
Ungkapan Melayu tentang sikap malu dan tahu diri berisi tentang peringatan dan ajaran budi pekerti bagi setiap orang untuk menjaga diri dan rasa malunya, baik ketika sendiri maupun saat bergaul dengan lingkungan dan sesama warga masyarakat.
1. Asal-usul
Dalam menata diri, baik secara pribadi maupun ketika berhubungan dengan masyarakat umum, orang Melayu berusaha selalu menjaga sikap malu dan tahu diri. Meskipun hal seperti ini tergantung pada kualitas pribadi setiap orang, tradisi leluhur orang Melayu telah mengajarkan pentingnya menjaga sikap. Ajaran itu tertuang dalam ungkapan Melayu tentang sikap malu dan tahu diri (Nizamil Jamil, ed., 1982).
Ungkapan ini berisi tentang peringatan dan ajaran budi bagi setiap individu untuk menjaga diri dan rasa malunya, baik ketika sendiri maupun saat bergaul dengan masyarakat. Orang Melayu menganggap bahwa aib sendiri atau orang lain harus dijaga karena membuka aib sama halnya dengan mencoreng muka sendiri (Tenas Effendy, 1991; Budi S. Santoso, 1986). Jika mencermati ungkapan-ungkapan itu, terlihat bagaimana leluhur orang Melayu menghubungkan sikap malu dan tahu diri dengan kesadaran yang harus dimiliki oleh seseorang.
Selain itu, peringatan untuk menjaga sikap malu dan tahu diri dikaitkan dengan adat Melayu yang menjunjung tinggi marwah, yang berbunyi: Tau idup dikandung adat, tau mati dikandung tanah. Hinga kini, ungkapan tentang rasa malu dan tahu diri ini masih sering disampaikan sebagai nasehat dan petunjuk bagi orang Melayu, khususnya ketika Idul Fitri, resepsi perkawinan, atau pengajian. Semua itu ditujukan sebagai bahan renungan agar terhindar dari perbuatan yang tidak sesuai dengan adat maupun dengan norma-norma sosial lainnya (Effendy, 1991; Jamil, ed., 1982).
2. Konsepsi Ungkapan Melayu tentang Malu dan Tahu Diri
Ungkapan Melayu tentang sikap malu dan tahu diri merupakan ajaran budi pekerti bagi keluarga dan lingkungan sosial. Berikut ini adalah bait-bait dari untaian ungkapan tersebut:
Malu menyingkap kain di badan, malu membuka aib orang
Malu menyingkap kain di badan, malu membuka aib orang
Malu menoreng arang di koning
Malu mencoreng arang di kening
Malu ke tongah berminyak aei, malu ke topi mengelak utang
Malu ke tengah berminyak air, malu ke tepi mengelak utang
Malu telanggo pada syarak
Malu terlanggar pada syarak
Malu telando pada lembago
Malu terlanda pada lembaga
Malu tetaung pado adat
Malu tertarung pada adat
Malu tekalang pado udang
Malu terkalang pada undang
Ogo garam pada masinnya, ogo manusio pado malunya
Harga garam pada asinnya, harga manusia pada malunya
Malu temakan pada sumpah, malu tetolan pado amanah
Malu termakan pada sumpah, malu tertelan pada amanah
Menutup malu dengan malu, Tau duduk dengan tegak
Menutup malu dengan malu, Tahu duduk dengan tegak
Tau gelanggang tompat mainan, Tau asal kejadian
Tahu gelanggang tempat bermain, Tau asal kejadian
Tau idup bekesudahan, tau mati bekokalan
Tahu hidup berkesudahan, tahu mati berkekalan
Tau pangkalan tompat belabou, tau tepian tompat mandi
Tahu pangkalan tempat berlabuh, tahu tepian tempat mandi
Tau diri dengan perinyo, tau marwah dengan tuahnyo
Tahu diri dengan perinya, tahu marwah dengan tuahnya
Tau alou dengan patutnyo, tau salah dengan silahnyo
Tahu alur dengan patutnya, tahu salah dengan silahnya
Tau toluk timbunan kapo, tau tanjong pumpunan angin
Tahu teluk timbunan kapar, tahu tanjung pumpunan angin
Tau pasang menyentak naik, tau su-ut menyentak su-un
Tahu pasang menyentak naik, tahu surut menyentak turun
Tau umah ado adatnyo, tau tepian ado basonya
Tahu rumah ada adatnya, tahu tepian ada bahasanya
Tau dagang betopatan, tau galas besandoan
Tahu dagang bertepatan, tahu galas bersandaran
Tau darah setampuk pinang, tau umou setaun jagung
Tahu darah setampuk pinang, tahu umur setahun jagung
Tau idup ado utangnyo, tau mati ado bokalnyo
Tahu hidup ada utangnya, tau mati ada bekalnya
Tau kocik belom benamo, tau bosos bolum begolo
Tahu kecil belum bernama, tahu besar belum bergelar
Tau idup dikandung adat, tau mati dikandung tanah
Tahu hidup dikandung adat, tahu mati dikandung tanah
Tau otak ado pocahnyo, tau sumbing ado belahnya
Tahu otak ada pecahnya, tahu sumbing ada belahnya
Tau onak yang menyombo, tau batang yang melintang
Tahu onak yang menjemba, tahu batang yang melintang
Tau uncing melukokan, tau lubang menjatoukan
Tahu runcing melukakan, tahu lubang menjatuhkan
Tau manis memabukkan, tau pait membotahkan
Tahu manis memabukkan, tahu pahit membetahkan
3. Nilai-nilai
Ungkapan Melayu tentang malu dan tahu diri mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan orang Melayu, antara lain:
- Introspeksi diri. Nilai ini tercermin jelas dari kalimat-kalimat dalam ungkapan yang memang mengajak orang Melayu untuk selalu mawas diri. Di sisi lain, introspeksi diri ini akan berdamapk pada sikap sosial, yakni menjaga martabat orang lain yang sebenarnya itu juga berarti menjaga marwah diri sendiri.
- Melestarikan sastra tradisional. Nilai ini tercermin dari bait-bait ungkapan Melayu sebagai karya sastra. Dengan ini, orang Melayu diharapkan dapat menata diri dan kehidupan sosialnya.
- Menjaga adat. ungkapan Melayu ini merupakan karya leluhur yang dijadikan adat orang Melayu. Oleh karena itu, mempelajari ungkapan-ungkapan sastrawi ini secara tidak langsung juga menjaga adat-istiadat Melayu.
- Nilai sosial. Nilai ini tercermin dari ungkapan: Malu menyingkap kain di badan, malu membuka aib orang. Dari ungkapan ini, secara sosial orang Melayu dituntut untuk menghormati rahasia orang lain.
- Religius. Nilai ini tercermin dari ungkapan: Tau idup ado utangnyo, tau mati ado bokalnyo. Dari ungkapan ini, orang Melayu diperingatkan agar jangan melupakan kehidupan setelah mati.
4. Penutup
Ungkapan Melayu tentang sikap malu dan tahu diri tampak sekali mencerminkan kemanusiaan seseorang. Manusia yang tidak lepas dari salah dan benar. Agar tidak terjerembab dalam malu, ia harus menjaga sikap tahu dirinya. Dalam konteks ini, ungkapan-ungkapan di atas akan memuat fungsi yang penting.
(Yusuf Efendi/Bdy/66/06-2011)
Sumber Foto: http://tutinonka.wordpress.com
Referensi
Budi S. Santoso, 1986. Masyarakat Melayu dan Kebudayaannya. Riau: Pemda.
Nizamil Jamil (ed.), 1982. Upacara Perkawinan Adat Riau. Riau: Bumi Pustaka
Tenas Effendy, 1991. Adat Istiadat dan Upacara Perkawinan di Bekas Kerajaan Pelalawan. Riau: Lembaga Adat Daerah.
Dibaca : 9.896 kali.
Berikan komentar anda :