Sabtu, 19 Agustus 2017   |   Ahad, 26 Dzulqaidah 1438 H
Pengunjung Online : 2.266
Hari ini : 14.504
Kemarin : 30.642
Minggu kemarin : 225.915
Bulan kemarin : 10.532.438
Anda pengunjung ke 103.012.981
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tari Sapu Tangan: Tari Tradisional Melayu Sumatra Utara

Tari Sapu Tangan merupakan tari tradisional Melayu yang berasal dari Sumatra Utara. Tarian ini menggambarkan kegiatan masyarakat Melayu pedesaan dalam keseharian mereka.

1. Asal-usul

Tarian Sapu Tangan bertempo sedang, yaitu 2/4 namun sedikit lebih cepat. Sesuai dengan lagu pengiringnya, yaitu lagu Cek Minah Sayang, tarian ini pun sering disebut sebagai Tari Cek Minah Sayang. Ragam gerakan dalam tarian ini mirip dengan Tari Kapri dari Tapanuli Tengah atau Tari Kaparinyo dari Minangkabau. Sebagaimana namanya, tarian ini menggunakan sapu tangan dari awal hingga akhir gerakan.

Tarian ini menggambarkan kebiasaan masyarakat, misalnya dalam kegiatan setelah panen. Kegiatan ini penuh dengan rasa kekeluargaan dan memiliki jiwa gotong-royong yang tinggi. Nilai-nilai kearifan dan kebiasaan masyarakat Melayu tersebut tercermin pada gerakan-gerakan dalam ragam tarian ini. Gambaran kisah dalam tarian ini, yakni sebagai berikut:   

Ragam 1

Gerakan pada ragam ini menggambarkan kegiatan masyarakat setelah panen, yaitu pengolahan padi menjadi beras secara gotong royong, baik dengan sanak keluarga maupun dengan para tetangga. Digambarkan, khalayak yang datang berduyun-duyun ke tempat pembuatan seraya.

Ragam 2

Gerakan-gerakan pada ragam 2 menggambarkan padi yang telah dipanen dikumpulkan. Kemudian, butiran padi-padi tersebut dilepaskan dari tangkainya (diirik) dengan cara menghentam-hentamkan lantai penginjaian. Setelah itu. padi dianginkan untuk memisahkan antara bulir padi yang isi dengan yang kosong.

Ragam 3

Gerakan pada ragam 3 menggambarkan padi yang diindang, ditampi, dan ditumbuk dengan menggunakan lesung indik. Ini adalah lesung panjang yang antannya berada di ujung sebuah pengungkit. Pangkal pengungkit diinjak dan dilepaskan untuk mengangkat antan.

Ketiga ragam tarian di atas dibagi menjadi dua bagian, A dan B. Di dalam ragam gerakan tersebut terdapat pengulangan antarbagian, meskipun ada gerak dan garis edar yang berbeda. Masing-masing ragam terdiri atas 8 x 8 ketuk, sehingga tarian ini berjumlah 24 x 8 ketuk.

2. Penari

Tari Sapu Tangan merupakan tarian yang dipentaskan oleh lebih dari satu penari. Penari berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan.  

3. Ragam Gerakan

a. Gerakan

Tarian ini mempunyai 4 bentuk langkah yang membuat tarian ini berbeda dengan tarian Melayu yang lain. Perbedaan yang lain juga terdapat pada penggunaan sapu tangan dari awal hingga akhir tarian. Berikut ini langkah-langkah dalam Tari Sapu Tangan.

  1. 1.Langkah Beriring

Langkah beriring terbagi menjadi 2, yaitu langkah beriring kanan dan langkah beriring kiri.

  • Langkah Beriring Kanan

Langkah beriring kanan bertumpu pada kaki kiri. Hitungan gerakan ini, yaitu pada hitungan 1 kaki kanan melangkah ke depan dengan menapak menggunakan telapak kaki bagian depan (menjinjit). Kaki kiri menyilang di belakang kaki kanan dengan menggunakan hitungan bantu “hop”. Hitungan 2 kaki kanan melangkah ke depan dengan posisi menapak menggunakan tumit. Kaki kiri menyilang di bagian belakang kaki kanan dengan menggunakan hitungan bantu “hop”. Begitu seterusnya pada setiap hitungan ganjil langkahnya sama dengan hitungan 1 dan pada hitungan genap sama dengan hitungan 2.

Tangan kanan dan tangan kiri masing-masing memegang ujung sapu tangan yang diregangkan. Pada hitungan ganjil tangan kanan berada di depan dada, sedangkan tangan kiri sejajar sisi kiri. Pada hitungan genap tangan kiri berada di depan dada, tangan kanan di depan paha sebelah kanan, dan sapu tangan tegak lurus sejajar sisi kanan.

  • Langkah Beriring Kiri

Langkah beriring kiri bertumpu pada kaki kanan. Hitungan pada gerakan ini adalah pada hitungan 1 kaki kiri melangkah ke depan dengan posisi menapak pada telapak kaki bagian depan. Kaki kanan berada di belakang kaki kiri dengan posisi menyilang. Gerakan ini menggunakan hitungan bantu “hop”. Hitungan ke 2 kaki melangkah ke depan dengan bertumpu pada tumit. Kaki kanan menyilang di belakang kaki kiri dengan hitungan bantu “hop”. Selanjutnya, pada setiap hitungan ganjil langkahnya sama dengan hitungan 1 dan pada hitungan genap kaki melangkah serupa dengan hitungan 2.

Kedua tangan pada posisi gerakan ini memegang ujung sapu tangan yang direntangkan. Pada hitungan ganjil tangan

  1. 2.Langkah Serong Kaki Kanan/Serong Kiri

Langkah ini membentuk garis edar segi tiga di sekitar tempat awal berdiri. Hitungannya adalah sebagai berikut: hitungan 1 kaki kanan melangkah serong kanan arah depan, hitungan 2 kaki kiri melangkah serong kiri, hitungan 3 kaki kanan kembali ke tempat semula, dan hitungan 4 kaki kiri menyusul kaki kanan. Selanjutnya hitungan 5-8 serupa dengan hitungan di atas.

Gerakan tangan beredar di sekitar dada. Hitungan gerakan ini adalah sebagai berikut tangan kanan dan tangan kiri sejajar di depan dada sambil meregangkan sapu tangan. Pada hitungan 1 kedua tangan diantar ke kanan, lurus sejajar dada; hitungan 2 kedua tangan diantar ke kiri, lurus sejajar dada; hitungan 3 sapu tangan diputar membentuk lingkaran di depan dada, dengan arah tangan kanan dari bawah ke depan, tangan kiri dari atas ke dalam/ke arah dada; hitungan 4 kedua tangan kembali sejajar di depan dada. Hitungan 5-8 serupa dengan hitungan 1-4.   

  1. 3.Langkah Mengirik

Gerakan langkah pada bagian ini dilakukan di tempat. Hitungan langkah ini yaitu, hitungan 1 kaki kanan diletakkan di belakang tumit kaki kiri, pada hitungan bantu hop kaki kanan menggantikan posisi kaki kiri dengan sedikit melompat dan serentak kaki kiri diangkat. Hitungan 2 kaki kiri diletakkan di belakang tumit kaki kanan, pada hitungan bantu “hop” kaki kiri menggantikan posisi kaki kanan dengan sedikit melompat dan serentak kaki kanan diangkat. Gerakan pada hitungan ganjil berikutnya sama dengan hitungan 1 dan hitungan genap berikutnya sama dengan hitungan 2.

Gerakan tangan pada langkah ini, yaitu sapu tangan diputar membentuk lingkaran di depan dada dengan arah tangan kanan dari bawah ke depan, tangan kiri dari atas ke dalam atau ke arah dada. Gerakan tersebut bergantian pada setiap hitungan.

  1. 4.Gerakan Mengindang         
  • Mengindang Kanan

Badan bertumpu pada kaki kiri menghadap ke arah serong kanan. Kaki kanan beredar di depan. Hitungan gerakan ini adalah hitungan 1 kaki kanan serong kanan dengan mencecahkan ujung jari, pada hitungan bantu “hop”, kaki kanan menyilang di depan kaki kiri juga dengan mencecahkan ujung jari, dan gerakan pada hitungan selanjutnya sama dengan gerakan pada hitungan 1. Pada saat melakukan gerakan ini tangan berada di sisi badan setinggi pinggang dan diayunkan searah dengan kaki kanan.

  • Mangindang Kiri

Badan bertumpu pada kaki kanan menghadap serong kiri, kaki kiri beredar di depan. Hitungan gerakan ini adalah sebagai berikut hitungan 1 kaki kiri serong kiri dengan mencecahkan ujung jari kaki. Pada hitungan bantu “hop”, kaki kiri menyilang di depan kaki kanan dengan mencecahkan ujung jari kaki. Kemudian pada hitungan selanjutnya sama dengan gerakan pada hitungan 1. Kedua tangan berada di sisi kanan badan dengan posisi setinggi pinggang dan diayunkan searah dengan kaki kiri.

b. Ragam

Tarian ini mempunyai 3 ragam, dan setiap ragam terdapat dua bagian, yaitu A dan B. Sedangkan setiap ragam terdiri dari 8 x 8 ketuk, sehingga tarian ini berjumlah 24 x 8 ketuk. Bagian setiap ragam ada yang berupa pengulangan dan ada pula yang berbeda. Ragam gerakan pada tarian ini, yaitu:

Ragam 1A:

  1. Penari maju melintasi garis tengah dengan menggunakan langkah beriring kanan dengan hitungan 1x8.
  2. Penari membelok ke kanan dan kembali ke tempat semula dengan membentuk mata pancing atau huruf “S” terbalik dengan menggunakan langkah beriiring kiri. Hitungan untuk gerakan ini adalah 1x8.
  3. Penari maju menuju garis tengah sambil membelokkan badan ke arah kanan dengan menggunakan langkah beriring kanan dalam hitungan 1x8.
  4. Penari kembali ke tempat semula dengan posisi badan tetap ke arah kanan. Gerakan ini menggunakan langkah beriring kanan atau menyamping dengan hitungan 1x8.

Ragam 1B:

Gerakan pada ragam ini adalah pengulangan dari ragam 1A.

Ragan 2A:

  1. Penari melangkah serong kanan atau serong kiri dengan hitungan 1x8.
  2. Pada hitungan 1-4 penari maju langkah dua, kemudian mengadu (melagakan) tumit pada waktu hitungan bantu hop. Hitungan 5-8 penari kembali ke tempat semula dengan menggunakan langkah dua. Pada hitungan 5-6 posisi badang menghadap ke kanan, dan hitungan 7-8 posisi badan menghadap ke pasangan dengan hitungan 1x8.
  3. Sama dengan gerakan pada nomor 1.
  4. Sama dengan gerakan pada nomor 2.

Ragam 2B:

  1. Langkah mengirik dengan hitungan 1x8.
  2. Penari maju serong kanan menuju garis tengah, kemudian berbelok ke kanan, dan menuju ke tempat pasangan dengan arah memutar ke kiri membentuk mata pancing. Dalam gerakan tersebut langkah yang digunakan adalah langkah dua. Adapun gerakan tangannya serupa dengan langkah beriring kanan dengan hitungan 1x8.
  3. Kembali ke tempat semula dengan garis edar yang sama dengan nomor 2 dengan hitungan 1x8.
  4. Gerakan melingkar ke arah kanan menggunakan langkah beriring kanan, posisi badan dari merendah atau setengah jongkok hingga berdiri. Posisi tangan kanan berada di depan dada, tangan kiri di sisi kiri, dan sapu tangan berada sejajar dengan sisi kiri. Hitungan pada gerakan ini adalah 1x8.

Ragam 3A:

  1. Gerakan mengindang kanan dengan hitungan 1x8.
  2. Gerakan mengindang kiri dengan hitungan 1x8.
  3. Pada hitungan 1, kaki kanan penari serong kanan, kemudian mengayun tangan searah kaki kanan. Hitungan 2 penari menarik kaki kanan menyilang di deoan kaki kiri seraya menari tangan ke arah sisi kiri. Hitungan 3 kaki kanan diantar serong kanan sambil menjinjit sambil mengayun tangan ke arah kanan. Hitungan 4 membalikkan badan menghadap ke kiri, kaki kiri menyusul kaki kanan, tangan berada di sisi kanan. Hitungan 5 kaki kanan melangkah ke belakang dan pada hitungan bantu “hop” kaki kiri menyusul kaki kanan. Pada saat gerakan ini tangan berada di sisi kiri. Selanjutnya, hitungan 6-8 serupa dengan hitungan 5.
  4. Penari kembali ke tempat semula dengan edaran memutar ke kiri, membentuk mata pancing dengan menggunakan langkah dua. Gerakan tangan sama dengan langkah beriring kanan. Hitungan gerakan ini adalah 1x8.

Ragam 3B:

Ragam ini adalah pengulangan dari semua gerakan pada Ragam 3A.


Garis edar Tari Sapu Tangan

Sumber foto: Tengku Mira Sinar (ed.), 2009. Teknik Pembelajaran Dasar Melayu Tradisional Karya Guru Sauti. Medan: Yayasan Kesultanan Serdang bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, hlm. 81-82.

4. Lagu Pengiring

Lagu yang digunakan untuk mengiringi tarian ini adalah lagu Cek Minah Sayang. Nama lagu inilah yang kemudian menjadi nama lain dari tarian ini.

5. Nilai-nilai

Nilai-nilai yang terdapat dalam tarian ini adalah:

  1. Kebersamaan. Tarian ini menggambarkan kearifan tentang rasa kebersamaan dan bagaimana masyarakat tradisional melakukan pekerjaan bersama-sama secara gotong-royong. Kebersamaan menjadi nilai terpenting dalam tarian ini karena nilai itu mendasari semua gerakan yang ada di dalamnya.
  2. Nilai Tradisi. Tarian ini bermakna dua hal. Pertama, tarian itu sendiri adalah tradisi yang diwariskan dari nenek moyang. Kedua, makna yang terkandung dalam tradisi tersebut adalah kearifan masyarakat Melayu dalam kehidupan mereka dan rasa solidaritas mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kedua hal tersebut merupakan kekayaan budaya masyarakat Melayu.
  3. Nilai Pelestarian Budaya. Pementasan tarian ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan salah satu entitas budaya Melayu. Selain dalam bentuk pementasan, pelestarian tarian ini dilakukan dengan mengajarkannya kepada generasi muda maupun mendokumentasikan tarian ini dalam berbagai bentuk yang lain.  

6. Penutup

Tarian Sapu Tangan merupakan salah satu kekayaan budaya masyarakat Melayu. tarian ini menggambarkan kearifan dan solidaritas sosial masyarakat tradisional Melayu. Pelestarian tarian ini merupakan hal yang signifikan bagi masa depan kebudayaan Melayu.

(Mujibur Rohman/bdy/2/07-2011)

Sumber foto: Koleksi BKPBM

Referensi:

Tengku Mira Sinar (ed.), 2009. Teknik Pembelajaran Dasar Melayu Tradisional Karya Guru Sauti. Medan: Yayasan Kesultanan Serdang bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu. 

Dibaca : 41.296 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password