Senin, 24 November 2014   |   Tsulasa', 1 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.604
Hari ini : 8.352
Kemarin : 22.432
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.375.288
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Kematian Adat Melayu Kesultanan Serdang, Sumatra Utara


Upacara kematian adat Kesultanan Serdang merupakan salah satu upacara adat Melayu yang memiliki ciri khas dan keistimewaan tersendiri. Upacara kematian di Kesultanan Serdang dilaksanakan sebagai prosesi adat ketika Sultan Serdang meninggal dunia. Di dalam prosesi upacara ini, terkandung banyak sekali makna positif yang bisa diteladani.

1. Asal-usul

Kesultanan Serdang adalah kerajaan Melayu yang sudah eksis sejak pertengahan abad ke-16 Masehi. Sultan pertama Kesultanan Serdang adalah Tuanku Umar Johan, dinobatkan pada tahun 1723 M dengan gelar Sultan Umar Johan Alamsyah Gelar Kejeruan Junjongan (1723-1767 M). Sejak awal berdirinya, Kesultanan Serdang sudah menganut Islam sebagai agama resmi kerajaan. Lahirnya Kesultanan Serdang terkait erat dengan masa-masa kegemilangan Kesultanan Aceh Darussalam yang merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Sumatra pada waktu itu. Kesultanan Serdang adalah pecahan dari Kesultanan Deli di mana pada mulanya, wilayah Kesultanan Deli, yakni sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Haru, adalah bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam.

Sebagai kerajaan Melayu yang menganut agama Islam, hampir semua sektor kehidupan di Kesultanan Serdang didasarkan pada hukum-hukum adat yang mengacu pada hukum Islam. Saling terkaitnya hukum adat dan hukum Islam ini ditegaskan melalui prinsip Adat Melayu Bersendikan Hukum Syara’, Hukum Syara’ Bersendikan Kitabullah. Artinya, adat Melayu bersendikan hukum agama dan hukum agama bersendikan Alquran. Dengan demikian, hukum adat secara tidak langsung juga bersumber kepada Alquran sebagai sumber hukum tertinggi dalam Islam. Filosofi ini mulai diterapkan pada masa pemerintahan Sultan Serdang yang ke-2, yakni Sultan Ainan Johan Alamsyah (1767-1817 M). Sang Sultan berusaha memediasi antara hukum syariat Islam dengan hukum adat dalam menjalankan pemerintahan dan mengatur tata kehidupan di Kesultanan Serdang, termasuk dalam pelaksanaan upacara-upacara adat, khususnya upacara kematian.

Upacara kematian merupakan rangkaian upacara adat Melayu yang terkait dengan siklus hidup manusia. Pada masyarakat Melayu, upacara kematian dilakukan dengan tujuan yang disesuaikan dengan ajaran Islam, yakni mati dalam Islam. Di dalam kehidupan masyarakat Kesultanan Serdang, terdapat beberapa jenis pelaksanaan upacara kematian yang didasarkan pada status sosial seseorang. Pelaksanaan upacara kematian untuk orang awam berbeda dengan upacara kematian untuk kalangan bangsawan, apalagi untuk Raja atau Sultan. Upacara kematian Sultan Serdang berbeda dengan upacara kematian raja pada umumnya. Hal yang teristimewa dalam prosesi upacara kematian Sultan Serdang adalah adanya adat Melayu “Raja Mangkat, Raja Menanam”. Artinya, penobatan pengganti Sultan harus segera dilakukan sebelum jenazah almarhum Sultan dikebumikan. Jika belum terdapat calon pengganti Sultan, maka jenazah almarhum Sultan yang wafat tidak boleh dikuburkan. Penobatan Sultan Serdang yang baru pun harus dilakukan di depan jenazah almarhum Sultan yang wafat.

Adat Melayu “Raja Mangkat, Raja Menanam” dalam prosesi upacara kematian Kesultanan Serdang wajib dilakukan dengan tujuan untuk menghindari timbulnya konflik mungkin terjadi di antara orang-orang yang merasa berhak menduduki singgasana sebagai Sultan yang berikutnya. Dengan kata lain, apabila calon Sultan selaku pengganti Sultan yang wafat sudah ditetapkan sebelum Sultan yang wafat dikuburkan, maka potensi konflik yang mungkin terjadi dalam suksesi pergantian Sultan dapat diminimalisir. Persoalan klasik seperti ini sudah sering terjadi di banyak kerajaan di Nusantara hingga di masa sekarang sehingga tidak jarang menimbulkan dualisme kepemimpinan, pengklaiman tahta, berdirinya kerajaan baru (sebagai pecahan dari kerajaan lama), bahkan pertumpahan darah di lingkungan keluarga besar istana.

2. Prosesi Upacara Kematian

Dalam pelaksanaan prosesi upacara kematian adat Kesultanan Serdang yang dilakukan ketika Sultan Serdang meninggal dunia terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal-hal itu antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Rambut para perempuan yang hadir harus diurai lepas (berkerbang rambut). Sedangkan untuk laki-laki harus memakai ikat kepala berwarna putih, atau bisa juga menggunakan secarik kain putih dan diikatkan di kepala.
  2. Terdapat rombongan yang bertugas “meratap”, yaitu mereka yang memiliki keahlian bersyair seperti memuji-muji, dan berkata-kata hiba untuk jenazah.
  3. Anggota badan dan sendi-sendi mayat diolesi dengan minyak.
  4. Jenazah dinaikkan ke atas kelemba (tempat tidur khusus untuk jenazah) yang dihias.
  5. Seluruh tubuh dan muka jenazah ditutup dengan kain bertabur dan diletakkan sebilah keris (atau benda-benda logam lainnya) di atas perut jenazah agar camar-camar (najis-najis) yang tertinggal dapat dikeluarkan.
  6. Tidak diperbolehkan meninggalkan jenazah sendiri, harus selalu ada orang yang menjaga jenazah dan secara bergantian membacakan ayat-ayat suci Alquran.
  7. Disediakan kapur barus, air bunga mawar, kayu gaharu dan asap setanggi supaya ruangan di mana jenazah ditempatkan selalu beraroma harum semerbak.
  8. Keluarga, kerabat, dan warga membuat keranda dan rahap (penghias keranda) secara bergotong-royong.

2.1. Memandikan dan Mengkafani Jenazah

Tradisi Islam dan Melayu mewajibkan bahwa jenazah harus dimandikan terlebih dulu sebelum dikebumikan. Perlengkapan yang diperlukan untuk melaksanakan ritual memandikan mayat di antaranya adalah kain putih, sugi-sugi, air limau, sabun, kapas, daun bedara, sikat, bedak, minyak atar, kapur barus, dan cendana. Seluruh perlengkapan itu dimasukkan ke dalam 2 mangkuk limau, 4 piring, 1 talam, 1 sangai, dan 2 buah labu. Jenazah dimandikan dengan cara Islam. Orang yang memangku jenazah sebaiknya menantu atau kerabat dekat untuk menjaga agar hal-hal yang kurang baik tidak sampai tersiar ke luar. Apabila jenazah telah selesai dimandikan, diberikanlah sedekah kepada orang yang memandikan, yakni berupa:

  • Kain putih berukuran 1,80 meter (2,2 yard), bisa juga ditambahkan atau berupa baju dan kain, diberikan kepada orang yang memangku jenazah.
  • Kain putih berukuran 1,80 meter (2,2 yard) diberikan kepada “penyandar”, yakni orang yang menjadi sandaran pemangku ketika memandikan jenazah.
  • Mangkuk limau, cincin, dan kain putih berukuran 1,80 meter (2,2 yard), diberikan kepada “peruang”, yaitu orang yang ditugaskan membersihkan anggota tubuh jenazah

Setelah selesai dimandikan, jenazah kemudian dikafani dengan kain putih, diberi kapas, kayu gaharu, kapur barus, dan wangi-wangian lainnya. Selanjutnya, jenazah dimasukkan ke dalam keranda. Kepada seluruh keluarga, ahli waris, kerabat, dan handai taulan, diberi kesempatan melihat jenazah untuk terakhir kalinya. Setelah itu, jenazah lalu disembahyangkan (sebaiknya oleh 40 orang atau lebih). Sebelum jenazah dishalatkan, ada kewajiban yang harus dipenuhi, salah satunya adalah urusan hutang-piutang almarhum wajib diselesaikan dahulu.

2.2. Upacara Penobatan Sultan (Sebagai Pengganti Sultan yang Wafat)

Sesuai dengan adat Melayu “Raja Mangkat, Raja Menanam”, penabalan pengganti Sultan yang mangkat harus segera dilangsungkan dan jenazah Sultan yang meninggal dunia tidak boleh dikuburkan sebelum diangkat penggantinya. Keranda dinaikkan dengan jenazahnya ke atas kelemba agar upacara penabalan bisa segera dilaksanakan. Penobatan Sultan Serdang yang baru dilakukan di depan jenazah Sultan yang wafat. Dalam upacara penabalan Sultan Serdang terdapat beberapa hal yang wajib dilakukan, antara lain:

  1. Jenis pakaian sama dengan pakaian mahkota.
  2. Pelaminan yang disediakan berupa 9 tingkat dan semua berwarna kuning.
  3. Dayang-dayang berjumlah 18 orang dengan rincian 9 orang dayang berada pada sisi kiri dan 9 orang dayang lainnya berada di sisi kanan.
  4. Disediakan Balai Pulut Kuning dengan ukuran besar dan bunga telur sebanyak 100 biji.
  5. Seperangkat bahan tepung tawar.
  6. Payung kuning kesultanan bertingkat tiga.
  7. Alat regalia kerajaan harus ada di dekat penabalan singgasana, yakni berupa satu pedang panjang dan satu pedang pendek, satu keris panjang dan satu keris pendek, satu tumpuk lada, satu tombak agam tanpa rambu-rambu, dan satu tombak dengan rambu.
  8. Punggawa yang telah ditetapkan bertugas membacakan surat pengangkatan pengukuhan calon Sultan Serdang.
  9. Salah seorang punggawa kerajaan bertugas memegang payung bertingkat.
  10. Salah seorang punggawa yang telah ditunjuk sebelumnya menyerukan “Daulat Tuanku!” sebanyak 3 kali lalu disambut dengan suara rakyat di halaman istana.
  11. Bunyi meriam didentumkan sebanyak 13 kali.
  12. Menepung tawari.
  13. Pembesar tertinggi duduk bersama-sama di singgasana.

2.3. Mengenai Rahap (Penghias Keranda)

Rahap adalah sungkup atau penutup yang di dalamnya diletakkan keranda. Pembuatan rahap hanya diperuntukkan bagi Sultan atau orang-orang dari kalangan bangsawan yang meninggal dunia. Rahap diberi hiasan dan tingkatan yang disesuaikan menurut status sosial orang yang wafat. Terdapat 2 jenis rahap yang digunakan di dalam tradisi Kesultanan Serdang.  Apabila yang wafat adalah Sultan Serdang atau keluarga istana, maka harus dibuatkan rahap sebagai berikut:

  1. Rahap Raja Diraja, yaitu rahap khusus yang diperuntukkan bagi Raja/Sultan yang wafat (terdiri dari 8 tingkat).
  2. Rahap Raja Dipaksi, yaitu rahap diperuntukkan bagi putra mahkota, terdiri dari 4 tingkat, dan anak bangsawan kesultanan, terdiri dari 2 tingkat.

Jumlah tingkatan rahap harus berupa angka genap yang melambangkan duka-cita. Sebagai penanda berita belasungkawa, di luar istana dikibarkanlah tonggol, yakni panji-panji kecil berbentuk kotak berwarna hitam. Di atas bumbungan rahap terdapat selembayung yang ditempatkan di tengah. Selembayung adalah tanda jenis kelamin orang yang wafat. Untuk pria, bagian tengah selembayung berbentuk bukit, sedangkan untuk perempuan, selembayung mempunyai lekukan pada bagian tengahnya. Warna yang digunakan pada rahap juga terdapat perbedaan berdasarkan kedudukan keluarga istana yang wafat, yaitu sebagai berikut:

  • Apabila yang meninggal dunia adalah Sultan Serdang, maka rahap beserta seluruh payung penghiasnya  berwarna kuning.
  • Apabila yang meninggal dunia adalah anak-anak Sultan Serdang dan para Tengku yang bergelar Raja Muda, Putra Mahkota, dan Tengku Bendahara, warna yang dipakai untuk rahap adalah warna kuning dengan les hitam. Sedangkan untuk para Tengku lainnya, warna dasar rahap adalah hitam dengan renda berwarna kuning.
  • Apabila yang meninggal dunia adalah Datuk-datuk Wazir Berempat, warna dasar untuk rahap adalah putih, sedangkan payung penghiasnya dipercantik dengan renda-renda berwarna hijau dan di pucuknya berwarna kuning.
  • Apabila yang meninggal dunia adalah Encik-encik istri Tengku, maka seluruh bagian rahap diberi warna putih.
  • Apabila yang meninggal dunia adalah Pangeran Perbaungan, Raja Denai, Wazir Padang, dan Wazir Bedagai, warna dasar rahap adalah kuning dengan les hitam dan hijau.
  • Apabila yang meninggal dunia adalah Kejeruan Senembah, maka warna dasar rahap adalah warna putih dengan renda berwarna biru.
  • Apabila yang meninggal dunia adalah Kejeruan Serba Jadi, warna dasar rahap adalah putih dengan renda berwarna biru dan kuning.
  • Apabila yang meninggal dunia adalah Datuk-datuk Berlapan, maka warna dasar rahap adalah putih dengan renda berwarna hijau.

2.4. Upacara Pemakaman dan Peletakan Batu Nisan

Upacara pemakaman dapat dimulai setelah penobatan Sultan Serdang yang baru sudah usai dilaksanakan. Sebelum jenazah Sultan Serdang yang wafat diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir, terlebih dulu disampaikan kata-kata sambutan, lalu seluruh keluarga istana menyampaikan ucapan terima kasih atas semua bantuan yang telah diberikan selama jalannya upacara. Kemudian, jenazah mulai diberangkatkan menuju tempat pemakaman. Perjalanan menuju ke tempat pemakaman sebaiknya dilakukan dengan berjalan kaki dan untuk wanita sebaiknya tidak turut serta.

Perlengkapan yang harus disediakan dalam upacara pemakaman antara lain air mawar selabu, tilam, tikar, payung, dan bantal. Sebagai pembawa air mawar selabu yang nantinya akan disiramkan di atas makam, ditunjuk dari salah seorang punggawa istana. Selain itu, ada juga petugas yang membawa payung dan tikar sebagai tempat duduk orang yang membaca doa atau talqin. Disediakan juga bungai rampai setalam yang akan disebarkan di sepanjang jalan menuju pemakaman dan di atas makam. Uang recehan juga disiapkan untuk disedekahkan kepada para pengantar. Bagi ulama yang membaca talqim, disedekahkan tilam-tilam, bantal baru, dan sebuah tepak penalkin beserta uang di dalamnya. Setelah upacara pemakaman selesai dilakukan, maka pada malamnya diadakan tahlil selama 3 hari berturut-turut.

Selang 40 hari setelah upacara pemakaman, maka tiba waktunya untuk meletakkan batu nisan di atas makam. Batu yang digunakan sebagai batu nisan biasanya batu yang berasal dari gunung. Dalam tradisi masyarakat Serdang pada umumnya, terdapat pembedaan bentuk batu nisan yang disesuaikan dengan jenis kelamin orang yang meninggal dunia. Apabila orang yang wafat adalah laki-laki, maka batu nisan yang dipilih adalah batu nisan yang berbentuk bulat, sedangkan jika yang wafat adalah perempuan, maka dipilihlah batu nisan berbentuk pipih. Masing-masing batu nisan diletakkan di bagian kepala dan di bagian kaki.

Sebelum batu nisan diletakkan di atas makam, terlebih dulu diadakan upacara. Dalam upacara itu disediakan pelemba sebagai tempat untuk batu nisan yang pada bagian atasnya dibungkus dengan kain putih dan ditutupi dengan kain bertabur. Pada malam harinya, diselenggarakan acara kenduri untuk mendoakan orang yang wafat. Keesokan harinya, batu nisan yang masih ditempatkan di atas pelemba diturunkan dan dilindungi dengan payung. Lalu, batu nisan itu digendong oleh salah satu kerabat dekat almarhum untuk kemudian ditepung tawari. Setelah semua prosesi ini dilakukan, batu nisan tersebut dibawa ke pemakaman untuk diletakkan di atas makam dengan sebelumnya dibacakan doa terlebih dulu.

3. Nilai-nilai

Setiap upacara kematian, khususnya yang diselenggarakan secara adat, mengandung maksud dan tujuan tertentu sesuai dengan nilai-nilai hidup dan kepercayaan yang diyakini, demikian pula dengan upacara kematian adat Melayu di Kesultanan Serdang. Nilai-nilai positif yang dapat dipetik dari upacara kematian adat Melayu Kesultanan Serdang adalah sesuai dengan tujuan adat resam dan tujuan agama sesuai dengan prinsip Adat Melayu Bersendikan Hukum Syara’, Hukum Syara’ Bersendikan Kitabullah. Adapun nilai-nilai positif dalam upacara kematian adat Melayu Kesultanan Serdang adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai bentuk penghormatan terakhir. Dalam upacara kematian adat ini, keluarga memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal dunia. Jenazah diletakkan di suatu tempat khusus yang telah disediakan dengan seperangkat upacara untuk mengantarkan almarhum ke sisi Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Sebagai acara perpisahan. Perpisahan yang dimaksud di sini bukan berarti orang-orang yang telah ditinggalkan tidak bisa bertemu lagi dengan orang yang wafat. Akan tetapi lebih bermakna pada perpisahan sementara dan akan bertemu lagi di dunia yang berbeda di kehidupan yang berikutnya. Jenazah dikubur sebagai pertanda bahwa hidup pergaulan biasa memang sudah tidak ada lagi karena dunianya telah berbeda.
  3. Sebagai pernyataan perubahan status. Apabila ada seorang anggota keluarga yang wafat, maka akan terjadi perubahan status dalam kehidupan keluarga itu. Sebagai contoh, apabila seorang kepala keluarga wafat, dengan sendirinya keluarga akan mengalami perubahan status. Misalnya, anak sulung berubah status menjadi wakil keluarga, seorang istri akan menjadi janda, dan anak-anaknya akan menjadi anak yatim. Demikian pula dengan status di dalam keluarga besar Kesultanan Serdang jika sang Sultan meninggal dunia, di mana status Sultan akan dijabat oleh orang yang sudah ditetapkan sebelumnya, dan lain sebagainya.
  4. Sebagai pernyataan tanggung jawab ahli waris. Seseorang yang wafat dan masih memiliki hutang piutang harus dipertanggungjawabkan oleh pihak keluarga yang wajib diselesaikan pada saat upacara dilaksanakan.
  5. Sebagai wujud pelaksanaan ajaran agama Islam. Kesultanan Serdang adalah kerajaan Melayu yang menganut agama Islam, dan oleh karena itu tujuan diadakannya upacara kematian adat Melayu di Kesultanan Serdang harus sesuai dengan ajaran Islam seperti yang termaktub dalam Alquran.
  6. Sebagai solusi dalam suksesi tahta. Untuk menghindari terjadinya konflik perebutan tahta sepeninggal Sultan Serdang yang wafat, maka dalam rangkaian acara upacara kematian diadakan juga upacara penobatan Sultan Serdang yang baru sesuai dengan prinsip “Raja mangkat, Raja menanam”. Sebelumnya, pihak istana melakukan sidang untuk menentukan calon Sultan Serdang yang akan dinobatkan sebagai penerus tahta Kesultanan Serdang. Penobatan pengganti Sultan Serdang harus dilakukan sebelum jenazah almarhum Sultan yang wafat dikebumikan. Jika belum ada calon pengganti Sultan, maka jenazah almarhum Sultan yang wafat tidak boleh dikuburkan. Penobatan Sultan Serdang yang baru pun harus dilakukan di depan jenazah almarhum Sultan yang wafat.

4. Penutup

Upacara kematian adat Melayu Kesultanan Serdang merupakan perwujudan pelaksanaan upacara adat yang diselaraskan dengan ajaran agama Islam. Upacara kematian adat Melayu ini masih tetap diselenggarakan hingga sekarang, seperti yang terlihat dalam upacara yang diselenggarakan saat wafatnya Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, yang bertahta sebagai Pemangku Adat Kesultanan Serdang sejak tahun 2002.

(Iswara N Raditya/Bdy/01/06-2011)

Referensi:

Fatimah, “Upacara Kematian pada Masyarakat Melayu di Medan”, dalam Jurnal Historisme, Edisi No. 23/Tahun XI/Januari 2007, Medan: Universitas Sumatera Utara.

Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, Tanpa tahun. Bangun dan Runtuhnya kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Medan: Tanpa nama penerbit.

Sumber Foto: Mahyudin Al Mudra (MelayuOnline/BKPBM)

Dibaca : 7.560 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password