Senin, 27 Maret 2017   |   Tsulasa', 28 Jum. Akhir 1438 H
Pengunjung Online : 3.586
Hari ini : 8.783
Kemarin : 113.319
Minggu kemarin : 301.775
Bulan kemarin : 4.019.095
Anda pengunjung ke 102.005.539
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Seni Melayu dan Surealisme

a:3:{s:3:

Oleh Hudjolly, M.Phil

Surealisme dinilai sebagai salah satu dari gerakan-gerakan seni yang paling penting dan berpengaruh di Eropa pada paruh pertama abad ke-20. Sementara itu, nun jauh di tanah Melayu, telah lama tumbuh dan berkembang sejenis seni yang menggunakan pola-pola unik tidak teratur yang sesudah masa itu diindentifikasi sebagai aliran surealis, misalnya: tradisi lisan, seni drama dan pertunjukan (ketoprak, wayang orang, wayang siam, cupak grantang, kemidi rudat) bentuk wajah topeng Reog Ponorogo, topeng Bali, ukiran perisai dan gagang senjata, perlengkapan upacara adat, sebagian besar terdiri dari bentuk imajinatif yang memadukan bentuk-bentuk unik tidak lazim secara acak dan disajikan berdampingan. Bentuk-bentuk yang tidak teratur itu mulai dikategorikan ke dalam seni surealis. Akan tetapi, pengelompokan surealis terhadap seni-seni Melayu perlu ditimbang ulang karena  prinsip dasar pemikiran surealis dan seni Melayu, terutama tradisi lisan, memiliki perbedaan. Secara umum, surealis bercirikan bentuk yang non sekuitur, acak, tidak beraturan (idiosinkratik) dalam imajinasi bebas yang muncul dari pelepasan keteraturan.

Pendahuluan

Tradisi lisan, mitos, dongeng, ataupun cerita rakyat yang berkembang di ranah Melayu hampir semuanya menggunakan basis kebebasan imajinatif, terbebas dari pakem naturalistik. Misalnya, penggambaran perempuan cantik (dewi/peri) yang turun dari kahyangan, ksatria penunggang burung, makhluk perpaduan hewan-manusia, hewan yang berperilaku seperti manusia dan sejenisnya, itu semua merupakan ekspresi seni sastra lisan yang menyatukan imajinasi bebas, pesan, simbol dan realitas. Patung citraksa penjaga pintu gerbang dan gajah duduk bersila yang memegang senjata seperti manusia merupakan seni yang terpengaruh tradisi Hindu-Budha menyimpan corak “surealis”. Cerita Jatayu si burung yang berani pasang badan menyelamatkan Shinta saat dibawa Rahwana, di dalamnya dapat ditemukan gaya “surealis” pula. Tidak terkecuali cerita lisan, hikayat, panji, yang terpengaruh trasisi Islam-Turki. Pahatan relief di candi-candi, pahatan dan ukiran pada senjata nampaknya mengandung unsur yang diklaim sebagai ciri surealis. Di lihat dari segi usia seni-seni tersebut, menandakan bahwa seni berbasis imajinatif idiosinkratik sudah ada sejak masa yang cukup lama di tanah Melayu. Corak tradisi lisan tersebut identik dengan gambaran orang Eropa tentang concorde (kuda bertanduk), manusia setengah kuda, kuda terbang, dewa-dewa Yunani, mitos, dan religi yang secara simbolik memiliki keserupaan simbol dengan imajinasi Melayu.

Surealiasme merupakan gerakan budaya yang marak pada medio 1920-an yang berawal di Paris lalu menyebar ke seluruh dunia. Surealisme merupakan seni visual dan seni penulisan yang paling banyak dikenal dan berpengaruh pada karya seni saat itu. Karya surealis memiliki unsur utama berupa kejutan bentuk berupa penempatan objek-objek (benda/bentuk) tidak terduga yang ditempatkan berdekatan satu sama lain tanpa alasan jelas. Ciri karya surealis antara lain adanya kejutan (element of surprise), ditambah kombinasi unik dan non sequitur pada karya yang disajikan. Contoh karya visual surealis antara lain lukisan Salvador Dali (pelopor aliran lukis surealis) yang terkenal berjudul “Rainy Taxi”. Karya Dali ini memvisualkan taksi tua yang sedang diperbaiki, gerimis di dalam jendela dengan sosok sopir taksi berkepala hiu mengenakan manekin berambut pirang, merangkak dengan siput di punggungnya. Bentuk modern surealis yang sangat populer adalah karakter robot pada film Transformer, Jumanji, dan film-film sejenisnya.

Basis karya-karya surealis didasarkan imajinasi yang menggabungkan objek-objek yang real secara tidak beraturan. Teori Sigmund Freud mengenai asosiasi bebas, analisis mimpi, dan kesadaran tersembunyi dijadikan landasan bagi kelahiran surealis dalam mengembangkan metode membebaskan imajinasi di dunia seni. Asosiasi bebas tercermin dari ketidakbiasaan objek yang divisualisasikan. Meskipun menerima ketidakbiasaan atau idiosyncrasy, surealis menolak ide kegilaan terselubung atau kegelapan pikiran. Secara etimologis, surealis berarti “surréel, surreal”, artinya ketidakbiasaan. Setelah surealis menyebar ke seluruh dunia hingga ke Melayu pada masa postkolonial, setiap susunan bentuk non sequitur dan idiosinkratik dikategorikan sebagai surealis. Munculah spekulasi kategorial pembentukan kategori surealis terhadap karya-karya seni di tanah Melayu. Terhadap pelabelan surealis pada seni-seni Melayu semacam itu, secara faktual terdapat hambatan dari segi periodisasi waktu dan secara prinsip perbedaan mendasar sifat karya seni antara surealis dan Seni Melayu.

Aliran seni yang menamakan diri surealis muncul pada 1920, sedangkan sastra lisan-visual Melayu berusia setua peradaban Melayu. Jadi, pembuatan kategori “surealis” di tanah Melayu mengundang pertanyaan identitas: Apakah seni visual dan sastra lisan yang merupakan penghuni otentik di tanah Melayu itu harus dikelompokkan dalam corak seni yang lebih muda? Peletakan nama surealis pada karya seni di Melayu yang lahir sesudah tahun 1920 barulah dapat dihubungkan dengan pengaruh surealis, tetapi harus dilihat sifat dasar seni dimaksud. Meskipun demikian, tidak dapat disangkal bahwa dunia seni Melayu itu sendiri belum memberikan sebutan terhadap semua corak karya seni yang berciri gabungan imajinasi non sequitur atas objek real yang acak, hingga kini. Toh, secara umum, bentuk sastra dan karya seni di berbagai penjuru dunia juga menggabungkan imajinasi dan bentuk natural, misalnya di Afrika, India, Mesir, Eropa, dan daerah berkebudayaan tua lainnya.

Karya surealis mengandalkan unsur kejutan dari objek tak terduga (ketidakpastian) yang ditempatkan berdekatan satu sama lain tanpa alasan yang jelas. Begitupun fenomena religi dan mitologi yang selalu berbalut tiga hal yang sama: kejutan, ketidakpastian, dan idiosinkratik. Ketiga hal tersebut ternyata ada dalam setiap kebudayaan di tanah Melayu. Lihat saja beragam bentuk seni pakai Melayu seperti bentuk hulu keris yang bervariasi dari jenis ukiran, corak dan gaya yang ditorehkan pada pegangan keris perpaduan manusia-hewan, hewan-tumbuhan, menggambarkan sifat idiosinkratik. Yang menarik adalah fakta bahwa ekspresi seni (kebudayaan) di setiap daerah memiliki sifat non sekuitur-idiosinkratik sebagai ciri khas identitatif yang hampir semuanya penuh ketidakpastian objek. Dari corak kain batik sampai ornamen yang digunakan pada acara ritual, hampir semuanya non sekuitur. Corak dan ciri non sekuitur tersebut menjadi terpola (bukan lagi ketidakpastian) ketika mencapai tahap reproduksi ulang seni oleh daerah masing-masing untuk seni pakai (ritual/keseharian).

Kendati ada kesamaan pada tiga unsur pembentuk surealisme dan corak “seni Melayu tanpa nama” bukan berarti ada surealisme Melayu. Terdapat perbedaan yang mendasar, sehingga seni Melayu harus  dipisahkan dari kategorial surealisme. Surealisme di tanah Melayu yang berkembang sesudah tahun 1920 itu bukan seni Melayu, tetapi sebagai perkembangan seni Melayu kontemporer atau postkolonial, lebih tepatnya seni Melayu dalam sudut pandang Eropa (erosentris) atau dalam bahasa eufemisme: perjumpaan kebudayaan. Secara kreatif, surealisme di Melayu dapat disebut sebagai proses akulturasi-asimilasi seni Melayu-modern, dengan catatan tidak meninggalkan nilai dan inti kebudayaan Melayu sepanjang proses dan aktualisasinya. Perlu dicatat bahwa sebutan seni Melayu modern bukan didasarkan dari segi pelaku: orang Melayu mencipta karya seni beraliran surealis lantas disebut surealisme Melayu. Pembedaan demikian harus ditegaskan agar kebudayaan Melayu tidak mengalami gradasi internasionalisasi tercerabut dari orientasi-otentitas akar tradisinya secara perlahan tergantikan oleh kategori yang dimahfumi sebagai standar-standar internasional (lihat: Hudjolly, 2011).

Berkaca dari proses akulturasi sepanjang sejarah (Melayu), sebutan otentitas seni dinisbatkan pada seni, sastra, kebudayaan yang meletakkan nilai-nilai (Melayu) yang jamak dipahami masyarakat (Melayu) sebagai inti dari seni, sastra, produk kebudayaan dimaksud. Kenyataan kebudayaan telah menunjukkan bahwa sesuatu yang tumbuh di tanah Melayu merupakan proses percampuran atau perjumpaan kebudayaan Hindu-Budda (India), Syiam-China, Arab-Turki, bahkan tidak sedikit dari Eropa. Claire Holt dalam Art in Indonesia Continuity and Change (1967), menyebut bahwa pengaruh India di Indonesia telah mengalami proses sedemikian rupa hingga terasa mapan (statik) dalam masyarakat, namun perkembangan berikutnya mengalami pencarian secara gradual (Soedarsono, 2000: 48-49). Meskipun ada perjumpaan kebudayaan, kandungan inti dan nilai yang dianut masyarakat Melayu akan menentukan identifikasi sebutan seni Melayu. Salah satu argumentasi pelepasan seni Melayu dari surealisme adalah kenyataan bahwa masyarakat Melayu tidak secara khusus menyebut seni Melayu yang imajinatif-bebas sebagai sesuatu yang idiosinkratik murni, bersumber dari asosiasi bebas, analisis mimpi atau berasal dari kesadaran tersembunyi para pengukir hulu keris, pemahat, sastrawan dan lain sebagainya. Imajinasi bebas itu bersifat kolektif meskipun sekuitur. seni Melayu “tanpa nama” dan surealis itu justru berseberangan dalam hal sifat dasar yang melatari karya seni.

Keserupaan dan Perbedaan

Landasan berpikir dari gaya seni surealis bertujuan untuk memperbaharui pengalaman manusia yang meliputi aspek individu, budaya, sosial, politik, dan membebaskan manusia dari apa yang mereka lihat sebagai rasionalitas palsu, kebiasaan, dan pola terbatas. Ciri lain surealis ialah adanya kejutan (element of surprise) yang berarti kombinasi unik dan bersifat non sequitur. Dalam ketidakteraturan hukum bentuk tercipta keindahan bentuk baru, yang tidak saja dipahami oleh penikmat seni tapi sekaligus dapat dimengerti orang tentang apa maksud dari seni tersebut. Hal yang dibentuk surealis ini merupakan bentuk keindahan yang menabrak azas logika naturalis dan realis.

Keindahan yang dibentuk seni imajinatif-bebas gaya Melayu berdasarkan pada pengalaman religi dan mitos (dan tradisi) yang melingkupi kehidupan sang kreator (seniman). Kecuali pada seni-seni yang memang dibuat untuk merepresentasi objek secara nyata (realis atau naturalis), objek hewan ya berbentuk hewan. Landasan imajinatif religius-mitos-tradisi dalam karya seni bukan untuk memperbaharui pengalaman manusia, baik secara individu, budaya, sosial dan politik. Karena pengalaman yang imajinatif–bebas itu telah menjadi milik bersama, pengalaman kolektif, yang tidak terstruktur dan terbiasakan. Pengalaman religius-mitos-tradisi, yang diekspresikan ke objek yang bebas imajinatif bukanlah hal baru, justru merupakan bagian dari pengetahuan kebudayaan masyarakat. Misalnya bentuk-bentuk tubuh yang non sequitur pada topeng, hulu keris, patung penjaga gerbang, sastra lisan, merupakan objek yang integral dengan identitas kebudayaan di mana masyarakat itu tumbuh dan mengembangkan aksi sosialnya.

Perbedaan Seni Melayu “Tanpa Kategori” dan Surealis


Surealis

Seni Melayu “tanpa ketegori”

Memperbaharui pengalaman manusia

Tidak ada pengalaman yang diperbaharui: Seni yang diekspresikan merupakan pengalaman kolektif masyarakat.

Membebaskan diri dari rasionalitas palsu, kebiasaan, dan pola yang terbatas

Tidak bersifat pembebasan dari rasionalitas, tapi harmonisasi dalam pola yang tidak terbatas (pengaruh kosmologis)

Bersumber dari asosiasi bebas, analisis mimpi, kesadaran tersembunyi

Bersumber dari asosiasi bebas, kesadaran kolektif (tidak tersembunyi), pengetahuan kosmologis

Refleksi perlawanan akibat pengaruh latar sosial, politik dan dominasi kebudayaan (faktor sejarah kelahiran surealisme)

Refleksi Harapan (tidak ada sifat perlawanan kebudayaan) tapi konservasi dan preservasi sejarah.

Kesamaan:

 

Imajinatif- Non Sequitur-idiosinkratik, kejutan

Imajinatif- Non Sequitur-idiosinkratik, kejutan

Prosesi penabalan raja, pengangkatan pemimpin, ritual inisiasi anggota kelompok sosial menggunakan imajinasi-bebas yang terdiri dari objek-objek (benda) kemudian dikemas menjadi kesatuan tampilan untuk menyatakan harapan kolektif. Acara penabalan raja di Banjar, misalnya, menyatukan objek-objek seperti lilin, mandi, makanan, jenis warna pakaian, atribut, dan segala objek yang secara imajiner mewakili suatu harapan bersama pemimpin yang arif dan menaungi. Tari Bedhaya Ketawang di Jawa bersumber dari singularitas sejarah-kosmologis dipentaskan secara khusus pada acara sakral untuk menyampaikan suatu harapan: harmonisasi alam. Upacara iniasiasi di berbagai daerah, pahatan pada jung, lajur, di Sumatra dan berbagai bentuk seni Melayu bertumpu pada visualisasi harapan. Berbeda dengan surealis yang menyusun bentuk baru untuk melepaskan diri dari rasionalitas palsu, kebiasaan (custom) dan pola (structure) terbatas, inti dari surealis adalah perlawanan. Seni Melayu merajut harapan.

Melepaskan diri dari kebiasaan, lepas dari rasionalitas palsu (surealis) dan merajut harapan (seni Melayu) menandakan hubungan antara seni dengan dunia luar. Ekspresi seni merupakan bagian dari tindak sosial, sekalipun dilakukan secara tunggal, perorangan, tertutup atau bersifat privat. Setiap ekspresi berarti menunjukkan suatu identitas, suatu keberadaan diri, baik ide, pikiran ataupun kelompok. Penggunaan ungkapan atau ekspresi seni di dalamnya banyak ditentukan oleh faktor-faktor non sosial terutama: visualisasi imajinasi dan cara/gaya ekspresi. Kepercayaan, mitos, yang dipercayai secara kuat mempengaruhi dan membatasi tindakan ekspresi namun kepercayaan terhadap suatu mitologi saja tidak cukup untuk melahirkan sebuah ketidakbiasaan.

Kesadaran dan Ketidakbiasaan       

Seni Melayu dan surealis memiliki kesamaan dalam hal visualisasi yang bersumber dari imajinasi bebas. Imajinasi seni itu merupakan pantulan psikis di alam nirsadar yang direfleksikan ke alam sadar secara sadar dan berisi tentang kesadaran-kesadaran (kesadaran mistik, religi, imajinal, psikis). Imajinasi tidak dibatasi oleh wujud-wujud tertentu baik teratur atau tidak teratur, baik dalam kata-kata lisan (sastra, dongeng, cerita, hikayat, dan sejenisnya) atau  visual (pahatan, ukir, patung, relief, lukisan dan sejenisnya). Imajinasi tentang dewa, misalnya, tidak harus berbentuk sosok yang perkasa, imajinasi tentang dewa tidak terbatas pada satu bentuk saja. Imajinasi yang paling populer dan diimajinasikan oleh banyak orang merupakan reproduksi imajinasi. Nah, masyarakat Melayu telah akrab dengan berbagai reproduksi imajinasi terutama yang berkaitan dengan sistem kepercayaan tertentu. Bandingkan dengan kelompok surealis yang bertujuan memperbaharui pengalaman manusia, meliputi aspek individu, budaya, sosial dan politik, dengan membebaskan manusia dari apa yang mereka lihat sebagai rasionalitas palsu, kebiasaan (custom) dan pola (structure) terbatas yang secara singular adalah jejak sejarah dari renaisance dan penolakan terhadap dominasi struktural agama.

Seni yang bertebaran di semua rumpun Melayu berbalut “imajinasi” antara religiusitas dan mitos yang bersumber dari pengetahuan kosmologis masyarakatnya, jadi bersifat kolektif. Ekspresi yang tidak beraturan merupakan bentuk idiosinkratik di Melayu tidak selalu imajinatif bebas dari psikis. Dalam bentuk bentuk seni yang idiosinkratik tidak selalu berkaitan dengan imajinasi psikis sebagaimana selalu dikaitkan pada Freud. Sebelum kaum Surealis mengorganisasi dan membentuk identitas, idiosinkratik sudah meletup dan tidak dapat disederhanakan sebatas ekspresi psikis dan hasrat pengembaraan diri mencari objek yang hilang atau imajiner. Kebebasan imajiner non bentuk dalam ekspresi kebebasan mencapai tahapan simbolik ketika membentuk dalam karya seni-sastra. Oleh teori psikoanalisa Lacanian, tahapan simbolik tersebut merupakan inti dari pewujudan (lisan dan non lisan) hasrat.  Bagi Deleuze dan Guattari, objek hasrat adalah sarana-sarana lain yang berkoneksi dengan objek hasrat, seperti medium seni. Hasrat dan objek adalah satu dan sesuatu yang sama, yakni sebagai sarana, tool, instrumen dan mesin. Hasrat dan objek adalah satu sarana yang berkoneksi dengan sarana yang lain (Deleuze dan Guattari, 1989: 26).

Penutup

Berbagai ragam kebudayaan yang berbeda jarak, sejarah, etnis, tapi memiliki seni dapat mencapai kesamaan dalam tahapan simbolik, misalnya kesamaan karakter tokoh, alur kejadian pada dongeng Yunani, Asia, Afrika dan Melayu. Di tanah Melayu saja, terdapat keserupaan seperti kisah Roro Jonggrang dan Sangkuriang. Kesamaan dalam objek seni yang idiosinkratik, bentuk-bentuk yang acak tidak meniscayakan adanya surealisme Melayu. Yang perlu disadari dari surealisme ialah basis pemikiran seninya mempercayakan pada teori Sigmund Freud tentang mimpi dan imajinasi. Karya Sigmund Freud mengenai asosiasi bebas, analisis mimpi, dan kesadaran tersembunyi merupakan aspek terpenting bagi para surealis dalam mengembangkan metode membebaskan imajinasi. Penggunaan Frued sebagai pijakan kaum surealis tidak bisa dipercaya begitu saja karena ada mainstream yang berbeda antara imajinasi yang dimaksud Freud dan imajinasi ala sastrawan/seniman, apalagi imajinasi Freud dihadapkan pada imajinasi orang-orang Melayu atau Indian di Amerika Latin.

Keterkaitan tradisi psikoanalisa Freudian pada umumnya memahami esensi hasrat sebagai libido yang diadopsi oleh surealis dengan tujuan membebaskan diri dari custom. Metode psikoanalisa sendiri lebih mengarahkan representasi simbolik untuk mendeterminasikan “pasien” dan kondisi sosial (Deleuze dan Guattari, 1989: 301). Deleuze dan Guattari menggunakan terminologi libido untuk menandakan energi spesifik sebagai sarana-hasrat. Sebagai hasrat, tidak dapat direduksi menjadi libido. Libido bukan sebagaimana yang dipahami psikoanalisa sebagai energi transformatif: deseksualisasi atau sublimasi. Bagi Freud, esensinya ada pada ketaksadaran, sebab kesadaran dianggap yang tidak reliabel dari produksi. Kondisi sublim itulah yang hendak dicapai dalam visualisasi kaum surealis, karena sublim melebihi keindahan. Jadi, biarkan “Seni Melayu Tanpa Nama” itu menjadi bagian dari seni Melayu tanpa kacamata kategorisasi surealis atau teori seni Eropa lainnya.

__________

Hudjolly M.Phil, Peminat Kajian Tradisi

Email: tembuslangit@yahoo.co.id

Sumber Foto: Koleksi www.CeritaRakyatNusantara.com

Referensi

Anonim, “Deleuze and Guattari: An Introduction”, dalam 130.179.92.25/Arnason_DE/ Deleuze.html., Akses Terakhir 02 Desember 2009.

Budiani, 1963. “Arah Menuju Seni Pahat Kita”, dalam Jurnal Budaya, No 3/4/5 Th ke XII.

Claire Holt, 2000. Art In Indonesia: Continuity and Change. Bandung: MSPI.

Gilles Deleuze, 1989. Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia. Minneapolis: University of Minnesota Press,.

Hadiwidjaya, 1974. Budaya Ketawang: Tarian Sakral di Candi-candi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Hudjolly, 2011. “Bahasa Membentuk Indonesia?”, dalam www.RajaAliHaji.com  dan www.MelayuOnline.com

Sam Haidy, dalam http://mywritingblogs.com/sastra/ 2007/09/26/surealisme-i/, 19/11/09

Dibaca : 4.959 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password