Minggu, 21 September 2014   |   Isnain, 26 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.664
Hari ini : 11.068
Kemarin : 16.234
Minggu kemarin : 230.267
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.142.365
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Maraga: Permainan Tradisional dari Sulawesi Selatan


Maraga merupakan bahasa Bugis untuk menyebut sebuah permainan bola (raga) yang disepak menggunakan kaki, semacam permainan sepakbola. Permainan maraga merupakan perpaduan antara seni dan olahraga.

1. Asal-usul 

Orang Melayu di Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki beragam tradisi kesenian yang unik dan khas, salah satunya adalah permainan maraga. Maraga merupakan bahasa Bugis untuk menyebut sebuah permainan bola (raga) yang disepak menggunakan kaki. Orang Makassar menyebutnya aqraga. Permainan ini memiliki nilai olahraga dan seni yang tinggi, yakni memadukan antara seni pencak silat dan ketangkasan. Di pedesaan Sulsel, permainan ini masih bertahan hingga kini (Mattulada, 1979).

Permainan maraga sebenarnya bukan asli dari Sulsel, namun berasal dari Nias, Sumatra Utara. Maraga masuk ke Sulsel dibawa oleh pedagang Bugis dan Makassar dari Sumatra. Permainan ini berkembang pesat pada masa Kerajaan Gowa di abad 15-16 Masehi. Mulanya, hanya kaum bangsawan yang memainkan maraga, namun lambat-laun meluas ke masyarakat umum. Orang Sulsel percaya bahwa maraga sudah ada sebelum permainan bola modern muncul (Aminah Pabittei, 2009; H. D. Mangemba, 1959).    

Permainan maraga menuntut ketangkasan dan kelincahan pemainnya dalam mengumpan dan menendang bola. Tidak heran jika dahulu maraga menjadi salah satu ukuran kesempurnaan pemuda Sulsel. Bahkan, seorang pemuda belum bisa menikah sebelum mahir bermain maraga. Maraga juga pernah menjadi ukuran status sosial di mana para pemainnya akan dikelompokkan sesuai derajat sosial mereka di masyarakat (Pabittei, 2009). Mengakarnya permainan maraga dalam masyarakat Sulsel juga disebabkan oleh makna filosofis yang diajarkan nenek moyang dari beberapa aspek dari permainan ini, di antaranya:

  • Tendangan membumbung (massempeq aratiga) dimaknai sebagai kewaspadaan yang harus dimiliki kerajaan dan masyarakat terhadap semua kemungkinan adanya bahaya dari musuh.

  • Tendangan balasan (massempeq mappalece) bermakna bahwa konflik harus dihindari dalam masyarakat (Mangemba, 1959).

2. Peralatan

Maraga memerlukan peralatan sebagai pelengkap permainan, antara lain:

  • Tanah lapang.
  • Bola yang terbuat dari rajutan rotan, dengan diameter 15 cm.
  • Pakaian adat lengkap.
  • Musik tradisional yang akan mengiringi sepanjang permainan.

3. Pemain

Permainan maraga umumnya dimainkan oleh kaum laki-laki. Jumlah pemain berjumlah antara 5-15 orang. Pemain akan berkurang seiring dengan ketidaktangkasannya dalam memainkan dan menyepak bola. Pemain diwajibkan memakai busana adat lengkap dengan ikat kepalanya. Permainan akan diiringi oleh musik tradisional yang membuat gerakan pemain seakan menari.

4. Tempat Permainan

Maraga umumnya dimainkan di lapangan luas. Dahulu, di halaman depan rumah bangsawan Sulsel biasanya terdapat tanah kosong untuk bermain maraga.

5. Aturan Permainan

Secara umum, ada dua aturan dalam permainan maraga, yaitu:

  • Jika bola sudah dilambungkan ke atas, pemain tidak boleh menangkap dengan tangannya.

  • Para pemain tidak boleh berebut bola, tetapi menunggu raga menuju ke arahnya.

6. Cara Permainan

Pertama-tama seorang wasit masuk ke lapangan dan berdiri di tengah, diikuti oleh para pemain yang membentuk lingkaran. Permainan dimulai dengan wasit memegang raga kemudian melambungkannya ke udara dengan sekuat tenaga. Pemain yang tertimpa raga terlebih dahulu, maka ia yang pertama kali akan memainkan raga. Namun, terkadang wasit akan melemparkan bola kepada salah satu pemain untuk memulai maraga.

Pemain yang tertimpa raga lalu menyepak raga ke udara menggunakan kaki sekuat mungkin. Bagi pemain yang belum ahli, ia akan melambungkannya dengan tangan, karena ia malu kalau bola justru jatuh ke tanah. Saat raga jatuh, raga harus dilentingkan menggunakan punggung telapak kaki secara bergantian. Jika raga jatuh di belakang badan pemain, ia harus memutar tubuhnya untuk melentingkannya lagi.

Berdasarkan cara melakukan dan kekuatan melambungkan raga, terdapat beberapa macam sepakan kaki dalam permainan maraga, yaitu:

@Sempaq sarring (sepak keras), yaitu sepakan menggunakan telapak kaki dengan lambungan raga setinggi kurang lebih 3 meter dari tanah. Sempaq sarring yang baik adalah jika bola melambung ke atas lurus sejajar dengan kaki.

@Sempaq biasa, yaitu menyepak bola hanya setinggi atau melewati kepala pemain yang bersangkutan.

@Sempaq caddi (sepak kecil), yaitu sepakan yang tidak melebihi tinggi pusar pemain yang bersangkutan. Saat sempaq caddi ini, pemain biasanya membuat variasi dengan memainkan raga menggunakan dada, lengan, bahu, perut, dan paha. Pemain raga yang baik adalah yang dapat menyepak dan membuat variasi sepakan.

  • Sempaq cenning raga, yaitu sepakan yang dilakukan dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas.

  • Sempaq paqlongan-longa, yaitu sepakan yang dilakukan dalam posisi duduk atau jongkok. 

Salah satu variasi dalam menyepak raga adalah para pemain bekerja sama memanggul salah satu pemain, lalu saat berada di pundak itu, sang pemain memainkan raga.

Selama permainan, penilaian meliputi hal-hal berikut:

  • Bajiki anrong sempaqna, artinya sepakannya baik dan keras melambung.

  • Caraddeki anggalle raga, artinya pemain pintar mengambil raga, menghidupkan permainan, dan disiplin.

  • Jai sempaq masagalana, artinya pemain memiliki banyak sepakan yang langka dan gerakan variasi pemain tidak mampu atau sulit ditiru pemain lainnya.

Jika raga jatuh ke tanah, maka pemain yang menjatuhkan akan dihukum keluar dari arena permainan. Permainan akan dilanjutkan lagi dari awal. Permainan akan selesai jika tinggal satu pemain yang bertahan dan ia dianggap sebagai pemenang.

7. Nilai Budaya

Permainan maraga mengandung nilai-nilai tertentu bagi kehidupan orang Sulsel, antara lain:

  • Belajar ketangkasan dan kedisiplinan. Permainan raga memerlukan ketangkasan pemainnya dalam memainkan dan menyepak raga, juga kedisiplinan dalam menaati peraturan permainan. Jika keduanya dimiliki oleh pemain, maka itu akan berpengaruh pada kehidupan nyata mereka.

  • Olahraga. Nilai ini tercermin dari gerakan pemain yang memang membutuhkan stamina, energi, dan fisik yang seimbang. Jika pemain tidak memiliki sarat itu, maka ia tidak akan dapat melakukan permainan ini dengan baik.

  • Seni. Nilai ini juga tercermin dari gerakan-gerakan pemain yang indah, kreatif, serta bentuk raga. Tanpa jiwa seni yang tinggi, maka gerakan sepak yang indah dan kreativitas membuat raga dari menganyam rotan tidak akan terwujud. Nilai seni juga tampak dari alunan musik tradisional Sulsel yang mengiringi permainan.

  • Melestarikan tradisi. Meskipun bukan asli dari Sulsel, namun permainan ini penting untuk dilestarikan karena maraga justru terkenal dan lebih berkembang dibanding di negeri asalnya, yakni Nias.

  • Melestarikan busana adat. Nilai ini tercermin dari baju adat yang harus dipakai oleh para pemain maraga. Secara kebudayaan, permainan maraga juga menjadi salah satu identitas budaya orang Sulsel.

  • Menjaga kekompakan. Nilai ini tercermin ketika seorang pemain dipanggul beramai-beramai untuk memainkan raga di atas pundak. Para pemanggul harus kompak, karena jika tidak mereka akan terjatuh dan dikeluarkan dari permainan.

8. Penutup

Saat ini permainan maraga sudah hampir punah, terdesak oleh permainan-permainan modern. Di beberapa pedesaan Sulsel memang masih ada yang memainkan maraga, namun upaya pelestarian perlu kiranya dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun pelaku seni dan budaya. Bagaimanapun, permainan maraga adalah salah satu bukti kebesaran budaya orang Melayu di Sulsel.

(Yusuf Efendi/Bdy/63/05-2011)

Sumber Foto: http://www.bcctakraw.co.cc

Referensi

Aminah Pabittei, 2009. Permainan Rakyat Daerah Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

H.D. Mangemba, 1959. “Permainan Sempaq Raga”, dalam Majalah Sulawesi.

Mattulada, 1979. Pencak Silat Tradisional di Sulawesi Selatan. Ujungpandang: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan.

Dibaca : 4.827 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password