Senin, 21 Agustus 2017   |   Tsulasa', 28 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 1.895
Hari ini : 10.929
Kemarin : 101.896
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.023.120
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Perkawinan Adat Melayu Kutai Kedang Ipil, Kalimantan Timur


Perkawinan adat Melayu Kutai yang dijalankan oleh masyarakat Suku Kutai di pedalaman Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, agak berbeda karena memiliki ciri khusus tersendiri. Hal tersebut disebabkan karena Suku Kutai yang bermukim di Desa Kedang Ipil adalah termasuk suku bangsa Melayu tertua yang ada di tanah Kutai.

1. Asal-usul

Desa Kedang Ipil berada di pedalaman Borneo bagian timur yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Desa ini merupakan salah satu desa tertua di tanah Kutai yang terkenal dengan “Adat Lawas”-nya (Sri Warsono, dkk., 1998:2). Muara Bangun, kecamatan yang menaungi Desa Kedang Ipil, terkait erat dengan Kerajaan Kutai Martapura (Kutai Lama). Kota Bangun merupakan salah satu negeri taklukan Kerajaan Kutai Martapura yang dikenal dengan nama Negeri Paha. Desa yang berada di wilayah administratif Negeri Paha kala itu antara lain: Kedang Ipil, Kedang Dalam, Lebak Mantan, Lebak Cilong, dan Keham. Penduduk yang tinggal di Negeri Paha, termasuk warga Kedang Ipil, dikenal sebagai Suku Kutai Kedang, namun ada juga yang menyebut Orang Adat Lawas.

Negeri Paha adalah daerah setingkat provinsi dan dipimpin oleh seorang Mangkubumi (Adipati Wilayah) yang berhak menyandang gelar Sri Raja (Raja Kecil). Sri Raja Negeri Paha yang terakhir, yakni Raja Talikat, masih terpaut jalinan kekerabatan dengan keluarga Kerajaan Kutai Martapura. Sejak abad ke-17 M, muncul Kesultanan Kutai Kartanegara, pemerintahan kerajaan Kutai yang sudah menganut ajaran Islam yang pusat pemerintahannya terletak di Kutai Lama (dekat Samarinda) sebelum pindah ke Tenggarong (B. Setiawan, 1990:252). Munculnya Kesultanan Kutai Kartanegara berpengaruh terhadap status Negeri Paha di mana wilayah ini kemudian disebut sebagai wilayah Kesutaan dengan ibukota di Muara Sungai Kedang Murung (Telok Gelumbang). Pemimpin Kesutaan disebut dengan panggilan Suta dan sebagai Suta pertamanya adalah Suta Sri Bangun yang masih merupakan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara. Adapun wilayah Kesutaan mencakup beberapa desa, antara lain: Kedang Ipil, Pela, Kedang Dalam, Kenohan, Lebak Mantan, Lebak Cilong, Liang, Keham, Sebemban, Kuyung, Enggelam, Ma-Uwis, dan lainnya (http://kutaihulu.blogspot.com).

Masyarakat Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil memiliki adat-istiadat yang unik dan berbeda dengan tradisi orang Kutai pada umumnya. Adat dan tradisi orang Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil juga sering disebut dengan istilah “Adat Lawas” yang merujuk pada identitas mereka sebagai salah satu komunitas adat yang paling tua di Kutai. Penerapan “Adat Lawas” oleh masyarakat Melayu Kutai di Kedang Ipil sudah berlangsung lama, bahkan sebelum dikenal agama-agama baru (Hindu, Buddha, Nasrani, Islam) dan masih menganut ajaran kepercayaan leluhur. Tradisi dan adat-istiadat, misalnya pelaksanaan upacara adat, orang Melayu Kutai di Kedang Ipil masih bertahan hingga saat ini.

Dari sekian banyak upacara adat Melayu Kutai di Kedang Ipil, yang menjadi prioritas dalam pelaksanaannya adalah rangkaian upacara daur hidup, seperti upacara sebelum melahirkan, upacara kelahiran, upacara pada masa kanak-kanak, upacara menjelang dewasa, upacara perkawinan, hingga upacara kematian. Bagi masyarakat Melayu Kutai di Kedang Ipil, upacara-upacara daur hidup wajib dilaksanakan meskipun secara sederhana karena mereka sangat mempercayai adanya kekuatan di luar dirinya, yakni adanya kekuatan dari roh-roh nenek moyang, dewa-dewa, dan tuhan (Sri Warsono, dkk., 1998:23). Salah satu upacara adat yang wajib dilakukan adalah upacara perkawinan adat yang pelaksanaanya agak berbeda dengan upacara perkawinan adat Kutai pada umumnya.

2. Perlengkapan dan Peralatan Upacara Perkawinan

Perlengkapan atau peralatan yang diperlukan dalam pelaksanaan upacara perkawinan adat masyarakat Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil terdiri dari peralatan upacara untuk malam hari dan upacara untuk malam hari (Sri Warsono, dkk., 1998:29). Selanjutnya, akan dijelaskan seperti di bawah ini:

2.1. Perlengkapan Perkawinan Adat untuk Malam Hari

Alat-alat atau bahan-bahan yang harus dipersiapkan untuk pelaksanaan upacara perkawinan adat masyarakat Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil yang dilangsungkan pada malam hari adalah sebagai berikut:

  • Rakit Bemben. Alat ini digunakan untuk menyerahkan persembahan atau sesaji kepada roh-roh halus. Prosesi ini dimaksudkan agar roh-roh halus tidak mengganggu jalannya upacara perkawinan setelah diberi persembahan atau sesaji. Persembahan tersebut berupa telur dan nasi saji yang ditempatkan di dalam Rakit Kemben.
  • Daun Muru dan Daun Madam. Sama seperti Rakit Kemben, Daun Muru dan Daun Madam digunakan sebagai sarana penolak bala untuk mengusir roh-roh jahat agar tidak mengganggu jalannya upacara perkawinan.
  • Suluh Pemerai. Alat ini digunakan untuk menerangi jalan dalam pelaksanaan ritual prosesi perkawinan adat yang dilakukan pada malam hari.
  • Mandau Sunggui Ayu. Alat ini adalah salah satu jenis mandau, senjata tradisional khas orang-orang Suku Dayak di Borneo, yang digunakan untuk membuka jalan ketika dilakukan upacara pada malam hari. Mandau Sunggui Ayu ini digunakan sebagai alat untuk membabati pohon-pohon kecil atau semak-semak yang merintangi saat rombongan akan lewat.
  • Saur Pamadem. Ini adalah istilah untuk menyebut barang-barang yang akan diberikan kepada orang yang membantu melaksanakan upacara sebagai upah.
  • Ranam Pamaden atau Air Pamaden. Air ini digunakan untuk membersihkan atau menyucikan kedua calon pengantin dari pikiran-pikiran kotor dan hal-hal yang bersifat buruk lainnya supaya kedua mempelai mendapatkan berkah dan keselamatan.
  • Ranam Bunga atau Air Bunga. Air ini digunakan untuk memandikan kedua calon pengantin agar bersih lahir dan batin.
  • Apar. Alat ini adalah tempat atau wadah yang digunakan untuk menyimpan alat-alat yang diperlukan dalam pelaksanaan upacara.

2.2. Perlengkapan Perkawinan Adat untuk Siang Hari

Alat-alat atau bahan-bahan yang harus disiapkan untuk pelaksanaan upacara adat masyarakat Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil yang dilangsungkan pada siang hari meliputi:

  • 2 (dua) piring tong.
  • 5 (lima) mangkok sebagai surat perjanjian perkawinan.
  • Kain tanda
  • Uang.
  • 2 (dua) buah lilin sebagai simbol yang mencerminkan kasih sayang kedua mempelai.
  • 2 (dua) batang rokok yang mencerminkan cinta kasih kedua calon pengantin.
  • 2 (dua) daun sirih.
  • 2 (dua) buah pinang (Sri Warsono, dkk., 1998:30).

3. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Upacara Perkawinan

Pada zaman dahulu, upacara perkawinan adat masyarakat Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil dilaksanakan di salah satu rumah penduduk yang besar dan luas agar mampu menampung seluruh warga yang hadir. Rumah yang menjadi tempat digelarnya upacara perkawinan adat ini disebut dengan istilah rumah sanggrahan. Akan tetapi, sekarang ini masyarakat Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil lebih sering menggunakan balai desa sebagai rumah sanggrahan untuk melaksanakan upacara perkawinan adat (Sri Warsono, dkk., 1998:32).

Sedangkan mengenai waktu pelaksanaannya, prosesi upacara perkawinan adat masyarakat Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil sebenarnya sudah berlangsung sejak 2 (dua) hari sebelum Hari H atau hari puncak pelaksanaan upacara perkawinan. Dua hari itu meliputi waktu untuk mempersiapkan segala perlengkapan yang diperlukan dan prosesi sebelum acara puncak dilangsungkan, salah satunya adalah melakukan ritual Memang pada malam hari sebelum Hari H. Sedangkan dalam upacara perkawinan adat masyarakat Melayu Kutai di Kedang Ipil yang dilaksanakan pada Hari H dimulai sejak pagi hari dan acara puncaknya berlangsung dari jam 13.00 (pukul 1 siang) hingga jam 15.00 (pukul 3 siang) (Sri Warsono, dkk., 1998:32).

4. Tahap dan Prosesi Upacara Perkawinan

Adapun tahapan dan prosesi perkawinan adat orang Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil akan dijelaskan berikut ini:

4.1. Pertunangan

Seperti halnya lazimnya, juga dalam adat-istiadat Kutai, sebelum terjadi perkawinan biasanya didahului oleh kesepakatan antara dua keluarga bersatu dalam ikatan resmi. Proses inilah yang biasanya disebut dengan istilah pertunangan. Dalam pertunangan adat Kutai, tidak ada upacara adat yang khusus, melainkan hanya dilakukan acara penyerahan cincin pertunangan di mana pada cincin tersebut diikat dengan tali atau benang sebagai simbol bahwa si pemakai cincin telah “diikat” oleh seseorang untuk menjadi pasangan resmi (Sri Warsono, dkk., 1998:28).

Pada acara pertunangan antara lain dibicarakan tentang rencana pelaksanaan perkawinan setelah mendapat arahan dari tetua adat mengenai waktu yang tepat/baik untuk melaksanakan upacara perkawinan. Dalam hal ini, ada ketentuan adat bahwa masa pertunangan tidak boleh lebih dari 1 (satu) bulan dengan maksud untuk menghindarkan kemungkinan terjadi pembatalan perkawinan. Pembatalan tersebut bisa berasal dari pengaruh luar dan jika hal itu terjadi akan membuat pertentangan antar keluarga. Sejak kesepakatan untuk bertunangan sudah dilakukan, maka pihak laki-laki harus secepatnya mempersiapkan semua yang diperlukan untuk upacara perkawinan, terutama berbagai peralatan dan perlengkapan upacara dan bahan makanan untuk pesta perkawinan (Sri Warsono, dkk., 1998:28).

4.2. Ritual Memang

Setelah semua bahan yang diperlukan telah lengkap, maka pada malam hari menjelang Hari-H perkawinan diadakan upacara Memang atau ritual memanjatkan doa yang bertempat di kediaman mempelai laki-laki. Upacara ini dilakukan dengan tujuan untuk mengusir roh-roh jahat agar tidak mengganggu jalannya perkawinan. Peralatan yang dipersiapkan dalam pelaksanaan upacara Memang adalah alat-alat yang digunakan untuk malam hari. Semua peralatan untuk upacara malam hari itu disiapkan agar bermanfaat sesuai dengan fungsi masing-masing. Acara upacara memang dipimpin oleh orang khusus yang disebut sebagai Dukun Memang dan didampingi oleh beberapa orang sebagai pembantu. Acara ini dihadiri oleh tetua dan para tokoh adat, para sesepuh, serta keluarga, kerabat dan tetangga dekat mempelai laki-laki (Sri Warsono, dkk., 1998:30).

Ritual Memang biasanya dilaksanakan dari jam 20.00 (pukul 8 malam) hingga tengah malam. Dukun Memang dan para pembantunya melantunkan doa secara berulang-ulang dengan diselingi acara makan bersama hingga larut malam. Doa-doa atau mantera yang dirapalkan pada pelaksanaan ritual Memang disebut dengan istilah Beluluh. Berikut ini adalah isi dari doa Beluluh tersebut:

Beluluh

Tembon diang gari duki tembon dian

Mari panten biar dibara jantan

Jalan urang naik bapung ladang

Unggah bapuningsing jaka campur ragi cama

Daka silik ragi kuar takut takandung

Disambanan urang berait tamber

Berait rawang akan di banak minak

Nariang baik tahu jalan urang bakum

Cadang, nak bupung ningsing

Ningsing akan campur ragi camak

Silir ragi kuak

Singsing akan kemata alo pajeh

Esok lagi buku tunggayan

Indah lagi buku samutan

Maningsing akan irap ragi nyimpi

Secara garis besar, arti atau makna dari rangkaian doa di atas adalah “acara (pelaksanaan upacara perkawinan) ini dikerjakan dengan berlandaskan dasar-dasar tertentu dengan tujuan sebagai jembatan untuk mengarungi kehidupan yang baru. Maka dari itu, hal-hal yang kotor yang terdapat pada diri akan dibuang jauh-jauh supaya menjadi sehat, selamat, dan sejahtera dalam mengarungi kehidupan” (Sri Warsono, dkk., 1998:31).

4.3. Pelaksanaan Upacara di Hari Perkawinan

Pagi hari pada Hari H atau hari di mana perkawinan itu dilaksanakan, setiap kelompok petugas sudah bersiap-siap untuk menjalankan tugas mereka masing-masing. Kaum perempuan, yakni para gadis dan ibu-ibu, bertugas untuk menyelesaikan persiapan makanan untuk pesta yang sudah dimulai sejak dua hari sebelumnya. Dukun Memang bersama para pembantunya serta sebagian warga bertugas menyiapkan semua peralatan upacara perkawinan, di antaranya adalah memasang daun madam dan daun muru di pintu rumah sanggrahan sebagai pengusir roh-roh jahat yang bisa mengganggu jalannya upacara perkawinan. Selanjutnya, Dukun Memangi dan para pembantunya memandikan kedua calon mempelai di rumah mereka masing-masing. Kedua mempelai dimandikan dengan Ranam Bunga (air bunga) supaya kedua calon pengantin terlihat elok dan rupawan. Selain itu, kedua calon pengantin juga diwajibkan untuk melakukan ritual puja-puji dengan air Ranam Pemaden agar keduanya bersih dan suci dari pikiran-pikiran kotor atau hal-hal negatif lainnya dan memperoleh keselamatan. Setelah ritual memandikan pengantin selesai, kedua calon mempelai didandani dengan pakaian yang paling indah. Untuk calon pengantin laki-laki, diharuskan mengenakan songkok (kopiah) berwarna hitam (Sri Warsono, dkk., 1998:32).

Menjelang pukul 13.00 atau jam 1 siang, pengantin perempuan dibawa ke rumah sanggrahan terlebih dulu untuk menunggu kedatangan pengantin laki-laki. Setelah pengantin laki-laki datang dan disandingkan dengan pengantin perempuan, maka keduanya kemudian diarak mengelilingi rumah sanggrahan sebanyak tiga kali putaran sambil menyebarkan uang logam yang akan disambut dan diperebutkan dengan rasa riang gembira oleh anak-anak yang mengikuti arak-arakan pengantin tersebut. Prosesi ini dilakukan dengan tujuan dan harapan agar kehidupan kedua mempelai nantinya akan mendapatkan kesejahteraan dan mampu memberikan kegembiraan kepada anak-anak mereka nantinya. Setelah acara arak-arakan dan tabur uang selesai dilaksanakan, maka kedua mempelai masuk ke dalam rumah sanggrahan dan duduk di tengah-tengah para hadirin yang sudah ada di dalam rumah. Posisi duduk kedua mempelai menghadap tetua adat dan para saksi. Setelah itu, Dukun Memang yang bertindak sebagai pemimpin upacara menyerahkan tanda perkawinan yang berupa:

  • Seperangkat pakaian wanita untuk pengantin perempuan sebagai simbol tanggung jawab pengantin laki-laki terhadap istrinya.
  • 2 (dua) buah sanggan palas (piring putih), 1 (satu) buah untuk ibu dari pengantin perempuan sebagai simbol bahwa anak gadisnya telah diperistri oleh pengantin laki-laki, sedangkan 1 (satu) piring lainnya diberikan kepada pengantin perempuan yang nantinya akan digunakan sebagai tempat makan pada saat sang istri hamil.
  • Uang tanda ikatan perkawinan yang diserahkan oleh pihak pengantin laki-laki kepada pihak pengantin perempuan. Besar nominal uang tanda ikatan perkawinan disesuaikan dengan kondisi yang berlaku pada saat perkawinan dilangsungkan. Apabila pada suatu saat nanti terjadi perceraian yang disebabkan oleh kesalahan sang istri, maka pihak perempuan wajib mengembalikan uang tanda ikatan perkawinan tersebut. Lebih lanjut mengenai hal ini, berdasarkan hukum “Adat Lawas”, pihak yang dinyatakan bersalah dalam perceraian, maka dia harus pergi meninggalkan rumah tanpa boleh membawa barang apapun, kecuali pakaian yang melekat di badan. Hukum seperti ini diterapkan karena pada dasarnya hukum “Adat Lawas” tidak menghendaki adanya perceraian atau dengan kata lain satu perkawinan untuk seumur hidup.
  • 5 (lima) buah tong atau mangkuk, diserahkan kepada ketua adat dan para sesepuh desa yang bertindak selaku saksi perkawinan. Seperti halnya uang, kelima mangkuk tersebut juga dianggap sebagai salah satu tanda ikatan perkawinan. Kelima orang yang menerima 5 mangkuk wajib memberikan saran dan nasihat apabila terjadi masalah dalam keluarga kedua mempelai yang menikah. Tidak hanya saran dan nasihat saja, tetua dan sesepuh adat penerima mangkuk juga berhak menjatuhkan keputusan hukum adat bilamana terpaksa terjadi perceraian. Di masa sekarang, para saksi perkawinan adat masyarakat Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil biasanya terdiri dari Kepala Desa, Ketua Adat, Wakil Kepala Desa, Ketua RT, dan Kepala Dusun (Sri Warsono, dkk., 1998:33).

Acara selanjutnya adalah menyalakan 2 (dua) lilin sebagai harapan agar kedua mempelai dikaruniai usia panjang. Setelah itu, ketua adat dan saksi memberikan nasihat perkawinan kepada kedua mempelai supaya mereka siap mengarungi kehidupan bersama sebagai satu keluarga baru. Acara berikutnya adalah kedua mempelai diminta memakan daun sirih dengan saling menyuapkan kepada pasangannya. Akan tetapi, tradisi makan sirih sudah ditinggalkan, maka acara ini digantikan dengan saling menghisap rokok bergantian sebagai lambang cinta kasih kedua mempelai. Rangkaian puncak acara perkawinan adat ini diakhiri dengan makan bersama seluruh undangan. Setelah selesai, kedua mempelai pulang ke rumah keluarga mempelai perempuan. Sejak itu, sang suami tinggal di rumah orangtua mempelai perempuan hingga mampu memiliki rumah sendiri. Meskipun rangkaian upacara perkawinan adat sudah selesai dilaksanakan, namun masih ada satu ritual lagi yang harus dilakukan oleh kedua mempelai, yakni ritual yang dikenal dengan nama Betuhing. Ritual Betuhing adalah masa berpantang berpisah selama tiga hari tiga malam. Artinya, sejak usainya ritual perkawinan di rumah sanggrahan hingga tiga hari tiga malam berikutnya, pasangan suami istri yang baru menikah itu tidak boleh berpisah atau berjauhan agar mereka terhindar dari segala macam gangguan (Sri Warsono, dkk., 1998:34).

6. Nilai-nilai

Tata cara perkawinan adat masyarakat Melayu Kutai di Desa Kedang Ipil banyak sekali memuat nilai-nilai positif. Nilai-nilai kebaikan tersebut disimbolkan dalam benda-benda yang digunakan selama jalannya ritual perkawinan, seperti lilin, uang logam, mangkuk, dan lain sebagainya.

7. Penutup

Upacara adat adalah kekayaan bangsa Indonesia yang harus dilestarikan keberadaannya, termasuk upacara perkawinan adat masyarakat Melayu Kutai yang berdiam di Desa Kedang Ipil, Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Penerapan tata cara perkawinan adat seperti ini harus senantiasa diperhatikan oleh pihak-pihak yang berwajib agar tidak mengalami kepunahan.

(Iswara N. Raditya/Bdy/02/04-2011)

Sumber Foto: http://jasa-dekorasi.blogspot.com

Referensi:

B. Setiawan, 1990. Ensiklopedi Nasional indonesia. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka.

“Sejarah Pemerintahan di Kota Bangun”, [online] data diunduh pada tanggal 15 April 2011 dari http://kutaihulu.blogspot.com

Sri Warsono, dkk., 1998. Perubahan Nilai Upacara Tradisional pada Masyarakat Suku Kutai di Desa Kedang Ipil. Samarinda: Depdikbud Kaltim.

Dibaca : 14.843 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password