Jumat, 24 Februari 2017   |   Sabtu, 27 Jum. Awal 1438 H
Pengunjung Online : 7.153
Hari ini : 83.615
Kemarin : 84.734
Minggu kemarin : 233.537
Bulan kemarin : 4.156.978
Anda pengunjung ke 101.794.729
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Ronrong Lino: Pengetahuan Orang Melayu Makassar tentang Gempa Bumi


Ronrong Lino adalah salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh orang Melayu Makassar yang bermukim di wilayah Sulawesi Selatan. Ronrong Lino berupa naskah kuno yang berisi tentang ramalan peristiwa yang dihubungkan dengan waktu terjadinya bencana gempa bumi.

1. Asal-usul

Orang Makassar tidak hanya dikenal sebagai kaum pelaut yang gagah berani. Suku bangsa Melayu serumpun yang terdapat di Indonesia bagian timur ini ternyata juga punya warisan budaya berupa karya sastra yang cukup dikenal. Salah satunya adalah Lontara Patturioloanna to Gowaya, yakni sebuah kitab sastra yang berisi beragam cerita tentang sejarah raja-raja Gowa dan pengetahuan budayanya (Syarifudin Kulle, dkk., 2010). Di dalam kitab yang berupa lontaran (lontar) ini, terkandung banyak sekali ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur orang Makassar, salah satunya adalah Ronrong Lino.

Ronrong lino adalah pengetahuan leluhur orang Makassar yang berisi tentang ramalan peristiwa berdasarkan gempa bumi yang dihubungkan dengan bulan terjadinya peristiwa tersebut. Berdasarkan ramalan ini, orang Makassar zaman dulu memiliki berbagai persiapan dalam rangka mengarungi hidup. Wujud asli teks ronrong lino (juga seluruh teks dalam lontara) adalah berupa catatan kuno berbahasa Makassar namun ditulis dengan aksara Arab. Namun, saat ini hanya sedikit orang yang mampu dan mau membaca lontara ini. Akibatnya, pengetahuan yang terkandung di dalamnya pun terancam punah (Kulle, dkk. 2010).

2. Konsep Ronrong Lino

Syarifudin Kulle dan kawan-kawan (2010) menerjemahkan konsep Ronrong Lino dari bahasa Makassar ke bahasa Indonesia secara harfiah sebagai berikut:

Menurut leluhur Bugis, ramalan ini didasarkan pada pengetahuan bahwa tanah/bumi ini itu laksana laki-laki dan perempuan. Tanah/bumi diciptakan Allah SWT di tanduk kerbau Jawa. Kerbau Jawa itu batu tempat berdirinya. Batu itu telur tempat berpijaknya. Telur itu ikan tempat berpijaknya. Ikan air tempat hidupnya. Air berpijak di kilat, kilat dari gemuruh berpijak dan gemurug dari awan berpijak, itulah yang disebut siksa. Allah menciptakan setan dan malaikat yang menguasai langit dan tanah. Jika Allah menginginkan bencana, ditariklah urat tanah oleh malaikat, itulah gempa bumi. Takdir baik dan buruk yang menimpa masyarakat seiring gempa bumi bergantung pada bulan kejadiannya (Kulle, dkk. 2010).  

Ronrong Lino menjadi semacam nubuat yang didasarkan atas peristiwa gempa bumi berdasarkan waktu terjadinya. Adapun waktu-waktu yang dimaksud beserta maknanya adalah sebagai berikut:

a. Bulan Muharam

  • Bila gempa terjadi pada waktu Subuh, maka akan ada peperangan.
  • Bila terjadi waktu Duha (pagi menjelang siang), maka pertanda barang-barang akan dijual dengan harga besar.
  • Bila terjadi pada tengah hari, maka pertanda akan datang berkah dan rejeki.
  • Bila terjadi waktu Dzuhur, maka pertanda akan ada peperangan.
  • Bila terjadi waktu Ashar, maka pertanda akan ada pembesar akan lengser.
  • Bila terjadi waktu Maghrib, maka pertanda banyak orang mati dalam peperangan.
  • Bila terjadi waktu Isya’, maka pertanda akan datang rejeki dari Allah.

b. Bulan Safar

  • Bila gempa terjadi saat Subuh, maka pertanda pemerintah tidak melaksanakan amanah.
  • Bila terjadi waktu Duha, maka pertanda wabah penyakit akan datang.
  • Bila terjadi waktu Ashar, maka pertanda akan datang peperangan.
  • Bila terjadi waktu Maghrib, maka pertanda akan ada pembesar yang akan lengser.
  • Bila terjadi waktu Isya’, maka pertanda tanah longsor dan bencana alam lainnya akan menimpa.

c. Bulan Rabbiul Awal

  • Bila gempa terjadi saat Subuh, maka pertanda bencana kelaparan akan datang.
  • Bila terjadi waktu Duha, maka pertanda akan datang berkah.
  • Bila terjadi waktu Dzuhur, maka pertanda akan datang tamu dari jauh.
  • Bila terjadi waktu Ashar, maka pertanda baik bagi penduduk.
  • Bila terjadi waktu Maghrib, maka pertanda akan datang peperangan.
  • Bila terjadi waktu Isya’, maka pertanda buruk bagi penduduk.

d. Bulan Rabbiul Akhir

  • Bila gempa terjadi saat Subuh, maka pertanda penduduk akan mengungsi karena ada bahaya mengancam.
  • Bila terjadi waktu Duha, maka pertanda penduduk akan mendapat berkah.
  • Bila terjadi waktu Dzuhur, maka penduduk akan mendapat rejeki dari Allah yang datang dari langit dan bumi.
  • Bila terjadi waktu Ashar, maka pertanda akan terjadi peperangan.
  • Bila terjadi waktu Maghrib, maka pertanda negeri akan ditimpa malapetaka.
  • Bila terjadi waktu Isya’, maka pertanda dunia sudah tua dan akan kiamat.

e. Bulan Jumadil Akhir

  • Bila gempa terjadi saat Subuh, maka pertanda penduduk akan bersuka ria.
  • Bila terjadi waktu Duha, maka pertanda akan ada peperangan.
  • Bila terjadi waktu Dzuhur, maka pertanda akan datang tamu dari jauh.
  • Bila terjadi waktu Ashar, maka pertanda buah-buahan akan tumbuh.
  • Bila terjadi waktu Maghrib, maka pertanda akan timbul kekacauan di mana-mana.
  • Bila terjadi waktu Isya’, maka pertanda alamat buruk bagi penduduk suatu negeri.

f. Bulan Jumadil Awal

  • Bila gempa terjadi saat Subuh, maka pertanda terjadi keributan di suatu negeri.
  • Bila terjadi waktu Duha, maka pertanda akan datang petaka di suatu negeri.
  • Bila terjadi waktu Dzuhur, maka pertanda banyak orang yang akan kerasukan atau kesurupan.
  • Bila terjadi waktu Ashar, maka pertanda akan terjadi pertumpahan darah di suatu negeri.
  • Bila terjadi waktu Maghrib, maka pertanda akan terjadi angin topan.
  • Bila terjadi waktu Isya’, maka pertanda alamat buruk bagi penduduk.

g. Bulan Rajab

  • Bila gempa terjadi saat Subuh, maka pertanda penduduk negeri akan bersuka ria.
  • Bila terjadi waktu Duha, maka pertanda wabah penyakit akan melanda negeri.
  • Bila terjadi waktu Dzuhur, maka pertanda akan terjadi keributan di suatu negeri.
  • Bila terjadi waktu Ashar, maka pertanda penduduk akan hidup sejahtera.
  • Bila terjadi waktu Maghrib, maka pertanda akan datang kesejahteraan.
  • Bila terjadi waktu Isya’, maka pertanda alamat baik bagi suatu negeri.

h. Bulan Sya’ban

  • Bila gempa terjadi saat Subuh, maka pertanda alamat buruk bagi penduduk.
  • Bila terjadi waktu Duha, maka pertanda negeri akan mendapat murka dari Allah.
  • Bila terjadi waktu Dzuhur, maka pertanda tanaman padi akan tumbuh dengan baik dan penduduk akan sehat.
  • Bila terjadi waktu Ashar, maka pertanda alamat baik bagi suatu negeri.
  • Bila terjadi waktu Maghrib atau Isya’, maka pertanda alamat buruk bagi penduduk suatu negeri.

i.  Bulan Ramadhan

  • Bila gempa terjadi saat Subuh, maka pertanda akan ada raja/pembesar yang wafat.
  • Bila terjadi waktu Duha, maka pertanda akan terjadi peperangan di suatu negeri.
  • Bila terjadi waktu Dzuhur, maka pertanda baik bagi penduduk suatu negeri.
  • Bila terjadi waktu Ashar, maka pertanda buruk bagi penduduk negeri.
  • Bila terjadi waktu Maghrib, maka pertanda wabah penyakit akan melanda suatu negeri.
  • Bila terjadi waktu Isya’, maka pertanda akan ada pujian dari negara luar terhadap suatu negeri.

j. Bulan Syawal

  • Bila gempa terjadi saat Subuh, maka pertanda akan terjadi perselisihan di penduduk suatu negeri.
  • Bila terjadi waktu malam, maka pertanda banyak warga akan tewas.

k. Bulan Zulqaidah

  • Bila gempa terjadi saat siang hari, maka pertanda akan terjadi bencana kelaparan.
  • Bila terjadi waktu malam, maka pertanda harga barang-barang akan murah dan Allah menurunkan rejeki pada penduduk suatu negeri.

l. Bulan Zulhijah

  • Bila gempa terjadi saat siang hari, maka pertanda akan terjadi bencana kelaparan, namun penduduk masih bisa tenang karena usaha penanggulangan akan berhasil.

3. Nilai-nilai

Pengetahuan orang Makassar tentang Ronrong Lino mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan, antara lain:

  1. Melestarikan tradisi. Ronrong Lino merupakan tradisi yang penuh ajaran luhur. Mengingat saat ini generasi orang Makassar yang dapat membaca lontara aslinya, maka penerjemahan penting untuk terus dilanjutkan sebagai usaha pelestarian tradisi.
  2. Nilai Sastrawi. Nilai ini tercermin dari teks Ronrong Lino sebagai karya sastra orang Makassar yang ditulis dalam bentuk cerita sastra yang penuh makna.
  3. Menerapkan ajaran Islam. Ronrong Lino berhubungan erat dengan ajaran Islam tentang ketuhanan. Olehn karena itu, pemahaman terhadap pengetahuan ini juga merupakan penerapan terhadap ajaran agama Islam.
  4. Memahami tanda-tanda. Nilai ini tercermin dari peristiwa gempa bumi yang harus diambil maknanya dari tanda-tanda yang ada dengan dihubungkan dengan bulan terjadinya.

4. Penutup

Ronrong Lino adalah salah satu bentuk kearifan lokal orang Makassar. Dengan pengetahuan ini, leluhur orang Makassar mengajarkan untuk mempersiapkan diri terhadap bencana yang terjadi. Pengetahuan ini sepertinya menguatkan akan fakta betapa negeri ini rentan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung berapi, dan sebagainya, sehingga pengetahuan ini penting untuk dilestarikan.  

(Yusuf Efendi/Bdy/68/06-2011)

Sumber Foto: http://adhiehr.blogspot.com


Referensi

Syarifudin Kulle, dkk. 2010. Lontara Patturioloanna tu Gowaya. Gowa: Proyek Pengembangan Minat dan Budaya Baca Dinas Pendidikan Nasional.

Dibaca : 12.948 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password