Rabu, 29 Maret 2017   |   Khamis, 1 Rajab 1438 H
Pengunjung Online : 4.669
Hari ini : 24.943
Kemarin : 95.293
Minggu kemarin : 569.905
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.017.660
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pindah Bintang: Permainan Tradisional Melayu Kalimantan Timur


Pindah Bintang adalah salah satu permainan tradisional Melayu dari Kalimantan Timur. Sesuai namanya, permainan Pindah Bintang terinspirasi dari gerak bintang yang berkelap-kelip di angkasa, seolah-olah bintang itu berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain.

1. Asal-usul

Permainan tradisional dapat memicu kreativitas serta perkembangan fisik dan mental anak karena permainan tradisional biasanya dimainkan dengan memadukan tenaga jasmani namun harus didukung pula dengan kemampuan kreatif dalam meracik strategi. Kreativitas sendiri merupakan salah satu ciri dari perilaku intelegen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif (Solahuddin dalam Fitri Astuti, 2009). Demikian pula halnya dengan salah satu permainan tradisional khas Kalimantan Timur yang dikenal dengan nama Pindah Bintang. Permainan tradisional ini menuntut keseimbangan antara kekuatan fisik, ketahanan mental, dan tingkat kreativitas yang cukup.

Penamaan Pindah Bintang untuk menyebut permainan ini diambil dari gerak bintang di langit yang berkelap-kelip, seakan-akan bintang itu bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Para pemain yang memainkan Pindah Bintang akan menirukan gerak bintang dengan melompat dan berlari dari satu ruang menuju ruang lainnya. Sedangkan tempat yang baru saja ditinggalkan oleh pemain tadi harus langsung diisi oleh pemain yang lain atau terjadi pertukaran tempat di antara pemain. Situasi seperti ini bagaikan pergerakan bintang di angkasa: sesaat bintang menghilang namun segera muncul lagi di tempat lain (Bambang Suwondo, dkk., 1983:19).

Dilihat dari bentuk dan cara bermainnya, permainan Pindah Bintang boleh jadi dapat ditemukan di tempat-tempat lain di luar kawasan Melayu, khususnya di Kalimantan Timur, bahkan mungkin juga dapat ditemukan di luar negeri, utamanya di negara-negara Barat (Eropa atau Amerika). Dikatakan demikian karena permainan semacam ini juga tercatat dalam sebuah ensiklopedia, yakni The Book of Knowledge (Volume VII). Berdasarkan penemuan di dalam buku referensi tersebut, permainan Pindah Bintang diduga berasal dari Eropa yang dibawa ke tanah Melayu pada masa kolonial atau penjajahan (Bambang Suwondo, dkk., 1983:19).

2. Peralatan

Permainan Pindah Bintang bisa dimainkan tanpa menggunakan peralatan, namun bisa juga dengan memakai peralatan. Tanpa menggunakan peralatan maksudnya permainan ini dapat tetap berlangsung dengan membuat atau menggambar lingkaran-lingkaran kecil di lantai atau tanah. Apabila hendak menggunakan alat pun bisa, yakni dengan memanfaatkan tiang-tiang kayu atau tonggak-tonggak pada bangunan atau pilar-pilar rumah (Bambang Suwondo, dkk., 1983:20).

3. Peserta Permainan

Permainan Pindah Bintang bisa dimainkan siapa saja, tidak terbatas pada kelompok tertentu. Jadi, permainan ini dapat dimainkan oleh semua orang dari segala lapisan masyarakat, baik dari kalangan bangsawan maupun dari kalangan biasa. Permainan Pindah Bintang juga tidak mengenal perbedaan jenis kelamin. Artinya, peserta yang mengikuti permainan ini boleh laki-laki semua, perempuan semua, atau campuran laki-laki dan perempuan (Bambang Suwondo, dkk., 1983:19).

Selain itu, permainan Pindah Bintang juga tidak mengenal batas usia, permainan ini bisa dimainkan oleh anak-anak ataupun orang usia dewasa. Akan tetapi, biasanya permainan ini dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 6 sampai dengan 14 tahun. Jumlah peserta yang bisa memainkan Pindah Bintang pun tidak mengenal batas, namun seringkali permainan ini dilakukan oleh 5, 6, atau 7 orang peserta (Bambang Suwondo, dkk., 1983:20).

4. Tempat dan Waktu Permainan

Biasanya, anak-anak di Kalimantan Timur memainkan permainan tradisional Pindah Bintang di serambi rumah yang ada tiang-tiang atau pilar-pilarnya, di halaman rumah, atau bahkan di dalam rumah sekalipun. Dengan kata lain, permainan Pindah Bintang bisa dimainkan di mana saja. Apabila Pindah Bintang dimainkan di serambi rumah, sebagai yang digunakan sebagai patokan adalah tiang atau pilar rumah. Namun, jika tempat di mana permainan ini dilangsungkan tidak terdapat tiang atau pilar, misalnya apabila dimainkan di luar rumah, maka sebagai patokannya dapat diganti dengan membuat atau menggambar lingkaran-lingkaran yang berfungsi sebagai tempat berpijak (Bambang Suwondo, dkk., 1983:19).

Mengenai waktu bermain, dalam memainkan Pindah Bintang tidak dibatasi oleh waktu atau dapat dimainkan kapan saja. Permainan Pindah Bintang bisa dimainkan pada waktu pagi, siang, sore, atau malam hari. Selain itu, permainan Pindah Bintang juga tidak terbatas pada musim atau cuaca yang sedang berlangsung saat itu. Artinya, permainan ini bisa dimainkan baik di musim panas maupun musim dingin, baik musim kemarau maupun musim hujan (Bambang Suwondo, dkk., 1983:19).

5. Persiapan dan Aturan Permainan

a. Persiapan Sebelum Permainan Dilakukan

  • Pertama-tama, semua peserta yang hendak mengikuti permainan Pindah Bintang mengadakan undian, misalnya dengan cara hompimpa. Setelah dilakukan hompimpa sampai peserta yang tersisa tinggal dua orang saja, maka selanjutnya dilakukan sut untuk menentukan siapa orang terakhir atau siapa yang kalah.
  • Setelah undian selesai dilakukan, langkah persiapan berikutnya adalah mencari tempat untuk melakukan permainan, yakni tempat di mana terdapat tonggak atau pilarnya, misalnya di serambi atau pendapa rumah. Apabila ingin tetap dimainkan di dalam ruangan namun tidak menemukan tonggak atau pilar, biasanya para peserta akan mempergunakan barang-barang yang ada di dalam rumah, misalnya kursi, meja, lemari, atau benda-benda lainnya, sebagai pengganti tonggak atau pilar. Fungsi benda-benda ini adalah sebagai patokan atau pijakan.  
  • Jikapun ingin bermain di luar rumah yang tidak ada tonggak atau pilarnya, Pindah Bintang tetap bisa dimainkan di mana peserta harus membuat lingkaran-lingkaran di atas tanah. Fungsi dari lingkaran-lingkaran tersebut, atau bisa digambar dengan bentuk lain, adalah sama seperti tonggak, pilar, atau benda-benda lain di dalam rumah, yakni sebagai pijakan atau patokan.
  • Jumlah tonggak, pilar, benda-benda lain, atau gambar yang digunakan sebagai pijakan harus kurang dari satu pemain. Artinya, harus ada satu orang peserta yang tidak memperoleh tempat pijakan. Misalnya, apabila jumlah keseluruhan peserta permainan ada 5 (lima) orang, maka pijakan yang disediakan harus berjumlah 4 (empat). Begitu pula seterusnya sesuai dengan jumlah pelaku yang turut serta dalam permainan Pindah Bintang ini (Bambang Suwondo, dkk., 1983:21).

b. Aturan Permainan

  • Peserta yang kalah dalam undian, yakni yang tadi sudah dilakukan dengan cara hompimpa dan sut, dikatakan sebagai pemain yang harus ajak atau jaga. Ini berarti bahwa si peserta yang kalah undian nantinya harus merebut salah satu tempat atau pijakan apabila sedang terjadi pertukaran tempat.
  • Sebelum para peserta yang lain masih memegang tonggaknya atau di dalam lingkarannya masing-masing sebagai tempat pijakan, maka pemain yang kalah undian (pemain yang ajak atau jaga) tidak boleh merebut tempat pijakan yang masing-masing sudah ada penghuninya tersebut.
  • Pada waktu permainan sedang dilangsungkan, pemain yang kalah undian (pemain yang ajak atau jaga) tidak diperbolehkan mendorong peserta yang lain secara paksa dalam usahanya merebut tempat pijakan.
  • Ketika permainan berlangsung dan hendak terjadi pertukaran tempat, para peserta, selain pemain yang ajak atau jaga, harus menunggu aba-aba terlebih dulu sebelum melakukan pertukaran tempat pijakan (Bambang Suwondo, dkk., 1983:22).

6. Tata Cara Permainan

Tahap-tahap dalam tata cara memainkan permainan Pindah Bintang adalah sebagai berikut:

  • Setelah diadakan undian dan ada seorang peserta yang dinyatakan dalam posisi ajak atau jaga (peserta yang kalah dalam undian), maka para peserta yang lain (para peserta yang menang dalam undian), segera memilih dan mengambil tempat pijaknnya masing-masing. Misalnya, jika keseluruhan jumlah pemain ada 5 (lima) orang, sebutlah nama-nama pemain itu sebagai A, B, C, D, E, dan pemain yang kalah undian adalah pemain A, maka semua pemain yang lain (B, C, D,dan E) harus menempati tempat pijakan masing-masing, yakni dengan memegang tonggak, pilar, benda-benda lain, atau menempatkan diri di dalam lingkaran masing-masing. Sementara itu, pemain yang kena ajak atau jaga, yaitu pemain A, bersiap-siap segera merebut tempat pijakan apabila terjadi pertukaran tempat.
  • Setelah semua peserta siap, maka salah seorang peserta akan memberi aba-aba sebelum dilakukan pertukaran tempat. Aba-aba yang dimaksud biasanya berupa hitungan satu, dua, tiga, dan pada hitungan yang terakhir, pemain B, C, D, dan E akan berusaha berlari untuk saling bertukar tempat pijakan atau benda pegangan. Pada waktu yang sama, peserta yang kena ajak atau jaga, yakni pemain A, harus berusaha merebut salah satu tempat pijakan atau benda pegangan dengan cara yang sama, yakni berlari sekuat tenaga dengan harapan bisa merebut tempat pijakan yang juga sedang dituju atau setelah ditinggalkan salah seorang peserta yang sedang bertukar tempat.
  • Pada waktu pertukaran tempat, semua peserta yang menempati tempat pijakan atau memegang tonggak (misalnya peserta B, C, D, dan E) diharuskan mencari tempat pijakan atau tonggak yang lain (tidak boleh bertahan di satu tempat pijakan atau tonggak dalam satu waktu). Jika tidak segera pindah pada saat aba-aba untuk bertukar tempat diserukan, maka peserta itu dianggap melanggar aturan dan dinyatakan kalah. Artinya, peserta tersebut harus menggantikan peran pemain yang ajak atau jaga.
  • Pada waktu pertukaran tempat, semua peserta yang menempati tempat pijakan atau memegang tonggak (misalnya peserta B, C, D, dan E) tidak terikat ke mana ia harus lari untuk memilih tempat pijakan atau tonggak pegangan. Artinya, mereka masing-masing bebas memilih tempat baru.
  • Jarak antara tempat pijakan atau tonggak yang satu dengan yang lain tidak ditentukan dan tidak sama, alias terserah pada kehendak para pemain. Begitu seterusnya permainan Pindah Bintang dilakukan sehingga pemain yang kena ajak atau jaga pun akan berganti-ganti.
  • Adakalanya ketika terjadi pertukaran tempat, terdapat 2 (dua) pemain yang ternyata saling berebut untuk menempati atau memegang tempat pijakan atau tonggak yang sama, sehingga sebenarnya ada 1 (satu) tempat yang kosong. Kondisi seperti ini biasanya akan dimanfaatkan oleh peserta yang kena ajak atau jaga untuk menempati tempat pijakan atau tonggak yang lowong itu.
  • Jika terjadi hal seperti di atas, maka penentuan peserta yang kalah dilakukan dengan menentukan siapa yang terlebih dulu menempati atau memegang tempat pijakan atau tonggak yang ditempati atau dipegang 2 (dua) orang pemain tadi. Pemain yang dinilai menempati atau memegang tempat pijakan atau tonggak terlebih dulu, maka dialah yang keluar sebagai pemenangnya, sehingga pemain yang satunya harus menjadi orang yang ajak atau jaga, demikian seterusnya.
  • Durasi waktu permainan Pindah Bintang ini tidak terbatas karena bisa dimainkan selama mungkin. Permainan baru akan berhenti jika para peserta sudah merasakan lelah karena berlari-lari sepanjang permainan berlangsung.
  • Pemenang permainan Pindah Bintang ini adalah peserta yang selalu bisa memperoleh tempat pijakan atau tonggak pegangan ketika berlangsungnya pertukaran tempat, atau dengan kata lain, sang pemenang adalah pemain yang tidak pernah kena ajak atau jaga.

7. Keahlian Khusus

Orang yang bisa memenangkan permainan Pindah Bintang ditentukan oleh kemampuan fisik, ketahanan stamina, dan kejelian dalam memaksimalkan peluang oleh masing-masing pemain. Peserta yang mempunyai fisik prima, mampu berlari cepat, dan memiliki insting yang tepat dalam memutuskan ke mana ia harus bertukar tempat, maka dia tidak akan pernah menjadi pemain yang kena ajak atau jaga dan pada akhirnya akan keluar sebagai pemenangnya.

8. Nilai-nilai

Permainan Pindah Bintang memuat kandungan nilai-nilai positif bagi perkembangan fisik maupun kepribadian seseorang, khususnya pada usia anak-anak. Nilai-nilai positif yang terkandung dalam permainan Pindah Bintang adalah sebagai berikut:

  • Menumbuhkan kreativitas anak. Permainan Pindah Bintang menuntut para peserta untuk kreatif dalam menjalankan strategi, yakni bagaimana caranya agar selalu bisa mendapatkan tempat pijakan atau tonggak pegangan tanpa didahului oleh peserta lainnya maupun pemain yang sedang ajak atau jaga.
  • Melatih insting untuk selalu sigap dalam bertindak dan tepat dalam memutuskan sesuatu. Permainan Pindah Bintang akan membuat insting pemain selalu terjaga untuk menentukan ke mana kiranya dia akan bertukar tempat pijakan atau tonggak pegangan. Selain itu, pemain Pindah Bintang akan terlatih dalam mengambil suatu keputusan di tengah tekanan waktu yang sangat terbatas.
  • Menjaga kondisi kesehatan badan. Ketika melakukan permainan Pindah Bintang, sebenarnya sama saja dengan berolah raga, karena permainan ini menuntut para peserta untuk sering berlari dan menggerakkan anggota tubuh.
  • Memupuk rasa setia kawan. Dengan melakukan permainan tradisional seperti Pindah Bintang ini, maka rasa setia kawan akan terpupuk dengan baik karena permainan ini merupakan jenis permainan kolektif yang membutuhkan rasa saling pengertian di antara peserta.
  • Melestarikan kearifan lokal. Meskipun belum dapat dipastikan bahwa permainan Pindah Bintang berasal dari nenek moyang orang Kalimantan Timur, namun permainan ini sudah dimainkan oleh anak-anak di Kalimantan Timur sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu dan menjadi tradisi yang harus dilestarikan serta dipertahankan keberadaannya.
  • Sebagai hiburan dan kesenangan dalam memanfaatkan waktu luang. Permainan Pindah Bintang ini bersifat menghibur dan sangat menyenangkan jika dilakukan secara bersama-sama oleh teman-teman sepermainan.

9. Penutup

Permainan tradisional Pindah Bintang merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur. Oleh karena itu, permainan tradisional semacam ini harus selalu dijaga agar jangan sampai hilang dan kemudian punah di tengah derasnya serbuan permainan-permainan modern di era modernisasi seperti sekarang ini.

(Iswara N Raditya/Bdy/02/03-2011)

Sumber Foto: http://www.vhrmedia.com

Referensi:

Fitri Astuti, 2009. “Efektivitas permainan tradisional untuk meningkatkan kreativitas verbal pada masa anak sekolah”. Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Bambang Suwondo, dkk., 1983. Permainan Anak-anak Daerah Kalimantan Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dibaca : 28.862 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password