Selasa, 25 November 2014   |   Arbia', 2 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 2.014
Hari ini : 14.555
Kemarin : 22.926
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.380.116
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kematian dalam Pengetahuan Orang Dayak Maanyan di Kalimantan Tengah


Bagi orang Dayak Maayan, kematian tidak lebih dari perpindahan kehidupan. Ritus penguburan dianggap hanya mengantarkan jiwa orang yang meninggal ke tempat peristirahatan sementara. Sedangkan ritus pembakaran tulang akan mengantarkan jiwa ke surga.

1. Asal-usul

Suku Dayak Maanyan merupakan salah satu dari bagian dari sub-suku Dayak yang hidup tersebar di pulau Kalimantan, di antaranya di bagian timur Kalimantan Tengah yang disebut Maanyan I dan di Kalimantan Selatan yang disebut Maanyan II. Selain itu, suku ini masih memiliki banyak nama yang berbeda penyebutannya di masing-masing tempat, seperti Dayak Warukin, Dayak Balangan, atau Dayak Samihim (Yekti Maunati, 2006).

Melalui ajaran leluhur, Dayak Maanyaan memiliki konsep kematian yang sederhana namun sakral. Menurut mereka, kematian tidak lebih dari perpindahan kehidupan. Konsep ini masih dipercaya dan ditaati hingga sekarang, meskipun memerlukan biaya yang tidak sedikit. Karena untuk menghormati kematian, mereka harus menggelar ritus kematian (JU. Loontan, 1975; Fridolin Ukur, 1992). 

Ritus kematian yang digelar pada hakikatnya hanyalah menghantarkan liau (jiwa) agar sampai di tempat yang dituju, yakni lewu (surga) dan agar tidak tersesat di tengah jalan. Dalam ritus dibacakan nyanyian oleh seorang balian (dukun) yang bermakna dua sisi, negatif dan positif. Nyanyian negatif merupakan peringatan kepada liau supaya jangan tersesat, adapun positif memperlihatkan jalan yang harus ditempuh. Ritus kematian secara tidak langsung juga berfungsi melindungi manusia yang masih hidup dari teguran dan gangguan dari liau-liau yang masih gentayangan (Loontan, 1975).     

Orang Dayak Maanyaan memiliki tiga ritus selain ritus penguburan, yaitu marabea, ngadatun, dan ijambe. Ritus penguburan dianggap hanya mengantarkan liau ke bukit pasaha raung (tempat peristirahatan sementara). Sedangkan ritus pembakaran tulang akan mengantarkan liau ke lewu liau (surga). Makam orang-orang Maanyan menunjukkan hierarki sosial tertentu. Makam kaum bangsawan terletak di hulu sungai, disusul ke arah hilir untuk makam kalangan prajurit, penduduk biasa, dan yang paling hilir adalah makam untuk kaum budak (Loontan, 1975; Ukur, 1992).     

2. Konsep Kematian

Konsep kematian orang Dayak Maanyaan tampak mencerminkan sebuah pandangan yang sederhana namun sakral. Bagi mereka, kematian tidak lebih dari perpindahan kehidupan. Dalam bahasa lokal, kematian dirumuskan dengan sederhana sebagai berikut:

Mi-idar jalan, mi-alis enoi, ngalih penyui teka manusia. Artinya, berpindah jalan beralih lorong, mengalihkan langkah dari dunia manusia. 

Dalam rangka memindahkan kehidupan manusia yang mati ini, Suku Dayak Maanyan menggelar ritus kematian yang pada hakekatnya hanyalah menghantarkan jiwa agar sampai ke tempat yang dituju. Oleh karena itu, nyanyian balian ketika memimpin ritus terdiri dari dua sisi, yakni negatif dan positif.

Nyanyian negatif merupakan pesan kepada liau agar tidak tersesat. Berikut adalah syairnya:

Tawang kanju erang tumpalalan, angkang kedang ba iwu jumpun hakekat;
Ada malupui laln mainsang inse, enoi isasikang piak;
Takut tawang ma-ulung kakenreian, umbak basikunrung bakir.

Artinya:

Agar jangan sesat di perapatan, tertahan di hutan lebat;
Jangan mengikuti jalan yang berliku-liku, lorong bersimpang;
Seperti kaki anak ayam tersesat ke laut lepas, gelombang memukul dahsyat.

Sementara itu, nyanyian positif memperlihatkan jalan yang harus ditempuh. Berikut syairnya:

Lalan buka sadapa, enoi salawangan petan;
Lalan banteng ue, lalan kala imasisit, enoi alang ingapeleh.

Artinya:

jalan dibuka sedepa, lorong selebar sumpitan;
Jalan selurus rotan ampuh, lorong yang bening bersih;
Jalan yang licin rata, seperti halusnya rotan diraut.

Ritus kematian secara tidak langsung juga berfungsi untuk melindungi manusia yang masih hidup. Artinya, dengan menggelar ritus kematian, manusia yang hidup dibebaskan dari teguran dan gangguan dari liau-liau yang masih gentayangan. Melalui ritus kematian, liau diantarkan ke lewu liau oleh tempon telon agar bertemu dengan para leluhur.

Menurut orang Dayak Maanyan, kehidupan mendatang tidak ubahnya kehidupan sekarang ini. Oleh karena itu, terdapat syarat-syarat tertentu yang harus disiapkan oleh keluarga dan kerabat yang masih hidup dalam menggelar ritus kematian. Lengkap tidaknya syarat ritus tersebut akan menentukan kedudukan liau di lewu liau. Meskipun demikian, bagi warga suku yang miskin, bukan berarti mereka tidak dapat menggelar ritus dengan sempurna. Bagi mereka justru dapat mempersiapkan sebaik mungkin agar liau dapat pergi ke lewu liau (jiwa) dengan lancar. 

Orang Dayak Maanyaan memiliki tiga ritus kematian yang dianggap sempurna, yaitu marabea, ngadatun, dan ijambe. Ketiga ritus ini dilakukan setelah ritus penguburan. Ritus penguburan dianggap sebagai hanya mengantarkan liau ke bukit pasaha raung (tempat peristirahatan sementara), sedangkan ritus kematian pembakaran tulang akan mengantarkan liau ke lewu liau.

Ritus setelah penguburan berupa pembakaran tulang dengan menggali kuburan para mendiang. Tulang-tulang dikumpulkan lalu dimasukkan ke tambak (tempat penyimpanan tulang; Orang Dayak Ngaju menyebutnya sandong). Pembakaran tulang ini memiliki dua tujuan, yaitu:

  • Penyucian, yakni melenyapkan segala najis, kotor, kelemahan, kesialan, dan sebagainya dari yang orang meninggal sehingga memperoleh kesucian tanpa cacat.    
  • Selaku detik penobatan mereka menjadi Sang Hyang. Oleh karena itu, tempat pembakaran tulang itu disebut Gunung Padudusan Hyang (Gunung Penobatan Sang Hyang).

Ritus pembakaran ini bersifat wajib. Jika tidak, liau dikhawatirkan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke lewu liau. Liau terpaksa bertahan di bukit pasahan raung, sehingga suatu ketika mereka kehilangan daya hidup dan hilang begitu saja, di mana itu merupakan kesedihan yang berat bagi yang meninggal dan keluarganya.

Oleh karena itu, keluarga dan kerabat harus mengantarkan sesaji guna memelihara daya dengan menggelar ritus pembakaran tulang. Jika dalam jangka waktu yang lama tidak dilaksanakan, konon liau akan menegur dan memperingatkan kerabatnya melalui pertanda, misalnya dengan terjadinya kecelakaan atau terkena penyakit.

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan orang Dayak Maanyan tentang kematian ini memiliki pengaruh sosial yang nyata dalam kehidupan, antara lain:

  • Menghormati manusia. Konsep ini berpengaruh terhadap sikap Suku Dayak Maanyan terhadap manusia, khususnya yang sudah meninggal. Ritus kematian dilakukan untuk untuk menghormati kerabat yang wafat agar jiwanya sampai ke liau (surga).
  • Tanggungjawab sosial dan keluarga. Konsep menjadikan tanggungjawab sosial dan keluarga semakin jelas, yaitu mereka memiliki tanggungjawab kepada keluarga dan leluhurnya yang telah meninggal dengan menggelar ritus.

4. Penutup

Konsep kematian Dayak Maanyan menggambarkan bahwa setiap pribadi memiliki tanggungjawab pribadi dan sosial yang tidak mudah. Meskipun demikian, mereka menaati konsep leluhur ini dengan menerapkannya di dalam kehidupan nyata.

(Yusuf Efendi/Bdy/58/04-2011)

Sumber Foto: http://clinicoustic.blogspot.com

Referensi

Fridolin Ukur, “Kebudayaan Dayak”, dalam Kalimantan Review (Juli-Desember 1992).

J.U. Lontaan, 1975. Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.

Yekti Maunati. 2006. Identitas Dayak, Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta: LKIS.

Dibaca : 4.197 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password