  • Hitungan 7:

Sambil menurunkan tangan kiri, tangan kanan diangkat ke arah samping kanan, telapak tangan ditelungkupkan. Pada hitungan hop, telapak tangan diputar ke arah dalam seperti dikepalkan dengan posisi telentang. Tangan kiri berada di sisi kiri badan, untuk penari pria tangan berkacak pinggang, sedangkan untuk perempuan tangan berada di pangkal paha dan biasanya sambil sedikit menyingisingkan kain.

  • Hitungan 8:

Kepalan dibuka sambil meneruskan putaran telapak tangan sampai telapak tangan menghadap ke kiri dengan melentikkan ujung jari yang sejajar dengan bahu. Tangan diturunkan pada rentang waktu menjelang hitungan berikutnya.

5. Nilai-nilai

Tari Lenggang Patah Sembilan mengandung nilai-nilai bagi kehidupan orang Serdang, antara lain:

a. Disiplin dan kesabaran. Nilai ini tercermin dari beragam gerak tari yang harus dipelajari dengan penuh kedisiplinan dan kesabaran agar seorang pembelajar tari Melayu dapat menguasai tari ini dengan baik. Menurut beberapa seniman tari Melayu, Lenggang Patah Sembilan termasuk tari yang sulit ditarikan dan dipelajari. Salah satu syarat untuk dapat menarikan tari Melayu adalah sang penari dapat menjiwai setiap gerakan, bukan hanya sekadar melenggang saja.    

b. Hiburan. Tari Lenggang Patah Sembilan selalu menampilkan gerakan yang indah dan alunan musik yang gembira. Dengan menonton pementasan tari ini, masyarakat tentunya akan merasa terhibur dan dapat meringankan beban.

c. Pelestarian budaya. Tari Lenggang Patah Sembilan merupakan tari tradisional yang penting untuk dilestarikan. Mementaskan tari ini dalam berbagai acara, secara langsung merupakan upaya pelestarian tersebut. Bahkan, secara umum, ketika mementaskan tari ini, maka sebenarnya ada tiga hal yang dilestarikan, yaitu tari, lagu, dan busana Melayu.

d. Seni. Sisi seni Lenggang Patah Sembilan terdapat pada unsur gerak, pakaian, musik pengiring, dan lagu-lagu yang dilantunkan. Unsur-unsur ini bersatu padu sehingga membentuk sebuah harmoni yang terwujud dalam pentas tari Lenggang Patah Sembilan. Unsur-unsur seni ini juga yang membuat tari Lenggang Patah Sembilan menarik untuk ditonton.

e. Olahraga. Nilai ini tampak sekali dari gerakan-gerakan tari Lenggang Patah Sembilan yang ritmis, dinamis, dan terkadang rancak. Hal ini tentu saja sangat memerlukan kesiapan fisik penarinya. Kekuatan, ketahanan, dan kelenturan tubuh penari sangat diperlukan untuk melakukan ragam gerak tari Lenggang Patah Sembilan yang rinci dan penuh semangat.  

6. Penutup

Tari-tarian Melayu yang umumnya mengandalkan gerakan yang dinamis, busana penarinya yang meriah, serta iringan musiknya yang rancak, menjadi satu identitas tersendiri bagi kebudayaan Melayu, termasuk tari Lenggang Patah Sembilan yang merupakan salah satu tarian khas Kesultanan Serdang di Sumatra Utara.

(Yusuf Efendi/Bdy/45/03-2011)

Referensi

Tengku Mira Sinar (ed.). 2009. Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu Karya Almarhum Guru Sauti. Medan: Yayasan Kesultanan Serdang bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta.

Dibaca : 26.740 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password